Disclaimer : Masashi Kishimoto - sensei

Warning : AU, Semi-hurt, T* untuk bahasa dan tema yang digunakan, SasuHina.

.

.

.

Chapter 3

Mereka sempurna, harta, pangkat dan kehormatan seakan berada dalam genggaman keduanya. Namun mereka sama sekali tak tahu, semuanya hanya alur skenario yang diatur. Kehidupannya hanya sebuah pentas Opera. Dan pernikahan ini, hanya gagasan dari sebuah drama. Hinata ditarik masuk dalam kehidupan baru.

.

.

.

Hari itu, dari lorong-lorong panjang ia berlari sendirian. Tak peduli sakit menyergap kakinya karena tanpa berhenti terus berlari dan berlari. Ketika matahari sudah terbenam dan hari kian menggelap. Kaki mungilnya diseret untuk terus berlari. Air mata deras membasahi wajahnya. Sesuatu dalam hatinya perih. Isaknya tertahan tenggelam dalam setiap pijakannya pada lantai tersebut. Hingga sampai langkahnya di hadapan sebuah pintu. Gadis kecil membuka pintu dan menemukan banyak orang di dalam. Ayah yang biasanya bersikap tegas berdiri lesu menyedihkan, kakaknya menggendong adik kecil yang tak mau berhenti menangis. Semua orang menoleh padanya kala ia masuk, dengan raut sedih yang tergambar jelas melaui air mata mereka. Gadis kecil berjalan gontai mendekati tempat tidur. Berbagai spekulasi terbayang memenuhi pikirannya meskipun semua itu tertuju pada satu kesimpulan bahwa sesuatu yang buruk baru saja terjadi.

"Kaa-sama," gumamnya lirih

Ia angkat kepalanya tinggi-tinggi, memperjelas tubuh pendeknya menyaksikan seorang berbaring tak bergerak di sana.

"Tou-sama apa yang terjadi pada Kaa-sama?"

Hiashi hanya diam tak mampu bersuara. Mengatakan atau tidak kebenarannya, kenyataan di depan gadis kecil telah menjelaskan semuanya. Sosok wanita dewasa yang terbaring tak bergerak sudah tidak lagi bernyawa. Dia sudah pergi.

"Ibumu sudah pergi Hinata." Seseorang dari kerumunan muncul dan berjongkok di depan gadis kecil.

"Jii-sama, b-benarkah?" tanyanya pedih.

"Jadilah Hyuuga yang baik cucuku. Menurutlah pada ayahmu. Jangan sia-siakan kepergian ibumu."

Saat itu seluruh otot tubuh Hinata melemah, ia jatuh tersungkur di lantai. Ia lihat Neji menatapnya iba, wajahnya berkabut.

"Kaa-sama."

Air mata mengalir deras di wajahnya namun isakan Hinata tak terdengar. Napasnya terlalu sesak untuk sekedar mengeluarkan suara. Ini tidak mungkin. Ia tidak percaya. Ibunya pergi ke mana?

.

.

"Hinata? Hinata kau baik-baik saja?"

Kedua matanya terbuka, tepat di hadapannya wajah tegas seorang Sasuke begitu dekat. Ekspresinya penuh kecemasan.

"Kaa-sama..." Ia bergumam.

Seketika wajahnya semakin membasah. Apakah ia menangis saat tertidur tadi? Tubuhnya pun dibanjiri keringat. Napasnya tersengal seperti habis berlarian.

"Hinata kau mimpi buruk?"

Hinata menubruk tubuh terbaring Sasuke, meluapkan tangisan dalam pelukan suaminya. Ia melakukannya secara reflek karena ketakutan yang tiba-tiba menyergap hatinya. Sasuke diam tak menolak. Ia rangkum Hinata dalam pelukan hangat kedua tangannya, berharap hal tersebut dapat menenangkan hati isterinya. Hinata pasti telah menjalani kehidupan yang berat selama ini. Sasuke tidak tahu apa-apa, tapi ia dapat merasakan kesakitan lewat pandangan kosong Hinata saat tadi terbangun dari tidur. Ia dapat melihat bagaimana tersiksanya Hinata yang tidur sambil terus menggumamkan ibunya, gadis itu menangis dalam keadaan tidur.

