That Butler, is the Maid Servant
Yah. Epilog. Akhirnya.
Akhirnya kali ini benar-benar berakhir. Fiuuh!
Ok, last word, please enjoy the story!
Disclaimer:
Maid-sama dan Kuroshitsuji bukanlah punya saya tapi punya Hiro Fujiwara sensei dan Yana Toboso sensei.
Setsugekka juga bukan punya saya tapi punya Gackt.
Maaf, jadinya setengah songfic dibagian akhir.
Part 16: Epilogue
That Maid, With Her Loyal Servant
Daun-daun merah sudah menghilang dari dahan-dahan pohon, menjadikan pohon-pohon terlihat kering dan sepi. Guguran daun yang sudah menguning bertumpuk dibawah pohon dan tertiup angin sampai kejalanan, membuat jalan-jalan setapak dialasi hamparan dedaunan kering berwarna keemasan.
Misaki berjalan menyusuri jalan setapak favoritnya, yang ditumbuhi pohon momiji disepanjang pinggirnya, saat sedang jalan-jalan sore. Jaket tebal hitam membalut tubuhnya rapat-rapat tapi tetap saja dia kedinginan.
Tiba-tiba saja entah dari mana sesuatu yang hangat menyelubunginya dari belakang. Misaki menoleh kebelakang dan mendapati Sebastian berdiri disana, setengah menyelimutinya dengan jas panjang hitamnya yang lebih mirip jubah dibandingkan jas. "Tumben sekali kau menjemputku disini," ujar Misaki sambil mengangkat sebelah alisnya. Biasanya di jam pulang kerja seperti saat ini Sebastian menunggunya didepan rumah. "Hari ini anginnya kencang jadi saya pikir anda pasti kedinginan di tengah jalan," jawab Sebastian. Pria itu berdiri disebelah Misaki sekarang, masih menyelubungi gadis itu dengan jas panjangnya sementara kedua lengan yang tadinya melingkari pinggang Misaki diturunkan hingga hanya sebelah tangannya melingkari bahunya. Mereka berdua berjalan menuju jalan setapak penuh daun kering yang berkeresak setiap dilangkahi.
Misaki menengadah melihat daun-daun yang masih tersisa di dahan pohon yang sebagian besar sudah mengering itu berguguran. Sorot matanya lembut, tenang. Padahal sebelumnya Misaki selalu menghindari jalan yang dipenuhi daun-daun gugur dan setiap tanpa sengaja melihat daun keemasan berguguran, matanya melebar penuh horor. Semua karena hal-hal itu mengingatkannya akan kepergian Usui.
Selain hal itu, ada hal lain lagi mengenai Misaki yang berubah sejak Usui kembali kedalam kehidupannya.
"Akhir-akhir ini anda tidak mimpi buruk lagi di musim gugur."
Misaki tersenyum mendengarnya. "Benarkah? Ah, benar juga," gumamnya sambil menyusup makin dalam ke jas Sebastian yang menyelubunginya.
"Saya bertanya-tanya kenapa bisa begitu."
Nada bicaranya terdengar datar. Dia sudah menduga apa sebabnya tentu, tapi dia ingin mendengarnya sendiri dari mulut Misaki. "Entahlah. Menurutmu kenapa?" tanya Misaki sungguh-sungguh. Sebastian tidak menjawabnya.
"Ada apa?" tanya Misaki sambil mendongak untuk melihat ekspresi Sebastian. Dia punya perasaan pria ini menyembunyikan sesuatu darinya. Sebastian tetap diam walau matanya menatap Misaki lekat-lekat.
Setelah sekian lama hening...
"... Karena pemuda itu kan'?"
"Hah?"
"Mimpi buruk itu hilang karena ada pemuda itu kan'?"
Misaki tidak perlu bertanya untuk tahu siapa pemuda yang dimaksud Sebastian. "Usui, maksudmu? Mungkin benar, soalnya dia alasan dari sebagian besar mimpi burukku. Jadi saat dia bilang akan ada disisiku samapai saat terakhir... aku jadi lega," ujar Misaki setelah berpikir-pikir.
"Begitu ya?"
