Gadis itu menatap layar laptopnya dengan serius. Matanya menatap lurus dan jari-jarinya menari dengan cepat di atas tuts keyboard. Semua yang dia ketikkan benar dan tepat, sesuai dengan kode-kode yang dia perlukan.
Tangannya meraih headset di kepalanya dan melepaskannya dari telinganya. Matanya masih menatap segala hal dengan penuh sorot kebosanan. Dia sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi.
Mata hijaunya melirik sekilas, tapi dia tidak berminat untuk meraihnya dan mengangkatnya. Saat ponselnya berhenti berbunyi, dia menghela napas panjang.
Suara bip berasal dari laptopnya dan setidaknya membuat matanya sedikit bercahaya. Kursor mousenya segera diarahkannya dan senyum mengembang di wajahnya. Semuanya sudah selesai. Dia tinggal memperbaikinya sedikit.
Jam di laptopnya sudah menunjukkan jam tiga pagi. Gadis itu berdiri dan meregangkan tangannya ke atas, berusaha mengusir rasa lelah yang menumpuk. Dia sudah duduk di depan laptopnya kira-kira delapan jam yang lalu. Dia harus segera tidur kalau dia tidak ingin telat pergi ke sekolah besok. Tidak... itu hanya kiasannya saja. Sejujurnya dia sama sekali tidak berminat pergi ke sekolah.
Tanpa mematikan laptopnya, gadis itu melemparkan dirinya ke atas kasur dan menatap langit-langitnya yang bertaburan bintang dari zat flourense. Perlahan dia menutup kedua matanya. Beberapa detik kemudian dia sudah tertidur.
.
.
.
.
Gadis itu membuka matanya perlahan. Langit-langitnya masih sama. Keadaannya masih sama. Laptopnya masih menyala di atas meja. Dia tidak tahu sekarang jam berapa, tapi dia punya firasat kalau dia tidak akan segera bangun, keadaannya akan jadi kacau.
Dengan sekali hentakan pada kakinya, gadis itu melompat berdiri. Dia meraih kacamatanya yang berwarna oranye dan memakainya. Matanya sama sekali tidak rusak. Dia hanya ingin menggenakan kacamata. Itu saja. Tidak ada yang salah dengan kesehatannya. Hanya sebagai pelindung agar tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menatap matanya dan membaca isi hatinya.
Agar tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang disembunyikannya.
Tangannya meraih ponselnya dan melihat empat email dari temannya.
Matanya membaca deretan kata-kata yang sama itu dengan bosan. Kenapa kau harus mengirim pesan yang sama sebanyak empat kali kepada sesorang hanya karena orang itu tidak (akan pernah) sempat membalas emailnya?
Tahu tidak, itu justru akan membuat temanmu merasa sangat sebal. Apalagi ketika ponselnya bergetar lagi sebelum dia sempat membaca emailnya.
"Hai! Bagaimana pagimu hari ini?" seru seseorang di seberang sana dengan suaranya yang ceria.
"Baik... seperti biasa..." jawab gadis itu dengan malas. Dia duduk di kursinya dan menatap layar laptopnya. Ada pesan kecil di sudut layar laptopnya. Proses yang dilakukannya tadi malam sudah selesai dengan sempurna.
Senyum mengembang di wajahnya. Dia merasa sangat puas atas apa yang dilakukannya semalam. Tidak akan ada yang bisa mampu menandingi kejeniusannya.
"Gumi-chan... Kau mendengarku atau tidak?"
"Eh? Tentu saja aku mendengarmu." Gadis itu berdiri sambil mengibaskan rambutnya yang panjang sebahu dengan model bagian depan lebih panjang daripada bagian belakangnya.
Mata hijaunya melirik jendela yang masih tertutup gorden. Sinar matahari sudah menembusnya dan masuk ke sisi kamarnya, membuat perasaan hangat dan nyaman serta godaan untuk kembali ke tempat tidur semakin besar.
"Kau sudah siap-siap? Datang terlambat lagi seperti biasa?"
Gumi menghela napas. "Setidaknya aku sudah mencoba untuk datang."
