FanFiction | Just In Community Forum | More
V
More
side story? may be yes or not by Nekuro Yamikawa

Games » Ragnarok Online Rated: T, Indonesian, Adventure, Taekwon Master & Soul Linker, Words: 10k+, Favs: 2, Follows: 1, Published: 2-17-12 Updated: 4-18-12
11 Chapter 1 : Full of Disaster

Cerita ini mungkin bagian side story dari cerita yang pernah author tulis,atau mungkin tidak. Tapi yang pasti karakter didalamnya tetap sama seperti yang sebelumnya. Ini dia,cerita roman gagal dengan humor garing yang tak layak disimak anak dibawah umur.

DISCLAIMER : RAGNAROK ONLINE DAN ISINYA BUKANLAH MILIK SAYA,JADI WASPADALAH! WASPADALAH!

Beelzebub:"ga jelas",*boring mantengin author


Full of Disaster

"Ayumi! Lari!", seru seorang Star Gladiator pada gadis berambut hitam panjang yang berdiri beberapa meter darinya. Gadis dalam balutan seragam Soul Linker yang ia panggil itu, hanya diam memandangi. Wajah cantiknya tampak jelas dibawah sinar bulan, terukir oleh rasa ngeri. Matanya terbelalak dengan kedua telapak tangan menyampul dibibir. Terpaku menyaksikan pria dihadapannya kini berdiri diantara selusin Galion kelaparan. Singa-singa hitam penghuni lembah tersebut muncul secara tiba-tiba dari kegelapan, mengepung dan menggeram disekeliling pria berambut silver panjang itu, disusul Roween yang satu-persatu bermunculan dibelakang mereka. Menutupi setiap celah keluar, membuat pria itu benar-benar terpojok.

"Necro! Jangan bodoh! Kau bisa mati tercabik-cabik!", jeritnya parau dengan tatapan berkaca-kaca. Tanpa disengaja, menarik perhatian seekor Galion disekitarnya dan baru menyadari ketika makhluk itu menggeram dan mulai datang menghampiri. Liur dirahang monster buas itu mengalir keluar diantara deretan gigi-gigi runcing, matanya menyala merah dalam gelap malam menyorot tajam kearah mangsa. Gadis itu ketakutan, kedua kakinya gemetar, keringat dingin juga mulai membasahi tubuhnya.

"Gawat!", gumam Star Gladiator bernama Necro itu menyadari salah seekor diantara Galion-Galion yang mengerumuninya mulai mengalihkan perhatian pada gadis itu, "Ayumi! Menjauhlah dengan perlahan dan jangan membuat gerakan tiba-tiba!", ia segera memperingatkan tanpa menoleh padanya sedikitpun, tidak membiarkan dirinya sendiri lengah walau sepersekian detik.

Soul Linker itu mengangguk pelan. ia mengerti. Mencoba menyerang salah seekor diantara mereka dengan Esma hanya akan membuat keadaan menjadi semakin buruk. Wajahnya pun menjadi semakin pucat pasi dan keringat dingin mengucur semakin deras ketika salah satu dari mereka perlahan berjalan mendekat. Selangkah demi selangkah gadis itu menarik mundur tubuhnya. Bergerak hati-hati sebisa mungkin. Tapi malang baginya, tanpa disengaja ia tersandung sebuah batu, dan tergelincir jatuh kebelakang. Galion yang mengikutinya tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan segera melompat kearahnya.

Waktu kini seolah bergerak lamban dimata Ayumi, tubuh yang perlahan jatuh tak memberi kesempatan untuk menghindar. Kedua matanya terbelalak memperhatikan kuku-kuku tajam bersiap merobek kulit dan rahang menganga lebar hendak mengoyak daging. "Necro...", isak gadis itu lirih, pandangannya mulai mengabur karena air mata. Ia pun pasrah dengan nasib yang ia alami dan perlahan menutup mata seiring detik-detik yang tersisa sebelum dirinya menghantam tanah.

"Hyaaa~~~aaah! ! !", Necro berteriak dengan lantang. Tubuh pria itu melayang diudara dengan kuda-kuda Flying Kick, kaki kanannya menusuk tepat kelambung makhluk itu dan membuatnya terpental sejauh beberapa kaki dari Ayumi sebelum berhasil menerkamnya.

