Disclaimer : All characters & main story belongs to Joanne Kathleen Rowling.


.

.

.

Supermassive Black Hole

Chapter Six: Lights And Thunder

.

.

.


Kelas Alkimia Kamis, 25 Januari 2012 (Tiga hari kemudian)

.

.

.

Wajar jika dia agak ketakutan. Lagipula, mungkin saja Pansy benar-benar belum mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi pada cewek Greengrass itu. Menanggung biaya praktikum alkimia Hermione Granger, dan duduk bersamanya di hari ini. Sakit jiwa, pikirnya.

Pansy semakin mengerutkan kening berlama-lama, menunggu penjelasan singkat salah satu personil gank-nya. Meskipun akhirnya dia tidak mendapat apa-apa karena Astoria menolak dengan terus membuang muka. Hermione menghembuskan napas sampai pundaknya maju beberapa senti, berusaha untuk tidak terlalu peduli pada urusan Mereka.

Sampai... guru pengganti Mrs. Burbage datang.

"VICTORY!" begitu teriaknya, dengan gaya mirip Hitler. Sebenarnya tidak ada yang salah, hanya saja nada pelafalannya membuat bulu tengkuk Hermione perlahan naik. Seolah kata itu mendistorsi ketenangan kepalanya dan–Hermione ingat, pernah mendengar kata itu, namun tidak secara keseluruhan. Kata yang menuai sensasi aneh di ulu hatinya. Setelah menyapa seluruh kelas dan membanting bokong di kursi kulit berlengan, wajah penuh semangatnya yang panjang berubah drastis menjadi mirip dracula kelaparan. Dingin dan keras. Ketika iris hitam miliknya beredar tajam seperti meriam kepada satu per satu murid, tatapannya berubah mengendur di titik hazel seseorang. Bayangan kemenangan sekaligus ketakutan menghiasi lorong visualnya. Refleks, Hermione memicingkan mata, curiga. Entah kenapa, sejak dimana ia mengetahui bahwa dirinya memegang kendali atas banyaknya kekuatan dan status sebagai penyihir Raja; hidupnya seakan tidak pernah aman lagi. Contohnya, kemarin. Untuk apa Cedric Diggory memotretnya dimulai dengan gombalan klasik sebelum semuanya tampak putih dan berkunang-kunang? Udara di sekitar saat laki-laki itu datang pun jelas jauh berbeda dengan orang-orang normal. Atmosfirnya melembab. Seakan seluruh partikel di titik itu memadat dan basah. Setidaknya mirip dengan aura Percy Weasley saat di The Burrow empat hari yang lalu.

Tapi, kalau Cedric sama dengan mereka, mengapa ia tidak ikut ke perkumpulan semacam waktu itu atau bahkan berkunjung ke Malfoy Manor?

Hermione tidak berani mengambil kesimpulan kalau...

Mungkin Cedric ada di sisi yang berbeda.

Atau sekte lain.

Tapi, Luna bilang... hanya ada dua sisi penyihir di abad ini. Mereka dan mereka. Si Karkaroff-Karkaroff itu.

"Halo, nak," suara tenang berbalur kekakuan dari mulut sang guru berambut hitam sebahu itu mengejutkan Hermione. Hermione menoleh ke belakang sekitar dua kali untuk meyakinkan bahwa dialah objek perhatian kelas detik itu. Lalu mengangguk sekali tanpa senyum, dan pria itu kembali merebut atensi murid-murid lain dalam kancah perkenalannya.

Professor Severus Snape. Lebih suka dipanggil Prof Snape dan tidak dengan Sev. Pansy dan Padma cekakak-cekikik di barisan depan mengguyonkan panggilan 'Sniff' untuknya, tapi pria yang rambutnya berkilauan bak berlian di bawah cahaya lampu proyektor itu hanya mengangkat sudut bibirnya meremehkan. Selesai mendata absen murid-murid, tangannya langsung bergerak lincah membuka kotak hitam dan mengeluarkan berbagai macam isi. Sebuah kotak transparan berisi tiga puluh botol bening berukuran sama, lima belas wadah bulat mirip kaleng tuna yang plastiknya bersimbol tengkorak, puluhan pipet berbagai ukuran di kantong plastik kedap udara, serta yang semacam itu–dan semuanya masih sangat baru.

"Apa kau kenal dia?" tanya Astoria menolehkan kepalanya pada Hermione, sebelum kembali melongok seperti kura-kura ke arah depan.

"Tidak."

"Ooh," gumam Astoria sambil menggaruki telinganya. Hermione terlihat sangat santai dan cuek atas apa yang barusan tejadi. Prof Snape hanya menyapanya, di antara dua puluh sembilan murid lain. Jelas kan, dia bakal jadi anak emas lagi bahkan sebelum pelajaran dimulai?

Tapi sekali lagi, Astoria tidak menyadari atau mungkin standar kepekaannya memang terlalu lemah, karena telapak tangan kiri Hermione terus menerus berkeringat tanpa pemiliknya tahu.

"Sebelum memulai, kalian diwajibkan menyicipi ini satu sendok," perintah Prof Snape sambil menunjuk kotak kecil berisi tiga puluh botol bening yang mulai dibagikan Hannah Abbot ke penjuru kelas. Semuanya memandang botol itu di atas meja masing-masing dengan sangsi, dan setelah dipastikan tidak ada yang belum dapat, tidak ada satupun yang berani menyentuh. Keadaan menjadi canggung, semua mengerling satu sama lain.

"Ya ampun, aku tak mungkin meracuni kalian," ucap Prof Snape. Memiringkan kepala untuk menunggu.

Sesudah saling sikut, akhirnya bunyi-bunyian membuka tutup botol baru terdengar.

"Ini PTC," gumam Hermione mengamati cairan tersebut, tak berniat untuk meminumnya. Seraya mengocok botol, hazelnya mencuri pandang ke pusat konsentrasi kelas tempat Prof Snape berdiri kaku dengan kedua mata yang siaga. Seolah mencari-cari.

Tapi, untuk apa?

"PTC? Apa itu?" kicau Astoria lagi sambil mengecap-ngecapkan bibir. Hermione hendak menyembur keras soal dirinya yang sangat terganggu dengan celotehan basi Astoria sejak pagi. Tapi air mukanya berubah heran mendapati Astoria dan mimik wajahnya yang lebih condong kepada orang yang sedang minum air putih, mencicip cairan itu lagi dan lagi.

"Kau tidak merasakan sesuatu?"

"Sesuatu? Seperti apa?" Astoria menjilat bibir bawahnya lagi, kemudian menggeleng. "Tidak ada rasanya."

Hermione menatap lama profil mantan sahabatnya itu dari atas sampai ke bawah, tak melewatkan satu titik pun. Berbagai spekulasi mulai muncul mengapung di permukaan. Mungkinkah selama ini Astoria memiliki kekurangan besar yang sangat kasatmata oleh orang lain? Beberapa suara ingin muntah mengarungi ruangan. Semua lidah terjulur dan banyak dari mereka yang menggosok-gosokkan jari atau menelan air sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan rasa pahit dari cairan PTC. Ternyata Astoria ikut mengedarkan pandangannya ke sudut-sudut kelas dan memandang cemas kepada Hermione.

"Ini PTC Taste Blindness..." suara Hermione otomatis mengecil saat Prof Snape dengan mata berbinar mengunjungi mejanya. Dan melipat sebelah tangan di depan Astoria.

Udara di sekitar mereka bertransformasi menjadi sangat kering dan berat.

"Guten Tag, Astoria Green– grass," ejanya agak kesusahan dengan mata tertempel pada kertas absen. Alis Prof Snape terangkat keduanya saat bergantian menatap gadis itu dan cairan PTC yang nyaris ludes. Tatapan itu bukan sejenis aura kebanggaan seorang professor kepada muridnya, malah menunjukkan sesuatu yang lain. Seperti, "Eureka!"

"Hm, Professor." Astoria merespon hati-hati, mengusap sisa-sisa cairan PTC di sekitar bibirnya.

"Oke, Miss G. Ke ruanganku seusai sekolah selesai. Kau terpilih." Prof Snape mengatakannya seolah itu memang suatu perintah yang sangat wajib. Dan Astoria Greengrass memang dirasa tak diperbolehkan untuk menyatakan tidak.

"Sorry, untuk apa? Anda tidak mengatakannya secara rinci."

Tentu saja, Astoria bukanlah gadis manis yang mudah ditaklukkan.

Prof Snape mengerutkan kening. "Tentu saja Yang Terpilih. Lihat, di antara yang lain, hanya kau yang tidak mengecap rasa apapun. Bukankah itu sudah jelas? Tugas khusus dan nilai sebesar 25% menunggumu. Dan satu lagi, bersikaplah yang sopan kepada seluruh pembimbing."

Cara Snape mengatakan kalimatnya terdengar sangat janggal.

Astoria mengangkat bahu, memajukan bibirnya sambil menoleh pada Hermione untuk tatapan tuh-dasar-guru-gila-hormat. Hermione balas memandang keduanya datar, tapi akhirnya menoleh dua kali pada semacam tattoo kecil di bagian lengan Prof Snape yang tersibak jubah hitam kolot panjangnya, seekor ular yang melingkar memakan ekornya sendiri.


Seekor ular yang memakan ekornya sendiri


Dorongan visual itu menekan saraf otonom Hermione untuk berkeringat di sekujur tubuh. Selama pemahaman gambar itu mondar-mandir dalam akson dengan kecepatan tinggi seperti slide show yang diputar semakin cepat, bagian otaknya yang berusaha menginterpretasikan makna dari si objek mulai menyerah, dan menimbulkan sakit kepala.

Sebagian dirinya berusaha mengenali simbol itu.

Rumit sekali. Cepat gadis itu menyimpulkan, bahwa Prof Snape memiliki maksud lain dan Astoria sangat memungkinkan untuk diposisikan dalam orientasi bahaya.

"Yah, bukannya tadi tidak sopan. Menurutku semua manusia derajatnya sama, jadi tidak ada yang salah denganku," bela Astoria bersikap acuh, "aku akan datang ke ruangan Anda nanti."

Senyum puas mengembang di wajah Prof Snape. "Bagus– " tapi ia berhenti, baru menyadari satu hal krusial yang mengganjal sejak memasuki kelas ini. Dia menatap tajam Hermione lekat. Seolah gadis itu merupakan ancaman.

"Ada masalah denganku, Professor?" tanya Hermione kalem. Tahu pasti bahwa yang sedang dihadapinya sekarang bukanlah seorang 'Professor' biasa, bahkan keabsenan Mrs Burbage terasa sangat ganjil.

"Kalian bersahabat akrab?" Snape menatap Hermione sengit seolah gadis itu merupakan ancaman.

Hermione mendengus, "Anda tidak berhak mengganggu privasi murid."

"Sama halnya dengan 'bersikap sopan' kepada seluruh pembimbing," balas Astoria puas. Dua bola mata sehitam jelaganya berkilat tenang memandangi sosok Severus.

Prof Snape tampak jengkel luar biasa, namun kalimat selanjutnya berhasil menyentuh alarm Hermione untuk semakin curiga. "Baiklah," dengusan lagi, "Kalau memang kalian sangat dekat, kupastikan kau–Miss Granger, wow Miss G juga, tidak perlu menemani atau menunggunya untuk bertemu denganku."

Mungkin terdengar konyol bagi Astoria yang langsung berpikir bahwa mana mungkin Hermione Granger mau repot-repot menemaninya, karena ia langsung tertawa lepas.

Tapi itu tepat berkontradiksi dengan apa yang terjadi di dalam tubuh Hermione.

Saatnya berusaha melindungi musuh; satu momen yang dipastikan selalu ada pada setiap fase kehidupan manusia.

Pendingin udara seperti kembali menyebarkan titik-titik saljunya tepat setelah Prof Snape pergi berbalik ke depan, dengan lambaian ujung jubah tua hitam yang menyapu lantai untuk melanjutkan praktikum. Tentu tampak begitu absurd mengenakan kostum seperti itu di dalam proses belajar mengajar. Ini bukan Halloween! Dan dia bukan Batman!

Jadi, tugas hari itu adalah; membuat sebentuk Kunci dari proses kristalisasi.

Ia gemar sekali berjalan kesana kemari, lagak menginspeksi, memeriksa padatan kristal yang berhasil dibuat oleh Terence Higgs, tapi langsung mengomel lagi karena kristal itu tidak berfungsi akibat reaksi zat yang disetarakan cowok itu salah sedikit. Sedikit, hanya 0.2 gram. Lalu kecelakaan kecil yang diperbuat Demelza Robin menghadiahkan goresan beling melintang di telapak tangannya. Jeritan sumbang Pansy akibat lelehan kristal yang menuruni pahanya bahkan menutupi rintihan lembut Matilda di sudut kelas.

Dilihat dari segi manapun, semuanya tampak di bawah satu atap yang sama. Lanskap kesemrawutan sebuah pusat pasar ikan.

Kemudian ia memutari bagian belakang, dimana tempat banyak anak-anak 'malas' bernaung. Carlos Worthbeack, si laki-laki rugby yang terkenal sebagai penghuni tetap jam remedial di segala pelajaran pun kena semprot. Berdiri menjulang di depan Prof Snape dengan galak, sudut mulutnya yang dijahit bergerak-gerak saat ia menyemburkan kata-kata pedas terhadap pria itu.

"Mr Worthbeack, mungkin di lapangan sana statusmu lebih tinggi. Hanya di sana. Tapi di sini, aku yang memegang tuas kontrol. Dan jangan lupa bawa otakmu yang membumbung," kata Prof Snape dengan air wajah tenang, tampak tidak terusik sedikitpun.

Carlos kelihatan ingin membantah karena ia langsung memerah. Biasanya para guru yang menjadi korban hardikan supernya memilih pergi dan memberikan segunung detensi daripada menyusutkan harga diri di depan seorang murid. Namun kali ini tidak. Prof Snape mengedikkan kepala dengan aneh, matanya melebar sedetik sebelum Carlos sempat memuntahkan kalimat kotornya.

"Nah, sekarang, duduk dan kerjakan tugasmu," perintah Prof Snape.

Ajaibnya, Carlos segera duduk. Matanya terus menatap Prof Snape penuh kemarahan dan kebingungan. Saat tangannya mulai bergerak perlahan menakar norit secara hati-hati, sesuatu berubah. Kepercayadiriannya seolah meluncur pergi.

Dia takut.

Prof Snape membuat tubuhnya sendiri tak mau menuruti perintah otaknya.

Hermione tercengang. Severus Snape melakukan sesuatu pada Carlos. Semacam hipnotis. Sedetik kemudian ia cepat-cepat memindahkan konsentrasi pada wadah kristalnya yang setengah jadi, agar tak kedapatan Prof Snape untuk menguping begitu lama.

"Ya Tuhan, kau susah kali menurutiku, ya."

Melirik enggan ke sisi timurnya, Hermione mendapati meja Astoria yang tidak jauh keadaannya dari dapur umum di lambung kapal. Berkali-kali gadis bernetra gelap itu mengelap bermacam cairan yang tumpah, dan bibirnya yang penuh terus mendesah seakan berkomunikasi intens pada dua percobaan sebelumnya yang masih gagal.

"Suhumu terlalu jelek saat menjenuhkannya," akhirnya Hermione besuara.

