Hai, minna-san~!

Author kembali lagi, nih. Hahaha, sorry, Minna-san. Author lupa waktu, tau-tau udah Agustus padahal Author janjiannya bulan Juni(?)/Juli(?). Dimaklumi aja, ya, Author sudah mulai pikun (lho?). Anyway, Author tahun ini sedang mengalami masa-masa darurat karena udah naik ke kelas super ujung dan harus tambah rajin belajar agar masa depan tidak suram. Jadi, doain Author, ya?

Ah, iya, kalau kalian nggak suka hint shoujou ai/ shounen ai, bagian bonus nggak usah dibaca. Itu cuma buat lucu-lucuan aja, jangan dimasukin ke hati. Dan satu lagi, Author benar-benar masih lurus dan nggak nikung, jadi jangan salah paham, ya :3

Disclaimer: Seperti biasa, Vocaloid bukanlah punya saya

Warning : EYD Error, Typo, Tidak memiliki kejelasan, dll


Chapter 6

The Introduction


"Umm... Hatsune-san, ini jusmu." Ujar pemuda bernama Len Kagamine itu dengan nada sopan sambil meletakkan segelas cairan aneh yang disebut 'jus daun bawang' (menurut gadis bernama Miku Hatsune) itu di meja.

Miku yang tengah sibuk membaca koran dan majalah yang tersedia pun akhirnya menghentikan aktivitasnya. Sebagai gantinya, ia mulai menatap dalam-dalam wajah pemuda dihadapnnya. Setelah puas melihat wajah gugup pemuda itu, Miku pun mulai tersenyum dengan ramah. Terlalu ramah malah.

"Ah, terima kasih." Sebelum sempat membalas ucapan terima kasih itu, Len sudah dibuat ngeri dengan kata-kata lanjutan yang terlontar dari mulut gadis itu.

"Nah, sekarang, silahkan diminum!" Ujar Miku dengan ceria. Len tatap gadis di depannya itu dengan tatapan tidak percaya. Ia membuka mulutnya, namun tak satupun kata terdengar. Ckckck, sepertinya Len terlalu shock untuk berkata apa-apa.

Setelah berhasil menenangkan diri, Len pun menatap wajah perempuan dihadapannya. Mencoba mencari tanda-tanda bahwa perempuan itu sedang bercanda. Namun naas, dia tak menemukan apapun. Ia bahkan hampir merasa bersalah menuduh Miku ingin membalas dendam kepadanya karena Miku memandanginya dengan wajah yang polos.

Sementara itu, Miku yang sedari tadi memperhatikan ekspresi ngeri yang terpampang jelas di wajah Len, hanya bisa tertawa dalam batin sambil memasang ekspresi polos. Setidaknya sepolos yang dia bisa. Miku bukanlah aktris yang handal, tetapi siapa sangka pemuda di depannya ini begitu mudahnya tertipu dengan aktingnya yang bisa dibilang pas-pasan ini. Oh Len, andai kau tahu. Kau takkan merasa bersalah untuk menolak permintaannya.

'Ya ampun, ini orang memang beneran polos atau gimana, sih?' Pikir Miku dalam hati. Ia tak habis pikir, bagaimana masa depan perusahaan Kagamine nantinya jika pewarinya saja sepolos ini mengingat dunia bisnis yang bisa dibilang kejam. Sebenarnya, di lubuk hatinya yang sangat, sangat, dan sangat dalam, Miku merasa agak bersalah membohongi Len seperti ini. Namun, apa boleh buat. Rencana balas dendam miliknya sudah terlanjur dimulai.

'Setidaknya dengan ini kita impas. Mungkin setelah ini, mungkin kita bisa berteman (dan menghentikan pertunangan ini dengan damai).' Pikir Miku. Berusaha menghilangkan segala keraguan dalam lubuk hatinya.

"Maaf, tadi aku kurang jelas. Bisa ulangi?" Tanya Len sambil memasang wajah penuh harap. Miku pun terbangun dari lamunannya. Lalu, ia pun mencoba untuk tersenyum dengan ceria.

"Silahkan diminum!" Ulang Miku.