"Sstt, tak apa."

Hening malam tanpa suara bergilir bersama waktu. Tak butuh waktu lama lagi bagi Hinata untuk terlelap dalam dekapan Sasuke. Otaknya sudah terlalu penuh, hatinya sudah terlalu lelah dengan segala macam perasaan. Ia seperti habis dibolak-balikkan oleh keadaan. Ingatan masa lalu masih membayangi malamnya meski kini seseorang berada di sampingnya. Malam pun berlalu dalam isak kesedihan seseorang. Dulu, ia terbiasa menangis sendirian jika hal ini terjadi. Tapi kini lihatlah, Sasuke tidak pernah mengenalnya. Tapi Sasuke melindunginya.

.

.

.

.

Pagi itu langit agak gelap. Embun mengendap membasahi sebagian dedaunan, tanah berlapis rumput yang hijau begitu menenangkan. Hinata melakukan banyak kegiatan setiap harinya, ia yang terbiasa berada di depan komputer dan dokumen-dokumen perusahaan beberapa minggu ini berubah dengan kegiatan yang lebih aktif. Ia menyiapkan makanan sendiri, mencuci piring dengan tangannya sendiri hingga mencuci pakaian sendiri. Hinata merawat tanaman-tanaman hias di halaman depan rumah setelah selesai mengurusi segala keperluan suaminya dan mengantar Sasuke sampai gerbang. Mereka beraktivitas seperti pasangan pada umumnya. Cover keduanya begitu sempurna mereka tunjukkan pada semua orang. Selayaknya pasangan pengantin baru yang dilanda kasmaran. Tak jarang Hinata mendapat godaan dari tetangganya jika sehabis mengantar Sasuke, membuat pipi porselennya merona merah.

Hinata tengah menyirami tanaman di kebun kecilnya ketika sasuke kembali dari pintu pagar menghampirinya.

"Ikutlah," pintanya.

"Eh, kemana? Dengan pakaian seperti ini?"

"Ikut saja." Sasuke menarik Hinata agar mengikutinya masuk ke dalam mobil.

Mereka akan pergi ke suatu tempat. Keduanya melakukan perjalanan panjang dengan tujuan Kota Suna. Mobil hitam Sasuke menghempas jalanan yang sedikit lembap. Tak lama lagi musim dingin akan tiba merenggut segala kehangatan. Dan perjalanan pun berakhir di sebuah tempat yang amat Hinata kenali. Tempat yang menjadi saksi perpisahan dirinya dengan sang ibu. Langkah Hinata membawa keduanya pada satu batu bertuliskan marga Hyuuga di atasnya. Hinata tertunduk lemas. Ia berjongkok memanjatkan doa untuk orang yang kini terbaring di bawah batu nisan tersebut.

"Kaa-sama," ucap Sasuke seraya turut berjongkok berdampingan dengan Hinata. "Aku meminta izin menjadi suami bagi Hyuuga Hinata."

Hinata tertegun tidak percaya Sasuke bisa mengatakan hal tersebut. Sesuatu dalam hatinya menghangat. Tuhan, kenapa perasaan seperti ini harus muncul setiap kali ia dekat dengan Sasuke? Setiap malam, setiap pagi dan setiap waktu perasaan dalam hatinya perlahan berubah. Hinata bangkit, tak mau berlama-lama terbuai dalam perasaan palsu ini. Benar. Hinata menganggap dari awal segalanya hanya kepalsuan. Hidup yang dijalaninya dengan Sasuke bukan suatu yang perlu ia bawa serius. Mereka hanya sedang menjalankan suatu akting yang sempurna. Angin berhembus menerbangkan dedaunan dari tanah berumput. Pohon-pohon bergoyang dan rerumputan menari, menarik Hinata pada suatu kesadaran. Sejak awal hidupnya hanya pentas sandiwara.

