PokeSpe High!

Disclaimer: Pokemon Special (c) Hidenori Kusaka, Mato, Yamamoto Satoshi

Chapter 2. Disguise

.

.

.

"Kira-kira siapa teman sekamarku tahun ini?" Itu adalah hal pertama yang kupikirkan saat menginjakkan kaki di kamar asramaku.

Halo, namaku White Peterson. Ini adalah tahun keempat bagiku untuk belajar di Special High. Aku kini duduk di kelas satu tingkat senior. Aku menempati asrama nomor 9 tahun ini, di kamar nomor 204A. kalau dilihat saat ini, penampilanku adalah typical nerd yang ada di sekolah-sekolah, dengan kacamata besar dan rambut coklat panjang yang kukepang dua. Aku memakai sweater berwarna coklat sebagai pengganti vest dan jas yang seharusnya dikenakan para siswa.

Alasan aku berpenampilan seperti itu? Karena di sekolah ini dilarang melakukan pekerjaan diluar sekolah, kecuali beberapa pekerjaan tertentu yang tertera dalam peraturan sekolah. Aku adalah pemilik sekaligus manajer dari BW Agency, agensi yang menyiapkan model untuk majalah dan sebagainya, baik manusia maupun pokemon. Aku juga terkadang membantu beberapa event sebagai pencetus ide ataupun membantu persiapannya. Tapi karena aku ingin lulus di sekolah terbaik dan sekaligus mengejar impianku mulai dari sekarang, aku menggunakan nama samaran saat bekerja. Mereka biasanya memanggilku 'Hilda'. Untuk masalah legalisasi, karena itu sementara aku sama sekali tidak menandatangani kontrak apapun, karena nama yang sebenarnya kugunakan agar aku bisa mendapat sertifikat dari sekolah atas nama asliku.

Aku melakukan pekerjaan ini semenjak aku duduk di kelas dua di tingkat junior dan berhasil menyembunyikan identitasku hingga saat ini. Meskipun agensiku masih tergolong kecil, tapi itu sudah cukup berkembang.

Aku tetap menggunakan samaranku meski di asrama, karena tentu saja aku tidak bisa percaya pada teman sekamarku, sebaik apapun orangnya. Kalau aku ketahuan melakukan pekerjaan seperti ini, aku bisa kena peringatan dari sekolah dan harus berhenti dari pekerjaanku sementara, atau lebih parahnya aku akan langsung diberhentikan. Tidak mudah untuk masuk ke Special High, karena itu aku tidak boleh mengambil resiko.

Menunggu sampai waktu kelas pertama di mulai, yang masih sekitar dua jam lagi, aku membenahi barang-barangku dan mengecek jadwal. Ditengah-tengah itu, teman sekamarku datang, namanya Bianca Bell. Gadis periang berambut pirang yang dipotong dengan model bob menghiasi wajahnya yang manis. Mata hijau emerald yang berbinar-binar saat memasuki kamar dan menatap tepat ke arahku.

"Hai hai~ Aku Bianca Bell! Panggil aku Bianca saja. Jadi kita akan menjadi teman sekamar tahun ini, ya? Mohon bantuannya!" sambut si gadis pirang tadi.

Aku membalas lambaian tangannya dan memperkenalkan diri, tapi sebenarnya, aku sudah mengetahui gadis ini sebelum ia memperkenalkan diri. Gadis yang kini mengenakan kemeja putih, vest hitam, rok seragam, dan pita merah ini adalah asisten dari professor yang ada di Unova, Profesor Juniper. Dari mana aku mengetahuinya? Selain ada data murid di sekolah, aku juga berasal dari Unova. Terkadang para Trainer dari Unova akan membicarakan tentang gadis ini di daerah asalku itu.

Di samping gadis itu berdiri osawott. Pokemon tipe air yang berasal dari Unova. Osawott itu mulai mendekati dan berbicara pada Bubu-chan, tepig milikku.

