Kise melemparkan tubuhnya ke atas kasur dengan asal. Dia tidak peduli dengan segala hal sepele yang tengah terjadi disekitarnya. Karena sejak satu jam yang lalu pikirannya dipenuhi oleh mantan rekan se-timnya semasa SMP di Teiko dulu. Siapa lagi kalau bukan Kuroko Tetsuya?

"Kurokocchi..."

Lain dengan Kise, Kuroko yang sedang mengelap piring-piring yang baru saja dicucinya menghela napas berat. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Kise tiba-tiba datang ke Seirin untuk mencarinya? Rekannya itu memang penuh dengan kejutan.

Kuroko sudah tertangkap basah sekarang.

Mengelap tangannya di sebuah kain, Kuroko melangkah pergi menjauhi wastafel di dapur rumahnya tersebut. Kemana ibunya? Entah kenapa akhir-akhir ini Kuroko merasa ibunya sering keluar rumah. Dan berakhir dengan dia yang sendirian lagi.

Huh— Padahal ada banyak hal yang ingin ia ceritakan pada sang ibu, tapi orang yang dicarinya sedang sibuk. Hatinya gundah, apalagi tentang hari ini. Entah kenapa semenjak menjadi perempuan sikapnya menjadi begini. Ya,

... semenjak menjadi perempuan.

"Ahh..." Kuroko mengacak rambutnya pelan, merasa frustasi mungkin?


Kuroko no Basuke/黒子のバスケ

Fem!Kuroko

by : Newbie Kepo


Didorong oleh rasa ingin tau yang besar, Kagami menghampiri kursi tempat duduk seorang perempuan bersurai biru langit yang tepat berada dua meja didepannya. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia mendekati atau berusaha mengajak Kuroko bicara, hanya saja... Kuroko terlalu pendiam, berbanding terbalik dengan dirinya yang notabene berisik dan terlalu aktif.

"Umm... Kuroko-san?"

Kuroko yang saat itu tengah membaca sebuah buku langsung mengalihkan pandangannya ke sebelah kanan— tempat Kagami berdiri. Langkah selanjutnya, Kuroko mendongakkan kepalanya karena orang yang berada di sampingnya begitu tinggi dibandingkan dengan dirinya— apalagi dia sedang duduk.

Bukannya menyahut atau apa, Kuroko hanya melihat Kagami datar. Tanpa ekspresi sedikitpun. Sebenarnya dia itu perempuan macam apa? Pikir Kagami. Karena tidak enak terus-menerus ditatap seperti itu, segera saja ia melancarkan tujuan awalnya.

"Aku ingin bertanya. Bolehkah?"

Saat itu yang ditanya hanya mengangguk, entah kenapa tiba-tiba ace klub basket Seirin ini jadi ragu bertanya pada orang di depannya.

"Anno, ini tentang Kise Ryouta. Kau mengenalnya? Maksudku— Aku bukannya ingin tau hubunganmu dengan model itu, hanya saja ya... Kau tau 'kan kalau dia itu pemain basket juga, dan aku juga begitu."

"Kau ingin aku menceritakan tentang Kise-kun? Begitu?"

Kagami hanya bisa menggaruk-garuk pipinya sendiri lalu mengangguk kecil. Dia memperhatikan apa yang dilakukan Kuroko setelahnya, dan ternyata gadis biru itu menepuk-nepuk sebuah kursi yang berada di depan meja miliknya— mengisyaratkan Kagami untuk duduk disitu. Semudah itukah?

"Jadi?" Kagami bertanya.

"Apa?"

"Aku kira kau akan menceritakan mengenai Kise Ryouta." Kagami merenggut.

"Apa yang ingin kau tau dari seorang Kise Ryouta, Kagami-kun?"

Saat itu Kagami sedikit berpikir, berusaha mengeluarkan perkataan yang sekiranya tepat untuk orang di depannya. "Basket dan... Kiseki no sedai." Sebenarnya Kagami bertanya dengan nada yang terdengar ragu.

"Aku terkejut kau tau tentang Kiseki no sedai, Kagami-kun. Yang aku tau kau bersekolah di Amerika sebelumnya."

"Ya, begitulah. Aku juga baru tau belakangan ini. Sepertinya kau tau banyak ya, apa kau pacarnya Kise Ryouta itu?"

Raut wajah Kuroko langsung berubah menjadi seperti cemberut. Tidak suka mungkin? Saat itu Kagami berpikir, sepertinya Kuroko tidak terlalu suka dengan Kise. Menurut rumor yang Kagami dengar, model dengan nama kecil Ryouta itu dikenal berisik dan tidak bisa diam. Sangat masuk akal kalau dilihat dari sudut pandang Kuroko Tetsuya, mereka mungkin tidak akan cocok, pikir Kagami dengan tidak sadar— dirinya juga demikian.

"Heheh, tidak ya?"

Kuroko mengangguk.

"Jadi dia itu bagaimana? Kiseki no sedai juga."

