Lee : ini dia chapter terakhirnya ;)

A/N : Well, akhirnya saya senang bisa menyelesaikan fic ini. okay, saya sebenarnya udah baper sekali pas bikin chapter sebelumnya, dan chapter ini. Okay, seriusan saya hampir berkaca-kaca bikin ini /lebay lu om/

pokoknya, saya saranin baca chapter ini dibagian Lucius ketemu Luna sambil mendengarkan lagunya Tim McGraw – Please Remember Me. serius, ini sangat disarankan.

Dan saya mau baper dulu.

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR

Luna memejamkan matanya saat kepalanya sudah terasa pening. Saat ia membuka matanya, ia telah kembali di Hogwarts, tepat disaat waktu yang sama disaat ia menghilang. Hanya saja, ia berada diruangan Dumbledore yang sudah sepi. Luna menoleh kekanan dan kekiri, dengan harapan menemukan Lucius disana. Tapi ia malah tertawa pada dirinya sendiri, betapa bodohnya ia sampai berharap menemui Lucius lagi.

Ia kemudian teringat ucapan Dumbledore. Ia mulai mencari di tangga atas, dimana ia biasa menghabiskan waktunya untuk tenggelam ditumpukan buku-buku tua. Tapi ia tak juga ada disana. Bingung, ia pun meletakkan pembalik waktu yang ia bawa di meja kerja Dumbledore. Mungkin ia akan mengiriminya surat nanti setibanya dirumah.

"Miss Lovegood! Apa yang kau lakukan di kantorku?" Ucap seorang pria yang beberapa menit lalu bisa ia dengar suaranya.

"Oh, aku minta maaf profesor. Aku agak kesulitan menjelaskannya, tapi kuharap kau akan ingat dengan ini," Ucap Luna, ia memberikan sebuah pembalik waktu di tangan Dumbledore yang keriput. Pria itu menerimanya dengan ragu.

Dumbledore diam selama beberapa saat. Ia memandang pembalik waktu itu secara lekat-lekat. Ia berusaha untuk menggali ingatannya lagi. Mungkin agak susah, mengingat umurnya sudah amat tua, "Ah, aku senang kau kembali dengan selamat. Itu berarti aku berhasil," Ucap Dumbledore, yang langsung ingat dengan kejadian dua puluh lima tahun silam.

Ia melanjutkan, "Aku akan menyegel ini agar tak lagi digunakan secara sembrono," Ucap Dumbledore.

Ia merapalkan mantra aneh dan panjang yang tak dikenal oleh Luna. Luna kemudian melihat sebuah cahaya merah, hijau, biru dan putih mengelilingi pembalik waktu yang berada di lantai. Cahaya-cahaya itu menjadi bercampur menjadi satu, membungkus pembalik waktu seperti bom nuklir yang akan meledak. Cahaya itu kemudian menghilang saat pembalik waktu itu dikelilingi oleh cahaya aneh. Sepuluh detik kemudian, cahaya itu menghilang seperti angin yang berhembus cukup kencang.

"Itu tadi indah." Ujar Luna, tanpa sadar.

"Kau benar," Balas Dumbledore setuju, menganggukkan kepalanya dengan cepat.

"Aku benar-benar berterima kasih atas semua yang kau lakukan padaku. Tanpamu mungkin aku akan terjebak disana," Ucap Luna lagi. Ia mengucapkan terima kasih lagi, mengingat, Dumbledore mungkin sudah lupa dengan ucapan terima kasihnya 25 tahun silam.

"Tak perlu berterima kasih lagi. Kau sudah mengucapkannya, kan?" Ucapnya, mengetipkan sebelah matanya kepada Luna dari balik kaca mata bulan separonya itu. Luna tertawa ringan begitu mendengar balasan Dumbledore yang selalu jenaka itu. kau tahu, pria tua ini mempunyai selera humor yang bagus.

Dumbledore memungut pembalik waktu itu, lalu memasukkannya kedalam lemari khusus. Ia—Luna masih sulit percaya jika akirnya ia sudah berada di tahun 1995, dimana ia seharusnya berada. Ia kemudian teringat jika sebelum ia tertelan pusaran waktu, ia bertemu Lucius Malfoy di tahun ini. Ini mungkin adalah kesempatan Luna untuk menemuinya lagi. Paling tidak, ingin mengatakan jika ia telah kembali dengan selamat. Dan Luna berharap Lucius menepati janjinya untuk mengingatnya.