Sekolah ini memang diperuntukkan untuk para trainer juga, tapi seperti yang sudah kalian ketahui, tidak semua orang memang masuk ke sini untuk tujuan itu. Maka dari itu, sekolah dengan bijaknya menjadikan pelajaran tentang pokemon sebagai pelajaran optional. Maksudnya, selain pelajaran wajib seperti matematika, sejarah, dan sebagainya, kita juga harus memilih pelajaran tambahan. Dua dari delapan yang tersedia. lima diantaranya adalah pelajaran mengenai pokemon, jadi mungkin bagi yang benar-benar tidak berminat, mereka bisa mengikuti tiga sisanya. Aku memilih pelajaran Pokemon Basic Knowledge dan Pokemon Training. Hari jumat adalah hari khusus untuk pelajaran optional, sementara sabtu dan minggu adalah hari libur. Sekolah kami sendiri di mulai pukul delapan pagi hingga empat sore, kecuali hari jumat, yang hanya berjalan hingga jam satu siang.

Selagi terfokus pada pikiran sendiri, Bianca menyadarkan lamunanku dan mengajakku mulai berjalan ke sekolah. Tinggal satu jam lagi sebelum pelajaran di mulai dan dengan bus kami bisa menempuh perjalanan sekitar lima belas menit. Itupun kalau busnya tidak penuh.

.

Sesuai dugaan, bus yang mengangkut para siswa sudah mulai penuh. Aku malas berdesak-desakan, jadi aku memilih untuk berjalan, mungkin akan sampai tepat waktu. Bianca terpaksa berdesakkan dalam bus itu karena ia memang harus mengurus surat ijin untuk tahun ini. Surat ijin apa? Bahwa dia masih bekerja di bawah Lab. Profesor Juniper dan bisa dipanggil kapanpun saat keadaan mendesak. Aku menolak halus ajakan untuk ikut naik bus tersebut.

Aku menikmati pemandangan yang memang menyejukkan selama perjalanan. Meski matahari sudah ada di puncak, tetap saja pohon-pohon yang rindang meneduhkan jalanan. Angin sejuk bertiup tapi tidak menusuk tubuh. Asrama-asrama tidak saling berdekatan sehingga lingkungan masih terasa sangat alami. Melewati asrama-asrama anak kelas dasar yang dipenuhi tawa anak-anak yang bermain di taman, atau yang mulai berjalan bergerombolan dengan teman-temannya menuju sekolah juga memecah kesunyian jadi tidak terlalu sepi.

Berjalan kaki sekitar sepuluh menit dari asrama pertama, dan melewati danau buatan dengan jembatan bata putih yang membentang, sampailah di pertokoan. Toko itu tidak seperti pertokoan yang ada di kota, lebih sepi dan tenang. Ada minimarket kecil, toko peralatan sekolah, poke-mart, beberapa toko baju, sebuah cafe, dan tiga restoran kecil. Tidak lupa ada satu bus stop berdiri tegak di depan poke-mart.

Aku melanjutkan perjalanan sambil melihat jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 12.30. aku memutuskan berjalan sedikit lebih cepat, tidak mau untuk telat di hari pertama sekolah.

Sampai di sekolah, jam sudah menunjukkan pukul 12.45, aku segera menuju lokerku untuk berganti sepatu dalam. Sekolah ini sendiri terbagi dalam dua bangunan utama, yang satu tentunya lebih kecil. Dari arah gerbang, di sebelah kiri adalah gedung untuk anak-anak sekolah dasar dari kelas satu sampai enam dan bertingkat tiga. Anak-anak kelas satu dan dua masih belum menempati asrama.

Dan tepat nol derajat dari gerbang adalah gedung untuk para junior dan senior yang terdiri dari empat lantai. Kedua gedung ini dihubungkan oleh satu lorong kecil yang terbuka. Di belakang gedung sekolah terdapat lapangan-lapangan olahraga yang dibutuhkan kegiatan ekstrakulikuler dan satu stadium Pokemon Battle dan Contest.

Aku langsung menuju lantai tiga, dimana homeroom para anak-anak senior berada. Tapi saat aku mau berbelok ke arah kelasku, aku mendengar suara yang familiar.

"sayang kita tidak sekelas lagi. Sampai nanti, Black!"

"Ya, sampai nanti sepulang sekolah!" balas suara familiar itu.

