Aku mencintaimu, tak peduli apa yang akan menimpamu di masa depan nanti, aku mencintaimu. Baik sekarang maupun esok hari. Selamanya.

Aku mencintaimu, tak peduli seberapa keras kau meyakinkanku akan resiko yang kudapat hasilnya nanti.

Aku mencintaimu, tak peduli dengan malaikat maut yang siap menjemputmu kapan saja, aku mencintaimu, bunga matahariku.

..

..

..

Sunflower

˗˗Untukmu, yang setia menemaninya sampai akhir˗˗

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

This fiction is MINE

Pair: AoKi and others (maybe), AoMomo (friendship)

Genre: Romance, Tragedy

WARNING: OOC, Boys-Love, typos, mungkin membosankan/alur pasaran, AU (mungkin), summary aneh, jalan cerita mudah ditebak ("_ _)

..

..

..

Chapter 1: First Time I Meet Him

..

..

..

"Bunga yang indah, Dai-chan!"

Momoi Satsuki berseru senang saat teman kecilnya itu berkunjung seraya membawakan sebuket bunga untuknya yang sedang di opname.

Aomine Daiki menghela nafas. "Indah? Menurutku biasa saja..." ucapnya malas. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bercat putih itu, sementara Momoi asyik bermain dengan bunga yang dibawanya.

"...Apa kau tidak bosan disini?"

Momoi yang sedang mencium setangkai Lily putih, menoleh dengan penuh tanda tanya di wajahnya. Ia memiringkan kepalanya. "Apa maksudmu, Dai-chan?"

Aomine mendengus. "Disini, di kamar rumah sakit ini. Kau sudah hampir seminggu dirawat disini. Apa kau tidak punya kemauan untuk sembuh?"

"Tentu saja tidak. Tapi dokter bilang tubuhku masih lemah. Jadi aku harus mendapat perawatan lebih lama..." ucap Momoi sedikit sendu. Aomine hanya menatapnya.

Ya, teman masa kecil Aomine, Momoi Satsuki, sedang dirawat di rumah sakit karena ia terkena penyakit Anemia. Hal itu membuat Momoi harus di opname dan sampai sekarang ia belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhannya.

Kedua orang tua Momoi sibuk bekerja diluar kota. Mereka mempercayakan Aomine untuk mengurus putri mereka karena mereka tahu bahwa Aomine adalah teman masa kecil Momoi. Selain itu ia juga bisa diandalkan.

"...Seandainya mereka ada disini..." Momoi menghela nafas mengingat orang tuanya yang sedang sibuk. Aomine mengelus surai pink milik gadis itu. "Sudah ada aku yang mengurusmu. Lagipula aku datang kesin˗i tiap hari," ucapnya seraya berjalan menuju jendela yang ada di kamar itu dan membukanya sedikit lebar. Membiarkan udara segar pagi itu masuk kedalamnya.

Aomine bersandar di dinding seraya menatap Momoi. "Jadi, bagaimana hasilnya?"

Momoi menggeleng. "Belum ada pendonor yang cocok untukku. Meskipun ada, darahku selalu menolaknya..."

Untuk kesekian kalinya, pemuda tan itu menghela nafas. "Repot sekali jadinya."

CKLEK. Momoi dan Aomine menoleh bersamaan ke arah pintu yang terbuka itu. Menampakkan dua orang lelaki yang lebih pendek˗˗˗ kurang tinggi dari mereka.

"Doumo, Aomine-kun, Momoi-san."

"Ohayou, Daiki, Satsuki."

"Tetsu-kun! Akashi-kun!" Momoi dengan semangat menyebut nama temannya dan Aomine di sekolah, yang merupakan pelaku pembuka pintu tadi.

"Tetsu? Akashi? Pagi sekali kalian menjenguk Satsuki."

Pemuda beriris heterochrome dan pemuda bersurai baby blue melangkah masuk dan mendekati ranjang yang diduduki Momoi. "Bagaimana kabarmu, Satsuki?" ucap pemuda heterochrome itu.

