So, here we go :D kali ini saya akan mengangkat pairing yang agak berbeda. Yah, semoga bapak-bapak, ibu-ibu, mbak-mbak, mas-mas dan adek-adek sekalian suka dengan fic yang (menurut saya) aneh ini. Terima kasih juga buat It's Ghi yang udah maksa saya buat publish :'D well, mungkin hampir semua karakter agak OOC. Lebay. Typos dimana-mana.

Semua murni kesalahan saya, jadi tolong jangan ada flames ya :)

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Review ya, Readers yang cantik-cantik, dan yang ganteng-ganteng.

So, Happy Reading!

.

.

.

Disclaimer : Semua karakter milik JK Rowling. Mungkin ada beberapa OC yang punya saya.

Summary : Pembalik Waktu telah membawa Luna Lovegood ke waktu yang tidak semestinya Ia berada dan menjalin hubungan erat dengan seorang….Malfoy?

Notes : Seting untuk Luna tahun ke 6. Lucius kelas 7.

.

.

.

Yeah, liburan telah datang. Tiba saatnya bagi semua siswa untuk kembali ke orang tua masing-masing untuk liburan akhir tahun. Tahun ini benar-benar mengesankan, bayangkan, siapa yang tahan dengan guru seperti Dolores Umbridge yang menjengkelkan, sok manis padahal pahit. Tapi dari semua itulah keseruan dan kenangan-kenangan indah mulai terbentuk. Another perfect year at Hogwarts.

"Cho, jika kau tak keberatan, aku mau kembali ke asrama dulu. buku dan jurnalku tertinggal." Ucap seorang gadis Ravenclaw berambut pirang platina—Luna Lovegood.

"Oh, mau aku temani?" tawar Cho Chang. Mantan pacar Harry Potter.

"Tidak, aku akan segera kembali setengah jam sebelum kereta berangkat." Balas Luna.

"Baiklah, sampai jumpa di kereta." Balas Cho, meskipun sebelumnya hubungan Luna dan Cho kurang baik karena apa yang telah dibocorkan Cho kepada Umbridge bulan lalu, tapi Luna tau jika itu bukan kesalahannya. Karena Umbridge muka kodok itu lah yang memasukkan Verritaserum ke minumannya.

Luna berlari penuh antusias menuju asrama Ravenclaw. Saking antusiasnya, ia sampai menabrak seorang pria yang tinggi, berambut yang hampir sama pirangnya dengannya.

"Lihat jalanmu, nona!" desis pria itu tajam.

"Oh, Tuan Malfoy. Maafkan aku, aku benar-benar tidak melihatmu. Sekali lagi maafkan aku." Ucap Luna dengan rasa menyesal. Lucius menatapnya dingin, sedikit menyeringai.

"Ahh, Lovegood. Pantas saja." Ucapnya dengan menyeringai lagi, dan langsung cabut dari tempatnya berdiri sebelumnya.

Luna tak menjawab, hanya mengangguk. Ia tidak memikirkan sikapnya kepada Luna, daridulu memang seperti itulah watak dari para Malfoy. Sombong, menganggap diri mereka yang paling tinggi diantara semuanya. Luna adalah seorang gadis yang selalu ceria, positive thinking terhadap banyak hal, ia juga seorang teman yang baik meskipun seringkali dianggap gila oleh banyak siswa ataupun orang lainnya.

Dalam perjalanan menuju asramanya, dia menemukan sebuah benda yang tergeletak di tanah didekat kastil. Luna memungutnya, dan melihatnya. Benda itu menarik perhatiannya,seperti sebuah kalung atau memang kalung. Ia membolak-balikkan kalung itu, memastikan apakah itu sebuah pembalik waktu atau hanya kalung biasa. Luna memastikan tidak memutar sebuah kenop kecil yang berada disampingnya, ia tak mau mengambil resiko.

"Tipuan akhir tahun…hahahaaaa…!" Suara tawa tiba-tiba menghiasi suasana dimana Luna berada. Ternyata itu si kembar weasley yang sedang mempraktekan temuan baru mereka.

"Kau harus lihat ini, Luna." Ucap Fred, Luna menatapnya dengan senang hati. George mengeluarkan tongkatnya dan mengucapkan sebuah mantra.

"Aliqua!" teriak George dan sebuah cahaya kilat berwarna kuning menyebur dari tongkatnya. Cahaya itu mengenai pembalik waktu yang berada digenggaman luna. Dalam hitungan detik, suasana disekitarnya mulai berputar, pun pembalik waktunya juga berputar begitu cepat. Sepuluh detik kemudian Luna menghilang.

Fred dan George menatap satu sama lain dengan ekspresi terkejut.

"Fred.." ucapnya.

"Yeah, George?"

"Kau yakin telah menciptakan mantra yang benar?" mereka merasa takut karena saat setelah mereka mencoba mantra baru mereka kepada Luna seenaknya.

"Ttt..tentu saja. Kita sudah mencobanya kepada beberapa anak di koridor tadi, kan?"