Merasa tidak ada yang terjadi, gadis itu kembali membuka kedua mata. Ia dapati Necro tengah berdiri memasang kuda-kuda disampingnya, membelakangi dengan punggungnya. Sedangkan Galion yang tadi berusaha melukainya kini mencoba berdiri dengan susah payah dan mengaum dengan buas dihadapan Star Gladiator itu,

"Ayumi... kau tidak apa-apa?", ia bertanya, dan lagi, tanpa menatap wajah gadis itu.

"Ya. Aku tidak...", belum sempat Ayumi menjawab pertanyaan pria itu, auman-auman terdengar disisi lain. Begitu ia menoleh, Galion-Galion yang tadi mengepung mereka tengah melayang di udara, membuat gadis itu berteriak dengan histeris, "...Kyaaa~~~aaa!"

Mendengar suara jeritannya, Necro pun membalikkan badan dan mendongak keatas setelah sekilas melihat wajah panik Ayumi. Tanpa menunggu sepersekian detik terlewat, Star Gladiator itu segera merendahkan tubuh, menyelipkan kedua lengan di bawah punggung dan lutut gadis itu lalu menghindari terkaman Galion-Galion dengan menghentakkan kakinya sekuat mungkin. Mendorong seluruh berat tubuhnya beserta Ayumi dikedua tangannya kedepan, dan diikuti hentakan lagi dilangkah berikutnya. Membuatnya sedikit melayang di udara, lalu di susul dengan Sprint begitu kembali menginjak tanah. Sekejab, ia pun telah membuat jarak mereka cukup jauh dari binatang-binatang buas penghuni lembah itu.

Tidak ingin melepas mereka berdua begitu saja karena digiring rasa lapar, membuat segerombolan Galion dibelakangnya segera berlari mengejar, bersama Roween-Roween yang selalu membuntuti mereka.

Semua berjalan begitu cepat bagi Ayumi, ia hanya merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang. Tanpa disadari, rupanya Necro telah membawanya menggunakan kedua lengan sambil terus berlari, kedua tangannya sendiri melingkar erat pada star gladiator itu secara reflek, "Ne.. Necro?"

"Tolong... jangan... banyak bergerak", ucap Necro terengah-engah sambil mengencangkan kembali genggaman di ujung lengan. Nafas pria itu tampak mengepul diudara lembah Audumblra yang semakin dingin. Entah seberapa jauh jarak telah mereka lewati, ia tetap berlari dan dibuntuti Galion-galion dibelakang mereka. Auman liar masih terdengar jelas.

Ayumi mempererat pelukannya. ia sandarkan kepala di pangkal lengan Star Gladiator itu, matanya terpejam. Perlahan, lelehan tangis menuruni pipinya dan membasahi pakaian pria itu, "Necro,maafkan aku... karenaku... kita..."

"Semua ini... bukan salahmu...", sela Necro.

Tak lama kemudian, sesuatu dikejauhan menarik perhatian Star Gladiator itu, ia berhasil menemukan tempat yang sepertinya bisa digunakan untuk menghindari Galion-Galion kelaparan yang terus mengejar mereka, sebuah lembah dengan bebatuan menjulang cukup tinggi serta dinding terjal terlihat tak jauh lagi didepan. Dari ukurannya, teknik Leap biasa takkan mampu menggapai puncaknya, tapi Necro memiliki rencana untuk itu. Ia akan menggunakan sebuah trik didinding terjal batuan tersebut agar bisa menggapainya sehingga aman dari kejaran para Galion. Serangkaian gerakan akrobatik yang membutuhkan reflek, ketepatan dan juga kekuatan, jika salah sedikit saja akan berakibat fatal.

"Ayumi... pegangan yang erat...", ucapnya sembari mengumpulkan tenaga dikedua kakinya begitu masuk kecelah bebatuan. Melakukan Leap setinggi yang ia bisa, lalu menjejakkan kedua kaki didinding batu. kemudian Leap sekali lagi, melontarkan kembali tubuhnya lebih tinggi kedinding yang lain dan terus mengulang kembali gerakan itu hingga mereka mencapai puncak dan meninggalkan Galion-Galion itu dibawah sana. "Kita... sudah aman", ujarnya terengah sambil menurunkan Ayumi lalu berbaring disamping gadis itu, memejamkan mata dan mengatur nafas yang tak beraturan. Peluhnya tampak bercucuran didahi. Sejenak kemudian, ia kembali membuka mata dan mulai menikmati hembusan sejuk angin lembah ditubuhnya yang kelelahan. Perlahan, pandangannya beralih pada Ayumi, memperhatikan wajah murung gadis itu dibawah bias sinar rembulan.

