FanFiction | Just In Community Forum | More
V
More
The Mystery of a Gold Medal by Uchiha Reiko Ichihara

Anime » Naruto Rated: T, Indonesian, Adventure & Friendship, Words: 8k+, Favs: 6, Follows: 2, Published: 4-8-11 Updated: 5-16-11
21 Chapter 5 : The Kitchen

The Mystery of a Gold Medal

.

Desclaimer : Sampai langit jadi tanah, tanah jadi langit, Naruto tetep punya Masashi Kishimoto

Rate : T (pastinya)

Genre : Adventure/Friendship (mudah-mudahan)

Main Chara : Itachi Uchiha, Sasuke Uchiha, Naruto Uzumaki, dan Sakura Haruno

Warning : AU, OOC (maybe), Typo (maybe, tapi Reiko tetap berusaha sekuat tenaga meniadakan typo), Gaje, Aneh, Ancur, Abal, de el el, de ka ka, de es be

.

DON'T LIKE, DON'T READ !

.

Chapter 5 : The Kitchen

Itachi menutup lukisan rapat-rapat dan membawa adiknya dan Naruto mundur ke dalam lorong.

"Di sini kita aman," ujarnya.

Mereka duduk dalam kegelapan. Walaupun mereka tidak bisa saling melihat wajah masing-masing, mereka bisa merasakan ketakutan dan kepanikan menyerang mereka.

"Pikir, Naruto, pikir!" ujar Naruto ke dirinya sendiri. Air mata mengalir membasahi pipinya.

Sasuke kehilangan kata-kata. Ia ingin menenangkan sahabatnya tapi dirinya sendiri tidak yakin lagi apa yang harus mereka lakukan sekarang.

Naruto mengusap pipinya yang basah. "Kita di mana sebenarnya?" Suaranya berubah marah. "Arrggghhh! Kenapa semua pengetahuan sejarahku hilang sekarang! Aku yang selama ini menyombongkan diri sebagai pencinta sejarah! Ayo Naruto pikir! Pikir!" Naruto mengakhiri kalimatnya dengan menghempaskan kepalanya ke dalam telapak tangannya. "AKU TIDAK BISA BERPIKIR! AKU TAKUT!"

Walaupun susah dilakukan di loronng sempit ini, Itachi memeluk Naruto yang sudah dianggapnya adik kandungnya sendiri yang kini gemetaran.

"Kalung itu… tanpa kalung itu kita tidak mungkin kembali… lalu Sakura… bagaimana dengan Sakura?" ujar Naruto dalam pelukan Itachi.

"Tenanglah Naruto, tenang, kita tenangkan diri kita dulu." Itachi menunggu sampai Naruto tidak menangis lagi, sebelum melanjutkan, "Apa yang kita ketahui selama ini… pelan-pelan kita urutkan lagi… tadi di internet, satu-satunya yang memiliki simbol AEIOU hanya Austria… dan tadi, perempuan yang dipanggil dengan sebutan Yang Mulia, sempat menyebutkan sesuatu tentang wilayah Austria… jadi menurutku… sekarang kita berada di Austria… melihat perempuan-perempuan yang bersikap seperti dayang-dayang… aku pikir kita mendarat di salah satu puri di Austria."

"Lalu?"

"Tidak tahu lagi."

"Apa kata internet tadi?"

"Tidak ingat… tidak tahu… semua aku print tapi belum aku baca semua." Itachi menghela napasnya.

Naruto mengangkat wajahnya, tangisnya kini sudah reda. Itachi pun melepas pelukannya.

"Sebentar… Yang Mulia juga menyebut nama Jiraiya… bukankah… tadi Itachi-nii bilang, yang membuat AEIOU adalah Kaisar Jiraiya?" Naruto berusaha mengingatnya.

Kini Itachi ikut berpikir.

"Hmm… benar… benar juga katamu. Kalau tidak salah memang Kaisar Jiraiya yang membuatnya," jawab Itachi.

"Tahun berapa tadi? Kapan kaisar itu hidup?" Tanya Naruto. Tadi! Seakan tenggang waktu antara membaca data di monitor laptop dan duduk di lantai dingin ini hanya sedetik.

"Tahun 1400 sekian… mungkin saja kita sekarang kembali ke abad 15." Kali ini Sasuke yang menjawab setelah dari tadi ia hanya terdiam mendengarkan percakapan Naruto dan Itachi.

"Mungkin saja… dari baju mereka, tidak mungkin kita di abad modern," sahut Itachi.

"Kecuali kalau kita tercebur ke pesta kostum," celetuk Naruto.

Mereka bertiga tersenyum tipis, seperti sudah lama mereka tidak tersenyum. Walau begitu, secercah senyum mereka sudah cukup untuk mengembalikan semangat mereka.