"Ayo kembali, Sasuke-kun."

Tepat setelah Hinata mengatakannya rintik hujan turun. Perlahan namun pasti butirannya merapat semakin banyak membasahi permukaan bumi. Dengan sigap Sasuke membuka jas hitam yang dikenakannya untuk ia gunakan sebagai payung bagi Hinata dan dirinya. Sasuke menarik Hinata berlindung di bawah sebuah pohon. Hari masih pagi namun langit tampak menggelap. Keduanya duduk di atas permukaan akar yang kokoh tanpa mengeluarkan suara. Selama beberapa menit mereka tenggelam ke dalam gemericik berisik yang menenangkan telinga. Hinata memainkan air hujan dengan tangannya seperti anak kecil. Sesekali ia juga merasakan segarnya air hujan yang jatuh mengenai wajahnya. Baju yang Hinata kenakan kini sudah basah kuyup. Entah apa yang membuat Hinata maupun Sasuke enggan beranjak dari tempat mereka, padahal gerbang pemakaman tak jauh dari tempat itu. Mobil Sasuke pun diparkir di dekatnya.

Sasuke menyadari Hinata mulai kedinginan. Bibirnya membiru dan tubuhnya memucat. Di sisi lain ia tak rela jika harus menghentikan Hinata yang keasyikan bermain dengan hujan.

"Hinata kau kedinginan."

Sasuke menyaksikan Hinata menoleh dan menatap heran pada dirinya. Wanita ini selalu tampak cantik bahkan dalam keadaan menggigil seperti ini sekalipun. Ia memaksakan senyuman. "Aku baik-baik saja." Hinata berkilah. Jelas-jelas bahasa tubuhnya berkata lain.

Sasuke mengambil kedua tangan Hinata, menggosok-gosokkan kedua tangannya kemudian menempelkannya pada tangan Hinata.

"Kalau terlalu dingin kau bisa terkena Hipotermia Hinata."

Hujan yang mengawali musim dingin. Udara terasa begitu menusuk tulang dan persendian. Hinata hendak mengatakan sesuatu namun mendadak suaranya hilang. Ia tak bisa berbicara. Sasuke yang memahami hilangnya suara Hinata sebagai gejala kedinginan tanpa berpikir lagi menarik lengan Hinata agar berdiri, mereka harus kembali ke mobil jika tak mau terkena gangguan jantung dan mati sia-sia di tempat ini. Sasuke harus membopong Hinata yang kini kakinya pun tidak sanggup berdiri. Sial. Seharusnya Sasuke tidak membiarkan mereka hujan-hujanan.

Langit tak kunjung terang. Hujan enggan berhenti. Mobil Sasuke berjalan cepat menerobos rintikan hujan yang seperti air tumpah, rapat dan deras. Sesekali ia perhatikan Hinata dari sela konsentrasinya terhadap jalan. Wanita itu tak sadarkan diri saat Sasuke membawanya menuju mobil. Tak ada pilihan lain selain Sasuke harus membawanya ke rumah Uchiha di Suna. Terlalu beresiko jika Sasuke meneruskan perjalan menuju Kiri. Tapi resiko ia pulang pun adalah bertemu dengan keluarganya. Ia benci bertemu dengan para Uchiha.

Ia parkirkan mobil tatkala keduanya sampai di Mansion tempat dimana kedua orangtuanya tinggal. Beberapa maid menyambut kedatangannya, membantu dengan membukakan pintu dan menawarkan makanan serta pakaian untuk ganti.

"Buatkan saja bubur hangat dan bawakan pakaian untuk kami." pintanya.

