Good evening, everyone

As I already told you before, this chapter is the last you'd ever be read from Carte de Dragoste.

And I hope you satisfied with the answer I gave you as this chapter was published.

So thank you so much for staying with me all this time, and for the reviews you gave me

Anyway, happy reading~


Disclaimer: Mobile Suit Gundam SEED and all of its characters belongs to Yoshiyuki Tomino, Sunrise, and Bandai respectively

Rate: T, well, this chapter sounds light, but I think just in case for later chapters

Genre(s): Romance, Drama, Friendship, Family, Hurt/Comfort, etc

Warning(s): AU, Divergence Fanfiction, OOC-ness, Typo(s), ER, FT, etc

Pairing(s): Athrun Zala/Cagalli Yula Athha


Carte de dragoste

Epilog

October Lynx

2015


Aku mengakhiri bacaanku dan menutup buku itu, sekalipun ceritanya belum selesai sampai di situ.

Ketika membaca bab satu yang menceritakan sedikit tentang para tokohnya—atau brief intro—aku mulai tertarik lagi dengan isinya. Karena saat membacanya, berbagai pertanyaan kembali hadir di benakku hingga membuatku penasaran untuk tetap melanjutkannya.

Tapi sudahlah, aku harus tidur sekarang. Besok sudah hari sekolah lagi dan kakak tidak akan senang mendengarku bolos, dengan alasan apapun. Jadi menurutku lebih baik aku menutup buku itu dan tidur.

Karena akan sangat tidak menyenangkan baginya untuk bangun dan menemukan aku membolos. Sungguh, aku tidak mau menjadi adik kurang ajar begitu. Jadi…

Selamat tidur.


Sebuah sentakan membuatku terjaga.

Berat sekali rasanya membuka kedua mata ini, padahal pasti ada sesuatu yang menyentak tanganku yang memegangi sebelah tangannya, hm?

Segera kubuka kedua mataku secara paksa, berharap dapat langsung beradu dengan tatapan mata kakakku yang meneduhkan itu namun… tidak.

Kakakku masih berbaring seperti sebelumnya, kedua tangannya masih berada di sisi tubuhnya, selimutnya masih terpasang rapi. Hela napasnya masih naik-turun secara teratur meski masih juga terdengar lemah, dan kedua matanya masih terpejam.

Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sempat bangun sama sekali.

Karena sudah terlanjur bangun dan rasa kantukku sudah hilang, aku memutuskan untuk berdiri. Sekadar merenggangkan tubuhku yang terasa kaku karena semalaman aku tidur dengan posisi terduduk dan kepalaku kusandarkan keatas tempat tidur dimana kakakku berbaring. Sambil berolahraga sedikit, sesekali aku menoleh pada sosok kakakku yang tertidur itu.

Dia tampak sangat damai. Sangat tenang. Dan well, sangat tampan.

Aku berani bertaruh bahwa selama berada dimana entah itu pasti banyak gadis-gadis yang menggodanya. Tapi aku juga tahu bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang sia-sia belaka, tak ada gunanya.

Sebab kakakku orangnya sangat serius, jika dia bilang dia kesana untuk bekerja, maka yang terjadi pasti demikian juga. Tidak mungkin ada sedikitpun waktunya yang terbuang untuk kesia-siaan.

Tapi asal tahu saja, dia juga sudah bilang bahwa hal-hal lain—yang tidak berhubungan dengan pekerjaan atau keadaanku—adalah sesuatu yang sia-sia. Dia tidak akan membuang waktunya sekadar untuk mengajak kencan seseorang atau minum kopi bersama, kata itu hanya buang-buang waktu dan tidak berguna.

Yeah, seperti itulah dia itu.

Dan dia sudah seperti itu ketika aku pertama kali mengenalnya setelah pernikahan kedua orangtuaku.

Sial, kenapa juga ingatan tentang mereka tiba-tiba terbersit begini?


Keluargaku terdiri dari tiga orang, sebelumnya. Kedua orangtuaku, dan aku sebagai anak tunggal mereka.

