Troublemaker

By D2L

Rate T

Genre : Crime / Suspense

!Warning : Akan banyak tokoh baru yang ditambahkan. Bukan hanya dari SM, tapi banyak dari yang lain yang tidak terduga dan penggunaan kata-kata kasar !

.

.

.

Death Game

Section A

...

.

.

.

Kyuhyun dan Sungmin terpaksa harus bangun. Tentu saja. Tubuh mereka digulingkan jatuh ke lantai dari tempat tidur mereka oleh para penjaga penjara ini.

"Bangun kalian! Sampai kapan kalian mau bermalas-malasan di atas tempat tidur kalian," ucap penjaga itu garang. Laki-laki penjaga itu tampak jangkung, walaupun tidak terlalu berotot, tapi terselip sesuatu yang berbahaya di sana, sebut saja nama penjaga itu adalah Sim Changmin.

Kyuhyun menggeram kesal, dan sama halnya dengan Sungmin, tapi mereka diam dan menuruti saja apa yang diingkan oleh Changmin. Mereka bangkit berdiri dan kedua tangan mereka segera diborgol. Changmin berjalan terlebih dahulu untuk menggiring mereka keluar dari sel mereka. Sepertinya bukan hanya Kyuhyun dan juga Sungmin yang diperlakukan seperti itu. Semua tahanan tampak digiring oleh personal penjaga mereka menuju lantai satu. Di lantai satu dari penjara itu tiba-tiba saja terdapat sebuah podium dan para tahanan ini harus dibuat menunggu di depan podium itu.

Tiba-tiba saja seorang berjalan naik ke atas podium itu. Tatanan rambut laku-laku itu cukup unik atau terbilang aneh. Gaya berpakaiannya yang gotik dan juga berandal, sama sekali tidak memperlihatkan jika dia adalah salah satu penjaga di dalam penjara ini. Well, tidak ada sebutan polisi. Ini penjara illegal, kan? Walaupun diluar, pemerintah dibuat tertipu dan penjara itu terlihat legal dimata mereka. Laki-laki itu tampaknya adalah kepala penjaga di sini. Namanya, ah tidak boleh disebutkan, tapi dia punya sebuah codename. Semua orang memanggilnya GD, singkatan dari G-Dragon.

"Hari ini aku akan mengumumkan sebuah revisi terhadap permainan battle fight yang selama ini kalian jalanani. Mulai saat ini battle fight akan dihilangkan dan semua kerja keras kalian para tahanan lama akan hilang juga. Itu artinya peringkat yang sudah kalian dapatkan selama ini akan menjadi tidak berlaku lagi," ucap GD.

Tentu saja semua tahanan yang ada di sana langsung berseru tidak senang akan keputusan itu, terutama pada tahanan lama yang tentu saja sangat dirugikan. Mereka sudah bersusah payah untuk meraih peringkat, tapi tiba-tiba saja semua itu dihapus dengan alasan yang cukup konyol. GD tersenyum melihat kericuhan yang terjadi karena dirinya. Dia menoleh ke arah belakang dan memberikan sebuah sinyal pada rekan kerjanya. Rekannya itu perlahan menekan sebuah tombol, dan suara tidak mengenakan dan juga bising dipancarkan oleh loudspeaker yang ada di sini, sontak saja suasana langsung menjadi tenang kembali dan GD tampaknya akan melanjutkan pidatonya.

"Banyak dari kalian adalah tahanan baru di sini. Pasti tidak akan seru dan adil buat tahanan lama untuk merasakan permainan yang selama ini sudah bertahun-tahun mereka jalani, kan?" tanya GD pada kubuh tahanan baru yang langsung disambut oleh sorakan meriah, tapi GD kembali melanjutkan perkataannya,"dan lagi kalian sebenarnya tahanan baru diuntungkanloh karena kalian tidak akan berhadapan langsung dengan pembunuh yang sudah professional." Kali ini kubuh tahanan baru harus dibuat terdiam dan kubuh tahanan lama yang harus bersorak senang. Sepertinya laki-laki itu sudah berhasil membuat cerpikan api untuk mengadu domba sesama kriminal yang ada.

Sekali lagi loudspeaker yang ada harus membuat suara tidak mengenakan yang menyakitkan telinga untuk menghentikan adu mulut yang mulai terjadi oleh dua kubuh yang ada.

"Tapi tenang saja, akan ada sebuah permainan yang lebih menarik lagi yang akan menggantikan battle fight. Kali ini lebih menegangkan dan berdarah. Ya, kalian dengar. Lebih berdarah. Kali ini kalian diperbolehkan untuk saling membunuh satu sama lain. Tidak akan ada peraturan seperti di battle fight, kalian bebas memakai cara licik apapun untuk bisa menang," lanjut GD.

"Sesuai dengan yang kukatakan tadi, maka permainan ini diberi nama death game." Tampaknya GD sengaja memberi sebuah jeda di sini. Suasana benar-benar hening dan menunggu apalagi kejutan yang akan diberikan kepala penjaga itu.

"Dan bagian yang paling menyenangkan adalah death game dimainkan oleh sebuah tim. Ini adalah pertarungan antara satu tim dengan satu tim pembunuh yang lainnya, permainan ini tidak individu dan itu artinya kebebasan kalian untuk keluar dari sini bukan lagi hanya untuk satu orang, tapi kebebasan itu akan diberikan kepada anggota tim yang masih hidup sampai akhir. Bagus bukan? Kesempatan kalian untuk bebas dari sini lebih banyak lagi."

