Previously on "The Chronicles of Perjodohan Sayu!":
"Sebelum kau dibawa lari oleh pria yang tak jelas asal usulnya—lebih baik kalau kau segera dijodohkan!"
"Tidak mungkin! Matsui? Sayu-chan akan dijodohkan dengan Matsui?"
"Apa yang harus kulakukan, Misa-chan? Kalau begini caranya lebih baik aku menikah dengan pelawak dari Asia Tenggara yang suka bilang 'prikitiw' itu!"
"Hanya ada satu cara untuk mengakhiri semua ini… Sayu-chan harus kabur!"
"Ke… ke Gurun Sahara kek, ke Kutub Selatan kek, ke bulan kek—ke mana aja boleh, deh, bang! Asal jangan ke hati abang aja!"
"Oke, deh."
"Papa! Kita harus merebut Sayu kembali!"
.
.
.
~The Chronicles of Perjodohan Sayu!~
Part 2 – Perburuan Putri Pemberontak
Death Note © Tsugumi Ohba & Takeshi Obata
Warning: OOC to the max. Humor mungkin kurang nendang—habis galau-galau begini nekat nulis humor orz~
.
.
.
"Nona…"
"Apa?"
"200 meter di depan ada polisi."
Sayu mengintip dari balik bahu Abang Ojek. Dia benar, ada polisi yang memeriksa satu persatu kendaraan yang lewat. Gadis itu mengertakkan gigi—ini sudah kedelapan kalinya mereka menemui jalan yang diblokir polisi. Tidak perlu berpikir untuk mengetahui bahwa ini perbuatan ayahnya. Ia sudah kehabisan akal mencari arah pelariannya, sepertinya seluruh kota sedang diblokir.
"Nona ingin pergi ke mana? Kalau diblokir begini ke Sahara pun rasanya tidak mungkin."
Sayu menggigit bibir. "Aku tidak tahu!" raungnya keras-keras. "Terserah abang aja deh—asal jangan ke hati abang aja!"
"Beneran terserah nih?"
"Iya, iya terserah!" Sayu mengacak-acak rambutnya frustrasi. Tidak mungkin ia akan kembali ke rumah dan setuju untuk ditunangkan dengan Matsuda, kan?
"Lho, bang, mau ke mana?" tanyanya karena Abang Ojek mendadak memutar motornya keluar dari kemacetan.
"Katanya terserah…"
"Lha, terus?"
"Kita minta bantuan dulu untuk menembus blokade ini."
"Bantuan?" ujar Sayu bingung. Abang Ojek membawa motor ke daerah yang belum pernah Sayu datangi, dan tampak seperti distrik lampu hijau.
"Tapi daerah ini…" Sayu mengingat peringatan ayahnya tentang area mana saja di Tokyo yang tidak boleh dijelajahinya. Area ini merupakan salah satunya. "Ini kan sarang yakuza! Abang~ jangan culik aku! Aku belum sempat pacaran; belum ketemu Ulquiorra sama Kurosaki Ichigo…"
"Nona muda, mereka tokoh fiktif—"
"Emangnya elo sama gue nggak?" Sayu mendelik. "Tu, tunggu… tadi Abang bilang bantuan? Memangnya Abang kenal sama preman sini?"
.
.
"Mi, Misa…" Light memasuki kamarnya, "apa-apaan kostum itu?"
"Ah, Light~!" Misa melingkarkan lengannya di leher Light, tindakan yang dimaknai pemuda itu sebagai usaha pembunuhan. Ia buru-buru menghindar dari pelukan Misa.
"Mana Sayu?" tanyanya. "Tu, tunggu… jangan-jangan tadi Sayu jatuh…!"
"Tidak kok, darling…" Misa mengedipkan matanya sok iMo3dH. "Sayu sudah pergi."
"Hah, pergi? Bagaimana bisa?"
Misa nyengir polos, "naik ojek."