"Mencoba untuk datang walaupun kau tidak ingin datang! Yaa... aku mengerti jelas soal itu!" Suara di seberang terkikik geli. "Sampai nanti di kelas, Gumi-chan!"
Dia meletakan ponselnya di atas meja belajarnya dimana disana terdapat bingkai yang berisi foto keluarganya. Itu adalah foto yang diambil saat usianya masih sepuluh tahun. Dua bulan setelah itu, ibunya meninggal karena kecelakaan. Gumi sama sekali tidak tersenyum disana dan tidak akan pernah tersenyum lagi untuk yang selanjutnya.
Gumi menutup matanya, mencoba mengingat kenangannya bersama ibunya. Tidak ada sesuatu hal yang baik diingat, dia menyadari. Hanya saja, keadaan dulu jauh lebih baik dibanding sekarang. Setidaknya, dulu ibunya selalu membelanya walaupun hal itu tidak akan pernah mengubah kenyataan.
"Gumi... Ayah akan dinas dan tidak pulang selama seminggu ke depan. Kau mau turun untuk sarapan dengannya tidak?"
Gadis itu menolehkan kepalanya ke arah pintu. Dia bisa menebak laki-laki itu sedang berdiri di depan pintunya dengan wajah tanpa ekspresi dan sorot mata datar. "Kau sudah bangun kan?"
"Ya, Onii-sama. Aku akan turun sebentar lagi," kata Gumi pada akhirnya. Dia bisa mendengar suara sepatu yang menyentuh lantai mulai menjauhi kamarnya dan menghilang sesaat kemudian.
Dengan malas, Gumi meraih handuknya dan masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
"Bagaimana? Jadi, kau akan ikut latihan ke Fukuoka?"
Gumi baru saja setengah menuruni tangga ke lantai satu saat dia mendengar suara ayahnya. Dia sempat menimbang-nimbang apakah dia harus ikut sarapan dengannya atau tidak.
"Ya, semuanya lancar. Guru olahragaku bilang, kalau aku menaikan intensitas latihanku, dia yakin aku bisa jadi juara nasional."
"Itu benar-benar hebat, anakku."
Muncul di saat ayahnya sedang memuji kakak laki-lakinya yang sempurna adalah saat-saat yang paling dibenci olehnya. Akan tetapi, dia tidak bisa kabur begitu saja. Kalau dia melakukan hal pengecut seperti itu, ayahnya pasti akan mengatakan hal-hal sinis lainnya. Salah satu topik favorit pria dewasa itu adalah mengomentari hobi Gumi yang selalu terpaku di depan laptopnya dan mengejeknya dengan kata-kata luar biasa sinis.
"Ohayou..." sahut Gumi tenang. Dia turun dengan santai dan meletakkan tas ranselnya di atas meja. Tanpa melirik ayah dan kakak laki-lakinya, dia duduk dan mulai memakan sarapannya.
"Ohayou, Gumi," balas ayahnya sambil tersenyum. "Bagaimana pagimu? Kukira kau akan bangun kesiangan mengingat kau baru tidur sekitar jam tiga pagi, benar tidak?"
"Ya, Tou-sama. Aku baik-baik saja lagipula bolos itu tidak baik kan?"
"Tidak baik?" Ayahnya tersenyum. "Aku senang sekali kalau kau mulai bersemangat pergi ke sekolah dibandingkan kau terus berdiam diri di kamar, mengutak-atik laptopmu. Apa yang sebenarnya menarik disana, Gumi?"
Rasanya, gadis itu sudah kehilangan nafsu makannya. Dia benci ayahnya. Dia benci karena laki-laki itu tidak pernah menghargai kemampuannya. Bahkan, dua tahun yang lalu, saat Gumi berhasil membantunya dalam memecahkan kasus kejahatan, ayahnya sama sekali tidak berterima kasih padanya.
Ya, ayahnya adalah kepala kepolisian Tokyo dan Gumi dulu sekali pernah merasa bangga memiliki ayah yang selalu bersikap seperti kamen rider yang akan bertarung melawan kejahatan.
