Disclaimer, Story, Warning, Rating: bisa dilihat di Chaptire 1: New face. New Challenge.
terima kasih kepada Rin 'Yaya-chan' Kagamine (maaf karena saya lupa menyebutkan nama Anda di capitre sebelumnya), Hana Arny, Lawliet Len yang ganti nama jadi Shinjuku Risa, Kie2Kie, Nia Kagamine, maka Q, Ren-Mi3 NoVantA yang telah membuat saya bersemangat dalam melanjutkan cerita ini.
saya benar-benar berterima kasih kepada semuanya yang telah membaca cerita yang dibuat dengan penuh kegalauan ini. *membungkuk dalam-dalam*
oke. cerita ini saya akui mengandung unsur crack pair (mengingat Miku biasanya selalu dipasangkan dengan Shion Kaito, oke, saya paling suka pair itu, tapi kita boleh bereksperimen kan?), perubahan karakter tokoh yang kontras (mengingat Miku biasanya diberi karakter manis dan lucu, oke, saya suka sifat Miku yang seperti itu, tapi saya cuma iseng ingin bereksperimen), dan kemungkinan kasus percintaan dengan orang yang lebih tua. saya akui: main pairnya adalah Miku dan Kiyoteru. jadi, saya bakalan senang banget kalau misalnya semua masih mau melanjutkan membaca cerita ini.
aww~ saya banyak bacot. oke langsung saja. inilah dia..
Bad Apple
by
.ReiyKa.
Chapitre 3: Next challenge. Maid dress?
Dia berdiri di depan kelas. Dengan jas hitamnya serta dasi berwarna biru. Kaca matanya terpasang rapi di atas hidung mancungnya. Matanya yang coklat gelap menatap semua murid di kelasnya dan tak lupa senyum manis ditebarkannya bagaikan iklan di televisi.
Yap. Dia, laki-laki yang berhasil mengalahkan Hatsune Miku, tidak lain dan tidak bukan adalah Hiyama Kiyoteru.
Sosoknya bisa membius puluhan mata di depannya, kecuali tiga orang. Dua kembar pirang dan satu gadis ganas berkuncir dua.
"Apa yang sedang dia coba lakukan?" tanya Miku dengan nada sarkastik. Gadis itu mengangkat kakinya ke atas meja sambil memandang Kiyoteru sinis. "Aku benci dia."
Si pirang berbando yang sehari-hari di panggil Rin meliriknya dari depan. "Kau tidak boleh cari masalah di kelasnya, Miku. Itu isi taruhan kalian."
"Persetan dengan itu semua! Aku muak melihat gayanya yang tebar pesona!"
Si pirang dikuncir yang duduk tepat di sebelah saudara kembarnya berbicara dengan nada datar. "Sensei tidak tebar pesona, Miku. Dia memang mampu membuat semua orang memperhatikannya."
"Dia tampan begitu menurutmu?" Rin tersenyum jahil. "Kau menyukainya, Len!"
"Jangan bodoh, Rin!" kata Len tanpa mengalihkan pandangan dari PSP miliknya. "Dia itu laki-laki."
"Lantas kenapa?"
Len behenti menggerakkan jari-jarinya dan menatap lurus ke arah Rin. "Aku normal!"
"Yaah..." Rin menggembungkan pipinya. Matanya memancarkan sorot kekecewaan. "Sayang sekali!"
"Seandainya kau menyukai laki-laki Len, kau bodoh sekali kalau kau memilih orang itu!" sahut Miku datar.
"Makanya!" Len membalikkan tubuhnya sehingga dia benar-benar berhadapan dengan Miku. "Aku normal, Miku! Tidak akan pernah ada seandainya!"
Rin tertawa kecil. "Sayang sekali ya, Len. Padahal kalau shouta sepertimu pasti akan lucu sekali kalau dipasangkan dengan sensei. Nanti, Len akan latihan soal bersama di apartemen sensei. Perlahan tapi pasti, kalian akan semakin dekat dan... kyaa~"
"Makanya!" desis Len. "Sudah kubilang aku..."