"Sekarang apa?" tanya Naruto

"Yang penting, kita dapatkan kembali Sakura dan kalung itu," jawab Sasuke.

"Bagaimana caranya? Sekarang kalung itu dipakai oleh Yang Mulia. Mau kita curi juga tidak mungkin," sahut Naruto.

Mereka terdiam lagi.

"Sasuke," panggil Naruto. Di saat-saat seperti ini tidak mungkin kan Naruto memanggil Sasuke dengan teme?

"Hn?"

"Bagaimana kita bisa sampai di sini?"

"Aku tidak tahu, Naruto, medali itu, jarum yang berputar itu yang membawa kita ke sini…" jawab Sasuke. Sama seperti Naruto, Sasuke tidak mungkin memanggil Naruto dengan sebutan dobe di saat seperti ini.

"Bagaimana kita bisa mengerti bahasa mereka? Bagaimana mereka bisa mengerti apa yang Sakura katakan? Pastinya mereka bukan orang Jepang."

"Mungkin jarum itu tidak cuma membawa kita ke sini, tapi membawa kita ke dunianya. Kita bagian dari dunia mereka, makanya kita mengerti apa yang mereka katakana dan sebaliknya. Tapi aku tidak tahu pasti. Kalau aku tahu, kita tidak akan duduk di lorong gelap dan dingin ini sekarang." Itachi yang menjawab.

"Duduk seharian di lorong ini pun tidak membantu." Naruto mendengus sebal.

"Siapa tahu di luar kita bisa mencari tahu di mana sebenarnya kita sekarang," usul Itachi.

"Bagaimana kalau kita tertangkap lagi seperti Sakura?" tanya Naruto.

"Kita harus lebih awas," jawab Sasuke.

Walaupun mereka tidak bisa menatap bola mata yang lain, tapi mereka dapat merasakan kalau masing-masing menatap wajah masing-masing.

"Aku rasa kita perlu menyamar," ujar Sasuke.

"Menyamar?" tanya Itachi.

"Pakai kain seperti Sakura tadi. Jadi tidak mencolok beda baju kita," terang Sasuke.

"Tapi nanti kesandung seperti Sakura?" tanya Naruto.

"Ya melilitnya jangan terlalu ke bawah,' jawab Sasuke.

"Hmmm… tidak jelek sih usulmu. Baik, tapi hati-hati. Aku yang di depan," sahut Itachi.

Mereka berjalan beriringan kembali ke tempat Sakura menemukan kain.

"Oh, cukup, Sasuke. Sepertinya ada orang yang menyimpan onggokan kain-kain tua di sini. Ada beberapa kain lagi," ujar Naruto.

"Ambil tiga saja, Naruto. Kita bukan ingin berjualan kain," perintah Sasuke.

Di kegelapan mereka melilitkan kain itu ke tubuh mereka dan kembali lagi ke arah pintu keluar. Perlahan-lahan Itachi mendorong lukisan itu ke samping. Mendengar apa yang terjadi di luar. Hening. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, mereka keluar dari lukisan. Sejauh ini aman. Mereka berusaha menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu tanpa suara. Setapak demi setapak melangkah, sambil berdoa tidak ada orang yang melihat mereka.

Ketika sampai di anak tangga terakhir, mereka berada di koridor yang luas dan bercabang banyak.

"Ke mana?" bisik Naruto.

"Dapur! Cari dapur! Ibu Kepala tadi bilang Sakura harusnya berada di dapur," jawab Itachi.

"Tapi di mana dapurnya?" tanya Naruto lagi.

Mereka terdiam, berharap mendapat petunjuk.

"Psst… dengar… ada suara orang bekerja di ujung lorong yang satu itu." Sasuke menunjuk lorong di depan mereka. Suara orang bercakap-cakap dan dentangan logam bergema di ujungnya.

"Kau yakin itu dapur?" tanya Itachi.

"Aku tidak tahu, tapi kita harus mencoba, memang aniki punya pilihan lain?" Sasuke balik bertanya.

Mereka mencoba mendengar suara dari lorong-lorong lain. Nihil.

"OK, kita ke lorong itu," ujar Itachi.

"Tapi hati-hati."

Sepanjang lorong itu terpajang lambang-lambang kebesaran dan bendera-bendera. Obor menyala di mana-mana, menerangi sepanjang lorong.

Mereka harus berlindung di balik karpet besar yang dipasang menutupi dinding puri ketika tiga pekerja lewat di depan mereka.

"….semua disapu bersih, kemudian dibasuh dengan air rendaman daun mint agar semua kuman mati. Tirai-tirai yang berlubang karena ngengat ditisik. Bunga lavender digantung di mana-mana agar ruangan wangi dan serangga tidak datang. Piring dan piala tempat minuman dipoles mengkilap dan lambang-lambang kedua kerajaan dipasang di mana-mana… dan semua harus selesai segera… huh…" umpat salah satu dari mereka.