Tetapi sepanjang ingatanku aku selalu melihat mereka bertengkar, entah karena apa, kapan, dan dimana. Kau tahu? Kadang-kadang itu merepotkan.

Kisahnya begini. Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD dan sekolahku mengadakan festival besar yang bertema Parent's Day.

Yah, karena sekolah meminta kami—para murid—untuk mengundang orangtua kami, maka kuundang juga orangtuaku. Lagipula mereka juga mengatakan mereka pasti datang sambil tersenyum.

Senyum yang begitu hangat ketika itu. Senyum hangat yang penuh sandiwara, sayangnya.

Aku benar-benar tak sabar menanti kedatangan kedua orangtuaku. Aku ingin memperlihatkan hasil karyaku. Sebuah lukisan pemandangan khas anak SD yang menurut pendapatku saat ini memang jelek, dan berantakan. Tapi aku ketika itu menganggapnya seperti sebuah mahakarya… atau, apa istilahnya, masterpiece?

Yeah, kira-kira begitulah.

Cukup lama aku menunggu sebelum mereka benar-benar datang. Sempat juga terbersit mereka tak akan datang mengingat kedua orangtuaku sangat sibuk, tapi ternyata mereka datang juga.

Oh, mungkin kau bisa membayangkan sendiri betapa senangnya aku waktu itu.

Segera kutarik tangan mereka dan mengajak mereka berkeliling sambil menjelaskan ini-itu seperti seorang pemandu wisata. Aku benar-benar senang melihat orangtuaku tersenyum sesekali kepadaku saat kutunjukkan hasil karya anak-anak sekolahku.

Tetapi bukan itu yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah saat mereka tiba di kelasku dan… melihat hasil karyaku.

"Wah, bagus sekali, putriku memang pintar" aku mendengar pujian terlontar dari ibuku ia bertepuk tangan dan tersenyum cerah.

"Kau ini… tidak bisakah kau jujur sedikit?" tiba-tiba terdengar suara ayahku yang bernada meremehkan "Gambaran anak Tk begini kau bilang bagus? Sepertinya kau memang sudah kehilangan bakat menilaimu sebagai editor-in-chief majalah seni, benar-benar mengecewakan"

Aku hanya bisa diam mendengar ucapan ayahku yang menusuk itu. Dan tiba-tiba saja dadaku terasa sakit, lalu sakitnya mulai menjalari tubuhku seiring hilangnya suara gegap-gempita keramaian festival. Saat itu aku merasa dunia seperti menggelap dan menyempit, dan dimensi gelap yang sempit ini hanya berisikan kedua orangtuaku, dan aku.

"Biarkan saja, putri kita sudah berusaha keras, justru kau itu yang seharusnya bisa menghargai sedikit!" suara ibuku mulai meninggi, aku hanya menunduk sambil menutupi kedua telinga, tak ingin rasanya mendengar mereka bertengkar disini

"Menghargai? Kau hanya akan membuatnya besar kepala! Dia butuh kejujuran, bukan lip service!" ayahku balik membentak ibu.

Aku menunduk semakin dalam, bahkan rasanya aku sudah berjongkok saat itu sambil menutupi kedua telingaku. Tapi tetap saja aku bisa mendengarnya, suara teriakan mereka yang saling bersahutan dan saling memaki, juga suara bisikan yang mulai terdengar di belakangku, nampaknya pertengkaran mereka ini mulai menarik perhatian orang-orang diluar sana.

Demi Haumea… aku malu sekali.

"Hentikan!" setengah serak karena sambil terisak-isak, aku menemukan suaraku sendiri keluar dengan lantang "Aku tidak peduli kalian mau bilang apa soal lukisanku, tapi kalian membuatku malu!"

Setelah mengatakan itu aku merasakan diriku berdiri dan berbalik, lalu kemudian aku mendengar langkahku sendiri yang berlari kencang dengan suara yang menggema di sepanjang koridor.


Setelah itu… kedua orangtuaku hampir-hampir tidak pernah pulang ke rumah.

Mereka seperti disibukkan oleh dunia dan kehidupan masing-masing, bahkan sepertinya lupa bahwa ada seorang anak yang selalu pulang ke rumah yang sepi.