Ayahnya bagaikan seorang pahlawan yang selalu menolong masyarakat dari penjahat. Dulu, Gumi pernah berpikir bahwa dia ingin menjadi seorang polisi juga, menjaga agar kedamaian tetap ada di dunia ini dan menghapuskan para tokoh jahat.
Akan tetapi, sejak gadis itu masuk SMP, perlahan ayahnya mulai berubah. Ayahnya menjadi lebih sibuk dengan urusan kantornya dan mendadak menjadi lebih menuntut sesuatu dari kedua anaknya. Dan satu hal yang paling dibenci oleh Gumi, ayahnya tidak pernah melihatnya. Ayahnya hanya melihat Gumi dari bayangan kakak laki-lakinya yang selalu sempurna dalam segala hal.
Kakaknya, Gakupo, adalah anak laki-laki paling membanggakan di mata ayahnya. Prestasinya selalu bagus dan nilai olahraganya selalu menjadi yang tertinggi di sekolah. Sempurna dalam melakukan segala hal.
Apapun yang dilakukan Gumi, rasanya tidak akan pernah memuaskan ayahnya yang sudah melihat segala kesuksesan Gakupo. Ibu mereka juga tidak banyak membantu. Jika sang kepala keluarga sudah mengatakan Gakupo yang terbaik, wanita itu hanya bisa membelai rambut putri tunggalnya dan membisikkan kata-kata lembut.
Sejak ibunya meninggal, keadaan tidak berubah menjadi lebih baik. Semuanya masih sama atau mungkin lebih buruk lagi. Ayahnya semakin jarang di rumah karena urusan pekerjaan dan Gumi tidak berniat mencarinya. Hubungan mereka berdua resmi bagaikan orang asing dengan status ayah-dan-anak palsu dalam surat bernama kartu keluarga.
"Tou-sama," sahut pemuda berambut ungu panjang yang duduk tepat di hadapan Gumi. "Aku harus pergi sekarang. Ada latihan pagi hari ini."
Ayahnya tersenyum lebar. "Tentu saja, Gakupo."
Mengingat suasana mencekam yang akan dialaminya jika dia hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya, Gumi langsung meletakkan sendoknya di mangkuk serealnya. "Aku juga harus segera berangkat." Sebelum ayahnya sempat membantahnya, Gumi langsung melanjutkan, "Aku ada piket kelas hari ini."
"Ah ya, tentu saja, Gumi."
Gumi meraih tasnya dan berjalan melewati kakak laki-lakinya begitu saja. Dia memang tidak berniat tinggal di ruangan itu lebih lama lagi. Udara saat dia berada di sekitar ayahnya terasa amat menyesakkan dan dia tidak suka akan hal itu. Dan situasinya sama saja ketika dia harus berada di dekat kakak laki-lakinya juga, Gakupo.
Sepanjang ingatan Gumi, dia sama sekali tidak pernah merasa bahwa Gakupo seorang kakak baginya. Sama seperti ayahnya yang hanya tercantum lewat kartu keluarga, Gumi bahkan menganggap Gakupo layaknya orang asing di rumah mereka sendiri. Tidak pernah saling bicara dan saling menegur jika tidak ada urusan yang amat mendesak. Bahkan, sebisa mungkin, Gumi akan mencari-cari alasan supaya dia mampu menjauh dari Gakupo, kalau bisa untuk selamanya.
Setelah memakai sepatu ketsnya, dia berjalan ke luar rumahnya, dan mendapati matahari telah berada cukup tinggi di atas, menyebarkan suhu hangat ke setiap pemukaan bumi, memberikan cahaya kehidupan yang menyenangkan. Kemudian, setelah berada cukup jauh dari rumahnya, Gumi menarik napas panjang dan meghembuskannya dengan penuh ekspresi lega.
"Seharusnya aku yang bernapas lega, tahu!"
Pemuda berambut ungu itu sudah berdiri tepat di sampingnya. Gumi meliriknya sekilas lalu dia membuang muka. "Terserah kau saja."