'S-serius, nih?!' Teriak Len dalam batin.

"Jus itu adalah tanda pertemanan kita. Jadi, minumlah!" Lanjut Miku, masih dengan nada yang ceria.

'Teman...' Entah mengapa, mendengar kata itu membuat hati Len terasa hangat dan terharu. Terlebih lagi melihat ekspresi Miku yang terlihat tulus dan ikhlas itu. Ia benar-benar merasa tak enak hati untuk menolak permintaan itu. Ia pun menatap gelas berisi cairan aneh itu dalam-dalam.

Gulp

'Kami-sama, kuatkanlah diriku...' Doa Len dalam hati.

.

.

.

Beberapa jam kemudian ...

"Namaku Miku Hatsune. Kau bisa memanggilku Miku saja." Miku mengulurkan tangannya. Mengajak pemuda berambut pirang itu untuk berjabat tangan. Setelah beberapa detik, pemuda itu pun menjabat tangan Miku dengan ragu-ragu. Sepertinya, ia masih merasa shock dengan rasa jus spesial milik Miku tadi -yang tentu ia habiskan, tetapi langsung ia muntahkan di toilet setelahnya-. Namun, apa daya. Ia tak bisa menceritakan betapa dahsyatnya rasa jus itu kepada Miku. Terlebih lagi protes kepada perempuan berambut teal itu.

"Err... baiklah, Hatsune-san." Miku mengernyitkan dahi.

'Bukankah sudah ku bilang untuk memanggilku Miku?' Pikir Miku dengan kesal. Melihat ekspresi tidak senang Miku, Len pun segera mengeoreksi kata-katanya.

"M-maksudku Miku." Tambah Len. Senyum yang manis pun kembali menghiasi wajah Miku.

"Ok, sekarang giliranmu!" Ujar Miku dengan antusias.

"Namaku Len Kagamine. Salam Kenal." Ujar Len sembari tersenyum dengan canggung. Ia tak menyangka, beberapa jam yang lalu ia menyiram gadis didepannya dengan air bekas pel dan sekarang menjadi temannya. Bicara soal teman, ia baru sadar, bagaimana dia bisa berteman jika gadis di depannya ini adalah tunangannya?! Dalam batin, Len pun mulai mengutuki Ayah dan Kakeknya yang merencanakan pertunangan ini.

Sebagai pewaris perusahaan ayahnya, Len sadar bahwa membuat aliansi adalah hal yang penting. Namun, dengan pernikahan? Kurasa tidak. Terlebih lagi di zaman modern ini, dimana perjodohan seperti ini sudah ketinggalan zaman.

'Ya tuhan, apa salahku?! aku masih mau nge-jombo!' Teriak Len dalam hati. Seketika itu, aura-aura depresi berwarna ungu menyelimutiya. Miku, yang menyadari mood Len yang tiba-tiba menjadi buruk, merasa sedikit khawatir. Namun, sebelum ia dapat bertanya apa dia baik-baik saja, kehadiran suara lain mengalihkan perhatiannya.

"Hei, hei, Lenny, kamu nggak mau ngenalin aku?" Tanya sesosok perempuan dengan bando putih.

'Rambut pirang, mata biru, dan fair skin.' Sekilas, perempuan tersebut sangatlah mirip dengan pemuda pewaris perusahaan Kagamine yang baru dikenalnya tadi. Bahkan bisa dibilang, jika Len memakai baju perempuan, ia akan terlihat seperti perempuan itu.

"Ah, maaf ngagetin. Kenalin ya, namaku Rin Kagamine. Kakak dari si rambut pisang yang disana itu." Ujarnya santai sambil mengulurkan tangannya kepada Miku.

"Ah, hai... umm..." Miku gugup.

"Panggil aja Rin kalau nggak Rin-chan juga nggak apa-apa." Ujar Rin dengan ceria sambil tersenyum lebar bak chesire cat. Melihat senyum ceria Rin, Miku pun mulai tersenyum. Perasaan gugupnya menghilang seketika.