Astoria mengangguk kecil tiga kali sebelum memandang Hermione sebentar.

"Dan jangan langsung didinginkan, saring dulu dengan pemanas air itu."

"Trims," senyum Astoria salah tingkah.

Hermione menghitung waktu yang tersisa untuk Kunci buatannya yang nyaris sempurna. Sekitar satu menit. Hazelnya menjelajah seisi kelas dengan cukup puas, karena hanya ia yang sudah mencapai fase terakhir, pencetakan. Rupa cetakan yang diberikan Prof Snape menyerupai jangkar kapal laut, tapi dengan bentuk panah di sisi jangkar yang atas. Jadi mirip busur terbalik yang bersatu dengan panahnya.

"Professor itu unik, bukan? Lihat, bicara saja perlu mendesis seperti ular dan bagian bawah telepon selulernya.. mirip nebulator."

"Gel rambut yang ia gunakan pun terlalu banyak, tanpa celah."

Menoleh pada pembicaraan ringan namun mencurigakan Millicent Bulstrode dan India Stoker, memanggil rasa penasaran Hermione untuk memadatkan visualnya pada objek yang dibincangkan. Dengan suara yang masih mendesis-desis, tentu saja ia tidak mungkin bisa mendengar jelas apa yang Prof Snape katakan. Suaranya agak teredam, seakan harus melewati semacam filter atau masker gas untuk mengudara. Namun tak lama semuanya kelihatan samar. Gelombang suara Prof Snape mejernih. Setelah menyadari bahwa bentuk ponselnya memang tidak biasa, Hermione meneruskan kegiatan curi-dengarnya sambil membatin senang.

Aku bisa mendengar seluruh suara bahkan yang terjauh, tentu saja. Hanya suara. Tapi soal desisan yang semakin lama semakin jernih...

Ia tidak tahu pasti.

"... ya kau bisa membarternya kapan-kapan. Aku sudah mendapatkan si Virgo Tanpa Rasa dan ... kau tahu? Aku bertemu si Cassiopeia campuran... tidak, tidak penting, sekarang beritahu Igor untuk meneliti Kotak-nya... Aku yakin, Kunci-nya tidak perlu dipadatkan pada gravitasi nol, karena gen si campurannya itu membuatnya sempurna..."

Mendadak Hermione merasa jauh. Jauh, jauh dari kenyamanan rumah, Pat, dan segala perlindungan keamanannya.

Virgo Tanpa Rasa...

Ia jatuh ke lubang masalah bersama Astoria Corona Greengrass.

Dan di saat seperti ini, Luna dan Draco tidak ada di sisinya.

Kendati dirinya Raja, terkadang maju sendirian memang memanggul banyak resiko dan keraguan yang berat.

Hermione tersadar dari lamunannya dan kejutan kecil menunggunya. Prof Snape ternyata sudah memutus teleponnya. Kemudian menyapanya dengan bahasa mata dari kejauhan. Menelan ludah secara refleks, Hermione buru-buru mencungkil Kunci miliknya dari wadah cetakan ke bawah laci meja. Mejanya ia tarik sejajar dada, menutupi celah-celah sempit yang menandakan adanya benda dalam laci tersebut. Agresivitas detak jantung Hermione terasa lebih menonjok sisi meja yang menempel erat pada perutnya saat tatapan bingung Astoria muncul di sudut mata. Sedikit tidak peduli, sisa-sisa percobaan gagal milik gadis berambut hitam itu diseret paksa oleh Hermione sebagian ke area mejanya. Jadi, meja keduanya sekarang terlihat sama saja. Berantakan. Hal itu semakin menyulut banyak kerutan di dahi Astoria yang mulus. Baru saja Hermione hendak memberikan Astoria kode-kode tertentu jika Prof Snape kembali mengunjungi meja mereka,

Yah, mungkin Dewi Fortuna sedang sibuk mengikuti parade festival di Rio de Janeiro.

"Halo, Miss Granger. Saatnya mengumpulkan tugas?"

"Ah, aku masih ingin mencoba yang ketiga kalinya, Professor. Sulit sekali," keluh Hermione pura-pura mengelap keringat yang bercucuran.

"Hm, bagian manakah yang sulit?" Prof Snape memandang Hermione seperti menginterogasi anak kecil yang berbohong.

Hermione mendesah kecil. "Penyaringannya, pemanasan-pendinginan–semuanya! Ya Tuhan." Barang-barang berserakan di bawah kendali tangannya, dan sebisa mungkin Hermione melirik Astoria untuk tetap diam.

"Kalau begitu, kubantu membuat ulang."

Dingin merambati punggung Hermione. "Sebentar lagi waktu pelajaran habis, sepertinya aku tidak bisa membuat ulang sekarang, Professor. Anda bisa menunggu lama, lebih baik milik Carlos yang tampak... memesona itu."

"Carlos tidak mengatur suhunya dengan benar, walaupun bentuknya lumayan. Kau muridku, jika memang benar-benar tidak bisa dari awal, bukannya tugasku untuk membantu, 'kan?" desaknya. "Sekarang?"

"Aku bukannya tidak bisa dari awal," ucap Hermione keras kepala. Balas menatap tatapan tajam Snape, namun tidak terjadi apa-apa. "Hanya sedikit.. alergi banyak norit! Dalam fase itu aku selalu gagal."

Kedua mata Prof Snape berkabut saat mendengarnya, lalu sorotnya berpindah tiga puluh sentimeter ke sebelah Hermione.

Sial.

Menyipit. "Miss G, benarkah dia alergi norit dan semua fase yang dikerjakannya selalu tidak berhasil?"

Kursi mereka yang tersambung bergetar sedikit dalam ketegangan. Astoria bersikap meneliti banyak hal yang berdiam di atas meja Hermione, seperti menilai, lalu mengangguk serius.

"Yah, kira-kira seperti itu."

Terdengar hembusan napas yang tertahan lama.

"Kira-kira?" ulang Prof Snape.

"Ya."

Terdengar teriakan dari dua meja di depan mereka. "Hei, Granger! Lihat milikmu, dong! Bagaimana sih caranya bisa tepiannya tidak terkikis seperti itu?"

Sekarang, cewek bangsat itu benar-benar mendapat perhatian.

"Pencari perhatian!" protes Hermione detik itu juga. Rahangnya mengeras, buku-buku jarinya memutih dalam kepala tangan, bernapas dalam untuk menahan tekanan sihir di dalam dada.

"Jaga mulutmu, chicks," hardik Astoria kepada mereka, yang ternyata lebih berhasil. Terbukti; Pansy, Padma, dan Parvati langsung shock berat.

"Kedengarannya rumit sekali." Prof Snape kembali menatap Hermione, sinar matanya meruncing.

.

.

.

Berikan saja padaku

Hermione mendengarnya. Namun tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Ia tetap diam, tidak menjawab dalam telepati yang dibuka pria itu. Berusaha memastikan Prof Snape bahwa dia bukanlah Cassiopeia-entah apa itu campuran, dan hanyalah gadis biasa.

.

.

.

Baiklah, aku akan tetap mengambilnya

Merapat erat pada meja seperti lem, Hermione bergidik. Semua jenis perlawanan yang ia pikirkan di dalam otaknya selalu menguap diterjang resiko-resiko yang akan muncul setelahnya. Melakukan sihir? Di kelas?

Bukan opsi yang tepat.

"Nah, Miss G. Sepertinya temanmu itu punya Kunci yang sempurna–"

Astoria menggeleng cuek. "Tidak punya. Dia itu bodoh."

Hermione tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana. Astoria memang bermaksud membantu, tapi kalimat barusan seolah...

Prof Snape mengedikkan kepalanya lagi, aneh. Hermione membelalak. Hanya ada waktu sepersekian detik yang tersisa untuk memperingatkan Astoria agar tidak menatap mata Prof Snape saat itu.

Jelas itu tidak cukup.

Sial, sial, sial, sial!

"Nah, gadis pintar."

Hermione merosot jauh di atas kursinya, lelah, sampai jarak pandangnya hanya sebatas laci meja yang kosong berdebu.

Sudah jelas Severus Snape merupakan bagian dari penyihir keturunan Merlin yang sering disebut-sebut di The Burrow waktu itu, dalam percakapan tentang penyusup. Serta Igor. Dan semua orang-orang dalam kelompok keturunan itu pasti sedang merencanakan sesuatu yang besar dan berbahaya. Entah tentang Kunci, Kotak, atau seseorang yang menderita buta rasa; Astoria?

Tunggu.

Jika memang terbagi dua jenis, dan mereka adalah penyihir bangsa Merlin, lalu...

Jenis yang satu, yang ini, Hermione dan kawan-kawan, itu apa?

.

.

.

000

Berjalan lunglai di koridor lantai satu, Hermione menggigil dari rentetan kejadian yang menimpanya beberapa hari terakhir. Ia merasa seperti kebanjiran banyak informasi tentang rencana tersembunyi musuh pagi ini. Namun hal itu tampak tidak ada gunanya jika Luna dan Draco benar-benar menghilang secara misterius. Sebenarnya, ke mana sih mereka? Apakah ia memang ditakdirkan untuk menjalaninya sendirian? Klasik sekali. Astoria jelas masih belum sadar dari pengaruh Prof Snape, sebab gadis itu mengacuhkan semua yang menyapanya. Termasuk para Vivax yang 'menyapanya' bertubi-tubi tanpa ampun, menarik paksa penjelasan-penjelasan mutlak dari Astoria Greengrass yang telah memilih untuk angkat kaki dari grup beken mengenaskan tersebut. Hermione sama sekali tidak tahu bagaimana cara membangkitkan alam sadar orang yang terhipnotis. Berbagai macam cara umum ia lancarkan, tanpa hasil.

Akhirnya ia mencoba untuk berkeliling ke penjuru sekolah, memikirkan jalan keluar yang lain.

Belum sampai lima menit menyusuri dinding luar perpustakaan utama yang bersekat, Hermione seakan lumpuh karena terkejut. Beberapa langkah di depan, Cedric Diggory melangkah santai dengan kamera digital yang menggantung di lehernya. Hermione terlalu lama tenggelam dalam bayangan misterius laki-laki itu tiga hari yang lalu dan menyia-nyiakan detik-detik yang tersisa– kesempatan untuk berbalik arah. Bagaimana kalau dia mencoba memotretnya lagi, namun sekarang dengan teknik terang-terangan?

Menahan napas dan memalingkan wajah nun jauh ke lapangan saat Cedric melewatinya, Hermione merasa beruntung. Cedric tidak mengatakan apapun, bahkan wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda merah jambu yang klise. Seakan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Udaranya memang masih sama seperti saat pertama kali, pekat dan basah. Mungkin lain kali Hermione harus belajar tentang jenis-jenis atmosfir dan udara seseorang yang sama dengan mereka dari Luna.

Hermione melanjutkan langkahnya, beranggapan satu rintangan telah terlewat sebelum,

.

.

Hai, White

.

.

Ketukan sepatu datar itu lantas berhenti. White. Cepat-cepat ia berbalik ke belakang, mengamati kejauhan. Iris cokelat madunya melebar dan tertuju pada satu titik; sepasang tangan yang tengah mengatur fokus lensa kamera, lalu menangkap potretnya.

Cedric Diggory mendapatkan foto keduanya. Tanpa membalikkan badan. Kemudian ia pergi menghilang di belokan perpustakaan.

White? Ada apa dengan panggilan itu?

"Aw!" jerit Hermione seketika, seseorang menabrak bahunya lumayan keras. Ia meringis sebentar, memprediksi bahwa penabraknya pasti laki-laki.

"Kupikir kau tidak akan berbalik, dasar bodoh!"

Terbakar emosi, Hermione menghadap ke samping dan sebuah kacamata bulat mendominasi penglihatannya penuh-penuh. "Masih banyak sekali ruang luas di sekitar sini dan kau memilih sengaja menabrakku? Ganti kacamatamu, pintar!" teriak Hermione memecah udara, secepat mungkin menjauhi Harry Potter yang balik berteriak tidak jelas.

"Jangan ganggu Cedric, chick! Ingat, aku melihatnya jelas tadi!" begitu katanya.

Hermione nyaris mati berdiri menahan gumpalan tawa yang tertahan di tenggorokannya. Mengganggu Cedric Diggory? Meretakkan rumah tangga pasangan gay terpanas sejagat sekolah? Ia akan melakukan itu semua jika sudah gila. Sebentar lagi, di bulan purnama.

Air mata konyol akibat tertawa mengaburkan pandangan Hermione lurus ke depan. Tidak peduli tatapan-tatapan aneh dan ngeri beberapa orang yang melewatinya, gadis itu tetap melenggang pergi. Hermione benar-benar harus mengucek matanya yang berkaca-kaca saat menangkap profil Luna Lovegood melintas dua puluh ubin di depan.

"Luna!"

Tak lagi memikirkan rasa sakit pada memar di bahu, Hermione menyusul cepat langkah gadis pirang itu. Tarikan napas pendek di tiap langkahnya seakan menunjukkan betapa banyaknya yang ingin ia bicarakan dan tanyakan pada Luna. Ini itu, ini itu.

"Luna! Lun–ah, please, stop," erangnya terengah-engah.

"Hermewinnie!" pekik Luna, setelah beberapa saat terlihat bingung. "Kukira kau tidak masuk!"

"Justru aku yang mengira kau tidak masuk!" semprot Hermione. "Kau ke mana saja? Ke mana Draco? Kenapa baru datang jam istirahat? Kau tahu hari ini aku nyaris seperti buronan?"

Luna mengajak Hermione untuk berpindah ke sebuah celah di dinding di samping loker terakhir. Wajahnya kelihatan berat sekali–seperti habis mengangkat berkilo-kilo karung beras, dengan kantung mata yang tercetak jelas bila foundation tidak menutupi itu. Ia hanya mengenakan kaus abu-abu yang agak lecek, jins rombeng tiga per empat, dan sepatu converse yang talinya tidak diikat sempurna. Rambut pirang tembaganya bahkan dikuncir kuda asal-asalan, Luna yang modis tidak mungkin berdandan seperti cewek hipster begini. Hermione jadi meredam serbuan kalimatnya melihat kondisi di bawah standar sahabatnya itu.

"Jadi... ceritakan semuanya, Herm!" ujar Luna sambil memijat-mijat punggungnya yang bersandar di dinding.

Hermione menggeleng, manik hazelnya yang cerah berbinar sementara mulutnya tetap tertutup rapat menyeret kerutan kening Luna. "Ada apa.. denganmu? Maksudku, mungkin dengan semuanya..."

Luna menarik napas panjang. "Draco," katanya.

"Ya?" Hermione memajukan wajahnya ingin tahu.

"Dia demam tinggi tiga hari kemarin. Kau sudah tahu, kan, masalah warna dan penglihatan kami? Tentu saja itu tidak berhubungan juga dengan mata. Sepanjang demam, kedua mata Draco terus seperti itu. Ia mengeluh sakit dimana-mana, punggung, lengan, kaki, dada, aku sampai ngeri melihatnya. Uncle Lucius pulang dari Costa Rica, membawa kenalan untuk memeriksanya. Dia bilang..."

"Dia bilang?"

Jeda detik berubah menjadi menit.

"Sesuatu merasuki tubuhnya."

"Sesuatu?"

"Ya, membuatnya banyak berdelusi yang aneh-aneh," bisik Luna sambil menggigiti bibirnya yang kering dan pecah-pecah.