Dingin menyergap kala dirinya berjalan memasuki ruang utama yang sangat luas. Selalu seperti ini keadaan rumah besar Uchiha. Semua penghuni selalu sibuk dengan pekerjaan mereka tanpa mempedulikan kesepian yang mendominasi isi rumah mereka. Mungkin Sasuke adalah orang yang menyukai ketenangan, namun kesepian itu berbeda dengan ketenangan. Karena hal itulah Sasuke benci berada di rumah.

Sasuke dengan cekatan merawat Hinata. Ketika seorang maid hendak membantu menggantikan baju Hinata, Sasuke dengan tegas menolaknya. Hal itu dapat menjatuhkan harga diri Sasuke sebagai seorang suami bagi Hinata. Sasuke menggantikan sendiri pakaian isterinya, ia kompres kening Hinata yang suhunya terasa panas. Ia rawat isterinya dengan kelihaiannya sebagai dokter. Sehari penuh Hinata tak sadarkan diri.

"Aku belum pernah hujan-hujanan seperti ini sebelumnya, Sasuke-kun. Ini menyenangkan."

Kalimat itu yang terakhir kalinya Hinata ucapkan saat Sasuke membawanya menuju mobil saat di pemakaman. Sasuke sangat mengerti. Ia pun sama seperti Hinata. Pangeran dari kerajaan Uchiha juga hidup seperti itu. Bahkan mungkin lebih dari itu. Uchiha Fugaku sering mengurung Sasuke di kamar selama berhari-hari dengan penjagaan bodyguard ketika Sasuke melakukan kesalahan. Fugaku akan menghukum ketika Sasuke tidak bisa menjadi nomor satu di sekolahnya. Keluarga Uchiha pun akan menghardiknya saat ia memilih berteman dengan mereka yang berasal dari kelas bawah. Bukankah dunia ini sangat tak adil? Mereka yang tidak punya uang tidak bisa menggapai mimpi mereka karena tidak bisa melanjutkan pendidikan. Tak ada bedanya ketika mereka terlahir dari keluarga konglomerat, apakah kalian pikir mereka tetap akan bisa mencapai impiannya? Konglomerat atau rakyat biasa sama saja. Sama-sama diikat oleh nasib.

Pikiran Sasuke tengah mengawang-awang ketika bunyi ketukan pintu menyadarkannya. Uchiha Itachi kemudian masuk menghampiri Sasuke.

"Kau tidak bilang akan kemari Otoutou," sahutnya.

"Berbicaralah dengan bahasa baik Nii-sama. Aku hanya mampir karena Hinata sakit."

"Oh, kau berbicara terlalu formal. Baiklah lupakan. Bagaimana keadaannya?"

"Membaik."

Itachi mengalihkan pandangannya pada Hinata. Gadis itu berbaring tak berdaya, wajahnya pucat dan di keningnya terdapat sebuah kain basah. Ia pasti demam. Itulah hal pertama yang Itachi pikirkan. Mungkin ini untuk pertama kalinya seorang puteri Hyuuga menyentuh apa yang disebut dengan hujan. Tatapannya sarat akan rasa iba. Hidup sungguh sebuah pentas yang menyedihkan.

"Kini dia hanya burung yang sayap-sayapnya dipatahkan."

Sasuke mengernyit heran akan kalimat yang diucapkan Itachi. Belum Itachi berbalik untuk keluar, Sasuke sudah menahannya.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

Sebuah senyuman Itachi simpulkan. Ia sangat tahu jika adiknya bukan seorang yang bodoh dan dengan mudah ia bodohi. Sasuke pasti memahami apa yang Itachi maksud dengan 'sayap-sayap' Hinata. Adiknya hanya ingin memperjelas definisi yang didapatnya sendiri.

