Wind of Change Chapter 2

Mereka sempurna, harta, pangkat dan kehormatan seakan berada dalam genggaman keduanya. Namun mereka sama sekali tak tahu, semuanya hanya alur skenario-yang diatur. Kehidupannya hanya sebuah pentas Opera. Dan pernikahan ini, hanya gagasan dari sebuah drama. Hinata ditarik masuk dalam kehidupan baru.

.

.

.

"Naruto, ini sudah waktunya."

Seorang wanita berambut pirang pucat berdiri tegas di dekat Naruto. Ia cepat-cepat menutup buku agenda yang sejak tadi digunakannya. Menyematkan kacamata hitam lalu sedikit merapikan diri. Dari jendela kecil pesawat Naruto dapat menyaksikan puluhan mungkin ratusan orang berkerumun tak jauh dari tempatnya kini berada. Mereka adalah singa-singa kelaparan dalam jelmaan wartawan yang siap siaga memangsa dan melahap dirinya kapan pun. Ia harus menyiapkan diri. Naruto pun bangkit.

"Baiklah. Ayo!"

Ia melangkah duluan. Sementara wanita di belakangnya malah diam tak merespon, sejurus kemudian tas kebesaran di tangan Naruto sudah berpindah ke tangan si wanita.

"Biar aku yang bawa."

"Maaf Yamanaka-san. Tapi kau bukan manajerku."

"Lupakan. Aku bisa menjadi manajermu kapan pun. Ayo!"

Pintu pesawat terbuka. Ratusan orang di lapangan luas bandar udara bergumul berebut mengambil rekaman atau gambar sang aktor. Spontan kerlap-kerlip cahaya kamera memenuhi pandangan Naruto. Sebuah tangan menggenggam lengan Naruto, diikuti beberapa bodyguard berpakaian hitam menggiring Naruto dan Ino turun dari pesawat, mereka berjalan tergesa menuju tempat konferensi pers masih di gedung yang sama dengan bandara ini.

"Saya nyatakan bahwa saya menyanggah semua tuduhan yang tertuju pada saya. Bahwa semua itu tidaklah benar." Ungkap Naruto, seketika bermacam bentuk pertanyaan terlontar untuk dirinya. Ruangan mendadak gaduh.

"Sayonara."

Setelah itu Naruto kembali digiring para bodyguard menuju mobil hitam yang akan membawanya.

Naruto mengeratkan mantel merahnya. Musim gugur akan segera berakhir dan tak lama lagi negeri ini akan tertutup lapisan putih nan indahnya salju. Terutama distrik Tokyo yang tak pernah sunyi meskipun puncak musim dingin nanti temperatur menurun begitu drastis. Sayangnya Naruto tak ada niat sama sekali untuk menghabiskan waktu istirahatnya di kota metropolitan itu. Ada tempat lain yang baginya lebih baik dari Tokyo.

"Ke Kiri 'kan?"

Di kursi pengemudi Uchiha Sasuke duduk, ia yang terlalu fokus dengan stirnya terhenyak oleh kalimat Naruto.

Sasuke sangat tahu kemana tujuan Naruto saat hatinya sedang tidak baik seperti saat ini. Kebetulan dirinya yang sedang dalam perjalanan dari Suna menuju Kiri melewati Tokyo sehingga bisa sekalian menjemput Naruto sepulangnya dari New York. Sasuke tak berniat mengatakan apa pun. Tak ada yang bisa dirinya lakukan untuk membantu sahabatnya, ia cukup menuruti apa yang Naruto minta.

"Ngomong-ngomong Hyuuga, ah maksudku Uchiha Hinata-san, ini pertama kalinya kita bertemu. Aku Uzumaki Naruto, teman Sasuke."

Naruto memperkenalkan diri. Sebisa mungkin menyembunyikan nada suara aneh yang mendominasi dirinya, sejak dari pesawat, sejak Naruto mempersiapkan hati menghadapi orang-orang itu sebuah perasaan tak nyaman seakan mengikutinya. Hinata menyadari hal tersebut. Nampaknya Uzumaki Naruto bukan tipe orang yang bisa dengan sempurna menyembunyikan sesuatu.

"Aku tahu. Kau Uzumaki Naruto, aktor yang melekat dengan peran 'Meiji' dalam serial Meiji Monogatari-nya yang fenomenal." Hinata yang duduk di sebelah Sasuke menyahut seraya berusaha menunjukkan senyuman.

