White Snow, Sweet Blood

Disclaimer :
Rise Of The Guardian isn't mine

.

.

Warning :
Typo(s), Possibly Character Death, Hint PitchJack/BunnyJack/JackElsa(?), Possibly Xover, DLL.

Don't Like, Don't Read!


Author POV

Putih.

Itulah yang dilihat Jack.

Sejauh apapun dia melangkah di kutub sana, sebisa mungkin dirinya tidak meninggalkan jejak kaki. Cara lebih cepat adalah terbang, tapi tidak. Dia hanya akan membuat badai salju, berkat emosinya.

Mengingat 'badai salju' membuat dadanya kembali sakit.

Sungguh, dia benar-benar tidak sengaja. Tragedi itu diluar batas pengendaliannya.

Ya.

Hari ini adalah hari natal.

Bertepatan dengan saatnya badai salju turun.

_**–sometimes sacrifice it's the only way to find an eternal happiness–**_

Flashback

"JACK FROST! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN, BOCAH!?"

Teriakan marah North menyudutkan rasa takut Jack. Di luar, badai salju turun di perkotaan, membuat banyak korban berjatuhan.

Dan ironisnya, kebanyakan adalah para anak-anak penunggu setia natal.

"Jack Frost! Kesini kau, mate!"

Tidaktidaktidak–Ini bukan kesalahannya! Mother Nature yang membuatnya!

"Ha, ketemu kau!"

Dengan geram–lebih tepatnya marah besar, dalam opini Jack–Bunny menggembang kerah hoodie-nya. "Katakan, apa yang kau rencanakan, bocah!? Kau tahu hari ini natal, dan lihat. BADAI SALJU! BANYAK ANAK-ANAK TERLUKA!"

Bunny terlalu malu untuk mengatakannya, tapi dia sangat peduli dengan acara-acara yang menyangkut keberadaan satu timnya. Ditambah saat mendengar para anak-anak terluka. Andaikan saja itu ulah orang lain, sudah disematkan boomerang kesayangannya ke jantung mereka.

Jack menoleh ke arah lain–takut. Bagaimana kalau dia bilang ini bukan ulahnya? Tapi tidak mungkin dia mengadukan Mother Nature ke mereka. Tidak, terima kasih.

"Um… Jadi… …Aku… tidak… sengaja… Ahahaha–"

Buaagh!

"Leave. Now."

Pemuda berambut putih itu memegangi pipinya yang sakit. "Wa-wa-wait! Kecelakaan itu–"

Tooth menghembuskan napasnya berat. "Seharusnya… kita memang tidak terlalu percaya denganmu, Jack."

"…What?"

North memalingkan wajahnya. "Aku setuju dengan Tooth dan Bunny. Kau hanya mengulang saat paskah waktu itu, Jack Frost."

Sandman yang tidak terlalu tahu dengan 'paskah waktu itu', hanya menaikkan alisnya. Tapi dia tetap menunjukkan bahwa dirinya kecewa dengan Jack.

Jack panik melihat ekspresi para Guardians. "Aku bisa jelaskan–"

"Stop, Jack. Kau memang tidak pantas dipercaya oleh anak-anak."

Kalimat itu bagaikan palu yang menghancurkan permata. Dengan cepat, Jack memakai hoodie-nya kemudian melesat pergi meninggalkan mereka. Iris blue snowflake-nya memancarkan rasa sakit yang mendalam.

'Please, hear my voice!'

Flashback End

_**–Even water can understand human's feeling. But why you can't?–**_

Tes.

Tes. Tes. Tes.

Jack menghapus bulir air yang terus-menerus jatuh. Sesak. Jauh lebih sesak dibandingkan 300 tahun sendiri.

"Oh, my."

Suara yang sangat familiar. Pemuda immortal itu terperanjat melihat sesosok jiwa dari kegelapan dan mimpi buruk. Lelaki itu tersenyum misterius.

"Pitch! Apa yang kau inginkan, heh!?"

Sang Boogeyman tertawa pelan. "Menurutmu apa, Jack Frost? Lihatlah dirimu. Sebuah permata tak tersentuh yang telah dibuang. Menyedihkan sekali, melihat orang sepertimu, terbuang sia-sia."

Jack meringis seraya mengambil posisi bertarung. Walau itu hanyalah pengundang rasa prihatin, melihat air mukanya yang pucat. "Itu bukan urusanmu!"

"Bukan urusanmu?" Pitch memiringkan kepalanya pelan. "Kau benar-benar polos, bocah. Tidak heran dirimu tidak disadari eksistensinya dalam 300 tahun lebih. Dirimu, bukan hanya seorang spirit. Status sebagai 'children' pun kau sandang."

"Hentikan!" Jack menutup telinganya rapat-rapat. "Ya! Semuanya salahku, dan aku memang pembuat masalah! Puas!? Just shut up, please!" Pintanya frustasi.

