Diabolik Lovers officially made by Reject

Fiction Plot ©StawberryFreak

Warnings : Yandere!Sakamaki Brothers, human Yui, violence (a little). Don't like, don't read. Well, anggaplah Yui Komori itu dirimu, fansgirls.

.

.

.

Vampires Lullaby

Route #1 : S for Sakamaki

Derapan suara kaki menggema ditiap koridor yang dilewati gadis berambut blonde. Suasana gelap nan horror memang selalu meliputi mansion keluarga Sakamaki.

Karpet berwarna merah terbentang ditiap jalan berkeramik hitam. Perabotan yang terlihat mahal dan mewah menghiasi bagian dalam mansion luas tersebut.

Tidak sedikit juga cermin-cermin hias tergantung dengan indahnya di dinding.

Meski mansion itu sangatlah besar dan luas, debu hampir tidak terlihat di tiap sudut benda-benda maupun sarang laba-laba di langit-langit dinding. Tempat itu benar-benar dijaga dan dirawat dengan baik oleh entah siapa.

Keheningan selalu dirasakan Yui Komori, pendatang baru yang sekarang ini tinggal bersama keenam Sakamaki bersaudara disaat sendirian maupun bersama-sama dengan keenam pemuda yang dilahirkan sebagai vampire. Kamar mereka semua terpisah dengan perabotan kesukaan mereka dalam kamar masing-masing.

Yui sendiri memiliki kamar yang terletak paling jauh, di lantai tiga ujung koridor, dan hanya untuk pergi ke kamarnya pun membuat si gadis pirang merasa kelelahan kecuali untuk mereka—vampire—yang dengan mudahnya teleportasi ketempat lain sesuka hatinya.

Sekarang ini dia harus mencari Ayato yang menyuruhnya untuk membuatkan takoyaki, tapi dia sekarang tersesat entah dimana, kakinya lelah mengelilingi koridor yang sama selama sepuluh menit—mengingat dia baru tinggal disana dan mansion itu luas sekali sampai-sampai dia tersesat.

Iris merah muda yang hampir mirip gambar kelelawar itu sudah memeriksa ditiap ruangan. Kali ini tangannya membuka kenop pintu ruang musik tempat dimana piano hitam elegan berdiri dengan kursi keluarga dan jendela besar yang langsung mempertontokan cahaya rembulan. Sekali lagi Ayato tidak ada ia lihat keberadaannya.

Pastinya anak kelima dari Sakamaki bersaudara itu sudah menunggu lama.

"Nee~ nee~ Ayato mengisengimu lagi ya?" Yui pun tahu persis siapa pemilik suara yang terdengar nakal itu, "Ayato sedari tadi memperhatikanmu mondar-mandir loh, lucu sekali~".

Terdengar suara decihan dari Ayato yang tiba-tiba muncul dibelakang Yui dan menggenggam bahu gadis itu. "Kau ini mengganggu kesenanganku saja, Raito.."

Yui kaget—hampir saja pingsan dibuat Ayato, tapi beruntunglah dia bukan orang yang terkena penyakit serangan jantung. "Hahaha, sesuai dugaan kau akan tersesat, chichinashi" ucap angkuh Ayato diiringi bibirnya yang membentuk seringaian—membuat Yui takut. Sekarang dirinya makin merasa terpojok dengan adanya dua vampire di dekatnya.

"M-maaf Ayato-kun.. ano, bahuku sakit.."

Ayato mendekatkan bibir ketelinga Yui, "oh? Kukira kau harus menerima hukuman dari ore-sama."

"T-tapi, bukan kah kamu hanya iseng padaku?"

"Kau berani melawanku, haa?" Ayato mulai geram dan menampakkan seringai kesalnya.

Raito menghampiri Yui yang sedang menunduk karena tahu Ayato sedang marah karena kata-kata yang barusan dia ucapkan. Tapi memang benar, bukan Yui yang salah kan?

"Aah~ bitch-chan, aku jadi lapar.." Mendengar itu, Yui menoleh ke arah sumber suara. Seketika Raito mendekati gigi taringnya ke leher Yui tapi dengan segera Ayato menyingkirkan wajah Raito dan membuat Raito mundur kebelakang.

Pergelangan tangan Yui pun di genggam erat oleh Ayato, "Oi! Ore-sama ini juga lebih dulu lapar! Chichinashi, berhubung kau tidak jadi membuatkanku takoyaki, bagaimana kau ganti rugi dengan darahmu?"

"A-apa—Ngh!" lenguhan sakit Yui terdengar setelah ia merasakan jaringan kulit bagian lehernya ditembus taring Ayato.

