FanFiction | Just In Community Forum | More
V
More
A Thousand Years by minamishiho

Anime » Maid Sama! Rated: T, Indonesian, Romance, Misaki A. & T. Usui, Words: 11k+, Favs: 8, Follows: 5, Published: 3-30-12 Updated: 9-16-12
19 Chapter 3: One Step to the Future

A Thousand Years

.

.

.

Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this

One step closer...

.

.

.

Disclaimer: Maid-sama! bukanlah punya saya melainkan punya Hiro Fujiwara-sensei

A Thousand Years adalah lagu Christina Perry sekaligus OST Breaking Dawn part 1. One of the best OST ever.

.

.

.


Pengantin wanita itu berjalan perlahan namun pasti menuju altar. Cadar transparan yang menutupi wajahnya berayun pelan ditiup angin semilir. Angin membawa aroma beraneka ragam bunga musim panas, yang saat ini menyelimuti tempat itu dengan keharuman yang memabukkan.

Usui Takumi tak bisa berhenti tersenyum sembari tak lepas-lepas memandang wanita yang sedang berjalan tepat ke arahnya. Daun-daun hijau pepohonan bergemerisik, kelopak bunga berjatuhan dari kanopi yang menaungi tempat upacara, dan para tamu undangan berdengung pelan mengomentari dewi serba putih pujaannya dengan nada kagum.

"Misa-chan cantik sekali ~" bisik Satsuki dengan mata berbinar-binar. Bunga-bunga moe beterbangan di sekitarnya. Subaru dan Erika yang masing-masing duduk di sampingnya buru-buru menopang manajer kafe yang limbung karena bahagia itu.

"Kuatkan dirimu, manajer," bisik Subaru sambil melihat sekeliling, takut ada yang melihat betapa absurnya tingkah wanita setengah baya yang tampak selalu awet muda itu tapi perhatian semua tamu tertuju kepada pengantin wanita yang sedang menyusuri virgin road bertabur bunga-bunga. Gadis berkaca mata itu menghela napas lega.

"Tapi Misa-chan memang cantik sekali ya..." gumam Erika yang memandang kagum junior di tempat kerjanya. Honoka yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju. Bahkan dirinya yang biasa bersikap sarkatis terhadap Misaki tidak bisa menemukan kritikan untuk gadis yang dia anggap kekanakan itu saat ini.

Tapi semua hal itu tak bisa Usui dengar, lihat, dan rasakan sepenuhnya. Satu-satunya yang ada dalam jarak seluruh inderanya hanya satu orang.

Ayuzawa Misaki.

Waktu seolah berhenti berdenyut seiring langkah demi langkah yang diambil Misaki menuju jangkauannya. Rasa tidak sabar yang familier itu muncul lagi, berkali-kali lipat lebih kuat dari sebelumnya. Perasaan yang membuat seluruh syaraf di tubuhnya menjerit untuk berlari, menarik tangan wanita itu, memeluknya, dan tidak melepasnya lagi seumur hidup. Dan lagi-lagi dia harus mengingatkan dirinya sendiri bahwa hal itu bukan hal yang baik dilakukan saat ini, seberapapun dia ingin melakukannya. Usui memutuskan untuk memandangi Misaki lebih lekat lagi untuk menenangkan diri dari dorongan konyol itu. Lumayan berhasil.

Setelah dua menit yang terasa seperti 100 tahun, akhirnya Misaki tiba di hadapannya. Usui mengulurkan tangan pada wanita itu dan menggenggamnya erat-erat saat mereka berdua berbalik menghadap pastur yang berdiri di belakang mimbar kayu sederhana di hadapan mereka. Pria setengah baya berjubah hitam itu tersenyum melihat sepasang calon pengantin yang saling menatap di depannya. Dia berdeham beberapa kali sebelum berhasil membuat dua orang itu kembali menoleh kepadanya. Dari balik cadar, terlihat semburat terang menyebar di pipi sang calon pengantin wanita sementara pasangannya, seolah bisa melihat tanpa menoleh sama sekali, tersenyum lebar dan bersandar sedikit pada wanita itu, berbisik, "Rona merahmu cantik sekali."

