for Maaf8/24/2012 c1
103Virodeil
Cerita yang dikarakterisasikan dengan cantik. :) Tapi saya agak bingung dengan siapa-siapa yang sedang berbicara, karena tidak ada pembatas antar dialog, dan tidak ada labelnya juga. Di luar itu, saya senang membaca tentang gambaran karakter Aredhel dan Eol yang tidak melulu gelap dan jahat di sini. (Terus terang, tema-tema yang seperti itu sudah jadi membosankan ketika sampai ke dua orang ini.) Namo juga salah satu tokoh favorit saya di Silmarillion, dan anda mengkarakterisasikannya dengan sangat baik menurut saya. (Terimakasih banyak!) Cuma saja, kenapa anda tidak menggunakan nama aslinya - Namo, bukan Mandos? Yang di akhir cerita juga: kenapa Lorien, bukannya Irmo, seperti di footnote di buku Silmarillion?
Ngomong-ngomong, apakah sudah ada Silmarillion terjemahan Indonesia? Karena sudah lama saya mencari tapi tidak ketemu juga. Dan soal itu juga, kalau memang belum ada dan beberapa istilah di sini terjemahan anda sendiri, kenapa anda pakai "pembantaian saudara" dan bukan "pembantaian" saja? Dan yang di Alqualonde itu pembantaian pertama bukan? Saya usul... anda sebaiknya tambahkan label "pembantaian saudara pertama" ketika Namo bicara tentang Alqualonde itu.
Akhir dari cerita ini manis sekali, dan tidak jauh dari jangkauan imajinasi juga apalagi setelah anda menyusun kata-kata dan situasi-situasi sebelumnya dengan sebegitu rupanya. Bagus sekali! Tapi terus terang, saya tidak menyangka akhir yang seperti ini sama sekali. :) Anda memberi para pembaca kejutan-kejutan yang menyenangkan di sini.
Maaf kalau ada kata-kata saya yang tidak berkenan di hati... Mungkin sisi nitpicky saya mulai terlalu usil. Tapi bagaimanapun juga, saya senang membaca cerita ini, dan berharap anda mau menulis lagi tentang Namo... atau Finrod... atau Osse...
Hahaha. Yah, bercanda saja, walaupun saya memang kepingin. :)
Sampai ketemu di lain cerita!
Rey
103VirodeilCerita yang dikarakterisasikan dengan cantik. :) Tapi saya agak bingung dengan siapa-siapa yang sedang berbicara, karena tidak ada pembatas antar dialog, dan tidak ada labelnya juga. Di luar itu, saya senang membaca tentang gambaran karakter Aredhel dan Eol yang tidak melulu gelap dan jahat di sini. (Terus terang, tema-tema yang seperti itu sudah jadi membosankan ketika sampai ke dua orang ini.) Namo juga salah satu tokoh favorit saya di Silmarillion, dan anda mengkarakterisasikannya dengan sangat baik menurut saya. (Terimakasih banyak!) Cuma saja, kenapa anda tidak menggunakan nama aslinya - Namo, bukan Mandos? Yang di akhir cerita juga: kenapa Lorien, bukannya Irmo, seperti di footnote di buku Silmarillion?
Ngomong-ngomong, apakah sudah ada Silmarillion terjemahan Indonesia? Karena sudah lama saya mencari tapi tidak ketemu juga. Dan soal itu juga, kalau memang belum ada dan beberapa istilah di sini terjemahan anda sendiri, kenapa anda pakai "pembantaian saudara" dan bukan "pembantaian" saja? Dan yang di Alqualonde itu pembantaian pertama bukan? Saya usul... anda sebaiknya tambahkan label "pembantaian saudara pertama" ketika Namo bicara tentang Alqualonde itu.
Akhir dari cerita ini manis sekali, dan tidak jauh dari jangkauan imajinasi juga apalagi setelah anda menyusun kata-kata dan situasi-situasi sebelumnya dengan sebegitu rupanya. Bagus sekali! Tapi terus terang, saya tidak menyangka akhir yang seperti ini sama sekali. :) Anda memberi para pembaca kejutan-kejutan yang menyenangkan di sini.