Atau mungkin, Luna harus menyiapkan kalimat apa yang harus ia ucapkan sebelum ia harus kehabisan kata-kata lagi dengan Lucius Malfoy yang sudah berusia puluhan tahun lebih tua darinya. Jika ia tak salah hitung, mungkin ia sudah berusia sekitar tiga puluh akhir atau empat puluh tahun. Kalian tahu, usia antara tiga pulu dan empat puluh selalu membuat seseorang lebih berwibawa.

"Profesor, apakah Luc—maksudku, Mr Malfoy kemari?" Tanya Luna, memandang Dumbledore.

"Jika yang kau maksud adalah Malfoy Senior, ya. Dia baru saja pergi beberapa menit sebelum kau muncul," Dumbledore menjawab dengan nada datar. Ia mengerti apa yang telah terjadi padanya dan Lucius dimasa lalu. Dan ia tak ingin menghancurkan itu. Dumbledore tahu apa yang harus dilakukannya.

Malfoy Senior? Berarti Malfoy Junior sudah terlahir dan telah kembali ke keadaan yang seharusnya. Mendengarnya, Luna merasa lega. Ia senang saat mendengar keadaan saat ia kembali tidak berubah. Okay, mungkin berubah sedikit. Tapi ia tidak mengubah sejarah, bukan? Luna sempat khawatir jika perbuatannya akan membuat Draco tak pernah lahir. Tapi terbukti jika kekhawatirannya tidak terbukti. Ia tak sabar menemuinya lagi. Untuk yang terakhir kali.

"Aku permisi, profesor. Ada sesuatu yang harus kulakukan," Ucap Luna, ia sudah tak sabar untuk menemui Lucius. Dan ia tahu dimana ia sekarang.

"Ah, ya, ya, aku paham," Ucapnya, terhenti. Ia kemudian terkekeh. Dumbledore tersenyum nista saat Luna berpamitan padanya. Ia mungkin mengingat kedekatan Luna dan Lucius puluhan tahun silam. Ia menggeleng kepalanya ketika Luna sudah meninggalkan ruangannya. Kemudian ia berbisik, "cinta memang tak bisa ditebak."

Luna keluar dari ruangan Dumbledore dan sesegera mungkin untuk menemui Lucius. Ia berlari melewati koridor-koridor kosong, mengingat para siswa sudah pulang. Jantungnya berdetak kencang, ia juga tak begitu berharap akan bertemu Lucius. Ia mungkin sudah berubah, dan bukan lagi pria muda berusia 17 tahun yang naif. Selain itu, ia juga harus menjelaskan sesuatu kepada Fred dan George. Mereka tidak akan diam sampai mendapat penjelasan dari Luna mengenai apa yang terjadi. Dan Luna sudah memiliki jawaban ke-Ravenclaw-an yang bijak.

Sementara itu, langkahnya kembali terhenti saat ia melihat Fred dan George. Mereka terkaget melihat Luna tiba-tiba hilang dan muncul lagi ditempat yang berbeda. George dan Fred saling melempar pandangan heran. Lalu memandang Luna lagi penuh tanda tanya besar dikepala mereka.

"Bagaimana kau?" ucap George. Ia melempar pandangan aneh kepada Fred, heran.

"Baru saja aku melihatmu menghilang, dan kini kau kembali lagi," Lanjut Fred.

"Kau membuat kami khawatir," Sahut George.

Luna tersenyum, lalu ia terkekeh, "Tidak mungkin ada dua orang yang sama berada ditempat yang sama, Fred, George. Kecuali jika mereka kembar seperti kalian," Balas Luna dengan senang. Ia melihat wajah Weasley kembar ini tengah kebingungan. Oh, sungguh Luna merindukan dua makhluk ini. Mungkin ia bisa menghabiskan waktu kosongnya dengan pria-pria muda jenaka setelah lulus nanti.

"Hey, apa kalian melihat Mr Malfoy lewat tadi?" Tanya Luna, mengalihkan topik pembicaraan mereka perlahan-lahan. Ia tentu tidak akan melupakan tujuannya; yakni menemui Lucius Malfoy, sesuai janjinya dulu.

