Disclaimer : All characters & main story belongs to Joanne Kathleen Rowling.

Genre: Supranatural/Mystery/Romance/Tragedy/Family (Seandainya genre bisa sebanyak itu)

Warning : ALL CHARACTERS ARE OOC, Alternate Universe, typo(s).


.

.

.

Suppermassive Black Hole

Chapter One: Happy And Goodbye

.

.

.


.

.

Kebekuan jiwa menjelma.

Kedinginan nurani selalu menemani.

Jiwa raga yang asing...

.

.


HERMIONE GRANGER GILA.

.

.

.

Tertulis dengan pilok hijau neon di sepanjang loker, di blok awal dekat Pintu Besar.

Sorakan sadis meluncur dari berbagai mulut barisan orang-orang pada sisi kanan dan kiri loker, sekaligus memberikan jalan ultra lebar bagi gadis itu untuk lewat. Caranya menarik napas putus-putus, keringat membanjiri pelipisnya, seolah udara yang gadis malang itu hirup bersenyawa dengan ion negatif—dengusan-dengusan jijik— dan paru-parunya merubahnya menjadi toksin.

HERMIONE GRANGER MEMANG SINTING.

Tulisan itu ikut mendaftarkan diri pada lantai hijau tua lorong sekolah. Ikut mencemooh si Hermione Granger ketika menatap pantulan dirinya yang fakir kebahagiaan itu dari dunia lantai.

Sepasang telinga mungil dalam keramaian itu berusaha meleburkan komentar-komentar brutal di setiap satu baris loker terlewat, menjadi segumpal kotoran telinga. Tangannya yang bergetar memeluk erat dirinya sendiri.

"Sudah membereskan tagihan malammu, Ginger?" Pria berkulit hitam menyeletuk, disambut letusan tawa.

"Bagi hasil berdua dengan ibunya!"

"Menyingkir, HIV bersembunyi di balik sel darahnya!"

"Ibumu hipokrit!"

"Awas ... calon biarawati menapakkan kaki sucinya. Singkirkan kaki-kaki dusta kita."

"Diam, Tori, kau mau bernasib sama dengan Kitty? Sayangi nyawamu ..."

Langkah sepatu-sandal gladiator cokelat tanah itu seakan tidak pernah ragu untuk berhenti berderap, meski acapkali pilihannya melewati Lorong Neraka ini selalu saja salah. Ia berjalan dengan bahu yang selalu lebih rendah daripada lingkar lehernya. Dagunya tidak pernah terangkat walau sejajar orang normal sekalipun, dan permata hazel kelamnya selalu giat menyelami putihnya plamir pada setiap celah lantai hijau tersebut, berupaya menghindari tatapan-tatapan iblis di sekitar yang membekukan sumsum tulang belakangnya.

Hermione Jean Granger, demikian namanya.

Ia semakin menambah intensitas cengkeraman kuat tangannya pada dua tali tas punggung bercorak tujuh macam bunga Surga, ketika berhasil mencapai pintu dengan jalan bercabang tiga di depan. Perjalanan barusan membuatnya mandi keringat. Kepalanya berputar di satu sisi seperti pendulum. Memastikan keadaan sekitar aman untuk dilewati. Membuang napas lega dengan langkah gontai, gadis tingkat dua itu bergerak menuju kelas dalam jadwalnya pagi ini.

Kelas, tidak begitu menjamin ketentraman batiniah Hermione. Tak ada satupun yang sudi duduk dengannya. Kernyitan jijik, gestur tubuh melindungi meja agar tidak ditempati, dan tarikan senyum meremehkan selalu didapat setiap Hermione masuk kelas. Jangan harap ada seseorang berjiwa malaikat yang datang membantu menawarkan satu bangku untuknya. Sendirian, bangku pojok di dekat lemari sapu selalu menjadi pilihan.

Lima belas menit pertama diisi Hermione menulisi tugas folio artikelnya yang masih satu setengah lembar lagi. Kalimat ketiga paragraf lima, kesalahan penulisan huruf yang fatal terjadi. Membongkar isi tempat pensil sampai berceceran memang efektif dan cepat, namun nyatanya penghapus Hermione hilang. Tangannya hendak mencolek punggung si kembar di depannya. Sebelum telunjuknya sampai, bunyi decitan kursi dengan lantai yang diseret maju tiba-tiba, datang menyayat telinga.

Hermione menghela napas panjang. Memafhumi sistem hidupnya yang stabil di jurang hampa berselimut kegelapan. Matanya lelah, ketika menyadari jarak antar mejanya dan meja kembar Patil yang semakin jauh.

"Miss Granger, giliran pertama untuk artikelmu." Guru muda baru pelajaran astronomi itu memanggil dari balik kacamata bulatnya. Menerawang jauh ke barisan paling belakang, yang tampak tersisihkan dari yang lain.

Hermione nyaris terlonjak kaget. Matanya melirik sebentar barisan kalimatnya yang baru memenuhi setengah lembar folio. Tenggorokannya tercekat. "Ak—Ak, S—Saya belum selesai, Miss."