"Yeah, lalu bagaimana bisa dia menghilang tiba-tiba?"

. . . . . . .

Luna jatuh tergeletak, pingsan ditempat dimana ia berdiri bersama Fred dan George tadi, hanya saja suasana lebih hening dan tidak ada Fred dan George disekitarnya.

"Oh, aku pusing sekali." Gerutunya sendiri. "Kenapa tiba-tiba kastil sepi sekali? Oh, aku harus mengambil buku dan jurnal ku sebelum ketinggalan kereta." Pikirnya.

Ia berlari memasuki kastil dan melihat banyak sekali yang berbeda dengan dekorasi, warna dan suasananya. Ia merasa sedikit asing ditempatnya. Ia melihat banyak sekali yang aneh di kastil, hanya ada beberapa siswa disana. Dugaannya pasti benar, alat yang digenggamannya ini pasti pembalik waktu, dan mantra dari Fred dan George tadi pasti telah membuat pembalik waktu itu berputar hingga membawanya ke waktu ini. Oh tidak.

"hey, siapa kau?" Tanya seorang siswa berambut panjang dan pirang. "Mr. Malfoy?" ucap Luna seketika. Bentuk wajahnya sama, hanya saja yang muda ini masih segar rambutnya juga sama panjang dengan Lucius Malfoy yang ia tabrak beberapa menit lalu. Atau yang ia tabrak beberapa puluh tahun kemudian?

"Apa? bagaimana kau tau namaku?" Tanya Malfoy. Malfoy tidak mengenal siapa gadis aneh didepannya ini, bahkan ia tidak pernah melihat gadis seperti dia sebelumnya. "Aku tau beberapa hal tentang kehebatan keluargamu.." Luna mengawur jawabannya.

"Ahahaha.. sudah kuduga." Seringainya bangga. "Jadi siapa kau? Dan apa kau siswa baru disini?" Tanya Lucius.

'masih sama sombongnya.' Pikir Luna. "Yah, aku pindahan dari amerika. Mr. Malfoy, jika tidak keberatan, aku minta tolong untuk mengantarkanku bertemu Profesor Dumbledore. Ada beberapa hal tentang pemindahanku yang harus ku-urus." Balasnya dengan wajah yang polos. Ia juga melihat lencana prefect yang menempel di jubahnya.

"Baik lah nona, ayo ikut aku." Jawab Lucius ramah. Luna berpikir, 'ternyata aku bertemu dengan Lucius Malfoy. Dia tampan. Dan untuk bberapa puluh tahun kedepan, meskipun sudah tua tapi tetap tampan.' Lantas ia terkekeh sendiri.

"Panggil aku Luna, Mr. Malfoy." Ucapnya ramah dan friendly.

"Panggil aku Lucius kalau begitu."

"Tentu saja, Lucius." Luna mengangguk, walaupun sedikit aneh memang ia harus memanggi Lucius Abraxas Malfoy dengan nama depannya, mengingat mereka memang beda derajat dalam beberapa struktur social.

Mereka berjalan melewati koridor-koridor yang gelap dengan cahaya yang remang-remang. Ini pertama kalinya Luna merasa asing di Hogwarts. Tidak ada teman-temannya, yang ada orang tua dari teman-temannya.

"Jadi, Luna, kau kelas berapa?" Tanya Lucius untuk mencoba ramah kepada Luna.

"Aku sudah kelas 6 sekarang. Mungkin tahun keenam jika aku sekolah disini." Balasnya.

"Oh, aku kakak kelasmu kalau begitu." Balas Lucius.

Entah hanya perasaan Lucius saja atau memang gadis ini terlihat menarik dimatanya. Yah, meskipun penampilannya sangat aneh, tutup butterbeer yang dignakan menjadi kalung? Ah, yang benar saja.

Tapi itu memang benar, Luna sedikit memikat Lucius muda. Wajahnya yang polos, ramah dan mudah bersahabat. Ah, andaikan Luna tau akan hal ini.

'aku akan menjadikan gadis ini temanku.' Batinnya.

"Kau tau, kau tidak akan percaya dengan apa yang aku alami." Ucap Luna tiba-tiba.

"Kau mengalami apa?" Tanya Lucius.

"Banyak hal yang tak mungkin kau percayai." Lucius terkekeh.

Merekapun sampai didepan Gargoyle, Lucius mengucapkan passwordnya, lalu muncul tangga berputar yang mirip dengan escalator. Mereka berdua menaiki tangga itu dan mengeruk pintu Profesor Dumbledore beberapa kali sampai terdengar kata "masuk."

Lucius membukakan pintu itu dan mempersilahkan Luna untuk masuk, ia mengantarkan Luna sampai benar-benar bertemu dengan Dumbledore. Ruangannya masih sama, hanya berbeda dekorasi saja.

"Ada yang bisa ku bantu?"

