Aah~ akhirnya fic ini sukse di apdet. Makasih buat readers yang mau ngeluangin waktunya buat baca fic aneh ini, moga bias nambah pahala(?)#what!?pahala? hehehe..

Dan ini dia balasan ripiunya, makasih sebelumnya udah mau ngasih perhatian(?) lebih ya..

YamiRei28 Hahaha,, iya,, Len-kun jadi kasihan banget,,iya, ini udah dilanjutin, silahkan dibaca. ya, silahkan :3

Ryuuna Hideyoshi disini ceritanya Len sama Rin hanya sekedar teman biasa,, klo mengenai sikap dingin Rin, itu (masih) menjadi rahasia saya, Tuhan, dan Rin saja, jadi ikuti sja pergerakan(?)nya ya jelas kaito dunk, masa Kaiko sih? Heheeh.. Ini udah apdet, silahkan dibaca

~Disclaimer~

Vocaloid is belong to Yamaha Corporation and Crypton Future Media

-Warning—

Fanfic ini mengandung typo(s), EYD yang belum memenuhi syarat, dengak kecepatan alur yang masih terus dipertanyakan(?) karna remnya rusak(!), dan mungkin mengandung sedikit OOC. Diharapkan berhati-hati dengan efek sampingnya, yakni berupa : galau, marah-marah gk jelas, de el el

~Happy Reading~

Len's POV

`Ada apa ini? Apakah ada yang salah dengan mataku?`

Aku menampar pipiku sendiri. Sakit. Kemudian aku mengerjapkan mataku beberapa kali, tapisemua tetap sama. Rin masih bersama lelaki itu. Dan.. DIA MENGGANDENG TANGANNYA!

`Mengapa mimpi ini terasa sangat nyata?`

PLOK

Tiba-tiba aku merasakan tangan seseorang menepuk punggungku. Aku menoleh, dan mendapati seorang gadis berambut hijau tersenyum padaku.

"Sedang apa disini, Len-kun?" Tanya Gumi ramah. Aku gelagapan mendengar pertanyaan itu.

"E..etto.. Ini mau pulang.. hahaha .." aku tertawa hambar.

"Ah, kebetulan, aku juga mau pulang. Tapi Rin-chan pulang bersama Kaito-Senpai. Kita pulang sama-sama aja ya." Aku hanya mengangguk mengiyakan.

Kami berjalan beberapa meter di belakang Rin dan Kaito-sialan itu. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan kami. Sementara Gumi berceloteh ngalor-ngidul gk jelas, aku terus memperhatikan Rin yang terlihat beberapa kali tertawa dengan pemuda biru disampingnya. Membuat siang yang panas di hari ini menjadi semakin panas.

"..en! Len! Kamu baik-baik saja?" Gumi tiba-tiba mencubit pipiku.

"A..aduh! Sakit tau!" aku meringis kesakitan, pipi kananku sepertinya memerah.

"Ada apa? " Tanyanya heran. Aku sangat kesal melihat wajah innocentnya itu.

"Seharusnya aku yang bertanya!" Aku langsung saja meledak tanpa berfikir lebih jauh lagi dan langsung memarahi Gumi. Perempuan hijau itu tampak terkejut dengan gertakanku.

"Go..gomen ne.. Habis dari tadi Len-kun bengong aja, aku fikir ada apa-apa…" suaranya memelan, Gumi menunudukkan kepalanya dan memainkan jemarinya, menunjukkan bahwa ia merasa bersalah. Aku memutar bola mataku.

`Haah.. dasar cewek!`

"Sudah. Lupakan saja, ayo kembali jalan." Aku kembali berjalan. Dan secara tidak sengaja aku menatap Rin yang juga sedang memperhatikan kami. Kami saling berpandangan, tapi hanya sesaat saja. Karna setelah itu Rin segera memalingkan wajahnya.

`Ada apa sih dengannya!?`

Moodku semakin buruk saja.

"Tadaima.." aku melepaskan sepatuku tanpa meletakkannya ditempatnya. Setelah itu aku segera menghempaskan tubuhku ke sofa. Capek.

"Okaeri.." Terdengar suara feminin menyahut dari dapur. Lalu sang pemilik suara keluar, dan aku merasa sekarang ia sedang memperhatikanku dengan death-glare nya.

"Len..?"

"Iya neechan?" aku menjawab ogah-ogahan. Tapi Lenka-neechan tidak menjawab. Aku mengerti. Suara dengan penekanan pada namaku sudah cukup menyiratkan bahwa ia marah padaku. Aku beranjak dari tempatku dan segera membereskan sepatuku yang berantakan. Setelah itu aku melangkah dengan gontai ke kamarku. Lenka-neechan yang tadi marah-marah karna tingkahku yang memang tidak pernah mau tau dengan kerapian rumah, kini menatapku dengan heran.