"Ada yang ingin kau tanyakan, Kagamine-san?" tanya Kiyoteru dari depan. Laki-laki itu tersenyum ramah. "Kulihat sepertinya kalian bertiga sedang mendiskusikan sesuatu. Apa ada yang kurang jelas?"
Len melirik buku catatan matematikanya. Dia memang masih kurang mengerti masalah bagaimana cara mencari volume suatu benda dengan menggunakan metode integral.
"Len ingin bertanya apakah sensei sudah punya pacar atau belum."
Mata biru itu melebar tak percaya saat dia mendengar suara manis kakak kembarnya yang berbicara. "Rin!" pekiknya tidak percaya.
Semua mata di kelas itu tertuju pada si pirang dikuncir yang wajahnya memerah karena malu dan marah.
"Tidak, maksudnya Len bercanda." Rin tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya. "Len kurang mengerti di bagian mencari volume dengan integral, sensei."
Memang ikatan batin antara dua anak kembar terbukti berlaku di kasus ini.
"Baiklah. Kau bisa maju ke depan dan mengerjakan soal. Tidak perlu takut, Kagamine-san. Aku akan membantumu," sahut Kiyoteru lembut.
"Kyaa~"
"Rin!" Len masih memelototi kakak kembarnya. Akhirnya, si pirang dikuncir itu maju ke depan kelas dan mengerjakan salah satu soal di buku.
"Hatsune-san, bolehkah aku bertanya?" tanya Kiyoteru setelah dia menyerahkan kapur pada Len. "Apa ada sesuatu yang salah dengan kakimu sehingga kau perlu mengangkatnya ke atas meja?"
Miku menatap Kiyoteru tajam. "Ada baiknya kalau kau mengajari Len di depan! Kau tidak perlu mengurusiku!"
"Tidak bisa seperti itu, Hatsune-san. Kau adalah muridku yang berharga. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikanmu? Lagipula, kau sudah berjanji padaku kan? Janji yang kita berdua buat bersama di saat-saat manis itu."
Dengan wajah tampan, suara seksi, dan kalimat manis seperti barusan, serentak saja mata Rin melebar tak percaya. Si pirang berbando itu menoleh ke arah sahabatnya yang cemberut.
Akhirnya, Miku menurunkan kakinya dengan kesal. Wajahnya masih cemberut. Dia memalingkan matanya ke luar jendela dan memilih untuk melihat bunga sakura yang terbang ditiup angin. Itu adalah musim semi yang indah. Biasanya Miku selalu bolos pelajaran dan memilih untuk tidur-tiduran di bawah pohon sakura.
Sayangnya. Wali kelas barunya ini tidak bisa diajak kerja sama.
"Benar sekali jawabannya, Kagamine-san." Kiyoteru tersenyum lebar pada Len yang berada di depan kelas. "Kau memang anak yang pintar."
Len mengangguk malu-malu dengan wajah memerah. "Terima kasih, sensei." Si pirang dikuncir itu berjalan kembali ke mejanya.
Kembarannya, merasa tingkah adiknya sangat janggal. "Kau menyukai, sensei ya?" bisik Rin pelan.
Len menatapnya lalu menghela napas panjang. "Terserah kau saja, Rin." Si pirang dikuncir itu membiarkan kakak kembarnya tersenyum penuh maksud saat menuliskan sesuatu. Tebakannya: Rin sedang menuliskan sesuatu tentang hubungan terlarangnya dengan wali kelas mereka.
"Ah ya, ngomong-ngmong, festifal seni sebentar lagi yaa... Apa yang akan kalian rencanakan?" tanya Kiyoteru beberapa saat kemudian.
Miku melirik gurunya sekilas. "Bukankah wali kelas sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini semua?"
Kiyoteru tersenyum lembut. "Kau salah, Hatsune-san. Ini kulakukan supaya kita bisa mengakrabkan diri."
"Yang benar saja!" teriak Miku kesal.