Mobil melaju tenang menyusuri jalan yang terbungkus helaian guguran bunga-bunga ginkgo. Selama perjalanan tak satu pun dari Naruto, Ino, Hinata maupun Sasuke yang berniat memulai percakapan. Sedikit tak nyaman Hinata berada kembali di tengah-tengah suasana mencekam. Hari sudah mulai gelap. Mobil yang membawa mereka berjalan selama kurang lebih tiga jam lamanya, akhirnya berhenti sebelum kemudian deru mesin mati. Sampailah rombongan Sasuke setelah perjalanan jauh mereka tempuh menuju tujuan mereka, Kota Kiri. Kota kecil di Distrik Tokyo.

"Sakura sudah diberi tahu, Naruto?" akhirnya Sasuke memulai.

"Hm. Ya. Sudah keberitahu agar jangan menungguku. Karena mungkin aku baru akan bisa kembali ke Konoha lusa nanti."

"Cepat selesaikan masalahmu." pesan Sasuke. "Dan Yamanaka-san, aku sangat berharap besar pada intuisimu sebagai polisi. Jaga Naruto karena pasti wartawan akan segera mencium keberadaan kalian."

Tepatnya hanya kalimat-kalimat itulah yang bisa ia berikan untuk sahabatnya. Ia bukan orang yang terbiasa dengan banyak bicara jadi pasti perkataannya terlalu baku dan singkat. Meski Sasuke tetap berharap kalimatnya dapat menyemangati Naruto.

Setelah mengantar Naruto ke tempat persembunyian sementaranya, Sasuke melanjutkan perjalanan kembali pada tujuan menuju rumah baru. Tinggal sebentar saja Sasuke dan Hinata akan sampai di rumah baru mereka. Suasana begitu sunyi, hanya sedikit lampu-lampu jalanan yang menerangi malam, sedang sisanya adalah barisan pohon-pohon tinggi yang berdiri tegak menantang langit. Selebihnya merupakan hutan tanpa satu pun penghuni bahkan sekedar kendaraan lain yang melintas. Hinata tertidur ditenggelamkan keheningan dalam mobil yang terus menekan dirinya. Sasuke dapat melihat kedamaian pada wajah lelap isterinya. Pria itu sempatkan berhenti sebentar, mengambil sweater miliknya yang ia taruh di bagasi sekedar menyelimuti tubuh Hinata agar tidak membeku kedinginan. Sudah pasti Hinata kelelahan meskipun tak menunjukkannya disaat terjaga. Hal itu dapat terlihat dari betapa lelapnya tidur Hinata sampai tak sadar kini mobil yang membawa mereka telah sampai di tempat tujuan. Meski masih beberapa jalan gang kecil dan juga jalanan yang melintasi sedikit pesawahan yang harus dilewati Sasuke. Sampai mobil hitamnya tiba di sebuah pemukiman lenggang nan tenang. Rumah-rumah di tempat itu mayoritas bergaya tradisional jepang bernuansa klasik Era Edo. Hanya terdapat beberapa rumah saja dari sekian luas wilayah yang ada. Benar-benar kota kecil di Distrik Tokyo. Bahkan lebih terlihat seperti sebuah desa dari pada kota. Sasuke memarkirkan mobil pada salah satu rumah tradisional bercat putih cokelat. Malam yang tenang dengan pekarangan dan rumah yang tenang. Suara gemuruh mobil terdengar begitu jelas.

"Hinata, sudah sampai." Sasuke mematikan mesin mobil.

Perlahan kedua kelopak mata Hinata terbuka. Ia terpaku seakan tak percaya dengan apa yang kini terpampang di hadapannya. Sebuah rumah yang bisa dibilang cukup sederhana dengan elemen kayu mendominasi keseluruhan komponen rumah. Hinata memerhatikan jendela dari kertas lilin dengan ukiran indah kayu di permukaannya. Lantai rumah yang tersusun dari kayu nampak lebih tinggi beberapa centi meter dari permukaan tanah. Sedang halaman rumah sama sekali tak terlihat sempit, justru sangat luas hingga terdapat beberapa pohon tinggi dan besar tumbuh. Ada perkebunan kecil di sudut halaman. Sangat asri dan masih bertahan dengan nuansa tradisi yang kental. Seolah Hinata tidak sedang berada di zaman modern.