Fred mengangkat alisnya bingung. Bintik-bintik diwajahnya semakin terlihat jelas, "Dia menuju danau hitam. Ada urusan apa kau dengannya?"

"Benar. Dia kan Death Eaters," Kali ini George yang menyahut, mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan Fred.

"Kalian tidak akan ingin tahu." Ujar Luna, lalu menambahkan. "Sampai jumpa, Fredie, Georgie."

Fred dan George bertukar pandangan aneh. Tentu saja Luna tak berharap mereka berdua tahu. Kalau mereka sampai tahu, bisa-bisa seantero Hogwarts mendengar semua gosip itu. Dan ia—Luna tak ingin rahasia yang diketahui antara dirinya, Dumbledore dan Lucius ini sampai tersebar. Bukan hanya karena malu, tapi juga karena sesuatu yang mungkin lebih membingungkan. Yang lalu biarlah berlalu, kurang lebihnya begitu. Tetapi tidak bagi Luna. Yang lalu memang telah berlalu, tapi bukan berarti yang lalu biarlah berlalu itu tidak meninggalkan bekas didalam hatinya.

Dan kini, Luna berlari melewati semak belukar yang menghalangi jalannya, tak memperdulikan seberapa lebat dan tajam duri-duri semak itu menyentuh kulitnya. Langkahnya terhenti seketika ia melihat tak ada siapapun disana kecuali dirinya dan hewan-hewan kecil yang berterbangan. Ia berjalan menghampiri pohon besar yang berdiri dihadapannya.

Ukiran itu masih ada. Ukiran yang dibuat oleh Lucius hari itu. Hari yang manis itu. Ia memutar kembali ingatannya, memasang serpihan-serpihan memori yang hanya tinggal kenangan. Merasakan ingatan segar yang tiba-tiba mengalir deras didalam kepalanya. Luna tersenyum lirih kepada ukiran itu.

"Aku ingin mengukir sesuatu dipohon ini." Ujar Lucius pelan.

"Apa?" Tanya Luna, memandang Lucius yang tengah berdiri dengan mengusap pohon itu dengan perlahan.

Luna berdiri, melihat ukiran kayu yang sudah ditumbuhi lumut berwarna hijau disisinya. Luna mengusap ukiran berbentuk L & L dengan bingkai hati ditepinya. Ia juga mengingat saa dimana Lucius menciumnya dibawah pohon ini. Ia menyentuhnya lagi, merasakan ingatan segar yang mengalir didalam otaknya. Ukiran itu sama sekali tidak berubah, kecuali letaknya yang semakin tinggi.

Lucius mengambil tongkat sihirnya, merapalkan sebuah mantra yang perlahan-lahan membentuj sesuatu disana. Luna berdiri, melihat ukiran kayu yang sudah ditumbuhi lumut berwarna hijau disisinya. Lucius mengusap-usapkan tangannya untuk membersihkan ukiran itu dari serpihan-serpihan mengganggu. Ia kemudian tersenyum puas melihat hasil karyanya.

"Bagaimana menurutmu?" Tanya Lucius.

Luna berdiri menghampiri Lucius yang sudah selesai dengan kegiatan pahat memahatnya itu. ia melihat pahatan yang buruk sekali, tapi dari caranya mengukir, ia bisa melihat kesungguhan. Lucius pasti bukanlah orang yang mahir dalam bidang seni, tapi ia memiliki selera seni yang tinggi. Hal itu—kesungguhan itu yang membuat Luna merasa tersentuh. Ia mulai menyadari jika Lucius benar-benar mencintainya. Meskipun kenyataan pahit sudah menyiapkan tangannya untuk menampar mereka. Lagi.

"Ini indah sekali," Luna menyentuhnya sebuah ukiran berbentuk L & L yang dibingkai dengan sebuah ukiran berbentuk hati. Dalam dua puluh lima tahun kedepan, mungkin ukiran ini akan menghilang, bersamaan dengan tumbuhnya pohon tua ini. Tapi Luna tak berani untuk memprediksi lebih jauh, ia takut prediksinya akan membawanya kedalam kekecewaan.

"Kita berdua tahu jika hubungan kita tak akan pernah berhasil. Tapi, aku ingin kita menikmati saat-saat yang kita miliki saat ini," Ujar Lucius.