Light menepuk dahinya, heran mengapa siswa teladan yang rajin menabung, baik hati dan tidak sombong se-Jepang ini bisa mendapat gandengan yang IIB alias 'Imut-Imut Baka'.
"Misa…" kata Light dengan suara memelas, "dengar ya, ini Jepang."
Misa mengangguk-angguk. "Misa tahu kok!"
"Di Jepang tidak ada ojek."
TAARRRRR!
"APA!" jerit Misa. Kalau yang tadi bukan ojek, berarti… berarti…
"Sayu-chan diculik! Huweeee! Sailor Misa gagal melaksanakan tugas!" Misa guling-guling di lantai. "Light~ Misa menyerahkan adik ipar ke tangan ojek misterius! Maafkan Misa…!"
Light buru-buru menghindari pelukan Misa untuk yang kedua kalinya. Dalam hati ia berdoa semoga adiknya segera ditemukan sebelum ia sempat melakukan tindakan anarkis kepada si ojek misterius. Menarik napas dalam-dalam, Light segera kembali ke mode gentleman -nya.
"Cup, cup, Misa. Turun yuk, ayah dan ibu ada di bawah."
"Hiks… Light…! Kalau nanti Sayu diselundupkan sampai ke Los Angeles gimana?"
"Tenang saja Misa, ayah pasti bisa mendapatkan Sayu kembali, sebelum itu sempat terjadi," kata Light dengan nada menenangkan. 'Dan lebih cepat lebih baik—sebelum kami harus mengganti rugi atas luka-luka si ojek atau motor yang mungkin kreditnya belum lunas karena hancur akibat ulah Sayu,' pikir Light.
Light dan Misa—yang sudah berganti pakaian normal—akhirnya turun ke ruang keluarga. L sudah bertahta di meja, tampaknya memboyong sendiri semua hidangan penutup dari dapur dan memakannya untuk appetizer sendirian—kedua orang tua Light dan Matsuda masih berkerumun di pintu depan: yang disebut terakhir sedang menonton pasangan itu saling bertukar pandang mesra dengan tatapan iba.
"Ah, Light-kun," kata Matsuda, lega akhirnya bisa mengalihkan pandangan dari pasangan roleplay itu. "Aku harus pamit sekarang…"
"Ah, Matsui kenapa tidak tinggal untuk makan malam?" tanya Misa bingung. Tidak mungkin kan ia pulang sekarang kalau calon tunangannya belum ditemukan?
"Se, sebenarnya… itu…" Matsuda mendadak gugup, wajahnya memerah dan tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Aku… ada kencan malam ini…"
TAARRRRR!
"A, apa?" Misa membelalakkan matanya lebar-lebar. "Tapi… tapi… Misa kira Matsui akan dijodohkan dengan Sayu-chan!"
"Itu tidak mungkin, Misa," desis Light. "Ayah tidak ingin Sayu menikah dengan polisi. Lagipula siapa yang bilang Matsuda yang akan dijodohkan dengan Sayu, Misa?"
Matsuda pergi. Misa jawdropped. Kalau begitu sia-sialah usahanya membantu Sayu kabur! Seharusnya Sayu tidak perlu pergi ke mana-mana!
"Sa, Sailor Misa… telah gagal dalam tugas…" Misa pundung di pojokan sambil garuk-garuk lantai. "Tu, tunggu… kalau begitu siapa cowok yang akan dijodohkan dengan Sayu?"
"Tampaknya ia akan datang sedikit terlambat, iya kan, L?"
L mengangkat tangan, berusaha menelan segumpal penuh ketan hitam. "Urm—"
KELAKUAN SI KUCING GARONG~ TAK BERDUIT IA MENODONG~ NO MONEY, NODONG~
Musik norak mendadak membahana dari kantung celana Soichiro, mengundang pinggul yang tidak awas untuk mulai bergoyang. Tidak salah lagi, ini adalah lagu 'Kucing Garong' versi remix yang dinyanyikan oleh penyanyi idola remaja se-Jepang, Hideki Ryuga! Tangan di atas, pemirsa…!