Aku merasa dingin. Dan ini kedinginan asing yang tetap membuatku merasa menggigil bahkan dalam teriknya musim panas, atau musim gugur yang berdebu.

Sampai terjadilah hari itu.

Hari itu kedua orangtuaku yang tak pernah pulang tiba-tiba datang dengan senyum secerah matahari di siang hari, dan mereka mengatakan bahwa kami akan berlibur ke sebuah villa di luar kota.

Aku bingung sekali saat itu, tapi sebelum aku benar-benar sadar apa yang terjadi, aku sudah mengangguk.

Ternyata liburan ini memiliki agenda tersendiri.

Rupanya kedua orangtuaku telah bertemu kembali dengan pasangan masa SMA mereka yang kebetulan juga telah menikah. Dan ternyata hubungan kedua pasangan yang tertukar inipun sama-sama tidak harmonis. Sampai mereka bisa terpikir untuk bertemu, bereuni, dan bertukaran pasangan.

Terkejut? Pasti.

Tapi tak kusangka ternyata mereka juga merencanakan untuk menjodohkan aku dengan putra pasangan tertukar mereka, entah karena apa. Lama kurenungkan hal itu sambil berbasa-basi dengan pemuda yang katanya sangat baik itu.

Dia tinggi, lebih tua dariku beberapa tahun, dan memang pandai bicara. Tapi aku tidak bisa merasa nyaman berdekatan dengannya karena tatapan matanya.

Ia menatapku seperti menelanjangiku!

Diantara cerita-ceritanya yang membosankan, aku tertarik pada ceritanya tentang adiknya. Dia menggambarkan adiknya sebagai sosok yang dingin, arogan, dan sulit diajak berkompromi. Dia juga bilang adiknya tidak setuju akan keputusan orangtuanya ini sampai memilih untuk tinggal di asrama universitas.

Asal tahu saja, aku lebih setuju dengan adikmu, bodoh!

Aku tetap menjaga jarak aman antara diriku dan laki-laki ini. Sementara dia terus-menerus mengajakku berjalan sambil berpegangan tangan. Dia juga mengajakku minum di sebuah kedai pinggir pantai yang ramai.

Awalnya aku mau saja, lagipula aku juga haus karena udara pantai ini benar-benar kering, tapi lalu aku memilih kehausan daripada minum vodka.

Hei! Memangnya aku terlihat setolol itu!

Aku tidak mau kenal dengan pria gila itu, dan mungkin adiknya yang sama gilanya. Tidak setelah dia hampir melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, karena mabuk.

Well, mabuk bukan alasan dia boleh berbuat sesukanya pada gadis di bawah umur, sekalipun gadis itu calon istrinya.

Hell no! Setelah yang kemarin itu aku tidak akan pernah menerima pertunangan ini begitu saja!

Lalu hari pernikahan bodoh itu tiba juga.

Kedua pasangan itu tampak berbahagia dengan pasangan baru mereka, dan pria itu terus saja menatapku seperti serigala lapar melihat seekor kelinci yang tersesat.

Aku tidak tahan dengan semua ini, tapi setidaknya aku tidak boleh membuat gempar acara pernikahan ini dengan keluar dari pesta begitu saja.

Dan yah, aku menyesali keputusanku yang merelakan satu-satunya jalan keluar yang ada saat kami tiba di rumah dan pria itu sama sekali tidak membiarkanku bergerak, sedikit saja aku berpindah tempat dia pasti bertanya.

"Mau kemana, my honey?" yang membuatku nyaris muntah ditempat kalau tidak berhasil memberinya tatapan sinis dan tinju maut yang pernah membuat patah hidung seorang preman pasar, sekaligus membuatnya takut dan berbalik menjadi pelindungku.

Tapi saat ini, rumahku sudah bukan lagi rumah yang lama, jadi aku tidak mungkin minta perlindungan pada teman premanku itu. Dan lagi aku berbagi atap dengan kakak-beradik sinting itu.

Well, meskipun seharusnya aku tidak ikut melabeli si adik dengan kata 'sinting' karena aku juga belum mengenalnya.