Raito pun tertawa kecil melihat tingkah laku saudaranya yang memperlakukan mangsa Sakamaki bersaudara itu sesuka hatinya. "Maa~ maa~ aku juga.." sejenak Raito menyentuhkan bibirnya dipaha Yui dan kemudian melanjutkan, "ingin merasakan darahnya yang manis.."

"U-ukh.. h-hentikan.." bisik Yui dengan suara yang sangat kecil, tenaganya sudah hilang entah kemana untuk menghentikan mereka berdua.

"Onegai.."

Dia hanya bisa pasrah, kalau begini terus dia akan...

"Kalian berdua, cepat hentikan."

Mendadak, dua pasang mata menatap orang yang berani-beraninya menggangu acara 'makan malam spesial' mereka. Kedua pemuda itu melepaskan taringnya dari kulit putih Yui, membuat si mangsa menghela nafas aman sementara. "Komori Yui, kembali ke kamarmu sekarang."

Bagaikan disihir, Yui segera melakukan apa yang pemuda berkacamata itu minta. Dengan jalan yang sedikit terhuyung, gadis blonde itu berusaha jalan sebaik mungkin agar tidak mendapat bentakan lagi dari Reiji.

Ayato menghela nafas, "kali ini apa Reiji?" ujarnya kesal saat Yui sudah tidak tampak di penglihatan mereka. Raito duduk diatas meja kecil dan memperhatikan gerak-gerik saudara angkatnya.

"Kalian tahu Mukami bersaudara kan?" kata Reiji, spontan langsung to the point. Mata Ayato dan Raito menatap terkejut langsung.

Kanato tiba-tiba datang dengan memeluk boneka Teddy-nya seperti biasa, dia langsung mengerti apa yang sedang mereka bicarakan melewati ekspresi kedua saudara kandungnya. Musuh terbesar mereka, saudara Mukami yang brengsek.

. . .

Di dalam kamar yang bernuansa merah muda, Yui duduk di ranjangnya kemudian melepas jepitan bunga tiga warnanya dan menggumamkan apa yang harus dia lakukan setelah melihat ekspresi Reiji yang kelihatan marah.

Bisa saja dia berbuat salah kemudian dengan disengaja Reiji menuangkan bubuk racun ke makanannya? Atau bisa lebih buruk lagi, dia akan mengancam dan mungkin akan dibunuh diam-diam saat dia tidur.

"Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja.."

"—Hn, mungkin harapanmu tidak akan terkabul." suara tenang Shu terdengar dan secara otomatis kepala Yui menoleh bersama dengan surai kuning lembutnya yang tergerai. "S-shu-san? Subaru-kun.. juga, a-ada apa?"

Shu menghampiri ranjang Yui dan segera membaringkan tubuhnya di sana. "Kami hanya disuruh menjagamu.."

"Oi! Kalau kau tidur bagaimana mau jaga dia!?" bentak pemuda berambut putih yang hampir saja memecahkan barang di kamar Yui. "Tch, urusai.." mendengar jawaban singkat dari Shu, pemuda berpakaian berantakan itu mengepalkan tangannya—ingin menciptakan lukisan biru ke wajah Shu.

Yui membuka mulutnya, "kalau kau mau bertanya kami menjagamu untuk apa, jangan harap kau dapat alasannya!" dan dengan itu mulut Yui kembali tertutup.

Seketika perasaan Yui menjadi aneh, seperti seseorang sedang mengawasinya. Dia pun berdiri didepan jendela dan melihat taman yang hanya mendapat sedikit penerangan. "Ahaha, pasti Cuma perasaanku saja.." batinnya berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dipegangnya rosario pink dengan erat dan ia kembali berdoa.

. . .

Diluar mansion keluarga Sakamaki, pemuda berambut hitam memandangi jendela kamar yang lampunya masih menyala. Sekilas senyuman menghiasi wajahnya dan dengan itu ia berlalu pergi bersama ketiga saudaranya yang lain.

"Jadi itu yang namanya Yui-chan?" ucap salah satu dari mereka dengan riang.

Anak paling tertua hanya menjawab tenang diliputi bibirnya yang melengkung keatas, "benar. Sebentar lagi kalau kalian mau, kita bisa mengambilnya.."

.

.

.

Route #1—end.


A/N : Ah, baru prologue! staw-chan sudah membuatnya seperti ini, dan ta-daa! terimakasih banyak sudah mau membacanya XD berharap yang sudah membaca tidak menjadi silent-reader, tinggalkan jejak ya :3

NEXT IN VAMPIRES LULLABY : Route #2 Day-to-day of a Strange Family.