FanFiction | Just In Community Forum | More
V
More
Bad Apple by ReiyKa

Misc » Vocaloid Rated: T, Indonesian, Romance & Humor, Miku H. & Kiyoteru H., Words: 16k+, Favs: 15, Follows: 11, Published: 4-29-11 Updated: 4-29-13
45 Chapter 2: Chapitre 2: New teacher New victory

Disclaimer, Story, Warning, Rating: bisa dilihat di Chaptire 1: New face. New Challenge.

terima kasih kepada Hana Arny, Lawliet Len, Shiyu-chan (Kie2Kie), Nia Kagamine yang telah membuat saya bersemangat dalam melanjutkan cerita ini.

saya benar-benar berterima kasih kepada semuanya yang telah membaca cerita yang dibuat dengan penuh kegalauan ini. *membungkuk dalam-dalam*

oke. cerita ini saya akui mengandung unsur crack pair, perubahan karakter tokoh yang kontras, dan kemungkinan kasus percintaan dengan orang yang lebih tua. saya akui: main pairnya adalah Miku dan Kiyoteru. jadi, saya bakalan senang banget kalau misalnya semua masih mau melanjutkan membaca cerita ini.

aww~ saya banyak bacot. oke langsung saja. inilah dia..


Bad Apple

by

.ReiyKa.


Chapitre 2: New teacher. New victory.


Suasana di kelas itu semakin aneh saja. Sesosok guru tampan di depan kelas dan sesosok gadis cantik yang menunjuk orang yang lebih tua darinya dengan berani. Auranya jelas berapi-api. Kalau pernah nonton Bakemonogatari, ini adalah saat-saat dimana muncul kepingan gambar slash cuplikan episode minggu lalu diikuti gambar hitam dengan tulisan kuro serta gambar merah dengan tulisan aka.

Makanya, dibilangin juga ini bukan anime. Author lagi-lagi mabok.

Jadi, suasananya cukup mencekam dengan detak jantung berirama cepat serta keringat dingin yang perlahan muncul. Semua murid menunggu dengan tenang, termasuk dua kembar pirang yang menatap Miku dengan bola mata mereka yang lebar.

"Dia benar-benar mengatakannya..." bisik Len pelan.

Rin mengangguk menyetujui pendapat adik kembarnya. "Setuju. Gegabah. Sembrono. Seenaknya."

Miku yang berdiri di atas mereka mendadak menatap Rin tajam. Rupanya gadis itu mendengar ucapan Rin barusan.

"Baiklah, Hatsune-san. Meja tempat untuk menulis. Bukan untuk berdiri." Hiyama Kiyoteru meletakkan buku pelajaran yang dia bawa ke atas meja. "Kau mengerti kan? Kalau tidak, kau bisa kembali lagi ke tingkat sekolah dasar!"

Sekarang dua kembar itu gantian menatap wali kelas mereka yang baru. Ucapannya benar-benar sakratis kepada Miku. Memangnya mereka itu anak SD yang mau perang mulut apa?

"Hah? Sensei barusan bilang apa?" Miku balas menantangnya. "Mau menyuruhku? Yang benar saja!"

Senyum lebar muncul di wajah Kiyoteru. Mendadak, suasananya terasa semakin dingin. Walaupun dia tersenyum, senyumnya tidak seperti senyum yang menyenangkan. "Aku wali kelasmu yang baru, Hatsune-san. Tidak dengar perkenalanku tadi? Atau kau tidak mengerti bahasa manusia yang normal?"

Oke. Len cukup syok dengan apa yang sudah dilihatnya. Kejadian ini berlangsung di kelas. Pertarungan mulut antara guru baru mereka dengan murid berandal kapten klub baseball Utaunoda.

"Hei hei," sahut Len sambil melirik si pirang berbando. "Dia itu guru kan?"

"Menarik sekali." Si pirang berbando justru tersenyum geli. "Apa yang akan kau katakan sebagai balasannya, Miku?"