Dan benar saja, aku telah salah menduga tentang si adik. Benar-benar salah.

Aku tidak pernah melihat kenampakan wajahnya selain lewat foto, karena ternyata sekalipun 'katanya' dia hadir di pernikahan aku tidak sempat berkenalan.

Tetapi hari kelulusannya mengubah semua itu.

Di hari kelulusannya yang berarti dia harus tinggal disini, aku mengenalnya sekaligus mengaguminya. Dia orang yang sangat berbeda dengan kakaknya, dan dia… melindungiku.

Kisahnya bermula ketika si kakak, sekali lagi berusaha menjadikanku miliknya, dan aku jelas menolak. Kami bertengkar hebat dan aku memukulnya sampai jatuh lalu berlari keluar.

Kemudian, pada sore harinya aku ditemukan oleh sesosok laki-laki berbadan tegap yang mengulurkan tangannya padaku sambil tersenyum.

Ragu-ragu kuraih tangan besarnya yang terulur, dan karena rasa terlindungi tiba-tiba terasa dari genggaman itu, aku membiarkan dia menarikku keluar dari semak-semak tempat aku bersembunyi. Dia lalu mengajakku ke sebuah kedai dan menawariku teh hangat dan seporsi kebab.

Melihat makanan kesukaanku terhidang di depan mata, aku pun menelan ludahku sendiri, tak kuasa menahan naga-naga diperutku yang meminta diberi makan mengingat aku belum makan apa-apa sejak pagi karena aku lebih takut ditemukan oleh orang itu daripada mati kelaparan.

Dia membiarkanku makan dan kemudian memesan makanan untuk dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa aman bersama seorang laki-laki asing.

Ketika dia menanyaiku aku menjawab sejujurnya, kukatakan kalau aku takut dan aku tidak ingin pulang ke rumah. Dia tidak mengatakan apa-apa sepanjang ceritaku, tetapi setelahnya dia memintaku untuk menunjukkan dimana rumahku.

Aku menunjukinya, dan sesampainya kami di depan rumah sialan itu, dia berbalik dan menoleh kepadaku. Senyum samar terlihat di wajahnya.

Lalu dengan suara pelan, dia berkata "Kau akan baik-baik saja… jangan khawatir"

Kemudian dia menggenggam tanganku dan menuntunku masuk ke dalam rumah. Aku hampir protes tapi kemudian kuputuskan untuk mengujinya. Jika yang dikatakannya benar maka aku akan percaya padanya, aku berjanji akan selalu mempercayainya. Tetapi kalau dia ternyata kaki-tangan si brengsek itu, aku sudah siap untuk meninjunya juga.

"Oh, ternyata kau dan… hei, kau membawa pengantinku juga" aku mendengar si brengsek itu berkata sambil menyeringai, tapi pemuda didepanku ini tampak tak bergeming, ia malah berdiri tepat di depanku—dengan gestur yang terkesan protektif—dan tangannya menggenggam tanganku erat seperti siap menarikku berlari.

"Oh honey, harusnya kau bisa mengenali anak ini, dia adikku" dia masih berbicara, aku terperanjat, tak kusangka bahwa laki-laki yang menolongku ini adalah si adik yang kukira sama sintingnya dengan kakaknya, dalam hati aku minta maaf dan berjanji akan mengganti traktirannya tadi.

"Kau tahu, Kakak?" suara bariton pemuda itu membuyarkan lamunanku "Kukira aku tak akan pernah mengatakan hal ini, tapi ternyata aku memang harus mengatakannya"

Aku mengernyitkan dahi, apa sih yang dia bicarakan?

"Aku ingin menyampaikan pesan kepada ayah dan ibu" kudengar dia berkata lagi, tapi seperti halnya si kakak yang terdiam dengan wajah bertanya-tanya, aku pun demikian "Dan kau adalah suratnya"

Aku masih diam, tapi si kakak sepertinya akan mengatakan sesuatu

"Maksudmu?" ternyata hanya kalimat bodoh, tapi sebenarnya aku juga ingin menanyakannya, aku penasaran dengan apa yang diinginkan oleh pemuda yang masih menggenggam tanganku ini

"Sampaikan kepada mereka—"

Demi Tuhan! Kenapa dia suka sekali sih mengatakan sesuatu sedikit demi sedikit begini!?