"Ada apa Len? Kau skait?" aku tidak menjawab. Hanya mesuk ke kamar dan segera membanting pintunya -tentunya- denga kasar. Setelah itu tanpa aba-aba apa pun lagi segera menghempaskan tubuhku ke atas kasur.

Berdiam diri terus-trerusan membuatku selalu teringat dengan kejadian tadi siang. Sikap Rin yang dingin. Pemuda biru bersamanya -yang disebut Gumi sebagai Kaito-senpai-. Dan juga kebersamaan mereka.

End Len's POV

Normal POV

"Arghh! Sial!" Len merengut tidak jelas. Kemudian ia duduk dan melonggarkan dasi seragam yang dari tadi masih bertengger di lehernya.

Drrrt! Drrrtt!

Tiba-tiba handphone milik pemuda yang sedang galau itu bergetar, menandakan ada email masuk.

From : Mikuo The Cool Prince

To : Kagamine Len

Woi, Shota! Kemana aja kau!?

Anak-anak udah pada nunggu di lapangan basket nih.

Kau yang buat janij, malah kau yang gk datang?

Len menghela nafas panjang. Ia baru ingat kalau hari ini tim basketnya ada pertandingan denga tim basket dari sekolah kota sebelah. Bukan pertandingan resmi sih, hanya semacam latihan gabungan gitulah.

From : Kagamine Len

To : Mikuo The Cool Prince

Gomen, aku lupa. Hahaha

Ntar lagi aku kesana

Sending—

Setelah ia membalas email dari Mikuo, Len tertegun sesaat ketika menatap display hapenya. Gambar Rin dan dirinya yang sedang memakai kostum beruan—yang disetting si empunya hape sebagai wallpaper- menarik ingatannya kembali ke festival beberapa bulan lalu.

"Lihat, lihat. Lenny imut kan? Dia terlihat semakin shota!" Rin tertawa sambil terus merekam Len yang terlihat sibuk melepaskan diri dari kostum nista itu.

"emang dari dulunya udah shota." Mikuo yang memakai kostum negi(?) menimpali dengan nada sarkastik.

"Rin! Jangan merekamku! Mikuo! Sialan kau! Aku bukan shota! Ugh,, gimana cara melespaknnya nih? –Ribet banget!"

Rin tetap tertawa, tidak menghiraukan kata-kata Len. Mikuo hanya duduk sambil menopang dagu, melihat kegilaan Rin yang membuat Len tampak semakin bodoh.

"Rin-nee.. sudahlah.. kasihan Len-kun meronta-ronta(?) seperti itu." Gumi yang dari tadi memperhatikan Len kesusahan menjadi tidak tega dan segera memperingatkan Rin. Yang diperingatkan hanya tertawa kecil.

"Ah, biarkan saja dia seperti itu Gumi-chan. Orang cool seperti dia sekali-kali harus merasakan bagaimana rasanya menjadi orang konyol."

Mikuo yang mendengarkan percakapan dua gadis beda warna rambut itu segera berdiri dan protes pada Rin.

"Jangan menggunakan kata 'cool' untuk cowok shota seperti dia—Mikuo nunjuk Len-. Kata 'cool' hanya untuk pangeran Mikuo ini!" mikuo membusungkan dan menepuk-nepuk dadanya. Rin sweatdrop. Gumi tidak mendengarkan karena ia sedang membantu Len. Melihat tindakan Gumi yang (terlalu) cepat. Rin segera menghentikannya.

"Tapi Rin-chan.." Gumi ingin bicara, tapi Rin segera memotong kiata-kata Gumi.

"Baik, baik. Aku akan segera menghentikannya. Jadi Gumi-chan tenang saja." Rin tersenyum licik. Kemudian ia beralih pada pangeran narsis yang masih membanggakan dirinya sendiri.

"Mikuo-kun, tolong ambilkan foto kami." Rin memberikan handphonenya pada Mikuo. Perempuan bermanik ocean itu segera memeluk lengan pemuda disampingnya dan membentuk huruf V dengan jari tangannya yang lain. Bagaimana dengan Len? Yaah,, mau tidak mau ia harus tersenyum, atau wajahnya paling kusut akan tersebar ke seluruh warga Crypton School melalui email Rin.

Tiba-tiba lamunan Len buyar ketika ia merasakan ban sepedanya tertahan oleh 'sesuatu'.

"Mau kemana, Len?" suara yang sudah cukup familiar baginya itu membuat ia menoleh dengan cepat ke belakang. Dan mendapati senyum sarkastik seseorang disana.

"Eehh?"

~TBC~