Diabolik Lovers officially made by Reject

Fiction Plot ©StawberryFreak

Warnings : Yandere!Sakamaki Brothers, human Yui, violence (a little), well, agak OOC dan dimohon maafkan karena banyak sekali kekurangannya~

Don't like, don't read.

.

.

.

Vampires Lullaby

Route #3 : Red Moon Doesn't Ever Change.

Tangan Yui meletakkan tas jinjing sekolahnya di atas meja. Setelah menghela nafas lelah, diambrukkan tubuhnya ke kasur. Padahal di sekolah tadi dia pingsan dan tertidur setengah jam lamanya, tapi tubuhnya masih terasa seperti membawa batu besar.

"Wajahmu pucat, chichinashi, ada apa?"

Langsung saja Yui terduduk di kasur dan menolehkan wajahnya ke arah si pemilik suara. Ayato Sakamaki.

Mendadak kilasan kejadian di sekolah tadi menghantui pikirannya, apa mungkin dia kelelahan pertanda kekurangan darah karena Ayato menghisap darahnya terlalu banyak tadi sampai pingsan?

Banyak sekali yang ingin Yui tanyakan tapi otaknya menyuruh untuk menahan pertanyaan itu, jadi dia hanya menjawab, "Aku tidak tahu, mungkin hanya kelelahan" kemudian diperlihatkan senyuman manis terbaiknya agar pemuda di hadapannya ini percaya dan berharap agar Ayato segera pergi dari kamarnya.

Ia terlalu takut untuk berhadapan dengan Sakamaki bersaudara itu, bahkan jika ia sudah dalam kekuasaan mereka saat mereka akan menghisap darahnya, dia sendiri tidak akan mampu melawan.

"Aku ingin melihat ekspresi ketakutanmu! Ayo cepat tunjukkan pada ore-sama sekarang!" perintah Ayato yang kemudian duduk di kasurnya dan mengangkat kaki seperti biasa cara ia duduk; membuat Yui semakin takut karena posisi Ayato yang sudah hampir mendekatinya.

"Hmph, padahal tadi aku ingin sekali meminum darahmu sambil melihat wajahmu yang penuh kesakitan! Tapi kau malah pingsan duluan!"

"Eh?"

Dalam sekejap perasaan takut Yui hilang berganti dengan keheranan.

"Ng, kenapa? Aku memang tidak menghisap darahmu sama sekali kok! Kau pingsan karena ketakutan, bodoh."

"Kalau bukan dia yang meminum darahku, mengapa aku bisa masih kelelahan seperti ini?" batin Yui mulai bertanya pada dirinya sendiri. Seakan bisa membaca pikiran si perempuan bersurai soft yellow itu, Ayato langsung mendekati Yui yang berada di sebelahnya dan membuka dua kancing kemeja sekolahnya dari atas.

Ada bekas gigitan di antara perbatasan leher dengan bahunya.

"Sialan!"

Tangan Yui langsung ditarik Ayato tanpa perasaan, mereka keluar dari ruangan Yui dari menuruni tangga menuju ruang keluarga. Yui sendiri kewalahan mengikuti cepatnya pergerakan kaki Ayato dan hampir saja jatuh kalau pemuda yang menggeretnya pergi itu tidak berhenti berjalan.

Iris hijau cemerlang Ayato beradu pandang dengan iris biru laut Shuu. Pemuda yang selalu terlihat malas itu baru saja ingin ke kamarnya tapi niatnya untuk tidur lebih nyaman di kasur empuk miliknya diurungkan karena sudah melihat ekspresi Ayato yang menimbulkan aura kemarahan.

"Kali ini apa lagi, hn?" ujar Shuu dengan malas.

"Aku yakin bukan kau yang menghisap darahnya!"

"Memang bukan."

"Tch, kalau kutemukan orangnya, kubunuh dia.." gumam kesal si pemuda bersurai merah kecoklatan itu.

Tanpa mendengar apa yang Ayato minta, Shuu langsung kembali ke ruang keluarga. Dirinya memang household di kediaman Sakamaki, tapi daripada muncul masalah baru lebih baik mengikuti apa yang diminta si pria egois itu.

. . . . .

Pintu ruang keluarga ditendang Ayato sehingga terbuka lebar. Refleks, makhluk-makhluk yang berada dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah si pelaku.

"Mana sopan santunmu, Ayato?" ucap tenang Reiji sambil membenarkan posisi kacamatanya.

"A-ayato-kun, sakit.." Yui mencoba melepaskan diri dari genggaman Ayato tapi hanya dibalas dengusan kesal dari pemuda tersebut dan makin dieratkan genggaman dipergelangan tangannya.

Kanato tersenyum sesaat, "nee~ Teddie, pertunjukkan akan segera dimulai, kamu senang kan?"

"Bisa kah kau diam, Kanato? Kalau kau ingin bermain boneka terus, pergilah ke kamarmu sekarang" bentak Subaru.