"Tahu tidak, aku menyesal sekali punya adik sepertimu."
Gumi berusaha keras untuk mengabaikan kakak laki-lakinya. Dia mengatupkan bibirnya dan berusaha memikirkan hal-hal lain yang jauh lebih penting.
"Aku sangat menyesal karena ayah selalu berniat memasukkan kau ke sekolah yang sama denganku. Tahu tidak, rasanya aku sudah bosan sekali mendengar kata-kata, 'hei Gakupo, kau beda sekali ya dengan adikmu' atau 'jangan-jangan dia adik tirimu'. Kau tahu, semua temanku menganggapmu aneh. Jadi, kuharap kau tidak teralu mengungkit-ungkit masalah kakak-beradik itu di sekolah. Mengerti?"
Gumi memutar bola mata kehijauannya dan menatap mata ungu di sebelahnya. Kakaknya terlahir begitu sempurna. Dengan rambut lurus panjang berwarna ungu yang indah secara alami, bola mata keunguan yang mampu memesonakan semua orang, struktur tubuh tegap atletis yang membuat semua laki-laki di sekolah mereka iri, kulit seputih porselen yang lembut, dan tolong jangan lupakan wajahnya yang teramat tampan sekaligus cantik. Gumi berani bertaruh bahwa kakaknya sebenarnya lebih cocok menjadi seorang perempuan dibandingkan laki-laki.
Soal bidang akademis benar-benar tanpa cacat sedikit pun. Selalu menjadi murid terpintar dengan IQ tertinggi. Soal bidang olahraga, jelas dia adalah atlet andalan sekolah setiap kali ada lomba. Soal bidang seni, jangan remehkan suaranya yang rendah namun terdengar seksi, atau... setidaknya itulah yang dikatakan oleh setiap gadis di Utaunoda, sekolah tempat mereka berada sekarang.
Kadang kala, Gumi berpikir, apakah semua gen baik dari kedua orang tuanya hanya berada di Gakupo saja, mengingat Gumi sama sekali tidak seperti kakaknya. Dengan tinggi 165 cm, Gumi terlahir hampir biasa. Rambutnya hijau dan tidak pernah terlihat rapi sedikit pun. Dia selalu memotongnya pendek karena sama sekali tidak tahan dengan rambutnya yang gampang sekali berantakan. Soal bola matanya, dia tidak pernah berpikir bahwa mereka indah. Hampir terlihat biasa saja dan Gumi selalu menutupinya dengan kaca mata palsunya agar semua orang tidak berusaha membandingkannya dengan Gakupo. Soal wajahnya, tampak polos. Tidak ada kesan 'cantik', 'memesona', 'indah', ataupun 'seksi'.
Dia memang sama sekali tidak mirip sedikit pun dengan Gakupo. Yang sama hanyalah bakat kemampuan berpikir mereka berdua yang sama-sama di atas rata-rata jika dibandingkan dengan anak seusia mereka.
"Memangnya kau pikir aku ingin orang mengenalku sebagai adikmu?" sahut Gumi sinis.
Gakupo tahu bahwa dia selamanya tidak akan pernah bisa menganggap Gumi sebagai adiknya. Bahkan mungkin selamanya Gakupo ingin supaya dia tidak usah mengenal Gumi saja. "Ini adalah awal langkahmu di SMA, Gumi. Aku harap setidaknya kau mulai berubah disini. Semua bisa dimulai dengan membuang sikap anti sosialmu itu."
"Kau boleh jadi ketua OSIS di Utaunoda dimana semua orang mematuhimu. Tapi, untuk selamanya, aku tidak akan pernah mau mematuhimu!"
Gadis berambut hijau itu melangkah duluan meninggalkan kakaknya menuju halte bis menuju sekolah mereka. Saat bisnya datang, Gumi segera memilih tempat paling depan, tepat di belakang supir. Dengan begitu, tidak akan ada seorang pun yang bisa melihat keberadaannya sehingga orang-orang tidak ada kerjaan itu tidak mengomentari soal hubungan kakak-beradiknya dengan si ketua OSIS Utaunoda, Gakupo.
