Sebuah sepatu untuk si pirang

Author: minyak tanah dan Nyeri

beuteung

Yaha selamat datang di dunia ku

Perkenalkan author baru yang ingin publish cerita tapi masih awam ini.

Ok

Ini ceritanya

Awan selalu berkabut tak pernah crystal selalu liquid.

Seandai terbentur satu sama lain jadilah hujan dan petir.

Awan selalu menutupi langit biru yang luas membuat lukisan abstrak yang orang menerka apa itu.

Tapi aku bukanlah awan yang cecok dengan sesamanya sendiri.

Aku adalah sepatu yang tak ada gunannya kalau pasangan sepatuku tak ada.

Sepatu selalu berpasangan tak pernah terpisahkan ya itulah aku sebuah sepatu.

āˆžsepasangsepatuuntuksipirangāˆž

Aku terbangun dari mimpi burukku yang baru tadi ku alami.

Seperti sapi yang dipukuli akan di sembelih aku merasakan itu semua.

Di mimpiku semua tampak nyata.

Aku yatim piatu tak punya saudara maupun sanak family.

Hidupku di panti Asuhan sedari kecil tanpa tahu siapa orang tua ku sesungguhnya.

Hidupku biasa tak ada yang spesial hanya ramen dan jus jeruk yang ku sukai.

Setiap malam ku bermimpi melihat bintang dan awan saling berpelukan, ku melihat itu semua tampak nyata di mimpiku.

Aku bukan pengkhayal tapi aku hanya seorang pemimpi ya hanya seorang pemimpi tanpa usaha untuk meraihnya.

Hidup ku ini masih abu-abu belum saatnya berwarna karena aku masih berduka.

Berduka karena di tinggal temanku sendiri bukan ia mati atau tiada tapi dia pergi di ambil orang tua yang mengadopsinya.

Umurku sudah 8 tahun ku jalani sedari kecil panti ini tempat tinggalku ini.

Tanpa ingin berpisah ku relakan hidupku pada panti ini karena aku sangat mencintainya.

Cinta tanpa memandang apapun walau bocor dan sempit ku sukai kamar ku ini bersama teman-temanku satu panti.

Ya mulai saatnya aku beraksi.

Di tengah gelapnya malam aku terbangun karena suara ketukan pintu terdengar di telinga ku.

Aku yang masih belum sadar sepenuhnya membuka pintu itu dan kudapati tiada seseorang disana tapi ku menemukan sebuah kotak yang bertuliskan sepatu.

Aku membawa kotak itu tanpa menutup pintu kamarku.

Ku buka kotak itu seakan sudah tahu isinya apa ku dapati sebuah sepatu ya hanya sebuah bukan sepasang dan aku tahu sepatu siapa ini ya karena ku tahu ini sepatu temanku yang pergi dariku.

Ku lihat ambil sepatu itu lalu ku angkat sepatu itu tanpa terduga secarik kertas terjatuh di pahaku dari sepatu yang ku angkat.

Secarik kertas itu ku ambil dan kubuka lipatan kertasnya dan bisa ku lihat sebuah surat tertulis disana.

Ku baca surat itu sampai tuntas dan kudapati cap bibir sayang dari teman yang meninggalkanku di sini

Hinata

Aku tersenyum mendapati surat itu dan sebuah sepatu itu dan takkan ku hilangkan sebuah sepatu itu karena ku tahu kami akan berjumpa suatu saat nanti menyatukan sepasang sepatu itu..

Tamat