Ohayou gozaimaaaaaaaaaaaasu …
Ou genki desu ka?…
Perkenalkan saya author baru disini….
Ini adalah fic pertama saya, jadi mohon maaf kalau masih banyak kesalahan…
Oh iya, berhubung saya jarang buka fanfiction, jadi saya maafkan saya kalau sudah pernah ada yang membuat cerita seperti ini. Tapi kalau belum ada itu artinya dewi fortuna sedang berpihak kepada saya *apa hubungannya coba?*
Gomen kalau seandainya ceritanya jelek ^^"
Aduh, jadi kebanyakan ngomong…
AYO KITA MULAI…..
.
The Mystery of a Gold Medal
.
Desclaimer : Sampai matahari terbit dari barat *kiamat dong?* Naruto tetep punya Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Adventure/Friendship
Main Chara : Itachi Uchiha, Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, dan Sakura Haruno
Warning : AU, OOC (maybe), Typo (maybe, tapi Rei-chan tetap berusaha meniadakan typo), Gaje, Aneh, Ancur, dll
.
DON'T LIKE, DON'T READ !
.
Chapter 1 : The Medal from Flea Market
Konoha city
Sinar putih menyilaukan itu menari di tembok kamar yang gelap gulita. Bentuknya seperti lingkaran putih terang dengan kelelawar yang menggembung di udara dan terus mengikuti kemana cahaya pergi. Sekelebat kelelawar itu terbang dan –
"Argghhhhh…!" teriak Naruto.
"Kenapa lampunya dinyalakan!" teriak Sakura kesal.
"Sabar, sabar, ini kaa-san. Maaf kaa-san tidak tahu kalian sengaja main gelap-gelapan di kamar." Suara Mikoto, ibu Sasuke, yang berdiri di depan pintu terbuka melenyapkan kekesalan Naruto dan Sakura. "Kalian sedang apa?"
"Sedang mencoba hiasan panggung buat sandiwara sekolah, kaa-san," jawab Sasuke.
"Ceritanya dini hari, di pedesaan. Jadi sengaja kami menempel kertas hitam di depan lampu senter ini, yang kalau kami sorotkan ke dinding, seakan-akan ada bayangan burung terbang," ujar Sakura sambil menunjukkan senter besar di tangannya.
"Oh, itu maksudnya burung toh, aku kira kelelawar kebanyakan makan," kata Itachi, yang kini ikut berdiri di sebelah ibunya. Tangan kirinya bertumpu di pintu kamar dan tangan kanannya tenggelam di saku celana panjangnya.
"Ha ha ha, lucu sekali," jawab Sasuke sambil tertawa sinis. "Bukannya kelelawar yang kebanyakan makan itu aniki?" Sasuke menyindir kakaknya yang menurutnya menyebalkan itu.
"Tadi kaa-san memanggilku? Ada apa?" tanya Itachi.
"Ya, bagus kalian semua di sini, kalian juga Naruto, Sakura. Kaa-san bawa oleh-oleh dari Linz untuk kalian."
Kini semua menoleh ke tangan Mikoto, yang ternyata membawa bungkusan plastik berukuran sedang.
"Ke Austria lagi ya, Kaa-san?" tanya Naruto.
Sasuke, Naruto, dan Sakura sudah lama berteman akrab, semenjak mereka menjadi satu kelompok belajar di sekolah dasar. Awalnya mereka jarang berbicara. Bagaimana tidak, Sasuke dengan Naruto dan Sakura bagaikan langit dan bumi. Sasuke yang dingin, pendiam, dan juga suka menyendiri (dan tentunya sangat tampan) pastilah sangat berbeda dengan Sakura dan Naruto yang ramah, pecicilan, cerewet, dan senang bergaul dengan banyak orang, sehingga rasanya sangat mustahil mereka dapat berteman akrab bahkan bersahabat.
