Yo! Sthricynix here!


BROTHER PART 2 START!


Aku tidak bisa kembali. Ini sudah mengikatku. Memisahkan menjadi dua wujud. Memunculkan sesuatu yang perlahan menguasaiku.

Dia adalah aku, dan aku adalah dia. Kami yang berdiri di atas segalanya, kini telah meninggalkan semuanya. Keempat mata suci itu tidak berarti di hadapannya. Kekuatan agung itu bahkan tak dapat menggores kulitnya.

Kami yang sempurna. Akan kembali bertemu dengan purnama dan surya. Dan aku, akan berada di antara mereka. Sampai tiba saatnya kami semua akan menjadi satu. Kembali ke semula. Menghentikan semua kegilaan dunia.

Ini pesan terakhirku padamu.

Maafkan aku, Poseidon.

Ryuuguu Oukoku – Joy Boy.


Brother

I don't own Naruto and One Piece. There is no financial gain made from this nor will any be sought. This is for entertainment purposes only.

Χ―

Mungkin Bagi Beberapa Dari Kalian, Fic Ini Jelek, Penuh Dengan Typo, Alur Kecepetan, Gaje, Humor Yang Terkesan Garing, Atau Yang Lainnya. Tapi Ingat, Author Sendiri Merupakan Seorang Newbie Yang Hendak Menuangkan Imajinasinya Di Situs Ini. Tolong Hargai Dengan Mengklik Tombol Review Dan Berikan Komentar Kalian! ^^

Χ―


Chapter 21 : After 2 Years.


Kurama, Kapal Utama Bajak Laut Namikaze, Dunia Baru―

PRANG!

"Oy, itu punyaku brengsek!"
"Apa kau bilang? Sudah jelas kan, Bay-chan yang memberikannya padaku!"

Kedua pria itu bertengkar satu sama lain. Entah sudah berapa botol bir yang mereka pecahkan ke kepala masing-masing. Dan melihat kalau tak ada satu luka pun di kepala mereka, sudah bisa dijadikan bukti kalau mereka bukan manusia biasa.

"Ah, ayolah. Naruto, Haruta! Kalian bisa memintanya lagi, bukan?" Vista berusaha melerai mereka.

"Diam!" "Diam!"

Kedua bocah bodoh yang tengah bertengkar itu, entah kenapa bisa kompak melemparkan botol ke kepala Vista. Dan, dengan sukses membuat pendekar pedang berbadan tegap itu, jatuh pingsan.

GREKKK!

"Aku mas-" Suiinngg! Prangg! "-Hih!"

Marco yang baru masuk ke ruang makan langsung bergeser cepat. Membiarkan sebuah botol melewati depan wajahnya kemudian pecah mengenai dinding. Terima kasihlah kepada refleks yang sudah ia latih bertahun-tahun. Dan dia seketika saja menatap Naruto dan Haruta dengan muka kesalnya. "Bertengkar lagi? Apa lagi sekarang?" Marco bertanya pada Izo yang masih sibuk membersihkan pistolnya. Sungguh ajaib dia tak terganggu dengan kerusuhan ini.

"Hm? Bay baru selesai masak. Mereka berdebat, siapa yang diberikan piring pertama olehnya." Jelas Izo.

Dan, Marco hanya menghela nafas.

"Sudah pasti aku yang diberikan pertama! Aku kaptennya tahu?!"
"Terus, apa hubungannya kalau kau kapten, hah?! Aku ini kekasihnya tahu! Sudah jelaskan kalau itu piring pertama untukku?!"

"Oy, tenanglah...," Namur menunjuk ke samping Naruto dan Haruta. "Blamenco sudah menghabiskannya 'tuh." Ucapnya santai.

Sringg!

Mata Naruto dan Haruta langsung bergerak ke arah Blamenco. Dimana piring mereka, sudah putih kembali seperti sedia kala. Dengan Blamenco yang masih mengunyah makanan terakhir.

"MARTIL SIALAN!"

BUAKHHH!

Χ―

Lima belas menit berlalu. Kini semua sudah duduk di tempat mereka masing-masing. Oh, jangan lupakan Naruto, Haruta dan Blamenco yang kini diam gemetar, plus benjolan besar di kepala mereka. Karena hampir menggunakan kemampuan penuh mereka, Bay kemudian menghajar mereka bertiga.

"Baiklah, karena semua sudah disini, mari kita makan!" Bay menepuk kedua tangannya yang berlumuran darah. Untuk orang yang belum mengenal Bay, dan apa yang baru saja dia lakukan, pasti mengira wanita berambut putih kebiruan itu habis melakukan pembantaian bengis.

Suasana sudah menjadi tenang. Acara makan pun berjalan dengan lancar. Tidak ada lagi yang berani membuat kekacauan setelah Bay mengamuk dan menghajar tiga orang tadi.