"Tapi ini tugas sebelum Prof. Sinistra selesai di sini, jadi mengapa kau ... ?"

Sebelum bibir merah muda flamboyan itu menjawab, beberapa mulut di baris depan sudah menyuarakan berbagai alasan-alasan gila—bukan tidak logis lagi— mengenai tugas Hermione yang belum selesai. Setetes air hangat muncul dari sudut mata pasrah Hermione, mendengar kalimat demi kalimat yang selalu menyinggung tentang permata hatinya.

"Aku b—bisa maju, sekarang," ucap Hermione kecil, sepelan kumbang-kumbang merah yang terbang mengitari pohon cemara di depan sekolah. Rambut cokelat gelapnya rimbun menyelimuti wajah pucat tanpa asa. Kepalanya pun ikut menunduk menutupi rona hitam permanen yang menggantung di kantung mata.

Seluruh pasang mata mengamati pergerakan jalannya ke depan dari mulai beranjak. Seperti memelototi barang antik, seolah Hermione bisa saja menghilang secepat mata berkedip.

"J—Jadi, selamat pagi, teman," sapa Hermione canggung. Ia yakin di balik pandangannya yang tertutup penuh dengan halaman folio itu, anak-anak sibuk bermain kuku, memandang jenuh, atau sekedar bergosip tentang objek empuk mereka yang sedang tergagap membaca artikelnya sendiri.

"Tolong turunkan pegangan kertasnya, Miss Granger," Miss Oriane menuntut, "dengan begitu semuanya bisa memahamimu dengan jelas dan bersih."

Memahamiku? Bahkan kau pun tidak bisa memahamiku, Miss Oriane. Tidak ada yang bisa memahamiku di seantero sekolah ini.

Hermione bergumam dalam kegugupan dahsyat yang melandanya. Badannya berat. Seakan lutut dan sikunya mendadak berubah antagonis, membuatnya seperti lumpuh setengah badan.

"Ya, bisa dimulai?"

Jemari kecil mirip kentangnya semakin menempel sangat erat, menghasilkan bekas remukan di pinggiran kertas folio yang mulai turun sejajar dada. Hermione menarik napas panjang. Mulai merasakan hawa sejuk yang menjilati kulit tangannya. "Ini tentang, Lubang Hitam."

Manik hazelnya tak pernah beralih dari barisan tulisan sambung di folio sejak awal topik mainstream blackhole itu bergema ke seluruh ruangan. Paragraf pertama berhasil Hermione ungkapkan dengan nada bergetar khas dirinya, yang hampir menyerupai nada terisak. Paragraf kedua, gaung getar itu mulai memudar, berganti dengan nada normal, begitu konstan datarnya. Bibirnya setia terbuka-tutup menyuarakan kalimat demi didengarnya sendiri. Ia sungguh-sungguh tidak perduli siapa saja yang mendengarkannya selain Miss Oriane. Karena ia tahu, tidak ada satupun—meski bencana alam menendang— yang bisa melanggar pahamnya; di setiap dimensi ruangan, maksimal jumlah manusia yang sudi mendengarnya hanyalah satu.

Ya, satu.

Atau bisa juga kasatmata.

Dalam dunia yang selalu hidup terdiam, menatap ilusi kesendirian.

Suara-suara menguap mulai bersahutan. Cekakak-cekikik agresif Greengrass dan kroninya membuat Hermione semakin memburu napasnya. Jika saja ia bisa langsung melompat ke kalimat terakhir. Dan terduduk kembali dalam kedamaian bangku takdirnya.

.

.

.


Di bagian dalam sebuah lubang hitam, ketentuan-ketentuan soal jarak dan waktu berlaku kebalikan: seperti halnya saat ini kita tidak dapat menghindar dari perjalanan menuju masa depan, di dalam lubang hitam kita tidak dapat mengelak dari singularitas sentral.


.

.

.

Tanpa ia sadari, tulisan yang baru memenuhi setengah folio itu sudah habis. Tapi bicaranya tetap lancar seolah-olah blackhole adalah rumahnya. Setiap fakta dijelaskan sangat detil hingga ke partikel debu pengisi yang imajiner itu turut diocehkannya.

Diantara belasan tatapan meneror siswa-siswi yang kian menekuk paksa wajah Hermione, sepasang netra abu-abu menatapnya penuh minat.

Ah.

.

.

.


Dengan gaya gravitasinya yang sangat spektakuler, lubang hitam adalah monster kosmis tersendiri. Jurang ketiadaan ini bahkan melenyapkan cahaya.


.

.

.

Cahaya abunya bersinar terang laksana bulan purnama. Sangat terang tanpa cela hingga Hermione sang pembuat artikel meragukan lubang hitam itu mampu melenyapkan cahayanya.

