FanFiction | Just In Community Forum | More
V
More
The Birthday Party and Panda Present by Ann Kei

Anime » Naruto Rated: T, Indonesian, Humor & Romance, Gaara & Ino Y., Words: 11k+, Favs: 10, Follows: 10, Published: 4-14-11 Updated: 5-17-12
33 Chapter 6: The Festival

Hollaaa…Ann sudah kembali dari asrama. Dan sesuai tanggungan Ann yang belum lunas, nih, Ann cicil satu chapter.

Ann merasa bersalah karena hanya bisa update satu chapter. Masalahnya, Ann hanya punya waktu satu minggu buat nulis berbagai cerita yang salah satunya adalah ini.

Ann minta maaf…maaf…dan maaf. Tapi, tak ada yang lebih baik selain meng-update cerita daripada kata 'maaf', ya kan?

Enjoy please… ^^

Declaimer : Masashi Kishimoto own the Naruto.

Pairing : GaaXIno, SasuXIno, dll.

Chapter 5 : The Festival.

The Birthday Party and Panda Present

2 hari sebelum hari H

Cerita Gaara di bukit rumah Ino di Kyoto kemarin masih terngiang-ngiang di benak Ino. Ia tak tahu harus berbuat apa untuk menghibur rasa sedih Gaara. Bahkan ia lupa akan balas dendamnya. Dan apakah Ino masih menyimpan dendam itu? Ia tidak tahu.

Harinya dimulai seperti biasa. Mulai dari bangun tidur, sarapan, berkemas-kemas, dan yang terakhir Sasuke menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama. Lalu Gaara? Ia memutuskan untuk tidak mengganggu Ino hari ini.

Mereka sampai di sekolah. Banyak yang melihat kedekatan Sasuke dan Ino hari ini. Memang gosip bahwa Ino dan Sasuke pacaran bukanlah isu lagi. Mereka tidak segan-segannya menunjukkannya di depan umum. Walaupun begitu Sasuke dan Ino tetap bersikap biasa, bahkan terkesan cuek dengan adanya berita tersebut.

Sesampainya Ino di kelas, ia disuguhi dengan wajah teman-teman wanitanya yang berbibar-binar. Ia sudah bisa menebak apa yang ada di pikiran mereka. 'Mungkin tentang aku dan Sasuke.', begitulah ia menduga dari mimik mereka, mereka memang jago bergosip. Namun, dugaan Ino salah.

"Hey, Ino! Kau tahu? Hari ini akan ada festival di desa tetangga. Kau mau ikut? Kami berencana akan pergi bersama. Ikut ya?" bujuk teman Ino dengan gaya rambut cepol dua, TenTen. Ino terlihat berpikir, mempertimbangkan tawaran temannya tadi. 'Festival? Festival apa?'

"Ayolah Ino…ikut ya?" kali ini Sakura juga ikut-ikutan membujuk Ino, gadis yang berambut pink.

Setelah melalui pemikiran yang panjang, bahkan bel jam pelajaran pertama baru saja berbunyi, Ino menjawab tawaran tersebut.

"Baiklah…lagian sepertinya aku tak ada kegiatan hari ini," jawab Ino.

"YAAYY…" seru teman-teman Ino. Memang bagi mereka, sesuatu tak akan menyenangkan tanpa adanya si Blondie dari keturunan Yamanaka itu. Apalagi Ino sifatnya yang tak mudah membosankan.

"Tapi, kita pergi dengan siapa? Apa hanya kita? Empat gadis Senior-High? Sendiri?" tanya Ino mencoba mencari kepastian.

"Tentu saja tidak, kami dapat kabar ini saja dari Hinata, dan Hinata dari pacarnya, Naruto dan Naruto…hmm…" jawab Sakura santai, ia tak meneruskan jawabannya karena Ino yang menginterupsinya,

"Kalian mudah sekali percaya pada orang lain? Bagaimana kalau pacar Hinata berbohong?" Ino berusaha memprotes, ia memang bukan tipe orang yang mudah percaya orang lain.

"Ino sayang, kurangi pikiranmu terhadap Sasuke kalau hal itu dapat membuatmu kurang pengetahuan. Harusnya kau tahu, Naruto, pacar Hinata adalah putra keluarga Namikaze. Dan ayahnya adalah pemimpin desa tetangga yang akan mengadakan festival nanti. Mengerti?" ujar Ten Ten, mencoba memberi pengertian.

