Warn :

BoyxBoy/AU/Alay/Jayus/OOCmampus/Kasar/Typos/MPreg

Ganre :

Romance/Humor/Parodymaybe

Standard Disclaimer Applied

Folk Tale: Tsunderella

Chapter 1


Zaman dahulu kala di negara Hi, maaf salah setting.

Zaman dahulu kala di Negara Shutoku yang damai dan tenteram. Lahan yang lebar ditumbuhi rerumputan hijau tebal sangat nyaman untuk gelindingan atau jika terjatuh kau tak akan terluka, paling cuma lecet-lecet. Bunga-bunga bhineka warna namun tetap satu jua bermekaran di taman kerajaan yang sangat indah. Pohon cemara yang tumbuh di belakang istana dengan kokohnya menjadi pagar yang melindungi kerajaan dari serangan burung gagak yang kolab. Penduduk yang ramah tamah karena tertular sang raja yang juga murah senyum. Sering turun ke kota hanya untuk masuk ke gorong-gorong, mengecek apakah saluran air itu okeh atau tidak. Atau sekadar bersepeda tiap Jumat dengan pakaian serba putih keliling kota. Tak lupa banner bertuliskan "PRAY FOR GAZA" dan "SAVE PALESTINE" terpampang di belakang rombongannya. Sering membagi sembako dan banyak lagi kebaikan disertai acara ramah tamah sang raja. Tak terkecuali pangerannya yang sangaaaaaat tampan.

("Seperti Shinka?"

"Tidak, seperti kaa-san.")

Hiduplah seorang remaja berusia sekitar 16 tahun. Sebut saja bunga, ralat, bernama Tsunderella. Nama aslinya Midorima Shintarō, tetapi lebih terkenal dengan sebutan Tsunderella karena dia tsundere.

("Kok namanya seperti tou-chan?"

"Ini adalah nenek moyang tou-san, Shinka."

"Ohhh~")

Dia tinggal di sebuah rumah sederhana namun nyaman karena terbuat dari kayu(?) bersama seorang ibu tiri yang kejam dan dua orang saudara tiri yang sangat absurd. Ayahnya yang bernama Midorima Atsushi pergi merantau untuk mencari peruntungan ke negeri antah berantah dengan perbekalan makanan selumbung dia bawa semua tak disisakan sedikitpun untuk keluarganya.

"Shintarō, tou-san akan pergi. Mungkin cukup lama. Tou-san akan mencari uang, atau lebih tepatnya makanan, untuk kita semua. Kamu tinggallah bersama ibu dan saudara-saudaramu yang sangat manis bagaikan cupcake buah beri itu. Ahh, rasanya aku ingin memakan mereka."

Atsushi menunjuk dua saudara, anak ibu tirinya, di belakangnya. Mau tak mau Shintarō ikut menoleh dan mendapati dua saudaranya tengah melambai sambil tersenyum manis bikin diabetes akut. Shintarō menghela napas dan kembali menatap sang tou-san yang mirip titan ungu tapi unyu.

"Jadi, kapan tou-san akan kembali?" tanya Shintarō.

"Entahlah. Sudah tou-san bilang kan kalau mungkin akan lama. Kamu budek, ya?"

Shintarō menggeleng. Atsushi mengangguk.

"Baiklah, aku berangkat sekarang. Jaga anakku baik-baik, ya, sayang." Atsushi melambai pada ibu tiri yang dibalas dengan senyum manis namun mengerikan.

"Baik, sayang. Kami menunggumu pulang."

Atsushi menunduk sedikit untuk mengecup kening dan pipi Shintarō, "Jangan lupa makan, ya. Tou-san tidak mau kamu jatuh sakit. Kalau jatuh cinta, sih okeh."

Kemudian dia menegakkan badan besarnya, "Baik. Aku berang—"

Kalimat Atsushi terputus. Ia menatap sang anak tercintah yang tengah menahan lengannya. Belum sempat ia bertanya, ia sudah terkejut mendengar pernyataan sang anak.

"A-aku m-me-mencintaimu, tou-san. C-cepatlah pulang."

Hening.

Yang lain terdiam. Shintarō makin gugup dengan keadaan seperti ini. Ia membetulkan letak kacamatanya, "B-bukannya aku ingin kau cepat pulang nanodayo."

Semua sweatdrop.

TSUNDEREEEEEE!

