Disclaimer : Masashi Kishimoto - sensei

Warning : AU, T* untuk konflik dan tema yang digunakan. Semi-hurt. SasuHina.

Summary : Hinata dan Sasuke sama-sama terlahir dari keluarga bangsawan Uchiha dan Hyuuga. Keduanya besar dalam lingkungan bangsawan dan hidup mengikuti aturan para bangsawan. Sampai perjodohan yang direncanakan dua keluarganya mempertemukan mereka. Mengikat dua orang yang saling mencari arti dari kebebasan satu sama lain. Bedanya, Sasuke telah lebih dulu menemukan kebebasan itu dalam hidupnya. Akankah Sasuke memperkenalkan kehidupan sesungguhnya tanpa rantai bangsawan itu pada pasangan barunya? Semua itu tergantung dari bagaimana mereka menjalani kehidupannya setelah ikrar pernikahan membelenggu mereka.

.

.

.

.

Deru mobil mendayu-dayu pendengaran, tepat di hadapannya siluet-siluet emas langit terlukis dalam ketenangan pagi buta. Aspal hitam terpaku diam merasakan dingin menguar dari mobil yang membawanya. Hawanya dingin dan tidak menyenangkan, berbeda dengan suasana di mobil-mobil keluarga pada umumnya.

Ia melirik sang ayah yang duduk tenang di samping kanannya. Sebagai kepala keluarga Hyuuga, Hiashi selalu tenang setiap kali berhadapan dengan masalah. Apa pun bentuk masalah itu. Seperti halnya hari ini, ketika dengan berat hati Tou-samanya harus melepaskan puterinya ini ke pangkuan lelaki lain. Ya benar. Setelah mewanti-wanti sejak seminggu yang lalu, saat pertama kali keluarga 'calon suami'nya datang menjemput ia di acara wisudanya. Ini adalah hari penentuan itu. Hari di mana ikatan dirinya dengan sang ayah akan merenggang dengan terjalinnya ikatan baru yang lebih kuat dan tegas. Itulah ikatan pernikahan. Dan inilah, perjodohan antara dua keluarga yang hendak mempererat hubungan keluarga. Hari ini. Tou-samanya, mengantar Hyuuga Hinata menjemput ikatan suci itu. Mungkin ini adalah awal dari penjara hidup yang selama ini sudah ia persiapkan.

Sebagai satu-satunya puteri Hyuuga, Hinata tak memiliki kebebasan seperti yang dimiliki kakaknya. Semua yang ia jalani, segala yang dirinya lakukan, adalah skenario terstruktur dari keluarganya. Seperti melakukan syuting opera, semuanya palsu. Tak ada kejujuran. Ia diajarkan perilaku sebagai bangsawan, diperintahkan sekolah di tempat yang sudah di tentukan dan mengambil jurusan yang sudah ditentukan. Hingga ia lulus, Hinata mendapati dirinya masih terkekang oleh rantai bangsawan dalam darahnya, pada akhirnya mau tak mau ia pun harus menikahi calon suami yang sudah di tentukan oleh keluarganya. Ya begitulah kejamnya takdir mengikat dirinya. Oleh karena itu, ia sudah menyadarinya, oleh sebab itu, Hinata banyak melatih hati agar tak mudah terjerumus pada perasaan tidak penting yang bisa saja menghancurkannya.

Laju mobil tak sedikit pun meragu. Melesat cepat, bahkan tak pernah Hinata merasa perjalanan jauh dari Konoha ke Suna bisa terasa secepat ini. Di belakang dan di depan mobil yang ditumpangi Hinata beserta Hiashi, beberapa mobil hitam mengiringi. Mereka adalah para penjaga yang sengaja disewa ayahnya untuk menjamin keselamatan selama perjalanan. Waktu bergerak begitu cepat, mentari telah berdiri angkuh di atas batas tombak. Mobil yang membawa mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Dapat Hinata lihat mobil silver sang kakak beserta istri dan anak tercintanya telah terparkir mendahului ia dan Hiashi. Hyuuga Neji yang melihat kedatangan mobil sang ayah dan adik segera memburu, membukakan pintu bagi sang kepala keluarga Hyuuga untuk keluar.