"Masih menyalahkan diri karena kejadian sore tadi yang membuat kita berakhir disini malam ini?", tanyanya pada Soul Linker itu.

Ayumi hanya diam dengan pandangan menerawang ke angkasa. Iya, dia masih merasa semua kekacauan ini karenanya, jika saja ia tidak panik sewaktu monster menyerang pesawat, "Seandainya aku bisa sedikit bertingkah tenang...", gumamnya

"Kau sudah melakukannya didepan galion tadi", Necro menyelanya.

"Huh?", gadis itu bangkit dan duduk ditempat sambil menoleh kearah Necro. Memperhatikan wajahnya yang sekarang mengahadap langit.

"Hmm... intinya... berhentilah selalu menyalahkan dirimu sendiri,seolah semua kesalahan kau tanggung sendiri saja", ucapnya setelah menghela nafas panjang, "Jika sesuatu terjadi padamu dan aku hanya diam saja, maka aku akan menanggung kesalahan lebih berat dari yang kau rasa", lanjut pria itu sembari melipat kedua tangan dibawah kepalanya. Ayumi terdiam mendengar ucapannya, membayangkan apa yang akan terjadi jika Necro tidak segera menangkap tubuhnya diudara? Mungkin dia sudah hancur berserakan dan menjadi makanan siap saji bagi makhluk-makhluk penghuni lembah Audumblra.

Menit-menit yang berlalu kemudian hanya diisi dengan suara desir angin berhembus dan lolongan putus asa Galion yang terdengar entah dari mana asalnya sekarang. Sang Star Gladiator masih menatap langit dengan wajah yang terlihat tenang sedangkan Soul Linker disampingnya sekarang duduk memeluk kedua kaki. Memperhatikan ujung cakrawala dari atas tebing dan berharap malam ini akan segera berlalu, sehingga mereka bisa meminimalkan ancaman yang mungkin akan mereka temui saat mencari jalan untuk keluar dari lembah itu.

"Kau tidak merasa lelah?", tanya Necro memecah atmosfer kebisuan diantara mereka.

"Tidak", jawab Ayumi singkat setengah menggumam.

"Lapar?", tanyanya lagi.

"Tidak", jawaban soul linker itu singkat seperti sebelumnya.

"Kita berjalan sejak sore hingga petang dan kau tidak merasa lelah? Yah,bisa diterima", ia berbicara pada dirinya sendiri sebelum memicingkan mata pada sosok Ayumi yang terlihat tengah melamun disampingnya. "Tapi... kalau kau tidak merasa lapar...", ia melanjutkan kalimatnya tapi kemudian kembali diam, berganti raut wajah menyeringai, menunggu sesuatu yang ia tahu pasti akan terjadi. Tentu saja, tak lama kemudian, "Kkkrrrucuk-krucuk ! ! !"

Sontak Ayumi kaget mendengarnya, darah pun terpompa kewajahnya, membuatnya perlahan memerah seperti buah apel, "Krucuk-grrrrr! ! !", perutnya kembali berbunyi, kali ini lebih keras dari sebelumnya dan diperparah gema yang terdengar setelahnya. Necro yang sejak tadi memperhatikan pun tertawa terbahak-bahak setelah beberapa detik lalu mencoba menahan rasa geli mendengar suara-suara itu. "Wow... apakah barusan tadi suara Galion menggeram? Kukira mereka tak bisa memanjat kesini", ledeknya.

"N-Necro! D-Diam!", bentak Ayumi dengan sangat keras, menyusul gema suara perutnya yang keroncongan sambil menutup wajah. Ia merasa sangat malu sekali mengetahui suara perutnya yang kelaparan bisa sekeras itu apalagi sampai terdengar oleh seorang pria.

Setelah semua gema menghilang, suasana kembali bisu. Membuat gadis itu merasa heran dengan cepatnya suasana berubah, kedua telapak tangan yang menutupi wajah pun ia lepas. Cukup mengekejutkannya, ia dapati sepotong roti telah disodorkan didepannya oleh Necro.