Dua pirang kembar langsung menoleh ke sosok Miku yang sedang berdiri dengan tidak puas. Si pirang berbando berbisik pelan, "Miku, kau sudah janji untuk tidak buat masalah di kelasnya."
"Tapi..."
"Baiklah, Hatsune-san. Kelihatannya kau belum puas dengan kekalahanmu yaa..."
"Hei hei, sensei sebaiknya tidak menyiram minyak ke api..." bisik Len dengan napas tetahan.
Yap. Persiapkan dirimu. Aura di sekitar Miku mulai berubah berwarna oranye. Lalu, tiba-tiba bayangan ekor berjumlah sembilan mulai keluar dari sisi belakang Miku. Mendadak di pipi Miku, terdapat guratan tipis bagaikan kumis kucing.
Berlebihan.
Oke. Kembali lagi ke Miku dan Kiyoteru.
Gadis berambut hijau kebiruan yang dikuncir dua itu menatap gurunya tajam. "Apa yang sedang kau rencanakan, sensei?"
"Jangan memandangku misterius. Aku bukanlah tokoh jahat, Hatsune-san. Begini saja, bagaimana kalau kita buat maid-butler-cafe?"
"Setuju!" teriak Rin tiba-tiba.
"Eh?" Len langsung melirik kakak kembarnya. "Tumben kau langsung setuju!"
"Biar aku bisa memaksamu mengenakan seragam maid."
"Hah? Bercanda! Aku menolak, sensei!" Len langsung berdiri.
"Eeh? Jangan begitu dong, Len! Biar jadi Ototou wa Maid-sama!" Rin juga tidak mau kalah. Dia langsung berdiri meniru adik kembarnya.
"Jangan bercanda, Rin!"
Kelas mendadak ribut. Murid perempuan lainnya sibuk memikirkan baju yang akan membuat mereka terlihat cantik dan imut. Murid laki-laki lainnya sibuk memikirkan baju butler yang cocok dengan teh merah darah.
"Kenapa harus maid dan butler?" protes Miku.
"Karena kita akan membuat drama singkat yang berjudul Ototou wa Maid-sama!"
"Riin!"
"Mari kita bertaruh," sahut Kiyoteru santai. "Kalau kau bisa jadi Putri Festifal Budaya Utaunoda tahun ini, aku akan melupakan kemenanganku kemarin dan mengakuinya sebagai kemenanganmu."
Miku menatap wali kelas tampannya yang baru. Jadi tokoh yang paling disukai? Jangan bercanda! Mana mungkin hal itu bisa terjadi pada seorang Hatsune Miku yang mutlak dikenal galak dan mengerikan?
"Aku menantangmu!" Kiyoteru tersenyum lembut. "Kau bisa melakukannya kan?"
Mengaku kalah di depan wali kelasnya yang entah kenapa bisa mengalahkannya? Tolong. Itu bukanlah pilihan. Tidak ada pilihan itu buat Miku.
Gadis berkuncir dua itu tersenyum lembar. "Tentu saja! Aku terima tantanganmu! Aku pasti akan menang!"
OxOxO
Rok pendek hitam. Sepatu bot coklat bertali. Celemek bulat putih. Baju atasan dengan lengan berwarna hitam pendek dan bagian depan berenda putih. Serta kalung leher berenda dan bandana putih. Telah hadir para maid cantik di kelas perwalian Hiyama Kiyoteru.
Dasi merah. Kemeja putih dengan jas berwarna hitam. Celana panjang hitam. Sepatu kulit yang elegan. Sarung tangan putih. Rambut dengan belahan miring dengan poni tipis di bagian depannya. Telah hadir para butler hitam yang cocok sekali dengan teh merah di kelas perwalian Hiyama Kiyoteru.
Yap. Seakan-akan tokoh Misaki Ayuzawa dan Sebastian Michaelis sudah melatih setiap anggota di kelas itu bagaimana cara menjadi maid sejati dan butler serba bisa.