Namun, lambat laun mereka menyadari kalau mereka mempunyai kesukaan yang sama, yaitu sama-sama suka membaca, mendengarkan musik, menyukai sejarah, cerita detektif, sandiwara, dan beberapa hal lain. Kini setelah delapan tahun saling mengenal, Sakura dan Naruto sering bertandang ke rumah Sasuke dan memanggil orang tua sahabat mereka itu dengan sebutan Kaa-san dan Too-san.
Alasan mereka berdua memanggil orang tua Sasuke dengan sebutan Kaa-san dan Too-san karena kedua orang tua mereka sudah meninggal. Ceritanya orang tua mereka akan melakukan perjalanan untuk urusan bisnis bersama-sama. Akan tetapi, suatu musibah terjadi. Pesawat yang mereka tumpangi meledak. tak satu pun penumpang yang selamat, termasuk orang tua Sakura dan Naruto. Semenjak itu, mereka tinggal dengan kakek dan nenek masing-masing.
Mikoto mengangguk. "Perusahaan milik keluarga kaa-san kan mempunyai cabang di Austria, ya sudah pasti kaa-san sering bolak-balik ke sana. Kaa-san juga baru pulang kemarin malam. Tadi pagi baru sempat memberesi koper dan ini hasilnya untuk kalian." Mikoto membuka bungkusan dan mengeluarkan isinya.
"Nah, buku tentang arsitektur kota Linz ini untukmu, Itachi," ujarnya sambil menyodorkan sebuah buku tebal ke arah Itachi.
"Wuihhh kerennn, arigatou kaa-san, tahu saja saya mau jadi arsitek," ujar Itachi sambil membuka-buka halaman buku barunya.
"Postcard ini buat Sakura…."
"Wah, banyak amat, sepuluh! Arigatou kaa-san."
"Miniatur puri ini buat Naruto…"
"Wah, arigatou kaa-san. Linz itu kota besar ya, Kaa-san?" tanya Naruto.
"Linz itu ibukota provinsi Upper Austria, salah satu dari sembila provinsi di Austria. Linz juga pusat bisnis terbesar kedua setelah Vienna, ibukota Austria dan pusat industri seluruh Austria."
"Yang terakhir…. ini untukmu, Sasuke…." Mikoto mengeluarkan benda seperti medali yang tampak karatan, "Kaa-san tahu kau suka sejarah, benda-benda kuno, jadi ini kaa-san beli dari pasar loak di alun-alun kota. Kata penjualnya, umurnya sudah ratusan tahun, entah benar atau tidak, dia sendiri tidak tahu ini apa, karena bentuknya unik, kaaa-san beli saja, sekalian melengkapi koleksi barang-barang kunomu."
"Barang loakan maksudnya," kata Itachi yang langsung dibalas deathglare oleh Sasuke.
Sasuke menggenggam benda yang Mikoto maksud ditangannya. Naruto dan Sakura ikut mengamati.
Benda itu bundar seperti medali, ukurannya besar dan tebal. Benda itu terbuat dari logam yang sepertinya emas dan beberapa bagiannya sudah menghitam. Di atasnya terdapat hiasan ukiran gambar bunga yang mempunyai lima lembar tajuk bunga. Di tengah-tengah bunga, di pusat mahkota bunga, terdapat bingkai kecil berbentk lingkaran dengan jarum kecil di pusatnya.
"Seharusnya ada batu permatanya di tengah-tengah bunga, jarum itu tempat menancapnya batu, tapi sudah tidak ada. Kata si penjual, kondisinya sudah seperti itu ketika dia menemukannya secara tidak sengaja, ketika beres-beres loteng rumah peninggalan kakeknya," kata Mikoto, seakan bisa membaca pikiran Sasuke, Naruto, dan Sakura.
Itachi ikut mengamati. "Hei lihat, ada gantungannya, berarti ini dulu berfungsi seperti liontin, bandul kalung, atau medali."