"Makanlah...", Necro mengerak-gerakkan potongan roti ditangannya sedangkan tangan yang lain memasukkan potongan roti miliknya kedalam mulut. Soul linker itupun dengan malu-malu meraihnya dan segera memakannya segigit demi segigit. Perlahan, ia mulai melirik Necro yang duduk dengan santai mengunyah roti didalam mulutnya, pandangannya lurus kedepan, "T-Terima kasih...", ucap Ayumi terbata-bata, rona merah masih belum hilang diwajahnya.

"Bertahun-tahun tinggal bersama, tentu aku tidak akan melupakan kebiasaanmu begitu saja", Necro kembali membahas kejadian barusan sambil tertawa terkekeh.

"Sudah... jangan dibahas lagi... atau aku akan mengadukannya ke Ayah saat sampai dirumah nanti", ancam Ayumi yang hanya terdengar seperti gurauan di telinga Star Gladiator itu.

"Adukan saja, mungkin Ayah juga tertawa mendengar ceritamu", balas Necro dengan nada cuek.

Ayumi terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Necro benar, ia hanya akan kembali ditertawakan, "Uh... kamu jahat! Jahat! Jahaaat!", rontanya sambil memukul-mukul si Star Gladiator. Bukan pukulan yang keras tapi cukup membuat Necro terganggu dengan tingkahnya.

"Hei hentikan...", pinta Necro sembari tersenyum ketika dia mulai kerepotan menahan semua pukulan gadis itu.

"Ga mau!", balasnya cuek dengan pukulan semakin sadis.

"A-Ampun... ampun... ha ha ha", akhirnya si Star Gladiator jatuh dibuatnya dan gadis itupun puas lalu kembali menggigit roti ditangannya sambil bersungut-sungut.

"Kapan terakhir kita bergurau seperti ini?", Necro masih terbaring dengan senyum diwajahnya,matanya kembali pada sesuatu yang selalu ia perhatikan sejak terbenamnya matahari, bintang-bintang. Ayumi bersikap seolah tidak mendengarnya karena merasa kesal dengan sikap orang disebelahnya itu, padahal pikirannya tengah menggali-gali ingatan masa kecilnya dulu.

-=o0o=-

"Necro! Balikin!", seorang gadis berumur 9 tahun tengah berkejar-kejaran dengan seorang bocah yang terlihat seusianya disebuah halaman hijau di depan sebuah rumah kayu di kota Payon, mencoba merebut sebuah bola karet ditangan bocah itu.

"Tidak mau... week!", ledek si bocah sambil menjulurkan lidah padanya, "Kalau mau, coba rebut sendiri", lanjutnya kembali berlari.

"Ayah! Necro nakal!", gadis kecil itu menangis. Menyerah dan mengadu pada ayah mereka yang waktu itu tengah memperhatikan mereka.

"Sudah, ini...", tiba-tiba bocah itu kembali memberikan bola yang ia ambil, "Mukamu lucu kalau menangis", ujarnya sambil tertawa.

"Uh! Necro jahat! Jahat! Jaaahaaa~~~aaat! ! !", gadis itu lalu memukulinya dengan kedua tangannya. Sang Ayah hanya bisa tertawa melihat tingkah keduanya.

-=o0o=-

Ia kembali tersenyum mengingat semua itu. Tapi waktu terus mengalir dan sekarang mereka telah remaja. Ia hampir tidak pernah mengalaminya lagi sejak saat itu karena sebulan setelah kejadian, ia harus berlatih menjadi seorang Taekwon Girl. Ia dan Necro dilatih secara privat oleh guru yang berbeda selama hampir 6 tahun.

Menit-menit kembali bisu dan tanpa terasa, malam telah merangkak semakin larut, mengundang hawa dingin yang semakin terasa menusuk kulit, membuat tubuh Ayumi menggigil hingga rambut-rambut halus dilengan dan kakinya berdiri. Ia pun semakin erat memeluk kedua kakinya yang terbuka hampir setengah paha sampai betis. Pakaian khas Soul Linker itu mulai terasa sedikit mengganggu, membuatnya sejenak berpikir mengapa seragam ini memiliki bagian bawah yang minim? tapi ia masih bersyukur, setidaknya pakaian itu masih lebih baik daripada pakaian para gadis Mage atau Dancer.