Luna memberikan pandangan penuh arti pada pria itu. Mereka saling memandang satu sama lain, terjun kedalam sebuah rasa yang indah, namun menyakitkan. Mata itu, mata kelabu Lucius tidak sedingin yang Luna pikirkan. Siapa sangka jika mata kelabu yang dingin itu bisa memberikan sebuah kehangatan, kenyamanan yang membuat Luna merasa aman. Ia tak bisa memungkiri ini, tapi ia benar-benar telah jatuh cinta kepada Lucius Malfoy, ayah dari Draco Malfoy. Dan sejak hari itu, hari-harinya sudah tak akan pernah sama lagi.

"Aku meng—" Luna sudah akan bersuara lagi, tetapi kali ini mulutnya sudah dibungkam oleh mulut Lucius. Luna sedikit kaget, namun ia berusaha menerima ciuman Lucius dengan hati-hati. Lucius masih melumat bibir Luna dengan lembut, sementara tangannya menyentuh pipi gadis itu, kemudian turun ke pinggangnya. Selama beberapa saat, mereka saling mengulum bibir satu sama lain.

Luna terduduk saat melihat ukiran itu. Ia tak sanggup untuk menahan berat badannya dengan kaki yang lemas dan gemetaran. Ia memandang ketanah, lalu mulai menangis sendirian. Ia menumpahkan semua tangis yang bisa ia tumpahkan saat ini juga. Ia sedikit kesulitan untuk menerima kenyataan jika semua itu telah menjadi kenangan. Kenangan terindah dalam hidupnya, yang tak mungkin bisa dilupakannya. Luna menyadari betapa bodoh dirinya yang bisa-bisanya terpikat oleh pesona Malfoy. Tapi bukan tampang ataupun harta yang ia sukai dari pria bermata kelabu itu, melainkan ia mencintai Lucius karena ia adalah Lucius.

"Kenapa aku harus terperangkap dalam situasi rumit ini?" Rintihnya pelan. Ia membiarkan air mata mengalir dipipinya. Ia masih belum bisa menerima kenyataan jika apa yang ia inginkan hanyalah sebuah mimpi. Mimpi yang tak akan pernah menjadi nyata.

Dadanya terasa sesak. Lucius sudah menjadi milik orang lain. Dan orang lain itu sangat beruntung dibanding dengan dirinya. Tapi meskipun demikian, Luna berharap Lucius akan tetap bahagia walaupun tidak bersama dirinya. Cinta mereka mungkin telah kandas. Dan kapal yang mereka buat mungkin sudah karam, tapi bukan berarti semua itu akan hilang begitu saja. Segala sesuatu terkadang meninggalkan bekas. Termasuk duka lama di masalalunya ini.

"Aku tak mengerti kenapa ada gadis muda yang menangis ditempat indah seperti ini," Ucap seorang pria yang suaranya tak asing. Luna mengenali siapa pemilik suara selembut sutra itu. suaranya tak berubah, bahkan setelah 25 tahun.

Ia berbalik dan mendongak. Matanya terkejut saat sosok berjubah hitam dengan rambut panjang berwarna pirang platina berdiri disana. Ditempat dimana Luna sedang terduduk dengan tangis diwajahnya. Luna bisa melihat wajah pria itu dengan detil. Wajahnya tak berubah, kecuali jenggot tipis yang menghiasi wajahnya sudah mulai tumbuh. Pria itu lebih menawan daripada 25 tahun yang lalu, dan ini membuat Luna semakin merasa sesak. Ia merasakan oksigen disekitarnya tiba-tiba habis.

"Luc-Mr. Malfoy! Senang melihatmu...lagi." Sapa Luna dengan sopan. Sosok itu tidak merespon, hanya memberi anggukan pelan dan pandangan dingin pada Luna. Ia tak tahu apakah Lucius mengingatnya atau tidak. Ia masih belum berani memastikan, walaupun sudah jelas jika ia datang kemari, pastilah karena ia menemui Luna. Luna tak berani berharap terlalu tinggi untuk itu. Ia sudah tidak berhak untuk berharap lebih dari bisa bertemu dengannya lagi.