"Tou-sama." Ujarnya memberi salam. Hiashi hanya membalasnya dengan anggukkan dan senyuman tipis.

Sementara itu Tenten yang tengah menggendong buah hati mendekati sisi Hinata, membukakan pintu bagi adik iparnya untuk keluar.

"Biar aku saja Tenten-nee." Cegah Hinata, namun terlambat karena pintu mobil sudah terbuka lebar. "Terima kasih."

"Wah Hinata... Apakah aku harus jujur atau berbohong?" Tenten mengiringi Hinata yang berjalan menyusul Hiashi dan Neji di depan. Hinata sendiri hanya tersenyum bingung harus menjawab pertanyaan Tenten dengan apa.

"Jujur, kau sangat cantik Hinata."

Pernyataan Tenten seketika itu membentuk rona-rona samar di wajah putih sang puteri Hyuuga. Hinata mengenakan gaun pernikahan berwarna putih yang sederhana namun mewah, begitu pas dengan lekuk tubuhnya yang terbilang berisi. Rambut Hinata yang panjang digulung ke atas, disemat dengan sebuah kanzashi cantik berornament bunga lavender.

"Jangan berlebihan Tenten-nee." Ia menunduk demi menyembunyikan semburat merah di pipinya.

"Aku serius. Ayolah Hinata." Entah apa yang membuat Tenten geli bisa menggoda Hinata seperti ini. "Putera Uchiha pasti terpesona olehmu."

"Tenten-nee!" Tak dapat terelakkan wajah Hinata sudah seperti kepiting rebus rasanya, terlebih Tenten malah menyinggung soal 'calon suami'nya yang bahkan ia sendiri belum mengetahui seperti apa rupanya.

Langkah mereka sampai di depan bangunan gereja yang megah. Dua orang penjaga pintu membukakan pintu untuk Hinata dan keluarga. Terpampanglah dengan jelas puluhan kolega dan keluarga dekat Hyuuga maupun Uchiha yang datang menghadiri upacara pernikahan sederhana dua keluarga ini. Menginjak karpet merah, Hiashi menyodorkan lengannya pada Hinata, membiarkan Hinata meraih lengan itu untuk digandengnya. Kali ini dapat dilihat olehnya seorang pria dengan stelan tuxedo hitam berdiri membelakangi semua orang dari altar. Rambutnya berwarna hitam berdiri menantang bumi.

Diakah calon suamiku?

Hinata menoleh menatap sang ayah dengan wajah yang tegas menjelaskan keteguhan hatinya untuk melepaskan sang putri. Hinata dan Ayahnya terus melangkah perlahan menjajaki jalan menuju pelaminan, jantung Hinata berdegup keras namun berirama seiring detak detik pada jam besar yang menempel di dinding. Mengalunkan simfoni yang entah kenapa terasa begitu sakral. Suasana ruangan amat sunyi, hanya langkah kaki dua orang itu yang saling bersahutan mengisi udara. Begitu mendebarkan.

Hinata terperangah ketika si pria berbalik menghadap kearahnya untuk menjemput ia dari sang ayah. Garis rahangnya tegas dan dewasa, dengan mata sehitam langit malam mampu menyihir Hinata untuk terpaku membeku. Wajahnya tampan, sempurna tanpa cela. Bagaimana ini? Debar jantungnya semakin menjadi-jadi tak terkendali. Ia sesak. Udara seakan habis terisap oleh waktu yang terhenti.

Uchiha Sasuke masih setia mengulurkan satu tangan untuk menanti balasan dari gadis Hyuuga. Tak selang lama, Hinata terhenyak. Ia baru sadar bahwa dirinya sedang berada dalam acara pernikahan. Dengan cepat ia raih tangan Sasuke. Setelah itu pengucapan janji dilakukan dengan khidmat disaksikan semua orang.