Tak lama kemudian angin kencang berhembus. Ayumi pun kembali menggigil, namun kali ini ia mulai merasa ada yang salah. Wajahnya memucat dan suhu badannya perlahan naik diikuti pandangan yang mulai mengabur.

"Ayumi, kamu tidak apa-apa?", Tanya Necro pada gadis itu ketika ia merasakan kejanggalan. Ia lalu kembali bangkit dan meraba kening yang tertutup poni itu dengan punggung tangannya, "Astaga, kau demam?", matanya terbelalak begitu mengetahui suhu badan Soul Linker itu tinggi, segera ia melepas baju seragam Star Gladiator miliknya dan menggunakan baju yang lumayan tebal itu untuk menghangatkannya.

Ia baru menyadari bahwa sejak tadi ia belum menyalakan api unggun untuk menghangatkan mereka dari dingin yang terasa sejak terbenamnya matahari sore tadi, ia terlalu lelah setelah hampir seharian berlari dari bahaya. "Ayumi, tetap disini... aku akan mencari ranting kering atau apapun yang bisa kita bakar untuk mengusir dingin", ucapnya sembari melompat turun. Tubuhnya mungkin terasa sangat lelah, tapi demi Ayumi, mau tidak mau ia harus melakukannya.

Ayumi tidak bisa mendengar apa yang Necro katakan karena telinganya sekarang berdenging. "N-Ne... Necro...", ia bergumam menyebut nama Star Gladiator itu, "Jangan… per... gi…", ucapnya dengan nafas tak beraturan menyadari Necro tak ada lagi disampingnya. Kepalanya terasa bertambah sakit, tubuhnya semakin lemas dan seiring suhu badan yang terus meninggi, iapun akhirnya terbaring tak sadarkan diri.

-=xXx=-

"Sial! Bertahanlah Ayumi...", Necro terus berlari menyusuri celah lembah yang gersang, berharap menemukan pohon mati yang bisa ia gunakan sebagai api unggun. Menit demi menit mulai berlalu, dan selama itu tak satupun pohon kering dijumpainya, ia terus berlari diantara celah-celah, melompat dari dinding tebing yang satu ketebing yang lain, namun tetap tak menemukan apapun kecuali bahaya yang terdapat diantaranya.

Tebing yang tampak begitu aman itu adalah habitat Drosera dan Muscipular, sejenis tanaman pemakan daging, masih berkerabat dengan Mandragora yang hidup didataran Rune-Midgard. Mereka tumbuh subur dengan ukuran dua kali lebih besar dari yang pernah Necro jumpai, mungkin karena celah-celah batuan ini melindungi mereka dengan baik dari terik matahari atau lebih tepatnya memberi mereka porsi yang cukup sehingga mereka tidak kehilangan banyak air didalam tubuh mereka dan bisa menggunakannya untuk tumbuh lebih besar

"Tempat ini dipenuhi dengan mereka", gumamnya setiap menemui beberapa titik yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman itu dan ketika ia teringat kembali tentang demam yang diidap Ayumi, sesuatu melintas dipikirannya. Seorang petualang pernah mengatakan bahwa air yang terkandung ditubuh kedua tanaman ini berkhasiat sebagai obat termasuk demam.

"Bodoh, mengapa aku baru mengingatnya sekarang", ia pun segera berbalik mencoba menyusuri rute yang ia lewati sebelumnya untuk mencari kedua tanaman itu, sekaligus kembali kepada Ayumi. Baginya, tak lama untuk mendapatkan kedua tanaman tersebut karena mereka hampir bisa ditemui di beberapa belokan, namun ia tidak bisa dengan asal mengambilnya, jumlah mereka yang selalu bergerombol ditambah ukuran tubuh yang lebih besar membuatnya harus lebih berhati-hati atau ia akan menjadi makan malam mereka. Necro terdiam, memikirkan cara untuk bisa mendapatkan salah satu dari mereka

Sebuah ide gila pun muncul dikepalanya. Tanpa pikir panjang, Star Gladiator yang tengah berlari itu menaikkan kecepatan, memutar arah dan bersiap menyambut belokan dimana tanaman-tanaman itu berada. 'Dengan kecepatan setinggi ini, mungkin aku bisa mencabut salah satu dari mereka', pikirnya.