Mereka diam dalam perasaan canggung. Luna mencoba untuk menerima jikalau Lucius mungkin telah melupakannya, dan perasaan yang pernah ia miliki kepada Luna. Mungkin Luna akan jauh lebih bersyukur jika Lucius akan melupakannya setelah ia memiliki keluarga. Jadi, ia tak harus menerima kenyataan jika Lucius akhirnya bisa memahami situasi rumit ini.

"Aku juga senang melihatmu lagi, Luna," Ucapnya.

Ya, Luna tak salah dengar. Lucius masih memanggilnya dengan nama depannya seperti dulu. Hati Luna mencelos saat melihat Lucius tersenyum padanya. Senyum yang ia lemparkan padanya masih sama hangatnya seperti dulu, walaupun senyum itu adalah sudah menjadi milik wanita lain. Yang beruntung. Luna tak berkata apapun, hanya menahan air mata yang mengalir semakin deras dipipinya. Lucius-nya kini sudah bukan lagi Lucius yang ia kenal.

Lucius merebahkan kedua tangannya, ditangan kanan yang terbalut sarung tangan hitam itu menggenggam tongkat berjalan berkepala ular dengan erat. Ia nampak bersiap untuk menerima sebuah pelukan dari Luna. Luna berlari menghampiri Lucius, ia menangkap Luna dipelukannya. Luna melingkarkan tangannya ditubuh Lucius yang atletis bak seorang atlet. Ia bisa merasakan hangat tubuh Lucius merasuk kedalam dirinya.

Di surga kecil itu, Luna masih tenggelam diantara otot-otot Lucius yang masih memeluknya erat. Luna merasakan sebuah kehangatan yang pernah ia rasakan sebelumnya, saling mencurahkan rasa rindu masing-masing. Mungkin tidak bagi Lucius. Tangis Luna semakin pecah. Ia masih tak bisa menerima ini. Lucius mencuri hatinya, dan ia tak mengembalikan apa yang harusnya menjadi milik Luna.

"Aku merindukanmu," Ucapnya setengah berbisik, tepat diatas telinga Luna. Luna tak menjawab, hanya melepaskan pelukan Lucius terhadapnya. Ia memandang matanya yang indah itu. Caranya melihat Luna masih sama seperti saat ia memandang Luna dulu. Luna tak bisa menjelaskan, dan berusaha untuk tidak menuntut penjelasan mengenai apa arti pandangan itu.

"Apakah yang ia katakan itu benar? Apakah ini bukan imajinasiku?" Luna membatin, masih memandang Lucius dalam diam.

"Luna…" ucap Lucius, memegang kedua bahu Luna sambil menatapnya tajam. Luna kembali melihat bulan yang bersinar didalam mata Lucius, menangkap sebuah kilatan bahagia disana.

"Lucius."

"Aku masih sama seperti dulu, aku menjaga janjiku. Tetapi setelah hampir 25 tahun ini aku akhirnya bisa memahaminya," Ucap Lucius, memandang mata Luna dengan seksama. Mata kelabunya memandang dalam sekali, hingga Luna bisa merasakan Lucius sedang membaca pikirannya.

Ia melanjutkan, "Aku benci mengatakan ini, tapi aku sudah bukan lagi Lucius Malfoy yang kau kenal dulu. Aku kini adalah seorang pria, bukan lagi seorang anak sekolahan yang kau kenal dimasa lalu. Aku kini adalah seorang ayah, dan seorang suami. Sekarang, kau hanyalah bagian dari masa laluku," Ucap Lucius.

Deg

Ia merasa jantungnya ingin meloncat keluar saat mendengar ucapan Lucius. Ucapannya memberikan tamparan yang keras bagi Luna, cukup untuk membuatnya memandang Lucius dengan air mata yang sudah tak lagi terbendung. Luna tak bisa berkata apapun selain mengepalkan kedua tangannya, menahan sakit yang membuatnya ingin meledak. Luna hampir menjatuhkan dagunya, tak bisa berkata apapun lagi selain melemparkan pandangan penuh makna pada Lucius.

Luna paham siapa dirinya, dan apa posisinya. Ia juga tidak menuntut Lucius untuk tetap seperti dulu setelah dua puluh lima tahun. Ia tak bisa berharap lebih dari ini. Seseorang telah memenangkan pertarungan ini. Seseorang telah memenangkan hati Lucius Malfoy. Dan seseorang itu bukanlah dirinya. Luna sadar akan hal itu.

