FanFiction | Just In Community Forum | More
V
More
Ujian by grimmjoe

Anime » Death Note Rated: T, Indonesian, Drama & Tragedy, Words: 2k+, Follows: 1, Published: 8-9-11 Updated: 9-1-11
5 Chapter 1: Ujianku

Disclaimer: No, I do not own Death Note except my original characters :3

Title: Ujian

Summary: "Kira-sama, kau sedang mengujiku, bukan?"

A/N:

Fic ini bisa dibilang sekuel dari Amarah yang pernah saya tulis—meskipun sebenarnya fic ini bisa berdiri sendiri. Mungkin fic ini bakal jadi beberapa chapter, karena saya sendiri nggak yakin arah saya menulis nantinya xD


[Bagian 1: Ujianku]

Ada suatu waktu ketika kesetiaanmu diuji. Loyalitasmu dipertanyakan, dan kata-kata tidak selalu menjadi jawabannya. Ketika saat itu tiba, yang kaubutuhkan tentu bertindak, melakukan sesuatu. Bisa dibilang sebagai sebuah pembuktian, atau jawaban. Ujian yang harus kaulalui untuk membuktikan kepercayaanmu, keteguhanmu.

Mereka bisa datang dari mana saja. Maksudku—dari mana saja, siapa saja. Tak terduga. Mereka juga bisa berwujud apa saja. Mereka, ujianmu ini, menuntut apa saja sebagai jawaban. Mereka tak akan meninggalkanmu sebelum mereka dipuaskan. Sebelum mereka terselesaikan, atau pengujimu yang memutuskannya. Satu-satunya yang kautahu barangkali adalah kenyataan bahwa kau harus bertindak, memilih. Atau kau kalah sebelum berperang. Bisa juga kalah di tengah jalan. Entahlah, tak ada yang tahu.

Kurasa aku sendiri juga tak benar-benar mengerti.

Maksudku, aku juga benar-benar tak mengerti apa yang kubicarakan ini. Aku mengoceh tentang kepercayaan dan kesetiaan sedangkan aku sendiri tak tahu untuk siapa aku hidup. Loyalitas? Baiklah, sebagai seorang anak, tentu aku berbakti kepada orang tuaku. Namun sebagai diriku sendiri, kepada siapa aku berbakti? Sebagai seorang yang mendamba dunia waras, kepada siapa aku membuktikan kesetiaanku?

Kepada lambang-lambang keadilan palsu yang dipuja orang-orang?

Kepada manusia-manusia yang mengaku tahu apa itu baik dan buruk lalu memutus siapa yang dihukum?

Dahulu aku tahu ke mana langkahku berujung. Meskipun aku muda dan diremehkan, meskipun aku hanya anak kecil berusia tujuh tahun—yang seharusnya tidak menonton acara berita di televisi tentang seorang bernama Kira yang melakukan 'penghakiman'—yang mengerti ketakutan dan kekaguman di mata orang-orang di sekitarku. Dahulu aku tahu apa yang harus kulakukan untuk dunia ini. Dahulu aku tahu siapa yang harus kukagumi—dan bagaimana harus kusembunyikan cintaku ini dari kedua orang tuaku, atau mereka akan mengomeliku seperti seorang anak yang ketahuan mencuri permen dan menyimpannya diam-diam di dalam saku. Kusembunyikan siapa aku tang sebenarnya di balik nama Shirasu Hiroko, siswi pandai yang pendiam dan tak banyak bicara. Di balik kepolosan anak perempuan biasa yang tumbuh seperti yang lainnya.

Kemudian dia menghilang.

Kira-sama menghilang, dan aku merasa tersesat.

Penghakimannya tiba-tiba berhenti. Berita-berita di televisi tak lagi menyebutnya nama-nama yang pemiliknya mati hari ini karena heart attack. Kabar angin tentang kekalahannya menyebar seperti kematian yang pernah disebarkannya. Lalu semua yang tak menyukainya mulai terbahak—"Ke mana dewamu?" Dunia mulai membusuk lagi, dan belatung-belatung muncul dari dalamnya.

Aku merasa tersesat di jalan yang kukenali dengan baik.

Setahun.

Dua tahun.