"Ok, hai Rin-chan!" Jawab Miku dengan semangat sambil menjabat tangan yang sudah diulurkan Rin padanya.

"Hai juga Miku-chan." Balas Rin.

.

.

.

(Bonus)

"Ah, maaf ngagetin. Kenalin ya, namaku Rin Kagamine. Kakak dari si rambut pisang yang disana itu." Ujarnya santai sambil mengulurkan tangannya kepada Miku.

"Ah, hai... umm..." Miku gugup.

'OMG, AKU HARUS PANGGIL DIA APA? KAGAMINE-SAN? ONEE-SAN? RIN-SAN? RIN-SAMA? YA AMPUN, KOK AKU GUGUP GINI, SIH. PADAHAL ITU CUMA KAKAKNYA. CUMA! TAPI KOK... JANTUNGKU RASANYA BERDEBAR-DEBAR GINI, YA?!'

"Panggil aja Rin kalau nggak Rin-chan juga nggak apa-apa." Ujar Rin dengan ceria sambil tersenyum lebar bak chesire cat. Melihat senyum ceria Rin, Miku pun mulai tersenyum. Perasaan gugupnya menghilang seketika.

"Ok, hai Rin-chan!" Jawab Miku dengan senyuman yang merebak bak mawar yang bermekaran sambil menjabat tangan Rin dengan kedua tangannya.

"Miku... " Panggil Rin dengan nada lembut. Rin merasakan wajahnya mulai memanas. Sepertinya, ia telah terpesona oleh senyuman manis milik Miku.

(Author : Aw, So cuteee~ :3)

(Len : Ih, jijik. Mereka berdua kan cewek. Apanya yang cute coba?)

(Author : Dasar shota, bilang aja iri!)

(Len : S-Shota? manly gini dipanggil shota? Lagian siapa yang iri? Aku kan hanya menyatakan pendapat.)

(Author : buktinya?)

(Len : Jangan salah. Gini-gini aku punya ABS, lho.)

(Author : Aku tahu kamu punya abs, kok. Tapi, abs-nya bukan six pack. tapi triplek. Hahahahaha! )

(Rin : Ya ampun, Lenny, semua orang udah tahu kalau kamu itu shota. Jangan lari dari kenyataan, deh! terima aja.)

(Miku : Betul, betul, betul. Lagian kamu nggak usah iri. Dengan wajah uke-mu itu, aku yakin banyak kok seme-seme diluar sana yang mau sama kamu)

(Len : *Wajah merah* Aku masih lurus tahu!)

(Author, Miku, Rin : Memangnya kami nikung?!)

(Len : Menurutmu?)

(Author : Kita ini masih normal, kok. Enak aja dibilang nikung.)

(Len : Masa?)

(Author, Miku, Rin : *lihatin foto pacar*)

(Len : hmmm ( ̄︿ ̄))

(Author : Ih, udah dibilangin. Masa kamu nggak percaya? Aku itu pacarnya Song Joong Ki. Cuma karena dia lagi bikin drama di Korea, kita jadinya LDR-an.)

(Miku : Aku juga. Aku sama Min Ho juga lagi LDR-an)

(Rin : Eh, kok kita bertiga sama? aku juga LDR-an sama GD)

(Author, Miku, Rin : *Pelukan bertiga* Kyaaa~ kita sama!)

(Len : Au ah ┐( ̄ヘ ̄)┌)


Rika Miyake : Wahhh, makasih~! Oke, oke, kapan-kapan mampir, kok. Tunggu aja, ya ^^

Keirekun : Maaf, ya. Author memang orangnya slow. Jadi, update-nya juga ikutan slow, deh. Author sih pengin update cepet, tapi susah banget. Apalagi ditambah tugas sekolah, mager, dll. Maklum aja, ya. Hehehe 6(^^")

Makasih banyak, minna. Buat yg review, follow, fav ataupun sekedar lewat atau baca aja. Arigatou gozaimasu!

Oh, ya, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin! Baik yang merayakan atau yang tidak merayakan, yang penting tolong maafkan Author yang penuh dosa ini, ya!

N/B : Mumpung update, sekalian silaturahmi walau telat :)