Walaupun begitu, tetap saja, ada beberapa mulut yang tidak bisa ditahan untuk segera disumpal oleh Gumi. Salah satu mulutnya dimiliki oleh Utatane Piko, senior kelas dua yang satu klub dengan Gakupo.
Utatane Piko adalah tipe orang yang paling tidak disukai oleh Gumi. Seniornya itu teralu banyak bicara. Menyebalkan. Bahkan Gumi selalu berpikir bahwa otak Piko itu mungkin sebenarnya kosong karena dia sama sekali tidak pernah berpikir sebelum bicara. Gumi bahkan ragu apakah dia bisa berpikir.
Perwakan Piko hampir sama sempurnanya dengan Gakupo. Tampan dengan rambut perak halusnya yang sebahu. Matanya berwarna perak indah dengan kulit putih pucat. Wajahnya lebih mirip seperti anak SMP dan tingkahnya lebih menyerupai anak SD.
Satu-satunya hal yang selalu dapat menghibur Gumi dari intimidasi tidak langsung kakaknya setiap paginya adalah pemandangan ketika Gakupo yang tingginya hampir 185 cm duduk di sebelah Piko yang tingginya hanya 170 cm. Pendek dan sangat tidak cocok.
Kembali ke pagi yang sama seperti biasanya, mulut dari orang yang paling dibenci oleh Gumi mulai berbunyi lagi pagi itu, membuat hati Gumi mencelos penuh perasaan kesal.
"Gakupo, hari ini kau berangkat bersama adik tersayang!"
Pemuda berambut ungu panjang itu memelototi pemuda yang jauh lebih pendek di sebelahnya tanpa mengatakan apapun. Bahkan Gakupo sendiri sudah belajar untuk tidak menanggapi setiap ucapan bodoh Piko.
Gumi memutar bola matanya saat duduk di bangku belakang supir, posisi favoritnya yang selalu didudukinya setiap pagi. Gadis itu tidak perlu mengamati seluruh isi bis karena sebagian besar dia sudah mengenal mereka semua, murid Utaunoda dari berbagai tingkatan.
Kursi depan biasanya di duduki oleh anak kelas satu dan bagian belakang ditempati oleh murid kelas dua dan tiga. Tentu saja, Gumi sangat senang dengan pembagian secara tidak resmi ini. Dia tidak perlu bersusah payah menjauh dari Gakupo karena dia memang ditakdirkan untuk menjaud dari Gakupo.
Gumi harus benar-benar berterima kasih kepada Tuhan untuk menciptakan pembagian tempat duduk bis seperti ini!
Bis kemudian mulai berjalan dengan latar belakang keramaian di sudut belakang. Tidak lain dan tidak bukan, kelompok Gakupo sedang membuat keributan sendiri, sedang asyik dengan obrolan yang menurut Gumi bodoh.
Gakupo boleh pintar, dianggap jenius oleh setiap orang yang mengenalnya, tapi jelas Piko teralu bodoh untuk diajak mengobrol dengannya. Akibatnya tentu saja, sebuah obrolan yang sama sekali tidak memiliki tema dan inti yang jelas.
Perjalanan selanjutnya dilewati Gumi dengan perasaan bosan. Mata hijaunya menangkap pemandangan di luar jendela yang hampir sama seperti kemarin-kemarin. Tidak ada satu pun yang berubah. Semua tampak sama. Semu dan membosankan.
Kemudian, setelah beberapa menit berlalu, bis itu sampai di depan halte Utaunoda, menurunkan semua penumpangnya, termasuk Gumi yang langsung berjalan cepat tanpa menunggu Gakupo.
Begitu sadar, Gumi sendiri sudah berdiri di depan pintu kelasnya, menatap papan nama bertuliskan 1-A di atasnya. Dengan senyuman tipis, dia menggeser pintunya dan melangkah masuk.
Kelasnya sudah ramai, wajar, mengingat lima menit lagi bel akan berbunyi. Gumi kemudian beranjak menuju tempatnya dan meletakkan tas ranselnya di atas meja, sempat melihat sosok pirang dikuncir yang tertawa tidak jauh dari tempatnya.