Hermione menegak tak percaya. "Kemasukan Ruh? Satan? Itu tidak mungkin, 'kan?!"

"Kita itu sama-sama manusia, Hermewinnie. Itu mungkin terjadi."

"Roh Kudus melindungi Draco!"

"Semoga saja–"

"Tentu saja! Lalu?"

"Hari ini dia agak baikan," jawabnya singkat. "Tapi ada berita buruk lain, Siena mati mengenaskan di atas air."

"Siena? Itali?"

"Ah, maksudku itu nama Siren–duyung emas di Danau Hitam. Waktunya sama dengan kematian Hiccup, kebetulan? Aku benar-benar tidak mengerti."

Lesu, Hermione merespon, "Banyak yang belum kuketahui. Danau itu juga, yah, bodoh sekali."

"Makanya kau ada di sini untuk mendengar semuanya sekarang," jawab Luna kalem.

"Oke, lanjutkan."

"Lalu, Ruang Heksagon di bawah pohon Dedalu Perkasa mulai beraktivitas dua hari terakhir. Itu ... menimbulkan banyak tanda tanya. Mungkin juga malapetaka–"

"Tunggu," sela Hermione, mengatur napasnya. "Ada ruangan di bawah pohon nakal itu?"

"Kukira Draco sudah memberitahumu?"

Hermione menggeleng, kembali pada pengalaman gilanya dengan pohon tersebut.

"Itu adalah ruangan keramat. Ruangan suci. Hanya dapat terbuka pada hari-hari besar, kesucian, atau upacara Raja. Bisa juga sebagai Kalender Peristiwa."

"Oh, keren. Kapan-kapan aku harus melihatnya. Nah! Kenapa kau tidak memberitahuku saat Draco mulai demam dan segelintir masalah muncul di sana? Aku kan bisa pergi?!"

Luna tampak diam sebentar untuk memilih kata-kata. "Oh.. Uncle Lucius belum siap untuk melihat Raja."

Menyipit. "Kenapa?"

"Maaf, Hermewinnie. Bahkan aku tidak diizinkan untuk melihat alasannya."

"Oh." Hermione memaksa diri untuk tersenyum lebar.

Luna pasti merasa tidak enak karenanya, karena gadis blonde itu langsung mengalihkan pembicaraan. "Apa kabar ibumu?"

"Sepertinya baik-baik saja. Kemarin dia sempat pulang dari terapi dan aku meminta uang lebih, hanya itu. Dan dia kembali lagi ke sana." Hermione mengguncangkan kantung celananya yang berbunyi uang receh, serta lembaran poundsterling yang belum sempat diatur ke dalam dompet. Pada saat itulah, seplastik kecil pil pereda sakit kepala menggelinding keluar kantung–terdesak volume uang yang ada.

"Masih sering sekali sakit kepala, huh?" kekeh Luna dengan nada prihatin.

"Yeah, tapi beberapa hari terakhir tidak. Ini cuma untuk berjaga-jaga."

Tiba-tiba gestur tubuh Luna mulai menegak; sinar mata birunya yang seperti senter seakan bertambah terang dan menyilaukan. "Beberapa hari terakhir? Kapan tepatnya?"

"Hmm," berpikir, "Sejak terakhir bertemu kalian."

"Eh?"

Hermione tersadar satu hal. "Eh ya, bukan berarti kalian penyebabnya. Itu serius, mungkin sakitnya mencoba mempermainkan kita."

Luna diam saja, memperhatikan Hermione dari atas rambut sampai ujung kaki. Otaknya memindai sesuatu, kemudian tercubit rasa pernasarannya. Ada yang hilang dari sosok Raja Muda.

"Apa aku lebih jelek lagi hari ini?" tanya Hermione samar, yang dijawab dengan ledakan tawa.

"Bukan, malahan lebih fantastis hari ini!"

Memutar bola matanya. "Mustahil aku terlihat seperti itu. Sekarang giliranku bercerita.."

"Pernahkah Draco bercerita tentang seorang pria berasi bintang Lynx? Pria itu–"

"Severus Snape adalah professor penggati Mrs Burbage hari ini dan–"

"HA!" jerit Luna mendadak, hal itu membuat Hermione menghentikan bicaranya dan mulai kehilangan keseimbangan.

"Sorry!" Luna cengengesan, sebelum kembali serius. Namun kali ini Hermione tampak berseri-seri di tempat. Butiran es serasa mengalir di sepanjang punggungnya.

"AHA! TENTU SAJA, IYA ITU DIA! SI REDUP!" Hermione merutuk dalam hati. Betapa bodohnya ia bisa lupa, lupa, lupa, lupa bahwa Draco pernah bercerita tentang Severus Snape si Lynx yang redup dan... "dia kehilangan seorang anak?"

Luna mengangguk setuju.

"Ceritakan aku tentang anaknya nanti. Lalu?"

"Aku baru saja datang dan ingin melihat ruangannya dari luar tadi. Draco membutuhkan ramuan khusus untuk penenang, tapi ternyata Snape tidak ada di gubuknya. Dan para pixie memberitahuku kemana dia pergi. Ke sini? Hal-hal yang mencurigakan memang tidak pernah jauh dari dirinya. Snape itu seorang penjilat, pengkhianat kecil. Tapi itu masa lalu, aku tidak tahu apa kali ini dia akan berkhianat besar-besaran."

"Kalau begitu kau berhasil," ucap Hermione sok misterius.

"Apa? Memangnya ada apa?"

Hermione berdeham sejenak lalu melipat kedua tangan. "Tadi kami disuruh mengkristalkan sebuah Kunci. Aku tidak tahu pasti itu untuk apa, tapi kelihatannya penting sekali. Dan ..."

Hermione Granger menceritakan ulang seluruh kejadiannya secara detil dan tidak kurang atau lebih sedikitpun. Praktis. Hingga ke tipe selimut udara Prof Snape yang kering dan berat dan menjengkelkan.

Setelah selesai, Luna tampak seperti penderita Alzheimer yang menakutkan. Bahkan ia sempat bertanya dengan bodoh, "Aku benar-benar ada di sekolah, 'kan? Bukan mimpi buruk?"

Hermione melengos. "Tentu saja bukan."

"Oh.." Luna mencubit-cubit tangannya, yang segera dihentikan Hermione dengan malas.

"Dan kira-kira, kapan Greengrass sadar kembali?"

Luna mengecek jam tangan rotan bermotif rumit khas gaya Aztec miliknya, menghitung waktu yang disebutkan Hermione pagi tadi. "Sekitar lima menit dari sekarang. Jadi, kalian sudah berbaikan?"

"Lalu, dia mengucapkan kata yang tampak bermakna aneh bagiku, karena artikulasinya. Victory itu apa?"

Tentu saja, gadis Lovegood itu sama sekali tidak melewatkan fakta bahwa Hermione sengaja tak menjawab pertanyaan terakhirnya. Tapi ia tetap melanjutkan, "Lingkaran V. Cerita yang panjang. Sejarah itu benar-benar ada!"

"Apa sih maksudmu? Oh, kalau tidak salah, si centil Bones itu pernah menanyakannya dalam jam Sejarah dan dijadikan pekerjaan rumah. Tapi bahkan aku terlalu malas untuk mencarinya di Google."

"Raja Tut... Raja Tut sungguhan bersosialisasi dengan Raja Pertama kita!"

"Tutankhamon?"

"Betul, Hermione!" Luna jelas super girang, matanya melebar senang sekali. "Tentang simbol ular itu, ular yang melingkar membentuk huruf S, kan? Itu memang tattoo kebanggannya."

"Bukan," desis Hermione kesal, "tapi ular yang memakan ekornya sendiri."

"..."

"Apa?"

"..."

Mulai takut. "Halo? Kau tidak punya riwayat sakit jantung, 'kan?"

"Kau yakin, sungguhan memakan ekornya sendiri?"

Begitu Hermione mengangguk takut-takut, Luna langsung memucat. Sebetulnya sulit sekali menentukan apakah orang berkulit pucat bisa lebih pucat lagi. Tapi aura menggigit Luna sudah cukup meyakinkannya, lama sekali gadis itu terpaku menerawang sisi loker di sebelah telinga Hermione..

"Simbol Squamatas Darah Ungu, itu sudah lama sekali, seharusnya..."

"Kalau boleh secepatnya kuketahui, memangnya lingkaran V itu sebenarnya apa? Semacam... pertahanan kelompok kita?"

Luna memandang gadis itu, lama. Ketegangan menggantung begitu mematikan.

"Bukan, bukan pertahanan. Semacam pondasi, kerangka. Kunci, Kotak, K–wait, KUNCI-NYA ADA PADANYA?"

Dengan gugup, dan keadaan di sekeliling mulai mengabur, Hermione berujar pelan, "Jadi... ini jauh lebih buruk...?"

.

.

.

000

Di situasi dan tempat yang ramai sekalipun, kau akan tetap termotivasi untuk mengahap balik seseorang yang tengah mengamati dari kejauhan, dengan satu tujuan yang kokoh. Contohnya, kafetaria dan Astoria. Yang benar saja, iramanya mungkin kebetulan sama. Namun memang sepertinya Tuhan selalu memiliki rencana jodoh terbaik yang indah di setiap hal, sekecil apapun. Mungkin pasangan-pasangan dalam rima juga.

Kembali ke akar, sekeras apapun dirimu, katalis itu akan tetap menggoda kumpulan saraf-sarafmu.

"Kemari, Astoria." Gadis berambut jahe melambai tenang di meja bulat dengan dua kursi saling berhadapan.

Astoria membimbing nampannya ke tempat itu, terpaksa karena tidak ada lagi pilihan. Ia sempat linglung mendadak saat bersiap-siap duduk, tetapi dengan cepat Astoria kembali mendapatkan pikirannnya.

"Terima kasih, Ginevra," ucapnya agak tidak peduli, kemudian mulai fokus pada kentang panggang keemasan di piring. "Terima kasih lagi untuk tidak mengganggu dengan pertanyaan-pertanyaan Granger ala kalian yang memuakkan. Itu keputusanku."

Mengatupkan rahangnya kembali, Ginny mengaduk puding figgy bersaus kental sambil terkekeh kecil. "Kalian? Apa maksudmu Vivax?"

"Hn." Satu suapan masuk ke mulut.

"Aku malah tidak ingin disebut seperti itu, kalau kau mau tahu."

Astoria berhenti dan menatap lawan bicaranya tajam. "Nah, katakan saja langsung. Apa sikapmu yang seperti itu merupakan satu dari rencana kalian yang patut kuacungi jari tengah, karena jelas aktingmu amatir sekali? Dengar ya, Gin, aku mulai dekat lagi dengannya karena kami memang pernah dekat. Untuk alasannya, silahkan pikirkan sendiri. Kau berhak memiliki rahasia dan aku juga. Jadi, beres."

"Aku juga pernah dekat." Ginny mengangkat sebelah alis, merefleksikan kekesalan mendalam akibat serangan tuduhan yang tiba-tiba.

"Kau meninggalkannya."

"Itu karena aku ingin menjauhi masalah. Bukan termakan omong kosong yang sebagian ada benarnya dari kalian saat itu," kata Ginny ketus. Ia memakan pudingnya ganas alih-alih lapar, Astoria menyadari itu dan menghela napas skeptis.

"Dia memang masalah–"

"Definisi masalah yang kumaksud berbeda dengan masalah kalian. Haah, bahkan kebencian remeh kalian nyaris tak beralasan seperti bocah kecil ingusan yang gemar berkubu-kubu berdasar kasta buatan sendiri."

Astoria mulai panas, alisnya menekuk terlalu rapat. "Sebenarnya kau punya berapa banyak wajah, sih, Ginevra? Cerdas sekali, eh? Dan tolong jangan bertingkah sok rahasia."

"Apa kau termasuk orang yang bisa dipercaya?" tanya Ginny mengabaikan kata-kata Astoria. Air mukanya berubah serius dan datar. Ketika gadis Greengrass itu mengernyit mengamati steak daging sapi yang mulai dipotong-potong kecil olehnya, Ginny mengulang kalimatnya sekali lagi.

"Tentu saja, Red! Aku bukan Vivax lagi, dan kupikir kau juga bukan–lagi. Apa masalahnya?"

Ginny menjentikkan jemarinya di udara. Sekejap, oksigen seakan menghilang dari medium, membuat Astoria terbatuk-batuk sebentar. Suara-suara gaduh yang menyelubungi kafetaria teredam pengap dalam pengaruh jentikan itu, lalu semua normal kembali.

"Apa itu?" tanya Astoria curiga. "Bau bulu hewan."

"Antisipasi penguping yang berbahaya."

Sesuatu menyala-nyala di otak Astoria Greengrass, sebuah pemahaman baru tentang manusia di hadapannya. Tapi bibir gadis beraroma citrus pekat itu memutuskan untuk menunda peluncurannya.

"Keluargaku werewolf," aku Ginny datar, seolah pembicaraannya tidak akan menarik. Namun sudut bibirnya tertarik sedikit ke dalam.

Astoria menyandarkan punggungnya di kursi secara perlahan. Berdiam. Tidak ada perubahan apapun yang mencolok di wajahnya. Alis hitamnya yang setajam burung elang dan meruncing di ekor seperti ujung bulan sabit, tetap di posisi memayungi tatapan penasaran samarnya. Respon yang agak kurang, sebetulnya Ginny tidak terlalu berekspektasi soal kemungkinan-kemungkinan Astoria bakal kaget, atau malah menertawainya dan segera pergi dengan melabelinya sebagai Lunatic. Memang ada yang tidak beres tentang gadis ini.

"Hanya pada gen laki-laki itu akan turun. Jika memang ada pada perempuan, infeksi permanen atau keturunan langsung yang murni adalah alasannya. Menjadi bagian dari mereka mungkin merupakan sebuah kehormatan daripada manusia-manusia biasa lain di muka bumi ini. Hidup di alam bebas, menjaga sekaligus menguasai konifer, disegani segala aspek, dikelilingi kemudahan praktis, memiliki segala akses, bersaudara dengan para pelempar cayaha dari ujung tongkat.." suara Ginny mulai memudar di bagian itu. "Tapi, sayangnya diriku tidak sepaham dengan hal itu. Menangkap maksudku?"

Astoria mengangguk kecil, mulai ramah, mengunyah kentang terakhirnya sebelum berujar, "Kau terasingkan dari keluargamu sendiri karena perbedaan yang sangat jelas. Dan kau berusaha menjauhi mereka–karena mereka masalahnya, begitu?"

"Baik, kau baru saja menyebutkan inti dari semua alasanku. Soal itu, kau hampir benar. Dari awal aku sama sekali tidak mengetahui darimana kami berasal. Atau merupakan apa. Setiap aku bertanya pada setiap dari kami, sebagian berkata kami adalah ras superior dari bangsa asli Mesopotamia yang menyebar, sebagian lagi bilang hanya kami yang tersisa dari koloni pendatang dari luar Bumi, sumber lain mengatakan kami semua berawal dari penduduk Atlantis yang berhasil selamat–dan asal-usul itu saja sudah bermasalah.."

"Ya, aku sepenuhnya paham. Tapi.. bukankah itu berarti kau ada hubungannya dengan Granger?"