Masih faceplam, atau memang wajahnya yang memang seperti itu, Atsushi tersenyum kecut namun manis, "Tou-san berjanji akan cepat pulang, Shintarō. Ingat pesan tou-san, jangan jadi cabe-cabean."

Shintarō mengangguk. Atsushi berjalan mendekati kereta kudanya setelah dilepaskan oleh sang anak. Menunggangi kuda yang nampak tersiksa lahir batin karena beban yang berat keparat. Ia melambaikan tangan.

"I LOVE YU EVERIBADEEEEEH! MISS YU SO MUCH MUAH MUAH :*" Atsushi nge-alay. Keluarganya membalas lambaiannya.

"Babai papih! Kami merindukanmu(ssu)(nanodayo)."

Selepas keberangkatan Atsushi yang makin menjuh dan menjadi titik kecil di ufuk timur, Shintarō masih berdiri di depan pagar. Tangannya melambai meski sudah tak dibalas lagi oleh sang tou-san.

"Cepat kembali nanodayo.. Hiks.."

"MIDORIMACCHIIIII! CEPAT MASUK KAMU DIPANGGIL MAMIH SSU!"

Teriakan menggelegar saudara tirinya menyadarkan Shintarō. Ia segera mengusap air mata keajaiban dan berlari ke rumah.

Ibu tiri Shintarō bernama Akashi Seijūrō. Yang Shintarō tak mengerti adalah kenapa Atsushi mau menikahi janda setan merah ini. Mana matanya sebelahan pula. Salah pasangan kali pas jumatan di masjid. Postur tubuhnya pendek, kecil, tapi cabe rawit. Dan Shintarō tidak suka dengan benda yang selalu dibawa cabe-cabean ini (baca: Seijūrō). Gunting. Kalau gunting kecil berbentuk kodok, sih okeh, lah ini gunting rumput. Kampret.

Sedangkan dua saudara tiri Shintarō adalah Nijimura Ryōta dan Nijimura Tetsuya. Mereka mendapat marga Nijimura karena itu marga ayah mereka, lah. Bodoh. Masa iya Seijūrō nista nyolong marga tetangganya. Mereka bercerai karena Nijimura Shūzō lebih memilih seseorang yang bernama Haizaki Shōgo dengan alasan Haizaki Shōgo lebih maso daripada Akashi Seijūrō. Iya, begitu.

Yang pertama Nijimura Ryōta. Anaknya tinggi, tapi lebih pendek dari Shintarō. Berambut pirang dengan mata yang tak kalah pirang. Salah, maksudnya seperti madu. Beranting satu di telinga kiri. Kulit mulus, kuku jari cantik, dan bulu mata yang lentik. Kesan pertama Shintarō melihat Ryōta adalah,

"Dia cabe nanodayo."

Bukan karena apa. Jujur saja sebenarnya Shintarō kesal karena ada bulu mata yang jauh lebih lentik dari miliknya. Padahal ia sudah rajin pakai Maybeline Washington DC dan Shintarō mulai berpikir bahwa merek yang dipakai Ryōta jauh lebih okeh dari miliknya. Orisinil. Karena melihat mamihnya seperti itu, pasti tidak mau beli peralatan make up yang ecek-ecek.

Yang kedua bernama Nijimura Tetsuya. Rambutnya seperti langit cerah. Menenangkan, menyejukkan karena biru rambutnya memberi kesan fresh dan sweet. Namun semua runtuh saat Shintarō melihat wajahnya yang minim ekspresi itu. Ia sampai kesal sendiri karenanya. Tetsuya itu pendek sama seperti mamihnya. Bermata bulat besar indah namun cenderung memancarkan sinar datar. Kulit mulus seperti barang fragile. Sentuh sedikit, pecah. Shintarō tak mau dekat-dekat dengan Tetsuya karena takut dia pecah dan gunting rumput melayang.

Kepribadian Tetsuya berbanding terbalik dengan Ryōta, tapi sama-sama freak. Bagaimana ke-freak-an Nijimura bersaudara? Tunggu setelah pesan-pesan berikut ini karena Shintarō akan mengupasnya dengan tajam setajam cutter ungu Atsushi.

Shintarō berjalan mendekati ibu tirinya, "Kaa-san, ada apa?" Namun belum sempat ia mendekat tiba-tiba ia dikejutkan dengan gunting rumput yang tertodong tepat di depan wajahnya.

"Jangan panggil saya kaa-san. Tidak sudi. Panggil saya madam, mengerti?"