"Oh, kau sangat ingin tahu? Kurasa hampir semua orang tahu. Apa pun alasannya Hyuuga Hinata adalah burung yang sayapnya terbentang sangat luas dan lihai dalam hal terbang. Sementara kau, Uchiha Sasuke, hanya merpati yang cacat karena membenci sayapmu. Kalian berdua. Kau dan Hinata pada dasarnya tidak bisa bersama. Sebab jika kau tetap membenci sayapmu, maka burung yang lihai itu tak akan pernah bisa terbang lagi selama hidupnya, kau mematahkan sayap-sayapnya. Lalu, jika kau inginkan dia terbang maka kau harus memilih antara rela melepaskannya atau kau yang ikut terbang bersamanya dengan sayap yang kau benci." Itachi menjelaskan. Ia menatap sosok tertidur Hinata, kemudian beralih kembali pada Sasuke.

"Kau pikir kenapa Tou-sama menjodohkanmu dengan Hyuuga Hinata? Pria tua itu tidak akan melakukan sesuatu yang hanya akan menjadi hal sia-sia untuk dirinya. Dia sedang mengujimu, patahkan sayap-sayapnya... Atau buat sayapmu sendiri dan terbang bersamanya. Dia sedang memaksamu terbang menggunakan sayap yang kau sendiri membenci sayap itu. Pikirkanlah. Otoutou."

Itachi tersenyum sebelum menghilang dari balik pintu kamar Sasuke.

.

Ia mengerjapkan mata beberapa kali. Seberkas cahaya menyilaukan perlahan berdesakan memasuki retina matanya. Baru beberapa menit hingga ia dapat dengan jelas menerjemahkan keadaan di sekitarnya. Kini ia berada di sebuah ruangan yang di dominasi oleh warna putih. Cat tembok putih. Langit-langit putih. Meja dan tabung berwarna putih. Ah ya. Ia sangat kenal dengan bau tak enak yang menyeruak indera penciumannya. Bau obat. Hinata tengah berada di rumah sakit. Setidaknya itulah yang ia simpulkan meski belum sepenuhnya otaknya mencerna keadaan. Hinata melemparkan pandangan pada seorang yang duduk di samping tempat tidur. Wajah seorang yang tersenyum menyambutnya, penuh haru dan cemas. Tak berlama-lama pikirannya memproses, ia langsung tahu siapa orang tersebut.

"Kaa-sama?"

"Sayang? Kau sudah siuman. Bagaimana perasaanmu?"

Suara lembut sang ibu seketika memenuhi atmosfir dalam ruangan. Terlebih ketika tangan ibu Hinata terangkat guna menangkup lembut kedua pipi Hinata, memberi kenyamanan dan perlindungan bagi puterinya. Hinata tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sesuatu dalam hatinya seolah meluber, hangat namun terasa hampa.

Segala yang Hinata lihat seolah diputar balikkan. Sosok ibu perlahan menjauhinya. Bayangannya lambat laun memudar dimakan ruang dan waktu. Ibu Hinata lenyap. Tinggallah ia sendiri dalam kesepian. Kosong. Hinata merasa dirinya jatuh semakin dalam, semakin dalam ke kedalaman ruang hampa. Tanpa bisa berenang ia tenggelam terseret arus waktu.

"Kaa-sama?! Kaa-sama, jangan tinggalkan aku!"

Bahkan suaranya seperti menghilang di udara. Tidak ada yang bisa mendengarnya, sementara ia terus terbawa oleh suatu arus deras.

"KAA-SAMA?!"

Hinata bangun secara sekaligus. Ia terduduk. Keringat dingin mengucur deras dari keningnya. Jantungnya berdebar bak genderang perang sedang tubuh dan syaraf-syarafnya menegang. Napasnya tersengal.

Seorang pria bergegas menghampiri Hinata. Memastikan wanita yang baru siuman dari tidur panjangnya.

"Hinata? Kau siuman? Kau mimpi buruk?"

Pertanyaan bodoh sebab tanpa bertanya pun lelaki itu bisa melihat bahwa Hinata sudah siuman.