Dia telah membuat banyak orang terluka. Para Guardians membencinya. Kekuatannya hanya membuat kecelakaan.

Cukup.

Tersenyum kecut, Pitch menyodorkan tangannya. "Begabung denganku, Jack Frost. Kau bisa menunjukkan kekuatanmu kepada semua orang, termasuk guardians. Kita bisa membuat manusia percaya dengan kita, selamanya. Dan tentu, semua dendam dan kekecewaanmu akan terbalas. Bagaimana?" Tawarnya.

Jack menatapnya tajam. "Sudah kubilang, Boogeyman. Aku tidak akan, dan tidak mau membuat anak-anak takut denganku. Lebih baik mereka tidak melihatku, dibandingkan melihat ekspresi ketakutan mereka!" Hardiknya.

Sang jiwa pembawa mimpi buruk terdiam sesaat sebelum tertawa keras. "Hahaha… Ya… Hahaha! LUAR BIASA!" Dia melangkah mendekati Jack, dan mengelus pipinya pelan. "Permata yang sungguh indah… Ironis sekali, didalamnya sudah rapuh…"

Jack hanya bisa bergeming saat Pitch menyentuh pipinya. Otaknya terus meminta untuk menepisnya, namun hatinya menolak. 'What should I do?'

Matanya terbelalak melihat nightmare's sand yang mengelilinginya. Spontan, dia memukul tangan lelaki itu dan mundur ketakutan. "Sampai kapan pun, aku tidak akan menjadi rekanmu, manusia pengumpul daki!"

Pitch memandangi tangannya yang sedikit membeku dengan geram. "Bocah salju yang tidak tahu cara berterimakasih…," Pasir-pasir itu berubah menjadi tombak dan kuda kegelapan. "DIE!"

"In your dream, cross-dresser!"

Salju melawan kegelapan. Kesenangan melawan mimpi buruk. Mereka berdua bertarung dengan sengit, tanpa peduli dinginnya kutub utara. Jack yang tidak ingin membuat para guardians panik, berusaha menutupi keberadaan keduanya dengan badai salju. Sayang, hal itu segera disadari oleh Pitch.

Secara diam-diam Pitch membuat tombak di belakang Jack. Membuat badai salju sekaligus bertarung, sungguh menguras pikiran dan tenaga Jack. Dia berani bertaruh Jack tidak akan sadar dengan keberadaan tombak dibelakangnya.

Lelaki itu tersenyum. "Sleep well, Spirit of Winter."

"Eh?"

JLEB!


Meanwhile, in North Pole

Para yeti yang sedari tadi hanya melihat insiden tersebut, merengut saat melihat globe. Aneh, cahaya-cahayanya sama sekali tidak berkurang, malah terus bertambah. Bahkan beberapa titik yang diketahui tempat para anak-anak terluka, masih tetap bersinar.

Apa mungkin, karena insiden tersebut, keberadaan hadiah natal, membuat para anak-anak semakin percaya dengan mereka?

Bunny, berusaha menenangkan hatinya yang masih meluap-luap. Jack Frost hanya pembuat ulah! Tidak mungkin dirinya peduli dengan anak-anak! Itu benar… kan?

Menyebalkan. Hatinya terus berkata lain.

North merasakan sebuah masalah. Bukan masalah yang biasa, sepertinya. Tapi tidak hanya perut yang merasakan, feeling-nya juga.

Tooth terus terbang mengelilingi North Pole dengan panik. Sesekali, dia menoleh ke jendela, berharap bisa menemukan Jack. Dia sangat merasa bersalah saat melihat mata pemuda itu. Lagi-lagi, mereka membuat dirinya sakit hati.

Sandman, yang clueless dengan hal 'Paskah waktu itu', melihat ke bulan, sebelum mengernyitkan dahinya. Hari ini sinar bulan begitu aneh, tidak seperti biasanya. Salah satu sinarnya jatuh di jendela, membentuk sebuah bayangan.

Sebuah snowflake, yang perlahan hancur dalam kegelapan.

Sang pembawa mimpi indah terperanjat.

Jack dalam bahaya.


"…Kh-…!"

'It's… hurt... Why… feels… nice…?'

Pandangannya mengabur. Sang pembawa musim salju merasakan tubuhnya hancur, secara perlahan. Dadanya sakit, terlalu sakit–terlebih punggungnya. Di saat yang sama, ada perasaan lega didalam hatinya.

Protect everyone.

Jack memegang tongkatnya erat. Pandangannya menajam, berusaha mengumpulkan seluruh kekuatannya. Pasir-pasir disekelilingnya mulai membeku, mengambil efek dari tubuhnya.

"Kuh–HYAAAAAH!"

Dalam satu hentakan, seluruh–ya, seluruh nightmare's sand berubah menjadi butiran es, tanpa sedikitpun kegelapan. Tidak hanya itu, serangan Jack terus merambat hingga ke Pitch. Karena lengah, dirinya tidak bisa membendung kekuaran ini.

