"Kak Kyuu?" Naruto mengerjap beberapa kali. Masih menatap tidak percaya pada sosok jangkung rupawan yang kini berdiri di depan pintu apartemennya, tersenyum lembut seperti kejadian dua tahun lalu itu tidak pernah terjadi. Tidak ada kebencian dalam sorot matanya, pemuda tampan yang kini digandrungi banyak wanita itu mengulurkan tangannya mengelus surai pirang adik semata wayangnya.

"Apa aku mengganggumu?"

"Sama sekali tidak!" Naruto nyaris menjerit saking senangnya. Bahagia karena setelah menunggu sekian lama, kejadian ini terjadi juga. Di mana Kyuubi mau kembali melihatnya, tersenyum padanya, menyayanginya dan melakukan apa pun untuk kebaikannya.

Yah… Naruto tidak berharap Kyuubi datang untuk menjemputnya. Ia masih sangat merasa bersalah karena penolakannya pada Kyuubi di masa lalu, menuai kebencian mendalam di hati sang Kakak. Naruto tidak pernah marah sekali pun Kyuubi mengusirnya dari rumah, ia menganggap semua kesalahannya. Wajar jika sang Kakak untuk sementara tidak mau bertemu pandang dengannya.

"Selamat ulang tahun…" Kyuubi berucap setelah beberapa detik sempat terdiam. "Boleh aku masuk?"

"Astaga! Naru masih tidak percaya Kakak datang sampai lupa mempersilahkan Kakak masuk." Naruto gelagapan, airmata kebahagiaan menggenang di pelupuk mata. Tubuhnya tampak gemetaran, harapan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa mau menerima kehadirannya menyeruak hebat mengguncang batin. "Terima kasih ucapannya, masuklah Kak Kyuu. Maaf, apartemen Naru kecil dan berantakkan."

Naruto membuka pintunya lebar – lebar, membiarkan Kyuubi memasuki santai apartemen sederhananya yang setiap pagi memang dia bersihkan. Gadis itu menutup pintu, menatap punggung tegap Kyuubi lalu mohon pamit ke dapur untuk menyiapkan minuman.

Naruto merasa hari ini menjadi ulang tahun terbaiknya…

Akhirnya Kyuubi mau kembali bicara padanya…

Dia…

Tidak menyadari selepas kepergiannya, Kyuubi mengukir seringaian jahat kemudian menempelkan ponsel yang sejak tadi digenggam ke telinga kanannya.

"Aku rasa ini tidak sesulit yang kalian perkirakan." Gumamnya pada seseorang yang menjadi lawan bicaranya di seberang telpon.

Disclaimer

Masashi Kishimoto

Pairing

AllXFemNaru

Rated

T

Genre

Romance, Hurt/comfort

Warning

Miss typo, OOC, Bashing chara mungkin, AU, FEMNARU, gaje, dll

Dare of Ria Amelia

"Kita mau ke mana?" Naruto bertanya polos. Ia duduk anteng di mobil Porsche merah sang kakak sambil melirik sekeliling jalan yang dia lewati.

Jujur saja ia tidak pernah melewati jalur ini sebelumnya. Ia tidak tahu sang kakak hendak mengajaknya ke mana? Kyuubi hanya menjelaskan ia sudah menyiapkan kado 'terindah' untuk adiknya, sejak tadi setiap kali Naruto mengajaknya bicara, dia akan tersenyum manis dan menjawabnya ala kadarnya.

Apa Kyuubi sudah kembali menjadi sosok kakaknya yang lembut dan penyayang seperti dulu?

"Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku." Kyuubi menggidikkan bahunya. "Kau tahu Sasuke, Sasori, dan Neji, kan?"

"Di kampus tidak ada yang tidak mengenal mereka." Naruto tersenyum lima jari. Safir bundar itu menyiratkan rasa senang karena sang kakak akan mengenalkannya pada sahabat-sahabat karibnya. Tapi mengingat Sasuke, ia jadi mengingat suatu hal yang lain.