Sang pastur nyaris tertawa saat melihat calon pengantin wanita menyikut pelan calon suaminya.

Setelah berhasil menguasai diri, sang pastur berdeham sekali lagi, kali ini untuk memperjelas suaranya, sebelum berkata lantang kepada para undangan yang memenuhi tempat itu. "Di hari yang cerah ini, kita semua berkumpul untuk menyaksikan menyatunya sepasang insan yang dipersatukan oleh takdir di hadapan kita semua dalam sebuah upacara pernikahan."

Semua orang diam untuk mendengarkan kata-kata pastur selanjutnya. "Apakah kau, Usui Takumi," dia berkata pada Usui yang mempererat genggamannya pada tangan Misaki, "bersedia menerima Ayuzawa Misaki sebagai istrimu di saat susah dan senang, berjanji akan mencintai dan menjaganya seumur hidup?"

Kali ini tanpa sadar semua orang menahan nafas menunggu jawaban Usui. "Aku bersedia," jawabnya sungguh-sungguh sebelum melirik Misaki dengan ujung matanya, tersenyum melihat mata yang berkaca-kaca dari balik tirai transparan yang menghalangi tatapannya secara langsung itu. Tapi itu tidak lama lagi, batinnya puas sambil kembali memusatkan perhatian kepada pastur yang menatapnya penuh tanya.

Untuk yang kesekian kalinya hari ini, pastur itu berdeham dan kini menatap Misaki. "Dan apakah kau, Ayuzawa Misaki, bersedia menerima Usui Takumi sebagai suamimu di saat susah dan senang, berjanji akan mencintai dan menjaganya seumur hidup?"

Setetes air mata jatuh ke pipi Misaki saat dia berkata pelan namun jelas, kata-kata yang mengikatnya selamaya kepada pria di sebelahnya,

"Aku bersedia."

Usui tersenyum lebar mendengar kata-kata yang sudah dia nantikan sejak dulu. Sejak dia menyadari bahwa hanya gadis yang entah sejak kepan tepatnya mengisi hatinya inilah satu-satunya yang dia izinkan berada di sisinya untuk selamanya.

Sepasang sejoli itu berbalik bersamaan dan saling berhadapan. Si pria, dengan senyum lebar bahagianya sementara sang wanita, dengan wajah bersemu merah muda, saling menatap penuh cinta. Usui menyelipkan cincin putih bertahtakan berlian di jari manis kanan Misaki tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun dari wajah bertirai cadar tipis di hadapannya. Kemudian giliran Misaki tiba. Meskipun amat malu, dia mengikuti jejak Usui, tidak berpaling saat dengan tangan gemetar dia menyelipkan cincin yang hampir sama namun lebih sederhana di jari pria yang terhubung jiwa dan raga dengannya saat ini.

"Silahkan mencium pasangan anda."

Suasana jadi semakin sepi – kalau itu mungkin – saat pendeta mengatakan instruksi barusan. Usui tersenyum lembut untuk menenangkan pengantin wanitanya yang kelihatan nyaris pingsan. Misaki menelan ludah dan berkali-kali berusaha menenangkan dirinya sendiri dalam hati. Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya. Aku harus melakukannya, batinnya sambil menatap mata Usui lekat-lekat.

Dengan gerakan lambat, Usui mengulurkan tangan untuk menyibak cadar tipis yang sedari tadi menghalanginya melihat wajah wanita yang paling dicintainya itu secara langsung. Dan walaupun cadar itu nyaris tidak menyembunyikan apapun dari pandangannya, Usui terkesiap saat akhirnya melihat wajah Misaki tanpa penghalang apapun.

Wajahnya yang biasanya sudah sangat cantik (menurutnya Usui, Misaki selalu tampak cantik di matanya) disapu make up yang sangat tipis sehingga tidak menutupi pesona alami yang sudah dimiliki wanita itu. Pipinya yang memerah tanpa pemulas namun karena rasa malu dan gugup membuatnya berkali-kali terlihat lebih cantik. Bibirnya hanya dipulas dengan lip gloss transparan, menonjolkan warna alami bibirnya yang sewarna persik. Tanpa sadar wajah Usui memerah memandang wanita yang kini berdiri di hadapannya.

