"Aku tidak akan membatalkan pertunanganku!"
'Secinta itukah kau pada tunanganmu, Sasuke?'
Summer Vacation
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Pairing : SasuNaru
Warning : AU, Abal, Gaje, Alur luar biasa kecepatan tinggi, OOC, Typo, dll.
Beberapa hari pun terlewati sudah. Dan Naruto... ia hanya mengurung dirinya sendiri dikamar hotelnya. Dia tidak pernah keluar dari dalam kamar itu. Makanan pun dipesan ke dalam kamarnya.
Naruto benar-benar terpukul atas jawaban Sasuke. Dia tidak ingin membatalkan pertunangannya meskipun Naruto yang meminta. Lalu kenapa? Lantas, bila Naruto yang meminta pasti akan dikabulkan Sasuke? Memangnya Naruto itu begitu berharga? Apa Sasuke akan menganggap Naruto berharga setelah ditinggalkan begitu saja hingga lima tahun dan tiba-tiba saja muncul untuk membatalkan pertunangannya dengan tunangannya itu?
Gaara dan Kiba pun sangatlah khawatir dengan sahabat mereka ini. Mereka sudah berusaha untuk menghibur Naruto. Tapi tetap saja tidak berhasil. Dan hal serupa terus berlanjut hari demi hari.
Karena kesal dengan sikap Naruto yang seperti ini. Gaara pun akhirnya memutuskan untuk tegas dengan Naruto.
Tok Tok Tok
"Naruto, buka pintunya!" perintah Gaara.
Dan hanya keheningan menyambut Gaara.
"Gaara, mungkin ia sedang ti-"
"Kubilang, buka pintunya!" perintah Gaara meninggikan suaranya memutus perkataan Kiba.
Dan lagi-lagi, hanya sunyi yang disambut.
"Buka pintunya atau akan kurusak pintu ini!" teriak Gaara kesal.
Dan... tetap sunyi. Mendapati hal ini terus menerus membuat Gaara mengeluarkan aura hitam pekat disekelilingnya dan Kiba mundur seribu langkah bersembunyi dibalik pot kembang. Tapi tiba-tiba saja pintu terbuka dan membuat aura Gaara hilang seketika. Kemudian...
BUUKKK... ... ... BRRAAKKK...
Melihat hal itu Kiba mulai semakin memutuskan tekad untuk pulang saja. Gaara saat ini dengan kemarahan tingkat tinggi. Bagaimana tidak? Baru saja senang karena dibuka 'kan pintu, eh... malah tiba-tiba muncul bantal yang langsung hinggap diwajah Gaara dan pintu yang kembali tertutup. Alhasil, lorong hotel sekarang ini penuh akan aura Gaara.
"SUDAH CUKUP! KELUAR KAU, NARUTO!" teriak Gaara yang menerobos masuk dan pintu yang sekarang tak berbentuk lagi itu.
Ketika masuk, kamar ini sangat gelap. Akhirnya Kiba pun menyalakan lampu setelah mengumpulkan keberanian untuk ikut bersama Gaara yang lagi menyeremkan masuk ke kamar. Ketika semua mulai terlihat jelas. Disana, ditengah-tengah kasur, terdapat sebuah gundukan yang bergerak-gerak. Dengan langkah cepat Gaara membuka gundukan itu dan...
"Kyyaaa..." teriakan seorang perempuan yang sedang tertidur dibawah seorang pria yang saat ini menatap horor Gaara dan Kiba. Kalian pasti tau 'kan apa yang sedang dilakukan dua orang diatas kasur itu?
Melihat hal itu wajah Gaara dan Kiba langsung memerah matang.
"MAAFKAN KAMI!" teriak Gaara dan Kiba bersamaan dan langsung pergi begitu saja meninggalkan pasangan itu yang sekarang masih belum bisa mengerti sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah cukup lelah berlari, Gaara dan Kiba pun memutuskan duduk dilantai lorong hotel itu untuk beristirahat.
"Kenapa mereka ada dikamar Naruto? Mana sedang begituan lagi, ih..." tanya Gaara setelah menormalkan nafasnya.