Bukan kah Gaara sudah menegaskan agar ia tidak berdekatan dengan salah satu dari mereka?

Gaara dan Sasuke cs bermusuhan. Mereka tidak pernah bertukar sapa tanpa saling melempar tinju. Memikirkan itu, Naruto jadi gelisah. Kalau sampai Gaara tahu ia mau saja diajak Kyuubi untuk berkenalan dengan Sasuke cs, apa si Sabaku bungsu itu akan marah?

"Ada apa?" Tanya Kyuubi datar. Mengembalikan Naruto yang kebingungan ke alam sadarnya. Ia melirik Naruto sekilas dari kaca spion dalam mobilnya.

"Kak Kyuu… Gaara-" Naruto menggantungkan kalimatnya, ia ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Gaara tidak akrab dengan Sasuke, kan?"

"Mereka bermusuhan." Kyuubi menjawab cuek. Menggidikkan bahu tidak peduli. "Jadi kau tidak mau ikut denganku?"

"Tidak-tidak, bukan begitu." Naruto menampik cepat. Walau bagaimana pun, kedekatannya dengan Kyuubi saat ini tidak bisa ia abaikan. Sudah lama Naruto menantinya, mana mungkin ia bisa menolak ajakkan sang kakak hanya karena persaingan konyol antara Sasuke dan Gaara?

Naruto tidak mau lagi membuat sang kakak kecewa terhadapnya.

"Tapi malam ini aku ada janji makan malam dengan Gaara." Naruto berdalih. Ia melirik arloji yang melingkar di tangan kanannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore. "Bisa kau mengantarku pulang sebelum jam tujuh malam?"

"Baiklah…" Naruto tidak tahu, tapi mendadak ia merasa ragu. Melihat senyuman kosong nan misterius yang Kyuubi ukirkan membuatnya tidak nyaman. Ia mulai meragukan apa keputusannya ikut sang kakak itu tepat?

Apa Kyuubi sudah benar-benar bisa menerima kembali kehadirannya?

Naruto tidak banyak berharap. Ia tidak akan menuntut apa pun pada Kyuubi jika benar yang terbesit dipikirnya itu memang terjadi. Ia hanya ingin memiliki keluarga dan menjaganya semampu yang dia bisa, ia hanya ingin memiliki tempat bersandar, dan masih terikat satu darah dengannya.

Sejak tadi, Naruto terus menatap wajah kakaknya, ini seperti mimpi. Yah, bagi Naruto ini memang seperti mimpi.

Bagaimana bisa sang kakak yang satu hari sebelumnya masih bersikap ketus seolah tidak mengenalnya di kampus tiba-tiba datang ke rumahnya, menjemputnya, bahkan hendak mengenalkan Naruto pada pada sahabat yang dipercayainya.

"Naru sangat menyayangi Kak Kyuu…" lirih Naruto pelan. Gadis blonde itu segera menyeka airmata yang mendadak menetes, mengungkapkan seberapa bahagianya dia karena sudah bisa diterima kembali oleh sang kakak.

"Yah…" Kyuubi tersenyum tanpa makna. "Setelah ini kau pasti akan lebih menyayangiku…"

.

Naysaruchikyuu

.

..

"Kenapa tidak ada orang?" Tanya Naruto kebingungan. Saat ini dirinya sudah berada di villa besar yang terletak di salah satu perbukitan Konoha. Ia mengerjap beberapa kali saat tangannya yang sejak tadi digenggam sang kakak kembali ditarik mengajaknya menaiki tangga memutar di villa itu santai.

Kedua safir bundar itu memperhatikan semua yang ada di sekelilingnya. Masih menerka-nerka siapa gerangan pemilik villa mewah nan luas yang kini sedang disinggahinya? Setiap pegangan tangganya dilapisi emas murni. Tangga yang dipijaknya terbuat dari marmer biru muda, yang bahkan bisa dijadikan Naruto tempat berkaca karena saking mengkilapnya.