Alis Shintarō terangkat. Heran sebenarnya namun ia samarkan dengan gerakan khasnya, membetulkan kacamata, "Mengerti, madam."

Seijūrō tersenyum sangat manis namun pahit. Ia melipat lengan dengan angkuh.

"Mulai sekarang saya yang berkuasa di rumah ini. Kau harus kerjakan pekerjaan rumah—TANPA TERKECUALI TERMASUK NGURAS KAMAR MANDI." Tekan Seijūrō saat melihat mulut Shintarō mulai mangap. Urung sudah niatan mulai Shintarō untuk protes.

"Intinya, kau itu—" Seijūrō berbalik menghadap Ryōta dan Tetsuya.

"APA ANAK-ANAK?"

"PEM-BAN-TU(SSU)!"

Seijūrō berbalik lagi menghadap Shintarō yang tercengang dengan ganteng, "Kau paham?"

Jelas saja Shintarō tidak terima. Ini kan rumahnya mana mungkin dia yang jadi pembantu. Asem sekali ibu tirinya yang pendek ini.

"Lalu Ryōta dan Tetsuya? Apa yang mereka lakukan, madam?"

"Mereka pangeran dan aku raja. Kau tak lihat mahkota di kepalaku ini?" Seijūrō menunjuk atas kepala merahnya.

Shintarō menggeleng, "Tidak, madam."

Seijūrō berdecak meremehkan, "Tsk! Berarti kamu kurang beriman. Sudah sana masak makan malam untuk kami. Kami lapar." perintah Seijūrō.

"Tapi persediaan makanan telah habis dibawa tou-san, madam."

"Belanja, dong. Ah, kamu ini ganteng-ganteng bodoh. Sama seperti tou-san-mu." Seijūrō kibas poni padahal nggak punya poni. Sudah digunting pakai gunting rumput.

"Sekarang, madam?"

"ENGGAK! TAUN DEPAN! SEKARANG LAH, DASAR BOLOT!"

Shintarō langsung ngacir ke dapur. Sementara Ryōta dan Tetsuya menahan tubuh Seijūrō yang mulai limbung.

"Mamih! Mamih tidak apa-apa ssu?" Ryōta panik sambil mengusap-usap kening mamihnya.

"Jantung mamih tidak kumat lagi, kan?" Giliran Tetsuya yang panik.

Seijūrō menggeleng sambil tersenyum, "Tidak, anak-anakku sayang. Mamih tidak apa-apa. Sudah sana kalian bermain, tapi ingat jangan menangkap jangkrik lagi."

Karena tahu mamihnya orang yang absolut, duo Nijimura langsung ngibrit keluar rumah.

Seijūrō duduk di sofa. Bersandar dengan kepala menengadah, "Aduh, pusing. Darah tinggiku kumat apa, ya? Aduh mana itu obat? Obat? Obat? Dimana kamu? Come to papa."

Akashi Seijūrō, yang disinyalir ayah dari bayi Beelzebub, sinting detected.


Sementara di waktu yang sama di istana kerajaan Shutoku. Pangeran yang dielu-elukan ketampanannya oleh seluruh rakyat kerajaan sedang berdiam diri di kamar yang luasnya sudah seperti lapangan sepak bola. Berlebihan? Memang. Apa? Mau protes? Protes sana sama raja Shutoku.

[Pong~]

Kazunari yang daritadi kerjaannya hanya mengo saja di pinggir jendela bagaikan Putri Viona di film Shrek, terkejut dengan latahnya,

"Ayam, ayam, ayam!"

Karena bunyi alarm chatlog laptopnya. Buru-buru dia berlari (ingat, kamarnya luas) ke seberang kamar demi menggapai sang laptop.

"Eh? Tumben mereka pada online." gumam Kazunari saat melihat akun teman-teman sesama pangerannya bertanda kuning di chatlist.

"Ada chat baru." Ia mengarahkan telunjukknya untuk mengklik chat terbaru.

reochan06 : hey guys! kopi darat yuks ^o^ !