"Maa maa~ sekarang cepat katakan apa maumu Ayato, sebelum semuanya ribut."

Ayato memegang kepala Yui dan menengadahkan kepala perempuan itu ke samping dengan kasar, sehingga terlihatlah bekas gigitan terukir di perbatasan leher dengan bahu putih Yui.

"Bukan aku yang menggigitnya, kalau bukan kalian yang mengigitnya berarti dugaanku benar." Ayato menjelaskan maksudnya yang datang tiba-tiba tadi dengan nada suara yang rendah. Sejenak ruangan menjadi hening.

Memberi jawaban jelas untuk Ayato bahwa bukan mereka yang menggigitnya.

Plak! Yui berhasil menepis tangan Ayato agar bisa lari dari ruangan itu; ruangan yang memunculkan aura dingin dari keenam saudara Sakamaki itu. Dia memang tahu mereka semua sangatlah tidak akur, apalagi untuk masalah sepele ini.

Setelah hilangnya suara derapan kaki Yui, Reiji angkat suara. "Yang kau pikirkan adalah empat orang bermarga Mukami itu 'kan, Ayato?"

"Hmm~ apapun itu, mereka memang hebat dalam bertindak cepat~ jadi kalau bitch-chan sudah masuk kedalam perangkap mereka, akan susah mengambilnya kembali~" Raito juga ikut bicara kemudian melepas topi fedorannya dan menyisir rambutnya kebelakang agar tidak menutupi penglihatannya dan mendesah pelan.

"Tsk, merepotkan sekali. Hancurkan saja Mukami brengsek itu." Subaru menimpali setelahnya mencaci-maki mereka.

Kanato yang duduk disamping Shuu hanya berbicara sendiri dengan bonekanya.

"Shuu, bagaimana menurutmu, haa?" Ayato yang masih kesal dengan tidak sabarnya menunggu jawaban pasti dari sang anak pertama yang kemudian hanya menjawab "hn" dengan tidak niat.

Tapi memang dalam hati Shuu, keinginannya sama kuat dengan Ayato untuk menjauhkan Mukami bersaudara dari wilayah mereka. Begitu pula dengan yang lainnya yang sudah yakin kalau Mukami bersaudaralah yang mendeklarasikan peperangan vampire lewat tubuh Yui.

Reiji berdeham dan meminta mereka semua agar bisa diatur, kemudian mereka semua mulai membuat rencana penghancuran.

Rencana penghancuran keempat laki-laki bermarga Mukami yang sudah seenak hatinya mengambil sacrificial bride milik Sakamaki bersaudara.

. . . . .

Yui kini sedang duduk ditepi air ditemani cahaya bulan merah yang memantul di air. Sekilas air tersebut tampak seperti kolam darah namun terlihat cantik. Tak lupa juga hembusan angin malam yang membuat manusia biasa akan memutuskan berada didalam rumah yang hangat saja.

Untunglah Yui masih memakai seragam sekolahnya, dengan begitu dia bisa menyelipkan tangannya kedalam blazer-nya untuk menghangatkan diri.

Ia bergumam sendiri, menanyakan kenapa bulan berwarna merah darah.

Perasaannya mengatakan hal-hal buruk akan segera terjadi tapi langsung ia tepis dengan pemikiran positif, berharap agar semuanya berjalan baik-baik saja.

Tangan Yui mengambil ranting kayu kemudian memainkan air danau, refleksi dirinya di air terus di kacaukannya dan mendadak saja gadis itu teringat laki-laki yang ia temui di ruang kesehatan sekolah.

"Apa maksudnya mengidolakan?" dia berhenti berbicara sendirian sebentar untuk menghirup udara kemudian melanjutkan, "Dia itu terkenal atau mungkin dia—"

"—Aaah, aku ini model cover majalah~"

Mendengar suara asing, dengan cepat Yui langsung mengarahkan wajahnya ke sumber suara. Umur panjang untuk pemuda berambut kuning ini, baru saja di bicarakan langsung datang tiba-tiba.

"D-domou, ng.." Yui berdiri.

"Kou. Mukami Kou~"

"Domou ne, Mukami-san.. maaf kalau aku mengganggumu, tapi aku terkejut karena Mukami-san bisa berada disini."

Kou mengangkat kedua lengannya dan diletakkannya ke belakang kepalanya, "aku cuma mencari udara segar~ suatu kehormatan bisa bertemu denganmu lagi, tapi apa sopan seorang lady tidak memberi tahu namanya?"

"M-maaf! Komori Yui, desu."

"Ahahaha, tingkahmu lucu sekali! Santai saja~"

Sejenak keadaan menjadi hening, tanpa ada yang menatap satu sama lain. Kou hanya menengadahkan kepalanya dan melihat ke atas langit.

Kalau diperhatikan baik-baik, rambut depan Kou terlalu panjang sehingga dikuncir ke belakang seperti anak yang baru masuk taman kanak-kanak. Dan karena itu pun, Yui tersenyum kecil.