"Selamat membentuk tim kalian. Aku sarankan untuk merekrut kriminal-kriminal yang tidak akan merugikan kalian. Kumpulkanlah dari terelit dengan yang terelit dan biarkan mereka yang terbuang di sini menjadi lebih terbuang." Perlahan GD turun dari panggung itu dan tampak seorang penjaga lain yang naik menggantikan posisi GD. Namanya Daesung.

"Satu tim terdiri dari tujuh orang. Masing-masing tim akan diberikan ruang latihan pribadi. kalian akan menempati ruangan kalian selama kurang lebih satu bulan sebelum death game dilangsungkan," ucap Daesung.

"Dan perlu kalian cermati lagi, death game kali ini bukan hanya kalian yang menjadi pelaku, kami juga akan mulai ikut campur. Kami bukan hanya sekedar watcher lagi jadi berhati-hatilah jangan sampai kalian mati di tangan kami dan bukan sesama kalian. Untuk detil bagaimana death game itu sendiri, kalian akan tahu pada harinya." Tepat sebelum pidato singkatnya selesai, tersinggung sebuah seringai licik. Sepertinya dia akan benar-benar menikmati perannya yang akan lebih menenggangkan.

Sekeliling podium itu tiba-tiba menjadi gelap dan tertinggal para tahanan yang sudah mulai kembali ribut. Kebanyakan dari mereka mulai mencari pasangan tim. Sudah bisa diduga, mereka yang elite dengan yang elite dan mereka yang terbuang dengan yang terbuang. Dari kubuh tahanan lama dengan yang lama dan yang baru, yang tidak berpengalaman dengan terpaksa menjadi penyisahan yang kemudian menjadi tim secara paksa.

Kyuhyun menghelah napas frustasi melihat kondisi timnya saat ini. Benar-benar miris. Tidak ada satupun dari kriminal ini yang dikenalnya yang artinya tidak terkenal dan tidak berbahaya jika dibandingkan yang lainnya yang artinya mereka lemah.

'Oh gosh, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini?' gerutu Kyuhyun apalagi ketika dirinya harus satu kelompok Lee Sungmin.

"Kita tidak akan menang. Lebih baik mengundurkan diri saja sebelum mengikuti permainan itu," ucap Kyuhyun ketus.

Sepertinya semua merasa seperti demikian kecuali Sungmin. Dengan wajah kesal dia maju ke depan Kyuhyun. "Kau mau menyerah bahkan sebelum permainan itu dimulai? Yang benar saja. Kita akan semakin diejek dan direndahkan oleh mereka."

"Dan sialnya diamlah. Kau benar-benar berisik. Apa kau tidak bisa melihat tim kita? Benar-benar tidak ada harapan. Apa yang kau harapkan dari tim buangan ini dibandingkan dengan tim milik Woobin," ucap Kyuhyun menyebut salah satu kenalannya. Woobin. Ya, laki-laki itu memiliki tim idaman diantara semuanya.

Baru saja Sungmin ingin membalas ucapan Kyuhyun , seorang yang tak diundang datang. Tepatnya dia adalah mentor milik kedua laki-laki itu, Changmin. Dia berjalan membawa satu ikat kunci. Satu persatu dari tim yang terisikan manusia-manusia sisa didatanginya dan dia membuka borgol yang masih mengekang kedua tangan dari tujuh orang yang ada di sana.

"Tim ini benar-benar buruk jika kau ingin aku jujur mengatakannya, sampai-sampai para personal penjaga lainnya yang dulunya adalah penjaga kalian tidak mau menjadi mentor kalian. Untungnya aku cukup berbaik hati untuk menghandel tim parah ini," ucap Changmin.

"Oh, this is getting shit," gerutu Kyuhyun.

Changmin langsung menatap tajam ke arah laki-laki itu. "Jaga mulutmu. Aku mungkin lebih muda dari kalian di sini, tapi melihat pangkat yang ada di sini, kurasa kau sudah tahu akibat selanjutnnya."

Tampaknya keduanya tidak akan akur untuk ke depannya.

"Sekarang aku ingin kalian berkenalan dengan sopan," Changmin tampak menekan kata terakhir yang diucapkannya.

Kyuhyun mendecak kesal. Tanpa basa basi dia langsung berucap,"Kyuhyun."

Selanjutnya di sambung dengan Sungmin,"Sungmin." Sama singkatnya.

"Minho."

"Seungri."

"Taemin."

"Jihyo."

"Xiumin."

Tampaknya mereka masih terlalu segan untuk mengungkap nama mereka yang lengkap.

"Kalian ini benar-benar masih belum bisa saling percaya satu sama lainnya? Padahal kalian itu satu tim, loh. Kepercayaan itu benar-benar dibutuhkan." Tampaknya apa yang dikatakan Changmin sama sekali tidak dipedulikan. Laki-laki itu harus dibuat menghelah napas.

"Namaku Shim Changmin, tapi kebanyakan yang ada di sini hanya mengetahui codenameku, Max. Aku juga menyarankan kalian mempunyai codename. Sebagai sesama tim sih tidak masalah jika kalian mengetahuinya, malah lebih baik lagi. Jadi jika kita bersama kalian bisa memangilku Changmin, tapi tidak selebihnya," ucap Changmin.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang setelah basa basi ini? Lihat. Hanya kita yang tertinggal di sini sedangkan tim-tim yang lainnya sudah menuju ruang latihan mereka sendiri-sendiri." Satu-satunya perempuan yang ada di sana angkat bicara, Song Jihyo.