"Jadi, bagaimana tangan kananmu?" Marco bertanya setelah mengunyah sepotong daging besar. "Bocah Shi no Gekai itu bilang kalau butuh waktu 2 tahun untuk pembiasaan bukan?"

Naruto tersenyum. Dia melihat ke arah tangan kanannya yang sudah dibalut perban. "Yah, kurasa aku tidak perlu khawatir lagi tentang itu." Ucapnya.

"Tapi, kau benar-benar gila, ya!" Vista berbicara pada kaptennya itu. "Kau menghancurkan lengan kananmu. Dan memotong lengan kirimu. Aku tidak terlalu khawatir karena lengan kirimu masih bisa disambung oleh Trafalgar. Tapi, lengan kananmu? Untung saja kemampuanmu itu praktis."

Celotehan Vista membuat semua orang yang berada di ruangan itu tertawa.

"Tapi, tak terasa. Dua tahun sudah berlalu." Celetuk Naruto tiba-tiba.

Semuanya tersenyum mendengar Naruto. Yah, sudah dua tahun semenjak Ace dan Bapak meninggalkan mereka. Dan sudah dua tahun juga Namikaze Kaizoku-dan mengarungi lautan. Dan, dengan nilai buronan masing-masing anggota, terutama sang kapten yang sangat luar biasa, kini mereka secara resmi diakui dunia sebagai Yonkou.

Dua tahun lalu, di Amazon Lily, Law dengan kemampuannya berhasil menyambungkan lengan kiri Naruto. Yah, secara teknis sih, tangan kiri Naruto tidak hancur. Dan, untuk tangan kanannya, Naruto -dibantu dengan kekuatan dan kemampuan Law- berhasil menciptakan tangan prostetik buatan dari kemampuan Moku Moku miliknya. Namun, hasilnya Naruto memiliki tangan kanan yang berwarna sedikit berbeda. Dan dia memilih untuk menutupinya dengan perban yang sampai sekarang membalut tangan kanannya.

"Poster buronanku akhirnya keluar." Naruto berkomentar kemudian. "Tapi, apa-apaan epitet yang mereka berikan padaku? Moku-ou? Mereka membuatku terdengar seperti tukang kapal." Ucap Naruto berkeringat jatuh pada akhirnya.

Pengecualian untuk para Yonkou, pemerintah biasanya akan melakukan rapat besar-besaran dengan para angkatan laut untuk nilai buronan mereka. Karena tentu saja, harga buronan seorang Yonkou bukanlah main-main dan sangat berpengaruh pada anggaran pemerintah dunia. Bayangkan saja, harga kepala seorang Yonkou bahkan bisa digunakan untuk membeli beberapa negara! Maka dari itu, poster buronan Naruto baru keluar tadi siang, walaupun sudah dua tahun lebih setelah dia menampakkan diri ke dunia.

"Ppfft...! Moku-ou no Naruto... Bahahahahakk! Apa-apaan itu?!" Atmos memberikan komentarnya saat dia melihat poster buronan Naruto. "Foto dan harga buronanmu sih oke! Tapi, julukannya... Bahahahahakk!" Dia tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

"Wahai Moku-ou... Kira-kira, kayu macam apa yang harus aku gunakan untuk meja makanku...?" Curiel memasang pose seperti orang berdoa di depan Naruto. "Berikan pencerahanmu, wahai Moku-ou yang agung!"

"Berisik! Brengsek! Berhenti mengejekku!" Dengan muka merah menahan malu, Naruto mulai menghajar mereka semua.

Dan dimulai lagi, keributan gila yang menjadi keseharian bajak laut Namikaze.

Χ―

Lautan Dunia Baru―

Dua hari telah berlalu semenjak keluarnya poster buronan Naruto di seluruh dunia. Dan sang Yonkou, memutuskan untuk meninggalkan kapal mereka dan bertualang sendiri di dunia baru. Masalah komando, dia serahkan saja pada Marco.

Menurut berita terbaru, akhirnya adiknya menampakkan diri ke dunia. Dan yang terakhir Naruto dengar, mereka sudah bergerak meninggalkan Dressrosa. Yah, tentu saja Luffy selalu membuat kerusuhan di mana pun dia berada. Mengingat tingkah Luffy yang menghajar dan menjungkirbalikkan tirani Doflamingo di kerajaan itu, serta tantangannya terhadap Kaidou, membuat Naruto tertawa keras.

"Lima ratus juta ya? Bwahahahaha!" Naruto tertawa keras melihat poster buronan terbaru Luffy. Tidak jauh berbeda dengan poster buronannya yang lama. Luffy masih saja memasang muka cerianya. Dan, tentu saja. Itu membuat Naruto bahagia.

Purupurupuru~

Naruto sedikit tersentak saat sebuah Denden Mushi di kantong celananya berbunyi. Dia langsung mengambil keong dengan cangkang oranye itu lalu mengangkat teleponnya. "Moshi Moshi!"