Ginny mengernyit, tapi wajahnya menunjukkan arti ketertarikan mendalam. "Kenapa kau langsung mengambil kesimpulan seperti itu? Kita bahkan belum membicarakannya."

"Insting."

"Insting manusia biasa tidak setepat itu," jawab Ginny dengan senyum yang tidak mencapai mata.

"Menurutmu aku ini bukan manusia biasa? Lalu apa? Jelmaan peri hutan?" Astoria merengut. "Ayolah, kebetulan kecil tidak perlu digelembungkan sebesar ini."

"Tidak semua kebetulan berdasar pada ketidaksengajaan semata."

Menarik napas kesal, Astoria menarik tubuhnya untuk mendekat dengan si gadis Weasley. "Begini, tadi kau sempat bilang tentang 'pelempar cahaya dari ujung tongkat'–ingat itu? A witch, yes? Pikiranku langsung terlempar jauh pada Granger dan seluruh riwayat kelakuannya di sekolah ini. Dia aneh, dan segala kekuatan magisnya itu mengusik ketenangan orang-orang yang peka di sini, termasuk aku. Berada di dekatnya pun bukan suatu kejutan karena auranya nyaris mirip dengan–" ia berhenti, terkesiap seperti melihat hantu. Udara seolah direnggut paksa dari paru-parunya. Bahaya.

"Ya?" Ginny menunggu-nunggu kalimat selanjutnya seakan menunggu sebuah kejutan baru. Untuk pertama kalinya ia melihat sorot baru di iris hitam pekat Astoria, sesuatu yang, seandainya Ginny tidak tahu gadis itu sangat bisa mengontrol emosi, akan ia sebut rasa takut.

Tapi Astoria tampak memilih untuk tidak melanjutkan dan bertanya sesuatu, yang membuat Ginny agak terkejut juga. "Kau selalu memesan yang setengah matang," tunjuknya dengan mata pada steak di piring Ginny. "Kenapa?"

"Beberapa hal dalam werewolf melekat pada diriku–yah, tidak semuanya," jawab Ginny enggan. Kemudian suaranya berubah menjadi tenang yang aneh, "Lanjutkan ucapanmu tadi." Sekarang ada nada tajam yang menggarisbawahinya, bagaikan sebuah pisau yang dibungkus beledu.

"Itu akan membongkar alasan bocah ingusan yang kau bilang tadi," ujar Astoria dengan suara yang berdecit, tampak kesulitan untuk tetap anggun.

"Katakan."

Hening membungkus mereka beberapa saat.

Ia menghela napas dalam. "Baiklah... Ternyata ayahku sama dengan..." Astoria menelan ludah keras-keras, "–kalian. Tapi itu tidak menurun pada kami anaknya, karena ibuku wanita biasa–dan ia (kabarnya) meminta untuk memblokir apa-apa yang mungkin akan terjadi sejak kami lahir atau memang gen dominannya yang lebih kuat. Entah kami disebut apa itu–Squib?"

Ginny mengerjap dua kali, luar biasa terkejut akan fakta segar namun terasa berbahaya yang baru diterimanya. Ia kembali bertanya, "Ternyata?"

"Aku baru mengetahuinya setahun yang lalu," jawab Astoria pendek. Suasana hatinya jelas sekali berantakan, berkali-kali ia menghela napas di tiap kesempatan.

"Berarti... perasaanmu pada Granger sama dengan untuk ayahmu sendiri?"

Astoria balik menatap Ginny tepat di mata. "Bukankah itu juga berlaku padamu? Dan perasaanmu terhadap keluargamu? Jika aku menjawab: ya, apakah kau baru menyadari bahwa sebenarnya kita ada di posisi yang sama?" ujarnya membela diri.

Menggeleng lemah, Ginevra Weasley lalu menelengkan kepala ke satu sisi, enggan menatap gadis didepannya yang mulai menuntut banyak hal. "Dilihat dari satu sisi mungkin sama. Tapi aku menjauhi mereka dengan cara lain: membuat mereka benci padaku dengan tingkahku yang menunjukkan sebesar apa aku tidak menyukai mereka. Selesai itu, sudah. Aku tidak menyimpan dendam apapun, hanya memang ingin menghindar demi kehidupan yang kumau sendiri. Tujuanku yaitu untuk tidak ikut campur ke dalam masalah mereka. Aku cinta kebebasan. Sedangkan kau? Kau membenci mereka tanpa alasan. Cuma kata benci. Ayahmu pasti akan sangat menyesal sekali jika mendengar itu, dan memilih takdirnya diatur ulang dari awal. Supaya ia tidak akan menjadi apa-apa, dan supaya anaknya tidak jadi membencinya.."

Astoria terdiam, memproses kata-kata Ginny hingga ke titik-koma, dan hati kecilnya membenarkan keseluruhannya. Ginny memang pembaca yang baik.

Pembaca yang baik?

Tunggu...

"Dan sekarang kau memutuskan untuk mendekat lagi pada Hermione Granger... Asal kau tahu saja, ya, dia memang yang terkuat di kalian saat ini. Kau mendekat untuk satu alasan, 'kan?"

Adik dari Daphne Greengrass itu mengejang, mulai tahu ke mana arah percakapan ini berkembang. "Alasan apapun itu... kau tidak berhak tahu," tekannya dingin.

"Hm, sayangnya, bagaimana kalau aku tahu?" tanya Ginny menantang.

Sesuatu seolah merayap di tangan seputih porselen milik Astoria, bulu-bulu halus di tengkuknya serempak berdiri. Suara di dalam dirinya berteriak, 'Tidak! Tidak ada lagi jalan lain..'. Dengan bibir merah muda sewarna cherry yang bergetar, ia berbisik pelan, "Rencanaku pasti hancur, kau akan memeringati Granger lebih dulu–"

Ia tertawa lebar. "Aku tidak sehina itu, tahu? Lagipula, tanpa diberitahu pun Granger sudah lebih dulu tahu apa yang ingin kau lakukan padanya–menurut penglihatanku. Waktu itu aku juga melihatmu, lho, di balik pilar itu.."

"Menjauh dari pikiranku, Ginevra," desis Astoria, tak tahan lagi. Harga dirinya bisa merosot jauh mengingat apa yang dilakukannya ketika Draco dan Hermione makan bersama dengan penuh sukacita diiringi semburat merah muda klasik di masing-masing tingkah dua orang itu. Kilasan tersebut membuat sesuatu di belakang matanya mulai membara lagi.

"Yah.. Lagipula Tuhan juga peramu takdir yang sama jenius dan artistiknya seperti Picasso. Keputusanmu melancarkan rencana-Nya, dan kalian akan dihadapkan oleh banyak peristiwa besar."

"Maksudmu? Hei, daritadi kau menyebutku sebagai 'kalian' seolah-olah aku ini bagian dari mereka. Ingat, aku bukan penyihir, seperti mereka. Darahku sudah tertutup untuk itu. Kalau betul kau mahir membaca segala hal, sudah pasti sebenarnya dari mana kita berawal? Asal usul yang tadi?"

"Sebentar lagi, kau akan banyak melawan hal-hal batil bersama mereka. Itu hidupmu. Bahkan saat ini kau sudah masuk ke ujung kuku pusaran masalah mereka yang kumaksud. Mengenai itu, aku tidak diberkahi untuk melihat masa lalu. Hanya detik yang berlalu sekarang dan lini masa depan," ucap Ginny santai. Matanya melirik jam di dinding kafetaria. "Sepuluh menit menuju bel, ada lagi yang ingin kau tumpahkan? Kurasa aku sudah selesai, meluruskan persepsiku untuk hidup damai dan tidak mengganggu kalian semua, apalagi kepada Hermione Granger. Sudah cukup."

Flyer cheers Sekolah Tinggi Hogwarts itu membenamkan wajah di atas tangan yang terlipat di meja. Pikirannya berlomba, mencari titik terang di garis finish yang entah ada ataupun tidak sama sekali. Masalah apa lagi ini? Tidak cukupkah keadaan di rumah membuatnya lebih dari sekedar ingin bunuh diri? Ia ingin mencoba untuk mendapatkan sedikit cinta di sekolah, karena di rumah begitu sulit. Bahkan Daphne tidak membantu sama sekali. Bayangan ibunya yang akhir-akhir ini kerap berpergian dalam jangka waktu lama dan jarang berbicara banyak mendesak setiap partikel kecil yang berdenyut-denyut di otaknya.

Mencoba kuat.

Ginny menangkap kesan kritis terhadap realitas seorang Astoria Greengrass, yang jelas berbanding terbalik dengan ekspektasi orang-orang yang berada dibawahnya.

Akhirnya ia mengangkat kepalanya, memperlihatkan mata gelap berisi keputusasaan yang mulai berkaca-kaca tertutupi helaian surai berwarna sama. "Bisa katakan... masalah apa yang baru kumasuki?"

"Lihat," ujar Ginny pada piring kentang miliknya. "Mustard yang kau ambil terlalu banyak dan kau menikmatinya seolah itu gula? Tidak merasa pahit?"

"Tidak.." Astoria berpikir sejenak, teringat pertanyaan yang sama dilontarkan oleh Hermione. Cairan PTC itu memang sama sekali tidak ada cita rasanya. Apa itu titik masalahnya? "Oh.. ya. Itu, aku harus bertemu Snape nanti."

"Sebaiknya tidak perlu."

"Kenapa? Itu memperburuk?"

"Tapi terserah. Ikuti dirimu."

"Hmm, baik. Kalau boleh tahu, dimana saja kau selama ini, maksudku sebelum pindah ke sini?"

"Berkeliling dunia. Tapi terlalu sulit memanggul beban berat kerinduan pada keluarga, jadi aku kembali menyewa sebuah flat di dekat Summertown."

"Wow, keren." Ia berusaha tersernyum. "Dan, apakah tradisi imprint pada jenismu ikut turun..?"

Ginny tampak kemerahan mendengarnya. "Ya."

"Kau sudah bertemu dengannya?"

Anggukan.

"Di mana?"

"Negeri Sakura," jawab Ginny samar, lalu terkekeh tidak jelas.

"Jepang... lumayan." Astoria ikut terkekeh sambil menggoda, tapi air mukanya meredup kembali. "Kau benar-benar tidak mau bergabung dan membantu kami? Bisakah kau melihat ke masa depan, apakah aku tetap berusaha mendap... yah, kau tahu..."

Ginny tersenyum tulus kali ini. "Sejak saat itu kau memang telah memiliki keinginan untuk terus berteman murni dengannya, sampai sekarang pun masih. Kabut itu akan runtuh perlahan, dan kaulah yang akan menentukan takdirmu sendiri. Aku tidak bisa bicara banyak, karena masa depan kita yang kulihat bercabang-cabang dalam badai pasir."

Tidak ada jawaban. Derum rendah keramaian kafetaria mengisi keheningan. Ginny menghela napas panjang lalu menatap gadis didepannya tepat di mata, secara tersirat menggambarkan ekspresi simpati-namun-kokoh.

"Maaf, tapi aku tetap pada keputusanku," katanya sambil mulai merapikan sampah makanan yang tersisa. "Jangan lupa, Tuhan pengatur yang bijaksana."

.

.

.

000

Laki-laki itu membuka matanya lebar dari pejaman untuk meredam sensasi menyakitkan yang bergelung menyesakkan diri. Angin hari-hari terakhir musim panas meniup rambut pirangnya menjadi seperti sisa-sisa jerami busuk berbau manis di kandang kuda. Khas aroma pedesaan. Padahal Draco bukan baru saja selesai mengikuti pengobatan alternatif yang biasa dilakukan dalam lumbung padi Monksby saat bulan purnama. Ia sengaja duduk di tempat yang banyak dilalui angin, dengan harapan bisa mengusir deretan ketegangan mematikan dalam kanal pikirannya. Halaman berumput terbentang luas di hadapan, yang tadinya sehijaun zaitun kini kering dan menguning mirip jagung–karena penggunaan slang air penyiram kini dilarang, sekarang itu pasti merepotkan Mr Filch, dengan berember-ember air bercat merah yang siap siaga di tiap sudut halaman.

Burung-burung gereja berterbangan riang lima kaki di atasnya, dekat puncak atap pintu timur. Terbang bebas ke utara, selatan, barat, dan timur... Keadaan selama sakit membuat Draco trauma pada ruangan sempit dan gelap. Dokter rumah sakit mencapnya mengidap kasus semacam klaustrofobia. Sementara Madame Pomfrey tidak banyak bicara dan tampak terlihat pucat setiap memeriksa tekanan darah dan detak jantungnya yang sedikit tidak normal. Draco mendaratkan tangan di dada untuk mendengar bunyi-nya, dapat. Tapi samar sekali, seakan-akan jantungnya terletak di mata kaki. Kembali teringat bayangan Madame Trelawney tentang energi hitam mencurigakan yang menghalangi penglihatannya dalam upaya penyembuhan dengan Rekondisi Jampi Memori Penyakit pada malam itu.

Entah apa penyakitnya...

Draco menghela napas berat. Belum ada yang berhasil tahu.

Tapi, ular itu... di malam hari koridor Malfoy Manor yang tiba-tiba menyempit seperti dinding-dinding arcade...

Bunyi lengkingan peluit yang dikenalinya bergaung mencapai telinga, membuat seekor kucing berbulu lebat dengan kaki pincang yang tadi berleha-leha di dekat kakinya sampai melesat kaget menuju semak-semak terdekat. Masih banyak lagi yang lain, sebetulnya, tapi itulah salah satu Madam Hooch's Effect. Setelah mendongak menatap gambaran awan yang menggumpal padat menutupi matahari terik jam dua belas, Draco menyusuri sinar yang berhasil lolos dari celah kecil di awan sampai ke tanah, ternyata hal itu menuntunnya pada objek yang bergerak jauh di ujung sana. Seorang laki-laki jangkung berambut warna cokelat tembaga menghampirinya sambil berlari-lari kecil, bersama handuk dan bertotol-totol keringat di sekujur tubuh.

"Hoi–kawaaan–sudah...–merasa–baikaaan?" katanya putus-putus, berhenti tepat di depan Draco dengan kedua tangan menumpu pada lutut yang ditekuk.

"Menurutmu, Ced?" Draco merentangkan tangan dan kakinya, memutar badan satu kali ke kiri dan kanan–stretching, lalu bersiap-siap berdiri.

"Yaaah." Cedric mengentak bahunya pelan. "Sakit atau tidak, kau tetap terlihat sama saja..."

Pemuda Malfoy itu terkekeh dengan satu mata terpejam. "Berapa lama lagi aku sembuh? Dan kalimat itu tidak akan pernah berkumandang lagi karena mulut pemiliknya telah lenyap."

"Jadi... ini hari-hari kemenanganku! Yi-haa!"

"Hentikan kegilaan ini, Ced." Draco berkata jengkel saat pemuda Diggory itu mulai mengibas-kibaskan handuk sialannya yang basah seperti kain pel. Mata sebelah kirinya berkedut cepat sebelum akhirnya mulai memerah dan berair.

Cedric merengut sejenak, untuk sekian kalinya memandang Draco dengan raut bingung bercampur kesedihan. Jemari Cedric yang diam menggantung bergerak kecil di sebelah pinggang, membuat sekumpulan udara tabung aneh menggoyangkan sebagian rumput di area tempat sepatunya berpijak. Kucing pincang biasa yang muncul dari semak-semak tadi mengamatinya, seolah-olah rumput bergoyang tanpa angin itu adalah ikan tuna segar dan tanpa sadar...