Volume suara Hermione mulai mendekati minimal ketika menyadari setitik respek dari laki-laki bermanik abu-abu cerah tersebut. Rambutnya pirang, agak menyerempet putih. Poni menyampingnya jatuh melambai menutupi alis kanannya. Ia tidak menyibukkan dirinya sendiri, seperti teman sebangkunya yang sejak tadi asyik bergelut dengan tablet-nya. Sesekali ia mengerutkan alis saat mendapati kalimat metafor Hermione. Namun beberapa saat kemudian kepalanya bisa mulai mengangguk kecil. Gestur tangan dengan jemari yang saling mengait menumpu dagunya seperti pose berdoa sedikit meyakinkan Hermione untuk melanjutkan artikelnya tanpa goyah.

Gadis Granger itu merasa senang ketika akhirnya ia sampai kalimat terakhir dalam folio sembari menghembuskan napas lega.

"Kau tampak tahu segalanya, Miss Granger. A untukmu." Miss Oriane bertepuk tangan untuknya sambil tersenyum puas. Hermione mengulum senyum malu-malunya. Diiringi tepukan tangan paksa beberapa anak sekitar setelah sepuluh detik selesainya tepukan tangan Miss. Oriane. Sekali lagi, Hermione masa bodoh dengan para tepukan paksanya. Yang hanya ingin ia lihat adalah tepuk tangan meriah penuh antusias yang berasal dari satu orang di barisan keempat. Bibir kering pucatnya melukis seulas senyuman samar pada si pirang-nyaris-putih, sebelum kembali menempuh perjalanannya menuju tempat duduk.

Sang lelaki, Draco Malfoy—demikian namanya, balas melempar senyum ramah dengan menelengkan kepalanya ke arah Hermione.

Hermione membalas senyumannya lagi—ketika Draco telah berbalik dengan punggungnya. Menopang pipi kirinya dengan punggung tangan, mata yang terpejam rapat. Pikirannya kembali menerawang menjelajah angkasa, menembus kembali selaput paham yang ia camkan di sebuah blackhole.

Paham ...

Sebuah prinsip ...

Hanya ada satu dalam satu yang sudi mendengarnya.

Siapa yang bertopeng?

Tidak mungkin Miss. Oriane.

Tapi, agak lebih kecil 'tidak mungkin' pada senyuman safi meneduhkan itu.

.

.

oOo

.

.

Spaghetti bolognaise, satu cup kecil kacang polong, dan secangkir soda merah. Makan siang yang cukup untuk lambung kecilnya. Jauh dari peradaban kafetaria. Menakutkan rasanya jika harus sendirian di sudut dekat saluran pembuangan asap dapur, tapi sekali lagi—ini pilihan.

Dikucilkan, memang. Tapi, gadis itu tak peduli. Lebih untung mengurusi dirinya sendiri. Menurutnya, manusia di bumi ini semuanya hanya bertopeng karat.

Hermione mulai makan dalam sunyi. Hanya dentingan garpu dan sendoknya yang ia dengar. Rambut cokelat kusutnya menggapai-gapai permukaan piring karena kepalanya yang terlalu menunduk.

"... Ah aku tahu, tapi ... "

"... Kau tahu? ... Apa makanan mujarab untuk mengusir roh-roh jahat seperti Granger?"

"Benarkah? ... Ya, hahaha!"

"Lihat gayanya ketika menguliti kucing kecil malang itu? ... Kalian hanya perlu rumah sakit j—..."

Rahangnya berhenti beroperasi. Alisnya menekuk bingung. Suara itu semakin jernih dalam telinga kanannya yang bergerak refleks. Sangat jernih dan transparan seolah dalam lingkup kafetaria ini hanya mereka saja yang mengoceh.

Hermione mengangkat kepalanya. Melirik sembunyi-sembunyi ke arah Greengrass cs, masih dengan cekikikan dewa khas mereka yang membuat sekujur tubuh Hermione menghangat, kemudian mulai panas. Benar-benar panas menyengat. Seperti sesuatu sebesar bola tenis bergejolak dalam dadanya, mengancam ingin keluar lewat mulut.

"Lihat dia! ... Serius, kemarin aku melihatnya dengan perempuan itu mengobrak-abrik..."

Ia tetap melanjutkan makan. Kunyahannya tampak ragu, lebih pelan dari sebelumnya.

Mekanisme hidup telah memaksa Hermione untuk 'Diam Itu Emas'. Tapi, tak selamanya diam itu emas. Bisakah mereka tidak membicarakannya dalam sehari saja?

Sekali kedipan dan getaran kuat itu muncul. Menjalar dari ujung sepatu converse Hermione, menuju satu-satunya meja berbentuk bulat di ujung sana dengan lima buah kursi yang mengelilingi.

Gelas-gelas mulai melompat dari atas meja mereka. Cipratan beling bercampur merdu dengan jeritan tertahan.

Cengkerama kotor itu berhenti. Lima pasang mata berkilat gusar, mencoba mencari pusat getaran sementara gadis cokelat kusut itu masih meliliti spaghetti-nya santai dengan garpu plastik. Dengan pegangan yang terlalu kuat hingga nyaris bisa mematahkan alat makan itu menjadi dua.