Denden Mushi tadi langsung menampilkan ekspresi ceria. "Naruto-sama, misi sukses!" Orang dibalik Denden Mushi itu berteriak gembira.

"Ah! Terima kasih banyak." Ucap Naruto. "Jadi, dimana itu sekarang?" Tanyanya.

"Sabo-dai senpai memintanya. Jadi, saya memberikannya. Dia bilang, dia yang akan menyimpannya." Jawab orang itu.

"Oh, begitu ya! Baiklah. Arigatou-na, Bartolomeo!" Naruto tersenyum.

"Osu! Terima kasih kembali, Naruto-sama!" Bartolomeo juga tersenyum sebelum akhirnya ia menutup Denden Mushinya.

Setelah itu, Naruto kembali mengantongi teleponnya. Dan kemudian menyenderkan tubuhnya di kursi. Tentu saja dia senang. Yah, dia cukup yakin Bartolomeo bisa mendapatkannya. Secara, Sabo juga turun tangan membantunya.

Pria itu cukup terkejut saat Bartolomeo tiba-tiba meneleponnya dari Dressrosa. Berkata kalau kakak Luffy-san ikut Battle Royale. Namun, dia segera menyadarinya. Tampaknya, Sabo masih ingat tentang janji mereka saat Naruto berkunjung ke Baltigo.

Tentang Bartolomeo, Naruto tersenyum saat dia mengingat pertemuan pertamanya dengan Barto Club, dan saat Naruto memberikan misinya.

.

.

Pulau Canon, Dunia Baru. 1 bulan lalu.

Naruto dan para anggota bajak lautnya sedang beristirahat sejenak di pulau Canon. Ya, beberapa hari ini mereka terus-terusan di kejar-kejar oleh angkatan laut. Dan, Naruto, memutuskan untuk mengambil istirahat sejenak.

Di malam harinya, saat semua anggotanya tertidur, Naruto memutuskan untuk berjalan-jalan di pelabuhan. Dan, tiba-tiba saja matanya menangkap sesuatu yang sangat menarik. Sebuah kapal berukuran besar sedang merapat ke pelabuhan. Namun yang menarik perhatian Naruto bukan kapal itu. Tapi, hiasan di depannya.

"L-Luffy?!" Teriak Naruto menyadari keanehan di kapal itu.

Yah, patung Luffy berukuran besar dijadikan hiasan di haluan kapal. Tapi apa maksudnya? Naruto memilih untuk melawan rasa penasarannya dan segera melompat ke kapal itu.

"Baiklah teman-teman, kita akan mendarat di pulau itu!" Sang kapten kapal memberikan komando kepada anak buahnya.

"Ou-Eh?!" Mereka yang hendak berteriak semangat menjawab perintah sang kapten tiba-tiba saja melongo bingung. Tatapan mereka tertuju kepada satu arah.

"ADA ORANG ASINGG!" Mereka semua berteriak kompak sambil menunjuk Naruto.

"GYAA! APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!" Beberapa dari mereka berlari-lari tanpa arah.
"Nenek! Panggil Nenek sekarang!" Dan beberapa orang tampak sibuk mengerumuni seekor Denden Mushi.
"Dimana buku '
Cara Menghadapi Penyusup di Kapal'yang kemarin dibaca Gambia hah?!" Seorang pria tampak berteriak.
"Itu bukan buku '
Cara Menghadapi Penyusup di Kapal', aku membaca buku porno semalam! Sampulnya aja yang sama!" Orang yang sepertinya bernama Gambia menjawab rekannya tadi.
"Ah! Buku itu sudah hilang! Bagaimana ini?!" Dan, sepertinya kepanikan mereka dari 'menghadapi penyusup' berganti menjadi 'mencari buku'.

"TELEPON NENEK!"

"A-ano..." Naruto, tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa menghadapi orang-orang itu.

"DIAM SAMPAI KAMI MENGAMBIL KEPUTUSAN!" Naruto yang hendak berbicara, seketika itu saja bungkam saat seorang dari mereka menunjuk tepat ke arahnya.

Dan Naruto, hanya berkeringat jatuh.

.

.

"Baiklah, tenanglah teman-teman..." Akhirnya sang kapten berbicara. Walaupun jelas sekali, dia yang paling tidak tenang tadi. "Kurasa, kita harus mengajaknya bicara." Jelas sang kapten.

"Oh! Kau benar-benar hebat Bos! Mengambil keputusan tanpa bantuan Nenek!"

Bartolomeo berjalan dengan gugup ke depan Naruto. "Si-siapa kau! Apa tujuanmu menyusup!?" Dia bertanya dengan kasar dan nada bergetar.

"Oh! Langsung menanyakan ke intinya?! Begitu ya?! Luar biasa!" Para anak buahnya, entah untuk tujuan apa, mencatat setiap detail perbuatan Bartolomeo.

"Yah, aku juga tidak yakin mau bilang apa, tapi...," Naruto melihat keseliling, "sepertinya aku cukup tertarik dengan model kapalmu." Ucapnya.