Lucius menarik nafas panjang, kemudian memandang wajah Luna seksama. Ia mengusap air matanya yang membasahi pipinya itu. wajahnya yang cantik terbanjiri oleh air mata, dan Lucius benci hal itu, "Aku tahu ini akan sulit untukmu. Aku juga mengalami hal serupa saat kau pergi, selama bertahun-tahun aku berusaha untuk menyadari jika kita tak akan pernah bersama,"

Ucapannya terhenti, menarik nafas pelan "Namun, kau harus tahu, dan memahami, jika masa depanmu masih panjang. Kau berhak mendapatkan cinta yang lebih baik dari yang bisa kuberikan padamu," tutur Lucius, kali ini mengusap leher Luna. Gadis itu meraih tangan yang terbalut sarung tangan hitam itu. Menempelkan pipinya disana.

"Bagaimana aku bisa melupakanmu, Lucius?"Tanya Luna lirih. Ia tak berani memandang mata Lucius.

"Jangan lupakan aku. Tapi, lupakan kenangan yang pernah kita lewati bersama. Bukalah lembar baru dalam hidupmu, karena aku hanyalah sedikit dari potongan masa lalumu," Jawab Lucius lagi. Batin Luna semakin tercabik-cabik. Ia berharap seseorang akan datang dan membunuhnya hari ini. Rasa sakit ini lebih sakit dari cruciatus.

Lucius menarik nafas panjang, "Luna, aku ingin jika kau tahu, jika masa-masa kita bersama adalah masa-masa yang tak akan pernah kulupakan. Kau mengenalkan aku kepada sebuah kekuatan besar, yang tak kutemukan dimanapun. Kekuatan itu, adalah cinta. Membuatku lebih kuat, lebih tangguh. Kekuatan yang mengajariku tentang alasan-alasan jika aku harus bertahan. Selama bertahun-tahun aku harus menghadapi kenyataan jika kau telah meninggalkanku," ucapannya terhenti. Memandang Luna yang hanya bisa diam dari tadi.

"Dan itu semua, bayanganmu, kenangan akan dirimu, suaramu, aku masih bisa mendengarnya dengan jelas didalam kepalaku sampai saat ini. Kau yang membuatku bisa bertahan sejauh ini, membuatku bertahan hidup. You are the best girl I've ever had in my life," Lucius menyelesaikan ucapannya. Luna hanya bisa mengangguk paham. Ia tahu siapa dirinya. Ia tak akan pernah mungkin menjadi seseorang yang memenangkan hati Lucius. Ia sudah menang sekali, tapi untuk kali ini ia tak akan pernah menang lagi. Ia suda kalah.

Air mata Luna semakin mengalir saat mendengar ucapan Lucius. Ia sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi ia terus bersikeras untuk berbicara, mengatakan sesuatu. "Aku tahu, Lucius. Aku tahu ini tak akan mudah. Sejak pertama kita bersama, aku sudah tahu jika hubungan ini akan berakhir seperti ini. Tapi apa yang telah terjadi adalah kesalahan terindah dalam hidupku," Ia tehenti, menyentuh tangan Lucius yang masi ada dilehernya. Senyumnya semakin lirih, Lucius tak bisa menyembunyikan emosi jika dirinya juga sedih melihat Luna seperti itu. Jika semua itu tidak terjadi, maka situasi yang sulit ini tidak akan menimpa mereka berdua.

Luna menyeka air matanya, lalu berbicara lagi. "Terima kasih untuk segalanya, Lucius. Aku akan berusaha menerima ini semua, demi dirimu."

Sekeras apapun Luna mencoba. Ia tidak akan pernah bisa melupakan kesalahan terindah dalam hidupnya ini. Kesalahan ini yang membuat mereka saling mencintai. Kesalahan ini yang membuat Lucius bisa merasakan bagaimana cinta yang sebenarnya. Membuatnya bisa paham jika cinta tak mesti harus bersama. Ia menyadari jika Luna masih memiliki jalan yang lebih panjang, dan berhak mendapatkan pria yang lebih baik darinya. Ia berhak untuk mendapatkan cinta yang lebih kuat, yang lebih besar darinya. Ia berhak untuk dicintai, lebih dari Lucius mencintainya dulu.