Mamalia menyusui itu ikut bergoyang pelan.

Terhanyut.

"Selamat kembali ke lapangan, Mayor!" teriaknya setelah menjauh.

.

.

.

000

"DIA PINGSAN! BERDARAH!"

"APA YANG KAU PERBUAT SIH, DIGGORY?"

"HEI, KAU YANG GILA! SUDAH KUBILANG AKU TIDAK BERBUAT APA-APA, LOONY LOVEGOOD! MUNGKIN DIA BELUM KUAT SOAL PAPARAN MATAHARI DI ATAS JAM DUA BELAS!"

"OMONG KOSONG, DIA BUKAN VAMPIRE. PARA SAKSI BILANG KAU MENCOBA MELAKUKAN SESUATU YANG ILEGAL PADANYA!"

"OH YEAH, MUNGKIN DRAKULA? DENGAR, AKU BERUSAHA MEMBUATNYA MENGHINDARI DARI HANTAMAN BOLA ANTHONY KARENA DIA SEDANG LENGAH! DRACO-SEDANG-MELAMUN! SEBELUMNYA ANAK ITU MENGELUH PENING LUAR BIASA DAN AKU, SEKALI LAGI, MENCOBA MEMBANTUNYA! APA ITU I-L-E-G-A-L, L-O-V-E-G-O-O-D?"

"Hentikan bicaranya." Hermione menyela dengan ekspresi datar nyaris tidak terbaca, setelah itu suasana mendadak menjadi hening yang tidak mengenakkan. Kepalanya sudah cukup terbebani batu besar kasatmata yang seolah dijatuhkan dari termosfer saat mendengar berita buruk tentang Draco, dan perdebatan konyol yang dilakukan Luna dan Cedric sejak mereka berdesakan di ambulans malah semakin membuatnya nyeri hebat. Para penjenguk lain yang duduk di dekat mereka kelihatan begitu memuja Hermione, sebab ternyata bisikan perintah untuk diam dari para perawat yang lewat tidak mempan terhadap dua manusia batu itu. Bunyi mesin cetak berkeretik, panggilan telepon yang kelewatan –tak kunjung diangkat, tangisan bayi di ujung sana dan lalu-lalang perawat rumah sakit semakin memuakkan didengar. Baik Cedric Diggory maupun Luna Lovegood yang sepertinya baru menyadari bahwa sedari tadi gadis berambut cokelat bergelombang itu mengeluh untuk pertama kalinya di belakang mereka, sama-sama terdiam untuk mengontrol emosi dengan saling menjauh satu sama lain. Luna beringsut kejam ke sisi seberang kiri–setelah melempar tatapan sengit kepada laki-laki itu, sementara Cedric di sisi kanan. Hermione berdiri tenang menunggu perawat pertama yang tadi mengusung Draco ke dalam ruangan. Dadanya berdebar keras tak karuan, sementara pikirannya tak henti bermain dengan hipotesis-hipotesis buruk apa saja yang terjadi pada Draco. Menurut kronologis, mulanya cowok itu mimisan sederas slang air, lalu sempoyongan seperti habis ditonjok dan dicekik, kemudian langsung tak sadarkan diri di tengah-tengah lapangan. Sebetulnya belum ada pihak yang bisa disalahkan dalam peristiwa ini. Semuanya murni dari Draco sendiri. Tak lama kemudian Hermione bisa melihat dari jendela kecil yang tersemat di pintu kamar bahwa perawat itu akan segera keluar. Pintu terbuka dan Luna langsung menyerbu si perawat tanpa menghiraukan rintihan sakit Cedric yang terhantam sikunya secara tidak sengaja.

"Hanya keluarga," ucap perawat berkacamata persegi itu dingin kepada ketiganya. Luna membuang napas kecil, menatap Hermione penuh dengan beribu penyesalan dan permohonan maaf.

"Tapi, maksudku, jika orang tersebut juga bisa disebut keluarga, yah, emm–" Luna mengeksplorasi seragam perawat itu untuk mencari tanda pengenal. "Mrs Adeline?"

Mrs Adeline menggeleng tegas. Kepalanya miring sedikit, memperhatikan mereka satu persatu. Sepertinya tepat sekali ia berpikir kalau memang hanya rambut pirang pucat Luna satu-satunya yang mengindikasikan hubungan keluarga dengan pasien.

"No problem. Cepat masuk, Lun." Hermione mendorong punggung mungil Luna dan mendapatkan sedikit keuntungan untuk mengintip kondisi Draco di dalam kamar. Pucat seperti biasanya, tertidur dan tambahan aksesori selang hijau tosca dimana-mana. Tanpa sadar Hermione meringis. Seiring menjalarnya serangan rasa empati di sekujur tubuhnya.

Seolah rasa sakit Draco ikut bergerilya menembus organ-organ dalamnya.

Pintu tertutup kembali. Cedric membanting tubuhnya di kursi panjang perak dengan geram. Kaki kirinya dilipat naik ke atas kaki kanan dan ia mulai menumpu dahinya dengan punggung tangan yang terkepal. Sebagian kursi di koridor lantai empat rumah sakit umum ini penuh diduduki pembesuk dan pasien-pasien yang bosan meratap di kamar sendirian dan butuh keramaian yang gamblang. Hermione melihat tidak ada pilihan lain selain duduk di sebelah pemuda super aneh itu. Pacar dari Harry Potter. Hi, batinnya sambil bergidik.

Saat perlahan-lahan Hermione mulai duduk di sebelah Cedric dan pertanyaan-pertanyaan tentang pemuda itu yang siap meledakkan otak berharganya kapan saja berkeletup, ia membuka pembicaraan.

"Nah, mungkin perawat itu pikir kita keluarga si penabrak karena warna rambut yang sama."

"Maaf?" Hermione mengernyit tidak nyaman ke arah Cedric.

"Tidak," jawab Cedric tanpa menoleh, kemudian menyenderkan kepalanya menghadap langit-langit dan kembali terpejam.

Merasa humornya sama sekali tidak lucu, Hermione memutuskan untuk mengacuhkan Diggory dan mencoba tenggelam dalam kumpulan sajak Emily Dickinson yang dibawanya. Sesekali fokusnya berpindah pada hilir mudik para dokter, perawat, dan pasien yang dominan mengenakan baju khusus berwarna hijau limau dengan clipboard di lengan serta bau-bauan antiseptik yang khas. Mereka semua saling mengernyit satu sama lain; meringis aneh; berulang kali memasang topeng-topeng ketegaran semu yang berbeda di setiap pasien; dan masih banyak lagi. Sebetulnya Hermione membenci apa yang disebut rumah sakit. Dan segala tetek-bengek itulah jawabannya.

Terdengar suara gemuruh dari arah barat koridor ketika Hermione mulai sadar kursinya agak bergetar. Sekitar enam orang yang diasumsikannya sebagai perawat laki-laki dan dua sisanya adalah seorang polisi, berjalan cepat dari kejauhan; dengan barisan yang terlampau terlalu rapat hingga terkesan menutupi sosok pasien yang terduduk di kursi roda. Jika pasien itu sungguh-sungguh mengidap penyakit yang lebih mematikan dari HIV/AIDS hingga memerlukan pengawalan ketat polisi, Hermione sudah menyiapkan masker darurat yang tadi dibelinya di apotik bawah. Untuk jaga-jaga.

"Permisi! Permisi!"

Saat rombongan gaduh itu melewati kursi Hermione dan bagian roda besi itu nyaris menyerempet kedua lututnya, Hermione mencoba menyipitkan matanya melewati celah lengan-lengan besar si kedua polisi, kemudian mendapati sang pasien menggunakan sesuatu seperti ketopong baju zirah di museum-museum. Kelihatannya kepalanya terus bergerak-gerak mengerikan, mungkin hidung atau mulutnya berusaha mendesak keluar. Entah dia epilepsi atau keracunan atau semacamnya, pikir Hermione ngeri. Seutas pita hitam meloncat keluar dari sela-sela penutup besi tersebut seraya menjulurkan lidahnya–mendesis sangat aneh sampai Hermione mengejang diserbu fakta bahwa pita hitam ternyata merupakan ular kecil yang mengerikan. Hermione terdiam lama, mencerna semuanya setelah pasien menyeramkan itu lenyap di pertigaan sebelah lift dan kepala orang-orang yang melongok ingin tahu kembali menyandar di dinding. Ia tidak pernah merasa ada masalah dengan hewan melata keji itu, tidak pernah sekalipun menyakitinya, atau bahkan pernah melakukan kontak fisik.

Ular tadi mendesis padanya.

Dua puluh menit berlalu. Ada saat dimana kau sedang membaca, tapi sebenarnya tidak benar-benar dikatakan membaca. Barisan kata-kata sulit yang dilewati sejak tadi ternyata tidak sampai ke pikiran gadis itu. Satu-satunya pengalih perhatian terjitu dari kejadian pasien tadi setelah buku–yang ternyata gagal total, laki-laki brunette di samping adalah jawabannya. Sukar untuk tidak melihat ke arah Diggory dan menggali apa-apa saja yang ada di balik segelintir kelakuan ganjil si pemuda tinggi bermata cokelat gelap yang tampaknya mulai mendengkur dengan mulut setengah terbuka. Ia tertidur. Helaian rambutnya menyatu dan membentuk menjadi beberapa bagian seperti kulit kayu terkelupas, akibat banjir peluh yang dibawanya dari lapangan sekolah.

Mau tidak mau, Hermione Granger terkekeh kecil, sambil berdoa agar niatnya mengusir bayang-bayang ular hitam itu berhasil.

"Thanks," ucap Cedric, terbangun tiba-tiba dengan mata yang hanya terbuka sebelah.

"AH!"

"Santai saja, dong."

"Kau! Penipu!" bentak Hermione kesal, menyeret badannya menuju ujung kursi yang lain. Sesuatu yang merah merajai wajah dan emosinya; tertawa-kagum untuk seorang seperti dia? Gila!

"Bahkan Emily Dickinson kalah menariknya denganku, ya?" tanya Cedric, mengabaikan tuduhan masif Hermione sambil menguap penuh roman kemenangan.

"Kalau karena kau lebih bodoh dan tidak beretika."

"Kalau?"

"Karena memang seperti itu kenyataannya–idiot! Dilarang merokok di rumah sakit!" Hermione benar-benar habis sabar. Ia merebut sebatang rokok dari tangan Cedric dan langsung meremasnya hingga terbakar. Detik itu juga ia mencelos, kekuatan itu keluar lagi. Hazelnya melacak keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihatnya membakar rokok hingga menjadi abu. Tatapan seorang anak kecil yang membulat di antara lubang gula-gula kapasnya membuat Hermione gugup, dan berupaya untuk tersenyum setenang mungkin. Seolah tidak ada apapun yang terjadi.

"Wua-a-aw..." kicau Cedric seperti bangau, terkesan sekaligus mengejek, tapi tak melakukan perlawanan. "Sihir Disney, eh? Atau Sulap Terbaru?"

Hermione mencurigai sikap Cedric yang tidak sama seperti orang-orang yang terkejut akan sihirnya. Ini ganjil. Pemahaman-pemahaman bahwa benar Cedric Diggory mungkin adalah penyihir Merlin yang tidak terdaftar mengarungi kepalanya. Diggory tidak pernah terlihat begitu akrab dengan Luna, sedangkan Draco, sepertinya normal-normal saja. Atau... sebenarnya dibalik hubungan normal ini, mereka... saling serang?

Sial! Aku harus banyak bertanya tentang informasi penyihir Merlin.

Mulai was-was, gadis itu mencoba mengingat mantra-mantra kecil non-verbal pengubah kemauan seseorang yang sempat diajarkan oleh Hagrid. Fokus, fokus, fokus...

Seorang dokter jangkung yang melewati mereka dengan terburu-buru mendadak berhenti kembali dengan tampang menakutkan. Hidung lancipnya mengendus-endus udara di antara mereka berdua secara rakus. Ia berdiri menjulang hingga nyaris memayungi Cedric dan Hermione. Hermione melihat jelas di ujung matanya, jemari Cedric secepat kilat membentuk suatu formasi seperti mencubit, meremas udara dan diakhirinya dengan satu tiupan kecil.

"Anda mencium bau apa, Sir?" tanya Cedric pongah, yang mengundang rasa heran di ubun-ubun Hermione. Meski begitu, Hermione berusaha tetap cool dan cuek dengan memandang ke arah orang-orang yang berkerumun di depan lift. Tapi tetap tak bisa menampik bahwa ia memang berkeringat sekarang.

Dokter tua itu kelihatan seperti kehabisan udara sejenak, tapi selanjutnya ia diam, berpikir, kemudian bergegas pergi. Sebelum berlalu, ia sempat bergumam sendiri, "Bau permen kapas."

"Kau memanipulasi udaranya?!" sentak Hermione antara terancam dan lega, akhirnya gagal membendung keingintahuannya.

Cedric menyeringai sebelum ikut menggeser bokongnya ke arah Hermione, menegakkan dada, dan mulutnya mengerucut fleksibel di sisi kanan. "Pengintip," bisiknya sinis.

Hermione merasakan darahnya mendidih, cukup untuk memicu perkelahian verbal tak terelakkan seandainya kondisi saat ini benar-benar ideal. Di pinggir tebing dengan gaung koor orang-orang Indian, misalnya.

"Sebenarnya hanya memindahkan, sih. Lagipula, tidak bakal selamanya dokter peyot itu bakal menciumi bau gulali sekalipun sebenarnya pup pasien yang dibaui. Kalau itu yang kau khawatirkan, Miss." Cedric berceloteh dengan santai bahkan sebelum Hermione sempat mengatakan apapun. Karena jelas pemuda itu tahu jeda kemarahan si gadis, namun ia tidak berniat menunjukkan penyesalan sama sekali.

"Memindahkan?"

Brak.

"Yeah." Cedric menaikkan alis matanya, rentang satu detik setelah suara pintu terbuka menggema, bibirnya berubah kaku dan matanya berhenti mengedip. "Ke dalam—"

"Hei, kalian," semprot Mrs Adeline dengan mata cekung yang memicing di balik kacamata berbingkai cokelatmuda. Kehadirannya tampak menakutkan sekaligus konyol, karena hanya kepalanya yang mencuat di antara daun pintu. "Kusarankan untuk bermain di gudang bawah saja, di sana juga ada matras. Oi, kau, boy, aku yakin seratus persen kau menyalakan rokok barusan dan jangan mengelak, asapnya sampai ke hidungku dan aku bisa meihat pemantiknya dari ujung kantong jaketmu."

Perawat berumur empat puluhan itu merampas pemantik Cedric serta memberikan kupon denda pelanggaran peraturan rumah sakit sebesar 50 pound, sementara Cedric hanya mencibir sekali saat menarik uang dengan kasar dari menghitung, Mrs Adeline kembali ke kamar diiringi asap rokok yang kembali tercium samar di sekitar mereka.

"Salahmu."

"Salahmu."

Tiba-tiba, dua foto polaroid bergambar Hermione melambai-lambai arogan di antara jari telunjuk dan jempol Cedric. Anehnya, foto kedua terlihat lebih buram daripada foto pertama. Jelas-jelas foto yang kedua merupakan foto yang baru diambil pagi tadi.