"Eh?" Perkataan Naruto membuat semua anggota Barto Club memiringkan kepala bingung. Sebuah tanda tanya besar berkedip di atas kepala mereka. ?

"Jangan bergurau brengsek!" Bartolomeo diikuti gengnya memasang wajah bengis nan kocak mereka. Ditambah dengan berbagai macam senjata yang mereka pegang, berharap bisa mengintimidasi sang penyusup. "Kau pikir kami akan memberitahumu begitu saja?!" Bartolomeo berucap dengan nada Yankee-nya.

"Eh, tunggu sebentar!" Salah seorang dari para geng itu maju kedepan. Kemudian berbicara pada Bartolomeo. "Bos, lihat ini!" Dia menunjukkan sebuah potongan koran. "Aku sangat yakin, dia itu Namikaze D. Naruto!" Teriaknya keras.

"HAAHHH?!"

"I-I-I-I-I-Itu berarti..." Semua orang yang tadi melihat potongan koran itu, dengan patah-patah, menoleh ke arah Naruto.

"DIA KAKAKNYA LUFFY-SENPAI, NAMIKAZE NARUTO-SAMA!"

BRUAKKHHH!

Mereka semua berteriak sembari melompat mundur dengan cepat. Menghantam keras dinding ruangan kapal di belakang mereka.

.

.

"BWAHAHAHAHA! Begitu ya? Maaf-maaf kalau aku sudah merepotkan kapalmu!" Naruto menepuk-nepuk bahu Bartolomeo.

"Ah, tidak, Naruto-sama. Kami yang seharusnya meminta maaf karena sudah memperlakukan Anda dengan kasar." Ucap Bartolomeo canggung, diikuti semua anggotanya yang memasang posisi dogeza di hadapan Naruto. "Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya!" Teriak mereka serempak sambil bersujud.

"Ah sudahlah, aku juga tak memikirkannya!" Naruto menggoyangkan tangannya sambil tersenyum.

Semuanya memandang Naruto dengan berbinar-binar. Mereka sungguh bahagia saat Naruto bersikap baik pada mereka. 'Sungguh indah! Kurasa, aku bisa mati dengan tenang!' Mereka membatin kompak.

"Ngomong-ngomong soal itu, Bartolomeo." Naruto menatap Bartolomeo serius. "Aku punya permintaan untukmu."

Bartolomeo mengangguk mantap.

Naruto kemudian menyodorkan sebuah kertas selebaran pada pria berambut hijau itu. "Ini adalah sebuah kompetisi Battle Royale di Dressrosa. Aku ingin kau memenangkan hadiah utamanya untukku!" Jelas Naruto.

"Hadiah utama?" Mereka semua menggumam bingung. Namun saat mereka melihat apa hadiah utamanya, semuanya membelalakkan mata sampai keluar dari rongganya. "EEHHH! MERA MERA NO MI!?"

"Ta-tapi, misi sepenting ini...," Salah seorang anak buahnya berucap. "Bos, kau yakin?!"

Glek! Bartolomeo hanya bisa menelan ludah. Misi sepenting ini? Mendapatkan kembali buah peninggalan Ace-sama yang hilang? Sebuah harta karun bagi Luffy-senpai dan Naruto-sama? Mana mungkin Bartolomeo menolaknya! Tapi kenapa? Kenapa tangannya bergetar hebat? Kenapa keringat bercucuran deras di tubuhnya?

"Kau bisa?"

Perkataan pelan Naruto, menyadarkan Bartolomeo dari lamunannya. Membuat pria itu memilih membiarkan refleks yang bekerja. Dia langsung berdiri tegak dan kemudian memasang posisi hormat.

"SIAP LAKSANAKAN, PAK!" Dia berteriak lantang.
"SIAP LAKSANAKAN!" Dan para anak buahnya juga mengikutinya.

Naruto tersenyum dengan cengiran. "Baiklah, kurasa aku bisa mengandalkan kalian." Bartolomeo dan rekan-rekannya mengangguk pasti menjawab Naruto. "Ah, ngomong-ngomong. Aku dari tadi penasaran, patung yang di depan haluanmu..."

.

.

.

"Pertemuan bodoh, yang menyenangkan..." Gumam Naruto sambil menatap lautan lepas.

Dia kemudian berjalan ke pinggir. Kemudian memegang pagar dek mini Kurama sambil memandangi awan-awan putih yang bertebaran di langit. "Dan sekarang, apa yang harus kulakukan?"

Χ―

Markas Pusat Angkatan Laut, Kantor G-1, Dunia Baru. ―

"Dia mengulah lagi? Kurasa kita harus mengkaji lagi gelar Sichibukai yang ia miliki!" Seorang petinggi angkatan laut menghantamkan tangannya ke tanah bersamaan dengan sebuah koran. "Ini sudah kota ke tiga puluh dua yang dia hancurkan! Pikirkan apa pendapat masyarakat apabila melihat seorang Sichibukai yang rusuh sepertinya!"