Hinata menoleh pada sosok pria yang kini duduk di samping tempat tidur. Wajahnya sama cemas dan sama tenangnya dengan wajah yang baru saja ia temui di alam mimpi. Meski tak terlalu ketara di balik ekspresi dinginnya. Ya. Hatinya tak ayal kosong mendapati kenyataan bahwa yang barusan terjadi hanya mimpi semata. Hanya fantasi alam khayalan. Tak akan pernah menjadi kenyataan. Ekspresi keduanya begitu sama menyambut Hinata walaupun mereka bukan orang yang sama. Bukan ibu yang saat ini berada di sini, melainkan Uchiha Sasuke suaminya. Ia tersenyum miris.

Ugh, kepala Hinata sakit sekali. Rasanya seperti berputar-putar. Tubuhnya terasa tak nyaman. Ia pasti sakit seharian. Hinata baru menyadari dirinya tidak sedang berada di rumahnya di Kiri.

"Bawa aku pulang Sasuke-kun."

"Sudah malam Hinata, makan dan tidur."

Jangankan menurut, Hinata justru bersusah payah bangkit dari posisi berbaring. Ia langkahkan kakinya mengambil sebuah mantel yang tersampir di gantungan. Mengabaikan Sasuke.

"Kita harus ke Kiri. Sasuke-kun."

"Besok Hinata. Kemarilah,"

"Aku mohon." Hinata hanya tidak mau terlalu banyak menyusahkan suaminya. Cukup karena ulahnya Sasuke harus kerepotan merawat Hinata. Ia tidak mau Sasuke absen dari pekerjaan barunya hanya karena dirinya.

Tadi Neji sempat menelpon Sasuke begitu tahu kabar dari Itachi bahwa Hinata sedang sakit di Suna. Meminta agar Sasuke menjaga baik-baik adiknya. Sasuke hanya tidak mau mati di tangan pewaris Hyuuga itu jika setelah ini Hinata jatuh sakit lagi. Neji juga sempat memberitahukan pada Sasuke bahwa tidak lama dari sekarang Hyuuga Hinata akan secara resmi menjadi salah satu pemegang saham utama perusahaan. Neji sangat berharap kerjasama Sasuke sebagai suami Hinata. Sasuke hanya mendefinisikan ini sebagai peringatan, bahwa apa pun yang Sasuke coba lakukan untuk keluar dari garis ini, darah yang melekat dan mengalir dalam diri mereka telah memberikan jawaban mutlak. Sejak awal kehidupan mereka terikat. Tak akan pernah berubah.

"Aku mohon, Sasuke-kun?"

Sasuke berjalan menghampiri Hinata. Di tengah keheningan malam, Hinata merasakan sesuatu menelusup di antara kedua sisi tubuhnya. Sasuke memeluk Hinata dari belakang.

"Kau masih demam," bisiknya, merasakan panas tubuh Hinata. Sasuke merangkum Hinata dalam dekapan hangat.

"S-Sasuke-kun, apa yang terjadi?"

Sasuke tak membalas pertanyaan isterinya. Hinata mungkin belum mengenal betul sosok seorang Uchiha Sasuke. Tapi entah apa yang membuatnya tahu jika sesuatu tengah menjadi bahan pikiran Sasuke. Ia bisa merasakan kebingungan yang sedang melanda suaminya. Tak biasanya Sasuke bertingkah seperti ini.

Hidup ini begitu lucu menjungkir-balikkan manusia. Sasuke terkekeh geli dengan semua yang dialami olehnya. Semuanya sama saja. Penuh kepalsuan.

"Hinata." Sasuke mempererat pelukan tangannya. Menyesap rambut indigo sang isteri yang tergerai, mencari kehangatan. Ia hela napas panjang sebelum bercerita. "Aku telah menolak mahkota dari Sang Raja, sebagai imbalan rasa bersalahku, aku memperoleh sebuah belati yang kini siap menikam diriku sendiri."

Itachi benar. Saat seorang pangeran menolak mahkota sang ayah, maka selamanya ia harus tetap menolak apa pun yang menjadi pemberian Raja. Sasuke salah karena menerima pemberian Raja. Menurut pada satu permintaan ayahnya hanya untuk menikahi Hinata.