Miku masih berdiri dengan senyum lebar. Gadis itu memang terlahir dengan watak keras. Tidak akan pernah menyerah bahkan dalam keadaan kritis sekalipun. Dia tidak mau menuruti perintah Kiyoteru karena merasa dia akan kalah kalau dia menurutinya.

"Pelajaran tidak akan bisa dimulai kalau kau masih berdiri seperti itu," lanjut Kiyoteru. Dia mengambil kapur dari papan tulis di belakangnya dan memainkannya di atas tangan kanannya. Kapur itu terlempar ke atas dan mendarat dengan tenang di telapak tangan Kiyoteru.

"Bagus dong! Sensei tidak bisa mengajar kan jadinya! Dengan begitu, sensei bisa dipecat dan dikeluarkan karena tidak becus dalam mengajar."

"Kau tahu, Hatsune-san, kata-katamu barusan bukanlah kata-kata yang pantas diucapkan seorang murid kepada gurunya."

"Sensei juga harusnya tahu, kata-kata sensei barusan bukanlah kata-kata yang pantas diucapkan kepada muridnya."

Kiyoteru tersenyum. Anak ini benar-benar menarik.

"Makanya sensei, ini kan hari pertama kami di kelas dua... lebih baik tidak usah mengajar saja."

"Baiklah."

Bahkan termasuk Miku terkejut dengan kata-kata Kiyoteru barusan. Semua murid membelalakkan matanya dengan tidak percaya.

"Akan tetapi, aku tidak mau dipecat gara-gara masalah seperti ini," lanjut Kiyoteru pelan. "Memang akan lebih mudah bagiku kalau aku tidak usah mengajar kalian. Lagipula, gaji di Utaunoda ini sebenarnya tidak seberapa buatku."

Kelas mulai ribut dan panik. Mereka tidak bisa membayangkan situasi dimana seorang wali murid sama sekali tidak peduli dengan kelas yang menjadi perwaliannya. Masa depan mereka semua bisa gelap hanya karena ulah satu orang gadis yang selalu bersikap seenaknya, Hatsune Miku.

"Tampaknya murid lain di kelas ini kelihatan tidak setuju, Hatsune-san. Jadi, bagaimana kalau kita menentukan aku mengajar atau tidak lewat permainan."

"Permainan?" Dua kembar pirang saling berhadapan. Serentak mereka menoleh ke arah Miku.

"Setuju! Kalau aku menang, kau akan langsung mengundurkan diri dari Utaunoda."

"Hemm, taruhan yang cukup menyulitkan yaa..." sahut Kiyoteru santai. "Tapi, kalau itu keinginanmu, apa boleh buat. Sebagai gantinya, kalau aku menang, kau tidak akan memprotes keberadaanku dan mendengarkan setiap perintahku."

"Setuju!" Miku melompat dari atas mejanya dan berjalan ke tempat Kiyoteru berdiri. "Aku akan bersikap sebagai murid baik di depanmu."

Untuk pertama kalinya, mata coklat gelap dan mata biru kehijauan itu bertemu. Selama beberapa detik, keduanya saling terbius dengan keindahan bola mata yang lainnya.

"Tentukan permainannya, Hatsune-san."

Miku tersenyum penuh kemenangan. "Baseball. Kalau kau bisa memukul bola yang kulempar dan menangkap bola yang kupukul, kau menang!"

Kiyoteru mengangguk-angguk mengerti. "Baiklah. Kau mau langsung ke lapangan baseball sekarang?"

"Tentu saja!" seru Miku yakin. "Aku pasti menang!"

"Yaah... setidaknya semangatmu itu cukup untuk membuatku kehilangan rasa percaya diri." Kiyoteru tersenyum manis. "Kita lihat saja siapa yang menang nanti."


OxOxO


Kagamine Len menatap saudara kembarnya yang memasang ekspresi takjub. Setelah itu, dia melemparkan pandangannya ke lapangan dimana sesosok gadis berkuncir dua sedang adu mulut dengan laki-laki berambut coklat. Keduanya terlihat jelas tidak mau saling mengalah.