"Gensui, bagaimana menurutmu?"

Saat sebuah pertanyaan diajukan padanya, sang pemimpin tertinggi angkatan laut menatap datar. "Tidak usah perduli terhadap hal sepele. Dia juga melakukan hal yang kusuka!" Pria yang pernah dijuluki 'anjing merah' itu menyeringai. "Dia hanya membasmi bajak laut bukan?"

Memang benar, sang Sichibukai yang dimaksud para angkatan laut adalah seorang Sichibukai baru. Edward Weevil. Seorang pria yang sebelumnya memiliki nilai buronan, 480.000.000 beli. Dia mengaku dan memproklamirkan dirinya sebagai putra dari Shirohige.

Dan, anehnya, kekuatannya tidak main-main. Terbukti dia sudah mengalahkan 15 bajak laut aliansi Shirohige. Incaran finalnya? Tentu saja, Naruto dan kawan-kawan. Bajak laut Namikaze adalah sesuatu yang harus dia lewati agar dunia benar-benar mengakui posisinya sebagai putra Shirohige.

"Jangan pikirkan dia~." Kizaru akhirnya berkomentar dari jauh. Dan dengan nada malasnya, dia melanjutkan. "Bukankah, ada sesuatu yang lebih mengancam dari dia~?"

Ucapan santai Kizaru menyadarkan mereka.

"Benar, Kizaru-san. Beberapa hari yang lalu, berita Doflamingo yang dikalahkan Mugiwara dan Shi no Gekai sudah menyebar luas ke seluruh dunia. Begitu pula dengan Fujitora-san yang- hmpphh!" Seorang Chujou yang berbicara -Ronse-, terhenti akibat mulut yang dibekap paksa oleh Brannew.

Sebelum Ronse meronta semakin keras, Brannew memberi isyarat kepada rekannya itu untuk melihat ke arah sang Laksamana Armada. Dan saat pria besar itu melihat Sakazuki, keringat langsung membasahi tubuhnya, melihat tangan sang Gensui yang sudah diselimuti lahar panas.

Astaga, dia melupakan konflik yang cukup hebat antara Fujitora dengan Sakazuki. Bagaimana sang Admiral Ungu menundukkan kepala kepada raja Dressrosa dan berterima kasih kepada para bajak laut. Hal ini dianggap memalukan oleh Sakazuki. Dan permasalahan ini berakhir saat Fujitora dan Sakazuki beradu mulut sampai dia memutuskan bahwa Fujitora tak boleh mendarat di pangkalan Angkatan Laut mana pun sampai dia menangkap Luffy dan Law.

"Ah! Dari informasi yang kita dapat juga, sepertinya Ao- tidak, Kuzan memberikan bantuan kepada bajak laut Kurohige." Salah seorang angkatan laut -Doberman- tiba-tiba berkicau.

Brannew hanya bisa memijat dahi. Melihat kobaran lahar di tangan Sakazuki yang semakin membara. Oh, apakah tidak ada satupun dari orang-orang bodoh ini mengerti situasi hati sang Laksamana Armada?

"Ngomong-ngomong soal Kurohige, sepertinya kita harus mewaspadainya." Momonga yang merupakan pimpinan dari cabang G-1 berkomentar. "Beberapa bajak laut sudah mulai menyandingkannya dengan para Yonkou dan menjulukinya Mukan no Goshou (Raja tak bermahkota)."

Onigumo yang berada di seberang memberikan komentarnya. "Mengingat level kekuatannya yang berasal dari tiga buah iblis, kurasa itu wajar. Bahkan, Vegapunk masih menyelidikinya. Sampai saat ini, dia masih menganggap itu anomali."

Yup, eksistensi Kurohige di dunia baru semakin mencuat di kalangan para bajak laut. Dengan tiga kekuatan buah iblisnya, Kurohige menjelma menjadi momok yang menakutkan bagi para bajak laut. Apalagi, desas-desus terdengar, Kurohige dan kawan-kawannya mulai melakukan perburuan para pemakan Buah Iblis (Noryoku-sha gari).

"Generasi terburuk, Yonkou, dan sekarang, Mukan no Goshou? Sepertinya kita benar-benar berada dalam masalah yang serius. Bukan begitu, Gensui-san?" Seorang Chujou dengan dandanan seperti anjing melirik ke arah Sakazuki.

"Bagaimana dengan Germa? Pergerakan mereka belakang ini patut dicurigai!" Giliran Comil yang memberikan pendapatnya.

Germa 66. Sebuah kerajaan nomaden dari North Blue. Secara menakjubkan pernah menguasai semua lautan utara di masa lalu. Sekarang, Germa menjalin hubungan politik yang cukup besar dengan pemerintah dunia. Namun, tentu saja hubungan Germa dengan para bajak laut cukup mencurigakan.