"Dan kita akan mendapat tumpangan gratis dari Naruto beserta teman-temannya," pekik Sakura kegirangan karena akan bepergian tanpa mengeluarkan dompet.

"A..ahh oke...aku mengerti." Ino hanya bisa pasrah. Walau begitu, masih ada yang mengganggu benak Ino. 'Naruto? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi dimana?'

Karena tak menemukan jawabannya, Ino menyerah. Toh, nanti sore dia juga tahu.

(Jam istirahat)

Sasuke tengah berjalan menuju taman belakang sekolah. Di perjalanan, samar-samar ia mendengar dua gadis sedang bergosip.

"Hei…kau tahu tidak? Lusa, mantan ketua OSIS berulang tahun lho… Aku ingin memberinya hadiah karena telah membantu klub surat kabar tidak jadi dibubarkan."

"Maksudmu Ino? Yang pernah menjadi tokoh utama di beritamu beberapa hari lalu karena berciuman dengan Gaara itu kan?" seorang gadis lain bertanya.

"Benar…berkat kejadian itu, klub kami tidak jadi dibubarkan. Berita saat itu memang heboh. Walau sekarang dia justru berpacaran dengan Sasuke. Huuu…"

Sebuah perempatan kini terlihat jelas di kening Sasuke yang mendengarnya.

"Iya sih…rasanya aku juga berhutang budi padanya. Saat mantanku menembaknya, Ino menolaknya. Dan mantanku balikan lagi padaku…" kata gadis itu riang.

"Apa itu bisa disebut hutang budi?"

Tak mau berlama-lama menguping pembicaraan orang lain, Sasuke kembali meneruskan jalannya. ia baru tahu kalau lusa adalah hari ulang tahun Ino. 'Pacar macam apa aku ini? Hari ulang tahun sang pacar justru tidak tahu.' Sasuke mengutuki dirinya sendiri.

Seperti biasa, jam istirahat, Sasuke makan siang bersama dengan Ino di taman belakang sekolah. Namun, suasananya terkesan sunyi. Ino lebih sedikit bicara. Dipikirannya, ia terus terbayang akan festival itu. Apakah ayahnya nanti mengijinkannya atau tidak? Atau harus berpakaian seperti apa ia nanti? Dll. Semua itu terus mengusik pikirannya.

Bahkan keganjalan sikap Ino menarik perhatian Sasuke. Hingga ia bertanya,

"Hari ini kau nampak aneh. Apa yang terjadi?"

Ino tersentak dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Sasuke.

"Aaaahh…tidak terjadi apa-apa kok, sungguh," bantah Ino. Ia tak ingin Sasuke tahu masalahnya. Entah kenapa, hari ini ia ingin merasakan momen bersama teman-temannya. Sekalii-kali tanpa pacar tidak masalah kan? Apa setiap waktu dan setiap saat harus bersama pacar? Walau sepertinya kalau dipikir-pikir, sejak hari pertama Ino berpacaran dengan Sasuke, mereka tak pernah punya waktu berdua lebih dari dua jam sehari. Selalu ada orang lain yang menyertai mereka.

"Baiklah…aku mengerti." Sasuke hanya menghembuskan nafas isyarat ia benar-benar mengerti. Lagian bila diperhatikan baik-baik, Ino hanya terlihat bingung, tak terlihat sendu atau sedih.

Kesunyian kembali terjadi. Namun tak berlangsung lama.

"Ino, apa yang kau sukai? Sesuatu yang paling kau inginkan?" tanya Sasuke.

"Sesuatu? Hmmm…kalau sesuatu itu dalam arti benda, aku ingin punya kalung emas dengan permata hijau di tengahnya. Kalungku pernah hilang, dan tabunganku belum cukup untuk membeli gantinya," jawab Ino santai.

"Itukah?" tanya Sasuke memastikan.

"Hmmm…yah, benar. Er…memangnya ada apa?"

"Tidak…aku hanya ingin menjadi pacar yang romantis. Aku tidak ingin menjadi pacar yang bahkan tidak tahu apa yang disukai pacarnya." Sasuke menjawab, menimbulkan rona merah di pipi Ino.