"Kau tidak suka?"

Sasuke hanya berpikir jika puteri yang selama hidupnya tinggal dan tumbuh di dalam Mansion yang layaknya kastil megah seperti Hyuuga Hinata mungkin tidak bisa jika harus hidup di tempat seperti ini. "Aku bisa mencari tempat lain jika kau tidak suka."

"Tidak. Tidak perlu Sasuke-kun. Tempat ini sangat menarik."

"Hn. Baiklah."

Sasuke keluar menuju bagasi untuk mengeluarkan semua koper bawaan Hinata. Perhatian Hinata beralih pada dirinya sendiri. Ia menerka jika jaket yang menyelimuti dan menghangatkan tubuhnya pastilah Sasuke yang melakukan. Ia turut keluar mengikuti Sasuke menyeret koper hingga di teras depan rumah. Hinata menginjakkan kaki di depan pintu cokelat berbahan kayu. Sedikit ragu dan takut menyergap seisi hatinya. Ada apa ini? Kini ia benar-benar bersama kehidupan barunya. Bersama Uchiha Sasuke. Suaminya.

Sasuke merogoh kunci untuk membuka sebuah ruangan sederhana seukuran enam belas tatami menyambut langkah pertama keduanya. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu meja berkaki pendek dengan dua pasang zabuton yang ditaruh saling berhadapan. Belum pernah sebelumnya Hinata membayangkan kehidupan barunya di mulai dari tempat sederhana ini.

Hinata dan Sasuke masuk. Memperkenalkan diri pada hunian baru dua insan tersebut. Apakah Hinata harus berpikir jika hidup itu masih selalu kejam? Kejam karena membawanya pada kehidupan bersama Uchiha Sasuke, dan kejam karena membawanya pada kehidupan di tempat yang tidak pernah ia merasakan menempatinya sepanjang hidupnya sebagai Hyuuga. Hinata tidak pernah sekalipun tidur di tempat selain ruangan yang luasanya tak terbantahkan. Kini Hinata harus berupaya menyesuaikan diri. Bagaimana pun ia juga manusia, seorang gadis yang punya impian untuk menjadi isterinya yang menurut pada suaminya di masa depan. Inilah saatnya Hinata. Inilah saatnya kau menunjukkan pada semua orang bagaimana etika dan pendidikan karakter yang dipelajarinya sebagai puteri Hyuuga bisa teraplikasikan dengan baik dalam kehidupan nyata.

Hinata dan Sasuke bersama-sama membereskan barang bawaan mereka yang sebagian besar terdiri dari pakaian. Tidak butuh waktu lama bagi keduanya menyelesaikan semua pekerjaan tersebut. Setelah itu Hinata mendapati dirinya kelaparan, pantas mengingat hanya sarapan pagi bersama keluarga Uchiha yang mengisi perutnya seharian. Karenanya, sementara Sasuke membersihkan diri di kamar mandi, Hinata melenggang menuju dapur untuk membuat paling tidak makanan sederhana yang bisa mengganti tenaga. Hinata ingat betul ucapan ibu mertuanya yang mengatakan bahwa makanan favorit Sasuke adalah semua makanan asalkan berunsur tomat. Terdengar menggelikan bahwa ternyata dibalik sifat dingin si Uchiha bungsu rupanya memiliki sisi lembut seperti tomat juga. Kira-kira di mana ia bisa menemukan tomat? Ia membuka lemari es. Benar saja, sekantung besar tomat menghabiskan nyaris seluruh tempat di dalam kulkas. Baiklah... Apa yang akan ia buat?

Hinata masih pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi wajan seraya memasak air hangat ketika Sasuke yang hendak menuju ruang tengah melintas di dapur dan melihat Hinata.

"Kau sedang apa?"

Hinata tersentak dengan kemunculan Sasuke yang tiba-tiba tanpa ia sadari.

Ia berbalik cepat mengabaikan sejenak isi dari wajan. "Sa-Sasuke-kun. Tunggulah sebentar lagi. Ini tidak akan lama."

"Kau memasak?" sebelah alis kiri Sasuke terangkat, "Tidak perlu Hinata. Aku akan makan besok."

"Ti-tidak bisa. Aku tahu k-kau pasti lelah dan lapar. Tunggulah."