.

.

"Ya, saya bersedia."

Hinata tersenyum kecut saat mendengar suaranya sendiri mengucapkan ketersedian untuk menjadi isteri bagi seorang Uchiha Sasuke.

"Sekarang, kalian sudah sah menjadi sepasang suami isteri. Mempelai pria, silahkan mencium sang mempelai wanita." Ucap sang Pendeta yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para undangan yang menghadiri upacara pernikahan.

Hinata merasa kedua bahunya dicengkeram oleh sebuah tangan kekar lalu diputar sehingga berhadapan dengan si pemilik tangan, seseorang yang dipanggil mempelai pria dan yang mengucapkan ketersediaan dirinya untuk menikahi Hinata. Sekarang mereka berdiri saling berhadapan dan Sasuke mendekatkan mukanya ke muka Hinata. Suasana di gereja semakin riuh saat bibir Sasuke berada beberapa centi saja dari bibir Hinata.

"Welcome, Mrs. Uchiha." Bisiknya pelan, membuat Hinata sedikit terkejut. Mata Hinata terbuka lebar. Dan tepat pada saat itu, -bibir Sasuke menyapu sepintas bibir tipis Hinata. Sisanya Sasuke mengecup dalam kening isterinya. Membuat Hinata memejamkan mata ketika bulir-bulir kristal jatuh dari bendungan matanya. Oh tuhan ia menangis. Ia menangis karena terharu.

Sekarang. Ia sudah menjadi milik orang ini. Uchiha Sasuke.

.

.

Resepsi pernikahan diadakan di hotel Grand Konoha milik keluarga Uchiha. Meskipun melaksanakan upacara pernikahan secara sederhana, resepsi pernikahan antara Uchiha dan Hyuuga diadakan besar-besaran. Dengan desain mewah dan megah, para tamu undagan dibuat terperangah oleh penataan luar biasa yang mengubah hall hotel itu menjadi istana dalam sekejap. Sasuke adalah rajanya malam itu, ia berdiri gagah di singgasananya ditemani permaisuri anggun kebanggan Hyuuga. Keduanya benar-benar pasangan yang sempurna. Semua pasang mata yang melihat sudah pasti akan merasa iri betapa sempurnanya kehidupan pasangan pengantin baru ini. Apa yang mereka tidak punya? Harta, pangkat dan kehormatan. Segalanya seolah ada dalam genggaman mereka. Tanpa mereka tahu sedikit pun. Segala kesempurnaan itu hanya suatu klise. Penuh kepalsuan. Raut kebahagiaan, ciuman kemesraan dan gandengan keduanya, semuanya hanya skenario yang diatur.

Tepatnya sudah dua jam lamanya pasangan pengantin baru ini berdiri memberikan salam dan menerima ucapan selamat dari banyak orang. Hinata mulai merasakan kakinya berdenyut-denyut karena terlalu lama berdiri. Sasuke dapat menyadari kegusaran di wajah isterinya.

"Kau baik-baik saja?" Bisiknya ketika orang-orang yang mengantri mengucapkan ucapan selamat sedikit lebih renggang dari sebelumnya.

"Daijoubu." Hinata beralasan. Ia tak mau menyusahkan siapa pun termasuk Suaminya yang pasti juga sama lelah sepertinya. Tak hanya kaki, kini Hinata juga merasakan kepalanya seperti berputar. Sasuke melihat wajah Hinata yang dibanjiri keringat dingin. Bohong kalau Hinata masih berkata ia tak apa-apa. Pandangannya memburam dan ia nyaris jatuh menghantam lantai kalau saja tak ada tangan Sasuke yang menangkap dirinya.

"Hinata!"

Saat itu juga semua orang panik dan cepat-cepat melakukan penanganan untuk puteri Hyuuga, ah bukan, tepatnya puteri Uchiha mereka.

.

.

.