Mata Kazunari berbinar senang. Sebenarnya ia sudah lama ingin bertemu dengan teman-temannya ini. Kangen. Namun otak udangnya tak menemukan sebuah pencerahan untuk mengajak ketemuan.

kazuchan10 : boleh, reo-nee, ayog kapan?

shunizuki05 : ayog ayog aku juga mau. kangen ama yayang yoshi neh huhu ;;_;;

kazuchan10 : yee~ itu mah maunya shun-chan aja~

shunizuki05 : habis aku dipingit mulu ama mamah riko. emang aku siti maemunah yang mau nikah pake pingit-pingitan segala?

reochan06 : di cafe perbatasan seirin-tōō bagaimana? cafe maji. ah aku baru tau kalo shun-chan pacaran ama yo-chan xixixi ^^

kazuchan10 : umm, tidak buruk. aku kangen sama kerak telor di sana. pecel pincuknya juga bikin merindu. ih reo-nee kok baru tahu, sih? katanya gossip queen D; ? shun-chan sabar, ya. makanya jadi orang jangan manis-manis bikin yang lain khawatir saja :3

shunizuki05 : emang aku manis tapi nggak begini juga kali. btw reo-nee aku setuju sama tempatnya. pengertian deh aku nggak boleh main jauh-jauh ama kiyopapa. muah :*

reochan06 : aaaaah! daku dapat satu ciuman dari shun-chan :3 ini aku cium balik muaaah :*

kazuchan10 : kenapa kalian cium-ciuman? aku juga mau cium-ciuman :*

yoshyoshi05 : SHUN SAYANG KENAPA KAMU CIUM-CIUMAN SAMA BANCI RAKUZAN? APA CIUMANKU SELAMA INI KURANG? HAH?

reochan06 : ups ;b yo-chan juga mau aku cium? sini sayang :*

kazuchan10 : uwwwaduh! yang punya marah-marah. ojan jadi takut

yoshyoshi05 : APA KALIAN DIAM SAJA! DASAR JONES xp EMOH! GAK SUDI DICIUM BANCI!

shunizuki05 : SAYANG NGGAK USAH PAKAI CAPSLOK AKU PUSING TAU! LAGIPULA KITA KAN GAK CIUM-CIUMAN ASLI

yoshyoshi05 : kamu juga pakai capslok shun sayang ;( aku sudah enggak, nih. PUAS? TETAP SAJA AKU CEMBEROT!

shunizkui05 : KOK PAKAI LAGI?

yoshyoshi05 : ASDFGHJKL...

Dan Kazunari memilih menutup led laptopnya daripada ikutan masuk ke prahara rumah tangga antara pangeran Seirin dan Kaijo yang alay itu. Berjalan keluar kamar dan disinilah Kazunari berada. Taman kerajaan. Kazunari mendekati ayunan kemudian mendaratkan bokong teposnya ke permukaan empuk dan mulai leha-leha.

"Kapan aku punya pacar, Tuhan? Aku lelah menjadi jomblo meski masih banyak jomblo di luar sana selain aku."

Kazunari menghela napas lalu memejamkan mata. Intinya sekarang dia tertidur.


Shintarō tengah berkutat di dapur. Tepatnya di depan tungku. Sedang meniup-niup api yang tak kunjung membesar.

"Panas nanodayo."

Ia menyeka peluh yang mengalir di kening dan nyaris nyemplung ke dalam panci berisi kuah sup dan tanpa sadar meninggalkan bekas hitam pantat panci disana. Sekarang wajah ganteng Shintarō lebih mirip tentara yang siap perang.

"Ini api kenapa tidak menyala nanodayo? Mulutku sudah jontor."

Kesal, Shintarō membanting alat peniup ke lantai tanah dapur rumahnya.

"Shintarō! Kenapa kamu marah-marah?"

Terkejut atas kemunculan setan merah di belakangnya yang kini tengah berkacak pinggang dengan elegan.

"Saya tidak marah, madam." Sambil menunduk ia membetulkan kacamata yang merosot karena tersentak tadi.

Seijūrō, setan merah, menatapnya datar, "Lebih baik begitu. Jangan pernah mengeluh atau pekerjaanmu kutambah tiga kali lipat."

"Yes, I'll do whatever you say, madam."

"Nggak usah sok Inggris!"

"Kenapa, madam?"

"Saya nggak ngerti." Seijūrō membuka kipas bulu angsanya, "Ya sudah. Cepat selesaikan!"

Shintarō hanya membungkuk patuh dan hormat. Setelah merasa Seijūrō pergi, ia menegakkan badan lalu membetulkan kacamata lagi.

"Dasar. Bisanya hanya memerintah. Bilang saja kalau tidak bisa memasak nanodayo."