Hinata menggenggam tangan Sasuke yang melingkari pinggangnya. Memberikan sebuah perlindungan dan dukungan meski ia tidak tahu inti dari permasalahannya. "Bahkan jika pun itu sebuah belati. Seharusnya kau bisa membuatnya menjadi senjata mematikanmu. Sasuke-kun. Kau hanya perlu menjinakkannya."

Mungkin Hinata juga benar. Tak ada yang bisa diubah apa yang sudah terjadi. Sasuke hanya perlu 'menjinakkan' belati itu. Artinya ia masih bisa membentuk masa depan yang lebih baik dari ini.

"Kita pulang saja." Sasuke berbisik.

"Ya. Ayo kita pulang ke rumah." Hinata tersenyum.

.

.

.

.

"Apa? Kau sudah cukup menyuruhku selama satu bulan ini, Nee-sama. Kau pikir pekerjaanmu itu sedikit?"

Hyuuga Hanabi memutar bola mata malas. Seorang di depannya tertawa cekikikan mengejeknya. Sementara ia terus memelototi si wanita agar berhenti mengejek dirinya. Ia alihkan kembali perhatiannya pada suara di dalam ponsel.

"Ah aku benci karena iba mendengar permohonanmu Nee-sama. Tidak bisakah kau gilirkan saja posisi itu padaku? Mungkin aku akan lebih rela melakukannya." Tidak dalam sedetik saja wajah merengut Hanabi langsung berubah sumringah. Sebuah semangat menggebu mendadak mengelilinginya. "Baiklah kalau begitu. Nah, aku kan jadi lebih 'rela'. Jaa! Nee-sama." Hanabi pun menutup sambungan.

Wanita di depannya melirik curiga sementara anak dalam gendongannya terus menggapai-gapai rambut berwarna pink yang ia gerai. Sedikit risih meskipun tingkah anak itu tak ayal membuatnya tertawa geli.

"Apakah sesuatu kau dapatkan?" tanyanya.

Hanabi tersenyum lebar. "Tentu. Nee-sama menawarkan Asisten Dewan padaku. Yah, sebuah pencapaian tertinggi. Kupikir. Selama ini seorang Hyuuga Hinata tidak pernah menanggalkan pekerjaannya pada orang lain. Dia adalah seorang yang terampil dan menjadi andalan kami. Tangannya berperan sangat besar membangun Hyuuga Group."

"Hinata-san pasti orang yang hebat. Dia lulus dari Magisternya di usia muda." Sakura menyahuti antusias.

Wajah Hanabi tiba-tiba berubah dalam air kesedihan. Pandangannya menerawang. "Itu sudah pasti. Jika saja..." Hanabi menunduk. "Jika saja ia menolak pernikahannya dengan Uchiha."

Sakura merasa simpati. Suasana berubah sedikit tak nyaman. Saat tiba-tiba anak kecil dalam gendongan Sakura menarik hidungnya hingga membuat Sakura memekik. "Hei.. hei.. Uzumaki Arata! Beraninya kau pada ibumu? Hah?"

Anak itu tertawa, mentertawakan sang ibu. Hanabi yang dalam keadaan kurang baik pun mau tak mau turut tertawa mengikuti anak Uzumaki itu. Sakura ikut tertawa. Suasana pun seketika berubah dalam keceriaan. Hanabi maupun Sakura kembali melanjutkan kegiatan awal mereka mendiskusikan sesuatu.

.

.

.

.

To Be Continued

Author Note :

Cerita ini saya hapus karena saya pasang sebagai orifict di platform Dreame/Innovel, saya terikat kontark dengan Dreame jadi saya harus menghapus cerita fanfiction ini. Silakan berkunjung jika berkenan, judul masih sama Wind of Change namun dengan penname penulis Shargadiva. Akan ada alur dan plot yang berbeda di pertengahan ceritanya. Terima kasih.