"Vinsmoke, ya? Kurasa tidak baik mencurigai mereka, setidaknya untuk saat ini." Seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu tiba-tiba berbicara. Dan semua orang yang melihatnya membelalakkan mata.

"R-Ryokugyu-san?!"

Laksamana Ryokugyu, mengambil posisi duduk di samping Kizaru, kemudian melanjutkan ucapannya. "Bagaimana dengan Dragon? Kurasa, dia yang harus paling diwaspadai. Dialah yang paling berbahaya dari semua orang itu, bukan?" Dia berbicara dengan nada tajam.

"Generasi Terburuk, Germa, Yonkou, Kurohige. Mereka semua adalah ancaman. Namun, kita belum bisa menghancurkan mereka. Tidak untuk saat ini." Sakazuki kemudian angkat bicara, dia menyambung. "Dan seperti yang dikatakannya, Dragon adalah ancaman terburuk. Dan semua angkatan laut, terus awasi gerak-gerik mereka semua." Dia memberi perintah yang dibalas anggukan pasti dari semua orang di ruangan itu.

"Dan terakhir," Sang pemimpin tertinggi angkatan laut itu mengambil dua buah poster buronan, dan kemudian membakar keduanya dengan laharnya. "'Shi no Gekai' Trafalgar Law, dan 'Ten Yasha' Donquixote Doflamingo. Status Sichibukai mereka resmi dicabut!"

Doflamingo dan Law yang keluar dari Sichibukai. Sebenarnya hal ini cukup beresiko bagi Sakazuki. Namun, tetap saja dia harus melakukannya. Apabila Fujitora tidak melakukan keegoisan dan idealisme bodohnya di Dressrosa, mungkin dia bisa menahan gejolak kegilaan ini lebih lama lagi. Namun, sudah tidak bisa ditutupi. Dan seluruh dunia sudah mengetahuinya.

Sakazuki benci mengakui ini. Tapi, keseimbangan angkatan laut, sedang 'goyang'.

"Posisi kosong Sichibukai, ya?" Ryokugyu menatap Sakazuki. "Aku punya kandidat yang cukup menarik!"

Χ―

Desa Mink, Zou, Dunia Baru. ―

Robin duduk di kamarnya. Harus dia akui, iklim di Zou sangatlah sejuk. Dengan fondasi rumah-rumah dengan atap yang unik, ditambah lagi, sejarah luar biasa yang diceritakan dua master Mink di pulau ini, tentu saja dia sangat tertarik.

Dari penjelasan Inuarashi dan Nekomamushi, berarti Poneglyph yang tadinya menjadi agenda pribadi Robin. Kini menjadi tujuan dari semua anggota Mugiwara. Tapi, mereka juga menyadari satu hal. Betapa besarnya hal yang akan mereka hadapi. Robin yakin, semua memikirkan hal itu. Kecuali Luffy dan Zoro tentu saja.

Sebuah keuntungan bagi kru Topi Jerami, karena memiliki Robin. Jadi mereka bisa menafsirkan Pone-Pone itu dengan mudah. Tapi, tetap saja, dimana ada keuntungan disitu ada ancaman bukan?

Posisi Robin kali ini sangat berbahaya. Ya, Robin baru tahu kalau orang-orang sepertinya merupakan salah satu kunci utama menuju harta karun legendaris One Piece.

Sesuai yang dikatakan Nekomamushi dan Inuarashi, untuk saat ini Robin bisa menyimpulkan dengan cukup yakin. Rio Poneglyph adalah semua Pone yang kemudian disatukan dan menjadi sebuah pesan. Namun, justru ini yang menjadi ketakutan Robin.

Tentu saja, dia sudah menemukan banyak Pone sepanjang hidupnya. Tapi apa benar, dari semua itu tidak ada yang terlewat? Robin agak pesimis untuk hal ini. Namun, apa itu berarti dia harus kembali mencari semua Pone itu?

"Jangan merisaukan itu."

Robin tersentak dan kemudian menoleh ke belakang. Dia berucap saat melihat seekor kucing besar di belakangnya. "Nekomamushi?!" Robin kemudian bertanya. "Apa maksudmu?"

Nekomamushi bersedekap. Dia kemudian duduk di dekat Robin. "Aku cukup yakin kalau kau sekarang memikirkan Rio Poneglyph." Melihat reaksi Robin, kucing besar itu tertawa keras. "Goronyanyanyanya! Kau benar-benar anak Ohara!"

Robin tetap diam. Menunggu sang kucing melanjutkan penjelasannya. "Oden-sama pernah bercerita padaku dan anjing bodoh itu. Ada satu Pone yang dikatakan sebagai 'yang suci'. Tidak seperti Road Pone yang ada 4 buah atau Pone biasa yang jumlahnya sangat banyak, Pone Suci ini hanya ada satu. Legenda mengatakan, kalau Pone ini adalah yang paling berharga dari semuanya. Dia tidak berwarna hitam logam seperti Pone pada umumnya, atau Ruby seperti Road Pone."