Barang-barang mewah nan mahal kelas satu melengkapi setiap sudut ruangan yang dilewatinya, membuat si pirang berdecak kagum karena bangungan setinggi lima belas meter itu benar-benar jauh lebih layak dijadikan kediaman tetap seseorang daripada dijadikan sebatas villa.

Jangan lupakan pemandangan indah yang akan disuguhkan Dewa begitu Naruto memandang keluar dari balik jendela.

"Kak Kyu?" Tanya Naruto bingung. Kyuubi sejak tadi diam saja, mereka kini berada di depan sebuah kamar dua pintu mahoni bercat cokelat. Handle pintu yang terbuat dari emas dua puluh empat karat itu mulai Kyuubi sentuh dengan tangannya, dan dalam satu kali dorongan, pintu itu langsung terbuka sepenuhnya.

"Lebih cepat dari yang kuduga." Kekeh seorang pemuda yang diduga Naruto merupakan Sasori. Yah, suara pemuda berambut merah mencolok itu memang cukup familiar di telinganya, mengingat si tunggal Akasuna merupakan penyanyi terkenal yang mulai digandrungi banyak wanita.

Suara amat merdu itu sedikit mengusik ketenangan si blonde. Ia kian ragu.

Mendongak menatap wajah sang kakak dari samping, Naruto berusaha mempercayai Kyuubi sekali lagi. Tidak akan ada kakak yang menyakiti adiknya sendiri bukan? Sekali pun selama ini Kyuubi terlihat begitu membencinya.

"Masuklah!" Kyuubi menghentakkan tangannya ke depan membuat Naruto terdorong mundur. Ia memasuki kamar mewah dengan nuansa biru tua itu ragu-ragu menatap tiga pemuda tampan yang kini terfokus memperhatikannya.

Sasori sedang duduk di sofa dengan ponsel yang digenggam kedua tangannya, kedua iris cokelat itu menatap si blonde sendu, menelan ludah tanpa sebab saat memperhatikan penampilan Naruto dari ujung kaki sampai kepala.

Neji duduk di kursi belajar, membelakangi mejanya dengan kedua siku yang ditumpu ke belakang. Rambut panjangnya dikuncir tinggi, amethyst itu menatap si blonde dengan pandangan menelanjangi. Pemuda yang dipuja ribuan wanita karena tubuh kekarnya itu terus saja menatap Naruto, membuat si pirang risih mundur selangkah tidak nyaman.

Neji, dua puluh tahun, seorang atlet basket yang sempat bergabung dengan NBA di usianya yang masih remaja. Ia membintangi banyak iklan, wajah rupawan dan nama Hyuuga yang merupakan seorang bangsawan itu mendongkrak pesat popularitasnya mengantarkannya dinobatkan sebagai salah satu pemuda paling sempurna yang berada di Konoha.

Posisi duduk Neji bisa dikatakan berhadapan dengan Sasori, hanya saja, tempat duduk mereka terpisahkan jarak sekitar sepuluh meter dari ujung ke ujung.

Naruto melemparkan matanya ke sisi kanan, matanya langsung bertubruk pandang dengan onyx pekat yang terus menatapnya tanpa ia sadari sejak tadi. Wajah tampan nan tanpa ekspresi itu membuat Naruto bergidik ngeri, nama marga yang disandang sang pemuda tentu menjadikan sosoknya sebagai most wanted di seluruh Konoha.

Uchiha bungsu itu bukan selebritis, tapi jutaan fansnya berada di mana-mana. Hanya karena sesekali ia turut serta dengan sang Ayah menghadiri rapat perusahaan, lalu karena tuntutannya sebagai seorang Uchiha, seringkali muncul di layar kaca dengan rentetan berita yang mengagung-agungkannya.

Seluruh masyarakat Jepang tidak mungkin tidak mengenal sosok rupawannya, pembawaannya yang tenang seolah menutupi segala tabiat buruknya.