Oke. Kembali lagi ke tokoh-tokoh utama cerita kita ini. Ada sesosok gadis yang terlihat sangat tidak biasa. Yap. Gadis yang selalu tersenyum dingin dengan sorot mata tajam sekarang tiba-tiba berubah menjadi sosok malaikat yang cantik luar biasa.
Hatsune Miku berdiri di depan pintu kelasnya dengan senyuman tipis dan sorot mata penuh keteduhan. Tidak ada satu pun orang yang percaya pada perubahan drastis itu. Bahkan termasuk si kembar pirang yang mengenal Miku dari kecil.
Rambut Miku hari itu diurai ke belakang dengan bagian depan digulung ke atas dan diberi pita besar berwarna putih. Dia benar-benar membuang imejnya yang selalu dikuncir dua. Benar-benar menjadi Hatsune Miku baru yang berbeda! Sangat berbeda!
Seakan-akan... sebuah robot kucing berwarna biru muda dari abad ke-21 telah datang, lalu mengeluarkan alat ajaib dari kantung bulan sabitnya, dan membuat keperibadian Miku berganti secara ajaibnya.
Oke. Apa perlu dideklerasikan bahwa itu semua hanyalah imajenasi hebat milik Fujiko F. Fujio?
Kembali ke cerita heboh mengenai perubahan Miku.
Bahkan si kembar pirang juga terbengong-bengong melihat perubahan drastis Miku.
"Hei, Rin, aku sama sekali tidak tahu kalau sahabat kita telah dicuci otaknya," sahut Len pelan sambil menunjuk gadis yang sedang tersenyum lebar itu.
"Aku sama sekali tidak menyangka kalau dia akan melakukan ini semua supaya menang dari sensei..." balas Rin pelan.
"Yap. Dia bodoh. Benar kan?"
"Kalau aku jadi kau, aku tidak mau mengatakannya."
"Ah ya... sebelumnya, mari kita ke sampingkan dulu hal itu..." Len berhenti sejenak dan menatap baju yang dia kenakan. "Kenapa aku harus memakai ini?"
"Ini?" Alis Rin terangkat. Gadis pirang yang hari ini memakai bando berenda memperhatikan penampilan adiknya dengan seksama. "Tidak ada yang salah dengan ini."
"Apa maksudmu, Rin?" Sekarang, mata biru itu melebar memelototi mata biru lainnya.
"Sesuai skenario bukan?" Rin tersenyum lebar. "Ototou wa Maid-sama!"
"Jangan bercanda!" seru Len marah. Dia berjalan mendekati kakak kembarnya. "Aku ini laki-laki!"
"Yap. Aku tahu itu. Kau terlihat sangat manis dengan pakaian itu. Percaya deh sama aku!"
Wajah Len berubah merah padam. Dia menundukkan kepalanya lalu tangannya meraih bawahan yang ia kenakan sekarang—sebuah rok hitam dengan celemek bulat putih di pinggang—dia mengenakan kostum maid bukan butler seperti anak laki-laki lainnya.
"Kau manis kok, Len!" Tiba-tiba Miku sudah berdiri di belakangnya. "Aku benar-benar iri padamu!"
Saat melihat senyuman Miku, Len justru merasakan bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang salah disini! Ada sesuatu yang salah dengan sahabatnya!
"Rambutmu..." Miku menyentuh rambut pirang Len yang panjangnya ternyata hampir sama dengan panjang rambut Rin. "...benar-benar indah. Kau sangat cantik, Len."
"Kurasa pujianmu sama sekali tidak membuatku senang, Miku."
"Ah... benarkah?" Mata Miku berubah sedih. "Riiin... bagaimana ini? Aku membuat Len marah... apa... apa yang harus kulakukan? Maaf... maafkan aku, Len. Aku... aku..." Miku tiba-tiba berubah panik. Dia meletakkan jempolnya di bibirnya dan bersikap seakan-akan dia telah melakukan sesuatu yang super salah.
Mengusili Len adalah suatu tindakan super salah bagi Miku... yang dulunya dia lakukan hampir tiap hari.