"WHY!? This power–AAARRGHHHHHH!"

Dreams.

Wonder.

Memories.

Hope.

Fun.

Semua menjadi satu, dalam sebuah butiran es. Dalam sebuah kekuatan, dari sang Spirit of Winter, Guardian of Fun.

Jack tersenyum lemah melihat 'karya'nya. Kembali, Pitch Black termakan oleh kekuatannya sendiri. Dia membiarkan tubuhnya jatuh, perlahan hancur dan bersatu dengan salju. Memang tidak ada kegelapan dalam tubuhnya, tapi dirinya sudah terluka terlalu parah.

Tes.

Tes. Tes. Tes.

Air matanya terus-terusan berjatuhan, tanpa dia hapus. Sebuah senyum terukir di wajahnya, mengingat kenangan bersama dengan Big Four dan lainnya.

Keluarganya.

"Thanks… and sorry… everyone…"

'Heh. Maybe Jamie, and everyone will never forgive me, or… they'll just hurt?'


"Jack!"

"Oi, mate!"

"Jack–!?"

Sandman yang pertama kali tiba. Sejak dia melihat pertanda itu, tanpa banyak basa-basi dia melesat keluar, mengikuti arah cahaya bulan. Sedangkan yang lain, segera sadar dan mengikuti Sandman.

Sandman–atau Sandy, terbujur kaku melihat pemandangan didepannya. Tooth segera datang menghampiri, diikuti Bunny dan North. Mereka tidak dapat percaya dengan hal yang ada didepannya.

Jack Frost, sang Spirit of Winter, sekaligus Guardian of Fun, terlihat 'tertidur pulas' diantara tumpukan salju. Mungkin hanya terlihat tertidur, apabila mereka tidak melihat beberapa nightmare's sand yang bertebaran, beserta butiran-butiran es.

"…Jack?"

Sandman memegang salah satu butir esnya. Hangat, dan menenangkan. Cukup membuat dia terkejut. Kekuatan yang sangat hebat, untuk seorang spirit sepertinya.

Bunny jatuh terduduk, memegang pelan kepala Jack. Melihat senyumannya, hanya membuat hatinya semakin hancur. Di belakangnya, Tooth hanya bisa menangis bersama Baby Tooth, sangat menyesali perbuatannya.

North mengelus pelan bekas pertarungan antara Jack dan Pitch, sebelum menutup matanya pelan. Seorang diri, dia melawan Pitch demi mereka. Tidak peduli dengan perasaannya sendiri.

Cahaya bulan menyinari mereka berempat, seakan-akan kecewa dengan perbuatan sang Big Four. Secara perlahan, cahaya bulan itu membuat tubuh Jack bersinar pelan dan menghilang, bersatu dengan angin. North, yang langsung mengerti perbuatan itu, hanya bisa mengangguk pasrah.

"Yeah. Inilah takdir dirinya…"

Tooth mendongak ke bulan, masih penuh dengan air mata. "…Sebagai seorang…"

"…The True Guardian…" Bisik Bunny dengan telinga turun, mengelus tongkat Jack sedih.

Tahun XXXX, pada saat natal.

Natal, yang membawa kesedihan mendalam.

Untuk sementara.


"Jack?"

Pemuda berambut putih menoleh ke belakang. "Oh, hey, Elsa."

Elsa, The Queen of Arendelle memegang bahu Jack khawatir. "Kau tidak apa-apa?" Tanyanya pelan.

Lelaki yang dipanggil Jack itu menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Hanya mengingat masa lalu…"

"Masa lalu? Maksudmu–"

"Oiii! Jack! Elsa! Cepat kemari! Bisa-bisa makanan kalian dihabiskan oleh Toothless!"

Teriakan seseorang memotong perkataannya. Jack, tertawa sambil balas berteriak,"Okay, Hiccup! Kita akan segera kesana!"

Elsa hanya tersenyum kecil melihat kelakuan kekasihnya itu. "Hei, Jack. Kurasa kau harus mengunjungi mereka."

Jack terdiam sebelum tersenyum kecil. "Ya. Lagipula itu adalah 'keluarga'ku juga. It is true, My Queen?" Uluran tangannya disambut oleh Elsa.

"Yeah."

"C'mon, sna'flake!"

"Merida, for love of–english please!"

Tahun XXXX, musim salju.

Sebuah kebahagiaan terpancar dari sebuah kerajaan.

Dan sebentar lagi, kebahagiaan natal akan tiba.

An eternal happiness.


Hajimemashita! Watashiwa Miyuki desu, yoroshiku onegaishimasu~!

Sudah lama sekali daku kepengen bikin fic angst kayak gini :3

Idenya baru dapet kemarin, tadi siang baru bikin bahannya, malamnya langsung ngebut bikin fic-nya XD /kauini

Saa ne~

REVIEW, ONEGAI?