Dan momen mereka, Ino habiskan lagi-lagi dengan mengatur detak jantung yang tak karuan hanya karena rayuan gombal seorang Uchiha Sasuke. Dan sepertinya Ino memang tidak tahu maksud tersembunyi Sasuke menanyakan hal itu. Yah, biarlah. Toh, nanti Sasuke juga akan mengungkapkannya sendiri. (author tak perlu repot-repot menyebutkannya, author dapat menjaga rahasia kok *plak*).

(Sore harinya)

Semua gadis tengah berkumpul di rumah Hinata, termasuk Ino. Mereka saling bantu-membantu memakai kimono mereka, kimono yang akan mereka gunakan di festival malam ini.

Terjadi sedikit percakapan di antara mereka.

"Ino. Apa Sasuke tahu, kau akan pergi dengan kami?" tanya Sakura penasaran.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Ino balik bertanya.

"Jadi, Sasuke tidak ikut? Huuuhh…" terlihat raut wajah Sakura yang menjadi sedih.

"Hei Jidat! Kalu kau masih menginginkannya, harusnya dari awal kau lebih gigih mendapatkan perhatiannya," kata Ino dengan nada mengejeknya.

"Kau sombong, Ino. Harusnya kau tolak saja dia kalau hal semacam ini saja kau biarkan dia tidak tahu. Berpacaran itu harus saling pengertian satu sama lain. Bukannya membiarkan sang pacar tidak tahu kegiatan pacarnya. Mungkin saja nantinya terjadi perselingkuhan. Huh. Rasakan akibatnya kalau hal itu sampai terjadi," jawab Sakura tak mau kalah. Bagaimanapun juga Sakura harus mengalah karena pada akhirnya Inolah yang dipilih Sasuke atas dirinya.

"Kita lihat saja nanti," balas Ino.

"Jadi benar ya, Sasuke tidak ikut, Ino?" kali ini giliran gadis berambut indigo, Hinata, yang bertanya.

"Hhhhh…aku tak berniat jahat. Aku hanya ingin menikmati waktu hanya bersama teman-temanku. Aku kangen momen-momen seperti ini." Ucapan Ino kali ini berhasil membuat teman-teman Ino tersipu. Mereka kini tahu, betapa pentingnya sosok teman bagi Ino.

Mereka terus bernostalgia hingga suara klakson mobil menginterupsi acara mereka.

"Se-sepertinya mereka sudah datang," kata Hinata.

"Tu-tunggu! Mereka?" tanya Ino terkejut, memastikan pendengarannya tidak salah.

"Maafkan kami Ino. Sebenarnya, kita akan pergi bersama Naruto dan teman-temannya. Naruto juga akan merasa kesepian bila tak ada teman-temannya." Hinata menjawab seraya menundukkan kepala, tak berani menatap langsung mata Ino. Ia merasa telah membohongi Ino.

"Ta-tapi…"

"Sudahlah Ino, walau ada teman-teman Naruto, tapi kita akan menghabiskan waktu para gadis bersama. Mereka hanya sebagai pelindung kita. Apalagi, teman-teman Naruto juga teman-teman kakaknya Hinata, Neji. Jadi, kita tak perlu khawatir." Sakura berusaha membujuk Ino. Bagaimanapun mereka sudah terlanjur membuat janji, tak mungkin mereka akan membatalkannya. Apalagi, para pria sudah datang, pasti mereka akan kecewa bila dibatalkan.

"Hhhhh….baiklah, hari ini kuserahkan tubuhku pada kalian," ujar Ino.

Mereka berempat keluar dari rumah Hinata. Di depan rumah itu dua buah mobil setia menunggu para gadis. Dan terlihat Neji tengah bersandar di dekat kemudi salah satu mobil.

"Cepat naik! Kalian masuk mobilku!" perintah Neji. Yah, wajar saja Neji bersikap seperti itu. Diantara para gadis itu, salah satunya Hinata yang notabenya adalah adik Neji. Mana mungkin Neji membiarkan Hinata semobil dengan teman-temannya.