"Ya, apa kita tidak mulai mendatangi ruang pribadi kita?" tanya Taemin.

Changmin menyinggung sebuah senyuman. "Kalian ini benar-benar tidak sabaran."

Laki-laki itu berjalan terlebih dahulu memimpin jalan, yang lainnya mengikut dari belakang. Sepertinya Minho dan Xiumin tampak saling berbincang satu sama lain. Mereka larut dalam pembicaraan mereka sendiri. Sedangkan laki-laki yang bernama Seungri dari tadi belum membuka mulutnya sama sekali.

Sebelum mereka sampai di ruangan mereka, sepertinya mereka melewati ruang pelatihan milik Woobin. Di dalam ruangan itu terdapat instruktur tim Woobin yang tidak lain adalah Jung Yunho,seorang mantan tentara di pangakalan militer Brazil, bukan tentara biasa, panglima perang kau bisa mengatakannya . Lengkap sudah. Kebencian Kyuhyun semakin banyak terhadap Woobin. Secara tidak sengaja tatapan mereka saling bertemu. Sorot benci saling dilontarkan ke satu sama lain.

"Sebenarnya ruang pelatihan yang digunakan oleh temanmu si Woobin itu adalah ruang pelatihan milikku yang artinya milik kalian juga, tapi sayangnya itu bukan lagi milikku." Ucapan Changmin membuat dirinya kembali diperhatikan. Dari tadi para anak didiknya benar-benar mengabaikannya. Well, mereka memang kurang suka atau puas pada Changmin yang menjadi instruktur mereka.

"Sepertinya kita mendapatkan pelatih yang tidak kalah buruknya sampai tempat pelatihannya juga digusur," hina Kyuhyun.

"Tidak. Aku ditawari tapi dengan sengaja menolak tepatnya. Kalian tidak boleh dimanja oleh senjata yang canggih," balas Changmin enteng.

Akhirnya mereka sampai di ruang pelatihan mereka.

"Aku ingin melihat kalian bagaimana mengatasi situasi seperti ini. Hal seperti ini akan banyak kalian temui di arena permainan nanti loh," ucap Changmin dengan seringai tipis.

Ketujuh orang itu harus dibuat tercengang. Ini bukan ruang pelatihan namanya, lebih tepatnya seperti sebuah gudang. Tidak ada senjata yang terbuat dari besi dan logam yang kuat. Yang ada di sini hanyalah barang tidak berguna yang tertumpuk-tumpuk dan kayu-kayu yang sudah mulai lapuk.

"Kau tidak bercanda, kan?" Kali ini Sungmin mengutarkan protesnya.

"Tidak. Malah aku sangat serius sekarang. Jadi kita akan langsung memulai pelatihannya," balas Changmin.

"Ya, kau Cho Kyuhyun yang ada di sana sebaiknya kau menempati tempat pertama sebagai penantangku." Dengan tatapan menantang Changmin menatap Kyuhyun.

"Baik. Dengan senang hati aku akan melayanimu." Seringai itu akhirnya muncul juga.

"Aku akan memberikanmu kesempatan padamu untuk memilih apapun yang ada di sini sebagai senjatamu," ucap Changmin.

"Bagaimana dengan dirimu?"

"Aku? Aku lebih memilih melakukannya tanpa semua itu."

"Sepertinya kau memilih jalan yang salah."

"Hmm... not really a bad choice actually."

Kyuhyun memasang sebuah seringai merendahkan. Beberapa detik kemudian dia sibuk memilih senjata miliknya. Matanya mendapati sesuatu yang menarik. Sebuah pisau kecil yang tampak sudah mulai berkarat. Akan lebih bagus dia memilih sesuatu yang ringan daripada balok kayu yang akan menghalangi gerakannya.

"Kau tidak mau menyerang terlebih dahulu?" tanya Changmin.

"Kau pikir aku akan termakan oleh provokasimu? Kenapa tidak kau saja yang memulai?" ucap Kyuhyun seraya melempar-lempar pisau miliknya.

"Padahal aku memberikanmu kesempatan agar bisa menang," balas Changmin.

Kali ini sesuai dengan yang dikatakan Kyuhyun, Changmin memulai serangannya terlebih dahulu. Saat sudah cukup dekat dengan Kyuhyun, tanpa terduga Changmin melemparkan sebuah bom gas ke kaki Kyuhyun. ketika bom itu sudah menyentuh lantai, gasnya mulai keluar dan membuat semua pandangan menjadi kabur.

"Kau berbuat curang!" seru Kyuhyun.

"Apa ada peraturan aku harus bertanding dengan jujur?" sambung Changmin dengan nada meremehkan.

Kyuhyun mendecak kesal mendengarkan ucapan Changmin. Kali ini dia benar-benar menajamkan pendengarannya. Pandangan matanya sama sekali tidak bisa diandalkan. Sedikit saja Kyuhyun mendengar suara kecil maka dia akan berbalik ke arahnya, tapi tidak satupun bayangan yang terlintas di sekitar kabut yang ada di sana. Mentor menyebalkan itu sengaja memancingnya rupanya. Tiba-tiba saja terdengar benturan yang sangat keras. Sontak saja perhatian Kyuhyun benar-benar tertuju ke arah datanganya suara itu. Dari arah datangnya Kyuhyun bisa melihat seperti ada darah yang mengalir di lantai. Kening Kyuhyun langsung berkerut.

'Apa-apaan itu?' batin Kyuhyun.