Semua kini melirik ke lingkaran logam tepat di atas salah satu kelopak bunga. Tampaknya Itachi benar.
Sakura memasukkan senter ke dalam kantong celana jeansnya, lalu mengambil penggaris dari meja belajar Sasuke. "Hmm…, diameter medali ini sekitar delapan sentimeter, tebalnya dua senti, dan lingkaran untuk tempat rantai kalung berdiameter sekitar… emm… satu senti!" Dia menaruh medali itu di depan dadanya dan tertawa sendiri. "Yang memakai medali ini pasti lehernya besar."
Semua tertawa, kecuali Sasuke yang hanya tersenyum tipis. Medali itu memang berukuran besar. Dibandingkan dengan badan Sakura yang hampir pipih seperti papan, medali itu benar-benar raksasa.
"Kaa-san senang kalau kalian suka dengan oleh-oleh yang kaa-san bawa. Sekarang kaa-san ke dapur dulu, kita makan siang satu jam lagi, tidak perlu kaa-san panggil ya."
"Beres kaa-san, arigatou gozaimaaaasu," paduan suara Naruto dan Sakura. "Iya kaa-san," jawab Sasuke dan Itachi. Mikoto pun pergi dari kamar Sasuke.
Naruto mencungkil-cungkil kotoran di medali itu dengan ujung kukunya. "Lihat nih, ada tulisan di masing-masing lembar tajuknya… emm… huruf… satu huruf di tiap tajuk… A… E… I… O… U…"
"Ah, itu sih cuma semua vocal dalam alphabet," kata Itachi.
"Kurasa AEIOU mengandung arti. Tidak mungkin mereka sekedar iseng dan menulis AEIOU tanpa makna," sanggah Sasuke.
"Itachi-nii, tolong lihat buku gedungmu, yang barusan diberi kaa-san, ada gedung tuanya tidak? Ayolah, siapa tahu ada yang bersimbol AEIOU juga." pinta Sakura.
Itachi membuka buku barunya di atas tempat tidur. Buku itu tentang serba-serbi bangunan di kota Linz. Semuanya ada, dari gambar reruntuhan puri kuno sampai gedung perkantoran modern yang bentuknya seperti rumah kaca kubus.
"Lihat yang gedung tua, puri kalau ada," pinta Naruto. "Kata kaa-san kan medali ini sudah ratusan tahun."
"Sebentar… sabar… satu-satu dilihat," cetus Itachi. "Ah ya! Puri Linz! Coba lihat keterangan fotonya, hmmm… merupakan salah satu istana kaisar Austria."
Sasuke yang dari tadi hanya diam, ikut melihat halaman yang sedang diamati Itachi, Sakura, dan Naruto.
"Lihat ada lambangnya!" seru Naruto.
"Rajawali hitam dengan dua kepala, menengok ke kiri dan ke kanan," sambung Sasuke.
"Hei! Di bawahnya tertulis AEIOU! Persis dengan tulisan di medali ini," seru Sakura.
"Kira-kira apa artinya? Hmm… tidak ada di sini." kata Itachi.
"Internet! Teme, coba cari artinya di internet." Pinta (baca : perintah Naruto).
"Laptopku lagi diservice," jawab Sasuke sekenanya.
"Itachi-nii, coba cari artinya di internet. Tolong Itachi-nii, kami penasaran sekali," pinta Sakura.
Itachi berjalan menuju kamarnya, diikuti Sasuke, Naruto, dan Sakura. Setibanya di kamar Itachi, dia tak menemukan laptopnya. "Hei, di mana laptopku?" tanya Itachi sampil mencari laptopnya di dalam kamar. "Mana kutahu. Bukan aku yang mengambilnya," jawab Sasuke. "Aku tidak memuduhmu otouto." Itachi melirik adiknya. "Mungkin ada di perpustakaan. Bukannya tadi Itachi-nii habis dari perpustakaan?" kata Sakura. "Oh iya ya." Itachi menepuk dahinya. "Masih muda sudah pelupa," celetuk Sasuke. "Kau bilang apa, otouto?" Itachi berpaling menghadap Sasuke. "Hn, tidak ada." Sasuke mengangkat bahunya.