"SHINTARŌ AKU MENDENGARMU!"

Shintarōpun panik in the disco.


"Aku lelah nanodayo."

Shintarō meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Berjam-jam ia berkutat dengan pekerjaan rumah yang seakan tak pernah ada habisnya. Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap jendela, memasak, memenipedi Seijūrō, sampai memandikan Ryōta dan Tetsuya ia lakukan.

"Tanganku serasa mengelupas nanodayo. Untung saja aku perban." gumamnya sambil memutar kenop pintu kamar.

"HALO!" Shintarō berjengit ke belakang saat mendapat sapaan sok ramah dan riang dari Ryōta dan Tetsuya.

"K-kalian? Apa yang kalian lakukan di kamarku nanodayo?"

"Kamarmu? Mulai sekarang ini kamarku dan Tetsuyacchi, tahu!" kata Ryōta. Ia menjulurkan lidah layaknya pangeran Hanamiya dari kerajaan brengsek Kirisaki Daīchi.

"Kami sudah memindahkan barang-barangmu, Midorima-kun."

Shintarō yang masih mendelik ke Ryōta kini beralih pada Tetsuya, "Kemana?"

"Gudang."

Rasanya seperti terbang ke langit ketujuh. Bertemu gajah sirkus bersayap kupu-kupu dan berkoak layaknya gagak.

"Kenapa dipindah kesana nanodayo? Kan ada satu kamar lagi." protes Shintarō. Mana bisa ia terima jika harus tidur di gudang.

"Ini perintah mamih Sei, Midorima-kun."

"Benar. Ini perintah mamih Sei ssu. Kau tidur di gudang dan kami di tempat nyaman ini xixixi." tambah Ryōta dengan kikikan menyebalkan di belakang.

'Dasar cabe nanodayo.'

Kerutan kesal muncul di pelipis Shintarō. "Tidak mau! Aku juga mau tidur di kamarku nanodayo." Tanpa tedeng aling-aling Shintarō menerjang Ryōta dan Tetsuya yang berdiri di ambang pintu.

"Oooo~ tidak bisa ssu.." Dengan sigap Ryōta memeluk tubuh Shintarō yang jelas-jelas lebih kekar darinya. Menahan agar tidak masuk kamar. Sementara Tetsuya mendorong punggung Ryōta memberi tenaga tambahan walau tak berguna, sih.

"Aku mau kamarku kembali nanodayo. Lepaskan aku!"

"TIDAAAAK! MAMIIIIH MIDORIMACCHI NAKAL SSU!"

"Mamih! Midorima-kun mau memperkosa kami."

Semua diam. Shintarō berhenti menerjang. Ryōta melonggarkan pelukannya. Tetsuya menatap keduanya dengan datar. "Ada apa? Ryōta-kun? Midorima-kun?"

"Idemu bagus juga, Tetsuyacchi!" Ryōta menjentikkan jemari kemudian bersiap memfitnah Shintarō yang bengong mendengar ucapan ngibul Tetsuya.

"MAMIH! MIDORIMACCHI MAU MEMPERKOSA KAMI SSU! A-AAKH MAMIIH, DIA PEGANG-PEGANG TUBUHKU SSU!" Teriak Ryōta dengan nyaring plus ngibul. Padahal Shintarō sama sekali tidak pegang-pegang dia. Malah dia yang peluk-peluk Shintarō.

'Midorimacchi bau bayi ssu' batin Ryōta malu-malu.

Sedangkan yang dipeluk-peluk justru terpaku membatu membeku di tempat sesi kedua. Baru saja Shintarō akan membuka mulut, terdengar derap langkah terburu dari tangga.

"Anak-anak, kalian baik-baik saja? Apa aku terlambat?" Ryōta dan Tetsuya berhamburan memeluk Seijūrō. Dengan alay Ryōta terisak di pundak mamihnya.

"Midorimacchi mesum ssu." katanya sambil menunjuk Shintarō. Seijūrō mendelik jahat ke arah Shintarō.

"Shin-ta-rō.."

"A-a.. S-saya t-tid—"

"Midorima-kun memaksaku untuk berciuman dengannya, mih." Fitnah Tetsuya makin kejam. Seijūrō makin menyeramkan. Mata kuningnya bercahaya menimbulkan kilat berbahaya. Dia masuk zone. Sementara Shintarō jawdrop.