Lima tahun berlalu sejak hukuman yang dijatuhkan Dewa untuk yang terakir kali, dia masih belum kembali. Tak hanya kehilangan arah tujuan, aku pun mulai merasakan kehilangan mereka yang berdiri bersisian di sampingku—meskipun mereka tak sadar selama ini aku berada bersama mereka. Perlahan menghilang, mundur dari kemajuan yang dibawa Kira-sama. Lenyap. Seperti tak pernah ada yang namanya Pengikut Kira. Seolah Kira-sama tak pernah ada. Ya, dia menghilang begitu saja bersama suara-suara yang menyerukan namanya.

Kehilangan orang yang menjadi tumpuan harapanmu sejak lama tentu bukan perkara mudah. Perasaan tersesat, kehilangan orang-orang yang mempunyai kepercayaan yang sama denganmu. Perasaan sendiri dan terasing. Frustasi.

Hei, aku hanya manusia biasa. Wajar bila aku juga merasakannya, bukan?

Kemudian aku menyadarinya. Aku sadar bahwa ini adalah ujian. Tes, ujian, cobaan, apalah artinya.

Ya, sebuah ujian. Kira-sama sedang mengujiku dan yang lainnya. Ini ujian kesetiaan. Aku tidak bisa menyerah seperti mereka yang tak lagi berjalan di belakang Dewa-ku. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya, maka dari itu aku tetap berdiri di sisinya. Bahkan ketika orang-orang mulai bersorak tentang kekalahannya—seperti yang diklaim detektif yang bernama L itu.

Sudah kuputuskan ke mana kakiku harus melangkah. Ke arah dunia baru yang sedang dibangun Kira-sama. Aku tak bisa gagal di ujian sepele semacam ini. Semua, segala macam tantangan yang diujikan padaku pasti kuhadapi.

Pasti kuhadapi.

Meskipun itu artinya lima tahun bertahan. Meskipun aku harus mendengar cemoohan teman-teman sekolahku; mereka menganggapku gila dan mulai tak berbicara kepadaku lagi belakangan ini. Meskipun aku harus berhadapan dengan segudang pertanyaan dari orang-orang yang penasaran dengan logika pikirku. Aku tahu mereka mengiraku gila, dan aku tak peduli.

Ujian kesetiaan. Ujian kemantapan hati. Kalaupun aku gila, itu tak masalah. Karena dunia ini juga sama sintingnya, dan hanya yang tak waras yang bisa bertahan di dalamnya. Inilah caraku bertahan, menyelesaikan ujianku.

Ujian yang tak kutahu kapan akan berakhir, atau kapan aku bisa mengetahui hasilnya, atau kapan Kira-sama akan mengakhiri ujian ini—aku hanya bisa menunggu.

Menunggu.

Menunggu.


Aku hanya bisa menghela nafas jengkel saat kembali dari perpustakaan menjelang jam istirahat usai dan menemukan amplop putih tergeletak di atas mejaku. Kekesalanku makin menjadi saat kusadari tasku tidak lagi berada di atas meja. Tidak di sana lagi, dan tidak di mana-mana; kurang lebih artinya tasku menghilang. Tasku hanyalah tas biasa, bukan tas super atau tas jadi-jadian yang punya kaki dan suka berjalan-jalan sendiri, jadi kesimpulanku adalah hari ini adalah hari sialku. Lagi. Seseorang, atau mungkin beberapa orang yang iseng pasti mengambilnya dan menyembunyikannya di suatu tempat.

Sebenarnya aku mulai terbiasa dengan semua ini. Maksudku menghadapi orang-orang yang sering melakukan hal-hal iseng ini. Tas lenyap, uwabaki* di tempat sampah, atau permen karet di kursiku. Sejak insiden pengakuanku di kelas studi sosial, teman-teman sekelasku mulai menjauh dan kesialan ini mulai menimpaku berurutan tiap harinya. Awalnya aku merasa sangat kesal sampai-sampai hampir kulaporkan tindakan-tindakan menyebalkan ini ke wali kelasku. Namun akhirnya kuurungkan niatku.

Ujian, ingat?

Kesialan ini, semuanya kuanggap sebagai bagian dari ujian.