Itu Black Torres! Dia memang muncul di beberapa majalah, tapi bukan itu masalahnya! Aku tidak tau dia juga bersekolah di sini, dan dia adalah salah satu model dari agensiku! Apa dia baru masuk tahun ini atau memang kami tidak pernah bertemu? Tapi peraturan sekolah? Aku panik karena mendapati dia berjalan ke arahku. Meski dalam penyamaran, aku tidak bisa menyembunyikan kepanikkanku saat tau orang yang bekerja padaku akan satu sekolah denganku. Bodohnya aku tidak pernah membaca lengkap profil tentang modelku sendiri. Akan kupastikan nanti saat aku pergi ke kantor.

Aku bernafas lega saat ia tanpa menyadari keberadaanku dibalik tembok terus berjalan lurus. Aku hanya berharap dia tidak sekelas denganku. Ini akan makin sulit, karena saat di kantor kami memang sering bersama, paling tidak lama-lama dia akan menyadari diriku. Apa aku harus ganti wig atau penampilan yang lebih meyakinkan? Tapi teman-teman dari Special High akan merasa aneh. Aku memang tidak terlalu dekat dengan orang-orang takut rahasia ketahuan, tapi tetap saja aku bukan si invisible girl yang sama sekali tidak kelihatan! Apalagi jumlah siswa dalam satu kelas tidak begitu banyak.

Saat aku berpikir tadi, aku memutuskan untuk menyandar pada dinding tadi, menunggu Black hilang sepenuhnya, jadi saat aku sudah yakin dia sudah masuk kelas atau menghilang dari lorong, aku menegakkan tubuh dan mulai berjalan, tapi...

Sialnya aku malah hampir bertabrakan dengan Black, ntah kenapa dia muncul kembali dari tikungan dan membuatku yang sedang membawa beberapa buku dan kertas berusaha menghindar dan terjatuh terduduk. Kacamataku dan bawaanku tergeletak di sana-sini sementara Black hanya tersungkur di hadapanku. Cepat-cepat aku memungut kacamataku dan mengenakannya.

Tapi setelah membereskan barang-barangku yang berserakan, Black tidak juga menunjukkan tanda-tanda gerakkan. Aku mulai menusuk-nusuk kepalanya dengan jariku. Beberapa saat tidak ada reaksi, tabi tiba-tiba tangannya memegang tangan yang menusuk-nusuk kepalanya tadi.

"Hiiiii!" aku terkejut dan berusaha mundur tapi tangannya memegang tanganku dengan kencang sehingga aku tidak bisa mundur.

"hmmmmm sebentar..." sepertinya dia sadar. Tangannya mulai bergerak, tapi kepalanya tetap berada di lantai. Beberapa saat kemudian dia baru mengangkat tubuhnya untuk berusaha bangun. Tanganku masih tetap dalam genggamannya.

Kepalanya mulai mengangkat dan menatap tepat ke arahku, aku menelan ludah dan berusaha mundur. Tapi sekali lagi, tidak bisa.

"hm? Oh. Maaf, aku refleks menahan orang yang menusuk-nusuk kepalaku tadi." Katanya sambil tertawa,

"t-tidak apa-apa, aku yang salah." Jawabku pelan,

"tidak, kau membangunkanku! Bagaimana bisa aku tidur tadi? Pekerjaan kemarin benar-benar menyita waktu tidurku!"

Dia tidur? Hebat...

"pekerjaan?" yah, memang kemaren ada pekerjaan untuknya, tapi karena hari ini sekolah, aku pamit terlebih dahulu, tapi memangnya sampai selarut apa?

"ya, hm...kau tau aku? Kadang aku muncul sebagai m-model," katanya sambil sedikit tersipu. Jadi dia masih malu menganggap dirinya model? Dan kupikir dia sudah percaya diri, ternyata belum terlalu.

"oh," hanya itu yang bisa keluar dari mulutku sambil sedikit tersenyum, tapi tiba-tiba ia menatap dengan lekat,

"kau...familiar." katanya serius. Aku panik,

"masa? Kita sepertinya baru bertemu! Ngomong-ngomong, kita sudah telat...bye!" aku segera pergi ke arah kelasku berada, tidak memperdulikan dirinya sedikitpun.

Uh-oh...semoga saja dia akan melupakanku!

.

.

.

Review please~ :D review sebagai penambah semangat bagi para author