Astoria Greengrass berdiri menghadap Hermione dari kejauhan, berkacak pinggang. Tatapan menghujam kasarnya kontras dengan air mukanya yang memerah.

"GRANGER!" teriaknya menggelegar. "Hentikan ini!" Gadis ceking berambut hitam legam itu melempari Hermione dengan segelas soda. Meleset. Hermione terkesiap, memandang rembesan air biru pada ujung lengannya. Air biru itu meresap. Bukannya malah menuruni lipatan kaus dan terbaring tenang di permukaan kursi. Sensasi dingin berkumpul satu titik di sikunya.

Apa aku seorang gadis spons? Itu jelas konyol!

"GRANGER, BERHENTI!" Satu bentakan lagi dan Hermione menjatuhkan garpu plastiknya. Tangannya mengepal. Gempa kecil-kecilan itu lenyap. Tanpa banyak omong, Astoria melangkahkan kakinya menuju Hermione yang berusaha mengatur nafasnya.

"Tidak salah kalau kami sering membicarakanmu," ujarnya nyaring. Bibirnya melengkung tajam. "Kau pantas menanggung semuanya. Dengar-dengar cukup untuk menebus dosa orang tuamu." Astoria melenggang pergi dengan kibasan rambutnya. Meninggalkan aura dingin dan menekan di sekeliling Hermione.

Satu kembali, satu lagi datang. "Kau! Sekali lagi berbuat hal-hal aneh yang membahayakan nyawa KAMI atau apapun itu, silahkan angkat kaki dari sekolah ini." Pansy Parkinson berbicara sambil menyipitkan mata dan dagu terangkat. Hermione mengerang kecil. Siapa yang bisa melawan anak kepala sekolah yang tulang wajahnya mirip anjing ini?

Hermione balik menatap Pansy lama. Lebih tepatnya tangan bersedekap Pansy di atas wajahnya. Napasnya memburu.

"Pansy," suara itu mengejutkan keduanya. Bibir Hermione berkedut kecil, apalagi saat mengetahui si pemilik suara. "Dan kau, hai."

Hermione menoleh kaku. Mendapati kaus oblong warna hitam dan jam tangan perak berlogo ular berwarna cokelat. Dan memastikan kalau orang itu benar-benar menyapanya.

"H—Hai," balas Hermione samar, tanpa melihat mata lawan bicaranya, seperti biasa, wajahnya langsung tertekuk ke bawah. Jemarinya meraih tisu untuk mengelap sisa-sisa spaghetti dan membersihkan garpunya. Selebihnya, ia memilih bungkam. Menonton percakapan kecil kedua orang di depannya.

"Ah, Draco—"

"Apa yang kau dan Astoria lakukan, Pans? Ini kafetaria, semua orang melihat kalian. Berteriak-teriak seperti tadi adalah hal konyol," semprot si pemuda pirang platina. Pansy tampak terperangah. Seolah gadis berambut hitam pendek itu sedang menghadapi Draco yang lain.

Apa? Mereka saling kenal dekat ternyata. Hermione mendengus kecil, adakah seseorang yang benar-benar tulus, dan yang paling penting tidak harus merupakan seorang teman dari gadis-gadis beken sialan itu?

Pansy memutar bola matanya cepat. "Kau tidak berusaha untuk menyelamatkannya kan? Lebih baik kau selamatkan kami. Lihat dirinya, aku yakin ada iblis di dalam wajah sok lugu itu. Kau mau bernasib sama juga dengan Kitty? Daphne sampai paranoid bahwa korban mutilasi selanjutnya setelah kucing kecil kesayangannya itu adalah dirinya. Sekarang dia begitu menyedihkan, sering melamun. Dan barusan—"

Draco melangkah maju, tangannya juga terlipat di depan dada. "Kebiasaan. Kau dan gengmu. Jika menginginkan tempat eksklusif, kau yang angkat kaki dari sekolah ini dan buat sekolah sendiri. Khusus kalian berlima," ujar Draco ketus.

Menghentakkan kakinya sekali, Pansy melotot lebar sambil menunjuk Hermione. "Draco Malfoy! Apa yang ada di dalam otakmu? Sekali satu kelas dengannya dan—dan kau mulai terinfeksi! Dan, apa? Jangan sebut hanya 'aku dan gengku' kalau hampir satu sekolah ikut membencinya. Dia v-i-r-u-s! Bisa aja kami semua membakar sekolah ini, kalau kau tak mau menyingkirkannya." Pansy berhenti sejenak, mengambil napas. Matanya menangkap judul buku paling atas yang terletak di meja Hermione dan mengulum senyum mistis. "Atau bakar dia, penyihir memang harus dibakar! Ini sekolah manusia, di Britania Raya! Jadi—"

Hermione menggertakkan giginya. Itu keterlaluan. Sebelum tubuhnya memanas lagi, Draco sepertinya sudah mengusir Pansy dengan gestur mengibaskan tangan tanda segera pergi. Akhirnya hanya terlihat Pansy yang merengut kesal dan Astoria di ujung sana yang tampak menggigit bibirnya terus-terusan saat menatap Draco tanpa berkedip.