Itachi memutar bola matanya. "Tadi kudengar kau bilang aku pelupa." "Itu sudah tahu, kenapa tanya?" Sasuke menyeringai. "Haduh, sudahlah, lebih baik sekarang kita ke perpustakaan," ujar Naruto. Mereka pun langsung pergi ke ruang perpustakaan.
"Teme, aku lihat ya medalimu," pinta Naruto.
"Sakura yang bawa," jawab Sasuke.
"Ini, pegang saja, lama-lama berat juga." Sakura memberikan medali itu kepada Naruto lalu berdiri di samping Sasuke yang sedang berdiri di belakang punggung Itachi yang sedang mengotak atik komputer.
Naruto mengamat-amati medali raksasa yang memenuhi telapak tangan kanannya. Tebal sekali. Tapi tidak seberat kelihatannya. Medali apa ini? Dirabanya bingkai di pusat bunga yang katanya tempat batu permata. Hmmm… sebesar kelereng barangkali.
"Teme, kau punya kelereng?" tanya Naruto.
Yang ditanya menjawab tanpa menoleh. "Ada di kamar, di laci mainan sebelah lemari baju."
Naruto pergi ke kamar Sasuke, mengambil kelereng dari tempat yang disebutkan, kemudian kembali ke perpustakaan. Dia menaruh biji kelereng itu ke dalam lingkaran logam di tengah medali. "Hei! Pas!"
Di saat yang sama Itachi berteriak, "Ketemu! Lihat nih banyak berita tentang AEIOU. Sebentar aku pilih yang kelihatannya paling lengkap." Dia mengklik beberapa kali mouse di tangannya, lalu berkata, "Wah panjang benar, aku print semua saja, hmmm… OK, sambil nunggu hasil print kalian bisa baca ini." Sasuke, Naruto, dan Sakura membaca singkat isi layar monitor.
"AEIOU, dicetuskan oleh Kaisar Jiraiya dari Austria, yang hidup di tahun 1415 – 1493. beliau adalah kaisar Romawi terakhir yang dilantik menjadi penguasa di Roma. Mempunyai beberapa istana, salah satunya adalah istana Linz, tempat beliau meninggal dunia.
Beliau menguasai hampir seluruh wilayah Eropa dari barat seperti Prancis, Belanda, dan Belgia. Lalu Eropa Tengah seperti Jerman, Swiss, dan Austria. Juga Eropa Timur seperti Polandia, Ceko, dan Hungaria. Bahkan sampai ke selatan seperti Italia, Portugis, dan Spanyol. Untuk menunukkan kekuasaanya, beliau membuat simbol AEIOU, Alles Erdreich Ist Oesterreich Untertan yang diartikanseluruh dunia adalah jajahan Austria." Itachi membaca tulisan di layer laptopnya.
"Huh, sombong sekali menyimpulkan bahwa seluruh dunia adalah jajahan Austria, dia bahkan belum pernah ke Asia!" celetuk Naruto yang berdiri di sebelah printer.
"Itachi-nii, lihat dong kapan dia hidup. Dia hampir meninggal dunia, Colombus baru sampai ke benua Amerika," jawab Sakura.
"Lalu? Apa hubungannya?" Itachi mengernyitkan alisnya.
"Kalau aniki menyimak pelajaran sejarah, aniki bakal ingat, orang-orang menertawakan rencana Colombus berlayar ke dunia lain. Sebagian besar masih percaya kalau bumi itu datar. Banyak yang berpikir tidak mungkin ada daratan lain di balik laut. Bagi orang Eropa zaman dulu, pusat dunia ya Cuma Eropa. Kalau bisa menguasai sebagian besar Eropa berarti seluruh dunia sudah di tangan." Sasuke menjelaskan panjang lebar.