"Luna, murid pindahan baru dari Amerika ini ingin berbicara beberapa hal penting dengan anda, Profesor." Ucap Lucius. Dumbledore kaget mendengar ucapan Lucius barusan. Luna? Murid baru? Dari Amerika?

"Ah, tentu saja. Terima kasih atas bantuanmu, Mr. Malfoy." Balasnya dan mengedipkan salah satu matanya. Ia tau artinya, ia harus menunggu di luar dulu. Lucius mengangguk dan meninggalkan ruangan dan menunggu diluar.

Dumbledore menunggu sampai Lucius meninggalkan ruangan baru mulai bicara yang serius.

"Jadi, nona, ada yang bisa ku bantu?"

"Pembalik waktu membawaku ke jaman ini, professor. Aku berbura-pura menjadi seorang murid pindahan dari Amerika untuk mengelabuhi Lu—Malfoy."

"Merlin, bagaimana bisa kau terjebak dijaman ini? Kau dari tahun berapa?" Tanya Dumbledore ingin tahu. Wajahnya tidak setua disaat ia melihatnya terakhir kali di tahun 1995. Jenggotnya tidak terlalu panjang, dan masih agak rapi.

"Aku dari tahun 1995. Ini berawal disaat aku sedang akan mengambil barangku yang tertinggal di asrama. Lalu aku menemukan pembalik waktu. Lalu dua temanku mencobakan mantra barunya kepadaku, tidak mantra yang bahaya sih, hanya mantra untuk guyonan. Tapi itu mengenai pembalik waktu, aku merasakan dunia berputar mengelilingi ku hingga aku jatuh pingsan. Saat aku sadar, aku sudah didepan pintu masuk dan akhirnya bertemu Mr. Malfoy yang mengantarkan aku kemari." Jelas Luna panjang lebar kali tinggi dibagi dua.

"Dan, kurasa Pembalik Waktunya rusak. Aku tak bisa memperbaikinya. Aku mohon bantuanmu, professor. Aku tak ingin terperangkap, aku ingin kembali ke tempat dimana aku seharusnya berada." Balas Luna memelas.

"bisa kulihat pembalik waktunya?" pinta Dumbledore. Luna menyerahkan pembalikwaktu itu kepada Dumbledore, ia berharap bisa pulang.

"Oh, ini mungkin akan memakan waktu 2 sampai 4 bulan untuk memperbaiki benda berkekuatan magis yang tinggi ini. Untuk sementara kau bisa melanjutkan sekolahmu disini sampai alat ini berfungsi. Jadi, kurasa kau mengambil samaran yang tepat, murid baru pindahan dari Amerika. Hanya saja, boleh aku tau nama belakangmu?"

"Lovegood. Luna Lovegood, professor."

"Untuk sementara, namamu kuubah menjadi Luna Butter. Sebagai pelengkap samaran, apakah baik-baik saja?"

"tentu, tentu saja Profesor! Terima kasih sudah membantuku."

"Sama-sama. Aku pasti orang kepercayaanmu dimasa itu."

"Yah, aku dan teman-temanku semua mempercayaimu. Kau membantu kami dalam banyak hal terutama saat— " Dumbledore mengangkat tangannya menandakan ia tidak ingin mendengarkan bagaimana perannya di masa depan. "Aku akan lebih senang jika aku bisa mengetauinya sendiri."

Luna hanya terkekeh, mengangguk.

"Tolong panggilkan Mr. Malfoy. Aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian berdua."

"Baik professor." Luna bangkit dari duduknya dan membuka pintu menyuruh Lucius masuk.

"Ada apa Profesor?"

"Luna Butter pindah dari Amerika minggu lalu, kuaharap kalian bisa berteman. Dan, Mrs. Butter, Mr. Malfoy akan menjadi teman sekaligus tutormu,. Kau keberatan, Mr. Malfoy?"

"Tidak, tidak sedikitpun, Pak." Angguk Lucius antusias.

"Bagus, mungkin Mrs Butter bisa menceritakan dimana ia berasal kepadamu. Hanya padamu."

"Tentu, Sir. Terima kasih."

"Lucius Malfoy merupakan orang yang aku percayai, jangan khawatir." Luna hampir tak percaya mendengarnya. Mungkin Dumbledore akan berubah pikiran jika ia tau bagaimana ia dimasa depan.

"Ya, terima kasih Profesor. Terima kasih."

"Alright. Aku akan memperkenalkanmu ke seluruh sekolah besok, aku akan menyuruh peri rumah mengantarkan perlengkapan-perlengkapan sekolahmu. jadi, Jangan lupakan aturannya, Mrs Butter." Dumbledore mengedipkan sebelah matanya.

Luna mengerti apa maksudnya dan mengangguk.

BERSAMBUNG.. .. . .

A/N : So, bagaimana? Semoga readers suka dan saya mohon kritik dan sarannya tapi jangan flame yah :) kesalahan murni milik saya. . . .

Sekian dan terima kasih, tunggu updatenya. Insha allah gak lama kok :D