Tidak ada yang sempurna. Tapi kekuasaan yang dimilikinya menjadikannya selalu benar dalam apa pun yang dilakukannya. Tidak akan ada yang berani menjelek-jelekkan namanya –kecuali Gaara- di depan wajahnya, semua hal buruk yang si bungsu Uchiha lakukan menjadi benar di mata para pengagum setianya.

Dia Sasuke… Uchiha Sasuke…

Seseorang yang akan melakukan segala cara untuk menjatuhkan musuh bebuyutannya sepanjang masa… Sabaku Gaara.

"Kak Kyuu…" Naruto berbalik, sebelum akhirnya dia diseret mundur dan didorong Kyuubi sekuat tenaga. Membuat gadis itu terjengkang dan menubruk telak dada bidang seseorang. Naruto gelisah, ia berusaha bangkit berdiri tapi kedua lengannya mendadak dicengkeram seseorang, hembusan napas hangat beraroma mint menusuk penciumannya, menggelitik tengkuk si pirang.

"Ternyata kau memang cantik." Baritone itu melantunkan pujian dengan merdunya, ia masih duduk tenang di atas kasur, dengan Naruto yang mendudukki pangkuannya, bibirnya mengukir senyuman jahat, sebelum akhirnya mendarat di bahu si pirang membuat Naruto berontak tidak terima atas perlakuan kurang ajarnya.

"Lepas!" Naruto semakin ketakutan, apalagi saat merasakan salah satu tangan kekar itu mulai memeluk pinggangnya erat, menyusupkan telapak tangan kasur berkulit alabaster itu memasuki kaos orange yang sedang dikenakannya, tangan itu mengelusi perut Naruto, membuat tubuh gadis itu semakin gemetar paranoid.

"Kak Kyuu!"

Kyuubi menulikan telinganya, ia justru tampak asyik merokok di samping Sasori yang beranjak berdiri dengan ponsel di tangan kanannya, menghampiri Sasuke yang mulai beraksi, melemparkan Naruto ke kasurnya lalu dalam satu detik menindih si blonde dalam kungkungannya.

"KAK KYUU! KAK KYUU!" Naruto menjerit histeris, saat bibir pucat pemuda raven di depannya mulai mengecupi pipinya perlahan, menekan kedua bahu Naruto kuat-kuat membuat si blonde sama sekali tidak bisa melawan.

"KAK KYUU!"

Hancur! Hati Naruto benar-benar hancur. Sama sekali tidak tahu letak kesalahannya ada di mana? Kenapa kakaknya sejak tadi diam dan seolah tidak peduli dirinya yang hampir diperkosa sahabatnya sendiri? Airmatanya mengalir deras, bibir mungilnya yang sejak tadi berteriak memanggil nama sang kakak mengharapkan sedikit saja belas kasih, pada akhirnya hanya bisa menjerit tertahan saat Sasuke dengan beringasnya membungkamnya dengan ciuman panas.

Dosa apa yang dilakukannya?

Tercabik, sama seperti pakaiannya yang mulai dikoyak paksa, Naruto tahu dirinya tidak memiliki harapan sama sekali. Gadis itu hanya bisa memberontak sia-sia, berusaha menahan dan mendorong Sasuke yang tertutupi kabut napsu terus menggerayanginya. Percuma… ia tahu itu percuma.

Kenapa kau sejahat ini?

Sementara bibirnya dibungkam paksa, tangan kanannya yang bebas terjulur berusaha menggapai Kyuubi yang jaraknya sekitar lima meter dari sisi kanannya, safir terang itu kian meredup saat sang kakak sama sekali tidak memberikan pertolongan. Namun dirinya masih berharap, walau bagaimana pun Kyuubi kakaknya… Kyuubi tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya.

Iya, kan?

Mata itu mulai tertutup, ia menjerit pilu menahan rasa sakit yang bukan hanya mendera fisiknya, tetapi juga batinnya. Bagaimana dirinya yang berusaha menjunjung tinggi kesuciannya kini mendapatkan penghinaan yang tidak akan pernah terlupakan.