Light bergidik mendengar nada dering ponsel ayahnya. Ia heran mengapa siswa teladan yang rajin bangun pagi dan tak lupa menggosok gigi seperti dirinya punya ayah yang diam-diam mengoleksi lagu dangdut remix.
Soichiro mengangkat telepon, "halo?"
"Yagami-san!" suara Aizawa membahana dari speaker ponsel Soichiro. "Ini gawat sekali!"
"Ada apa, Aizawa?" balas Soichiro, langsung berganti mode dari 'bapak-bapak kasmaran' ke 'polisi teladan'. "Jangan bilang putriku diculik yakuza!"
"Ukh…" kebisingan jalan raya merembes dari speaker ponsel. "Bukan begitu, Yagami-san… tapi… putri anda jadi banyak!"
Soichiro menganga. Sachiko menekap mulutnya. Light tetap in-chara, hanya sedikit membelalak. L masih menggiling bubur kacang hijau buatan nyonya rumah. Misa sibuk membetulkan maskaranya yang luntur. Author lagi ngupil—sori, ngetik.
"Apa maksudmu?" tanya Soichiro.
Light mendadak nimbrung, "jangan-jangan Sayu sudah menguasai kagebunshin no jutsu!"
"Ada puluhan orang yang mirip Sayu-chan dan penculiknya yang sekarang memenuhi seluruh kota!" seru Aizawa dari seberang telepon. "Dan mereka semua benar-benar mirip! Kami tidak bisa menemukan yang mana yang aslinya!"
Light dan orangtuanya bertukar pandang kaget.
"APA!"
.
.
[Setengah jam yang lalu]
Mendadak Sayu dan Ojek misteriusnya disambut serombongan yakuza yang memanggil Abang Ojek dengan sebutan 'tuan muda'. Mereka diantar ke sebuah bangunan yang tampaknya markas para yakuza itu. Abang Ojek segera mengumpulkan anak-anak buahnya dan memberi mereka instruksi.
Sepuluh menit kemudian, Sayu menatap ke puluhan wanita yang mengenakan pakaian sama persis sepertinya (T-shirt bergambar Upin Ipin dan celana selutut) dan bertelanjang kaki. Terima kasih kepada penemuan terhebat umat manusia yang bernama make-up, wajah para wanita itu sekarang terlihat seperti dirinya. Satu-satunya yang membedakan para wanita itu dari Sayu yang asli hanyalah tubuh bohai bin semlohai mereka, yang membuat gadis itu iri setengah mati. Masing-masing wanita menghampiri sebuah sepeda motor yang persis sama dengan milik si Abang Ojek—dan seorang pria yang berpakaian persis sama dengan si Ojek sudah siap di atas motor.
"Kalian sudah mengerti instruksinya?" tanya Abang Ojek kepada kloningan-kloningannya.
"Sudah!" jawab mereka semua serempak.
"Baik, kalau begitu—BERANGKAT!" teriak Abang Ojek. Begitu motor terakhir sudah meninggalkan garasi, ia menghampiri Sayu dan membungkuk dengan anggun bak seorang butler dalam balutan jaket kulit.
"Nah, nona muda," ujarnya dengan helm masih terpasang. "Lebih baik kalau nona beristirahat dulu di sini sementara anak buahku mengalihkan perhatian para polisi. Jika nona perlu sesuatu, katakan saja pada mereka," ia menunjuk dua pria bertampang preman yang bersiaga di samping pintu keluar, "aku ada di ruangan sebelah, kalau nona sudah siap naik motor lagi."
Sayu hanya mengangguk-angguk kagum. Si Abang Ojek ini ternyata seorang Yakuza Budiman dan Butler Teladan. Semoga saja wajahnya juga rupawan.
"Uh… arigatou, Abang…"
Abang ojek membungkuk anggun lagi, kemudian berlalu. Sayu menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat dan menyuruh kedua yakuza itu membawakan keripik kentang.
"Silakan cemilannya, nona," kata Yakuza-1 dengan tata krama bak butler bangsawan Inggris.