Misaki tersentak mendengar nada bicara Sebastian barusan; campuran antara tidak puas dan kecewa. "Astaga Sebastian. Jangan bilang padaku kalau kau cemburu ya?" tuduh Misaki dengan mata terbelalak. Itu candaan, sebenarnya. Dia tahu persis tidak mungkin ada yang namanya cemburu-cemburuan diantara mereka, sedekat apapun ikatan mereka berdua. Misaki bisa menebak alasan sebenarnya dibalik nada bicara Sebastian yang tidak biasa barusan tapi dia memutuskan untuk menutupinya dengan candaan demi meringankan atmosfer berat disekeliling mereka saat ini.
Sebastian memutar bola mata mendengar tuduhan pura-pura Misaki barusan. "Bukan begitu. Hanya saja kesal rasanya mengetahui pemuda itu bisa melakukan hal yang tidak bisa saya lakukan untuk nona," ujarnya sungguh-sungguh. Ya, dia sudah berusaha untuk menenangkan jiwa Misaki. Selalu ada disinya bahkan memeluknya tapi tetap saja Misaki dihantui mimpi buruk dan ketidaktenangan. Sedangkan saat Usui berjanji akan selalu ada disisinya sampai saat terakhir, semua kekhawatiran Misaki lenyap.
Intinya, dia merasa gagal sebagai butler serba bisa.
Meski begitu ada hal lain yang memenuhi hatinya selain rasa kesal itu. Sesuatu yang mirip cemburu tapi tidak sama, seperti halnya perasaanya pada Misaki yang mirip cinta tapi lebih kuat dan erat tapi tetap saja bukan cinta. Perasaan itu membuatnya tidak puas terhadap diri senditri secara pribadi, yang tidak ada hubungannya dengan kedudukan majikan pelayan antara dirinya dengan gadis itu.
"Tetap saja..."
Sebastian tersentak dari lamunannya dan mendapati Misaki masih menatapnya. "Apapun yang dia lakukan tidak akan mengubah hubungan kita berdua." Apapun yang Usui lakukan tidak akan mengubah ikatan yang terlanjur terbentuk diantara kita.
Misaki tersenyum menatap kedua bola mata merah abdi iblisnya. "Aku adalah tuanmu dan kau adalah pelayanku. Jiwaku akan jadi bayaran atas kesetiaanmu padaku. Kau akan ada disiku sampai saat yang paling akhir. Benar begitu bukan, Sebastian?"
Sebastian balas tersenyum mendengar kata-kata Misaki barusan. Benar. Apapun yang pemuda itu lakukan, ikatan perjanjian jiwa antara aku dan gadis berjiwa aneh namun lezat ini tidak akan pernah berubah.
Butler serba bisa itu menarik Misaki lebih dekat k edadanya dan mengecup pelipis kanan gadis itu, tempat tato perjanjian mereka berdua terukir. Tato itu berpendar terang saat bibir sang iblis menyentuhnya dengan takzim.
"Yes, my lady."
That Maid, With Her Lovers
Dunia putih sejauh mata memandang. Butir-butir salju hangat turun perlahan, menari ditiup angin yang berhembus pelan.
Gadis itu membuka matanya dan mengulurkan tangannya kelangit, menangkap butiran-butiran salju dengan telapak tangannya dan menggenggam butiran-butiran itu sampai mencair. Cairan itu berkilau seperti perak transparan, mengaliri lengannya dan menetes ke wajahnya.
Hangat.
"Salju pertama."
Misaki menoleh kebelakang dan mendapati Usui sedang menatapnya sambil tersenyum. "Sejak kapan kau ada disitu?" tanya Misaki sambil mengelap wajahnya yang basah terkena salju yang mencair tadi. "Sejak kau memejamkan mata dan mengulurkan tangan kelangit, menangkap salju-salju yang turun itu. Aku berniat memanggilmu karena Sebastian bilang sarapan sudah siap," jawab Usui seraya berjalan kesisi Misaki, menengadahkan kepala dan ikut-ikutan menatap salju yang turun.
"Salju pertama ya," gumam Misaki pelan sekali sampai Usui nyaris tak bisa mendengarnya. "Indah sekali kan'?" bisik Usui yang tiba-tiba saja berdiri dibelakang Misaki dan melingkarkan kedua lengannya disekeliling pinggang gadis itu. "Indah…" ulang Misaki tanpa berpikir.
Ini adalah salju pertama dimusim dinginku yang terakhir.