Perasaan kesal ini sudah terlalu biasa bagiku, dan aku sudah mulai bisa menanganinya. Orang lain bisa jadi bereaksi hebat—mengamuk, marah-marah, lapor kepada wali kelas—ketika menghadapi keusilan-keusilan semacam ini. Tidak, aku berbeda. Aku memaksa diriku untuk melakukan hal yang berbeda. Aku tidak marah saat tahu siapa yang sudah membuang uwabaki-ku ke tong sampah—setidaknya aku berusaha untuk tidak tampak marah dan membiarkan segala macam kekacauan itu tampak seolah tak berpengaruh apapun kepadaku.

Kegagalanku adalah sesuatu yang mereka harapkan. Orang-orang itu. Orang-orang yang tak suka kepadaku karena aku mengakui diriku sebagai pengikut Kira.

Aku tidak bisa memberikan mereka apa yang mereka inginkan. Tidak sekarang, tidak selamanya. Sudah jadi tekadku.

Menghela nafas dalam-dalam, kuambil dan kubuka amplop yang hampir bersih dari tulisan ini—kecuali sebentuk gambar di sudut. Mataku menyipit, berusaha mengidentifikasi gambar apa ini. Ini pertama kalinya aku mendapatkan surat kaleng—amplop tanpa nama seperti ini. Anak-anak iseng di kelasku biasanya berusaha menghapus jejak 'kejahatan' mereka, dan yang ini malah meninggalkan surat? Dan ... Gambar di sudut amplop itu ternyata huruf-huruf?

Ryou.

Tanpa sadar aku mengernyit. Ryou? Nama?

Aku memandang sekilas ke sekitar. Beberapa anak di kelas mencuri pandang ke arahku dan ketika aku mendapati mereka, mereka buru-buru berpaling dan sibuk bekerja atau berpura-pura mengobrol. Aku tahu mereka ingin tahu siapa yang menjahiliku kali ini, tapi mereka tak akan bertanya; mereka hanya akan mencari tahu diam-diam. Aku sendiri tak akan repot-repot menanyai satu pun dari siswa-siswa di kelas apakah ada dari mereka melihat seseorang meninggalkan surat tanpa nama pengirim di mejaku; mereka tak akan ada yang menjawabku. Ada jurang besar di antara kami dan tak akan mungkin bisa diseberangi.

Ryou. Kembali perhatianku terserap ke sampul surat. Kutarik keluar selembar kertas dari dalam amplop, mulai membaca tulisan di sana. Sepintas tulisan tangan ini terlihat kacau, acak-acakan, tapi aku tak menyerah begitu saja.

"Hai, Shirasu-san.

Saat kau menemukan surat ini, itu artinya kau sudah tahu tasmu lenyap. Dan, yah, dapat kaupastikan sendiri siapa yang mengambilnya.

Aku ingin bertemu dengan di atap gedung siang ini, setelah istirahat berakhir. Lebih cepat kau bergegas ke sana, lebih baik. Karena sebenarnya aku sudah tak sabar untuk berbincang denganmu—ya, kalau kau ingin tasmu kembali, datang dan mari mengobrol. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.

Ryou."

Aku terkekeh pelan. Ini benar-benar aneh. Untuk ukuran orang iseng, siapapun yang mengaku bernama Ryou ini benar-benar konyol—atau, haruskah kusebut dia tolol? Mendatanginya setelah istirahat dan menemaninya mengobrol? Kalau Ryou mengira buku-bukuku sangat berharga, dia salah besar. Waktu dan energiku jauh lebih berharga.

Aku hampir saja meremas surat kaleng itu dan segera mengenyahkannya, tapi seketika itu aku berubah pikiran saat menangkap sebaris kalimat di bagian paling bawah surat. Tadinya kalimat ini terlewat olehku karena ditulis dengan tinta abu-abu pucat—ya ampun, tinta macam apa ini?

"Apakah kau sedang menjalani semacam 'ujian', Shirasu-san?"


 Ch 1 of 2 Next »

Review
Share: Email . Facebook . Twitter

Story: Follow Favorite
Author: Follow Favorite

Contrast: Dark . Light
Font: Small . Medium . Large . XL

Regular Site . Blog . Twitter . Help . Sign Up  Top