"Aku baik, Akashi-kun." Momoi menjawab pertanyaan pemuda itu, Akashi Seijuurou.

"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, Momoi-san." Pemuda bersurai baby blue tersenyum kecil padanya. Momoi membalas senyumannya. "Arigatou, Tetsu-kun," ucapnya pada Kuroko Tetsuya.

"Hei!" seru Aomine yang merasa diabaikan.

Kuroko meletakkan sebuah keranjang berisi berbagai macam buah-buahan diatas meja disebelah ranjang Momoi. Bersebelahan dengan sebuket bunga yang dibawa oleh Aomine tadi. "Jadi, apa Momoi-san sudah mendapatkan donor darah?"

Momoi menggeleng pelan. "Belum. Setiap ada pendonor yang golongan darahnya sama denganku, namun saat uji coba dilakukan, darahku tidak bisa menerimanya..." ucapnya.

Akashi menaikkan sedikit sebelah alisnya. "Menolak?"

"Mungkin darah Satsuki tidak bisa menerima darah milik orang lain," ucap Aomine asal. Akashi menatap sinis pada Aomine. "Aku tidak bertanya padamu, Daiki."

Aomine berdecih pelan.

Momoi mengangguk. "Entahlah, padahal golongan darahnya sudah sama. Kata dokter, itu reaksi yang wajar kok..." ucapnya.

Aomine menatap heran pada sebuah keranjang yang sama yang dipegang Kuroko. "Tetsu, kenapa kau membawa dua keranjang berisi buah yang sama?"

Kuroko mengalihkan pandangannya ke arah benda yang dimaksud. "Ah, ini untuk sepupuku. Ia dirawat disini juga. Aku berencana sekalian menjenguknya setelah menjenguk Momoi-san."

Aomine mengangguk paham.

Akashi, Momoi, dan Kuroko mengobrol dengan seru. Aomine yang merasa diabaikan hanya mendengus pelan. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela, dan ia bisa melihat taman kecil di rumah sakit itu.

Irisnya tak sengaja menangkap seorang pemuda (yang ia taksir seusianya) bersurai blonde sedang tersenyum dan menutup matanya seraya mencium sebuket bunga Lily putih digenggamannya. Pemuda itu memakai baju pasien rumah sakit, sama seperti Momoi.

Pemuda yang cantik... pikirnya. Namun ia segera tersadar dari pikiran nista itu.

Heh? Mana mungkin aku menyukainya! Dia itu lelaki dan aku masih normal!

Sayang sekali, Aomine. Cinta itu tak terduga.

..

..

..

"Kami pulang dulu," Kuroko pamit kepada Momoi dan Aomine setelah mereka mengobrol selama 2 jam penuh. Sekarang sudah pukul 11 siang.

"Terima kasih sudah menjengukku, Tetsu-kun dan Akashi-kun," ucap Momoi seraya tersenyum. Kuroko membalas senyuman gadis itu. "Cepatlah sembuh, Momoi-san..." ucapnya seraya mengelus kepala gadis itu. Momoi merona.

"Cepat sembuh, Satsuki," ucap Akashi. "Dan kau," ia menunjuk pemuda tan yang belum beranjak dari tempatnya sejak tadi, samping jendela. "Jaga Satsuki. Jangan melakukan hal yang macam-macam padanya." Perintah Akashi.

Aomine berseru, "memangnya apa yang akan kulakukan pada Satsuki?! Jangan menuduhku melakukan hal yang 'macam-macam' seperti katamu tadi, Akashi!"

Akashi mengangkat bahunya. "Ayo, Tetsuya." Kuroko mengangguk. Mereka berdua meninggalkan ruangan itu.

"Sebentar lagi makan siang," ucap Momoi kepada Aomine sepeninggal kedua pemuda itu.

"Aku tau," jawab Aomine singkat. Ia masih asyik memandang keluar jendela. Memandang pemuda itu tepatnya.