Mengambil cemilannya, Sayu malah protes. "Kok cuma keripik, sih?"
Yakuza-1 dan Yakuza-2 berpandangan, bingung. "Apa lagi yang kurang, nona?" tanya mereka bersamaan.
Sayu berdecak kesal. "Tentu saja televisi! Mana asyik makan keripik kalau nggak sambil nonton televisi!"
"Tapi… tapi…" kata Yakuza-2 terbata-bata, "di sini sudah ada televisi 42 inchi plus home theatre set."
Sayu mendelik. "Aku juga tahu. Tapi yang kumaksud adalah televisi mini yang layarnya cuma segede KTP itu!"
Benar, pemirsa. Sayu punya kebiasaan unik makan keripik kentang sambil belaj—ahem, nonton televisi mini. Kebiasaan ini ditirunya dari Light yang sering menyembunyikan televisi mini di dalam bungkus keripik kentang, semata-mata agar tidak ketinggalan anime Naruto yang jam tayangnya bersamaan dengan jadwal belajarnya. Sungguh tindakan yang sangat tidak direkomendasikan untuk ditiru dari siswa teladan se-Jepang.
Yakuza-1 dan Yakuza-2 berpandangan, bingung. "Tapi kami tidak punya televisi mini—"
"Kalian ini yakuza atau tahu goreng?" bentak Sayu, "rampok toko elektronik sana! Cepat!" tambahnya sambil melecutkan cambuk entah dari mana.
Kedua yakuza pergi dan segera kembali dalam lima menit—entah mencuri televisi mini dari mana. Sayu menyambungkan kabel parabola dari home theatre ke televisinya agar ia bisa menonton kartun negeri jiran yang sosok kedua tokoh utamanya tersablon pada kaus yang saat ini dipakainya. Setelah kartun itu habis, Sayu pindah ke saluran lokal, teringat akan peluncuran videoklip lagu baru Hideki Ryuga, 'Kucing Garong' versi remix.
"Yeah, yeah~ kelakuan si kucing garong, punya pacar ngakunya single~"
Sayu ikut berdendang mengikuti irama dan tarian Hideki dalam balutan kostum kucing dan rambut palsu panjangnya. Ternyata pepatah 'like father like daughter' memang ada benarnya, pemirsa. Tetapi mendadak video musik Hideki terputus, digantikan dengan acara berita.
"Uh… apaan sih, lagi seru-serunya…" omelan Sayu terputus ketika di layar televisi muncul fotonya dalam ukuran besar. Ia segera menaikkan volume hingga maksimum.
"…Putri Soichiro Yagami, kepala kepolisian Jepang, telah diculik dari rumahnya yang beralamat di kelurahan Bojong Kenyot malam ini," kata pembawa berita, yang tak lain tak bukan adalah Kiyomi Takada. Sayu mengenalinya karena wanita itu pernah men-stalking kakaknya ke mana-mana. Terakhir Sayu dengar, ia masih menjalani terapi di bawah bimbingan jaksa yang banting setir menjadi dokter jiwa, Teru Mikami.
Takada melanjutkan, "menurut saksi mata yang terakhir melihatnya, Misa Amane—" di sini Takada membuat gerakan-gerakan aneh seperti kejang selama sepersekian detik, "—seorang pria misterius yang ia identifikasi sebagai 'Abang Ojek' membawa kabur Miss Yagami. Ciri-cirinya sebagai berikut…"
Sayu terperangah. Mereka bahkan sampai memberitahu media! Yah, setidaknya mereka tidak mengumumkan alasan kepergian Sayu dari rumah. Sungguh memalukan kalau teman-temannya sampai tahu Sayu akan dijodohkan.