"Hebat sekali!" sahut si pirang berbando.

"Apa maksudmu, Rin?" tanya Len pelan. Sejujurnya dia sama sekali tidak mengerti situasi yang baru saja terjadi. Kira-kira sepuluh menit yang lalu dia ijin ke kamar mandi dan tidak sempat menyaksikan pertarungan sengit antara murid bandel dan guru baru.

Pertarungan itu diadakan di lapangan baseball Utaunoda, di bawah terik matahari pagi yang hangat. Semua murid di kelas Miku menonton pertarungan sengit antara laki-laki tampan dan gadis cantik itu.

"Situasinya bagaimana?" tanya Len lagi.

Rin tersenyum. "Satu kosong."

"Buat Miku?"

Si pirang berbando menggeleng pelan. "Untuk sensei."

"Miku kalah?" Dahi Len berkerut heran. Rasanya agak aneh kalau gadis itu kalah mengingat Miku adalah kapten klub baseball sejak SMP dan merupakan orang yang larinya paling cepat diantara gadis-gadis lainnya.

"Babak satu: sensei jadi pitcher dan Miku jadi batter. Miku berhasil memukul bola itu dengan kekuatannya yang kau tahu sendiri bagaimana."

"Lalu?"

"Sensei berhasil berlari dan menangkap bola itu dan melemparkannya tepat mengenai Miku saat Miku menginjak base 3. Lumayan hebat kan?"

"Itu hebat banget!" Len hampir terlonjak saking semangatnya. "Seingatku Miku tidak pernah kalah sekalipun dalam pertandingan baseball."

"Yap. Karena itulah dia terlihat percaya diri tadi saat menantang sensei untuk main baseball. Sayangnya kedudukannya sudah berbalik sekarang." Rin tersenyum manis. "Mereka berdua cocok sekali kan ya?"

"Hah? Cocok?" Si pirang dikuncir segera menoleh lagi ke lapangan. Suara Miku dan Kiyoteru terdengar jelas darisana.

"Kau hanya beruntung! Aku tidak akan kalah!"

Kiyoteru meletakkan tangannya di pinggang. "Kita lihat saja. Sekarang aku yang jadi batter dan kau jadi pitcher kan? Kemarikan tongkatmu." Laki-laki itu melepaskan sarung tangan baseballnya dan menyerahkannya pada si gadis. Sayangnya gadis di hadapannya justru menjulurkan lidahnya.

"Kau tidak boleh menggunakan tongkatku! Cari saja sendiri tongkatmu!"

"Hah?"

Rin terkikik geli. Len langsung duduk dengan lemas di kursinya. "Dia sengaja kan ya?"

"Benar! Tanpa pemukul, sensei tidak akan bisa jadi batter dan otomatis dia kalah."

"Sayangnya kemenangan sensei yang tadi di luar perhitungannya kan?"

"Yap. Itu benar." Si pirang berbando tiba-tiba berdiri. "Mau ke kelas sekarang tidak? Mereka pasti ser..."

Dan ucapan si pirang berbando terpotong saat seseorang tiba-tiba melemparkan tongkat baseball ke tengah lapangan. Pemuda berambut biru berdiri di pinggir lapangan dengan cengiran lebar khasnya.

"Sensei harus mengalahkannya!" serunya riang.

"Kaito... senpai..." bisik Len tidak percaya. "Dia memang sengaja cari masalah dengan Miku!"

Rin tersenyum. "Keadaannya jadi menarik lagi sekarang." Gadis berbando itu langsung duduk kembali di sebelah saudara kembarnya. "Kita bisa lihat siapa yang menang sekarang."

"Sampah!" teriak Miku marah. Dia mengacungkan tongkat baseballnya ke arah Kaito. "Aku benar-benar akan membunuhmu nanti!"

"Aah... sadis sekali..." Kaito masih memasang cengiran lebar. "Kiyo-kun, pokoknya kau harus membuatnya jera yaa~"

"Kiyo-kun?" Alis Miku terangkat. Dia melirik Kiyoteru yang berdiri di sebelahnya.