Karena tak ingin mendapat teguran lagi dari seorang bermata tajam bernama Neji, para gadis itu segera memasuki mobil. Bahakan panggilan Naruto kepada Hinata dengan suara toanya itu, tak sempat Hinata balas karena tak ingin membuat sang kakak menunggu terlalu lama.

Sementara di mobil para pria, Naruto –yang karena panggilannya tidak dijawab, ia kembali masuk mobil- justru asyik membicarakan penampilan para gadis.

"Kalian lihat itu kan? Hinata sangat cantik. Tak salah aku memilihnya," kata Naruto.

"Sakura juga sangat menawan. Cantik masa mudanya adalah yang paling cantik."

Namun, kata-kata Lee barusan justru mendapat pukulan tangan dari Kiba.

"Kau ini bicara apa sih, Lee? Hilangkan 'masa muda'mu itu, kujamin kau akan menjadi pria sejati," kata Kiba yang mulai jengkel dengan sikap Lee. (kalau memang jengkel, kenapa baru sekarang menyadarinya? Kalian kan sudah berteman sejak lama *author dikejar Akamaru yang diperintah Kiba*)

Kiba kembali melanjutkan,

"Tapi ngomong-ngomong, sepertinya gadis berambut pirang tadi, manaan ketua OSIS kan? Yang pernah kau cium itu kan Gaara?" pertanyaan Kiba justru mendapat death glare dari Gaara yang sedari tadi menatap luar jendela dengan bungkamnya.

"Diam! Kau merusak nostalgianya," bisik Naruto yang walaupun dapat dengan jealas didengar Gaara dan mendapat death glare tingkat satu milik Gaara, ia justru tersenyum dengan senyum khasnya. Naruto memang tak pernah punya rasa takut pada siapapun.

*dan lupakan apa yang terkadi selanjutnya di mobil itu, kita lanjutkan saja ceritanya ^.^V*

Malampun tiba. Rombongan Naruto dkk akhirnya sampai di tempat tujuan, sebuah tempat yang dirubah sedemikian rupa untuk acara festival kali ini. Beberapa meter tak jauh dari tempat mereka parkir, sebuah limosin terparkir rapi di antara deretan mobil lainnya. Dapat diduga, limosin itulah kendaraan keluarga Namikaze untuk sampai ke tempat ini.

Bicara mengenai keluarga Namikaze, mengapa Naruto tidak ikut rombongan keluarganya saja? Yah, wajar bila dilihat dari sifat Naruto yang tak bisa diam dalam waktu barang sepuluh detik pun.

Mereka keluar dari mobil bersamaan. Tak sengaja pandangan Ino dan Gaara bertemu. Mereka diam di tempat. Saling menatap mata masing-masing, berusaha menemukan arti yang tersirat di setiap mata. Rindukah? Bukan. Kangen? Terkejut? Entahlah mereka sama-sama tak tahu.

Kegiatan mereka dengan sangat mudah terganggu oleh teriakan Naruto yang bagaikan toa tersebut. Mereka saling mengalihkan pandangan mereka ke arah lain. Malu? Mungkin iya. Bila saat ini bukanlah malam, pasti rona merah dapat terlihat jelas tengah menghiasai pipi Ino.

Sakura menarik lengan Ino seraya berkata,

"Ayo! Kita bergabung dengan mereka."

"Ah! Iya."

Merekapun masuk ke tempat itu bersama-sama. Naruto dan Hinata bergandengan tangan di barisan paling depan. TenTen dan Neji di belakangnya. Tak ada kontak fisik yang terjadi di antara mereka. Terlihat dengan jelas death glare milik Neji kepada Naruto. Toh, Naruto cuek. Ia terlalu asyik bercanda dengan Hinata mengenai apalah itu.

Di belakang Neji dan TenTen, Ino dengan Gaara berjalan bersampingan. Tak ada yang saling berucap di antara mereka. Hanya diam yang tercipta. Bahakan karena itu, Ino dapat mendengar jantungnya sendiri yang berdetak tak karuan.

'Perasaan apa ini? Gugup kah?'

Tak ayal, Inopun pasti merasa gugup bila berdekatan dengan Gaara, yang saat ini memang sangat tampan dengan pakaiannya.

Di samping Ino, Sakura dengan asyiknya tenggelam dalam suasana festival. Bahkan, perubahan sikap Inopun tak dihiraukannya.