"…Kemunculan orang-orang yang menyerupai Miss Yagami dan penculiknya di dalam area yang diblokade sempat membuat para polisi kesulitan. Namun mereka telah berhasil mengorek informasi tentang keberadaan Miss Yagami dari para peniru itu. Dan saat ini pasukan Densus Hachi-Hachi telah bersiaga di luar markas penculiknya." Kamera menunjukkan gambar sekelompok polisi bersenjata lengkap bersiaga di luar sebuah bangunan. Dua huruf hiragana 'ha', simbol kanji untuk angka delapan, dijahit pada rompi anti peluru mereka.
"… Pemimpin pasukan, Mr. Yagami, akan menyuruh para penculik menyerah," kata Takada dari studionya. Seorang pria memisahkan diri dari pasukan, membawa toa yang boleh ambil dari lapangan RT sebelah. Sayu terpaku melihat ayahnya membuka helm, mendekatkan toa ke mulutnya dan mendadak suara ayahnya menggelegar tidak dari dalam televisi...
"KEMBALIKAN PUTRIKU, OJEK SIALAAAAAAAANNNN!"
…Tetapi dari luar markas yakuza.
.
.
.
to be continued…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
…immediately XD
.
.
Sayu berdiri, begitu cepat sampai televisi mininya menemui ajal akibat bercumbu dengan lantai setelah bungee jumping dari ketinggian lima puluh senti.
"KEMBALIKAN PUTRIKU YANG SOLEHAH! KEMBALIKAAAAAN!"
Gadis itu melompati sofa-sofa, menyeberangi ruangan menuju sebuah pintu. Ditendangnya pintu itu hingga terbuka.
"Abang~! Mereka menemukan tempat ini!" serunya, langsung menyerbu masuk ke ruangan yang gelap itu, menimpa sosok yang sedang rebahan di kasur. "Ayo pergi sekarang! Aku nggak mau pulang!"
"KEMBALIKAN PUTRIKU YANG CANTIK JELITA! KEMBALIKAAAAN!"
"Tuan muda! Densus Hachi-Hachi menyerbu markas!" kedua yakuza menyerbu masuk dan menyalakan lampu. Perhatian Sayu teralihkan oleh kedatangan mereka, dan saat ia menoleh ke arah si Ojek, pria itu sudah memakai helmnya kembali.
"Tahan mereka dulu, kalian berdua!" perintahnya. Setelah kedua yakuza pergi mengokang uzi, ia bertanya pada Sayu.
"Nona Yagami, nona percaya padaku?"
"Huh?" kedua alis Sayu bertaut. "Se, sekarang bukan saatnya ngomong begitu, kan? Pokoknya bawa aku pergi ke mana aja! Aku nggak mau pulang!"
Abang Ojek membungkuk anggun dan berkata, "yes, my lady," kemudian menggamit tangan Sayu, membawanya ke area belakang markas tempat motornya diparkir. Rentetan peluru dan langkah-langkah kaki berat menjadi musik latar pelarian mereka. Keduanya sudah kembali naik motor ketika Densus Hachi-Hachi memojokkan mereka.
Sayu mengenali ayahnya yang berdiri paling depan—membawa uzi di satu tangan dan toa curian di tangan satunya. "Sayu—pulang!" serunya.
"Nggak mau nggak mau nggak mauuuu!"
"Yagami-san, bukannya putri anda diculik?" tanya salah satu anak buahnya.
"Diam!" bentak Soichiro. "Sayu, ayo pulang! Aku dan ibumu mencemaskanmu, nak—tidak baik anak perempuan kabur dari rumah…"
"Biarin! Weeeek!"
"Mr. Yagami," kata Abang Ojek tiba-tiba. "Anda dengar sendiri putri anda tidak mau pulang, kan?"
Soichiro balas mendelik dan sudah siap mengayunkan uzinya ke kepala Abang Ojek, namun mendadak ia mundur. Abang Ojek merogoh kolong motor dan mengeluarkan benda bulat berwarna hijau muda.
"Komandan!" seru salah satu anggota Densus. "Itu… itu… seharusnya benda itu tidak ada di Jepang! Hati-hati, komandan—sedikit percikan dan nyawa kita semua habis!"