"Hai, lagi," sapa Draco, menghempaskan pantatnya di kursi. Saling duduk berhadapan membuat Hermione sangat canggung dan merasa kecil, encer. Ia tidak pernah duduk sedekat ini dengan pria atau laki-laki manapun, kecuali Blaise Zabini dan mendiang kakeknya. Sisanya, sebut saja para laki-laki di sekolah ini, selalu memandang Hermione dengan tatapan bernafsu sambil memeragakan sesuatu yang tidak-tidak, mengulum sesuatu atau—seperti itu lah. Tunggu, jangan harap itu sanjungan. Itu, pandangan merendahkan.

Hermione sudah kehabisan stok kemarahannya untuk mual dengan semua itu.

Sekarang, mungkin ia harus bersikap waspada juga. Dengan seorang Draco Malfoy yang sibuk mengamati judul-judul bukunya tanpa melepaskan senyum sumringahnya. Bagaimanapun juga, Draco adalah laki-laki.

"Halo, kau, Hermione Granger. Dan aku Draco Malfoy. Tadi kita satu kelas astronomi. Dan Pansy itu memanggilku Draco. Kau suka hal-hal tentang penyihir? Kalau begitu, praktekmu tadi bagus," ucap Draco sambil memajukan kursinya. Hermione merenung. Memikirkan kata-kata yang tepat untuk dilontarkan kepada lelaki terlalu banyak 'halo' di depannya.

Cerewet.

Ia memutuskan untuk mengabaikannya. Ragu-ragu, Hermione memainkan telunjuknya di atas meja membentuk spiral, kemudian berkata, "Kau ... akan seperti yang lain?"

Draco mengernyit. "Maksudmu?"

"Berujung menganggapku sebagai virus."

"Apa? Itu tidak mungkin! Kurasa kau tidak separah yang ada di otak mereka. Aku yakin, sesuatu ada di balik dirimu yang ini," ungkap Draco tanpa beban. Optimis?

Hermione menggigiti bibir bawahnya tanpa sadar.

.

.

Benarkah?

Apa ini,

sebuah keajaiban ke delapan?

.

.

"Benarkah? Aku pesimis kalau kau melihatku di saat yang tidak tepat," balas Hermione datar. Tangannya berhenti bermain. Air muka gadis itu mulai kering, ditambah lagi sorot mata kosongya yang masih menatap lelaki pirang itu ragu.

Hermione berharap Draco merasa takut. Tapi, ia salah.

"Mungkin aku bisa. Omong-omong, selamat ulang tahun! Tujuh belas yang manis, aku punya sekotak benda-benda manis ini untukmu, cobalah!" Draco merogoh-rogoh ruas samping bagian tasnya tergesa. Kemudian menyodorkan sekotak penuh cokelat kacang bermacam-macam rasa. Mimiknya malah semakin ceria, seperti salesman odol bermental baja.

.

.

Apa! Apa?

Apakah hari ini hanya ilusi?

Halusinasi tanggal kelahiran yang mencekik?

Beri Hermione Granger sebuah jawaban!

.

.

Perut Hermione melilit. Banyak pertanyaan yang harus ia keluarkan sebelum melahap habis sekotak makanan surga itu.

Tapi ...?

"Bagaimana kau tahu, hari-ku dan tentang cokelat?" Hermione memicingkan mata. Memberanikan diri menatap permata abu lelaki pirang kelewat ramah tersebut. Merasa diperhatikan, Draco balas menatap hazel gadis itu.

Biru bercampur cokelat.

Ada sesuatu yang asing.

Asing.

.

.

.

.

.

"Dari papan utama—"

"Kupikir namaku sudah terhapus–"

"Barusan aku menyuruh Klub Jurnalistik untuk renovasi ulang, dan kebetulan sekali harimu hari ini. Untuk cokelat, aku hanya asal tebak. Kebetulan lagi aku selalu membawa cokelat-cokelat menggiurkan ini setiap hari."

Hening.

Sesuatu yang aneh.

Terlalu rumit untuk dijelaskan sekarang. Butuh durasi untuk beberapa bukti penguat.

Tangan Hermione merambat pelan di atas meja untuk menarik pita hijau yang meliliti kotak merah itu. Senyumnya merekah. Kilauan cokelat aneka bentuk menggodanya untuk segera dinikmati. Draco ikut tersenyum senang.

"Cobalah yang ini, domino dips namanya. Lelehan cokelat putih dan cokelat hitamnya membuat lidahmu nyaris terbang!"

Hermione kaget bukan main ketika tiba-tiba sebuah tangan pucat berjarak lima sentimeter nongkrong di depan mulutnya.

"Hn, aku bisa makan sendiri." Hermione menepis tangan tersebut, sekaligus mengambil domino dips yang terapit di antara jempol dan telunjuk si lelaki Malfoy.