"Shintarō, pekerjaanmu kutambah lima kali lipat dan kau tak akan mendapat jatah makan untuk seminggu." Seijūrō kalem dan penuh penekanan.

"Kalau bisa sebulan, mih." usul Ryōta jahat. Di sela isakannya ia tersenyum manis pada Shintarō.

"Ide bagus, Ryōta. Mamih sayang kamu."

[Cup.]

Dan Ryōtapun mendapat kecupan di pipi kiri dari sang mamih. Melihat itu Tetsuya iri. "Mamih, aku juga mau dicium."

Seijūrō tersenyum manis. Ia mengusap puncak kepala Tetsuya. "Tentu saja Tetsu mendapat ciuman juga. Mau dimana?"

Tetsuya menunjuk bibir. Dengan senang hati Seijūrō melakukan.

[Cup.]

Shintarō muntah melihat adegan incest di depannya.


Kazunari terbangun dari tidur panjangnya. Mendapati bahwa hari sudah gelap dengan bintang-bintang bertaburan bagai ketombe di langit kelam. Ia mengucek matanya. Ngulet sampai terdengar bunyi "krek" dari tulang-tulangnya.

"Hoam. Shun-chan dan Yo-chan sudah selesai belum, ya?"

Entah bertanya pada siapa ia beranjak bangkit. Mendekati air mancur di tengah taman dan cuci muka disana. Merasa kurang okeh, Kazunaripun menceburkan kepalanya ke dalam kolam.

"Aaaaah~ segarnya." Dengan gaya seorang bintang iklan Kazunari mengibas-ngibaskan rambut basahnya kemudian menyibak dengan gerakan lambat.

"Aku memang tampan. Aku tahu itu." Cling.

Tiba-tiba terdengar suara dari langit.

"Tapi kenapa masih jomblo?"

Kazunaripun menangis memutari labirin.


"Sayang, anak kita kemana? Kok aku cari di kamarnya tidak ada?"

Kiyoshi, dulunya Miyaji Kiyoshi sekarang menjadi Takao Kiyoshi, sang ratu kerajaan Shutoku, bertanya kepada sang raja, Takao Taisuke.

"Kamu tanya aku, aku tanya siapa, sayang?" jawab Taisuke.

"Tanya pada rumput yang bergoyang."

Mata Taisuke berputar jengah. Tidak ibu, tidak anak, sama-sama gila.

"Kau sudah tanya pada para pengawal?"

Kiyoshi mengangguk lesu, "Sudah. Kata Kimura Shinsuke dia tidak ada dimana-mana."

Namun tiba-tiba saat Taisuke akan membuka mulut, Kazunari datang sambil menangis tersedu-sedu. Kiyoshi tersentak. Taisuke tersentak.

"Huweeeee mamaaaa! Kenapa tidak ada yang mencari Kazunari? Huweee.." Ia menangis seperti anak kecil. Mengucek-ngucek matanya. Kiyoshi terenyuh dibuatnya. Entah kenapa.

"Sini sayang. Duduk di pangkuan mama." Kazunari menurut. Ia berjalan dan duduk dengan brutal di pangkuan mamanya.

"Ugh! Berapa berat kamu sayang?"

"Lima ton. Huweee.. Mama menghina Kazunari, ya?"

Dengan senyum penuh keibuan, Kiyoshi membelai rambut anaknya, "Tidak, sayang. Mama kan hanya bertanya dan kami sudah mencarimu, tapi tidak ketemu. Memangnya kamu kemana tadi?"

Kazunari masih terisak, "Tadi Kazunari tersesat di labirin dan tak tahu arah jalan pulang. Hukss.."

Kiyoshi dan Taisuke sweatdrop. Tak luput para pengawal yang berada di ruangan itu ikut facepalm.

"Mungkin efek jomblo."

Walau pelan tetap saja terdengar papanya berbicara seperti itu. Kazunari mendelik ke sang papa. "Papa! Seperti ini papa memperlakukan anak sendiri?"

Taisuke menghela napas. Kiyoshi menenangkan. Mungkin memang sudah kodratnya seorang ibu untuk menjadi pelipur lara :")

"Sudah. Jangan hiraukan ucapan papamu meski itu benar juga, sih."

"MAAAMA JAHAT!"