"Anak buah anda benar, Mr. Yagami," kata Abang Ojek, mengayunkan sedikit benda di tangannya sehingga angka tiga berwarna kebiruan menghadap pria-pria bersenjata lengkap itu. "Anda beruntung ini cuma ukuran tiga kilogram. Sekarang tawarannya: biarkan kami pergi tanpa kalian ikuti atau benda ini terpaksa meledak."
"Enak saja! Tak akan kubiarkan Sayu pergi dengan pria misterius sepertimu!"
"Sayang sekali, kalau begitu," Abang Ojek melemparkan tabung gas tiga kilogram berwarna hijau muda itu ke kaki pengepungnya. Dengan cepat dinyalakannya sebatang korek yang langsung dilempar menyusul tabung gas.
"Pegangan, nona muda!"
"SAYU!"
BUUUMMMMM!
.
.
Di bawah atap rumah Yagami, keadaan tidak banyak berubah. L masih sibuk dengan bubur sumsumnya, Sachiko fokus ke televisi—masih dalam mode roleplay 'istri yang ditinggal pergi suaminya berperang'—menonton perkembangan pengejaran Sayu oleh Densus Hachi-Hachi. Misa duduk di sebelah ibu mertuanya, berharap Sayu baik-baik saja. Light diam-diam menonton anime Naruto dari televisi mininya yang disembunyikan dalam bungkus keripik kentang.
"Papa!" jerit Sachiko tiba-tiba saat gambar di layar televisi mendadak dipenuhi asap yang berasal dari tabung gas ukuran tiga kilogram.
"Tampaknya si penculik meledakkan markas, pemirsa!" seru Takada berapi-api. "Namun tenang saja, pemirsa, sepertinya seluruh anggota Densus Hachi-Hachi selamat dari ledakan!"
"Oh papa!"
"A, ayah mertua selamat, ibu mertua!" seru Misa sambil menepuk-nepuk punggung Sachiko yang matanya mulai berkaca-kaca.
Di dalam televisi, mereka melihat sesosok anggota Densus keluar dari markas yakuza yang hancur lebur dan mengeluarkan ponsel. Di saat yang bersamaan, ponsel Light berdering.
"Ayah?" Light mengangkat telepon. "Apa? Aku dan L? Kenapa tidak menyuruh polisi lain—APA! Ayah serius? Oke, oke." Ponsel dimatikan dan pemuda itu bangun dari kursi. "L! Ayo pergi!"
"Ke mana, Light-kun?"
"Ayah membutuhkan bantuan kita untuk mengejar Sayu!" Light menarik lengan L yang masih asyik mengunyah-ngunyah. "Ayo cepat!"
"Hati-hati, darling!" seru Misa yang mengantar kepergian mereka sampai pintu depan. Limosin mewah L sudah lama lenyap di tikungan ketika Misa mendengar klakson mobil. Sebuah sedan merah berhenti di depan kediaman Yagami.
"Dia datang, Misa!" Sachiko menghambur keluar rumah.
"Siapa?"
"Calon menantuku!"
.
.
Lampu-lampu jalan berpendar lemah di atas permukaan air sungai yang mengalir lambat. Kebisingan lalu lintas terdengar jauh, jauh di belakang. Riak-riak air tercipta saat sebuah kerikil terlontar membentur permukaan air, menghancurkan harmoni pantulan lampu—
"Sebeeeeelll!" jerit Sayu Yagami. "Sebel sebel sebel sebel!" Meraup segenggam kerikil, Sayu melemparkan batu-batu itu sekuat tenaga, mencoba mencapai seberang sungai—"AKU NGGAK MAU PULANG DAN DIJODOHIN!"
"Sudah lebih tenang?" tanya Abang Ojek ketika Sayu kembali ke sisinya. Gadis itu mengangguk sedikit, namun masih cemberut.
Memanfaatkan ledakan tabung gas sebagai pengalih perhatian, Abang Ojek membawa Sayu pergi dari markas. Setelah berputar-putar cukup lama untuk mengecoh pengejar, akhirnya mereka berhenti di tepi sungai untuk beristirahat.