"Sudah siuman?" Sasuke mendekati ranjang tempat Hinata terbaring dan menyentuh kening isterinya saat ia melihat pergerakan mata Hinata yang seperti hendak terbuka. Dan detik setelahnya terdengar erangan kecil gadis itu. Kini Sasuke yakin jika isterinya benar-benar sudah siuman.

"Aku panggil Hyuuga-san sebentar." Tapi baru saja Sasuke berdiri, Hinata menahan tangan Sasuke, mengisyaratkan agar tetap tinggal. Sekilas, Hinata merasa aneh dengan ruangan yang ia tempati. Ia langsung mengedarkan pandangannya secara menyeluruh ke ruangan ini. Sebuah kamar bercat dinding putih dengan perabotan minimalis yang semuanya di dominasi oleh warna putih. Sedangkan ia sendiri sedang tidur di sebuah ranjang ukuran King Size berwarna merah marun dengan taburan kelopak-kelopak mawar putih di seluruh bagian permukaannya. Pada keempat sudut tempat tidur terdapat tiang berukuran sama yang dibalut oleh kain-kain kelambu berwarna putih tipis. Pencahayaan kamar pun bisa dibilang sangat remang, hanya cahaya dari jajaran lilin di lantai yang bergoyang goyang diterpa hawa dingin yang menjadi satu-satunya sumber cahaya. Sangat cocok untuk romatisme pasangan pengantin baru seperti dirinya dan Uchiha Sasuke. Hinata yakin semua ini sudah dipersiapkan oleh keluarganya maupun keluarga Uchiha. Entahlah, ia hanya merasa bahwa semua orang -termasuk keluarganya- seperti sedang berupaya menenggelamkan ia ke dasar lumpur terdalam dari suatu lautan. Hatinya miris.

Rupanya ia masih menggunakan pakaian pengantinnya, begitu juga dengan Sasuke. Saat melihat jam dinding berbentuk bulat dengan ornament keemasan ia kaget. Pasalnya jarum pendek sudah menunjuk angka sebelas malam.

"A-aku pingsan berapa jam?" Hinata mencoba bangun tapi ditahan oleh Sasuke.

"Tiga jam. Jangan bangun dulu. Tidurlah."

Hinata menunduk. "Tapi aku tidak bisa tidur dengan pakaian seperti ini, Uchiha-san."

Sasuke tampak berpikir sejenak. "Baiklah kau juga harus membersihkan diri." Ia pun melepaskan tangannya agar Hinata bisa leluasa bangun.

Berkali-kali Hinata memandangi pantulan dirinya pada cermin di dalam kamar mandi. Sialnya, berjam-jam dari mulai melaksanakan upacara pernikahan hingga resepsi cukup menguras tenaganya. Wajahnya tampak pucat mengerikan dan kedua matanya cekung kelelahan. Bagaimana tidak? Malam sebelumnya Hinata tidak bisa tidur semalaman entah karena gugup atau apa. Hal itulah yang menyebabkan staminanya habis sebelum pesta usai dan terpaksa harus berakhir tidak menyenangkan. Setelah menyelesaikan semuanya, Hinata keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut jubah handuk. Ia tidak bisa berbohong kalau saat ini pun kepalanya masih terasa berdenyut-denyut begitu sakit. Namun ia melupakan rasa sakit itu saat melihat di depan pintu masuk, pada gantungan jas tersampir satu jas berwarna putih khas jas yang sering kali digunakan oleh seorang dokter. Hinata memperhatikan ruangan yang kini jauh lebih terang dari sebelumnya karena lilin-lilin yang berserakan di lantai sudah tandas, begitu pula dengan tempat tidur mereka yang sudah bersih dari tebaran kelopak bunga. Rasanya kamar jadi jauh lebih nyaman jika seperti ini.

Tak berselang lama terdengar suara pintu terbuka tanda seseorang masuk, Hinata dapat melihat suaminya muncul dari balik pintu dengan hanya menggenakan kaos santai. Ia kembali dengan sesuatu di tangannya.