Kiyoshipun gagal menjadi ibu yang baik :"


Setelah bebas dari kegalauan sebagai anak tak dianggap. Kazunari membuka laptop. Dia baru selesai mandi. Masih topless dan cuma memakai handuk yang melingkar di pinggulnya. Menampakkan perut sixpack yang wow-ingat-puasa. Teman-temannya sudah pada offline setelah pertempuran antara pangeran Seirin dan Kaijo ditambah Rakuzan yang jadi kompor.

"Dasar Reo-nee jomblo hina bisanya jadi pengganggu saja." Kazunari geleng-geleng dengan gaya elegan, dewasa, dan tampan. Ia men-scroll chatlog demi menemukan pembicaraan normal dan BINGO!

reochan06 : ketemuan di cafe maji hari minggu kuturut ayah kekota pukul 03.39 pm ("Kenapa nanggung sekali harus menit ke-39, ckckck"). sampai ketemu di sana kawan-kawancuu. aku sayang kalian muaah muaah terutama buat shun-chan dobel muah buat kamuh :*

Dan Kazunari tak melanjutkan ke bawah karena tahu isinya sudah pasti kekalapan Yoshitaka yang tak terima kekasih hatinya diganjeni banci Rakuzan.

"Hmm, Minggu, ya?" Kazunari mengusap-usap dagu. Berpikir, "Bolehlah. Daripada diajak mama ke kebun nanasnya Paman Kimura." Kazunari memutuskan.


Sinar mentari pagi menerobos masuk celah jendela gudang, loteng tepatnya. Membuat sosok hijau di dalam sana menggeliat tak nyaman dengan kening berkerut risih.

"Engh~"

Belum sempat ia tersadar sebuah suara melengking memecahkan seluruh kaca jendela rumah.

"MIDORIMACCHI~ BANGUUUUUUUUN~"

Terpaksa setengah hati sekali Shintarō bangkit dari jas hujan milik Atsushi yang sudah jebol dan ia pakai sebagai alas tidur.

"Tsk! Cabe berisik nanodayo."

Tangan Shintarō meraba-raba lantai loteng mencari kacamata. Saat ia menyentuh sesuatu yang lembut, berbulu, matanya yang minus empat mendadak sembuh sekilas.

"AAAARGH! TIKUUUS! JIJIIIIK! TOU-SAN TOLONG AKU ADA TIKUS! IYUH HEWAN PENGERAT IYUH JIJIK IYUH!"

Ternyata Shintarō juga masuk ke dalam katagori remaja alay.

Derap langkah menambah kegaduhan rumah mungil itu. Dengan jahat Seijūrō muncul dan membanting pintu loteng diikuti anak-anaknya yang masih memakai piyama.

"Shintarō! Kau mendapat hukuman karena merusak suasana pagi ceria!"

"T-tapi R-Ryōta juga b-berisik, madam." Dengan gagap ia protes.

"Ryōta itu pengecualian. Suaranya bagaikan harpa surga. Kau mengerti? Cepat mandikan Ryōta dan Tetsuya, Shintarō." titah Seijūrō.

Dengan berat hati Shintarō yang tengah kolab buru-buru meraih kacamatanya dan turun. Padahal dia sendiri belum mandi malah disuruh memandikan anak orang. Lagipula mereka kan sudah besar. Wajah manis nan judes Shintarō memerah mengingat pengalaman pertamanya memandikan duo Nijimura teme.

"Apa yang aku pikirkan nanodayo?"

"Midorimacchi, cepat ssu!"

"Midorima-kun. Aku mau shampo aroma vanilla."

"Kalau aku aroma lemon ssu."

Dengan jengah Shintarō menuruti permintaan duo Nijimura teme itu.

"Bukan baju kalian." perintah Shintarō dengan wajah bersemu.

Bibir pink Ryōta mengerucut, "Kamu berani memerintah kami ssu? Kuadukan mamih Sei, lho."

"Benar (adukan mamih Sei)."

"Lalu?" Tanya Shintarō.

Ryōta tersenyum, "Bukakan pakaian kami ssu."

Hampir saja Shintarō terbang tinggi ke atas awan, menembus langit dan bertemu bidadari-bidadari Kerosuke di kahyangan.

"Tapi jangan tuduh aku akan memperkosa kalian lagi."

Ryōta dan Tetsuya saling pandang.

"B-bukannya aku takut pada kalian nanodayo."

'Tapi aku takut pada mamih kalian, hiks~' batin Shintarō menangis pilu.

Duo Nijimura mengangguk.