Usui merasakan suasana yang tiba-tiba saja muram tapi tidak berani bertanya apa yang sedang Misaki pikirkan, tak yakin kalau dia akan senang mendengar jawabannya. "Ngomong-ngomong, tumben kau bangun pagi sekali, kaichou. Ini baru jam lima lho," ujarnya dengan nada biasa, ringan, nyaris tak kentara kalau itu adalah usaha untuk mengalihkan perhatian. Serajin apapun Misaki, tidak biasanya dia bangun sepagi ini, apalagi dihari yang dingin karena turun salju seperti sekarang. Raut wajah Misaki menjadi keruh mendengar pernyataan yang mirip pertanyaan barusan, teringat penyebab dia bangun lebih awal dari biasanya hari ini. Secara tak sadar dia melepaskan diri dari pelukan Usui dan bersedekap kesal.
"Aku terbangun mendengar alarm Hazuki tapi dia sendiri masih tetap tidur. Dibangunkan malah marah-marah," Misaki mulai mengomel mengingat pemuda yang sudah tiga bulan tinggal bersamanya itu. "Oh, itu aku yang memasangnya. Aku berniat mengerjai si tukang tidur itu tapi ternyata dia lebih hebat dari yang kuduga," ujar pemuda itu sambil mengelus-elus dagu. Misaki melotot galak menatapnya dan setengah berteriak, "Apanya yang 'hebat'? Jadinya aku yang kena, kan!" omelnya pedas seperti biasa tapi seperti biasa pula Usui tidak terpengaruh dengan kemarahannya. Cowok itu malah tertawa dan hal itu membuat Misaki bertambah marah.
Tiba-tiba saja Usui menggenggam kedua tangan Misaki dan meletakkannya dipipinya. Pipi itu memerah dan terasa dingin terkena udara pagi hari itu tapi entah kenapa Misaki merasa sangat hangat. Seolah pipi yang dingin itu memancarkan kehangatan yang lembut ke hatinya.
"Biasanya kau berteriak histeris dan berkata 'apa yang sedang kau lakukan, Usui payah?' kalau aku melakukan hal ini padamu," kenang Usui. Wajah Misaki memerah mendengarnya, yang tidak ada hubungannya dengan udara dingin pagi itu. "Aku begitu ya? Masa' sih?" tanya Misaki pura-pura tidak ingat.
"Iya. Kaichou selalu begitu," Usui membenarkan. Sebuah ide nakal melintas dipikirannya. Tiba-tiba saja dia mendekap Misaki dan menyurukkan wajahnya di leher gadis itu lalu berbisik,
"Kalau begini bagaimana?"
Wajah Misaki semakin memanas. Dia memukul punggung Usui keras-keras sambil menjerit, "Apa yang kau lakukan, Usui payah?"
Usui tertawa mendengar reaksi Misaki yang persis seperti yang baru saja dia katakan. Misaki menutup mulutnya dan mendelik melihat Usui yang tertawa keras sekali. Cowok ini selalu berhasil membuatku kesal! batin Misaki, tapi dia tahu alasan dibalik kejahilan-kejahilan Usui belakangan ini. Untuk mengerjai Misaki? Yah, salah satunya memang itu, tak dipungkiri lagi, tapi ada alasan lain yang lebih mendalam.
Yaitu untuk menghiburnya.
"Terima kasih."
Misaki mengucapkannya dengan pelan tapi cukup jelas sehingga Usui bisa mendengarnya. Wajah Usui menampilkan ekspresi terluka namun sedetik kemudian, sebelum Misaki sempat mengomentarinya, ekspresinya berubah santai kembali. Dia menggenggam sebelah tangan Misaki dan setengah menarik gadis itu kembali ke apartemen yang kini ditinggali mereka berempat: Misaki, Sebastian, Hazuki, dan dirinya sendiri. "Ayo kita sarapan! Sebagai ganti telah membangunkanmu pagi-pagi begini, bagaimana kalau kita habiskan jatah sarapan Hazuki?"
Misaki menyipitkan mata meliriknya. "Bukannya kau yang memasang alarm itu? Kenapa harus dia yang menanggung akibatnya?"
"Tidak usah memikirkan hal-hal remeh, kaichou," sahut Usui sambil mengibaskan tangan tak peduli.