Usahanya membuahkan hasil lebih dari yang ia kira. Begitu ia menghantamkan diri pada serumpunan tanaman itu, bukan hanya satu, tapi semua tanaman terlempar sepanjang jalur larinya. Tanaman-tanaman itupun mati begitu akar-akar serabut tercabut dari tanah bersama tubuh mereka yang dihempas oleh Necro dengan kecepatan tinggi, seketika membuat mereka menjadi potongan-potongan.

"Ayumi, tunggu aku kembali", gumamnya sambil memungut sebuah kelopak Drosera dan batang tubuh Muscipular yang berserakan. Setelah merasa cukup, ia pun kembali melompat keatas tebing dan kembali ketempat Ayumi menggunakan bintang sebagai penunjuk arah mata angin untuk menemukan letak gadis itu berada.

-=xXx=-

Setelah beberapa waktu melompat diantara batuan, Necro pun berhasil menemukan Ayumi, dan cukup untuk membuatnya terkejut ketika melihat Soul Linker itu kini terbaring ditempatnya. "Ayumi!", jantungnya berdegup kencang seiring jarak mereka bertambah dekat. Sesampainya disana ia segera meraih tubuh gadis itu. Perlahan dingin terasa merayap dikulit begitu tangannya membaringkan tubuh Sang Soul linker dikakinya. "Bertahanlah...", ujarnya setengah berbisik dengan penuh rasa cemas dan khawatir. Ia lalu mengambil batang Muscipular yang ia peroleh dan memerasnya, menjatuhkan setiap tetes air didalamnya kemulut Ayumi yang sedikit terbuka.

Dengan penuh kesabaran, Necro menunggu reaksi air itu pada tubuh Ayumi. Tidak lama berselang, keringat merembes membasahi tubuh gadis itu diikuti demam yang perlahan turun. Sejenak kemudian, matanya perlahan terbuka, tapi penglihatannya memburam. Dan setelah beberapa saat, akhirnya pandangannya kembali seutuhnya.

"N-Necro...", ucapnya lirih dengan senyum tipis ketika melihat si Star Gladiator masih berada didekatnya, "Aku takut... jangan tinggalkan aku lagi", ia mulai terisak. Sambil melingkarkan kedua tangannya diperut Necro, air matanya mulai membasahi sebuah T-shirt berwarna hitam, satu-satunya yang masih dikenakan Star Gladiator itu.

Necro merasa tenang bercampur sedikit bersalah. Senang karena Ayumi kembali pulih dari keadaan yang sangat kritis dan sedikit bersalah karena dirinya sendiri yang menyebabkan Ayumi sampai seperti itu. "Istirahatlah", ia berujar sambil melepas pelukan gadis itu lalu meletakkan kepalanya pada kelopak Drosera yang ia bawa. "Aku akan mencari kayu bakar", lanjutnya kembali bangkit, hendak meninggalkan Ayumi untuk kesekian kali.

Gadis itu memandanginya, kali ini dengan memasang wajah seperti anak kucing yang kehilangan induknya. Necro tahu yang ia maksud, lalu menghela nafas panjang, "Ayolah... kau sudah 17 tahun, apa aku harus selalu menemanimu", ucapnya sambil geleng-geleng kepala. Beberapa saat yang lalu ia kerepotan dibuatnya karena hampir mati dan sekarang ia sudah bertingkah lagi dengan penyakit manja yang telah lama tidak terlihat.

"Jangan pergi...", ia bergumam lemah, namun masih bisa terdengar dengan jelas oleh Necro. Ah, apa yang ia pikirkan? Mengapa penyakit manjanya harus datang disaat seperti ini? Jika tidak menggunakan kayu bakar,lalu dengan apa kita harus menghangatkan diri? Necro tidak habis pikir dengan tingkahnya.

Sementara merengek, Ayumi mulai merasakan sensasi aneh menjalar didalam tubuh tak lama setelah mencium bau harum dari kelopak yang menyangga kepalanya, "Huck~huck...", ia merasa sedikit menjadi hangat disertai cegukan keluar dari mulutnya. Apa ini? ia tak mengerti, jantung mulai berdebar-debar, kepala sedikit pusing dan mulai merasa lain ketika matanya belum beralih dari Necro. "Huch~huch...", ia kembali cegukan, sesuatu dari dalam dirinya tengah mendorong instingnya, ia tak tahu apa itu, yang ia ketahui hanya rasa tertarik pada Necro tiba-tiba muncul dan menguat. Tanpa sadar, ia mendesah dan mengucapkan sesuatu, "Necro... peluk aku..."