"Kenapa kau begitu ingin tau?"

"Apa kau tidak mau mengatakannya? Sebenarnya aku tidak memaksa jika kau tidak mau. Tidak apa-apa, tidak usah dipaksa. Aku jadi tidak enak." Kagami berucap sambil menggaruk tengkuk belakangnya gugup. Ayolah, kenapa gadis ini begitu berbelit-belit?

"Bukan begitu. Aku hanya ingin tau saja, aku sama sekali tidak keberatan membicarakan tentang Kise-kun maupun Kiseki no sedai. Aku cuma penasaran kenapa Kagami-kun ingin tau."

"Aku ingin mengalahkan mereka!" ucap Kagami lantang. Kuroko yang melihatnya hanya tersenyum. Seteleah itu pembicaraan panjang dimulai antara mereka berdua.

.

.

.

"Aku tertarik dengan basket. Bolehkah aku bergabung?"

Kedua kelopak mata palatih tim basket Seirin berkedip bingung.

Apa dia bilang?

Bergabung?

Ayolah... Ini 'kan tim basket putra. Untuk apa seorang siswi datang dan minta untuk bergabung? Kecuali... Ah, Riko sudah dapat jawabannya. Wajahnya berseri-seri membayangkan akan ada orang yang membantunya.

"Kau ingin mendaftar sebagai menejer tim basket kami?"

Kuroko menggeleng, "Aku ingin mendaftar sebagai pemain."

"A— apa? Hei! Ini tim basket putra!"

Sungguh. Riko tidak tau apakah orang dihadapannya itu memang bodoh atau pura-pura bodoh.

"Bakagami! Apa maksudnya ini?" teriak Riko lantang. Kagami yang saat itu tengah berlatih bersama anggota tim basket lainnya langsung berlari ke pinggir lapangan.

"Ada apa sih?"

"Kau yang ada apa! Apa maksudmu dengan merekrut anggota tanpa sepengetahuanku?"

"Eh? Aku tidak pernah melakukan itu, pelatih!"

"Lalu apa maksudnya?" Riko menunjuk ke samping kanan, namun mata Kagami tidak melihat apapun disana.

"Apanya?"

"Dia!"

"Dia sia— Whaa... Kuroko!"

"Doumo Kagami-kun."

Lelaki berambut merah gelap itu masih gelagapan. Kuroko itu benar-benar misterius pikirnya. "A— apa yang kau lakukan disini?"

"Aku mengikuti saran Kagami-kun. Aku akan bergabung dengan tim basket Seirin."

"Bukan begitu maksudku, bodoh! Aku 'kan hanya bilang kalau sekolah ini punya tim basket putri Koroko! Untuk putri..."

"Jadi tidak bisa ya?"

"Tentu saja tidak bisa!"

Kuroko menatap kedua orang di depannya sekali lagi. Membungkuk, lalu pergi.

"Tunggu!"

Riko berteriak dan berusaha mengejar Kuroko. Entah kenapa ia merasa tidak enak hati. Yang baru ditolaknya adalah satu dari makhluk kawaii yang selalu dipuja-pujanya.

"Kuroko-san, tunggu!" ucapnya lagi ketika sudah berada tepat di depan Kuroko dengan keadaan kedua tangan yang direntangkan ke samping kanan-kirinya— bermaksud menghentikan langkah Kuroko.

Berlebihan.

"Begini Kuroko-san, sebenarnya kau bisa bergabung dengan klub basket kami."

"Hontou?" wajah Kuroko terlihat begitu antusias, sedangkan Riko mengangguk bahagia. Oh Kami-sama, Kuroko-san sangat imut!

"Manager!"

"Hah?"

"Manager. Kau bisa bergabung dengan menerima posisi itu!"

"Tapi— Aku belum pernah menjadi menejer."

"Tenang saja, ini tidak sesulit itu! Senpai akan mengajarimu!" terdengar nada sombong didalam ucapannya, apalagi dengan posisi dada yang membusung dan kepalan tangannya.

"..."

"Bagaimana?"

Oh Kami-sama, sumpah demi apapun sekarang Kuroko dalam keadaan dilema. Pertama, ia ingin tetap menjadi bagian dari tim basket yang memang ia idam-idamkan sebelumnya. Tapi jika menjadi menejer? Kuroko tidak yakin mengenai hal itu.

"Mau ya? Aku sebenarnya cukup kerepotan mengurus tim sendirian, apalagi dengan adanya murid kelas satu. Selain itu aku juga satu-satunya perempuan di sana. Temani aku ya Kuroko-san?"

Satu lagi, kenapa pelatih ini begitu berharap padanya?

"Ano.. Aku sebenarnya tidak terlalu yakin, tapi akan aku coba."

Satu detik setelah itu, badan Kuroko merasakan pelukan yang tiba-tiba datang dari seorang Aida Riko.


Holla... Season 2 dari serial anime Kuroko no Basuke sudah selesai, tapi manga-nya lagi seru banget... :* readers~

RnR?