Aku tidak tahu kapan hal itu terjadi, aku lupa

Yang aku tahu, kau tiba-tiba masuk ke dalam kehidupanku, menerangi hariku layaknya Sang Surya

..

Di depan kamar apartemen Aomine, Kuroko menumpahkan tangisnya. Begitu pula dengan Momoi yang langsung menangis kencang begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

..

...Tetapi, sepertinya semua sudah terlambat...

..

"...Aomine-kun..." lirih Kuroko. "...Kise-kun..."

Momoi menangis seraya memeluk Aomine. Ia terus menyerukan nama itu. Dan yang dipeluk hanya mengelus kepala sahabatnya itu dengan sebelah tangan, tak berniat memeluknya balik.

..

Karena pada akhirnya, aku tak bisa mengucapkan,

"Maukah kau menjadi matahariku?"

Kepada jasadmu yang telah terbaring dengan tenang

..

..

..

Sunflower

-Untukmu, yang setia menemaninya sampai akhir-

Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

This fiction is MINE

Pair: AoKi, AoMomo (friendship)

Genre: Romance, Tragedy

WARNING: OOC, Boys-Love, typos, mungkin membosankan/alur pasaran, AU (mungkin), summary aneh, jalan cerita mudah ditebak ("_ _)

KALAU GAK SUKA, JANGAN DIBACA ^^)b

..

..

..

Chapter 5: My Sunflower

..

..

..

Kediaman keluarga Kise penuh oleh beberapa sanak saudara, serta kerabatnya yang lain.

Bukan, bukan Kise Ryouta mendadak menjadi model internasional, bukan juga karena puncak karir kakaknya yang bekerja sebagai model juga.

Kita bisa melihat semua orang yang berkumpul di rumah itu, mengenakan setelan pakaian berwarna hitam dan membawa karangan bunga. Wajah mereka pun memancarkan kesedihan. Tangisan dari pihak keluarga pemilik rumah pun terdengar.

Hari ini, salah satu matahari telah kehilangan sinarnya.

Ya, hari ini adalah hari pemakaman Kise Ryouta, yang telah berjuang melawan kanker darah selama setahun terakhir.

Aomine melangkah pelan memasuki rumah itu. Di belakangnya, Kuroko sedang menuntun Momoi yang masih belum reda tangisannya. Semua orang memandang ke arah Aomine dengan pandangan heran. Oh, Aomine berpakaian layaknya orang-orang yang sedang berduka cita: warna hitam. Yang terlihat aneh hanya satu.

Bunga Matahari yang ia bawa.

Jika semua orang yang melayat Kise Ryouta membawa Lily Putih atau Mawar Putih, Aomine membawa Bunga Matahari.

Ia memang telah kehilangan mataharinya.

Sebelum melangkahkan kakinya ke depan peti mati kekasihnya, ia menghampiri keluarga Kise. Ibu mereka menangis kencang, begitu pula dengan kedua kakaknya. Ketika melihat Aomine, Kuroko, dan Momoi yang berdiri di depan mereka, ibu dari Kise Ryouta melangkah ke arahnya.

"...Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Ryouta..." ia menumpahkan air matanya di depan Aomine. "Tapi... terima kasih sudah hadir dalam kehidupan anakku..."

Aomine tak mengatakan apa-apa. Ia memandang kosong ke arah ibu dari Kise Ryouta. Ia pun hanya mengangguk sekali, kemudian membungkuk sedikit. "Saya senang bisa menjalin hubungan dengan anak anda..." lirihnya pelan, nyaris berbisik kepada dirinya sendiri. Setelah itu, ia melangkah ke depan peti dimana Kise Ryouta terbaring di dalamnya.

"...Dai-chan..." lirih Momoi. Ia ikut sedih menyaksikan sahabatnya yang kini seperti kehilangan semangat hidup. Memang bukan Aomine yang meninggal, tetapi ia merasa jiwa Aomine ikut hilang, terbawa oleh Kise yang sedang berbaring dengan tenang.

Setelah berada di depan peti itu, ia membungkuk dan meletakkan tiga tangkai Bunga Matahari yang ia bawa di tempat berbeda.

Satu di depan peti, bersama dengan bunga lainnya,

Satu di genggaman kedua tangan Kise.

Dan satunya, ia sematkan di kepala Kise, di atas telinga kiri pemuda blonde itu.

Tak ada yang mencegah perbuatan Aomine. Semua malah tercengang melihatnya. Dan kini, mereka bisa merasakan adanya cinta yang sangat mendalam dari sosok Aomine kepada Kise Ryouta.

Semua larut dalam kegiatan yang dilakukan oleh Aomine.

"...Kise...Ryouta..."

Aomine melirihkan nama itu. Nama kekasihnya, nama mataharinya... ia berharap semua ini adalah mimpi. Maka dalam hitungan detik, ia terbangun dan mendapati dirinya sedang terlelap di sebelah Kise Ryouta yang juga terbaring di ranjang pasiennya.