Semua hanya masalah waktu. Waktu yang membuat kita terluka, dan waktu pula yang menyembuhkan luka itu. Dan Lucius paham, tanggung jawabnya, janjinya kepada Dumbledore masih berlaku karena Dark Lord masih belum bisa ditaklukan. Dan itu berarti, tugasnya sebagai pelindung Luna masih belum selesai. Tetapi ia memilih untuk diam, lebih baik Luna tidak tahu akan masalah ini. ia tidak ingin menambah beban dipundak gadis itu lagi, terlebih setelah apa yang terjadi diantara mereka.

"Apa kita akan bertemu lagi, Lucius?" wanita bermata biru itu bertanya dengan polosnya.

Pria itu tersenyum. Senyum yang sama saat Luna terakhir berjumpa dengannya. Senyuman yang akan membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Sebuah suara keluar dari mulut Lucius, "Aku tidak tahu, biar aktu yang menjawabnya," ia terhenti, mengambil nafas dalam.

"Untuk sekarang, jaga dirimu. Siapkan dirimu sebaik mungkin, aku khawatir sesuatu yang jauh lebih besar dari kejadian di kementerian. Aku tahu kau bisa melakukan yang terbaik," Lucius berujar, melanjutkan perkataannya.

"Kau juga harus melakukan yang terbaik. Aku percaya padamu, Lucy," Luna tersenyum kecut. Lucius terkekeh. Ia menjadi teringat masa-masa saat ia menjuluki Luna menjadi Loony, dan dirinya menjadiLucy. Ia tak bisa menahan senyumnya saat mengingat saat-saat itu. Menyadari betapa nista dirinya dulu.

"Terima kasih. Itu sangat berarti bagiku," Lucius tersenyum tipis, memberikan senyuman simpul. Ia memperkecil jarak antara wajahnya dan wajah Luna. Luna bisa merasakan nafas Lucius di permukaan bibirmya, yang tak lama kemudian menciumnya dengan lembut. Getaran hebat merangsek masuk kedalam tubuh Luna, ini tidak seperti yang sebelum-sebelumnya. Ini lebih menyakitkan namun indah dan...manis.

"The longer the waiting, the sweeter the kiss," Pikir Lucius.

Luna membuka matanya ketika Lucius berhenti menciumnya. Luna merasa jika hubungannya dengan Lucius sudah benar-benar tinggal kenangan. Ia tak akan pernah mendapat kesempatan untuk bersama dengan pria ini, walaupun harapannya terus melambung tinggi. Yang mana akan membuatnya tetap bertahan hidup. Harapan yang membuatnya terus bertahan agar bisa terus melihat pria ini dari kejauhan. Dan harapan itu pula yang suatu hari akan menjatuhkannya dari angkasa. Tapi bagi Luna, memiliki harapan itu sudah lebih dari cukup.

"Sekarang pergilah. Keretamu akan berangkat beberapa menit lagi," Lucius berujar. Tangannya masih dipipi Luna, gadis itu menggenggam tangan bersarung tangan hitam itu. Kemudian ia tersenyum manis kepada Lucius.

Luna mengangguk, "Sampai jumpa, Lucius. Doa ku akan selalu menyertaimu," Luna berujar lagi. Luna melempaskan genggamannya dari tangan Lucius, tepat seperti ia meninggalkan Lucius saat ia berada di tahun 1971. Lucius tak menjawab, ia hanya mengangguk dengan pelan. Senyuman menghiasi wajahnya yang sudah ditumbuhi oleh jenggot-jenggot tipis.

Sementara Luna sudah tak terliat lagi. Ia masih berdiri disana, melihat ukiran yang ia buat bersama Luna. Menyentuhnya beberapa saat, lalu mengacungkan tongkat sihirnya. Ia berencana untuk menghapus ukiran itu, tetapi ia tak kuasa menghapusnya. Kenangan itu terlalu indah. Ukiran itu berisi tentang kenangan termanis dalam hidupnya, dimana Luna menyandarkan kepalanya dipundaknya. Memeluknya erat seakan-akan tidak ada hari esok.