Iris hazel membulat. "Ha! Jelaskan semua itu!"

"Tidak jadi marah?" cibir Cedric, mengulur waktu. Hermione mendengus, tapi lelaki itu tetap tak bergeming, "Kalau marah, juga boleh saja. Intinya aku tidak akan meminta maaf–"

"Screw you!" Hermione mengentakkan keras tangannya pada kursi, tidak kuat lagi menahan-nahan keinginan tungkainya untuk segera pergi. Baru dua langkah tenggelam dalam genangan bah kemarahan serta upaya penulian telinga dari polusi suara tenor bengal laki-laki itu, pintu kamar Draco menjeblak terbuka.

Hermione menghentikan proses kedap suara sementara pada telinganya dan kembali menerima seluruh suara–termasuk lanjutan kalimat Cedric dan seseorang di balik pintu, Luna.

"Hei– "

"...karena kelakuanku mungkin memang benar-benar tak termaafkan..."

"–kalian boleh masuk," kata Luna mengabaikan ocehan Cedric, yang sedang menghadap lurus ke arah Hermione, lalu tersentak. "Ralat, kau boleh masuk, Hermione. Dan penjenguk lain... juga boleh, jika sungguhan perlu."

"...Raja."

Tepat saat Luna dan Cedric berbarengan menyelesaikan kalimat masing-masing, Hermione merasa terbelah menjadi dua bagian yang sama-sama memiliki kepadatan urgensi. Tatapannya refleks terkunci tajam pada sosok si laki-laki brunette yang tidak lepas memandang Hermione lekat-lekat. Air muka besar kepala milik Cedric kini berganti menjadi ekspresi sedatar seorang pengelana miskin yang mencari lowongan kerja di kerajaan tetangga.

Raja.

Cedric Diggory tahu itu.

Hermione memutuskan untuk tidak membiarkan Diggory langsung pulang usai laki-laki itu selesai dengan keadaan Draco hari ini.

Luna bergantian memandang keduanya dengan mata biru jernihnya yang kadang melebar dan menyempit, seakan kesulitan untuk mencoba mengumpulkan data situasi isi pikiran Cedric dan Hermione. Tentu saja, khusus Hermione, yang cuma bisa ditembus apabila ia sendiri mengizinkannya.

Hanya saja kali ini Luna Lovegood tidak sepenuhnya berhasil dan benar menyuarakan pikiran Hermione.

"Jika dia benar-benar memenuhi persyaratan untuk dieksekusi, Hermewinnie, itu bisa dipikirkan nanti saja. Tampaknya Draco sedang menunggu kalian di dalam. Tentu saja dia tahu itu setelah aku menjawab pertanyaannya soal siapa-yang-ribut-ribut-di-luar," ucap Luna enteng, membalikkan badannya diikuti langkah super hati-hati Hermione Granger.

Meskipun perkataan Luna yang sarat ancaman itu memang terdengar sebagai sarkasme ringan untuk ukuran suasana standar, rasa mual dan degup jantung gila-gilaan yang bergelora di tubuh Cedric Diggory tak bisa dihilangkan dalam waktu singkat.

Seperti yang sudah dikatakan, Cedric Diggory paham akan hal sebesar apa yang dihadapinya saat ini.

Berdiri tegang di samping ranjang besi yang ditiduri laki-laki pucat itupun, Cedric tampak melenceng jauh dari kepribadian awalnya yang menurut Hermione menjengkelkan setengah mati. Cowok itu lebih banyak bicara dengan canggung–tentang penyebab insiden pendarahan ajaib Draco, mengobrol, mengobrol, mengobrol, membantah tuduhan mentah Luna dengan sikap yang lebih sabar daripada sebelumnya, terlalu sering mengerutkan kening saat Draco mengeluhkan bagian-bagian tertentu dadanya yang nyeri, dan semua itu dilakukannya di bawah tekanan tatapan lurus-jauh-menerawang Hermione hingga mungkin nyaris menusuk sampai ke belakang matanya. Mrs Adeline yang sudah selesai dengan obat-obatan Draco akhirnya meminta izin untuk keluar sebelum mengingatkan beberapa hal pada Luna. Suster yang memiliki kerutan di area matanya itu memandang Cedric dan Hermione sekilas seperti cara orang-orang menatap sampah yang tidak ada pada tempatnya, dan Cedric menggumamkan makian paling kasar setelah pintu kamar berdentum menutup. Luna mengatakan Draco baik-baik saja dan tidak ada yang gawat di diagnosa-nya, jadi tak ada yang perlu dicemaskan. Ia juga bilang Draco bisa pulang sore ini bersama obat-obat khusus. Obrolan terus berlanjut dan mulai menyusut saat dentingan gelas air dingin yang habis diteguk Hermione mendapat perhatian.

"Yah, hai. Um, benar-benar tidak bisa ditahan," ujarnya sambil menunjuk leher. Udara dingin AC seperti menyedot seluruh kadar air dalam tubuh Hermione.

Draco memaksakan diri untuk tersenyum lebar walaupun keningnya yang berkerut tetap tak luput dari wajah menahan kesakitannya. "Hermione," panggilnya. Gadis itu mendekat, duduk di kursi sebelah nakas putih bagian telepon dan remote.

"Well, Draco Malfoy. Bagaimana rasanya sekarang?" Sesaat, segala hal yang ingin diungkapkan Hermione memuai tak bersisa begitu perasaan kekhawatiran yang besar mengusir semuanya dalam sekejap. Ia merasa konyol, ditambah lagi oleh suasana yang senyap. Kalimat pembuka barusan seharusnya bisa lebih kasual dan santai. Tapi sedetik kemudian Hermione tidak begitu memerdulikannya lagi. Pergerakan Luna di bawah bayang-bayang lampu panjang kamar yang terang mengundang sedikit kecurigaan. Alis cokelat tebal Hermione terangkat dua-duanya, menanti Luna yang hendak mengatakan sesuatu.

"Diggory, aku perlu kau di resepsionis," kata Luna. Hermione berpikir Luna hanya ingin memberi privasi terhadapnya, atau kemungkinan lain yang mungkin ingin disampaikan Draco dalam keadaan steril–tanpa orang asing seperti Diggory. Pemikiran kedua membuat Hermione tertawa dalam hati alih-alih meredam aktivitas jantungnya yang kembali meningkat.

Cedric memasang tampang bosan dengan kedua lengan yang menggantung letih di sisi badannya. "Yeah, sebelumnya–"

"Telan semua pembelaanmu dan walaupun kau bisa saja tidak bersalah kau harus tetap ikut."

"Kartu kreditku..."

Blam.

Draco dan Hermione masih bisa mendengar perselisihan mereka di sepanjang lorong rumah sakit sampai suaranya sayup-sayup dan tak lama kemudian menghilang.

"Sepertinya Peggy terlalu keras padanya." Draco terkekeh sendiri saat menyebut Luna dengan Peggy atau Pegasus.

"Yah, Diggory juga agak..." Rasanya sulit bagi Hermione untuk menambah kata-kata lain selagi sesuatu menghambat pikirannya untuk tidak berbicara banyak tentang Cedric Diggory terlebih dahulu. Namun kelihatannya Draco tidak merasakan itu dan mulai tertawa karena kalimat menggantung Hermione.

"He's a jerk," ujar Draco terus terang. Seulas cengiran kecil membelah wajah tegang Hermione.

"Uh, ya," gumam Hermione mulai gugup. "Draco."

Melihat wajah serius Hermione, setiap saraf di tubuh Draco sepertinya langsung terfokus padanya. Seperti tumbuh-tumbuhan yang berotasi ke arah matahari. "Ada yang ingin kau katakan?"

Tampak ragu. "Apa kau mengenal Cedric Diggory?"

Draco terdiam sebentar dengan mulut yang terbuka kecil, seolah baru saja ditanya tentang 'Apa kau buang air besar setiap hari?'. Menanggapi hal tersebut, Hermione mati-matian meremas kedua tangannya agar tidak menepuk dahinya dengan keras. Tentu saja pilihan kata mengenal memiliki arti yang berbeda bagi Draco dan dirinya.

"Ya, ya, ah, maksudku tentu saja kalian saling kenal. Maaf, hari ini aku agak, agak...di luar diriku," tambah Hermione cepat-cepat, sementara Draco hanya diam dan mengangguk dengan senyumannya yang biasa–tak pernah berubah sejak pertama kali Hermione melihatnya.

"Jadi, bagaimana kabarmu kemarin...?"

"Tiga hari yang sangat buruk. Dan didatangi ular besar di tengah malam–aku tahu itu kedengarannya sinting sekali, tapi, yah, semuanya berharap itu mimpi."

Ular.

Sementara Draco terhanyut dalam ceritanya yang dianggapnya lucu, Hermione mengalihkan tatapannya dari cowok itu dan mulai merasa kebas.

Semuanya berkaitan dengan ular. Ada apa?

"Tiap detik kejadiannya selalu terasa begitu nyata. Pusing kepala hebat–"

Hermione memotong, "Apa yang kau rasakan juga mual dan sesak napas?"

Matanya berbinar. "Aa, tebakanmu tepat. Aku juga berpikir pasti kau menganggap ular itu melilitiku, 'kan? Bingo!"

"Sebenarnya, karena aku punya obat dokternya," kata Hermione sambil merogoh plastik biru kecil keluar dari saku kiri celananya. "Kau mungkin tertular penyakitku," guraunya lagi, "diminum satu jam setelah makan."

"Itu bagus," jawab Draco mengejutkan, sama sekali tidak menunjukkan kengerian atau sejenisnya. "Jadi, aku bisa menemanimu sakit, bersama-sama."

"Oh, lucu sekali. Itu namanya gila."

"Aku tidak gila."

"Kita bukan teman lama, Draco." Hermione memalingkan wajahnya ke dispenser. "Kau, dan aku. Sebuah kebetulan. Dan aku baru mengenalmu kurang dari sebulan. Sebaiknya jangan terlalu... bisa cari kata lain yang tepat selain percaya?"

"Kita bukan kebetulan, Hermione. Semua ini takdir! Kau bagian dari kami, pemimpin kami!"

"Aku bukan pemimpin yang sebenarnya–"

"Darimana kau tahu itu? Kau hanya belum melakukannya! Lalu apa, percaya? Tentu saja aku memercayaimu, Yang Mulia!"

Gelembung-gelembung air dalam dispenser bergerak naik menimbulkan suara blub-blub yang memecahkan lamunan gadis itu. Hermione memejamkan mata, berulang kali menyerukan dalam hati bahwa ia benar-benar tak siap dan takkan pernah siap menerima kenyataan mutlak tentang eksistensi dirinya yang menjadi Raja. Raja dengan otak kosong mengenai dunianya sendiri. Bahkan dia sendiri sama sekali tidak tahu apa tugas seorang Raja Penyihir yang seharusnya.

Memimpin perang?

Ia jelas akan mati duluan di garis pertama.

Kekuatannya memang tak terbatas, namun mental kuat dan pemikiran besar selama bertahun-tahun tetap menjadi pondasi dari sosok seorang pemimpin.

.

.

.

Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini?

Apakah Patricia?

Ursula?

Grandpa Salazar?

Atau...

Seorang ayah?

"Hermione."

"Ya?"

"Luna menceritakan... beberapa hal penting yang terjadi hari ini." Draco berkata dengan suara yang berangsur-angsur pelan. Seolah tidak ingin terkesan telah mengetahui semuanya dari Luna Lovegood tanpa kekurangan sepatah katapun.

Hermione mengangguk senormal yang ia bisa. Hembusan napas Draco yang lebih keras mengisi jeda di lima detik kemudian.

"Tentang Snape," lirihnya, tampak sulit mempercayai fakta yang ada. "Dan simbol itu, Squamates. Kau tidak apa-apa?"

Sebelumnya Hermione mengira Draco akan menanyakan lebih detil soal kebenarannya melihat simbol bahaya itu, bukannya bertanya tentang keadaannya. Tapi kemurnian yang memancar dari mata biru safir meneduhkan milik Draco itu melelehkan segalanya.

"Aku baik," jawabnya. "Boleh aku tahu sedikit...?"

Draco menggenggam tangan kiri Hermione yang tergeletak di atas pinggiran selimut. Kaku menyerang Hermione secara brutal kecuali otot matanya yang ingin menunduk ke bawah–sekedar mengintip kaitan tangannya dengan tangan Draco, tapi ditolak mentah-mentah oleh sarafnya.

"Maafkan aku untuk tidak menjelaskannya dari awal," ucap Draco, jelas merasa bersalah. "Justru kau harus tahu segalanya lebih dari kami."

"Aku tidak merasa kalian terlambat, kok."

"Sebetulnya agak sedikit terlambat," sela Draco cepat. Hermione terdiam, mengutuk tangannya yang terus berkeringat dan mulai kebas. "Mereka, para Penyihir Merlin menyebut kaum sendiri sebagai Squamatas. Nyaris seluruh wujud animagusnya kelompok reptil melata..." Hermione teringat ular kecil dalam pelindung kepala pasien aneh dengan kursi roda tadi. "...kusingkat saja, mereka tentu tidak menyukai kami, penyihir cacat. Arogansi dan kekuasaan, mereka tergila-gila pada itu. Ketua Dewan Pelaksana Sihir saat ini, Dumbledore, banyak menelurkan peraturan-peraturan baru yang bertentangan dengan apa yang ada pada mereka. Dan mereka berusaha memusnahkan kami, dengan mencari Ramalan Vortex yang selama ini belum ada yang berhasil mengetahui lokasi akuratnya. Meskipun belum ada yang tahu, banyak kabar beredar bahwa Sekte Squamatas Darah Ungu sudah memulai rencananya untuk membinasakan kami tanpa ramalan yang mengandung informasi vital soal senjata paling ampuh bagi pihak yang akan memenangkan kekuasaan. Perang terakhir dua belas tahun silam, kami mengalami kekalahan, yang menyebabkan banyaknya pejuang ditawan, beberapa dilepaskan lagi. Kau ingin tahu? Snape salah satunya. Saat itu aku berumur lima tahun, masa-masa kritis dalam parameter usia penyihir. Dikurung di rumah bersama para peri rumah dan akhirnya menerima berita ibuku..."

Hermione mengeratkan genggamannya pada tangan Draco yang mulai dingin. "Ya, kau sudah... beritahu," bisiknya, "apa itu sebabnya mereka menerobos hutan? Untuk...Ramalan Vortex?"

"Lebih tepatnya mereka mengira kita menyembunyikannya."

"Berarti kabar-kabar itu benar," desah Hermione. "Mutasi rasi bintang. Itu salah satunya, bukan? Ah, tiga hari kemarin aku berhasil memecahkan perkiraan peristiwa antariksa apa yang akan terjadi. Sesuai dengan informasi yang ada." Hermione menarik tangannya perlahan dan menyambar tumpukan kertas di dalam map yang banyak berisi sketsa koordinat rasi bintang dan susunan orbit planet tertentu. Dengan sabar gadis itu mengurutkan posisinya sesuai alfabet satu per satu, menghitung, dan akhirnya kembali merapat ke tempat tidur Draco. Wajah cowok pirang itu seolah damai tersapu angin sepoi-sepoi memerhatikan hidung Hermione yang kembang-kempis, begitu semangat seperti walikota baru terpilih yang akan memulai pidato. Sama sekali tidak berpikir apa yang akan didengarnya dari gadis itu membuat senyumnya menghilang.