Lee? Sebelumnya, dia telah mengajak Sakura bermain. Karena sifat Sakura yang kelewat gengsi, akhirnya, Lee mengajak Akamaru bermain yang diikuti oleh Kiba.

Semakin lama, rombongan tersebut mulai tenggelam ke pusat kerumunan orang yang berfestival di situ. Banyak toko-toko yang menarik perhatian, terutama bagi Naruto. Sehingga, ditariknya Hinata untuk bermain beberapa sarana di situ. Karena Hinata ditarik pergi oleh Naruto, refleks, Neji menambah level death glare-nya, dan mengikuti kemanapun dua sejoli tersebut pergi. Benar-benar kakak yang pengertian (?)

Karena TenTen yang ditinggal Neji pergi mengikuti adiknya, ia memustuskan bermain sendiri dengan yang tersisa (?).

Sesuatu menarik perhatian TenTen. Sebuah kedai yang menjual berbagai macam benda tajam. Di sana juga banyak para pria muda maupun tua yang juga tertarik dengan benda tajam. Karena posisi Sakuralah yang paling dekat dengan TenTen, dia menjadi korban TenTen untuk menemaninya melihat-lihat benda-benda tersebut. Sepertinya, lagi-lagi TenTen lupa keberadaan Ino saking pikirannya sudah terhipnotis kedai tersebut. Sakura yang kalah kuat dengan TenTen hanya bisa pasrah dirinya ditarik-tarik oleh TenTen

Melihat TenTen dan Sakura pergi bersama, meninggalkannya hanya dengan Gaara, Ino menjadi ragu apakah teman-temannya ingat apa yang dikatakannya sebelum pergi ke festival ini. Kalaupun Ino tidak berhasil mengontrol emosinya –apalagi di sampingnya ada laki-laki, jaga image wanita lah-, mungkin berbagai rencana balas dendam sudah memenuhi benaknya kali ini.

Ino hanya menghela nafas sebelum suara bariton Gaara menyela,

"Kita pergi ke jembatan itu." Seakan terdengar memerintah, Ino hanya bungkam dan menuruti langkah Gaara.

Merekapun sampai di pinggiran jembatan. Berdua menikmati angin dan pemandangan malam. Kerlap-kerlip lampu dari seberang terlihat begitu mempesona. Membuat mereka diam namun terasa nyaman. Tak ada yang berbicara, hingga Gaara memulainya,

"Aku akan pergi."

Inopun menoleh mendengar ucapan barusan. Seolah ingin mendapat kepastian akan kata-kata itu. Dari gelagat Ino yang menunjukkan kebingungan barusan, Gaara meneruskan,

"Besok, aku mulai berkemas."

Tak tahan lagi dengan kebingungannya, Ino bertanya,

"Sebenarnya, apa maksudmu? Pergi? Kemana? Dan…kenapa?" Ino melembutkan suaranya, rasanya tak rela, berharap Gaara mengerti akan perasaannya. Bahkan, matanya mulai berkaca-kaca karena air mata. 'Aku ingin Gaara tetap di sini'. Dan Ino baru saja menyadari apa yang dirasakannya. Tak merelakan orang lain pergi, rasa takut bila ditinggal, cinta kah?

"Maafkan aku, Ino. Kakak-kakakku akan pindah dari Konoha. Dan mereka memintaku ikut. Lagipula, mereka juga yang membiayaiku sekolah."

Seolah kata-kata itu bagaikan pedang tajam yang menusuknya, Ino hanya bisa tertunduk.

Menerima kenyataan memang sulit. Apalagi, kenyataan dimana seseorang mulai menyadari perasaannya terhadap orang lain, dan orang lain itu justru akan pergi meninggalkannya. Bagai memahami sesuatu yang sudah terlambat. Berlaripun tak mungkin mendapatkannya kembali.

Di saat seperti ini, kesempatan memang tak datang dua kali bagi Ino. Dan yang Ino butuhkan adalah keberanian untuk menumpahkan semua isi perasaanya kepada seseorang yang akhir-akhir ini mengisi benaknya. Walau ia tahu hal itu seharusnya tidak boleh karena ia sudah mempunyai tempat di hati orang lain.