Tangan mereka bersentuhan.

Rasa familiar itu.

Meresap intensif ke dalam.

"Hei, kukumu berubah menjadi biru!" seru Draco refleks menarik tangannya kembali.

Si gadis Granger terpaku. Lambat-lambat mengangkat wajahnya yang menunjukkan ekspresi horror.

"Mungkin kebanyakan soda," gumam Hermione singkat. Masih memandangi kuku jari telunjuknya yang mulai memudar.

Draco tergelak. Alis cokelat gelap saling bertautan.

"Soda tidak mungkin menginfeksimu," ucapnya dengan sisa tawa. "Lihat, itu kembali normal."

Hermione memiringkan kepalanya. "Berarti kau yang menginfeksiku."

"Itu hal bagus," kekeh Draco santai.

"Namamu yang bagus," puji Hermione. "Rasi bintang yang tidak pernah tenggelam."

Lagi-lagi pemuda itu tersenyum.

Senyum.

Senyum.

Senyum.

.

.

-oOo-

.

.

"Mau kuantarkan pulang?"

Hazelnya membeliak lebar. "Terima kasih, tetapi tidak usah."

Draco mencondongkan tubuhnya di jendela koridor. "Hujan deras. Petir bisa saja menyambarmu, kukumu bisa menghitam."

Suara tawa kecil menggema di lorong. "Menurutmu itu teori baru?"

Tak ada jawaban. Keduanya kembali berjalan menggenggam keperluannya masing-masing.

Kembali melewati Lorong Neraka. Dan berharap tidak akan seperti sebatang lidi layu lagi. Ada 'teman' di samping. Hermione menemukan sedikit kepercayadiriannya.

Mungkin bila berjalan dengan protektor ini, mungkin akan–

Daphne Greengrass berteriak histeris setelah menyadari seseorang yang tadinya berjalan sejajar dengan si pemuda pirang platina, mulai memelankan jalannya menjadi mengekori Draco.

Ah.

"BUNUH! BUNU–UH, JAUHI, JAUHI!"

"Daphne, hentikan! Dia tidak mencekik manusia!"

"BO–BOHONG, LUKAI! DARAH ..."

Theodore Nott berupaya menenangkan kembali kekasihnya. Draco mengulurkan tangannya pada Daphne, memastikan bahwa Hermione tidak akan mengusiknya.

"Saat itu mungkin adalah kesalahan–"

Daphne berteriak pada Draco. "Gila!"

"Sayang, harusnya kita tidak melewati koridor ini, maafkan aku." Theo mengalungkan lengannya, membopong Daphne.

Draco membuang napasnya kasar. "Mungkin bukan. Mungkin kalian tidak mengerti–begitupun aku. Aku yang akan 'mencarinya'."

"Apa yang kau lakukan, mate?" Sudut mata pria cokelat itu melirik Hermione di ujung. Tatapannya dingin. "Kuharap yang kau lakukan adalah menyingkirkannya dari sini. Kuharap."

Keduanya berlalu meninggalkan Draco.

.

.

.

Keheningan tercipta di antara dua manusia di depan lobi. Permata abu-abu melirik sekilas ke pucuk kepala gadis itu.

"Mungkin suatu saat semuanya akan mengerti, kenapa, maksudku." Draco berkata lirih. Tangannya merogoh saku celana, mencari kunci mobil.

Hermione terdiam. Pikirannya bergemuruh. Tenggorokannya terasa penuh.

.

.

Darah ...

Daphne ...

Draco ...

Dosa ...

.

.

"Yakin tidak mau kuantar?"

Tes.

Tes.

Tes.

Tes.

Mata Draco melebar.

"Hentikan, hei! Apa yang kau lakukan?!"

Tes.

Darah mengalir setetes demi setetes dari lengan rapuh Hermione. Merampas pisau kecil berwarna hijau gelap dengan simbol salib di tengahnya ikut membuat telapak tangan Draco tersayat.

Tanpa pikir panjang, Draco menarik tangan Hermione ke bawah tetesan deras air hujan yang turun dari atap sekolah. Mengusapnya keras-keras luka sayatan berbentuk spiral.

Ah, pasti sakit.

Darahnya sangat kental.

Sukar luruh.

Draco mengernyit.

Heran?

"Tidak, ti—dak! Aku bersalah!" seru Hermione setengah berteriak. Keringat dingin membingkai wajahnya. Hazelnya menatap nanar ke segala arah.

Lengan atletis pemuda itu bergerak melingkari pundak sang gadis.

Hangat.

Untuk sementara gadis itu merasakan suatu kelengkapan dalam hidupnya yang penuh lubang.

Sungguh sempurna.

Hermione menengadahkan kepala dalam isaknya.

Jarak yang begitu intim.

.

.

Hitam?

Hitam?

Hitam.

Lari!

.

.

"Jangan menyakiti dirimu sendiri, kumohon!" pinta Draco saat Hermione bersikeras berlari menembus hujan untuk mengambil kembali pisau lipat kecilnya yang dilayangkan Draco saat perebutan paksa tadi.