"Transit Venus. Dimana Matahari, Venus dan Bumi pada posisi konjungsi inferior. Orbit Bumi dan Venus akan berinklinasi sekitar 3,4 derajat..."

Sepasang iris biru obsidian terbuka lebar.

"Kita dalam bahaya."

"Maksudmu?" tanya Hermione. Peristiwa semacam transit planet-planet di tata surya tidaklah berdampak besar bagi manusia di bumi. Dari bumi, semua akan melihat adanya bintik hitam yang melintasi matahari, Venus. Planet tersebut sedang transit selama beberapa waktu. Hanya karena kemunculan transit ini berpola satu abad lebih sekali, bukan berarti menjadi momok menakutkan karena langka terjadi. Dari nada bicara serta isi kalimat yang Draco lontarkan, Hermione mendapat kesan bahwa peristiwa Transit Venus bukan lagi sekedar pemandangan alam semesta di kehidupan barunya.

"Sekte Squamatas akan membuang kita ke Venus." Draco berjengit sedikit saat mengucapkannya, lalu saat itu juga Luna muncul dengan sekantong plastik isi taco di tangannya.

"Hai, guys." Gadis pirang itu mencari tempat duduk selagi Hermione membereskan kertas-kertasnya yang bertaburan di lantai. Luna sempat melihat dari sudut matanya, kemudian menggumam, "Kurasa aku ketinggalan banyak berita."

Draco dan Hermione saling menatap sebentar, dan mengangguk.

Luna berdiri membagikan taco, melahapnya sekali, lalu mengangkat alis pertanda menunggu keduanya bicara.

"Dimana Diggory?"

Dua pirang itu kini ganti saling pandang.

Luna mengernyit dalam sekali, seolah menunjukkan ekspresi antara tertawa dan prihatin. "Kau serius ingin mencekiknya?"

"Bukan," sanggah Hermione. Walaupun Cedric Diggory se-menyebalkan itu, membinasakan orang lain tetap tidak termasuk dalam daftar hidup seorang Granger. "Apa... dia salah satu dari kita juga?"

"Maksudmu?" Draco duduk lebih tegak dari sebelumnya. "Tadi kau juga bicara soal apakah aku kenal dia–"

"Tentu saja kami kenal dia, Hermewinnie. Tapi cuma sebatas teman sekolah. Apa maksudmu... cowok itu juga...?"

Hermione mengangguk antusias beberapa kali. "Banyak sekali bukti yang menguatkan tuduhanku bahwa Diggory sama dengan kalian–kita. Tapi, kupikir kalian tahu?"

Keduanya sama-sama menggeleng.

"Tidak ada yang kenal dengannya di Kawasan Hutan Hogwarts. Apa kasusnya serupa denganmu, mungkin," tukas Luna ragu-ragu. "Aku tidak pernah liat sihirnya."

"Apalagi aku," sahut Draco, yang notabene lebih dekat dengan pemuda acak-acakan itu. "Dia jarang bicara tentang sihir malah."

Hermione segera menyingkirkan prasangka buruk bahwa bisa saja Luna dan Draco berbohong atau menutupi sesuatu. Karena itu tak mungkin dan selama ini keduanya selalu bersikap terus terang dalam hal apapun. Jadi, "Aku harus menyusulnya, sebentar!"

Rambut cokelat bergelombang Hermione berkibar ditelan bantingan pintu, meninggalkan dua kepala penuh badai tanda tanya sementara otak mereka bekerja keras merangkai benang praduga yang ada.

"Kadang-kadang aku tak mengerti jalan anak itu–" Luna membelalak saat ia menerima tatapan tajam dari sepupunya, "Maksudku Raja. Tapi itu oke, sih, dimana-mana pikiran Raja memang lebih rumit dari yang kita kira. Eh, Draco, ingat aku pernah bicara soal orbs yang mengelilingi Hermione? Seharian ini aku tidak melihatnya lagi."

"Bisakah kau berpikir itu bisa saja jiwa suci yang mengelilinginya?"

"Yah, terserahmu, well, aku tidak akan berargumen lagi tentang orbs itu lagi, kok. Aku akan menggerutu karena Nymph dan yang lainnya lambat merespon Patronus-ku yang berisi pembelotan terang-terangan Snape. Entah apa yang sebenarnya terjadi di Kementrian..."

"Sepertinya kau kurang menyampaikan sesuatu yang lebih pelik daripada berita Snape. Sesuatu yang... baru saja diramalkan Raja."

"Apa?"

000

Selama sekitar sepuluh menit mencari-cari cowok jangkung dengan jaket baseball kotor di rute jalan keluar yang mungkin dilaluinya, Hermione masih saja belum menemukan targetnya. Memindai Diggory di bawah sinar matahari terik membuat gadis itu lemas sampai ke tulang. Belum lagi akibat kelelahan karena terpaksa berlari gila-gilaan menuruni tangga dari lantai tiga karena lift yang penuh sesak orang-orang. Mungkin kau akan berpikir kenapa gadis jenius ini tidak menggunakan lubang ajaibnya daripada membuang-buang waktu dan keringat berlebih. Jawabannya sederhana; agar tidak mencolok dan menyebabkan kecelakaan tertentu–posisi Cedric yang tidak menentu dapat mengacaukan sirkuit perpindahan tempatnya. Di bagian depan rumah sakit terdapat taman super besar yang dibentuk mirip maze, hanya saja ketinggian rumputnya tidak setinggi labirin asli–cuma sepinggang manusia dewasa. Sebenarnya taman itu terbelah menjadi dua bagian oleh jalanan berpaving yang berawal dari pintu utama dan mengarah ke gerbang depan rumah sakit. Di dalam bagian itu terdapat banyak kolam-kolam kecil tersembunyi dan setiap kolam memiliki satu pohon besar yang menanungi mereka. Tiang-tiang penyangga untaian kawat sebagai media pertumbuhan tanaman anggur yang menggantung di kelokan maze tampak kokoh berdiri di antara semak-semak. Siapapun arsitektur taman ini, karyanya sangat menakjubkan.

Hermione memutuskan untuk menyusuri area sebelah kiri terlebih dahulu. Banyaknya orang yang sedang berjalan-jalan mengagumi keindahan taman ini–biasanya para pasien juga mendominasi– membuat Hermione berkali-kali harus merapat ke pinggir karena jalanan di dalam maze hanya cukup dilewati dua orang bersisian. Ia bisa merasakan Diggory masih ada di sekitar sini, entah karena sengaja melihat-lihat–tapi itu mustahil, laki-laki macam itu pada umumnya tidak suka mengagumi kecantikan bunga-bunga daffodil yang bermekaran di bawah mentari. Tak lama, dengung suara orang menggerutu memasuki gendang telinga Hermione.

Dan disitulah Diggory, tepat berjongkok memunggunginya di pinggir kolam. Hermione mengendap-endap di balik pohon besar untuk mengetahui dengan siapa laki-laki itu bicara. Sesuatu dari permukaan kolam yang transparan berkecipak ribut. Setelah netra hazelnya berakomodasi, gadis itu menangkap bayangan sebarisan sosok peri kecil yang menyerupai duyung, dengan sebuah dompet hitam yang mengambang di tengah-tengah mereka.

Cedric mengambil napas singkat. "Yeaah, kucoba lagi. And even a FUNERAL can be REAL FUN–"

"Kami tidak suka yang berbau jahat, tjommie!"

"Itu kejam sekali!"

Suara mencicit seperti kurcaci keluar dari mulut-mulut peri itu. Sosok peri yang paling kurus mulai mengambil ancang-ancang mencakar dompet Cedric dengan kuku-kukunya yang tajam. Sementara yang lain berlagak mencabuti lembaran poundsterling di lipatan dalam yang anehnya tetap kering meski tersentuh air. Hal itu menyebabkan si pemilik semakin naik darah.

Hermione menatap makhluk-makhluk itu takjub. Matanya tidak mungkin berbohong, ini sungguhan. Peri Asrais. Persis dengan deskripsi yang sering diceritakan Patricia dalam buku mitologi Kerajaan Peri Di Dunia setiap malam ketika ia masih di bangku sekolah dasar. Peri Air terkenal sangat suka mendengar dan membuat anagram, sebab itulah Cedric kelihatan frustrasi mencari dua kata yang terdiri dari huruf yang sama namun berbeda arti.

"Kalian yang kejam, makhluk kecil banyak-mau! Kembalikan dompetku, tolol!" bentak Cedric kehabisan akal. Tangannya mengepal hingga merah sekali, jelas menggambarkan bahwa ia bisa saja menggunakan sihirnya untuk mengambil dompet yang ditawan para peri itu, tapi seakan ada dinding tak terlihat yang melarangnya menyerang salah satu jenis peri air itu.

Hal yang mengejutkan terjadi. Serentak, semua peri itu bungkam dan berlutut di atas permukaan air kolam yang mendadak bersih dari gelombang, seolah airnya mengeras menjadi lantai batu. Isi dompet Cedric yang berserakan sampai ke pinggir-pinggir kolam kembali terseret ke tempat semula, seakan ada magnet penarik di pusatnya. Terheran-heran, Cedric meraih dompetnya cepat-cepat lalu kemudian terbahak-bahak.

"Ha-ha-ha! Kalian memang perlu sedikit bentakan agar jadi anak baik!" serunya angkuh, tapi sedetik kemudian senyum lebarnya hilang. Alisnya yang cokelat kehitaman mengerut. Peri air satu-satunya koloni peri yang tidak akan menuruti perintah penyihir biasa kecuali...

"Tapi tidak mungkin... Aku bukan–aha, pasti ada sesuatu di belakangku, 'kan?" Cedric berbalik dalam gerakan lambat, memperlihatkan tampang malasnya pada gadis ramping yang tengah membebaskan rambutnya dari lilitan sulur yang menjulur dari pohon besar di atas kolam. "Yang Mulia, yang selalu menyelamatkan rakyatnya," sambung Cedric agak berlebihan, ikut berlutut setengah hati ketika Hermione berjalan melewatinya menuju kolam penuh peri itu.

"Halo, kalian," sapa Hermione, mengulurkan tangan agar semuanya bangkit kembali. Kecipak air menjalar berurutan dari ujung kolam satu ke ujung lainnya. Para penikmat taman di halaman rumah sakit ini jarang berkumpul di wilayah ini, karena letaknya agak tertutup, walau sebetulnya ini adalah kolam yang paling dekat dengan pintu utama. Jadi Hermione tidak perlu khawatir akan orang-orang yang bakal menganggapnya gila karena bermonolog dengan kolam berlumut.

"Yang Mulia, namaku Chuck," ujar Asrais paling kurus yang menggendong busur dan anak panah di punggungnya.

"Namaku Norman."

"Aku Diggle."

"Aku Napoleon."

"Aku Elvin."

"Aku Edgar."

"Aku Thor!"

"Perkenalkan, Stromae!"

"Aku Makovan."

"Dan aku... Frope," ucap yang terakhir malu-malu.

"Kami sedang beristirahat dalam perjalanan imigrasi dari Greenland, Yang Mulia," jelas Napoleon, yang tampaknya ketua dari rombongan ini, menjawab pertanyaan yang baru akan keluar dari mulut Hermione.

Hermione terpana. Nyaris tidak percaya sedang berkomunikasi dengan para peri air yang semuanya berjenis kelamin laki-laki ini.

"Jadi, apa yang terjadi di sini? Maksudku, dengan dia?" tunjuk Hermione pada sosok Cedric di belakangnya.

Sebelum Cedric berkesempatan untuk berbicara seolah hanya jawabannya yang paling valid, Thor keburu menggelegar dengan suaranya yang tiba-tiba berubah berat dan menakutkan.

"Pemuda bodoh itu membuang puntung rokoknya sembarangan dan mengenai bokongku!" geram peri berjanggut merah tua itu sambil menampakkan celana putih gading tiga perempatnya yang hangus sebagian, dan mengutuk habis-habisan puntung rokok Cedric yang tenggelam di dasar kolam.

"Diggory?" Hermione melipat tangannya sebatas dada, kesulitan menahan hasratnya untuk menggantung terbalik berandalan itu di atas kolam penuh piranha.

Memutar bola matanya cepat, Cedric mendengus, merasa tak ada celah lagi untuk berkilah. Aura menekan dari gadis itu sudah cukup untuk membangkitkan rasa tanggung jawabnya atas celana Thor yang gosong. Tapi ternyata pancaran iris hazel itu masih menginginkan sesuatu yang lain. Dan itu adalah,

"Kau harus diberi hukuman, Diggory," tuturnya sedingin es. Sorakan dari bawah kolam menggema hingga ke udara, dan itu membuat Cedric semakin jengkel.

"Silahkan," ucap Cedric, bersikap menantang–memejamkan mata dengan dua alis yang melawan gravitasi.

"Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Foto-foto itu, telepati, ada masalah apa?" tanya Hermione to the point. Mata Cedric kembali sepenuhnya terbuka. Jakunnya yang bergerak turun saat lelaki itu menelan ludah memberikan kesan penting seperti; ia belum betul-betul siap mendiskusikan ini dengan Raja.

"Itu berurusan dengan ini: apa yang tidak cukup untuk seorang, pas untuk berdua, dan terlalu banyak untuk bertiga?" Cedric menatap Hermione sebelum mencari tempat duduk terdekat di sebelah air mancur. Gadis itu mengikutinya sambil memutar otak di setiap langkah. Apa sejenis makanan? Benda? Tempat? Ketika sampai di depan Cedric yang tengah menyeringai, jawaban paling absurd melintas di benaknya. Tidak ada pilihan lain selain melontarkan apa yang ada ketimbang menghabiskan waktu bermain tebak-tebakan di sini. Jadi, Hermione menjawabnya sambil meringis tertahan.

"Cinta?"

Rasanya Hermione ingin menelan banyak-banyak racun arsenik jika saja sekarang ia sedang berdialog dengan Patricia yang anti-cinta. Kata yang sangat tabu dan terlarang seumur hidupnya.

Dari mimik wajah yang paling berbeda dari sebelum-sebelumnya, Hermione menyimpulkan bahwa Cedric kurang siap mengantisipasi jawaban yang datang. Lelaki itu menggaruk dagunya sekitar tiga detik, lalu berkata,

"Kenapa kau jawab itu?"

Rupanya gadis itu juga kurang matang dalam menghadapi pertanyaan berbalik Cedric. "Eu, iseng."

"Oke, baiklah," kata Cedric memaklumi. "Tapi kau salah."

"Hah?"

"Jawabannya, rahasia."

"Gila."

Cedric mendecak-decak kecil, mengamati rerumputan yang bergoyang ditiup angin di samping sepatunya. Sementara itu Hermione mulai berpikir serius tentang pertimbangan me-matikan Diggory dengan cara yang tepat dan benar. Berbagai macam kalimat ancaman seakan tidak mempan untuk pemuda sebandel lemak di cucian piring kotor ini.

Dan gadis itu mendapat ide brilian setelah menatap jendela kamar pasien yang ditempati Draco.

"Mereka tidak mengenalimu," tukas Hermione dengan nada simpati yang terselip didalamnya.

