Author's Note :

Halah Dae munak ini aslinya mau ngelanjutin tiga fic lagi eh malah nambah satu fic. Nggak apa-apalah daripada keburu ilang idenya. Sebenernya udah sering, ya Dae baca fanfic-fanfic awesome di fandom ini terus napsu buat bikin fic juga itu gede banget, tapi karena pada dasarnya males (aslinya nggak ada ide) jadi nggak jadi dan mumpung sekarang ada jadi buat aja.

Ini cuma prolog. Kalo banyak yang suka pasti Dae lanjut. Iya, pasti.

Disclaimer :

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadoshi / Cerita Cinderella © Kita semua / Ini Fanfiction © Sayah!

Warn :

BoyxBoy/AU/Alay/Jayus/OOCmampus/Kasar/Typos/MPreg

Ganre :

Romance/Humor/Parodymaybe

Folk Tale: Tsunderella

Prolog


"Kaa-chan.. Kaa-chan.."

Shinka berlari dari anak tangga sambil berteriak menuju Takao yang berada di dapur tengah membuat susu untuk sang adik, Tōri—bayi berambut hijau lumut berusia satu tahun—yang sedang duduk di kursi khusus bayi seberang meja makan sambil bermain dengan dotnya. Jangan lupakan liur yang menetes dari bibir pink kecilnya.

Takao menoleh ke asal suara. Ia melihat anak pertamanya yang berusia lima tahun tengah berlari ke arahnya dengan menenteng sebuah buku bersampul warna-warni khas anak-anak.

"Shinka.. jangan berlari seperti, nanti kau jatuh." tegur Takao lembut, yang jelas-jelas diabaikan oleh bocah mungil berambut hitam belah tengah itu. Sangat mirip Takao dalam versi kecil.

Tangan mungil Shinka menarik-narik ujung sweater abu-abu terang yang dipakai Takao.

"Kaa-chan, aku ingin dibacakan dongeng dalam buku ini." katanya sambil menunjukkan buku yang dipegangnya. Mata Takao sedikit melebar melihat sampulnya.

Cinderella.

Lalu tersenyum, "Shinka ingin kaa-chan bacakan itu?" tanyanya. Ia mengalihkan perhatian ke susu dalam botol yang diaduknya.

Shinka mengangguk semangat, "Tentu."

"Tapi sedikit berbeda dengan cerita yang dibuku. Tidak apa-apa?" tanya Takao lagi. Berjalan mendekati Tōri sambil mencicipi susu yang ia teteskan di telapak tangan. Mata bulat Shinka mengikuti kaa-sannya yang kini tengah menjejalkan(?) susu dalam botol ke mulut sang adik.

"Aku tidak paham maksud kaa-chan, tapi terdengar menarik. Boleh, deh." jawabnya riang dan Takao tak kalah riang mendengarnya.

"Yosh! Ayo kita ke kamar."

Sambil mengangkat Tōri ke udara, Takao mengkode Shinka untuk mengikutinya.


"Kenapa tiba-tiba Shinka ingin dibacakan dongeng?" tanya Takao sembari menutup pintu kamar anaknya. Kemudian menepuk-nepuk bokong besar Tōri, berjalan mendekati Shinka yang sudah siap tempur di atas ranjang berbentuk mobil.

"Biasanya sebelum tidur Shinka bermain dengan tou-san." tambahnya saat duduk di sisi ranjang.

"Habis, tou-chan pulangnya malam terus. Aku sudah tidur. Mana sempat bermain, kaa-chan." jawab Shinka dengan bibir mengerucut sebal. Takao terkekeh ringan. Tangannya terangkat untuk mengacak rambut hitam sang anak.

"Tou-san masih ada urusan. Besok pasti pulang lebih awal." kata Takao meyakinkan.

"Ah! Kaa-chan, ayo bacakan cerita ini." Shinka kembali mengangkat buku berjudul Cinderellanya.

"Baiklah. Bersiap untuk yang terburuk, Shinka."

Dan Shinkapun tak paham dengan kata-kata sang okaa-san.

Takao mulai membuka cover tebal buku setelah meletakkan Tōri yang sudah tidur di keranjang bayi sebelah ranjang Shinka. Sementara sang anak terlentang dengan selimut sebatas dada. Menatap kaa-san dalam-dalam seolah berkata hurry-tell-me-this-fuckin'-folk-mom.

"Zaman dahulu kala di negara Shuutoku yang damai dan tenteram.."

.

.

.

To Be Continue


Gimana? RnR nanodayo *cling*

SHARARA GOES ON!