Draco ikut mengejarnya. Mengabaikan efek air hujan yang meresap, membuat jeansnya menjadi tiga kali lipat lebih berat.

Hermione terus berlari. Berjongkok-jongkok di setiap lubang gorong-gorong. Menggaruk-garuk seperti tikus tanah. Kaus kaki putih panjangnya telah bertransformasi menjadi stocking berlumuran cokelat tanah.

Seolah pisau itu adalah bola matanya yang berharga.

"Hermione! Apa yang kau lakukan?!" teriak seseorang.

Draco berjengit saat sebuah sedan berwarna hitam pekat menutupi jarak pandangnya dengan Hermione yang sedang berjongkok. Pria berkulit gelap itu keluar dari mobil dan tergesa memapah Hermione yang basah kuyup kecokelatan seperti habis dikubur hidup-hidup masuk ke kursi penumpang.

Mobil itu langsung melaju cukup kencang membelah derasnya hujan yang mengguyur Kota London.

Sialan, umpat putra tunggal Malfoy tersebut.

.

.

-oOo-

.

.

Rumah ini sebenenarnya memiliki banyak sekali lampu. Namun ruangan-ruangannya selalu temaram, karena sumber cahayanya hanyalah sebatang lilin kecil yang berdiri miring di atas piring putih. Itu peraturannya. Kecuali ruang utama.

Keduanya menggigil di depan perapian besar yang disepuh kaca. Asap mengepul yang berasal dari tiga gelas teh jahe panas di meja kecil bercorak akar-akar pohon beringin seakan meliuk menembus atap. Ornamen-ornamen dalam ruangan didominasi patung naga berkepala seratus—itu 'agak' mengerikan bagi siapa saja yang baru pertama kali masuk.

Tidak dengan mereka.

"Brr, aku ingin segera pulang dan tidur."

Blaise menampilkan sebarisan gigi putihnya dalam keremangan sambil meringis kecil. "Kenapa?"

Hermione menoleh. Matanya nyalang. "Menunggu ayah datang ke mimpiku. Biasanya dia membawa cokelat-cokelat hadiah yang sangat banyak. Dia tidak mungkin absen di hari ulang tahunku ke tujuh belas ini."

"Kau mengigau?" desah Blaise, merinding. Mantan anak majikannya itu tampak mengerikan sekarang. Tatapannya kosong. Bibirnya bergerak tanpa suara seolah sedang menyanyikan sebuah lagu.

Bibirnya kembali mengatup dan menyunggingkan senyum termanisnya. "Tentu saja. Kau tidak percaya padaku?"

Lelaki itu mengangguk pelan. "Ayahmu bukannya sudah meninggal. Tapi pergi jauh, meninggalkan," kata Blaise takut-takut. Tapi, memang itu kebenarannya. "Bahkan sebelum kau lahir."

Sosok siapa yang dilihat gadis itu dalam mimpinya?

Khayalan.

Khayalan.

Khayalan.

"Terserahmu, lah!" bentak Hermione kesal. Wajahnya menunduk, membuat poninya menutupi seluruh wajahnya, sementara pisau yang ia genggam sejak tadi jatuh dan berdenting di lantai.

Raksi darah kering yang menyelimuti sebagian bilah tipis pisau itu terlihat mencolok.

Uh, menyengat.

Seperti tidak pernah diseka.

Memang.

Blaise terdiam.

Lama.

Tuk. Tuk.

Tuk.

Tuk.

Angin berhembus kecil dari celah jendela yang belum sepenuhnya tertutup rapat. Berisik.

Blaise beranjak dan mengunci besi pengaitnya.

Terdengar langkah kaki berat dengan sepasang tangan yang bergetar membawakan dua mangkuk sup ayam panas—lagi-lagi kepulannya meliuk indah.

"Nenek minta maaf," ujar wanita tua itu lamat-lamat. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung memeluk Hermione erat. "Akhirnya hari ini tiba juga, uhuk."

"Nenek," ujar Hermione dengan tatapan penuh pengharapan. Bibirnya bergetar sedih. "Bisakah aku melakukan sesuatu yang lain, agar kau tetap di sampingku? Beberapa kucing lagi? Aku, aku—"

Tak lama berselang, kedua perempuan itu menampilkan parade persimbahan air mata. Sebagai laki-laki tulen, Blaise Zabini cukup berotak untuk tetap diam dan tidak ikut membuka keran air matanya.

Menyeruput teh jahe merupakan opsi yang bagus.

Mengharukan, memang.

Ursula Granger mengusap cairan kristal bening yang terus mengaliri pipi tirus cucunya.

Harta keluarganya satu-satunya.

Tunggal.

Sorot matanya menerawang kosong. Kemudian beralih ke sebuah figura. Potret sang suami. Selalu begitu. Potret yang menampilkan senyum penuh konspirasi ala ilmuwan.

Senyum yang juga dimiliki oleh seorang Hermione Granger.