"Apanya yang remeh?" teriak Misaki dengan urat berdenyut didahinya sementara Usui malah bersiul-siul tenang sambil menangkapi salju-salju yang turun dengan sebelah tangannya yang tidak sedang menggandeng tangan Misaki, membuat sang mantan ketua OSIS SMA Seika yang dijuluki ratu setan itu meledak-ledak marah disepanjang jalan.
That Maid, With Her Companion
"Ayo jalan-jalan."
Hari itu hari Minggu. Sebastian dan Usui sedang keluar rumah untuk belanja bulanan. Sebenarnya itu tugas Misaki tapi karena hari ini sedang badai salju, dan persediaan makanan dirumah benar-benar tipis maka dua orang yang punya ketahanan fisik melebihi manusia biasa itu (salah satunya memang bukan manusia) yang pergi berbelanja. Jadi tinggalah Misaki dan Hazuki dirumah berdua saja.
Misaki mengangkat wajahnya dari majalah yang sedang dia baca dan ternganga mendengar ajakan Hazuki barusan. "Apa kau bilang barusan?" tanyanya seolah tidak percaya pada pendengarannya sendiri. Hazuki mendesah mendengar pertanyaan barusan. "Aku bilang ayo kita jalan-jalan," ulangnya dengan nada tidak sabar.
"Diluar sedang badai," Misaki menunjuk keluar jendela, "dan setahuku saat sedang badai kita tidak bisa keluar rumah sama sekali, apalagi jalan-jalan," lanjutnya dengan nada mengingatkan. "Siapa bilang kita akan jalan-jalan diluar?" decak Hazuki.
"Terus kita jalan-jalan kemana?"
Hazuki menyambar syal yang tersampir diatas sofa dan melilitkannya ke sekeliling lehernya. "Kita jalan-jalan didalam apartemen saja. Sudah beberapa bulan aku tinggal disini tapi belum sekalipun aku menjelajahi tempat ini," jawab pemuda itu. Misaki ternganga mendengarnya. Serius nih? Tapi belum sempat dia tersadar dari keterkejutannya, Hazuki sudah membuka pintu depan dan sekarang sedang menatapnya dengan tatapan tak sabar. Misaki buru-buru menyambar syal dan sweaternya yang tergantung di kaitan baju dan menyusul Hazuki.
Mereka menyusuri lorong apartemen yang sepi dalam diam. Tidak ada orang yang cukup gila untuk keluar kamar di cuaca seburuk ini kecuali mereka berdua. Walaupun didalam apartemen tidak terlalu dingin tapi tetap saja suhunya hanya sedikit diatas 10 derajat celcius.
"Lalu, kau mau bicara apa?"
Hazuki tersenyum kecil mendengarnya. "Kenapa kau bisa tahu apa tujuanku?" tanyanya sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku celana.
"Hanya menebak. Kau tidak terlalu sulit dipahami. Lagipula kita berdua cukup mirip," jawab sang mantan ketua OSIS santai.
Lagi-lagi mereka berdua berjalan dalam kesunyian. Badai salju yang mengganas diluar menggetarkan jendela di puncak tangga yang mereka lalui. Dalam hati Misaki membatin apa Sebastian dan Usui baik-baik saja diluar sana. Meskipun mereka iblis dan alien, tapi ditengah badai seganas ini...
"Bersamamu beberapa bulan ini... menyenangkan juga."
Misaki sadar dari lamunannya dan menoleh kearah Hazuki dengan mata terbelalak. "Ha?"
"Ma... maksudku..." Hazuki buru-buru berusaha meralat kata-katanya tapi sejak dulu dia tidak terlalu pandai mengungkapkan isi hatinya yang sesungguhnya pada orang lain. Sulit mencari kata-kata yang tepat. "Maksudku adalah... uuh, bagaimana cara mengatakannya ya?" gerutunya sambil mengacak-acak rambut. Misaki menatapnya dengan sorot mata bingung. Apa yang mau dia katakan sebenarnya?
Pemuda berambut abu-abu kebiruan itu berdeham pelan dan menatap Misaki dengan sungguh-sungguh. "Maksudku, aku senang telah bertemu denganmu. Walaupun kita terus adu mulut, bukan berarti aku membencimu. Kesannya memang kejam, tapi awalnya aku senang bertemu dengan orang yang menanggung takdir sama sepertiku.