"Jangan sampai Mitarashi-san mendengarmu," kata yang lain.

"Bisa-bisa kau diserahkan ke pihak musuh," ujar yang satunya lagi.

"Semua orang gelisah tentang makan malam ini."

"Kau sudah lihat pasukan Hungaria datang? Mereka bukan tamu yang ramah."

"Pasukan Danzo juga sombong."

"Beruntung kita bukan tentara."

Makin lama suara mereka menghilang ditelan lorong. *memang lorong punya mulut ya?* PLAKK# *disambit bakiak*

Itachi, Sasuke, dan Naruto melanjutkan perjalanan mereka. Dan mereka sampai di pintu besar yang terbuka lebar. Daun pintunya dari papan-papan kayu tebal berjajar yang tengahnya disatukan oleh papan yang dipasang melintang. Itachi, Sasuke, dan Naruto berjongkok di balik tiga gentong kayu besar dan mengintip ke dalam ruangan.

Di dalamnya adalah ruangan luas, sebesar dua kali lapangan basket. Beberapa meja tersebar di dalam ruangan dan di atasnya penuh dengan bahan makanan. Lima sampai enam orang mengerubungi tiap meja tanpa henti-hentinya bekerja.

Di salah satu sudut tertimbun gunungan apel. Begitu banyak apel yang tidak pernah Itachi, Sasuke, dan Naruto lihat dalam hidup mereka. Seperti tiga truk apel baru saja menurunkan muatannya.

Di depan gunungan itu terdapat tiga alat pemeras apel dari kayu. Bentuknya seperti koyak besar yang ditekan oleh papan kayu tebal dengan tiang panjang berulir di atasnya.

Tiga orang diperlukan untuk memeras apel. Satu orang menaruh apel di dalam kotak besar itu dan dua orang memegang tiang panjang itu berjalan memutari alat.

Putaran mereka membuat papan tebal menekan apel-apel sehingga sarinya keluar dari lubang-lubang di dasar kotak dan ditampung di gentong raksasa dari kayu yang terletak tepat di bawahnya.

Tak jauh dari tempat memeras apel terdapat 'oven' besar dan panjang. Di meja depannya dipenuhi tepung dan adonan berwarna kuning muda, sepertinya itu adalah pusat pembuatan roti.

Sebentar-sebentar seorang pekerja memasukkan adonan roti yang ditaruh di atas papan kayu pipih dengan tangkai panjang ke dalam 'oven'. Pekerja yang lain mengeluarkan roti yang sudah matang juga dengan papan bertangkai itu dari dalam 'oven' dan meletakkan ke ujung meja yang penuh dengan kumpulan roti. Asap masih mengepul dari roti-roti itu, menandakan roti-roti itu baru saja matang.

Di sebelah tempat roti terdapat meja besar dengan sayuran berkeranjang-keranjang di dekatnya. Dua orang pekerja mengupas wortel, dua lagi memotong tumpukan kol, daun bawang, dan bawang putih. Di dekat mereka ada pendiangan dengan panci raksasa, seperti dalam cerita nenek sihir, terjerang di atas api dan mengeluarkanbau yang harum.

Tak jauh dari mereka, di pojok yang lain, terdapat pendiangan besar dengan tiga domba guling di dalamnya. Dua orang pekerja memoles domba-domba itu dengan sausnya. Sesekali mereka memutar tongkat besi yang menahan domba di tempatnya.

Di sebelah pendiangan, tergantung di tembok dapur, puluhan ayam utuh yang sudah bersih dari bulu, puluhan potongan daging besar-besar, entah daging apa, dan tergantung pula puluhan hewan kecil seperti kelinci yang sudah tidak berkulit. Di antara daging-daging digantung pula renceng bawang putih yang sepertinya digunakan untuk menahan bau tak sedap dari daging-daging tadi.

Meja besar yang terletak di daerah daging dipenuhi oleh tumpukan dedaunan, bumbu, telur, dan banyak lagi. Botol-botol besar yang terlihat seperti minyak terjejer di sana. Pekerja-pekerja yang ada sibuk menggerus, menumbuk, dan mengaduk sesuatu di dalam wadah besar di depan mereka.

Sisi lain ruangan dipenuhi keranjang buah-buahan, seperti anggur, pear, dan zaitun. Tak jauh dari buah-buahan tersebut, terdapat keranjang-keranjang berisi mawar dan bunga-bunga berwarna kuning, oranye, dan merah. Wangi menyebar dari sudut satu ini.