"Kita tidak boleh egois untuk tetap hidup, Sayangku," bisik Ursula lemah. Napasnya mulai berat. "Jangan terus berbuat kesalahan. Itu tidak pantas. Sakit, kan ... ?" Ursula menyibak sweater Hermione di bagian lengan. Hampir semua ruasnya meninggalkan beberapa bekas sayatan di situ. Air matanya menetes. "Aku sudah melanggar waktu malaikat hitam untuk menjemput. Tapi hari ini, aku bisa mengantarmu menuju angka tujuh belas ..."

"Nenek ..." Hermione mengabaikan tentang luka sayatan itu. Lututnya kram karena terlalu lama bersimpuh di lantai. Memeluk sang nenek yang mulai redup. "Apa ... aku akan berakhir sendirian? Selamanya? Aku tidak bisa—"

"Kau tidak sendirian. Selalu ada pilihan. Nenek melihatnya, semua tergantung kepadamu, dimensimu tidak hanya satu. Percayalah."

"Nek?"

Ursula menyahut samar. Wanita itu mengusap keningnya yang basah.

"Ada sesuatu yang kau tahu tentang diriku? Atau ..." Hermione meneguk ludahnya. "Penyihir, mungkin?"

.

.

.

Getaran.

Resapan.

Pendengaran.

Biru.

.

.

.

Air muka Ursula berubah tegang. Matanya menyipit. Tangan kanannya membingkai sisi kiri wajah sang cucu.

"Kenapa kau berpikiran begitu, Mione sayang?"

Hermione bergumam sembari mengalihkan pandangannya ke bawah. "Banyak hal ..."

"Penyihir itu iblis, kau tahu? Dalam agama, apalagi keluarga kita, tidak mempercayai itu. Aku sungguh tidak tahu zat apa yang mengaliri tubuhmu. Mungkin itu sebuah kelebihan? Tapi, ingatlah, kakekmu merupakan seseorang yang sangat pintar ... jenius ... Sepertimu, Hermione."

Jeda sejenak.

Kakek.

Selalu kakek.

"Em, lalu—"

"Berapa orang yang mengucapkan ulang tahun padamu hari ini, Sayang?"

Sang nenek menyela.

Gadis itu terhenyak. Satu, dua, tiga ...

Empat?

"Empat," jawabnya gusar. "Selalu bisa terhitung jari."

Ekspresi Ursula benar-benar tidak terbaca. Mulutnya terbuka kecil, menahan napas. "Pasti ibumu, Blaise, aku, dan ...?"

Pipi Hermione bersemu merah. "Teman baru. Kupikir dia baik, Nek. Jangan khawatir."

Ursula menggelengkan kepalanya berkali-kali. Hermione mengernyit heran, memegang punggung tangan keriput Ursula lebih dalam.

"Berhati-hatilah, Hermione-ku. Kau harus tetap hidup di dunia ini, mengerti?"

Siapa yang mengerti perkataan mistis orang tua macam begitu?

"Aah," erang Ursula lelah. Mimik perih terhampar di wajah tuanya. Menggambarkan masih ada sekitar seribu pesan lagi yang tersisa. Tangannya melambai, sebuah gestur agar Blaise mendekat.

Lelaki itu mengangguk sebentar lalu berjalan dengan lutut ke arah keduanya. Bersimpuh, bersisian dengan gadis cokelat itu.

"Jaga Hermione untukku, untuk Patty, untuk semuanya."

Untuk semuanya...

Sebuah sosok melepaskan dirinya dari bayang-bayang dan bergerak ke arah Ursula. Sosok itu mulai melangkah maju, lalu berhenti. Dia memandang kepada Hermione atau lebih tepatnya, menembus Hermione. Seberapa pun Ursula sudah terbiasa dengan tudung pesona, dia selalu merasa aneh kalau melihat itu menembus orang bergitu saja seolah-olah Hermione tidak berada di sana.

"Kau melihatnya?"

.

.

.

Seperti cahaya hantu bunga api yang melesat-lesat.

.

.

.

"Nenek!"

.

.

.

Hentian napas, pejaman mata,

.

.

.

Jeritan melengking, membelah udara,

"Neneee—ek!"

.

.

.

Ekshibisi cahaya yang menyilaukan—seperti faksi kristal bertabur asterik di sepanjang orbit,

Bintang-bintang bersinar terang; berpijar, melambai-lambai, mengundang,

.

.

.

Isakan tangis ...

.

.

.

.

.

.

Ada noda-noda gelap melintangi bagian depan kaus putih Hermione, sementara kedua tangannya berlumuran sesuatu berwarna merah yang kental.

Blaise menegang. "Cukup, Hermione."

Gadis itu tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangkat dagunya dan menatap kosong ke arah dinding.

.

.

.

Sebagian orang hidup untuk keberuntungan

.

Sebagian orang hidup untuk ketenaran

.

Sebagian orang hidup untuk kekuatan—

.

.

.

dan permainan.


.

.

.

.

.

The End of Chapter 1.