Kyuhyun sadar ada hembusan angin tidak jelas yang ada di tengkuknya. Kyuhyun langsung berbalik dan hendak melayangkan sebuah tinju, tapi sayangnya serangan miliknya sangat mudah untuk ditangkas oleh Changmin, sang penyerang. Tangannya dicengkram dengan sangat erat oleh Changmin. Bahkan terasa mulai sakit. Kyuhyun harus mengakui bahwa orang yang ada di depannya ini memang benar-benar terlatih. Tidak ada suara mencurigakan yang bisa membuatnya untuk melacak Changmin. Dia mungkin saja sudah terkena serangan jika tidak menyadarinya lewat hembusan tipis yang terbuat.

"Kau pikir itu darahnya siapa? Tentu saja pacar tercintamu," bisik Changmin dengan sebuah seringai. Saat ini dia masih belum melepaskan cengkaramannya.

Kyuhyun menggertakkan giginya. "Kau jangan bercanda, Hal seperti itu tidak mungkin terjadi."

Tiba-tiba saja seringai itu luntur terganitkan oleh wajah datar."Apa aku akan bercanda pada keadaan yang seperti ini? Untuk mengalahkanmu aku tidak segan untuk melakukan cara apapun. Bahkan walaupun itu akan menganggu mentalmu."

"Kulihat di sini kau saja yang gila karena beranggap itu adalah darah dari orang lemah yang sudah hampir memotong urat nadimu," sindir Kyuhyun. Dirinya terlihat puas saat melihat tubuh Changmin yang tiba-tiba menegang karena ada sebuah pisau yang menyentuh lehernya. Yang melakukannya? Tidak lain adalah lee Sungmin.

"Simulasi ini konyol. Membahayakan nyawa kami harusnya tidak ada di dalam kamusmu," ucap Sungmin.

"Gas itu tidak sanggup membuat kami berhalusinasi seperti keinginanmu. Semuanya terlalu terlihat palsu. Apa benar kau yang terbaik yang dikirim untuk melatih kami? Trikmu bisa saja membunuhmu seperti apa yang kulakukan sekarang," lanjut Sungmin.

"Kau benar. Kau dengan mudah melihat celah sempit yang kubuat, ya?" balas Changmin.

"Kau hanya melakukan trik yang murahan. Aku sudah melihatnya beberapa kali. Apa benar kau lebih hebat dari mentor lainnya? Sepertinya kau terlalu membanggakan dirimu sendiri." Kali ini Kyuhyun yang berkomentar.

"Tentu saja. Apalagi ini hanyalah sebuah tes omong kosong yang kau buat," ucap Sungmin.

"Sepertinya kau tidak mudah dipengaruhi, ya?"

"Tentu saja. Kau pikir apa yang kudapatkan dari berada di dunia kelam ini, hah? Kewaspadaan yang tinggi dan juga kemampuan yang hebat."

Changmin mengambil dengan santai pisau itu dari tangan Sungmin dan melemparnya jauh."Mengunakan kelemahanmu sepertinya tidak memberikan efek apa-apa."

"Dia bukan kelemahanku," ucap Kyuhyun.

Changmin hanya membalasnya dengan sebuah senyuman menjatuhkan. Dia perlahan menjauh dari Kyuhyun dan sungmin yang masih tetap berada di tempatnya.

"Aku tidak akan berterima kasih untuk yang tadi," ucap Kyuhyun sinis. Dia langsung membuang muka dan kembali ke barisan bersama dengan yang lainnya.

Sungmin hanya menatap punggung Kyuhyun yang menjauh darinya dengan datar. Terlalu malas untuk membalas diapun mengikuti untuk kembali ke dalam barisan, menunggu siapa lagi yang akan dipanggil oleh Changmin.

"Kau, Minho. Sekarang adalah giliranmu untuk melawanku. Seperti sebelumnya aku akan melawanmu dengan tangan kosong, tapi terserah denganmu ingin mengunakan benda apapun yang ada di sini sebagai senjatamu," jelas Changmin.

"Aku heran. Kau itu terlalu percaya diri atau kau terlalu malas untuk membawa benda-benda itu dikedua tanganmu?" Dengan berani Minho menyindir Changmin.

"Sepertinya aku mendapatkan anggota tim yang bermulut tajam. Kau benar-benar sama dengan Cho itu." Kali ini balas Changmin yang menyindir Minho.

Sepertinya Minho tidak berniat untuk melanjutkan adu mulutnya. Kedua tangannya memegang satu rantai besi panjang yang sama berkaratnya dengan pisau milik Kyuhyun.

"Hanya itu?" tanya Changmin.

"Ya." Tanpa basa-basi Minho berlari ke arah changmin. Jarak mereka masih belum terlalu dekat, tapi tiba-tiba saja Minho berhenti. Sayanganya tidak dengan gerakan tangannya. dengan kekuatan kuat dan cepat dia menggerakan rantai itu hingga terlempar ke udara hampir mengenai Changmin jika saja laki-laki itu tidak segera menslide turun tubuhnya ke atas lantai berdebu. Rantai itu jadinya hanya mengenai rak-rak dan meja kayu yang ada sampai patah.

Changmin cukup terbelak, tapi yang ada dia malah menikmatinya."Wow, kau cukup hebat juga."

"Tentu saja. Kau pikir aku siapa, hah?"

"Kesombongan akan membuatmu jatuh, loh." Lagi-lagi Changmin menggunakan cara curang. Sudah ada senjata lain yang disembunyikannya. Puluhan belati di balik jaket kulit yang dikenakannya kini beralih di kedua tangannya yang langsung dilemparnya ke arah Minho.

"Yang benar saja."