Sayangnya, semua itu adalah kenyataan setelah ia sadar berapa lama ia telah berdiri di depan peti itu, memandangi kekasihnya yang sebentar lagi akan berpisah dunia dengannya. Dunianya dan dunia fana.

Bahkan Aomine tak sadar bahwa ia sudah berpisah dengan pemuda itu yang kini tak memiliki jiwa.

"Hei, Kise," panggilnya pelan. Pemuda blonde itu tentu saja tak menjawabnya. Tanpa mempedulikan fakta itu, ia mengucapkan beberapa kalimat.

"Aneh. Seharusnya kau menanggapi panggilanku dengan suara berisikmu, dan menambahkan suffiks '-cchi' di setiap nama orang yang kau panggil. Dan aku akan memarahimu karena sikapmu yang kelewat hiperaktif, lalu kau akan menunjukkan raut sebal dan merengut seperti anak kecil. Ya, seperti itulah kebiasaan kita sehari-hari ketika aku menemanimu di rumah sakit."

Aomine menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Bangunlah Kise Ryouta. Aku ingin melihatmu lagi, memanggil namaku 'Aominecchi' seperti biasa, dan menceritakan hal-hal yang tidak penting kepadaku dan Satsuki, dan Tetsu juga..."

"...Sayangnya, kau pergi lebih dulu daripada aku." Ia tertawa pahit. "...Tapi tak apa. Kau selalu ku kenang sebagai matahariku. Kekasihku yang paling anggun sepanjang masa, seperti bunga matahari..."

Momoi tak sanggup melihatnya. Ia menjatuhkan kepalanya di bahu Kuroko dan menangis sepuasnya disana. Kuroko yang sejak tadi menyaksikan Aomine, menumpahkan air matanya lagi. Ia melihat ketulusan dalam cinta Aomine kepada Kise.

Aomine menggigit bibir bawahnya. "...Dan ini... entah, aku tidak tahu apa ini akan menjadi yang terakhir atau bukan..."

Dengan perlahan, ia menunduk dan mencium bibir kekasihnya. Membuat semua orang tercekat menyaksikannya, termasuk keluarga Kise.

"...Sampai jumpa lagi, bunga matahariku...aku janji akan mengunjungimu setiap hari, seperti biasa..." Aomine tersenyum kepada Kise, kemudian membelai pelan surai blonde itu. Setelah itu, ia berjalan keluar dari rumah itu dengan wajah yang tertutup oleh sebelah tangannya.

"...Dai-chan..." Momoi sempat melihat Aomine ketika ia berjalan melewatinya dengan tidak peduli. Momoi bersumpah dapat melihatnya.

Aomine Daiki, meninggalkan tempat itu dengan air mata yang tumpah dari kedua irisnya.

..

..

..

Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku

Jiwamu, ragamu, cintamu

Terima kasih telah menyinari kehidupanku.

Bagiku, kaulah matahari jiwaku

Meski telah redup, kau akan terus menyinariku

..

..

Karena kau adalah matahariku

..

..

..

END

..

..

..

Akhirnya selesai...

Akhir yang alay, dan menurut saya terkesan maksa. Sumimasen... ("_ _) *bows*

Entah ini menggantung atau tidak, tapi saya telah menyelesaikannya dengan seluruh imajinasi saya untuk membuat endingnya. Jadi, tolong kritik dan sarannya untuk endingnya~

..

..

..

OMAKE

..

..

..

Aomine meletakkan bunga matahari yang ia bawa hari ini di atas makam yang nisannya bertuliskan Kise Ryouta. Setelah berdoa, ia mengelus pelan nisan itu.

"Kali ini, aku datang lagi, Kise..." ia tersenyum tipis. "Aku sudah janji akan berkunjung kesini terus. Semoga kau tidak bosan sebagaimana aku dan Satsuki sering berkunjung ketika kau masih di rumah sakit." Ia mencium nisan itu, lalu berdiri dan menepuk pelan pakaiannya. "Sudah ya, Kise. Banyak tugas yang harus ku kerjakan. Nanti Satsuki mengamuk lagi jika aku menelantarkan tugas."

Setelah mengucapkan 'sampai jumpa', ia melangkah ke arah Momoi yang sedang menunggunya, tak jauh dari tempat Aomine. "Kau selalu kesini setiap hari, Dai-chan." Entah sudah berapa kali Momoi mengatakan kalimat yang sama, Aomine tetap tak membalasnya. Tapi sudahlah, Momoi juga tahu apa alasannya.

Mereka berdua meninggalkan komplek pemakaman itu. "Dai-chan, sekali-kali bawalah bunga yang lain kalau ingin menengok Ki-chan," saran Momoi. Aomine menghela nafas. "Memangnya kenapa? Ya suka-suka aku ingin bawa bunga apa."

Momoi merengut. "Ki-chan pasti bosan kalau dia dibawakan bunga Matahari lagi olehmu."

Aomine tersenyum tipis. "Tidak. Dia tak pernah mengeluh." Karena dia sama seperti bunga matahari.

..

..

..

END