"Baik. Kali ini kami akan turuti kamu ssu." Ryōta menepuk pundak Shintarō dengan senyuman mataharinya.

"Tapi jangan harap untuk yang kedua kali, Midorima-kun." tambah Tetsuya dengan tenang tapi brengsek sekali nadanya. Shintarō terpaksa mengurut dada.

'Sabar, Shintarō. Kau anak baik dan bukan tsundere.' batinnya muka dua.

"Cepat ssu. Midorimacchi gosok punggungku ssu." Ryōta menyodorkan sebuah puff kuning dan diterima oleh Shintarō. Menuangkan sabun mandi cair beraroma lemon. Ingin rasanya Shintarō mengganti sabun mandi itu dengan sabun cuci piring. Kalau perlu sabun cuci motor sekalian biar okeh.

"Midorima-kun. Rambutku." Shintarō menoleh ke Tetsuya yang berkata barusan. Ia memperhatikan pemuda biru datar itu dari atas sampai sebatas perut. Pamali kalau diteruskan ke bawah katanya.

"Kau mau aku melakukan apa nanodayo?"

"Dishampoin, Midorima-kun."

"Aku pikir digundulin nanodayo."

"Midorimacchi hidoi ssu! Aku aduin mamih, lho."

"Adukan saja, Ryōta-kun."

Sebenarnya Shintarō panik bukan kepalang, tapi tentu saja tidak ia tunjukan karena julukannya Tsunderella. Ia hanya membetulkan kacamata dengan gerakan tenang meski tangannya bergetar. "Aku tidak peduli nanodayo."

Mata Ryōta membulat, "Hoo jadi kamu berani menantang kami ssu?"

"Benar. Kamu menantang kami, Midorima-kun?"

Shintarō berdehem, "Tidak. Tak ada gunanya aku menantang kalian berdua nanodayo."

"Baiklah! MAM-UMPH!"

Dengan cepat Shintarō membekap mulut besar Ryōta sedangkan Tetsuya hanya melebarkan mata.

"Berisik nanodayo. Dan kau, Tetsuya, pilih aku shampoin atau tidak?"

"Dishampoin, Midorima-kun."

Senyum tipis tersungging di bibir Shintarō, "Bagus. Jadi jangan ikutan mengadu nanodayo."

Dan selanjutnya pekerjaan menumpuk yang diberikan sang ibu tiri terus menunggu. Bergiliran dan teratur Shintarō mengerjakannya. Di awal memang sangat berat hati namun karena dasarnya dia baik hati dan tidak tsundere, akhirnya Shintarō menjalani nasibnya sebagai pembantu sekaligus babysitter duo Nijimura teme dengan lapang dada meski sering makan ati. Lelah, letih pasti ia rasakan. Namun ia teringat akan perjuangan sang tou-san yang pasti jauh lebih lelah dan meletihkan di negeri seberang (meski kenyataannya pekerjaan Atsushi hanya makan dan makan).

Kini Shintarō sedang menangis di loteng. Selapang dadanya dia tetap saja ada rasa kecewa yang menggelayuti. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara meski isakan sering lolos dari bibir tipisnya. Ia meringkuk seorang diri di pojokan loteng. Mengusap air mata dengan lengan kaosnya yang kumal.

"Hiks.. Tou-san kapan kau pulang nanodayo? A-aku rindu hikss.. Aku tidak tahan.. Hiks.. Dengan mereka nanodayo. Mereka jahat, kejam, tak berperikemanusiaan dan bodoh nanodayo.. Hiks.."

Shintarō meratapi nasib. Sinar bulan menyinari sosoknya yang kini perlahan merosot. Terbaring menyamping memeluk lutut. Ia terus bergumam.

"Tou-san.. Cepat pulang.. Hiks.."

Dan satu tetes bening air mata Shintarō jatuh dari sudut matanya yang indah (pret!).

Tamat.


"Kaa-chan seriusan itu ceritanya tamat sampai situ aja?"

"Memangnya kenapa?"

"Mau Shinka lempar ke ring basket?"

"Enggak, sayang."

"Lanjutin."

"Iya bentar, kaa-san mau pipis dulu."

"Jangan lama-lama."

"Iye."

Takao menutup pintu kamar anaknya, "Buset dah itu anak makin mirip Shin-chan."

Lalu ngacir ke toilet.

.

.

.

To Be Continue


Yah seperti itulah :")

RnR nanodayo *cling*

SHARARA GOES ON!