Namun semua itu telah berakhir. Kenangan itu akan tetap menjadi kenangan. Tak peduli seberapa kuatia mencoba, kenangan tidak akan pernah bisa dilupakan dengan mudah. Ia menutup matanya beberapa saat kemudian menarik nafas panjang. tanganya bergerak, memasukkan tongkat sihirnya ketongkat jalannya lagi, memutuskan untuk membiarkan pohon beringin tua itu menjadi saksi bisu atas cintanya kepada Luna dulu.

Tapi, apakah mereka benar-benar telah mengakiri semuanya? Lucius tidak mengatakan sepatah apapun tentang akhir dari hubungan mereka. Lucius tidak memberikan kepastian apakah ini sudah benar-benar berakhir, atau hanya sekadar menggantung tanpa sebuah kepastian yang jelas. tapi apapun itu, Luna percaya dengan apa yang dilakukan Lucius. Ia—Lucius menyuruh Luna untuk menyimpulkan sendiri, ia terlalu takut apabila kata-katanya akan menyakiti Luna lebih parah. Lucius tidak tahu jika ia membuat keputusan yang salah dengan tidak memberi kepastian. Tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.

Dengan ini, Luna belajar jika cinta adalah pengorbanan. Ia belajar jika cinta mungkin akan memberikan rasa bahagia dihidupnya, tetapi juga sesuatu yang mungkin membuatnya menangis tengah malam seorang diri. Setidaknya, ia telah belajar dari pengalamannya, sebagai modal untuk menghadapi permasalahan yang lebih sulit saat ia dewasa nanti. Jika cinta yang lebih baik akan datang untuk menggantikan posisi Lucius dihatinya. Ia juga berhak untuk mendapatkan cinta. Cinta yang lebih kuat, lebih baik dari yang pernah diberikan Lucius padanya. Ia juga berharap yang terbaik untuk Lucius, dan apapun yang akan dilakukannya.

Lucius memang benar-benar serius dengan apa yang ia katakan. Tapi ia tak bisa memungkiri jika rasa itu masih ada setelah terkubur selama 25 tahun. Tapi ia tak bisa mengatakan itu. Lucius tak bisa mengatakan jika ia tak ingin hubungannya dengan Luna berakhir. Tapi bak ditampar oleh kenyataan, Ia tak bisa mengkhianati Narcissa dan Draco, yang sudah menjadi bagian dari jiwanya. Meskipun ia terikat sumpah dengan Dumbledore, ia tak boleh membiarkannya dirinya jatuh lebih dalam lagi. Lucius ingin Luna bahagia dengan pria yang lebih baik darinya. Yang bisa mendampinginya sepanjang hidup, dalam suka dan duka. Seorang pria yang bisa membuat Luna selalu tersenyum dalam kebahagiaan. Pria yang masih sendiri, bukan pria berkeluarga seperti dirinya.

Kali ini Lucius juga belajar, apabila cinta tak harus bersama. Luna bukanlah tulang rusuknya yang hilang. Perlahan, seiring berjalannya waktu, perasaan yang mereka miliki pasti akan hilang dengan sendirinya. Tergantikan oleh kenangan-kenangan baru yang lebih manis, lebih membahagiakan. Karena hari ini Lucius Malfoy dan Luna Lovegood telah belajar satu hal penting dalam hidup; terkadang jalan terbaik yang mereka punya adalah perpisahan.

SELESAI

A/N : Uwhooooh akhirnya selesai juga fic ini :'D okay, saya mau tanya sekaligus minta saran, haruskah saya bikin epilog?

Terima kasih kepada Lee, Potter15, Chocofia, Rahmad Hidayat, Agung Saputra, Airima Fitriani, Sandy Handerson, Galang Revanto, Nightash LS, Moku-Chan, Intanmalusen, Ms Bluberry, Flatiron Illia Ti, Si Gadis Pendongeng, tidakpenting, AdelWizz, para guest dan silent readers atas partisipasinya.

Terima kasih juga buat, Moku-Chan, Princess of Darkness. 2351, Selena Hallucigenia, Intanmalusen, libranna, zielavienaz96, Kim Ri Ha, Claire Nunnaly yang sudah mengfollow dan meng-favorit cerita ini.

daaaaannn very special thanks to papah cocaines yang udah maksa saya buat publish cerita ini, ngasih review, nge-subscribe, dan nge-favorit. I'll send you virtual hugs later pah xx

thank you guys, without you this story will never be done. I love you.