Ia tak ingin mengecewakan perasaan orang lain. Tapi, layaknya manusia, Ino juga mempunyai perasaan. Ia harus menyampaikan perasaannya, entah bagaimana akhirnya nanti.

"Ga-Gaara. Sebelum kau pergi, aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu," ucap Ino yang masih menundukkan kepalanya. Menahan kegugupan yang sedari tadi ia tahan karena pemuda di sampingnya ini. Ino benar-benar berubah mirip Hinata sekarang.

"Sebenarnya aku telah menyadari, ba-bahwa aku-,"

DUUAAR

Suara kembang api yang dinyalakan menghentikan ucapan Ino. Kembang api besar yang indah. Semua penduduk festival itu yang melihatnya terkagum-kagum. Pandangan Gaara dan Ino pun teralihkan ke kembang api yang tengah menghiasi langit malam.

Walau mereka takjub akan pemandangan malam yang indah tersebut, ada rasa kecewa yang merayapi hati mereka. Bagi Ino, kecewa karena tak dapat melanjutkan perkataannya. Dan bagi Gaara, rasa kecewa karena pesan Ino yang terlihat begitu penting tak sampai diterimanya.

Namun, karena momen-momen semacam itu jarang terjadi di lingkungan mereka, Gaara lebih memilih untuk menikmatinya. Sementara kalimat Ino yang terpotong tadi, dapat ia tanyakan setelah kembang api itu usai, pikirnya.

"Indah ya?" komentar Gaara.

Ino mendongakkan pandangannya ke arah Gaara. Matanya langsung saja membulat demi dilihatnya Gaara yang tengah tersenyum. Tampan dan…mempesona. Jarang sekali Gaara tersenyum seperti itu. Senyum yang baru kali ini Ino sadari ada pada diri Gaara.

Melihat senyum Gaara yang begitu tulus itu, mau tak mau Ino juga ikut tersenyum. 'Benar, momen ini tak boleh terlewatkan,' pikir Ino. Ia kembali menatap langit dengan kembang api sebagai penghuninya. Bersyukur dengan adanya festival dan kembang api ini, ditambah senyum Gaara yang akhirnya muncul, ia dapat merasakan butir-butir kebahagiaan memenuhi hatinya. Butir-butir kebahagiaan yang dirasakannya hingga saat ini bercampur menjadi satu, antara cinta dan kesenangan. 'Gaara, tetaplah tersenyum seperti ini.'

(Skip time)

Semua rombongan Naruto telah kembali ke tempat parkir mobil mereka tadi. Semua seakan sudah bersiapa untuk pulang. Dengan hati yang gembira mereka memasuki mobil-mobil itu dengan perasaan puas.

Sementara Gaara dan Ino masih berdiri bersampingan. Tidak menyibukkan diri untuk memasuki mobil yang berada tepat lima meter di depannya itu.

"Apa yang ingin kau katakan tadi?" tanya Gaara.

"A-Aku…"

Suara Naruto memotong ucapan Ino,

"Hey…kalian, cepatlah!"

Segera saja Ino berbalik menghadap Gaara dan berjinjit untuk kemudian mencium pipi Gaara. Ciuman itu hanya berlangsung sepersekian detik dan diteruskan dengan ucapan Ino selanjutnya,

"Aku mencintaimu Gaara."

Seolah terhipnotis oleh ciuman dan kata-kata Ino tadi, Gaara tetap mematung di tempatnya, sedangkan Ino sudah akan memasuki mobilnya.

Tiba-tiba saja Gaara tersadar dari diamnya.

"Benarkah itu, Ino?" gumam Gaara.

~!#$%^&*~

Yay! Akhirnya bisa melanjutkan fic ini juga. Rasanya waktu satu minggu untuk menulis berbagai cerita masih kurang ya. Apalagi, masih punya tanggungan 'Who is My True Love'. Haaaah…

Untuk ke sekian kalinya, saya minta maaf, sebesar-besar-besarnya. Maaf….

Anyway Review? ^^V


« First « Prev Ch 6 of 6 

Review

Share: Email . Facebook . Twitter

Story: Follow Favorite
Author: Follow Favorite

Contrast: Dark . Light
Font: Small . Medium . Large . XL

Regular Site . Blog . Twitter . Help . Sign Up  Top