"Mukami-san ternyata seorang model ya? Kenapa tidak langsung bekerja saja?" tanya Yui mencoba mencairkan suasana. "Ngomong-ngomong soal Mukami, keempat saudaraku yang lainnya juga bernama belakang Mukami jadi panggil saja aku Kou~ yah, Ru-chan menyuruhku sekolah, jadi apa boleh buat~"

"Ru-chan?"

Yui memiringkan kepalanya, tanda sedang bingung, namun setelahnya dia bisa merasakan ada siluet tubuh lainnya di belakang tubuhnya.

"Mukami Ruki, salam kenal."

"U-uwaa—?"

BRUGH! "—Oi! Hati-hati dong! Untung saja tubuhku bisa menghalangimu untuk jatuh, kalau tidak kau sudah basah kuyup!" seorang lagi berteriak kesal di belakang Yui karena sudah dilabrak tubuh mungil milik gadis itu.

"Mou~ mou, jangan kasar terhadap gadis, Yuma-chan~"

"SUDAH KUBILANG JANGAN PANGGIL AKU MEMAKAI CHAN CHAN CHAN!" pemuda itu berteriak lagi, membuat Yui takut dan segera menjauh dari dia. Rambut hazelnut-nya yang kepanjangan diikat setengah agar tidak menghalangi pemandangan si pemuda bertubuh besar itu.

"Maaf atas ketidaksopanan saudara-saudaraku, Yui-san." Ruki tersenyum lembut sehingga membuat wajah Yui agak merona karena terpana, tapi setelah itu dia merasa ada yang janggal. Kou bilang tadi ada empat?

Ruki pun membungkuk hormat kemudian berkata seolah dapat membaca pikiran Yui. "Saudaraku yang terakhir mungkin masih dibalik semak itu, melakukan hobi anehnya. Mungkin nanti dia akan keluar."

Kemudian Yui berdiam diri, tidak merespon ucapan Ruki maupun menatap mereka bertiga. Ia masih bingung dengan keadaan sekarang.

Sejenak Ruki, Kou dan Yuma memperhatikan gadis itu; yang kelihatan sedang berpikir keras. Memang banyak sekali pertanyaan yang dimiliki Yui, tapi dia tidak berani mempertanyakannya. Ruki kembali mendekati Yui dan menepuk pundak milik sang gadis.

Kenapa mereka bisa tiba-tiba saja muncul? Apa lagi dirinya sekarang masih berada dalam wilayah mansion keluarga Sakamaki. Atau mereka semua teman baru keluarga Sakamaki yang juga kemungkinan adalah—

.

.

"Kami adalah keturunan para vampire, bau darahmu tercium oleh kami jadi kami semua bisa sampai sini."

.

.

—seorang vampire.

.

.

.

Route #3—end.


A/N : *nangis kejer* hontou ni gomen untuk para readers atas banyaknya kekurangan dari fiksi saya yang satu ini! Maklumkan saya yang sudah lama sekali engga ketik cerita, karena lagi fokus ke project komik untuk pengambilan nilai :'3

Ngomong-ngomong, bicara soal chapter ketiga yang berjudul "Red moon Doesn't Ever Change" kemarin tanggal 15 April 2014 ada Eclipse loh :v cuma sayangnya yang bisa lihat di Indonesia bagian timur aja, siapa yang berangkat ke Papua demi nengok bulan merah? *ditampar*

Untuk chapter kedepan sampai selesai, aku akan usahakan menutupi kekurangannya, sekali lagi terimakasih~ dan don't be a silent reader, yaa XD

.

.

.

Reply for the reader's review

Catmiko : etto, mereka teleportasi XD gomen, Ayato-nya agak OOC disini, jadi dibuat pintar~ mungkin gara-gara Reiji yang maksa si Ayato belajar terus (?) ngomong-ngomong terimakasih banyak utk sarannya, senpai~

Asya Himeka : yokatta na, kamu menyukainya~ ng, aku pakai tanda '...' karena menandakan orang itu mengucapkan kalimatnya dengan nada lirih OwO)b

Hinami Shirayuki : domo desu~ fandom DiaLovers memang sedikit yang Indonesianya, hiksu :'3 tapi yang inggrisnya juga engga kalah seru kok~ aku akan berjuang utk selanjutnya =w=)) *peluk plushie Ayato

Ricchan Yami no Hime : terimakasih atas kritiknya X"D aku memang selalu kaku kalau nulis fict~ gomen tapi terimakasih banyak karena Ri-san sudah membaca fict tidak bermutu ini *jdesh.

TheFujoshiOne : *nyengir* ehehe, gomenasai :v ramalanmu agak akurat sedikit (?) arigatou sudah mau menyempatkan diri membacanya lagi X"D

NEXT IN VAMPIRES LULLABY : Route #4 Inside of the Human Feelings