Belati-belati itu sudah melayang ke arahnya, tapi Minho sekali lagi mengegrakan rantai itu dengan lincah hingga rantai itu menghantam belati-belati tersebut. Semua enjata yang diarahkan oleh Changmin kini sudah nyasar ke berbagai arah di gudang tersebut. beberapa bahkan hampir mengenai mereka yang menjadi penonton di sana.

"Shit! Kau hampir saja membunuhku!" seru benar. Belati itu tepat mengenai kepala atasnya sampai-sampai beberapa rambutnya sudah terpotong.

Minho hanya membalasnya dengan senyuman minta maaf dan kemudian perhatiannya kembali ke arah Changmin. Dilihatnya mentor tersebut sudah tidak berada di sana lagi. Minho hanya menghelah napas, tapi tidak kecewa. dia kembali menggerakan rantai miliknya. Kali ini terus berbentuk lingkaran dengan sangat kencang. mungkin akan terbentuk tornado kecil di sana. Selagi kedua tangannya bergerak memutar rantai tersebut, matanya tetap waspada mencari keberadaan Changmin. matanya melirik dengan liar. Dia melihat ada sebuah pergerakan dan rantai yang dipegangnya ;angsung dihantam dengan kasar ke arah bayangan yang dilihatnya dari lantai.

"Fuck!" terdengar suara makian yang tidak lain adalah Changmin. lihat saja. Kaki bagian bawahnya kini sudah terlilit oleh rantai yang dipegang oleh Minho. "Bagaimana?" tanya Minho dengan seringai penuh kemenangannya.

Changmin tidak membalasnya. Dia hanya mendecak kesal dan dengan sorotan tatapan jengkel dia menyuruh Minho untuk melepaskan cengkaram rantai tersebut dari kedua kakinya. Dengan raut datar dia kembali berdiri dan menatap para penonton yang kini sedang menahan tawa kecil mereka.

"Selanjutnya," ucapnya dengan garang.

Taemin yang melangkah dengan sendirinya. Dia mengambil dua buah tang. Dengan gaya kuda-kuda yang mantap dan lirikannya dia seperti mengundang Changmin untuk datang ke arahnya. Sekali lagi Changmin menggunakan bom asap miliknya. gudang itu kembali lagi penuh dengan asap yang membuat siapapun menjadi sulit melihat. Taemin yang dalam keadaan seperti ini tetap tenang seperti Kyuhyun sebelumnya. Dia tidak menutup matanya. Tapi kedua telinganya benar-benar dipertajam. Dia mendengar suara langkahan dari arah kirinya dan tidak menunggu lama sebuah pukulan dari arah sana hampir mengenai pipi kirinya. Tangannya bergerak cepat menangkasnya. Tang miliknya dibalas dengan pisau milik Changmin.

Mereka berdua terus saja saling menyerang dan menghindari satu sama lain. Gerakan tangan dan tubuh mereka begitu cepat dan juga terlatih, tapi pada suatu saat Changmin berhasil menerobos pertahanan yang dibuat oleh Taemin. Pisau miliknya berhasil melukai kaki Taemin dengan luka yang cukup dalam hingga bisa membuat laki-laki itu terjatuh berlutut seperti merendahkan dirinya terhadap changmin.

"Kau kurang gesit, tapi selebihnya oke saja. Kau harus lebih belajar lagi," ucap Changmin mengusai tesnya terhadap Changmin.

"Selanjutnya aku ingin yang berbeda." Dia melirik ke arah mereka yang belum melawan dirinya.

" Aku ingin kalian berdua melawanku. Ya, dua lawan satu."

Kali ini Seungri dan Xiumin yang ditunjuk untuk melawan dirinya.

"Kau terlalu sombong! Itu akan membuatmu jatuh, loh," sindir Kyuhyun. Dia mengulangi kata-kata sindiran yang dilontarkan padanya tadi. Memang karena mentornya terlalu sombong untuk melawan dua orang sekaligus seorang diri.

Seungri memilih satu ban sepeda yang sudah tidak terpakai. Masih lengkap dengan besi- besi rangkapnya. Diselipkannya jarinya di antara besi-besi rangkap tersebut. Rupanya dia menjadikan ban tersebut seperti sebuah perisai. Sedangkan Xiumin memilih sebuah dua botoh yang sudah pecah bagian bawahnya. Dia memegang mulut botol tersebut dan mengarahkan bagian tajamnya ke arah Changmin yang memberikan mereka senyuman meremahkan. Kali ini Changmin dengan terang-terangan memperlihatkan apa yang akan digunakannya. Dia mengambil sebuah pedang tipis yang biasa digunakan permainan sanggar.

"Siapa yang akan menyerangku terlebih dahulu?"

"Kami," ucap Seungri dengan seringai aneh. Tatapan matanya tidak melihat ke arah wajah Changmin melainkan ke arah kedua kaki laki-laki jangkung itu. Entah bagaimana caranya Seungri berhasil melemparkan petasan-petasan kecil ke arah Changmin. Petasan yang sudah menyala itu cukup mengalihkan perhatian Changmin dari kedua penantang tersebut.

Ban yang tadi dipegang oleh Seungri sudah tidak ada di tangannya. Ban tersebut sudah melesat dengan kencang ke arah Changmin. Perhatiannya mungkin teralihkan tapi tidak tdengan pendengarannya. Dia bisa mendengara suara berisik yang dihasilkan oleh besi-besi rangkai yang dimiliki ban itu yang bergesekan dengan udara. Tangannya yang memengang pegang di arahnyakannya ke arah datangnya ancaman tersebut. dia hanya memanjangkan pedangnya dengan prediksi yang tepat dia bisa membuat pedang tersebut masuk ke dalam celah-celah dari besi rangkai ban tersebut. dengan gerakan ke atas sedikit dia membuat ban yang sudah ada dalam cengkaraman pedangnya terlempar mengenai dinding atas.