"Terima kasih sudah merawatku seperti anak mereka sendiri selama ini, sungguh. Dan aku minta maaf karena tidak bisa tinggal bersama mereka lagi, juga tolong sampaikan pada mereka bahwa… aku pergi karena aku sudah menemukan apa yang kucari "

"Hah?" si kakak tampak tak mengerti, wajahnya terlihat seperti orang idiot sekarang

"Katakan saja pada mereka apa yang baru kukatakan padamu, mereka akan mengerti. Itu saja" katanya singkat, lalu dia berjalan pergi dan menyeretku bersamanya. Aku tidak tahu hendak kemana pemuda ini tapi aku juga tidak tahu kenapa aku menurut saja dan membiarkan diriku dibawa olehnya

"Hei!" teriak si kakak "Mau kau bawa kemana pengantinku!?"

Pemuda itu menoleh lagi, dan aku bisa melihat ada sorot tajam di dalam kedua bola mata zamrud itu, tampaknya ia tidak menyukai kata-kata yang dilontarkan kakak laki-lakinya barusan

"Pengantinmu? Jangan bercanda" katanya dengan suara yang terdengar seperti suara pembunuh bayaran profesional di film-film action di bioskop yang sedang meremehkan atau mengejek lawan bicaranya

"Dia bukan pengantinmu, bahkan jauh lebih baik dari itu. Gadis ini adalah Goddess of Victory dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, bahkan jika itu kau" dan dengan kalimat itu, dia menarikku sampai keluar pintu, lalu menutupnya tepat di depan wajah kakaknya yang masih berteriak-teriak memanggilnya, dan memanggilku, juga meminta keterangan lebih darinya.

Well, sesuatu yang ingin kulakukan juga namun kuurungkan adalah menanyainya, karena aku berniat mempercayainya. Lagipula kupikir aku bisa menanyainya kapan-kapan mengingat kemungkinan besar dia tidak akan meninggalkanku dalam waktu dekat jika menilik kata-katanya barusan.


"Kita belum berkenalan" aku mendengar suaraku sendiri memecah keheningan diantara kami.

Jujur saja, aku belum memberitahunya namaku, dan belum juga menanyakan namanya sejak pertama kali kami bertemu—kami saling memanggil dengan sebutan 'dia', 'kau', 'orang ini', dan sebagainya—hingga saat ini, ketika kami tengah berada di sebuah restoran kecil entah di kota apa. Yang jelas ini adalah kota ke-empat yang kami singgahi sejak kepergian kami dari rumah sebulan yang lalu.

Dan tadi sebelum berangkat makan, dia bertanya padaku apa aku keberatan tinggal di kota kecil ini. Kujawab saja langsung bahwa aku tidak keberatan, dan setelah itu dia mengatakan kepadaku kalau dia memiliki kenalan di kota ini yang bisa membantuku mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikan, membantunya mendapatkan pekerjaan, dan membantu kami mendapatkan tempat tinggal

"Oh benarkah?" dia menatapku dengan mata yang membulat seperti anak kecil, aku hampir tertawa; tidak, aku sampai tertawa melihatnya.

Aku mengangguk mengiyakan.

"Mm, namaku Cagalli" kataku tanpa mengulurkan tangan, tanganku masih sibuk memegangi kebab berukuran sedang yang tinggal setengah karena habis kumakan.

"Athrun" jawabnya ramah, entah apakah ini hanya perasaanku atau suaranya memang selalu ramah jika berbicara denganku, berbeda sekali dengan saat ia berbicara dengan kakaknya waktu itu, atau saat berbicara dengan orang yang meneleponnya.

"Dan kau sama sekali belum menjelaskan kepadaku apa maksud perkataanmu waktu itu, Kak Athrun" kutagih penjelasannya atas kata demi kata yang membingungkan itu, sambil sedikit menekankan pada kata 'Kak' dengan nada bercanda

"Perkataanku? Yang mana?" mata zamrudnya membulat lagi.