Ember-ember besar berisi madu dan susu tertumpuk di meja tak jauh dari sudut itu. Beberapa pekerja mengaduk susu di dalam ember kayu. Dari hasil yang mereka tuang ke dalam mangkok, sepertinya mereka sedang membuat mentega.

Tiba-tiba bayangan seseorang melintas di depan mereka. Ibu Kepala a.k.a Anko Mitarashi melihat kesibukan para pegawainya di dapurnya. "Berapa banyak hewan yang kita butuhkan?" tanyanya ke juru masak yang memegang sendok besar di tangannya.

"Kami sudah menyiapkan 1.000 ekor ayam, 100 ekor domba, dan 10 ekor sapi. Tapi kami masih berharap para pemburu mendapatkan rusa, ikan, burung dara, atau hewan lainnya," jawab sang juru masak a.k.a Chouji Akimichi.

Anko mengangguk-angguk sambil mengecek para pekerja pengaduk susu untuk dijadikan mentega. "Tolong sisakan sedikit susu untuk saya," ujarnya ramah. Ia menoleh ke salah satu pekerja, "Jangan lupa kumpulkan bunga-bunga terbaik dari taman dan bersihkan ruang menenun."

"Mitarashi-san akan membuat sabun dan menenun?" tanya sang pekerja dengan sopan.

Yang ditanya mengangguk. Pada zaman itu, sabun terbuat dari susu yang dimasak di atas api kecil sambil terus diaduk. Bunga-bungaan ditambahkan untuk memberikan bau yang harum. Biasanya lemak hewani juga ditambahkan untuk membuat sabun lebih kental.

"Kalau begitu ruang music juga akan kami bersihkan."

"Ya, ide bagus. Juga taman istana dibersihkan dan dirapikan. Bawa semua lavender dan mawar ke dalam. Kita harus membuat puri ini seindah dan semeriah mungkin."

Tiba-tiba Sasuke menyikut rusuk Itachi dan Naruto. Sambil meringis kesakitan Itachi dan Naruto menoleh ke arah Sasuke. Dengan jari telunjuk Sasuke memberi tahu Itachi dan Naruto untuk melihat pekerja yang sedang memasukkan apel ke dalam kotak alat peras.

"Sakura," desisnya pelan.

Itachi dan Naruto mengerutkan kening mereka. Mata mereka menyipit berusaha mengenali pekerja yang ditunjuk Sasuke. Dengan semua pekerja memakai kerudung dan baju yang nyaris sama juga tidak menolong Itachi dan Naruto mengidentifikasi Sakura. Tinggi dan besar mereka pun hampir sama.

"Kau yakin?" tanya Itachi balik.

Sasuke mengangguk. "Satu-satunya yang tidak cekatan hanya Sakura… nah lihat, dia hampir jatuh lagi di gunungan apel itu."

Itachi menatap lagi orang yang dimaksud Sasuke. Ketika orang itu menengadahkan wajahnya, Sasuke menyikut rusuk Itachi dan Naruto lagi. Benar, tidak salah lagi, itu Sakura. Ujung rambut panjangnya yang berwarna merah muda menyembul dari balik kerudung kuning pucatnya. Kini ia memakai baju panjang berwarna hijau lumut sampai ke tanah. Lengan baju yang panjang digulungnya sampai ke siku.

Kini gantian Itachi yang menggunakan telunjuknya untuk mengajak Sasuke dan Naruto keluar dari tempat persembunyian mereka. Berlari kecil untuk dapat keluar dari gerbang di sebelah dapur.

Ketika mereka telah sampai di luar, mereka disambut oleh deretan pohon yang tercukur rapi, bunga-bunga yang berwarna-warni, dan sinar matahari yang menyoroti kepala mereka.

"Mestinya ini taman puri," ujar Naruto.

"Tidak ada orang. Bagus, kita sembunyi di balik pohon-pohon besar itu," perintah Itachi.

Belum lagi lima langkah mereka berjalan di taman indah itu, dari balik punggung mereka terdengar seseorang berseru. "Akhirnya! Kalian datang juga!"

Jantung mereka rontok sampai ke tanah dan kaki mereka tidak mampu bergerak, kaku terpatri di tanah.

Tsuzuku

Fiuh, akhirnya jadi juga chapter 5 ini *ngelap keringet*. Hehe, maafkan saya kalau chapter ini tidak sesuai dengan keinginan kalian, gomen

Oiya, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anda sekalian yang sudah bersedia membaca dan mereview fic saya ini…

Akhir kata,

REVIEW PLEASE!...

玲子市


« First « Prev Ch 5 of 5 

Review

Share: Email . Facebook . Twitter

Story: Follow Favorite
Author: Follow Favorite

Contrast: Dark . Light
Font: Small . Medium . Large . XL

Regular Site . Blog . Twitter . Help . Sign Up  Top