Kagamine Len yang sedang mengobrol dengan beberapa orang teman sekelas mereka yang lain. Gumi mengakui, teman sekelasnya yang berwajah mirip anak perempuan itu cukup menarik perhatiannya. Len pintar, setidaknya, walaupun masih beberapa tingkat di bawah Gumi, jangan salahkan bakat IQ Gumi yang teralu tinggi hingga tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkannya di angkatannya.
Dengan mata sebiru langit cerah dan rambut sekuning cahaya matahari, Len termasuk ke dalam jajaran anak laki-laki manis di Utaunoda, menyaingi Piko dari kelas dua. Hanya saja, Gumi tahu, rasa ketertarikannya bukanlah rasa ketertarikan layaknya anak remaja seusianya terhadap lawan jenisnya.
Kemudian, ketika Gumi hendak duduk di atas kursinya, tubuh hangat lembut menabraknya dari sisi belakang, memberikannya sebuah pelukan erat penuh rasa kasih sayang.
"Gumi-chan!"
Gumi melirik sekilas seseorang yang memaksakan pelukan terhadapnya, seorang gadis dengan rambut pendek sebahu dengan warna cahaya matahari dan iris mata biru cerah yang menyipit perlahan saat seulas senyum terbentuk di bibirnya. Kagamine Rin, kakak kembar Kagamine Len, walaupun sebenarnya lebih sering dianggap sebagai si adik kembar daripada kakak kembar.
"Kau tidak datang terlambat pagi ini!" serunya riang.
"Kau benar. Seharusnya aku tetap berada di rumah sampai sepuluh menit terakhir."
"Tidak, Gumi-chan! Maksudku bukan begitu!" Rin menempelkan pipinya tepat di pipi Gumi. "Aku senang kalau kau mulai suka dengan sekolah!"
Gumi memutar bola matanya. "Tidak. Aku benci sekolah. Akan selalu benci." Gadis berambut hijau itu menarik lepas tangan Rin yang mengitari pundaknya. "Laki-laki itu ada di rumah tadi pagi. Dia mengajakku dan terong ungu itu sarapan dengan suasana memuakkan."
Rin terkikik geli. Gadis itu sudah biasa mendengar kalimat penuh kata pedas seperti itu. Mereka sudah mengenal sejak SD dan Rin termasuk orang 'dalam' bagi Gumi di kehidupannya, mengerti seluk beluk permasalahan Gumi dengan keluarganya dan orang lain.
Dan dari dulu, Gumi memang punya masalah dengan sekolah. Otaknya boleh pintar, tapi keperibadian Gumi memperburuk segalanya. Gumi tidak suka berada di tempat dimana dia selalu dibandingkan dengan Gakupo. Ayah mereka jelas menambah parah segalanya karena selalu memasangkan kedua kakak beradik itu di satu tempat yang sama. Akibatnya, tentu saja, Gumi lebih sering menghabiskan waktunya dengan membolos atau pun izin ke ruang kesehatan dan perpustakaan, tempat dimana Rin biasanya selalu mendapati Gumi menatap layar laptop miliknya.
"Rin," sahut seseorang yang berada di depan Gumi. "Kau tidak seharusnya memeluk Gumi sampai seperti itu."
Kagamine Len berdiri tepat di depan Gumi dengan ekspresi penuh khawatir. Senyuman tipis melekat di wajahnya yang persis sama seperti Rin. "Kau baik-baik saja kan, Gumi?"
Rin menggembungkan pipinya, merasa kesal karena orang yang seharusnya menjadi adik justru lebih menasehatinya. "Len menyebalkan! Benar kan, Gumi?"
Gumi sudah hapal sekali dengan pertengkaran dua kembar pirang itu sebelumnya. Dia sudah tahu siapa yang akan memenangkan pertandingan perang mulut ini jika masih harus dilanjutkan. Len selalu kalah, tidak, lebih tepatnya selalu mengalah jika harus berdebat masalah tidak penting dengan Rin.