Aomine tidak berpindah tempat dari tadi. Hal itu tentu membuat Momoi sedikit curiga. Apa yang dilihat oleh Aomine sejak tadi?

"Dai-chan?" panggil Momoi. Aomine menoleh. "Apa?"

"Apa sih yang kau lihat dari tadi? Antusias sekali... kau bahkan tidak sadar bahwa kami bertiga tadi mengacuhkanmu."

Aomine sedikit gelagapan. "Tidak, bukan apa-apa." Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela tadi. Momoi menggembungkan pipinya, kesal.

"Dai-chan~"

Aomine menoleh lagi. "Apa lagi?"

Momoi tersenyum polos. "Belikan aku lolipop dong."

Aomine sweatdrop. "Kau sakit, tidak boleh makan lolipop."

Wajah Momoi memelas. "Tapi aku mau~ ayolah Dai-chan~ ya~?"

Akhirnya, Aomine tak punya pilihan selain menuruti permintaan sahabat kecilnya.

..

..

..

Tak berapa lama kemudian, Aomine berhasil mendapatkan apa yang diinginkan oleh Momoi. Ia segera kembali ke kamar rawat gadis itu.

Saat melewati taman rumah sakit, ia melihat pemuda tadi sedang duduk di sebuah bangku panjang. Keadaannya masih sama, ia masih menggenggam sebuket Lily putih. Tapi ada sedikit perbedaan.

Heh? Apa dia pingsan? Pikir Aomine yang ternyata memperhatikan pemuda itu daritadi. Ia menghampirinya.

Dan dugaannya (mungkin) benar. Muka pemuda itu sedikit pucat, hal itu membuat Aomine sedikit panik. Ia menepuk pelan pipi pemuda blonde itu. "Hei, bangun!"

Ia menepuknya selama beberapa kali, dan perlahan pemuda itu menggeliat pelan dan membuka kedua matanya. Aomine yang hendak menghela nafas lega, menahan nafasnya selama sedetik saat pemuda itu menampakkan iris topaz yang sangat indah (menurutnya).

"...Ah, aku ketiduran ssu..."

Pemuda blonde tadi menatap Aomine. "Terima kasih telah membangunkanku ssu!" Ia tersenyum lebar. Aomine membeku. "...ah, iya...sama-sama..." ucapnya sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Pemuda itu masih tersenyum. "Kenalkan, namaku Kise Ryouta! Namamu ssu?"

Aomine sedikit terpana. "...Aomine...Daiki..." ucapnya tanpa sadar.

Kise Ryouta tersenyum lebar. "Baiklah, kupanggil Aominecchi ya?"

Aomine mengangguk, hal itu ia lakukan tanpa ia sadari (lagi).

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Aomine. Ia duduk disebelah Kise. Kise menatap buket Lily putih di genggamannya. "Aku sedang menikmati udara segar ssu~ tanpa sadar aku ketiduran, hehe..." cengir Kise menyadari kecerobohannya. Aomine sweatdrop.

"Lalu, Aominecchi sendiri kenapa ada disini?" Kise balik bertanya hal yang sama pada pemuda tan itu.

"Aku mengurus sahabatku yang sedang dirawat disini," jawabnya. Aomine menatap Kise. "Kau dirawat disini ya? Kau sakit apa?" tanya Aomine iseng. Sedikit penasaran sebenarnya.

Yang ditanya tersenyum. "Iya, aku dirawat disini sudah sejak setahun yang lalu karena sakit Leukemia."

..

..

..

To be Continued

..

..

..

My second fanfiction in this fandom \o/

Doumo, saya kembali dengan fanfic multichapter pertama saya disini setelah memulai debut dengan fic berjudul Surprise for Ryouta. Dan saya mencoba membuat fanfic multichapter seperti ini. Semoga kalian suka dengan cerita ini walau baru 1 chapter.

Nah, setelah membaca cerita ini, apa kalian berpikir untuk me-reviewnya? Aku bersedia melanjutkan cerita ini dengan cepat ketika kalian memberi review yang positif ^^

-Kuroyuki-