Sejujurnya, di saat-saat seperti ini, Rin benar-benar tidak tahu harus memberikan respon seperti apa. Mengingat ada sesuatu yang salah disini.
Akhirnya, si pirang berbando itu memutuskan telah apa yang akan dia lakukan sekarang. Tangannya meraih pundak Len dan memeluknya erat-erat. "Kami terlihat sangat mirip kan, Miku?"
"Hah? Apa maksudmu, Rin?"
"Len memang benar-benar manis! Aku sayang sekali pada Len!" Rin mencium pipi Len dengan sengaja.
Len langsung memelototi kakak kembarnya. Kemudian, dia menggunakan bakat alami antara saudara kembar, bertelepati lewat sorot mata. Apa yang kau lakukan, Rin?
Rin mengedipkan sebelah matanya. Kau diam saja. Kita berdua harus membantu Miku kan?
Tapi...
Percaya deh sama aku!
Akhirnya, Len memaksakan diri tersenyum. "Yap. Rin benar. Terima kasih, Miku. Aku memang manis... tapi... tentu saja... masih kalah darimu..."
Wajah Miku memerah. Dia benar-benar terlihat seperti gadis normal biasa! "A..arigatou... Len... kun..."
Len-kun? Len langsung melirik Rin yang masih memeluknya. Sejak kapan dia memanggilku Len-kun?
Diamlah! Misi kita adalah membantunya! Terserah dia mau memanggilmu apa hari ini!
Semua murid di kelas itu seakan sudah melupakan sosok Miku yang lama. Semua menatapnya terpesona. Miku memang cantik, walaupun dulu berhati iblis. Oke. Itu dulu. Sekarang dia bagaikan seorang malaikat super cantik yang mampu membuat dirinya disukai oleh siapa saja.
"Etoo... teman-teman..." sahut Miku pelan. Dia menundukkan kepalanya dan kelihatan salah tingkah. "Aku ingin minta maaf atas semua yang telah kulakukan dulu... umm... maukah kalian semua memaafkanku?"
Semua terbius oleh senyuman polos yang ditunjukkan Miku.
"Tentu saja, Miku-chan!"
"Dia berhasil..." sahut Len ngeri.
"Tentu saja! Dia itu Hatsune Miku!" Rin malah berkata dengan bangga. "Sekarang, kita akan lihat, apa yang akan dilakukan oleh sensei setelah ini... Aku berani taruhan semuanya pasti akan terbius dengan perubahan drastis Miku dan memilihnya jadi tokoh favorit tahun ini!"
"Kenapa kau justru terlihat sangat bersemangat, Rin?"
Rin tersenyum lebar. Maid-butler-cafe mereka memang belum dibukan secara resmi. Akan tetapi, semua sudah berdesakan di depan pintu kelas, mengintip sosok Hatsune Miku yang otaknya sudah dicuci. Sang iblis telah berubah menjadi sang malaikat.
"Pasti akan jadi tambah menarik!"
Ox~TBC~xO
Curhat Author: nggak penting. jadi langsung ke tombol review aja yaa.
setelah sempat off selama hampir tiga tahun, akhirnya saya memutuskan untuk kembali nonton Naruto dan menyimak kembali ceritanya. ini keputusan mendadak yang bahkan saya sendiri tidak tahu kalau ternyata saya akan berminat lagi untuk melihat kelanjutan ceritanya.
ooh diklat prokm.. kamu membuat saya lelah habis-habisan. badan capek, nggak punya inspirasi nulis.. jadi telah update (alasan doang sih sebenarnya.).
okeee. Sket Dance beneran keren! rencananya mau buat cerita di fandom sana. hehee.
aaah! saya stress! lanjut atau tidaknya cerita ini tergantung rating atau banyaknya review yang masuk. jadi, langsung saja klik link review dan ketiklah komentar kalian semua.
spesial buat yang menunggu cerita saya yang lain: saya pasti update. tapi ntar ya. idenya udah ada cuma waktu buat nulisnya yang nggak ada.
at least, thanks for reading. wish i can see you again in the next chapitre. ^^

45