Tiga kata itu sukses membuat seorang Cedric Diggory membeku. Tangannya berhenti bermain-main, interval mengedipnya semakin berkurang, dan napasnya seolah terhenti. Tatapan kosongnya jauh melambung ke atap gedung rumah sakit. Kenyataan kembali menghantamnya dengan kejam. Selama sekitar tiga puluh detik, hening menguasai keduanya. Hermione yang merasa pancingannya berhasil ikut membisu, menunggu respon lelaki didepannya.

"Kau... menemukan rahasianya lebih cepat dari yang kuprediksi," katanya datar, senyum hambar tak mencapai matanya melebar perlahan. Hermione masih diam menunggu kalimat berikutnya. "Dan aku akan membocorkan yang satunya lagi," lanjut Cedric kembali tenang, "dan orang-orang yang tidak mengenaliku, mereka dalam bahaya."

Jantung Hermione seperti dipaksa bekerja berkali-kali lipat lebih cepat dari kondisi normal.

Semuanya berhubungan.

Laki-laki brunette itu berkisah, sesuatu mengintervensi realitasnya hingga banyak orang-orang terdekat yang tidak mengenalinya sejak Pertempuran 2000 yang berakhir tragis. Sinar misterius menyambarnya saat kelompok musuh membumihanguskan sebuah desa kecil di Yorkshire, dan ia benar-benar sempat mengalami amnesia singkat yang mengerikan beberapa hari setelah bangun dari pingsan. Mulai detik dimana ia kembali mengingat siapa namanya, semua berubah. Dalam kurun waktu dua belas tahun Cedric terasingkan, perubahan besar banyak terjadi di luar lingkarannya. Sistem pertahanan kelompoknya dari serangan musuh meningkat. Seleksi besar-besaran untuk menjaring kemungkinan musuh yang masih menyamar dalam lingkaran berlangsung ketat. Lencana sihirnya dicopot dari Departemen Misteri, karena nyaris semua orang menganggapnya bukan bagian dari mereka, dan ia terpaksa hidup dari segala keterbatasan yang ada di lingkungan manusia biasa. Cedric hanya mengingat fakta bahwa mereka seharusnya mengenalinya, tapi tidak ingat bagaimana waktu saat mereka mengenalinya dulu–sebelum sinar fatalistik itu merombak semuanya.

Sampai suatu hari ia berkunjung kembali ke desanya di Yorkshire, yang lebih mirip puing-puing bekas kebakaran hebat, menuju rumahnya yang ternyata memiliki ruangan bawah tanah. Tidak ada barang-barang tersisa yang mungkin bisa dikenalinya–tetapi semuanya benar-benar musnah, menyatu dengan abu. Hanya ada satu barang yang kelihatannya tak tersentuh sama sekali, sebuah cermin lonjong aneh berhiaskan ukiran bahasa kanji dan rune kuno yang ekstra rumit di sekelilingnya.

"Cermin itu lebih mirip dengan bola ramalan–"

"Apa yang kau lihat?" potong Hermione tak sabar.

"Apa kau akan percaya?"

Hermione melotot.

"Baik, baik. Beritahu aku semua yang kau ketahui tentang legenda Yunani yang paling terkenal."

"Medusa?"

"Kau membaca pikiranku, ya?! Aku sangat tahu kau itu Raja, hanya saja jangan menyalahgunakan kemamp–"

"Siapa yang mau repot-repot membaca pikiran anehmu! Katamu kan 'yang paling terkenal'. Menurutku medusa yang paling terkenal!"

"Nah, itu bahaya yang mengincar mereka."

"..."

"Dan menyelamatkan mer–"

Selanjutnya Cedric menganga ketika Hermione tiba-tiba menutupi mulutnya dengan tangan dan mulai tertawa putus-putus.

"Maksudmu, kepala medusa yang ada di Tameng Aegis bisa keluar lagi dan menyeberang ke Inggris sambil menyeret-nyeret Perseus?" tanya Hermione dengan mulut mengembung. "Lalu, darimana aku bisa tahu kalau kau bukan Penyihir Merlin atau Sekte Squamatas blah-blah karena dirimu tak terdaftar?"

Cowok berpostur tegap itu tertawa lemah, merapatkan bibirnya sambil mengerutkan kening—kombinasi sempurna bagi orang-orang yang sudah makan asam garam kehidupan.

"Meragukan identitasku sama sulitnya dengan caraku menjelaskan kepadamu BAGAIMANA aku bisa menemukan kau, Raja Muda, dan tidak salah membagi rahasia penting dari cermin itu," kata Cedric saat angin dari tenggara gerbang menerbangkan daun jeruk ke kepalanya. Ia menyingkirkan daun itu seraya menatap langit yang berubah keruh dan menggelap.

"Sebetulnya aku tidak ingin tahu mengenai itu," ucap Hermione, merasa kesal pertanyaannya dibelokkan seenak jidat. Ia benar-benar harus tahu dengan cepat jati diri laki-laki ini dan masalah yang membuntutinya. Melirik gelisah ke arah jam tangan digital kuning cerah miliknya, Hermione menghela napas kesabaran entah untuk keberapa kalinya seraya menatap sumber kebingungan tak berkesudahan yang terpampang di depan mata.

"Well, well, alright," gumam Cedric lega, namun kesal di sisi lain karena Hermione tidak menangkap makna kalimatnya yang sesungguhnya. "Ketidaktahuan adalah kebahagiaan. Dan beberapa rahasia tidak dimaksudkan untuk diketahui, tapi sekali tahu, susah untuk mengenyahkannya."

"Aku jadi ingin tahu."

"Hm, hm, terlambat."

"Bisa jadi aku Raja gadungan," pancing Hermione lagi.

Cedric tersenyum meremehkan. Membuatnya semakin mirip kucing persia berkontur wajah gepeng. "Aku sudah tahu yang sebenarnya. Usahamu sia-sia."

Pundak gadis itu merosot lunglai ketika ia memutuskan untuk duduk berdampingan dengan Cedric karena lututnya mulai gemetar akibat terlalu lama berdiri. Sisa semangat dan tenaganya ia simpan untuk perjalanan kembali ke kamar Draco nanti. "Oke, katakan saja dulu padaku apa isi ramalan cermin-mu dan cara untuk menyelamatkan mereka."

"Ya. Jadi—"

"Tunggu. Bisa jawab pertanyaanku yang sebelumnya? Soal Tameng Aegis dan itu?" Kebiasaan Hermione memotong pembicaraan nyaris memunculkan pemikiran kecil di otak Cedric bahwa gadis ini serius membutuhkan Konseling Khusus selama beberapa minggu.

"Legenda itu hidup kembali," tukas Cedric agak gugup. "Semua tahu kalau reinkarnasi mungkin merupakan paradoks paling rumit bagi orang-orang di bumi yang memercayainya. Karena itu berkaitan erat dengan waktu dan sejarah yang mengikutinya. Menangkap sesuatu?"

"Legenda itu kembali terulang karena... adanya reinkarnasi?"

"Tepatnya, termodifikasi ulang."

"Jadi, sinar yang kau ceritakan tadi adalah sinar reinkarnasi? Begini, kalaupun benar, Medusa

itu ada di masa yang... sangat lampau. Berarti kemungkinan besar, seseorang yang bereinkarnasi berasal dari zaman dewa-dewa itu? Kau pasti tahu, umurnya..."

Cedric menggeleng. "Orang ini hidup di abad lalu, sudah pasti seseorang yang sangat kuat. Sesuai simbol ankh di cermin dan angka 20. Karena keinginannya, Perseus dan yang lainnya tidak ikut terlempar ke masa ini. Hanya si Medusa saja. Kemudian cermin itu menampilkan bayangan mahkota, tentu saja itu Raja–kau, dan sosok buram bermahkota itu mengenakan Helm Gaib dan pedang kecil untuk membunuhnya. Jika di legenda asli semua barang itu pemberian–"

"Hermes," tandas Hermione samar, mulai menggigiti bibir bawahnya.

"Maka di realitas baru yang diciptakan seseorang ini mungkin dari kau, Hermione. Hermes, Hermione. Seirama juga."

Hembusan angin terasa makin kencang, menyeruduk rusuk Hermione yang hanya mengenakan kaus tipis berwarna putih gading. Para pengagum taman dan perawat yang menyebar di taman ini terlihat mendorong kursi roda pasien masing-masing seraya memeringati yang lain agar segera memasuki gedung gara-gara awan kelabu dan kilat menghiasi langit-langit London. Kolam kecil tempat peri Asrais beristirahat berkecipak ramai lagi, tampak Napoleon melambai pamit dari kejauhan, sebelum permukaan airnya kembali mengeras seperti es. Pasti untuk melindungi mereka dari tetesan ganas air hujan yang sebentar lagi akan turun.

"Simbol ankh," gumam Hermione. "Apa itu?"

Cedric yang bersiap-siap untuk berdiri menghentikan gerakannya. "Simbol reinkarnasi. Yang kuingat bentuknya seperti salib, tapi memiliki kepala kunci di atasnya."

Simbol itu.

"Kenapa?" tanya Cedric mengangkat alisnya sebelah. Mata cokelatnya memandang bingung Hermione yang masih diam terduduk seolah habis ditampar, tapi saat gadis itu kembali menguasai dirinya, Cedric mengalihkan tatapannya ke luar gerbang rumah sakit. Kemacetan terjadi, rentetan bunyi klakson mobil seolah tak ada habisnya mengganggu ketenangan taman ini.

"Tidak ada libur bulan ini," cetus Hermione kikuk, berusaha tidak menjawab pertanyaan Cedric tentang simbol ankh tersebut. Tentu simbol itu pernah datang padanya, saat kemunculan belati sialan yang ingin menusuk Draco dimanapun Hermione berada dekat dengannya. Tapi ia memilih merahasiakan ini dulu dari Cedric. Dan yang benar saja, misi ini terlalu memberatkan. Bolos sekolah jelas akan membuat Patricia mengamuk lagi.

"Kita bukan bolos untuk permainan arcade di pusat-pusat perbelanjaan. Tapi permainan nyawa," tutur lelaki itu setengah melamun. Seluruh bagian tangan Hermione mendadak kesemutan memikirkan kembali apa yang terakhir lelaki itu katakan padanya. Permainan nyawa. Ia tak menyangka perbincangan yang kelihatan santai ini berujung pada takdir banyak orang. Gerimis mulai turun, udara dingin perlahan membungkus Hermione yang menggigil. Rasanya ingin menjadi anak berumur sepuluh tahun lagi. Tak kenal beban apapun dan selalu berada di bawah selimut tebal ketika hujan lebat menyapu dunia. Mimpi. Titik-titik air mendarat di rambut cokelat panjangnya seperti embun, tapi kemudian semuanya kembali naik melawan gravitasi. Hermione sudah biasa akan hal itu, lain dengan Cedric yang pasti bakal basah kuyup sampai ke dalam sepatunya. Mereka harus segera ke lobi untuk berteduh. Namun raungan sirine mobil polisi menyeruak di antara kemacetan saat Hermione membuka mulutnya untuk bersuara.

"Kita harus kembali ke kamar," ucapnya. "Masalah ini bisa dirundingkan bersama."

"Jangan."

Hermione mengernyit, menjulurkan kepalanya ke arah Cedric yang termenung, seolah-olah sedang serius memerhatikan jalanan luar dimana sirine itu tak kunjung berhenti bergaung. Gadis itu bisa melihat barisan kemacetan mulai merenggang, atau mungkin terpaksa meminggir. Karena tak lama kemudian mobil merah yang tampak di balik jeruji pagar besar rumah sakit itu merangsek maju ke depan akibat ditabrak van hitam tanpa jendela kuat-kuat, dan efek domino menjalar dari mobil depan ke mobil depannya lagi. Van hitam itu kemudian naik ke trotoar, membinasakan dua boks telepon dan tiga gantungan koran pagi sekaligus, dan polisi mengikutinya di jalur yang sama. Pencuri bank?

Cedric tampak menggumamkan sesuatu di bibirnya yang tipis, kemudian hal paling mengagetkan seumur hidup Hermione terjadi: tiba-tiba petir menyambar keras sebuah pohon birch yang berdiri kokoh di trotoar hingga pohon itu rubuh menimpa van hitam dengan bunyi yang luar biasa memekakkan. Kejadian saat dimana Hermione berada sedekat mungkin dengan petir adalah ketika pemakaman Ursula, dan ini merupakan kedua kalinya. Kekacauan menyebar di seluruh bahu jalan. Alarm van hitam yang terus berbunyi, hujan deras ditambah sirine yang belum dimatikan membuat kisruh keadaan. Sementara Cedric–benar 'kan dia basah kuyup– tampak puas memandangi para polisi yang segera mengepung van tersebut.

Ia mendongak ke arah Hermione yang kelihatan sulit mengontrol kata-kata. "Ah, tadi, ya. Rahasia; hanya untuk dua orang. Situasinya akan berubah lebih rumit lagi kalau mereka mengetahuinya. Jadi aku tidak mau bertemu mereka lagi untuk membahas ini."

"A-apa-apaan itu..." Hermione terbata-bata menunjuk jalanan, meminta penjelasan.

"Oh, begini, meskipun tongkatku juga diambil, fortitude khas masing-masing penyihir tidak akan hilang. Yang kudapat dari api itu dulu, yah, udara dan petir. Lagipula tadi aku hanya membantu kerja polisi lewat kok, sist."

Selesai itu iPod Hermione berdering.

"Sampai jumpa lagi," ujar Cedric, memasukkan tangannya ke dalam kantong celana dan berjalan menjauh. "–tidak harus sampai besok pagi di sekolah, sih. Mungkin secepatnya."

"E-eh, ya! Halo, Lun? Aku dalam perjalananku kembali, ada apa?" Hermione berlari-lari kecil melewati jembatan kanal air menuju pintu keluar taman itu, setelah sempat berbalik memandang Cedric berjalan berlawanan keluar rumah sakit.

"Kau sudah bertemu dengan Diggory?" Bola mata Hermione bergerak gelisah saat ingin menjawab, namun ia urungkan niatnya. Luna sepertinya ingin cepat-cepat memberitakan sesuatu karena, meskipun ia tahu Hermione tidak menjawab, ia tidak bertanya lagi tentang itu. "Ginny meneleponku barusan, apa aku liat Greengrass atau tidak. Greengrass, Astoria, maksudnya. Dia tidak ada di kelas manapun setelah jam makan siang. Entah cewek Weasley itu ada urusan apa. Kujawab tidak, ngapain juga aku lihat-lihat cewek sombong itu, masih banyak hal lain yang lebih pantas untuk dilihat. Tapi setelah teleponnya terputus aku baru ingat tentang ceritamu–"

"Snape."

Sambungan telepon terputus. Hermione melesat ke parkiran rumah sakit tanpa pikir panjang, mencari-cari dinding kosong yang sepi.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

The End of Chapter 6


##

"Yang lahir di tahun 1972... ada Willy Whidersins, Tom Marvolo Riddle, dan Rodolphus Lestrange?"

.

"Itu Raja Terdahulu!"

.

"******?! Untuk apa kau disini?"

.

##

"Berposelah yang benar, Hermewinnie. Berbeda dengan kami, satu kamera tidak akan bisa mengambil foto dirimu dua kali."

Semua penyihir di sekitar mereka memandang gadis pirang itu ingin tahu.

"Dia..."

Bisik-bisik terdengar.

##