"Itu dibuat oleh batuan yang paling langka di bumi, batu angkasa." Seseorang menyambung penjelasan Nekomamushi dari belakang.

Sang kucing serta Robin menoleh ke arah sumber suara. Dan mereka menemukan Inuarashi yang memasuki ruangan tersebut. Robin kemudian bertanya kepada dua binatang itu. "Batu angkasa? Apa maksudnya?"

"Batuan angkasa, dengan kata lain, batuan yang berasal dari Bulan." Ucapan kalem Inuarashi membuat Robin membulatkan mata. "Pencampuran dari material-material kuat yang akhirnya menyusun struktur terkuat. Menciptakan batuan yang lebih kuat dari berlian maupun titanium."

Untuk menjawab kebingungan Robin, Nekomamushi kemudian berbicara. "Bagaimana manusia mendapatkannya, aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas, walaupun aku tidak tahu apakah rahasia dunia tertulis disitu atau tidak, tapi yang jelas, kau pasti mendapat sesuatu yang luar biasa dari batu itu!"

Robin masih membulatkan mata ini informasi yang baginya jauh lebih besar dari informasi tentang empat Road Pone yang mereka terima tadi. Keringat terus membasahi tubuh Robin. Untuk beberapa alasan, dia takut untuk menerima informasi ini. Inuarashi dan Nekomamushi pasti menyadari ini. Mereka juga tahu betapa berbahayanya informasi ini. Namun kemudian, dia menelan ludah. Sebelum menatap pasti ke arah kedua Master Mink.

Inuarashi mengangguk ke arah Nekomamushi. Sang kucing kemudian menatap Robin kemudian berucap. "Poneglyph itu adalah, Pone Putih, Poneglyph paling suci, yang diberi nama Mois Poneglyph!"

JGLEEERRR!

Robin kembali membulatkan mata. Merasa sangat terkejut karena mendengar nama Poneglyph tadi. Namun, tentu saja bukan karena dia baru pertama kali mendengarnya. Namun, dia sudah pernah tahu tentang Poneglyph itu. Namun, dia tak menyangka kalau itu benar-benar ada.

'Aku ingin bicara denganmu...'

"Khh!" Robin memegang kepalanya. Terasa sedikit sakit. Keringat masih membasahi tubuhnya. Ya, Robin pernah mendengar tentang Pone itu dari sang wanita yang ia jumpai di petualangannya bersama para pasukan revolusi. Robin sempat menyangkal informasi dari wanita itu karena tak ada bukti yang konkret tentang itu.

Tapi sekarang, dia kembali menerima informasi itu. Seakan berusaha meyakinkannya akan eksistensi batu suci itu.

"Itu cukup wajar karena kau baru saja menerima informasi yang sangat berat. Tapi, jangan paksakan dirimu!" Tegas Inuarashi pada Robin kemudian dia berjalan keluar dari ruangan itu.

"Goronyanya! Yah, tapi maaf karena kami tidak bisa memberitahumu lokasi dari Mois Pone itu. Karena kami pun tak tahu itu dimana! Baiklah, selamat malam, Nico Robin!" Nekomamushi juga keluar dari ruangan itu kemudian tertawa keras.

Robin beranjak dari bangkunya kemudian membaringkan tubuhnya ke kasur di dekat situ. Dia memandangi langit-langit kamar itu yang terbuat hanya dari semacam kayu, bambu dan jerami. Nafasnya terengah-engah, entah kenapa dia bisa mengingat wanita itu lagi.

Jika dia adalah Zoro, mendengar perkataan terakhir Inuarashi dan Nekomamushi, pasti dia akan langsung menggerutu. 'Mana bisa aku tidur setelah mendengar hal semacam itu, tolol!'

Namun, dia bukanlah Zoro. Dan Robin tidak berencana untuk menjadi makhluk unik buta arah itu.

Robin akhirnya tersenyum. Dengan ini, Mois Poneglyph akan masuk ke dalam agenda petualangannya.

"AH! Sake itu! Kau sudah masuk kan, Zoro?! Kenapa kau tidak memberitahuku kalau di dalam tidak ada makanan?!"

"Mana kutahu! Kau juga baru muncul di depanku, kan?!"

Samar-samar, Robin mendengar suara Luffy dan Zoro. Dua orang terkuat di kelompoknya itu belum tidur rupanya. Mereka malah berdebat soal makanan yang Robin yakini, dimulai oleh Luffy. Yah, mungkin mereka belum mengantuk karena sudah cukup banyak tidur di perjalanan mereka dari Silver Mine menuju Zou.

Beberapa saat kemudian, Robin tertidur, bersamaan dengan kelelahan yang menariknya.