"Dia keponakanku, Shion Kaito."

"Kalian bersekongkol!" tuduh Miku.

"Kau sendiri berniat menjebakku kan tadi? Kita seimbang." Kiyoteru mengangkat tangannya sambil tersenyum. "Aku benar kan?"

Miku mengayunkan tongkat baseballnya ke samping tubuhnya. "Baiklah. Aku serius sekarang. Aku akan mengalahkanmu!"

"Tentu saja. Silahkan lempar bolanya, nona."

Gadis berkuncir dua itu berjalan menuju posisi pitcher dan bersiap di posisinya. Kiyoteru juga sudah siap dengan tongkat baseball yang dibawakan oleh Kaito tadi.

Keduanya saling bertatapan dengan ekspresi muka serius.

"Aku akan mengalahkanmu! Itu pasti!"

Kiyoteru tersenyum santai. "Tentu saja... silah..."

Ucapan Kiyoteru terpotong saat Miku melemparkan bola baseball melewati telinganya.

"Ball!" teriak Miku senang. "Tinggal dua kesempatan lagi, bodoh!"

Kiyoteru menunduk memperhatikan bola itu. "Tanpa aba-aba yaa... Kau cur..."

Bola kedua sudah dilempar oleh Miku dan melewati kepala Kiyoteru. Laki-laki itu tersenyum lebar melihat tingkah Miku. "Kau takut aku menang jadi kau berbuat begini."

"Terserah saja katamu! Yang pasti yang tadi dihitung sebagai BALL!"

Sekarang Kiyoteru gantian menatap Miku dengan sorot mata tajam. "Aku tidak akan kalah, kau tahu itu."

"Kita lihat saja!" Miku mengayunkan tangan kanannya dengan sekuat tenaga dan melepaskan bolanya pada saat yang tepat. Bola melaju dengan cepat menuju Kiyoteru.

Miku tersenyum puas. Tidak ada orang yang bisa memukul bola hasil lemparannya sebelumnya dan tidak akan pernah ada. Kiyoteru pasti kalah!

TAK!

Len berdiri tak percaya dari tempatnya. Rin tersenyum lebar. Kaito melonjak kegirangan. Murid lainnya menatap kagum ke arah Kiyoteru.

Dan senyum Miku langsung menghilang saat bolanya tadi melayang ke arah sebaliknya ketika tongkat Kiyoteru berhasil memukulnya balik.

"Apa?" bisik Miku tidak percaya.

Kiyoteru tersenyum lebar. "Bye-bye." Dan laki-laki itu berlari menyusuri base satu persatu dengan kecepatan tinggi.

"Kejar bolanya, Miku!" seru Len.

"Eh?" Miku sempat bingung untuk beberapa detik. Lalu dia segera berlari ke tempat bola itu tergeletak tanpa dosa.

Tepat saat Miku sudah mengambil dan bersiap melemparnya, Kiyoteru sudah berada di base terakhir dengan senyuman kemenangan.

"Miku kalah?" Len rasanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Ini pertama kalinya bukan? Pertama kalinya orang luar mengalahkannya selain orang itu." Mata Rin melebar tak percaya.

Miku melempar bola tadi dengan marah.

"Kau kalah, Hatsune-san. Mengerti maksudku kan?"

Gadis itu membuang muka. Dia tidak pernah merasa begitu dipermalukan seperti saat ini. Dia marah. Dia sebal. Kalau boleh menambah efek animasi, mungkin ada semacam naga yang mengeluarkan api di sebelahnya. Naga yang juga siap disuruhnya untuk menelan Kiyoteru bulat-bulat.

Kiyoteru yang tidak melihat naga imajenasi Miku berjalan mendekati gadis itu dengan santai. Lalu, saat dia tepat berada di sampingnya, Kiyoteru berbisik dengan suaranya yang rendah dan seksi. "Jangan buat kekacauan di kelasku yaa... Kau sudah berjanji bukan, Hatsune-san?"