"Kau harus makan dan minum obat Hinata."

Hinata berspekulasi bahwa suaminya ini adalah tipe orang yang irit bicara, sebab sejak pertemuan pertamanya siang tadi di upacara hingga malam ini, hanya beberapa kata saja yang Sasuke ucapkan. Itu pun singkat, padat dan jelas.

"Kau seorang dokter, Uchiha-san?" Hinata tidak menggubris permintaan Sasuke, ia menunjuk pada jas putih yang tadi sempat jadi perhatiannya.

"Hn. Cepatlah makan. Lalu tidur. Dan... Panggil saja aku Sasuke."

Hinata berjalan menghampiri Sasuke sesaat kemudian kepalanya mendadak berdenyut dan hampir membuatnya terjembab untuk kedua kalinya jika saja Sasuke tak sigap meraih lengan Hinata. Sasuke membaringkan Hinata di tempat tidur dengan sedikit mengganjal kepalanya menggunakan bantal.

Sasuke mengambil mangkuk berisi bubur yang tadi dibawanya. Dengan lembut menyodorkan satu sendok untuk Hinata.

"A-aku bisa melakukannya sendiri."

Hinata menggerakan tangan hendak meraih sendok namun Sasuke mrnjauhkannya. Menghalagi tindakan Hinata.

"Makan saja." pintanya tak mau mendengar bantahan. Mau tak mau Hinata mengikuti keinginan Sasuke untuk menyuapi dirinya. Sekilas semburat merah memanasi pipinya. Ia malu sekali. Kali pertama bertemu dengan pria ini ia sudah banyak menyusahkan. Apa boleh buat jika keadaan yang bicara lain.

Sasuke sukses membuat Hinata menghabiskan semangkuk bubur berkalori tinggi. Hinata bersumpah akan melakukan sit up seratus kali setelah ini kalau tak mau volume tubuhnya melebar. Setelah semuanya Sasuke cukup mengembalikan mangkuk pada nampannya lalu menaruhnya di atas nakas. Ia menyodorkan segelas air putih dan beberapa butir obat untuk Hinata minum. Awalnya Hinata ragu, namun melihat bahwa Sasuke seperti akan menelan ia kalau tidak menurut maka Hinata pun meneguk obat itu. Sekarang apa lagi?

"Tidur." titah Sasuke. "Kau kurang konsumsi tidur Hinata. Tekanan darahmu menurun sehingga kau tak sadarkan diri tadi siang. Jangan terlalu banyak memikirkan sesuatu." Sasuke membetulkan posisi Hinata. Menarik selimut hingga menutupi sepertiga tubuh Hinata. Gadis itu bahkan sampai tak menyadari bahwa dirinya masih menggunakan jubah handuk. Ia menuruti permintaan Sasuke, Hinata memejamkan matanya.

"Sasuke-kun." Sasuke berbalik saat mendengar Hinata memanggil namanya. Ia dapat melihat sepasang mutiara dari gadis itu tengah menatap dalam dirinya. "Kenapa Sasuke-kun... Tidak m-menagih hakmu malam ini d-dariku?"

"Jangan terlalu dipikirkan. Hinata. Tidurlah."

Setelah mengatakannya Sasuke melangkah menuju pintu dan hilang seperti angin yang berlalu begitu saja. Malam yang hening. Membuat Hinata perlahan-lahan jatuh dalam lelap. Ia lelah. Ia lelah mengikuti arus dunia yang keras menyeretnya tenggelam. Ia dan Sasuke adalah korban dari itu semua. Dalam sejarah hidupnya, Hinata tak pernah mengenal apa itu kebebasan.

.

.

.