"Huh?", Necro merasa Ayumi mengatakan sesuatu padanya, "Apa kau bilang?", ia menundukkan pandangannya pada gadis itu.

"Huck~huck… peluk aku... buat aku senang", ia cegukan lagi diiringi kalimat yang tanpa sadar ia ucapkan.

"Apa maksudmu?", pertanyaan yang lain kembali muncul dikepalanya. Apa lagi yang salah dengannya?

"Huck~huck... Necro...", gadis itu masih terbaring dengan wajah merah jambu menyeringai, "Sebagai laki-laki... kau tahu maksudku, kan?", Necro mencoba merangkai kalimatnya dengan mimik wajah gadis itu saat ini. Dan hasilnya cukup untuk membuatnya hampir meloncat kaget. Ia pun semakin heran, apa yang merasuki pikirannya?

"Kau pasti ngelantur!", Ayumi tidak menghiraukan Necro, ia tersenyum tipis dengan wajah yang memerah dan tatapan mata yang agak sayu serta sesekali cegukan, seperti orang mabuk. Hei, tunggu, mabuk? Pandangan Necro beralih pada batang Muscipular di tangannya, "Aku pasti melupakan efek samping tanaman ini...", ia berkata pada dirinya sendiri namun kemudian menggelengkan kepala, "Tidak... air dari tanaman ini aman, sudah banyak petualang yang mencoba"

"Huck~huck...", kembali Star Gladiator itu mendengar cegukan dan ia melihat gadis itu bersandar dikakinya, memeluk erat. Necro pun segera mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga.

"Hei! Hei! Lepaskan!", ia sedikit meronta. Padahal gadis itu bertubuh kecil tapi pelukannya lebih erat dari yang dikiranya, ia benar-benar kesusahan hanya untuk menarik kaki dari gadis itu.

"Jika itu maumu", tiba-tiba Ayumi melepaskan kakinya, membuat Necro terjungkal hingga punggungnya membentur permukaan tebing batu.

"Aw...", wajahnya menyeringai menahan sakit dipunggung dan ketika ia mencoba kembali bangkit, tiba-tiba Ayumi menindihkannya, membuat sakit punggung yang ia terima menjadi semakin parah.

"khu khu khu", gadis itu terkekeh sambil menatap wajah si star gladiator, "Necro...", ia mendesah sambil menyisir rambut Necro dengan jari-jarinya. Star gladiator itu menatap balik kearahnya dengan sebelah alis berdenyut-denyut. Tidak seharusnya semua menjadi seperti ini, pikirnya sambil menahan sakit.

"H-Hentikan! kau... kau mabuk!", ucapnya terbata-bata karena panik dan sedikit membentak, pada Ayumi yang sekarang duduk diatas pinggulnya, menjepitnya dengan kedua kaki dan mulai memainkan ujung-ujung jari di dada Necro. Necro tidak percaya apa yang ia lakukan padanya. Namun sesuatu mulai menarik perhatiannya ketika memperhatikan wajah gadis itu lekat-lekat, "Huh? Apa ini...", ia mengangkat sedikit tubuhnya sehingga bisa mencolek pipi Ayumi dengan tangan kiri, sesuatu berwarna kuning menempel disana, "Serbuk sari?", sepertinya itulah yang membuatnya menjadi mabuk tapi lebih dari sekedar mabuk, pikirnya. Pandangan Necro lalu teralih pada kelopak drosera yang sebelumnya dipakai sebagai bantal oleh Ayumi, berada tak jauh dari mereka.

Baru sejenak saja Star Gladiator itu mengalihkan pandangannya pada sumber masalah, Ayumi yang dalam pengaruh zat aprodisiak dari kelopak Drosera melanjutkan aksinya, gadis itu tiba-tiba meraih pergelangan tangan kiri Necro dan meletakkannya didadanya. Merasa tangannya menyentuh sesuatu yang empuk, perlahan Necro kembali menoleh kearah Ayumi, seketika membuat ia berteriak panik setengah mati, "Hwaaa~~~aaa! Apa yang kau lakukan!"