Bagaimana setiap sentuhan di tubuhnya seolah berubah menjadi cambukkan, yang terus menghantamnya tapi sama sekali tidak bisa membunuhnya.

Harusnya aku tidak percaya…

Naruto menangis terisak, sudah tidak bisa berbuat banyak saat satu-satunya anggota keluarga yang tersisa pun tidak memedulikannya, tidak memasang wajah kesal sedikit pun, melihat adik semata wayangnya diperkosa di depan matanya sendiri.

'Gaara…' Naruto tahu dia sudah berada diambang batas, ia mulai kehilangan kesabarannya. 'Gomenne…'

.

Naysaruchikyuu

.

..

"Sabaku-sama!" sapa Sasori sebelum akhirnya tertawa. Tampak tidak peduli walau pun lewat video call yang mereka lakukan, Gaara sudah memasang wajah muak juga kesal. Pemuda Sabaku itu sedang kalang kabut, sejak tadi sore kekasihnya menghilang tanpa kabar, firasat buruk menggelitik relung hatinya, ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada si pirang.

"Katakan, sebelum aku mematikannya."

"Wow-wow-wow, santai Sabaku-sama. Aku hanya ingin memberi kabar tentang kekasihmu yang cantik itu. Bukan kah sejak tadi dia menghilang?" Sasori terus saja berbasa-basi. Tidak terusik sekali pun iris zamrud sang lawan bicara mulai menatap nyalang ke arahnya, tahu di balik hilangnya Naruto ada Sasuke cs sebagai dalangnya. Rahang Gaara mengadu ketat, ia menggeram.

"Di mana dia?"

"Kau benar-benar ingin tahu?" Sasori menyeringai menyebalkan. Ia mulai mendorong pintu yang ada di belakangnya kemudian mengarahkan kameranya ke arah kasur, membuat Gaara menahan napas sejenak, sebelum akhirnya berteriak murka saat melihat pemandangan mengerikan yang sama sekali tidak pernah terbesit di pikirannya.

Kekasihnya sendiri, sedang dicumbui orang paling brengsek dan akan dibencinya sampai mati.

"KALIAN BENAR-BENAR BAJINGAN!" teriak Gaara murka. Wajah putihnya memerah karena emosi yang menguasai akal sehatnya. "KALIAN BENAR-BENAR KEJAM!"

"Terima kasih untuk pujiannya." Sasori tertawa. Kamera itu mulai kembali terarah ke wajah tampannya. "Kau tidak pernah menyentuhnya? Sayang sekali, kami semua mendahuluimu."

Sasori menulikan telinganya, tidak memedulikan semua kalimat makian yang Gaara lontarkan kepadanya dan yang lainnya.

"Bukan kah kau senang bekas?" Sasori tersenyum mencemooh, di kamera Gaara tampak menatapnya bengis dengan napas memburu. "Tenang saja, setelah puas kami akan membuangnya kembali kepadamu.

Jaa, Gaara!"

Dan video call itu pun berakhir.

Naysaruchikyuu

Gak bales review dulu, ya… buru-buru banget nulisnya, pulsa modem mepet. Males keluar belinya. Hehe

Nay gak baca ulang, maaf kalo typo bertebaran. Betewe, walopun bulan puasa Nay gak hiatus. Kan punya banyak fic rated-T. jadi amaaaan. Hahahaha

Di sini Nay tau Nay kejam sama Naru. Tapi Nay mau Naru pegang prinsip berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian, diperkosa para cowok keren dahulu, dikejar mereka semua kemudian. Hahahaha

Sebenernya ide fic ini tadinya mau dibikin YAOI juga #doeng. Tapi karena kesannya kalo Naru sebagai cowok terlalu lembek and polos, kayaknya lebih cocok juga jadi femnya.

Dan Spanyol kalah lagi sodara-sodara #Hueeee

Oke, RnR Minna…

Trims