"Tapi," dia melanjutkan dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, "lama-lama, rasanya keberadaanmu lebih dari sekedar teman senasib. Rasanya wajar kalau kita bersama. Bertengkar, berbaikan tanpa kata-kata... sejak dulu, bahkan saat dikehidupanku sebagai Ciel Phantomhive, sampai sekarang, tidak ada orang yang seperti itu didekatku."
Ekspresi seriusnya berganti dengan senyum. "Aku senang bisa menjadi sahabatmu."
Wajah Misaki memerah mendengar pengakuan ini. Belum pernah sebelumnya Hazuki seterbuka ini padanya. Misaki paham kalau pengakuan ini adalah pesan pribadi terakhir untuknya sebelum 100 hari-nya berakhir, tapi tetap saja... agak memalukan.
"A... aku juga," ujarnya sambil mengalihkan pandangan.
"A ~ ah, apa yang barusan itu pernyataan cinta?"
Misaki dan Hazuki tersentak kaget saat menoleh kearah sumber suara barusan. "Usui! Sebastian!" seru mereka berdua bersamaan. "Kalian berdua kompak ya?" ujar Sebastian dengan nada dan ekspresi mengejek. "Ap... apa maksud kalian?" wajah Misaki bertambah merah beberapa derajat.
"Hei, kaichou, apa kau mencampakkan kami?" tanya Usui sambil menatap Misaki dengan ekspresi mirip anak anjing yang terluka (yang dimaksud 'kami' oleh Usui tadi tentu saja dirinya dan Sebastian) sementara Sebastian menahan tawanya melihat ekspresi Misaki dan Hazuki yang luar biasa. Urat nadi mulai berdenyut di dahi Misaki. "Maksud kalian berdua apa, hah?" serunya sambil mengacung-acungkan telunjuk kearah dua orang yang menenteng plastik penuh barang belanjaan dihadapannya. Usui tidak menjawab dan hanya bergumam tentang 'kaichou tukang selingkuh', membuat Misaki meledak marah dan mengomelinya sepanjang perjalanan kembali ke kamar. Sebastian dan Hazuki berjalan dibelakang mereka.
"Apa menurutmu dia bahagia... di hari-hari terakhirnya ini?" tanya Hazuki saat dua orang di depan mereka cukup jauh dari jarak dengar. Sebastian tersenyum sambil menatap tuan mudanya. "Tentu saja, tuan muda. Dia sangat bahagia," ujar Sebastian sungguh-sungguh.
"Aku menyesal tidak bisa berbuat banyak untuknya."
"Anda sudah berbuat cukup banyak untuknya. Sama seperti anda, nona Misaki juga senang anda menjadi sahabatnya."
Hazuki lega mendengarnya sebelum menyadari sesuatu. "Hei, sebenarnya kalian mendengar pembicaraan kami dari mana?" tanyanya serius. Ekspresi Sebastian berubah datar kembali tapi ada kilatan jahil di mata merahnya. "Dari mana ya? Hmm..." gumamnya sambil pura-pura berpikir keras. Hazuki cukup mengenalnya untuk tahu kalau Sebastian memiliki niat untuk mengerjainya.
"Oi, Sebastian! Jawab!"
"Hm..."
"Hei!"
Dan koridor pun dipenuhi suara gumaman tak jelas serta bentakan-bentakan tak sabar.
That Maid, the Last Day
Hari itu salju turun perlahan, sama seperti hari pertama musim dingin.
Tiga orang duduk di ruang tamu, diam menatap salju. Ketiganya diam tak bergerak, hanya menikmati pemandangan luar biasa yang tampak dari jendela ruangan yang besar. Dunia putih membentang.
Misaki duduk di sofa panjang, saling bersandar dengan Usui. Matanya setengah terpejam. Tangannya sesekali menggenggam erat tangan kekasihnya. Usui diam tak bergerak namun kadang dia menunduk untuk mengecup dahi Misaki atau hanya sekedar menyurukkan wajahnya ke rambut hitam gadis itu. Sebastian berdiri di pinggir ruangan, menatap kosong kedepan. Hazuki duduk tak jauh darinya, menatap salju dengan segelas susu campur madu panas ditangan.