Dia cantik sekali, batinnya penuh rasa takzim.

Selama sedetik dia bertanya dalam hati, kebaikan besar macam apa yang telah dilakukannya sehingga bisa memiliki wanita luar biasa cantik luar dalam seperti Misaki? Yang kuat namun lembut, keras hati namun penuh perasaan, galak namun penuh perhatian...

Tapi dengan segera dia melenyapkan keraguan itu dari pikirannya. Meragukan dirinya sendiri sama dengan meragukan Misaki yang telah memilihnya dan Usui telah bersumpah kepada dirinya sendiri bahwa dia tak akan pernah meragukan wanita itu. Lagipula sejak dia menyadari perasaannya pada Misaki, dia sudah bertekad untuk jadi orang yang berani. Berani mencintai seorang Ayuzawa Misaki.

Ah, tidak, batinnya sambil tersenyum puas dan bangga, tapi Usui Misaki sekarang.

Seiring waktu dia sadar berani mencintai Misaki memiliki banyak arti. Berani berjuang agar wanita itu tetap di sisinya adalah salah satunya. Selain itu berani mempercayai perasaan wanita itu dan perasaannya sendiri dan juga berani untuk menghadapi halangan apapun yang terbentang di depan jalan mereka berdua.

Usui kembali memusatkan perhatian sepenuhnya terhadap wanita yang ada di hadapannya. Misaki balas menatapnya dengan wajah memerah karena malu namun sorot mata yang berani. Senyum lebar kembali tersungging di wajah pria yang merasa dirinya orang paling bahagia di dunia itu. Dasar, maid samurainya memang tak pernah berubah. Selalu berusaha sekuat tenaga seperti sekarang, menahan kegugupan yang terpancar dari setiap sudut tubuhnya dan menatap setajam itu...

Dengan satu gerakan mulus namun hati-hati, Usui merengkuh wajah Misaki dengan kedua tangannya dan merunduk, membuat wanita itu otomatis mengangkat tangannya; yang satu memegang pipi Usui dan satu lagi memegang rambutnya. Selama beberapa saat mereka berdua hanya saling bertatapan sebelum menempelkan bibir satu sama lain.

Ciuman itu bukan jenis ciuman yang hot tapi entah kenapa membuat semua yang hadir merona melihatnya. Mereka merasa seolah sedang melihat saat yang sangat manis dan sangat pribadi, yang membuat mereka memiliki dorongan aneh untuk memalingkan wajah karena malu. Beberapa saat kemudian ciuman – manis – namun – membuat – semuanya – malu – itu akhirnya berakhir. Si pengantin pria tersenyum lembut menatap wajah dalam genggamannya, wajahnya sedikit merona sementara si pengantin wanita balas tersenyum malu-malu kepada pria yang sekarang adalah suaminya itu dengan pipi yang warnanya jauh lebih terang dari pasangannya.

Usui menatap rona merah bahagia yang semakin mempercantik bidadari di hadapannya dan tersadar bahwa kini bukan hanya dirinya namun semua orang di sini menyadari betapa cantiknya wanita itu. Dengan sudut mata dia melirik ke barisan depan tamu tempat keluarga dan teman dekat mereka duduk. Usui tidak kaget melihat Hinata dan trio payah memandangi Misaki dengan tatapan penuh cinta meskipun jelas dia tidak menyukai tatapan mereka. Yang membuatnya terganggu adalah saat melihat tatapan sama dari Kanou, Yukimura, Aoi, beberapa mantan siswa Seika yang jadi wakil para siswa lain, dan – dia mendapati dirinya menahan erangan frustasi melihatnya – Igarashi Tora (yang diundang sebagai perwakilan keluarga Usui yang tidak bisa – lebih tepatnya tidak mau – datang ke upacara itu). Wajah pria bermuka dua yang kalau tidak pura-pura ramah biasanya datar atau meremehkan itu kelihatan... terpukau. Ya, tidak ada kata lain yang bisa menggambarkan ekspresi wajah sang mantan ketua OSIS SMA Miyabigaoka saat melihat Misaki-nya saat ini. Dengan perasaan protektif, tanpa sadar Usui merengkuh wajah Misaki sedikit lebih kuat.

Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut wanita yang ada di hadapanku ini, Usui Takumi bersumpah sepenuh hati sambil kembali menatap Misaki. Sorot matanya penuh tekad.

"Sekarang kalian berdua resmi menjadi suami istri."

Kata-kata pendeta membuat Usui kembali terseret ke dunia nyata. Matanya yang tak putus-putus menatap Misaki kini memancarkan sorot tak percaya. Sungguh? Benarkah apa yang sedang terjadi sekarang ini? Batin Usui. Dia sadar sedari tadi kalau dirinya dan Misaki sudah menjadi satu tapi kata-kata pemberkatan barusan membuat segala sesuatu jadi berkali-kali lipat lebih nyata.

Misaki tertawa kecil melihat ekspresi tercengangnya dan Usui ikut tertawa bersamanya. Benar, ini nyata. Ini sungguh-sungguh terjadi! Tiba-tiba saja semuanya terlihat jauh lebih cerah. Pemandangan, orang-orang, dan tentu saja orang dalam genggaman tangannya saat ini. Setelah tersenyum jahil dan mengedip nakal kepada Misaki, Usui menggendong wanita yang secara otomatis menjerit dan meronta itu dalam gendongan ala putri dan membawanya menyusuri virgin road penuh bunga diiringi hujan bunga dari atap kanopi dan para tamu undangan. Mereka bersorak, ada yang gembira dan ada yang menggoda, kepada kedua pengantin baru yang memulai pertunjukan turunkan aku – tidak mau – yang sangat heboh.

Saat sedang menyusuri jalan yang pendek namun terasa panjang itu, semua kenangan yang terjadi di antara mereka berdua seolah diputar ulang dalam kepala masing-masing.

Saat mereka pertama kali bertemu di koridor sekolah.

Saat Usui memergoki Misaki yang bekerja di Maid Latte.

Saat ciuman pertama mereka.

Saat Usui berkali-kali menolong Misaki, dalam situasi apapun.

Saat Misaki pertama kali berkunjung ke apartemen Usui.

Saat mereka pergi ke festival Yumesaki.

Saat mereka berciuman untuk kedua kalinya di dalam ruang kelas kosong, dengan latar kembang api penuh warna.

Semua saat membahagiakan dan menyedihkan bercampur jadi satu membentuk kenangan yang berputar-putar dalam pusaran bermacam warna yang kaya, sekaya warna-warni bunga yang mengelilingi mereka. Setiap hal yang terjadi, setiap perasaan yang terukir, menuntun mereka menuju saat ini. Hari yang membahagiakan ini.

Usui, dengan Misaki dalam dekapannya, melangkah menuju cahaya matahari di ujung lorong redup berbayangkan kanopi itu.

Satu langkah lagi...

Setiap langkah membawa mereka lebih dekat lagi dengan masa depan indah yang membentang di depan mata.


Author's note: Akhirnya chapter tiga kelar juga.

Makasiiih sekali buat yang telah mereview di chapter satu dan dua! Maaf kalo chapter tiga ini agak telat karena satu dan lain hal. Dan maaf kalo kali ini jauh lebih pendek dari dua sebelumya, soalnya kalo kepanjangan, kesenduan saat pernikahannya bakal ilang. *membela diri*

Nah, setelah adegan pemahaman perasaan dan pernikahan selesai, ada yang punya usul buat chapter terakhir abis ini?

Last words, please RnR!


« First « Prev Ch 3 of 4 Next »

Review

Share: Email . Facebook . Twitter

Story: Follow Favorite
Author: Follow Favorite

Contrast: Dark . Light
Font: Small . Medium . Large . XL

Regular Site . Blog . Twitter . Help . Sign Up  Top