Χ―

Pulau A.O, Dunia Baru. ―

Malam tenang di pulau A.O, seketika saja menjadi mencekam saat seorang Sichibukai mendarat disana. Sang Sichibukai baru Edward Weevil, dipandu oleh ibunya Miss Bakkin, memorak-porandakan pulau kecil itu hanya untuk menghancurkan bajak laut A.O, salah satu aliansi Shirohige yang kini menjadi sekutu Namikaze Kaizoku-dan.

Weevil memandang kapten A.O yang sedang ia cekik. Pria malang itu sudah tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka dan darah. Weevil kemudian mencampakkan pria itu dengan sembarang.

"Baiklah, ini semakin mendekatkanku kepada warisan ayah! Benarkan, mama?!" Weevil menoleh ke bawah. Dimana ibunya Miss Bakkin berdiri disitu.

"Hoo! Tentu saja, darling! Kau adalah putra Shirohige! Dan aku adalah istri tercintanya! Harta warisan Shirohige adalah milik kita!" Miss Bakkin menarik tangan anaknya untuk berjalan mengikutinya. "Dan kau tahu siapa yang menghalangi kita? Na-Mi-Ka-Ze! Dia adalah masalah utama!" Cerocosnya lagi.

"Tapi, daripada Namikaze, aku lebih tertarik pada Kurohige! Dia yang membunuh ayahku!" Cetus Weevil.

SRAK!

Namun, langkah dua manusia aneh itu terhenti saat mendengar suara dari depan mereka. Weevil dan Miss Bakkin dapat melihat seorang pria gemuk disana.

"Jadi kau Weevil? Kau yang mengaku-ngaku putra dari orang tua sial itu?" Pria itu berbicara dengan nada kasar.

"Di-dia..." Miss Bakkin sedikit tergagap mengetahui siapa orang di depannya.

"KUROHIGE!" Weevil berteriak, kemudian berlari menerjang Teach dengan bisentonya.

VUUNNGG!

Dengan menggunakan tangan kiri, Kurohige bergerak cepat dan mengambil kemudian menyerap bisento Weevil dengan Yami Yami no Mi miliknya. Tak cukup sampai disitu, Weevil yang sudah kehilangan keseimbangan, jatuh ke arah Teach. Dan dengan kedua kepalan tangannya, Teach menyambut tubuh Weevil.

KRATAK~ KRATAK~ BLARRRR!

"UARGGGHHHH!"

Tubuh Weevil terpental menerima serangan dari Baku Baku no Mi dan Gura Gura no Mi milik Teach.

"Yo." Teach memberikan sapaan singkat pada Weevil.


To Be Continiue...


A/N : Halo semua! Kembali lagi kita berjumpa sapa! Dan inilah dia Part 2 dari Brother, sudah dimulai! Bisa dilihat, saya langsung ambil skip jauh sampai Zou. Untuk Kerajaan Ryuuguu, Punk Hazard, Dressrosa, saya lewatkan. Untuk apa menceritakan yang sudah ada di canon? - Sarcasm. Oke, sekadar Trivia di chapter ini, di Komik One Piece chapter 709 atau Animenya Episode 638, Bartolomeo sempat ngomong 'Aku akan menyerahkannya pada orang itu!' Nah, disini, orang yang dimaksud itu adalah Naruto!

Okay, Whatever! Soal Yonji, sebelum komiknya keluar, saya udah tebak kalau Sanji pasti punya adik. Dan ternyata bener! Wakakaka.. Tumben ane bener nebak chapter OP..

Hmm.. Waktu saya cek review, ada flamer rupanya.. Pake bahasa kotor pula. Hadeh.. Salahnya dia kaga login.. Malah pake Guest.. Padahal saya mau ajak situ ngobrol loh..

Oke, terserah apapun itu! Saatnya SBS!


Pojok SBS - Edisi 7 : Chapter 21 [15 Juli 2016]


Sanji : Demi semua Lady yang ada di dunia ini, SBS Dimulai! #LoveHurricane

S : Baiklah, silahkan untuk reviewer non login!

P : kok.. hah.. akhirnya selesai..

tapi kok wanita yang dilihat robin nggak keluar dan juga robin nggak ketemu ama naru? dan kenapa sy kurang puas karena narutonya nggak banyak keluar.. juga karena ... - P.N devil

S : Sabar... Masih part satu.. Soal wanita itu, nanti akan dibahas. Naruto dan Robin, sebentar lagi... Yah, tokoh utama bukan hanya naruto, kan?

P : Hmm...part 1 end?,apa nanti part 2-nya sampai arc Big Mom?

S : Sampai Luffy jadi raja bajak laut!


Baiklah, hanya itu saja pertanyaan dari reviewer non login di fic ini! Hmm.. Kayanya ada Hakihome dan Pururin.. Hmm... Ah! Satu lagi. Tandai ucapan saya dibawah!


NARUTO AKAN MENDAPATKAN KEKUATAN SHINOBINYA KEMBALI.


Kapan? Lihat saja nanti.. Hahahaha! Sampai jumpa di chapter 22!


I'm out, bye!