"Terserah apa yang kau bilang, Rin." Gumi duduk di kursinya kemudian setelah beberapa saat, dia baru menyadari bahwa Len sedang memasang cengirannya kepadanya.
"Untuk soal itu, aku setuju denganmu!" Setelah mengatakan kalimat tidak penting itu, pemuda pirang itu kembali ke tempatnya dan mulai mengobrol lagi dengan teman-temannya yang lain.
Rin mendesah pelan dan duduk di atas mejaku. "Kau memang payah, Gumi!"
"Apanya?"
"Kau suka Len kan?"
Gumi memutar bola matanya kemudian iris hijaunya terpaku pada warna biru muda di hadapannya. "Jangan mengatakan sesuatu tanpa bukti yang jelas, Rin! Sejak kapan kau mulai mengambil keputusan tanpa bukti, Rin?"
"Sejak kapan?" Rin mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit kelas mereka. "Sejak aku bertemu denganmu yang sama sekali tidak memiliki pola kehidupan." Gadis manis itu mengedipkan sebelah matanya dan kembali ke kursinya.
Tepat setelah itu, pintu kelas terbuka, menampakkan sosok wanita dewasa dengan rambut coklat pendek yang sama sekali tidak dikenal. Semua mata terpaku pada sosok tubuh seksi yang dibalut blus ketat dengan rok pendek yang memamerkan siluet setiap sisi tubuhnya.
Murid laki-laki jelas menatapnya penuh nafsu tersembunyi.
Murid perempuan jelas menatapnya dengan pandangan aneh dan ingin tahu siapa dirinya.
Sampai pada akhirnya, wanita itu berdiri tepat di tengah kelas. Mata coklatnya menatap setiap sisi wajah penasaran di hadapannya dengan senyum simpul yang membuat setiap orang yang melihatnya terasa mabuk kepayang terhadapnya.
Gumi menatap sosok itu datar, tanpa ekspresi khusus, tanpa ketertarikan sama sekali.
"Selamat pagi, anak-anak." Suara rendah yang amat seksi merasuk ke dalam telinga setiap insan disana. "Aku adalah guru baru yang akan mengajar biologi untuk semester ini bagi murid tahun pertama karena guru biologi yang lama sedang cuti kehamilan."
Bisikan rendah mulai ramai terdengar.
"Whoaa... cantik sekali!"
"Aku bisa semangat sekolah karena ini!"
"Sudah punya pacar belum ya?"
"Menurutmu berapa usianya?"
"Berani bertaruh, dia pasti hanya lima tahun di atas kita!"
"Dadanya besar sekali ya!"
"Ukuran apa menurutmu?"
"Cup C?"
"Tidak! Menurutku lebih ke D!"
"Kenapa anak laki-laki di kelas kita sibuk sendiri?"
"Pakaian sensei agak..."
"Apakah aku bisa memiliki tubuh seindah itu nanti ya..."
Gumi memejamkan matanya, mencoba mengabaikan semua bisikan tidak penting itu, kemudian melirik Rin yang sibuk menatap bagian dadanya sendiri, menyadari ukurannya yang terbilang datar. Gumi memutar matanya dan melihat Len terpaku diam menatap sosok guru baru mereka.
Wanita itu tertawa pelan. "Reaksi kalian benar-benar lucu ya! Manis sekali! Aku akan merasa sangat senang mengajari murid-murid manis seperti kalian semua!"
Len tiba-tiba tersenyum, membuat sedikit perasaan resah muncul di hati Gumi. Sedangkan Rin sendiri sudah mulai meremas rok seragamnya sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Aku Sakine Meiko, ahli biologi lulusan Institut Teknologi New York. Seperti yang kubilang tadi, aku akan menjadi guru biologi kalian semester ini." Wanita itu tersenyum. Gumi sendiri, meskipun sudah terlindungi oleh kaca mata oranyenya mulai merasa kalau guru baru itu menatapnya tajam dengan senyum yang hanya ditunjukkan untuk dirinya.
Atau itu mungkin hanya perasaannya saja?

8