Pagi harinya Hinata terbangun dengan keadaan yang jauh lebih fresh dari sebelumnya. Sepertinya obat yang semalam Sasuke berikan padanya cukup ampuh. Hinata merasa lebih ringan. Ia menyapu seisi kamar dengan sepasang lavendernya, namun tidak ada satu pun tanda tanda kehidupan di sana. Hanya beberapa koper besar tergeletak tak bertuan di lantai. Dari jendela kamar, gorden bergerak-gerak diterpa angin musim semi. Hari menghangat seiring pergerakan matahari yang merantai waktu menjelang terang.

Hinata bangkit, berupaya membersihkan diri sebelum keluar kamar dan bertemu keluarga Sasuke. Ia harus ingat bahwa dirinya kini berada di rumah orangtua suaminya. Lupa-lupa ingat Hinata menerka-nerka bahwa semalam, sebelum tidur dirinya masih menggunakan jubah handuk, mungkinkah Sasuke yang mengganti pakaian Hinata? Tidak. Wajanya memanas.

Setelah selesai dengan kegiatannya membersihkan dan menata diri, Hinata langkahkan kakinya keluar dari kamar. Hinata baru mengetahui bahwa dirinya berada di lantai atas setelah menemukan anak tangga yang mengarah ke bawah berserta pembatas loteng yang memampangkan keseluruhan isi dari ruang tengah Mansion Uchiha. Tak diragukan lagi mengingat Uchiha dari Suna merupakan keluarga bangsawan dengan perusahaan elektronik terbesar di Jepang, nyaris mengalahkan Hyuuga dari Konoha yang bergelut di bidang otomotif.

Hinata mendapati Uchiha Mikoto, sang ibu keluarga Uchiha tengah disibukkan dengan kegiatannya memasak dibantu beberapa maid di dapur. Hinata sedikit malu menghampiri mertuanya dengan keadaan ia yang malah bangun kesiangan.

"Ada yang bisa kubantu? Ka.. kaa-sama?"

Mikoto menoleh sambil tersenyum menyambut Hinata. Dada Hinata menghangat, lama sekali ia tak pernah memperoleh senyuman sehangat ini dari seorang wanita yang berperan menjadi ibunya. Hinata terlalu lama melupakan seperti apa rasanya dicintai oleh ibu. Sejak ia mendapati dirinya telah kehilangan sang ibu di usia yang masih terlalu dini untuk memahami dunia.

"Kemari!"

Mikoto tak melarang juga tidak menolak. Ia membiarkan Hinata membantunya. Padahal dalam mansion Uchiha terdapat banyak maid yang dipekerjakan, namun Mikoto selalu tetap menyediakan masakan buatan tangannya untuk keluarganya. Hinata bisa melihat bahwa mertuanya merupakan wanita yang berpegang teguh terhadap prinsip sebagai seorang isteri yang baik. Ia dengan cekatan bergerak dari counter dapur memindahkan makanan menuju meja makan. Mikoto adalah sosok wanita yang patut diteladani, itulah yang Hinata simpulkan. Hinata tahu bahwa pekerjaan Mikoto sebagai staf dewan di perusahaan tak kalah banyaknya dengan pekerjaan Fugaku sebagai Presiden, namun ia tetap berusaha menjadi isteri dan ibu yang baik.

Selesai dengan semua urusan dapur, satu persatu anggota keluarga Uchiha muncul menuju meja makan. Termasuk pria Uchiha lain selain Sasuke yang Hinata yakini sebagai saudara Sasuke. Ia tak kenal pasti. Yang pasti, hari ini semua orang berkumpul di meja makan meskipun hari sudah menjelang siang. Sepertinya mereka semua mengambil cuti. Sasuke tiba paling terakhir dan langsung duduk di samping Hinata. Setelah itu kegiatan makan pun berjalan, tanpa suara, atau bisa dibilang tak satu pun yang berani bersuara. Hanya denting sendok yang mengisi atmosfir ruangan. Begitulah jika kau tak tahu bagaimana para bangsawan bersikap di depan meja makan. Table manner adalah sesuatu yang teramat penting bagi kehormatan mereka.