Badannya berputar dan mengarahkan pedangnya ke arah yang berlawanan. Pedang itu saling bertemu dengan salah satu botol kaca milik Xiumin. Tidak hanya disitu saja satu tangan Xiumin menargetkan kepala milik Changmin. Tapi Changmin dengan cepat menyelipkan tangannya untuk menekan satu tangan Xiumin. Dia kemudian membanting dengan sangat keras Xiumin ke lantai. Dua botol kaca yang masih ada itu diinjak dengan kasar oleh Changmin sampai tidak berbentuk lagi.

"Melawan satu-satunya perempuan yang ada di sini, mungkin aku akan membuat sedikit kelonggaran?" Changmin menatap ke arah Jihyo.

"Sebaiknya kau tidak melakukannya," ucap wanita itu seraya mengambil sebuah cutter.

Changmin sedikit mengerutkan keningnya ketika wanita itu berjalan menuju arah yang berlawanan dengan dirinya. Rupanya wanita itu menuju saklar listrik yang ada di dalam gudang tersebut. Dia segera mematikannya tanpa ragu. Semuanya menjadi gelap gulita. Benar-benar gelap gulita.

"Oh, ternyata ada ular berbisa di sini." Suara Changmin menggema di udara.

"Sepertinya aku tidak menyukai panggilan ekspres yang kau buat." Tanpa takut Jihyo menyautnya. Padahal mungkin saja dengan demikian Changmin bisa mengetahui posisinya untuk saat ini.

"Kau tidak pernah membuat peraturan bahwa hanya aku yang harus melawanku, kan? bagaimana dengan kalian yang lain? kalian tidak ingin hanya berdiri saja di dalam kegelapan ini dan menunggu secara tidak pasti,kan? Tidak masalah jika mereka juga ikut, kan?"

Changmin bisa merasakan dirinya tertipu entah dalam artian apa.

"Aku ingin ikut!"

"Tidak masalah, kan mentor?"

"Apa yang dia katakan benar!"

"Kami akan dibuat bosan menunggu di sini!"

Satu persatu dari mereka menyaut dengan antusias. Dirinya melawan semua anak muridnya? Mungkin tidak buruk juga. Ardenalinya akan lebih terpacu lagi.

Changmin sama sekali tidak mendengar suara langkahan kai tapi tahu-tahu ada sebuah pukulan yang mengenai lehernya. beberapa detik kemudian kakinya dihantam dengan keras sehingga harus membuat berlutut di lantai. Changmin berdiri dengan cepat. Dia menajamkan pendengaraannya dan dia mendengar berapa langkahan kaki dari arah kirinya. Semakin dekat. Changmin menghitungnya dan kini jaraknya sudah sangat tepat. Dia memutar badannya dan menggerakkan kakinya untuk mengenai seseorang yang hendak menyerangnya. Kakinya tepat menghantam kaki lawannya. Orang itu berteriak dan Changmin langsung sadar bahwa itu adalah Taemin, tapi serangan tidak berhenti di sana saja. Sebuah pukulan hampir mengenai kepala bagian belakangnya jika saja dia tidak segera merasakan angin tebasannya dan menggerakan sedikit kepalanya ke arah kiri seraya memegang erat tangan yang pukulannya sudah meleset lalu memelintir tangan tersebut. Changmin bergerak membuat tangan itu terapit paksa pada sang empunya dan kemudian dia menendang bokong Xiumin sampai laki-laki itu terpental cukup jauh darinya.

Changmin bisa merasakan punggungnya dihantam dengan sangat keras dan sekali lagi Changmin tidak bisa memprediksi keberadaan orang itu. Tidak seperti lainnya yang dengan mudah Changmin bisa mengetahui segala prediksi lokasi mereka dan apa yang akan mereka lakukan. Well, sepertinya inilah alasannya tempat ini dibuat menjadi gelap karena di sinilah tempat seorang Song Jihyo akan unggul dengan kemampuannnya.

"Hey, aku punya julukan yang lebih bagus padamu. Wonderwoman kalau begitu? Bukan itu cocok untuk jadi codenamemu," ucap Changmin. "Monster, maybe?"

"Okey. Yang terakhir sepertinya yang paling cocok. Setidaknya dengan adanya kau tim ini jadi tidak buruk-buruk sekali," ucapnya semakin memanas-manasi Jihyo.

Tiba-tiba saja lampu dalam ruangan itu kembali menyala dan berdiri Jihyo tepat di depannya dengan tatapan datar. "Kurasa pertarungan kita cukup di sini."

"Kau benar dan tentu saja dengan yang lainnya juga."

Sungmin langsung mengerutkan kening."Tunggu bagaimana dengan diriku?"

"Aku tidak perlu melawanmu. Hanya dengan melihat pertarunganmu selama terjun di dunia sana aku sudah bisa menebaknya. Kau akan mudah ditumbangkan jika cara bertarungmu seperti demikian." Ucapan Changmin benar-benar membuat Sungmin marah, tapi dia tetap diam berusaha untuk menampilkan ketengangannya.