"Mana aku tahu. Tapi itu benar-benar kamar Naruto 'kan, kamar 101? Sudah kau cek dulu sebelum mengetuk pintu tadi, Gaara?" tanya Kiba.
"Sudah kok, 101 'kan?"
Tiba-tiba saja sebuah pintu yang tepat disamping Gaara terbuka. Mendapati hal itu, Gaara dan Kiba menanggahkan kepalanya untuk melihat siapa yang akan keluar dari kamar itu.
"NARUTO!" teriak mereka bersamaan.
Sang pemilik nama yang baru saja keluar dari kamar segera menundukkan kepalanya untuk melihat orang yang memanggilnya sedang duduk bersandar disamping pintu kamarnya.
"Gaara? Kiba? Sedang apa kalian? Dan kenapa kalian terlihat lelah seperti itu?" tanya Naruto heran mendapati penampilan sahabatnya itu.
"Naruto, sedang apa kau dikamar ini? Bukannya kamarmu itu yang bernomor 101?" tanya Kiba setelah bangkit dari duduknya begitu pula Gaara.
"101 itu memang kamarku. Tapi itu dulu," jawab Naruto.
"Dulu?" tanya Gaara heran dengan jawabannya Naruto.
"Iya, sekarang aku menempati kamar ini. Kamar 110, disini pemandangannya lebih bagus. Tunggu dulu... jangan katakan kalian tadi masuk ke kamar 101?" tanya Naruto.
Gaara dan Kiba pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Ha ha ha ha... kalian pasti melihat mereka sedang 'itu' ya? Mereka itu memang pasangan yang suka sekali begituan. Kalian pasti tidak melihat mereka 'kan?" tanya Naruto dengan tertawa terbahak-bahak.
Kiba dan Gaara pun hanya terdiam. Melihat sahabatnya terdiam, Naruto pun terdiam.
"Jadi kalian melihatnya ya? Yang sabar ya,"ucap Naruto dengan menepuk pundak Gaara dan Kiba.
Kemudian semua pun terdiam.
"Ya sudah kalau begitu, aku keluar dulu y-"
"Tunggu! Kami ke sini untuk bicara denganmu Naruto!" ucap Gaara dengan menarik lengan Naruto yang hendak pergi.
"Bicara apa?"
"Apa kau akan diam saja dengan pertunangannya Sasuke?" tanya Kiba.
"Dia... mencintai tunangannya itu,"
"Hah?"
"Aku sudah bicara dengannnya dan dia tidak akan membatalkan pertunangannya itu," ucap Naruto meninggi.
"Lantas setelahnya kau menyerah! Kau menyerah begitu saja? tidak kusangka ternyata kau itu pecundang Naruto," ucap Kiba kesal.
"Naruto, tidakkah kau ingin mencoba lagi. Aku tanya, apa kau benar-benar mencintai Uchiha Sasuke?" tanya Kiba kembali.
"Tentu saja aku sangat mencintainya. Dulu aku tidak pernah menyerah untuk membuatnya mencintaiku. Aku terus berusaha meski sering sekali aku tersakiti dan hasilnya Sasuke mencintaiku juga. Tapi sekarang ia sudah bertunangan," ucap Naruto yang semakin pelan terdengar.
"Dulu? Kalau begitu kenapa kamu tidak berusaha seperti dulu. Kau tidak pernah menyerah dan terus berusaha. Naruto yang kami tahu sangatlah ceria dan bersungguh-sungguh dengan apa yang diinginkannya. Bukan Naruto yang pengecut dan mudah menyerah seperti ini. Naruto, kau benar-benar mencintai dia 'kan?" tanya Gaara mengulang pertanyaan Kiba.
"Iya. Iya! Aku mencintainya. Sangat mencintainya... terima kasih Kiba, Gaara. Sekarang aku akan berusaha untuk bicara lagi dengan Sasuke mengenai pertunangannya," ucap Naruto dengan tersenyum.
"Baguslah kalau begitu, sekarang ayo kita pergi ke kediaman Uchiha," ucap Kiba.
"Kediaman Uchiha?"