Matahari mulai tenggelam tapi sakju tetap turun. Cahaya jingga bercampur dengan salju yang putih bersih, membiaskan cahaya dari es-es yang tergantung didahan-dahan pohon. Usui mulai membuai Misaki yang kini berada dalam pelukannya, bernyanyi dengan suara lirih.
mikatzuki wo daita kimi ni tsubuyaite
kona yuki to odoru kimi ni aitai
datta hitotsu dake no omoi wo nosete
akaku somaru yuki wo sora ni chiribameta
I whispered to you, who held the moon:
"I want to dance with you in this powdery snow"
I gave the only love I had
and scattered the crimson-stained snow to the sky
kimi wo dakishimeru hana to nare
tsunoru omoi megurase sakimidare
kokoro ubawareru hodo kimi wo ai seta koto wo
nando mo nando mo yozora ni sakenda
Become the flowers that you embraced
Bloom, surrounded by these ever growing feelings
Over and over... I cried into the night sky
That I'd loved you so much I'd lost my soul
toiki akaku somete utai tsuzukete ita
koyoi no yume ni zo kimi ga sugata wo
kimi no kieta kisetsu ga mou sugu owaru
saigo no namida, kasane, kono yuki ni kaete miseyou
You continued to sing as your breath was stained red
"May you appear in my dreams tonight..."
Your final season has nearly reached its end
My last tears gather in my eyes, let's return to this fine snow
kimi wo dakishimeru yuki to nare
tsunoru omoi chiribame maiodore
kizu wo kakusou to suru hodo naze ka namida ga furete
kimi no hohoemi ga ima, kasunde mienai
Become the snow that you embraced
Scatter these ever growing feelings, dance wildly
Why do these tears flow and make me want to end this pain?
Your smile is becoming blurry now
kimi wo terashidasu tsuki ni nareru nara
yozora ni hoshi chiribamete
kimi wa sagasou
If I could become the moon that shines upon you
I'd scatter the stars into the night sky
And search for you
karada kuchihatete mo..
Even as my body wasted away...
kimi wo dakishimeru yuki to nare
yozora no kimi wo irodoru hana ni nare
kimi ni fureyou to suru hodo tsukande wa kieru "yuki no hana"
nando mo nando mo yozora
sakebi tsuzuketa
Become the snow that you embraced
Become the flowers that painted you onto the night sky
I try to be close to you, but you vanish in my grasp... "snow blossom"
Over and over... to the night sky
I kept screaming
kimi ni todokimasu you ni...
In hopes that it will reach you...
Sebastian berjalan tanpa suara kesisi Misaki dan menggenggam sebelah tangannya yang bebas. Perlahan sesuatu yang terang mengalir dari tangan Misaki yang digenggamnya ke tangannya. Biasanya dia tidak sehalus ini saat memangsa jiwa korbannya tapi khusus Misaki... dia tidak bisa berbuat sesadis itu. Gadis itu istimewa baginya.
Saat semua cahaya terserap padanya, Sebastian menunduk untuk mengecup dahi majikannya yang kini sudah tidur lelap itu. Hazuki yang dari tadi berdiri dibelakang Sebastian membisikkan kata-kata perpisahan ditelinganya. Usui mempererat pelukannya dan menyapukan bibirnya ke bibir dingin kekasihnya.
"Selamat tidur, Misaki."
Setidaknya, kali ini kau tidak akan pernah bermimpi buruk lagi... untuk selamanya.
Author's note: Nah, sekarang bener-bener tamat.
Walau gue bilang sebelomnya ga mau nulis saat terakhir Misaki, akhirnya gue tulis juga. Soalnya aneh kalo putus abis bagian Hazuki.
Maaf atas epilog yang kelamaan update ini. Dan cerita yang makin gaje (gue nyadar kok) *bows*
Mata ne!
By: minamishiho
.
.
.
n.b: gue baru sadar ada kesalahan waktu ngejelasin Hazuki a.k.a Ciel. Pertama gue tulis umurnya 18 tahun dan dia murid SMA, tapi selanjutnya gue nulis dia kuliah di Universitas T. Yang bener adalah dia umur 18 tahun dan dia mahasiswa tingkat pertama di Universitas T. Maafkan kesalahan fatal ini ya! *bows deeply*

44