Miku meremas tangannya sendiri dan langsung menoleh ke arah Kiyoteru. Kedua mata mereka bertatapan tajam. "Baiklah, SENSEI!"

Guru baru itu tersenyum saat melihat tingkah Miku yang memaksakan diri untuk tersenyum. Tangannya mengusap kepala Miku dengan lembut. "Jangan memaksakan dirimu sendiri. Aku senang karena kau sudah berusaha dengan keras. Terima kasih atas pertandingan yang menyenangkan ini, Hatsune-san."

Rin nyengir lebar saat melihat pemandangan itu dari kursi penonton. "Kau tahu Len," bisiknya pelan.

Pemuda pirang yang duduk tepat di sebelahnya menoleh. "Apa?"

"Aku yakin 100 persen kalau Miku tidak akan pernah mengakui kesalahannya ini dan akan terus-terusa menantang guru baru itu."

"Sudah pasti bukan? Cewek ganas itu tidak akan pernah mengakui Kiyoteru-sensei sebagai wali kelasnya."

"Aku pasti akan mengalahkanmu!"

Rin mendengar suara Miku yang nyaring. Gadis berkuncir dua yang masih berdiri di lapangan bersama wali kelas mereka yang baru itu mengulurkan tangannya ke depan dan menunjuk Kiyoteru dengan yakin.

Kiyoteru tersenyum lembut. "Tentu saja. Dengan senang hati aku akan menerima tantanganmu yang berikutnya."

Semangat tiba-tiba berkobar di dalam hati Miku. Dia meraih tongkat baseballnya dan berlari pergi meninggalkan wali kelas barunya yang tampan.

"Kau tahu sensei, sebenarnya kau payah sekali!"' serunya riang sambil menjulurkan lidahnya lalu dia berlari cepat menuju kelas.

Di bangku penonton, senyuman dari si gadis berbando tak kunjung hilang. Kembarannya sampai harus menepuk pundaknya agar si bando kembali lagi ke dunia nyata.

"Rin, pertandingannya sudah selesai. Kau tidak mau ke kelas apa?"

Gadis bermata biru bulat itu menatap adik kembarnya. Senyumnya mengembang. "Tentu saja."

Di perjalanan, dia masih tetap tersenyum sambil membayangkan ikatan aneh yang mulai muncul antara sahabatnya, Miku, dan juga wali kelasnya yang baru, Kiyoteru.

Pasti akan jadi tambah menarik.


Ox~TBC~xO


Curhat Author: nggak penting. jadi langsung ke tombol review aja yaa.
ah ya, saya kangen baca komik. mau baca komik. mau baca komik. seandainya hanalala terbit lagi...
sekarang lagi asyik nonton Bakuman, Ano Hi Mita Hana no Namae o Bokutachi wa Mada Shiranai., Level E, dan H.O.T.D.

ah ya, boleh satu permintaan nggak?

pen name saya ReiyKa. boleh nggak kalau saya dipanggil Ika aja. yap. that's my real name. Rei berarti nol kan dalam bahasa Jepang. jadi, saya agak gimana gitu... tapi yah, terserah kalian saja sih. saya lebih suka dipanggil lengkap: ReiyKa.

aaah! saya stress! lanjut atau tidaknya cerita ini tergantung rating atau banyaknya review yang masuk. jadi, langsung saja klik link review dan ketiklah komentar kalian semua.

spesial buat yang menunggu cerita saya yang lain: saya pasti update. tapi ntar ya. idenya udah ada cuma waktu buat nulisnya yang nggak ada.

at least, thanks for reading. wish i can see you again in the next chapitre. ^^


« Prev Ch 2 of 6 Next »

Review

Share: Email . Facebook . Twitter

Story: Follow Favorite
Author: Follow Favorite

Contrast: Dark . Light
Font: Small . Medium . Large . XL

Regular Site . Blog . Twitter . Help . Sign Up  Top