"Sadarlah jika yang kalian hadapi itu bukanlah polisi-polisi yang berotak bodoh. Yang kalian hadapi adalah orang-orang yang paling jenius dan licik di dunia. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama berkecimpungan di dunia kotor. Kalian tidak akan menang seperti apa yang terjadi diluar sana ketika kalian hanya berhadapan dengan sekumpulan orang bodoh." kali ini ucapannya ditujukan pada semua anak didiknya.

"Oke, kita cukup sampai di sini. Istirahat 30 menit dan kita akan melanjutkannya lagi,"

Mendengar perkataan itu mereka mulai keluar satu persatu. Sebelum keluar dari ruangan itu Kyuhyun memandang Sungmin dengan senyuman dan tatapan yang benar-benar merendahkan."Mungkin aku salah. Bukan mereka yang paling lemah di sini, melainkan kau. Dia bahkan tidak mau turun tangan melawanmu." Sungmin merasa hinaan dari Kyuhyun membuat telinganya panas. Dia akan langsung menyerang Kyuhyun dan memukul dengan membabi buta jika saja Jihyo tidak segera memegang lengannya untuk menyadarkannya.

"Kau akan mendapat masalah yang lebih besar jika kau termakan dengan ucapan bodohnya," ucap Jihyo. "Dan kupikir kita telah diberi waktu istirahat. Lebih baik kita menggunakannya dengan baik," lanjutnya.

Wanita itu melepaskan tangannya dari lengan Sungmin dan berjalan sendiri keluar dari gudang itu. Walau hanya sebentar Sungmin merasa dia hanya bisa berada di sekitar wanita itu untuk sementara waktu daripada yang lainnya. Wanita itu lebih mengeluarkan sifat berteman yang baik dari yang selebihnya. Mereka berdua berjalan cukup jauh dari gudang tersebut. Jihyo berjalan menuju ruang merokok. Beruntung ruangan itu sepi saat ini. Mereka berdua masuk dan duduk tanpa bicara. Masing-masing memilih untuk mengambil rokok yang sudah tersediakan, menyalakannya dan menghirupnya.

"Kenapa kau mengikutiku sampai kemari?"

"Hanya merasa kau yang paling bisa diajak bicara untuk saat ini."

"Mungkin saja presepsimu salah."

"Tapi buktinya kita bisa bicara dengan damai satu sama lain." Jihyo menghelah napas mendengar perkataan keras kepala dari Sungmin.

"Jadi? Kau mau membicarakan tentang apa sekarang?"

Sungmin tampak berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian dia membuka mulutnya untuk berbicara."Kenapa kau bisa ada di sini? Apa karena kegiatan teroris?"

"Tidak. Aku ke sini karena membunuh suamiku,"

"Hanya itu ? Hanya karena itu?"

"Aku belum menyelesaikan perkataanku." Wanita itu memandang sinis ke arah Sungmin. "Dan dia adalah seorang perdana menteri keuangan di pemerintahan Seoul," ucapnya.

"Oh, kalau begitu mungkin aku pernah melihatnya," balas Sungmin.

Dengan memasang wajah meremehkan dia Jihyo,"Mana mungkin."

Sungmin mengangkat kedua bahunya."Mungkin saja kok. Kau tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini, kan?"Mendengar itu Jihyo tampak mengerutkan keningnya.

"Well, sekarang aku akan memberitahumu. Aku baru saja membunuh sekelompok perdana menteri yang terlibat penggelapan uang di proyek pertambangan batu bara di negara ini," lanjutnya.

Tidak terbayangkan bagaimana kagetnya Jihyo sekarang. Membunuh orang sepenting itu dengan mudahnya tanpa ada tekanan pada wajah laki-laki yang jauh lebih mudah darinya. Bagaimana cara dia melakukannya? Saking terbiasanyakah dia dengan dunia pembunuhan? "Siapa kau sebenarnya?"

"Aku? Aku hanyalah anak ilegal dari presiden negara ini yang harus disembuyikan identiasnya. Mungkin karena kebebasanku sudah terengut aku memilih jalan memberontak sebagai seorang kriminal untuk menunjukkan keesistensianku yang selama ini ditutupi oleh ayahku sendiri." Itu benar-benar sebuah jawaban yang tidak terduga. Sangat tidak terduga.

"Kalau kau adalah anak dari Kim Youngwoon dan bukan anak dari Kim Sora, kau anak siapa?" tanya Jihyo dengan penuh kehati-hatian.

"Aku? Aku bahkan tidak tahu, tapi yang pasti wanita itu jelas bukan ibuku. Yang selalu ditampakkan di mata publik adalah kakakku saja."

"Kim Yonghwa," ucap Jihyo mengatakan kakak Sungmin.

"Kau benar. Aku hanyalah sampah yang harus ditutupi. Sepertinya kita memang berada di sini karena bermasalah dengan lingkungan kita. Sebenarnya bukanlah kita yang kotor dan licik di sini, tapi mereka diluar sanalah yang lebih berbahaya dari kita. Mereka hanya tidak mau mengakuinya dan mengkambing hitamkan kita yang ada di sini agar seluruh dunia menyalahkan dan membenci kita," ucapnya memamerkan senyuman keji. "Aku jijik memakai nama keluarga itu. Lagipula aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang diri yang memiliki nama Lee Sungmin."

"Itu benar-benar rahasia yang tidak akan mereka bocorkan pada siapapun juga," ucap Jihyo.

"Benar,kan? Keadaan itu benar-benar membuatku stress sampai akhirnya aku menjadi pembunuh dan mendekam di penjara ini."

"Kenapa kau hanya membicarakannya padaku? Tidak dengan yang lainnya."