"Nona…" panggil pria itu, "apa benar nona kabur dari rumah karena akan dijodohkan?"
Sayu mengangguk. "Iya dan aku tak mau begitu saja dijodohkan oleh pria yang belum aku kenal sama sekali!"
Sunyi.
"Nona… nona perlu sesuatu tentang diriku," kata Abang Ojek akhirnya.
"Apa?"
"Aku… aku bukan seorang tukang ojek."
TAARRRR!
"APA!" Sayu membelalak, mulutnya komat-kamit. "Tapi… tapi…"
"Aku serius," kata si Abang Oj—Pemuda Misterius. "Lagipula di Jepang tidak ada ojek."
"Terus… terus kamu siapa, dong?"
"Aku…"
NGUIIIIING! NGUIIIIIING!
Bunyi sirene mendadak memekakkan telinga. Sayu bisa melihat lampu merah-biru di mobil-mobil yang sekarang mendekati mereka dengan kecepatan tinggi—polisi! Mereka telah ditemukan!
Tanpa aba-aba, Sayu dan Pemuda Misterius-nya berlari ke motor. Mobil-mobil polisi beriringan di belakang mereka. Kaki Sayu terasa nyaris beku akibat hembusan angin dan rangka motor yang dingin. Sang Pemuda Misterius memacu motornya lebih cepat dari sebelumnya. Tangan Sayu menggenggam jaket pemuda itu erat-erat.
Pada saat itu, sesuatu yang telah lama Sayu tunggu-tunggu akhirnya terjadi juga.
Kupu-kupu. Perasaan seolah kupu-kupu beterbangan di perutnya mulai membuncah, meluap deras. Dan ketika perasaan itu naik ke jantungnya, dunia seolah melambat—hanya ada dirinya dan siapapun Pemuda Misterius yang membantu pelariannya ini. Baik deru motor dan sirene mobil polisi menjadi sayup jauh di belakangnya…
Sayu Yagami telah jatuh cinta, pemirsa!
.
.
Sang Pemuda Misterius membelokkan motornya ke jalan tol. "Kalau begini terus, mereka akan menangkap kita!" serunya, namun lawan bicaranya tidak mendengarkan, kentara sekali masih asyik dalam lamunannya sendiri. Ia jelas berharap agar pengejaran ini berlangsung terus menerus dan tak perlu kembali ke rumah.
Jalur jalan tol yang sempit menguntungkan mereka, mobil polisi terpaksa berbaris agar bisa muat di ruas jalan. Tidak banyak mobil yang ada di jalan tol, sehingga memudahkan motor untuk menyelip-nyelip di celah mobil.
Jalan yang mereka lalui sudah mendekati gerbang tol. Begitu melewati gerbang, mereka berdua akan terbebas dari kejaran polisi.
"Yeah!" seru Sayu yang sudah agak sadar dari lamunannya. "Sedikit lagi! Sebentar lagi aku beb—"
GBUK GBUK GBUK GBUK GBUK GBUK GBUK GBUK
Jalan di depan mereka mendadak tertutup bayangan suatu benda besar yang datang dari atas—sebuah helikopter.
"Sial!" Pemuda Misterius berniat memutar motornya, namun polisi telah memblokade jalan kembali. Mereka terjebak!
Sayu menengadah, menemukan L di kursi pilot helikopter dan Light di sebelahnya, memegang toa yang boleh ambil dari kantor kelurahan sebelah.
"SAYU!" teriak kakaknya. "PULANGLAH! CALON SUAMIMU SUDAH DATANG!"
"Apa?"
.
.
~The Chronicles of Perjodohan Sayu!~
Part 2 – Perburuan Putri Pemberontak
.end.
.
A/N: makasih yang udah baca~ sekarang author mau lanjut bikin maket dulu… uappaaahhh? U, udah jam setengah dua pagi? Bobo aja deh. Zzzz.

32