Maaf kalau ada kata-kata saya yang tidak berkenan di hati... Mungkin sisi nitpicky saya mulai terlalu usil. Tapi bagaimanapun juga, saya senang membaca cerita ini, dan berharap anda mau menulis lagi tentang Namo... atau Finrod... atau Osse...
Hahaha. Yah, bercanda saja, walaupun saya memang kepingin. :)
Sampai ketemu di lain cerita!
Rey
5/17/2012 c1
5baabaaer
Again, a powerful emotion fic. I have a bit of a problem understanding who says what, but after a few rereadings, this gem of a fic begins to shine.
Although serious Silm readers may point that Eol-Aredhel is more like rape than a proper marriage, but they still love each other. Eol loves Maeglin as a proper son, so there is no doubt he loves Aredhel, and Aredhel Eol, the same.
Valar Namo works in mysterious ways. By right, if Aredhel did participate in the Kinslayings, she should never had been resurrected, as is decreed in the Doom of Mandos.
Then you offer a resolution; She is sorry! Although for taking her son out of Eol's land. Truly the Valars are merciful.
And if anyone have problem with Aredhel and the Doom of Mandos, just remember that Galadriel is a Noldor, and she is given forgiveness. Only that it takes a few Ages.
And what is Aula? I think it is the Halls of Mandos, but I may be mistaken.
Here are my humble reviews. May you find this useful.
5baabaaerAgain, a powerful emotion fic. I have a bit of a problem understanding who says what, but after a few rereadings, this gem of a fic begins to shine.
Although serious Silm readers may point that Eol-Aredhel is more like rape than a proper marriage, but they still love each other. Eol loves Maeglin as a proper son, so there is no doubt he loves Aredhel, and Aredhel Eol, the same.
Valar Namo works in mysterious ways. By right, if Aredhel did participate in the Kinslayings, she should never had been resurrected, as is decreed in the Doom of Mandos.
Then you offer a resolution; She is sorry! Although for taking her son out of Eol's land. Truly the Valars are merciful.
And if anyone have problem with Aredhel and the Doom of Mandos, just remember that Galadriel is a Noldor, and she is given forgiveness. Only that it takes a few Ages.
And what is Aula? I think it is the Halls of Mandos, but I may be mistaken.
Here are my humble reviews. May you find this useful.
1/30/2012 c1
38Mornen
Pertama-tama, saya tidak berbicara bahasa Indonesia. Saya membaca cerita Anda menggunakan google translate. Jelas itu adalah versi mengerikan menyimpang dari apa yang Anda tulis, melihat bagaimana cincang bahasa, tapi aku masih berhasil untuk membacanya.
Itu adalah cerita yang menarik. Saya menyukai bagaimana Anda beralih perspektif antara masyarakat yang berbeda. Esensi yang dibawa melalui terjemahan itu sangat kuat - terutama secara spiritual. Saya menemukan bahwa saya dibawa bersama dengan perjalanan untuk akhirnya menemukan beristirahat dalam pelukan EOL itu. Saya tidak pernah percaya bahwa ia sepenuhnya jahat atau jahat dalam arti kata - hanya agak kesepian. Pada setiap tingkat, pekerjaan yang baik, dan saya harap Anda bisa membaca ini.
38MornenPertama-tama, saya tidak berbicara bahasa Indonesia. Saya membaca cerita Anda menggunakan google translate. Jelas itu adalah versi mengerikan menyimpang dari apa yang Anda tulis, melihat bagaimana cincang bahasa, tapi aku masih berhasil untuk membacanya.
Itu adalah cerita yang menarik. Saya menyukai bagaimana Anda beralih perspektif antara masyarakat yang berbeda. Esensi yang dibawa melalui terjemahan itu sangat kuat - terutama secara spiritual. Saya menemukan bahwa saya dibawa bersama dengan perjalanan untuk akhirnya menemukan beristirahat dalam pelukan EOL itu. Saya tidak pernah percaya bahwa ia sepenuhnya jahat atau jahat dalam arti kata - hanya agak kesepian. Pada setiap tingkat, pekerjaan yang baik, dan saya harap Anda bisa membaca ini.