Kini Sasuke harus menerima dengan kesadaran penuh bahwa wanita yang menjadi isterinya ini memiliki sifat keras kepala. Yah seperti dirinya.

"Hn. Terserah."

Sasuke melirik sebuah majalah yang sedikit bagiannya muncul dari dalam ransel hitam milik Hinata tak jauh dari pintu dapur. Masih dengan posisi berdiri bersandar pada tiang pintu ia membuka halaman demi halaman majalah. Sampai perhatian kedua matanya tertarik pada gambar seorang pria yang amat dikenalnya, foto pria berambut pirang terpampang besar menjadi topik menarik untuk dibaca. Setengah tidak percaya Sasuke betapa respon negatif para warta berita akan isu tuduhan yang saat ini menjerat sahabatnya. Lebih buruk dari itu, dirinya sebagai sahabat tidak bisa melakukan apa pun.

Sasuke mengalihkan perhatian pada aroma wangi sup yang menyeruak melintasi udara. Matanya menatap punggung rapuh Hinata. Memerhatikan kegesitan sang istri menyiapkan makanan untuk dirinya. Tanpa disadari, Sasuke terpaku lama. Lensanya terkunci dalam sebuah ruang yang hanya ada Hinata sebagai objeknya. Otot-otot kakinya seolah berontak untuk segera bergerak barang sedikit mendekat. Hasratnya membuncah mendorong sebuah keinginan untuk memeluk punggung indah itu. Menyesap wangi dari rambut indogo itu. Namun otak yang masih dalam batas kewarasan memproses dan memprogram agar cukup di tempat itu saja ia berpijak. Cukup memandangi dari kejauhan.

"S-Sasuke-kun?!"

Hinata terkejut disangkanya Sasuke sudah pergi dari tempat itu sejak tadi. Ia tidak menyadari jika suaminya masih berdiri tanpa berpindah sedikit pun. Pandangan Hinata berganti melihat majalah bulanan di tangan Sasuke tepat pada gambar yang tadi sempat membuat miris hati seorang Uchiha Sasuke. Itu adalah majalah milik Hinata yang sengaja ia selipkan ke dalam ransel untuk dibaca olehnya jika merasa jenuh saat di perjalanan. Kenyataannya, justru Hinata tertidur pulas hingga ia dan Sasuke sampai di tempat ini.

"Aku akan menunggu di ruang tengah."

Sasuke pergi begitu saja setelah mengatakannya. Meninggalkan sisa-sisa keheranan dalam diri Hinata akan tingkah aneh dirinya.

Tak lama setelah itu, Hinata telah selesai dengan pekerjaan membuat sup untuk Sasuke. Dengan cekatan ia pindahkan satu-persatu piring dan peralatan makan lainnya ke atas meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur, hanya terpisahkan oleh sekat pendek. Saat kemudian Sasuke kembali ke dapur.

"Kita makan di ruang tengah." ujarnya. Dua tangan Sasuke sudah terisi oleh dua piring yang siaga ia bawa.

Hinata mengerutkan kening bingung. Di ruang tengah? Tempat di mana televisi dan meja berkaki pendek berada. Yang benar saja. Itu bukan tempat yang di desain untuk makan. Pertama, ini melanggar etika table manner yang melarang kita makan sambil menonton atau paling tidak sambi mengobrol. Dan kedua, Sasuke adalah putera seorang bangsawan yang seharusnya juga mengetahui hal ini sama seperti dirinya.

"Kenapa? Bawa saja sisanya." Sasuke pergi mendahului Hinata menuju ruang tengah.

Tanpa sepatah kata pun. Tepatnya, tanpa Sasuke memberikan kesempatan untuk Hinata menyanggah atau menolak, Hinata terpaksa menurut pada keinginan sang Uchiha bungsu. Ia membawakan mangkuk dan piring-piring lainnya tak lupa minuman beserta gelas. Inilah awalnya, ia akan merasakan makan yang 'bebas'. Tanpa aturan yang menjenuhkan. Tidak buruk juga.

.

.

.

.

.

"Hiduplah seperti kelopak sakura yang mekar indah di bulan april, tanpa pamrih ia menaungi banyak kebahagiaan, memberi segala keistimewaan. Meskipun mekar di waktu yang singkat, sakura yang gugur, membekas menjadi kerinduan setiap orang."