"Kau suka kan?", Ayumi menatap tajam Star Gladiator itu, wajahnya terlihat menikmati apa yang baru saja ia lakukan pada dirinya sendiri. Keringat dingin tampak diwajah Necro.

"Ini tidak bisa dibiarkan!", tanpa ragu, Necro pun menamparnya dengan keras menggunakan tangan yang lain. "Ayumi! Sadarlah!", tamparannya terdengar begitu keras, sebuah bekas tangan sampai tertinggal dipipi Ayumi.

"Kyaaa~~~aaa!", gadis itu menjerit. Lalu perlahan menoleh kearah Necro, "A-Apa yang aku lakukan...", ia kembali sadar, tapi kepalanya masih terasa sedikit pusing.

"Akhirnya...", Necro menghela nafas begitu tindakannya berhasil menyadarkan Ayumi. Kini gadis itu kembali menatap Necro dan terlihat sedikit kikuk memperhatikan dirinya sendiri.

"Huh?", wajahnya yang merah jambu semakin memerah mengetahui ia tengah menduduki Necro dengan posisi yang aneh, dan bertambah merah lagi merasakan sesuatu menyentuh dadanya. Begitu ia sadari tangan Necro lah yang ada disana, Kali ini wajahnya telah berubah menjadi merah padam, ia pun menjerit histeris diikuti kalimat penuh amarah yang menggelegar, "Kyaaa~aaa! Apa yang kau lakukaaan! ! !"

"Ow... sial...", gumam Necro mengetahui ia belum menarik tangannya dari dada Ayumi. Tanpa sempat menjelaskan apa yang terjadi, pukulan bertubi-tubi terlebih dulu mendarat diwajahnya, lebih keras dari yang dilakukan gadis itu beberapa waktu lalu. Ayumi kini menatapnya dengan mimik wajah paling mengerikan yang seharusnya ia berikan kepada pacarnya jika ia mendapatinya tengah bersama wanita lain, tapi sangat beruntung sekali Necro adalah orang pertama yang mendapatkannya.

"A..."

"Buagh! Buagh! Buagh!"

"Yu..."

"Buagh! Buagh! Buagh!"

"Mi..."

"Buagh! Buagh! Buagh!"

Necro bahkan sangat susah payah hanya untuk memanggil namanya. Ia benar-benar tengah menghadapi amukan dari seorang wanita, yang konon lebih mengerikan dari Satan Morroc, Ifrit atau monster apapun dimuka bumi dan sekarang ia sedang merasakan itu tepat diwajahnya sendiri. Ia pasti akan selalu mengenang hari ini, hari paling sial dalam hidupnya, dimana ia yang selalu menanggung rasa sakit dari sore hingga petang, atau mungkin, sampai pagi menjelang.

Setelah puas mempermak wajah, Ayumi pun beralih darinya, dan berdiri dengan tampang belepotan darah seperti seorang pembunuh. Memperhatikan setiap detail diwajah Necro dengan senyum tipis. Kedua matanya lebam menghitam, mulut dan hidungnya penuh darah serta beberapa bengkak dibagian yang lain. Namun berita baiknya, dia tidak kehilangan hidung atau gigi, karena jika demikian, hal itu akan membuat masa depannya menjadi lebih sulit dan keras. "Sekali lagi kau mencoba melakukannya, aku akan membuatmu kehilangan wajahmu, bahkan lebih buruk lagi, teman kecilmu ini !", ucap Ayumi sambil menginjak selangkangannya lalu meninggalkan Star Gladiator itu berguling-guling kesana-kemari seperti Hode yang terpanggang sinar matahari dibatako jalanan prontera.

Gadis itu lalu kembali ketempat Necro membaringkannya, meletakkan kepalanya dikelopak Drosera, tapi untunglah, kali ini ia membaliknya karena merasa tidak nyaman melihat permukaan bunga itu. Tak lama kemudaian, Ia pun tertidur membelakangi Star Gladiator itu dengan punggungnya.

.

.

.


Hope you enjoy it, n_na


 Ch 1 of 4 Next »

Review

Share: Email . Facebook . Twitter

Story: Follow Favorite
Author: Follow Favorite

Contrast: Dark . Light
Font: Small . Medium . Large . XL

Regular Site . Blog . Twitter . Help . Sign Up  Top