"Siang ini kami akan pergi." Sasuke memulai setelah menandaskan isi gelasnya. Tentunya setelah semua orang selesai dengan makanannya.

"Tidak bisakah lebih lama di sini?" Mikoto berusaha mencegah. Pasalnya baru kali ini saja mereka, keluarga Uchiha dapat berkumpul lengkap di meja makan. Mikoto hanya menginginkan lebih banyak moment seperti ini.

"Maafkan aku, tugasku harus dimulai besok." Nampak raut kecewa dari wajah Mikoto akan jawaban Sasuke.

Fugaku yang sejak awal hanya menyimak ikut angkat bicara. "Kau bisa mencari rumah di Suna jika saja kau menurut."

"Aku mohon jangan ungkit masalah itu lagi, Tou-sama." Sasuke menunduk demi menghormati ucapan Fugaku yang sedikit menyinggung dirinya. "Aku sudah melakukan satu keinginan Tou-sama. Jadi tolong biarkan kami pergi."

Sasuke adalah seorang dokter. Ya benar. Ia adalah satu-satunya keturunan Uchiha yang melenceng dari takdirnya sebagai pewaris Uchiha. Ketika Uchiha Itachi, sang kakak menuruti semua keinginan keluarganya, maka Sasuke justru membantah semua itu. Ia tak pernah suka hidup dalam kekangan. Sasuke terus mencari dan mencari letak kebebasan yang amat dirindukannya, hingga pertemuan ia dengan seorang pemuda Uzumaki membawanya pada portal menuju kebebasan itu. Selama hidupnya, Sasuke tidak pernah sekali pun mengikuti kemauan sang ayah agar ia menjadi pembantu Itachi dalam melestarikan aset milik Uchiha. Ketika Fugaku menyuruh anak-anaknya hanya untuk memasuki sekolah bisnis, Sasuke menentang karena cita-citanya adalah menjadi dokter. Hal itu mengundang kekecewaan besar dalam hidup Fugaku. Ia tidak berhasil membawa Sasuke menuju puncak kejayaan Uchiha karena Sasuke yang selalu menentangnya. Menentang takdirnya. Nama Uchiha Sasuke pun tenggelam seiring tingkah lakunya yang berlainan jalur, hanya sedikit dari orang-orang yang mengenal bahwa Sasuke adalah putera dari keluarga Uchiha. Dari semua itu, Fugaku hanya melontarkan satu keinginannya untuk anak bungsunya. Ia ingin Sasuke menurut untuk dijodohkan dengan wanita terpilih. Hanya itu. Dan untuk pertama kalinya, Sasuke menurut.

Fugaku bungkam tak berniat menanggapi. Kekecewaan akan Sasuke sudah terlalu mengakar kuat dalam hatinya. Hinata bisa merasakan suasana meja makan yang begitu dingin, ia menebak jika hubungan antara keluarga Uchiha memang kurang baik. Terutama antara kepala keluarga dengan anak bungsunya. Rasanya seperti kau sedang menghitung mundur sebuah bom waktu yang siaga untuk meledak. Terasa begitu mencekam.

"Ah apakah sebaiknya aku antar kalian?" kali ini Itachi turut andil demi mencairkan suasana mencekik ini.

"Tidak perlu. Aku akan menyetir sendiri."

Dan seperti itulah bagaimana kisah kehidupan antara Hinata dan Sasuke dimulai. Kehidupan baru mereka. Kehidupan yang membawa keduanya pada arus yang sarat oleh pelajaran. Kehidupan yang akan menuntun mereka menuju akhir dari segalanya.

.

.

.

.

To be continued

Author Note :

Cerita ini saya hapus karena saya pasang sebagai orifict di platform Dreame/Innovel, saya terikat kontark dengan Dreame jadi saya harus menghapus cerita fanfiction ini. Silakan berkunjung jika berkenan, judul masih sama Wind of Change namun dengan penname penulis Shargadiva. Akan ada alur dan plot yang berbeda di pertengahan ceritanya. Terima kasih.