Oh, rasanya aku jadi menyesal tidak membawa kameraku sewaktu kami pergi meninggalkan rumah dulu.

"Yang… 'gadis ini adalah Goddess of Victory' dan seterusnya itu" kataku kemudian, dia tidak langsung menjawab, hanya tersenyum simpul

"Oh itu" dia menghela napas "Kau masih mengingatnya?"

Aku mendengus kepadanya, berupaya terlihat kesal

"Tentu saja, karena aku masih penasaran" aku terus memakan kebabku

"Tapi ceritanya akan panjang" Kak Athrun berkesah pelan

"Kita punya banyak waktu untuk itu"


Kupejamkan kedua mataku sebentar.

Kalau ingat hari itu rasanya aku tak percaya sekarang aku di sini bersama orang yang sama dengan seseorang yang membawaku keluar dari rumah, menyewa apartemen dua kamar untuk tinggal berdua, membiayai sekolahku, dan seringkali meninggalkanku untuk bekerja.

Demi memenuhi kebutuhan hidup kami—dan terutamanya membiayai sekolahku karena dia sudah lulus kuliah, kakak bekerja sebagai arkeolog untuk sebuah institut besar bernama ZAFT.

Dan pekerjaannya itu menututnya untuk selalu berpergian ke seluruh pelosok dunia demi sekeping ilmu pengetahuan. Dia berkata padaku bahwa alasannya melakukan ini adalah agar dia bisa menemukan bukti nyata atas urban legend yang berkaitan dengan kami.

Yup, legenda—yang katanya nyata—dimana aku menjadi Goddess of Victory itu.

Sekali lagi aku merasakan sentakan di tanganku.

Aku terkesiap, tak mampu kutahan gemuruh bahagia yang tiba-tiba menyeruak di dadaku. Tidak juga aku bisa menahan senyum yang mulai mengembang di wajahku.

Perlahan-lahan aku membuka mataku dan melihat di depan mataku kejadian yang membuatku merasa begitu bahagia.

Aku melihat mata zamrud itu terbuka sedikit demi sedikit, dan pandanganku tampak memburam seiringnya. Sepertinya airmata mulai menggenangi mataku, menunggu untuk jatuh.

Suaranya yang mulai terdengar membuatku semakin ingin menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena haru. Ini perasaan yang sulit kugambarkan meski rasa ringan yang menjalari benak dan hatiku benar-benar jelas terasa.

Kugerakkan tanganku yang bergetar karena diriku yang menangis untuk meraih salah satu tangannya yang berada dekat denganku.

Ketika mata itu terbuka sepenuhnya, ia tampak menyadari genggamanku ditangannya sehingga ia menoleh kepadaku. Dan dengan senyum lemah yang terukir tipis di wajahnya, ia berkata kepadaku "Cagalli, aku membuatmu khawatir, ya?"

Suaranya terdengar sedikit terbata-bata, namun aku masih menangkap apa yang dikatakannya.

Kugelengkan kepalaku tanda tak setuju "Tidak… yah, sedikit. Tapi aku senang Kakak sudah kembali"

Dia menjulurkan lengannya yang tidak kupegang, dan berusaha bangkit. Aku membalas dengan mencondongkan tubuhku ke arahnya, membantunya melakukan apapun yang ingin dilakukannya saat ini.

Tangan besar yang hangat itu menyentuh puncak kepalaku sekali lagi, dan saat itulah aku menyadari betapa aku merindukan sentuhan ini. Airmataku terus mengalir tanpa bisa kuhentikan sama sekali, lalu, dengan suara pelan aku mendengar dia berkata "Hm, kau tahu? Aku tidak pernah meninggalkanmu, Cagalli"

.

End


A/N:

Well, it's finally over.

This is it, the final official chapter of Carte de Dragoste.

Anyway, even if this is the end. I'm still thinking of making a sequel or spin-off regarding this story.

But, for your information, it won't be published within a short time, for some reason.

And one of the reason is because I want to continue Protector, also that I'm gonna publish a new fic in this fandom...

So, be patient and stay tuned, ok?

Love,

.

Snow