Tulis sang ibu pada suatu kertas. Kala itu senja berkelana menjemput malam diantara siluet-siluet bias oranye langit. Gadis kecil tertawa menggapai-gapai dahan Sakura dengan tangan mungilnya, namun tak sampai. Sang ibu melipat kertas di tangannya, menyelipkannya pada keranjang tamasya. Ia kembali memperhatikan buah hati tercinta dalam keasyikannya melompat-lompat. Sepasang bening miliknya memandang gadis kecil penuh kasih.

"Aku ingin menjadi..." suara si gadis cempreng. Gadis kecil bersiap melompat. "Menjadi sakura!" Namun tetap kaki mungilnya tak sampai setinggi itu untuk melompat lebih jauh lagi.

Sang ibu tersenyum bangga menyaksikan kegigihan puterinya menggapai bunga sakura. Ia pun bangkit menghampiri gadis kecil. Merangkum puterinya dalam dekapan terhangat. Kemudian mengangkat tubuh mungil sang gadis. "Kalau begitu biar Ibu yang menjadi dahan bagi Hinata-chan untuk menjadi sakura. Eh?"

Hinata memekik senang saat tangan mungilnya bisa memetik sakura. Ibu tersenyum kembali, ia terus tersenyum seakan tak pernah habis senyuman dalam dirinya. Mata gadis kecil berbinar menatap bunga merah muda yang ranum kini berpindah ke genggamannya. Warna pink yang berpadu dengan putih membentuk suatu kesatuan harmoni menakjubkan. Melapangkan.

"Indah..." Ia berbisik.

"Sudah gelap sayang. Ayo pulang." ibu mencium Hinata penuh kasih. Dibalas anggukkan semangat si gadis kecil. Detik berikutnya mereka tertawa bersama. Ibu mengambil keranjang, kedua orang itu pun pergi meninggalkan guguran sakura yang terhampar di atas permadani rumput, meninggalkan kelopak sakura baru yang hendak mekar, meninggalkan tarian gemulai sakura dalam hempasan angin.

-Jadilah sakura yang Indah-

Kelopak mata gadis kecil yang kini telah tumbuh dalam sosok dewasa perlahan terbuka, kekosongan membungkusnya dalam hening. Sesuatu dalam dirinya seolah lenyap melesap seiring kesadaran yang berkumpul membawa ia kembali ke dunia nyata. Senyuman dan ciuman sang ibu hanya fantasi alam mimpi. Takkan pernah menjadi nyata. Fakta itu merobek kembali balutan luka yang lama ia simpan, seakan menekan saraf-saraf otak dan hatinya untuk merasakan kembali rasa sakit berbaring dalam kehampaan. Ia lebih memilih agar sosok itu tak perlu lagi muncul di hadapannya, walau dalam wujud mimpi sekalipun. Yang pergi biarkanlah pergi. Ia tak peduli.

Hinata menatap jarum jam yang menempel di dinding dalam diam. Pukul 03.00. Ia berpaling pada seorang yang terbaring di sampingnya. Uchiha Sasuke tertidur pulas dengan posisi tubuh terlentang menghadap langit-langit, sama sekali tidak bergerak dari posisi awal ia tidur. Selimut yang digunakan Hinata berantakan sampai ke kaki sementara Sasuke masih pada keadaan seperti ketika keduanya mulai memejamkan mata semalam. Ia merasakan seluruh otot tubuhnya pegal-pegal karena belum terbiasa menggunakan futon yang memang lebih tipis dibandingkan tempat tidur ia di Mansion Hyuuga yang besar dan empuk.

Hinata tanpa sadar memerhatikan wajah Sasuke yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Tenang dan damai, itulah ekspresi yang mendominasi diri Sasuke saat tengah tertidur. Sungguh pria yang tegas dan berkepribadian dingin, Hinata bisa merasakan kharisma yang sangat kuat mempengaruhi segala indera dirinya menguar dari seorang Sasuke. Garis wajahnya tegas dan keras. Benarkah jika Sasuke ini termasuk orang yang disiplin dan berani? Entah apa yang membuat Hinata menyimpulkan jika Sasuke adalah orang yang disiplin dan berani.