"Hih, siapa juga yang tertarik sama pelajaran yang bikin ngantuk itu," gumam Itachi ke dirinya sendiri. Dia mengambil halaman pertama yang keluar dari mesin printer. "Ada banyak pilihan arti kata AEIOU," kata Itachi membaca kertas yang digenggamnya. "Mau yang mana? Bahasa latin juga ada, atau –"
"Hahhhh!" jerit Naruto.
Semua menoleh ke arah Naruto, kemudian kea rah medali yang ada di tangannya. Medali itu terbuka!
"Lha? Kok? Kau apakan? Kok bisa?" Sakura dan Itachi berebutan mengerubungi Naruto.
"A… aku… aku juga tidak tahu…, tanpa sadar, karena terlalu gembira mendapat informasi tentang AEIOU, emmm…, sepertinya aku menekan kelereng itu ke dalam tempatnya… dan tiba-tiba… tiba-tiba…, medali ini terbuka sendiri."
"Lihat, bagian dalamnya seperti kompas… ada jarum penunjuknya." kata Itachi.
"Jarumnya berhenti, karatan mungkin." sahut Sasuke datar.
"Paling sudah rusak, hmmm… kompas yang aneh, tidak ada tanda utara atau selatannya." gumam Sakura.
"Di balik tutupnya ada tulisan Falkensteiner." Sasuke ikut mengamati.
"Nama yang punya barang kali, keluarga Falkensteiner." jawab Naruto.
"Sudah, fokus lagi ke AEIOU, yang mana yang kalian pikir arti paling benar?" Itachi mengacungkan lembar kertas ke hadapan Sasuke, Naruto, dan Sakura.
Mereka membaca perlahan baris pertama dengan cepat. "Sudah takdir Austria untuk menguasai dunia, dalam bahasa latinnya…," mereka lalu perlahan-lahan membaca, "Austriae Est Imperare Orbi Universo."
Tiba-tiba jarum kompas itu berputar-putar. Terkejut mereka menatap putaran yang semakin cepat. Tiba-tiba keluar cahaya merah terang dari pusat kompas, diikuti angina yang berputar kencang seperti puyuh…
"Aaaaahhhh….!" Sakura berteriak.
Cahaya dan angin itu menarik mereka, berputar-putar.
"Jangan lepas tanganku!" teriak Itachi.
"Jangan lepas!" teriak Naruto.
"Pegang erat!" teriak Sasuke.
"Ahhhhhhhh!" teriak Sakura.
Mereka berputar melayang semakin cepat di udara. Desingan udara membuat mereka tidak bisa mendengar teriakan yang lain. Cahaya yang teramat silau membutakan mata mereka. Semua terjadi begitu cepat. Ketika pusaran udara dan sinar merah menghilang, mereka mendarat di kegelapan.
"Sasuke? Naruto? Sakura?" tanya Itachi panic.
"Ya. Aku di sini," jawab Naruto lemah.
"Aku juga," jawab Sakura.
"Hn," gumam Sasuke sambil memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar.
"Tidak ada yang terluka? Semua OK?" tanya Itachi.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Naruto dan Sakura.
"Aku…, aku juga tidak apa-apa," jawab Sasuke.
"Kita di mana?"
Tsuzuku
Akhirnya selesai juga chapter 1 yang aneh ini. Oh iya, fic ini berdasarkan sebuah novel punya Rei-chan yang Rei-chan lupa judulnya apa. Yang pernah baca pasti tahu jalan ceritanya. Tapi sedikit saya ubah, biar kesannya tokoh-tokoh Naruto jadi lebih kuat *apan sih?*.
Bagaimana menurut kalian? Bagus atau nggak?
Yonde kudasai, minna-san….
Jangan lupa review yaaaa….
Ditunggu lhooo….
玲子市原

21