"Kau lupa, pesta pertunangan Sasuke itu sekarang," jawab Gaara.
"APA? Kenapa aku lupa? Aduh bagaimana ini? Pakaianku masih lusuh begini. Ganti baju? Tapi bajuku belum dicuci semua karena aku diam terus dikamar. Beli baju dulu? Tidak ada waktu lagi..." teriak Naruto frustasi.
"Sudah Naruto cepat gunakan pakaian bagusmu, masa kau mau menemui kekasihmu dengan pakaian seperti itu, kita sudah tidak ada waktu lagi," ucap Kiba dengan menatap jam ditangannya.
"Aku tidak ada baju lagi. Memang berapa jam lagi pesta pertunangan Sasuke dimulai?" tanya Naruto panik.
"Satu jam lagi," jawab Kiba.
"Ap-"
"Yang penting sekarang kita berangkat dulu daripada menghabiskan waktu seperti ini?" potong Gaara yang langsung menarik Naruto.
"Ta-tapi pakaianku?"
"Kau akan gunakan pakaianku saja yang ada dimobil," jawab Gaara.
Dan mereka pun akhirnya sudah berada didalam mobil Gaara dan menuju kediaman Uchiha.
"Gaara, apa kau yakin aku menggunakan pakaian ini?" tanya Naruto yang duduk di kursi belakang.
"Kau lebih memilih pakaian lusuhmu itiu atau pakaian itu?" tanya Gaara masih fokus dengan menyetirnya.
"Mana mungkin aku datang dengan pakaian lusuh tak layak itu, tapi pakaian ini..."
"Sudahlah Naruto, kita tidak punya waktu untuk membelikanmu pakaian, jadi gunakan saja pakaian itu," ucap Kiba.
"Baiklah."
Tidak disangka untuk sampai ke kediaman Uchiha membutuhkan waktu lebih dari satu jam. Dan mereka saat ini sudah cukup telat.
"Bagaimana ini, kita telat," ucap Kiba.
Tapi Naruto langsung saja berlari keluar dari mobil. Naruto terus berlari sampai ia mendengar sesuatu.
"Apakah tidak ada yang keberatan dengan pertunangan dua orang kasih ini. Jika ada katakan atau tidak sama sekali,"
Mendengar hal itu Naruto mempercepat larinya.
"Aku keberatan!" teriak Naruto yang langsung menarik seluruh perhatian para tamu.
Sesampainya disana, Naruto baru memperhatikan sekelilingnya. Kedua orang tua Sasuke menatapnya dengan tatapan bingung. Sedangkan Sasuke, ia sedang menggenggam kedua tangan gadis berambut merah yang bernama Karin itu. Sasuke menatap heran ke arah Naruto yang datang begitu saja.
"Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke yang kemudian melepas genggamannya dan Karin berdiri dibelakng Sasuke dengan menggenggam erat lengan Sasuke.
"Kau tidak dengar? Aku keberatan dengan pertunanganmu, Sasuke," jawab Naruto.
"Sudah kukatakan, aku tidak akan membatalkan pertunangan ini!"
"Maka aku pun tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan cintamu lagi, Sasuke,"
"Kau pikir, setelah meninggalkanku pergi aku akan memaafkanmu, begitu? Dan kau yakin aku masih mencintaimu?"
"Iya. Karena rasa cintaku akan membuatmu mencintaiku lagi seperti dulu. Aku... mencintaimu, Sasuke," ucap Naruto yang berlari ke arah Sasuke dan memeluknya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menyerah,"
Dengan begitu, Naruto pun mencium Sasuke didepan semua tamu dan orang tua Sasuke. Dengan penuh harapan, Sasuke akan kembali padanya.
Tbc
Wuuaahh... akhirnya jadi juga... Happy SasuNaru Day XD
Setelah butuh perjuangan panjang karena banyak sekali masalah menimpahku saat ini :'(
Huuh... membuatku pusing #jedotin pala ketembok
Apa ceritanya makin aneh ya? Jelek? Gaje? Ancur? Bagus#plllaakkk
Please, review...
Terima kasih juga bagi yang sudah menyempatkan diri untuk membaca^^

17