Setelah cukup lama berkhayal ria, Hinata bangkit. Menjejakkan kakinya sepelan mungkin pada lantai kayu rumahnya, takut-takut kalau lantai kayu kamarnya berderit dan akan mengganggu tidur lelap Sasuke. Ia tahu suaminya pasti kelelahan setelah seharian kemarin melakukan perjalanan jauh. Ia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum memasak dan membereskan banyak hal. Ia harus ingat, saat ini dan seterusnya Hinata adalah seorang yang memiliki tanggungjawab sebagai seorang isteri terhadap suaminya. Sekalipun tanpa maid yang membantu seperti ketika dirinya masih berada di kediaman Hyuuga.

Pagi beranjak menuai cahaya-cahaya semangat dari balik pergerakan awan di hamparan biru langit. Suara-suara burung saling bersahut-sahutan. Dari jendela kamar yang terbuka, terpampang hamparan pesawahan berundak-undak. Padahal hari masih gelap, tapi penduduk sekitar sudah disibukkan kegiatan mereka merawat tanaman. Ini adalah pagi pertama yang indah untuk Sasuke. Ia telah menyelesaikan kegiatan dirinya berbenah diri, mengenakan kemeja hijau toska dengan dasi berwarna biru. Hari ini adalah hari pertama Sasuke menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter di kota kecil Kiri. Menenteng koper tangan, ia pun melangkah keluar dari kamar.

Di ruang tengah, di depan televisi, berbagai jenis makanan sudah tersaji pada meja kayu berkaki pendek. Di atas zabuton Hinata duduk asyik menonton tanpa menyadari kehadiran Sasuke. Sebelum kemudian bayangan Sasuke masuk ke area pandangannya, ia nyaris terperanjat karena kaget dengan kedatangan yang tiba-tiba tersebut. Tapi ia berusaha sebisa mungkin menutupi kegugupan yang menyergap dirinya. Menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan. Hinata menarik napas panjang.

"O-Ohayou Sasuke-kun." Ia menyapa.

"Hn."

Sasuke melihat Hinata dari ujung kaki hingga ujung rambut. Jarang-jarang gadis bangsawan mau mengenakan kimono sederhana seperti itu. Bahkan tanpa make up, tanpa dandanan sekalipun Hinata tetap terlihat anggun di mata sang Uchiha, tepatnya di mata siapa pun yang melihat. Anehnya, Hinata yang semalam menolak makan di ruang tengah kini malah menyiapkan sarapan mereka di sana.

"Kupikir makan di sini jauh lebih menyenangkan."

Ia bergumam tanpa ditanggapi oleh Sasuke yang lebih tertarik pada makanan dan acara televisi.

Sarapan keduanya berlangsung biasa, begitu saja. Ketika Sasuke beranjak untuk pergi, Hinata turut mengantar suaminya sampai ke pintu depan.

"Aku pergi."

"Tunggu," Hinata menahan lengan Sasuke. Mendekat padanya untuk membetulkan letak dasi Sasuke yang sedikit miring. Sialnya, kenapa adegan seperti ini harus selalu terjadi pada seorang yang mengantar pasangannya untuk pergi bekerja. Seperti yang sering Hinata lihat dalam serial telenovela, bedanya kini terjadi secara live dan real. Tentu saja tangannya gemetar karena tidak biasa berdekatan seperti ini. Hinata bisa melihat Sasuke yang tenang-tenang saja seolah tidak sedang terjadi apa-apa.

"Baiklah. Hati-hati Sasuke-kun."

Sasuke sempat mematung tanpa merespon ucapan Hinata. Sampai ia tersadar, cepat-cepat dirinya pergi. Melenggang menjauhi tempat Hinata berdiri. Menyisakan punggung tegap yang kian menghilang di telan kabut pagi bersama pepohonan dan dedaunan. Hinata yang awalnya hendak masuk menahan langkahnya. Ia kembali berbalik sekedar menyaksikan punggung itu

semakin menjauh dan menjauh hingga lenyap di tikungan. Tanpa ia sadari seulas senyum terbentuk di wajahnya.

.

.

.

To be continued

Author Note :

Cerita ini saya hapus karena saya pasang sebagai orifict di platform Dreame/Innovel, saya terikat kontark dengan Dreame jadi saya harus menghapus cerita fanfiction ini. Silakan berkunjung jika berkenan, judul masih sama Wind of Change namun dengan penname penulis Shargadiva. Akan ada alur dan plot yang berbeda di pertengahan ceritanya. Terima kasih.