"Cause we are all have a secret that we can't share with everybody," balas Sungmin.

"But it will become a good mask to cover your probility." Sungmin mengerutkan keningnya apalagi ditambah Jihyo yang tiba-tiba berdiri dan keluar dari ruangan itu dengan cepat tanpa dirinya. Sungmin segera melemapr rokok miliknya begitu saja dan mengejar Jihyo. Hampir saja Sungmin berhasil menarik paksa tangan Jihyo, tapi wanita itu berkata,"Kau pasti akan mengerti maksudku dan mereka yang ada di sana juga akan mulai menyadarinya." Perkataan Jinhyo harus membuat laki-laki itu terdiam dan memikirkannya dengan dalam. Baru saja dia hendak membuka mulutnya lagi tapi sebuah kalimat memotongnya.

"Well, well. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi di sini." Sungmin tidak mengenal orang itu, tapi yang pasti Sungmin sudah bisa merasakan orang yang di depannya ini jelas memberikan sinyal sebagai seorang musuh. Apalagi ketika orang tersebut saling menatap tajam ke arah Jihyo. Wanita itu sama sekali tidak membuka matanya. Sedari tadi dia hanya mengeluarkan tatapan sinis yang seakan bisa membunuh kapan saja.

Laki-laki asing itu tampak menyeringai tanpa sebab. "Apa itu reaksi yang kau berikan ketika bertemu dengan adik iparmu sendiri?"

Mata Sungmin membulat.'Tadi dia bilang apa?' batin Sungmin.

"Aku heran kenapa kau tidak langsung mati saja dan aku harus bertemu denganmu lagi. Wanita penggoda yang membunuh kakku hingga aku harus menderita dan berakhir di sini!" seru laki-laki itu.

Jihyo mendengus kesal tapi tetap saja tidak dihiraukannya. Dia bahkan berjalan melewati laki-laki yang baru saja meneriakinya, tapi ketika dia melewatinya laki-laki itu tiba-tiba saja mengatakan sesuatu,"A bitch like you should just die." Sontak saja perkataan kasar itu membuat langkah Jihyo berhenti dan dia berbalik ke belakang. Di saku jakenya ada pisau yang hampir saja digunakanya jika saja Sungmin tidak segera berlari ke arahnya dan menahan tangan itu untuk melempar pisau tersebut ke arah

"Fucking bastard. Dia pikir dirinya siapa, hah?"

"Tenangkan dirimu dulu Jihyo!" seru Sungmin.

"Bagaimana aku bisa tenang ketika dia menghina masa laluku!" balas Jihyo.

"Kau akan membuatnya semakin senang ketika kau bereaksi dengan hinaannya."

Kalimat itu membuat Jihyo terdiam. Dia menghentakkan tangannya sehingga tangan Sungmin terlepas darinya. "Aku butuh sendiri." Dengan begitu saja dia berlalu dari tempat itu. Di sisi lain Sungmin merasa bahwa dia sedari tadi sedang diamati tidak jauh dari sini. Dia mengedarkan matanya dan mendapati seseorang.

"Kau yang ada di sana."

Yang ada orang itu segera lari dan harus membuat Sungmin berteriak kali ini,"Yak! Aku berbicara padamu Seungri!"

Sontak saja Seungri berhenti,

Dengan perlahan Sungmin berjalan mendekat ke arahnya."Aku sadar bahwa sedari tadi kau terus memperhatikanku. Bahkan sebelum pengumuman itu dibuat. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan? Atau kau tahu perihal taruhan besar yang dibuat oleh para orang kaya illegal di luar sana yang mempertaruhkan siapa yang menang, aku atau Kyuhyun?"

Seungri menyinggung senyuman aneh."Aku memang mengetahuinya oleh sebab itu aku mengamatimu dan melihat siapa yang berpotensial menang, tapi kau lihat sekarang. Sebuah permainan baru dibuat disini, menggantikan battle fight menjadi death game apalagi kau kini satu tim dengannya. Taruhan itu sontak saja menjadi tidak berguna karena kalian berdua harus menang karena berada dalam satu tim. Kalian tidak bisa saling menjatuhkan. Apa kau tidak berpikir bahwa faktor permainan baru ini juga karena taruhan besar yang hanya melibatkan kalian berdua?"

Sungmin mengerutkan keningnya dan Seungri terus saja melanjutkan ucapannya.

"Dan kenapa sebuah taruhan dibuat hanya untuk dua orang dan kini hanya karena dua orang battle fight yang sudah lama menjadi tradisi di penjara ini harus diganti menjadi death game agar taruhan yang diselenggarakan tidak mengeluarkan satupun pemenang?"

Senyuman itu berubah menjadi sebuah seringai.

"Ini anehkan? Dunia seakan hanya berputar pada kalian. Semua mata hanya tertuju pada kalian. Kami yang lain tidak sekedar tadi pion pendukung. Menurutmu apa yang spesial dari kalian? Jelas lebih banyak kriminal yang lebih jenius di luar sana dan kejam, tapi kenapa harus kalian yang masih sangat muda?"

.

.

.

"I told you, that we all have a secret that will become our sword in the future."

"Dan rahasia yang disembunyikan padamu harus kau temukan kuncinya seorang diri karena memang seharusnya demikianlah."

.

.

.

My Ideology is Getting Close to the Reality for the Future

.

.

.

TBC

.

.

.

A/N : Terima kasih sudah membaca dan mereview :) Don't take a blame on the character i use cause i need them to continue this story that gonna have a lot of new characters on it.