Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh. Entah sejak kapan pula wajah pucat itu menjadi pemandangan yang teramat indah bagi ku. Aku pun tak tahu, dan tak mau tahu. Karena cinta tak butuh alasan, tak menuntut jawaban. Mungkin karena bunga mawar itu, the rose. Aku mungkin tak pantas untuknya, aku masih muda, katanya. Tapi bukan Namikaze Naruto namaku jika aku menyerah! Aku Uzumaki Naruto umur 23 tahun, makanan kesukaan ramen jumbo pedas, akan selalu mencintai dan mendapatkan cinta, Uchiha ... Mikoto !


~Be Adult~

By ZYT

Warning(PENTING!) : megandung : BL, Gay, ceritanya gaje ,ide pasaran, alur kecepatan,alur nya berubah-ubah, Typo yang berserakan, dan lain-lain.. Garis miring itu flashback.

(Harap diperhatikan tulisan diatas, sebelum menyesal dikemudian hari)

Rate : T

Pair : SasuNaru, Narukoto(betulgakya?),maybe ItaNaru

Mind To R & R minna?

Let's Begin!


Langit kini menghitam. Bukan karena mendung atau akan turun badai. Tidak, sekarang hanya turun salju. Malam telah menyambut langit Konoha kini. Konoha ... kota yang penuh dengan hiruk pikuk penghuninya dengan kesibukan masing-masing. Namun begitu nostalgia bagi Uchiha Sasuke.

Tangan putihnya membetulkan posisi topinya agar menutupi wajahnya yang tampan. Wajah yang menghipnotis kaum hawa, namun begitu kaku dan dingin. Mempercepat langkahnya, dengan cool nya Sasuke memasukan tangannya kedalam coatnya meredam hawa dingin. Karena memakai sarung tangan bukanlah hal yang disukainya. Bodoh memang. Tapi dengan tangan yang dimasukan kedalam kantung coatnya yang hangat itu membuatnya makin keren bukan?

Sepatu boots hitamnya tertupi salju membuatnya harus menundukkan tubuh tingginya untuk menepis salju disepatunya, mengganggu langkahnya. Lalu berjalan lagi menghadang salju yang menutupi jalanan beberapa centi tebalnya. Dia harus segera pulang kerumah tempat ia dibesarkan dulu dan sekarang. Walau pun sekarang rumah megah itu jarang diinjak kakinya lagi. 2 tahun lamanya ...

Bukan, Sasuke bukanlah anak yang kekurangan kasih sayang sehingga membuatnya tak betah dirumah itu. Semejak ayahnya Uchiha Fugaku meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya menuju alam yang lebih abadi, Ibunya, Uchiha Mikoto sering sakit-sakitan. Sakit paru-paru yang dideritanya makin membuat Mikoto kurus dan lemah. Itachi, kakak kandung Sasuke pun tak pernah dirumah. Dia di Suna untuk melanjutkan studi S-2 nya dibidang Bisnis. Tak ada yang bisa merawat Mikoto. Sasuke pun tidak! Dia hanya siswa kelas 2 SMA. Bisa apa dia? Sebagian besar waktunya dihabiskan disekolah mewahnya itu,Tokyo International School. Yups,Sasuke sekolah diluar kota. Sekolah dan kuliah di luar kota memang merugikan. Membuat kau tak bisa diandalkan orangtua mu yang membutuhkan tenagamu untuk berbakti di usia senja mereka. Dan itu dirasakan oleh Sasuke dan Itachi. Hanya merasakan namun tak dijalankan. Mereka masih tetap tinggal dikota mereka masing-masing.

Menghela nafasnya sebentar ,Sasuke pun mulai memasuki gerbang rumahnya. Lambang kipas kerajaan-lambang marga Uchiha-terpampang besar dipagar besi itu. Berkarat. Onyx hitamnya melihat kesekeliling rumahnya, 'berantakan sekali' pikir Sasuke. Apa penyakit ibunya separah itu sampai-sampai bunga-bunga mawar yang dulu begitu dirawat ibunya kini menguning layu dan kering. Halaman rumah yang dulu bersih dan rindang kini kotor bagai rumah yang tak dihuni berbulan-bulan. Huh, apa mungkin?

Mengernyitkan alisnya, Sasuke membuka pintu rumannya dengan kunci cadangannya.

'Cklek'


"Fugaku ... hiks, mengapa kau tinggalkan aku sendirian? Hiks .. kau bilang kau akan mencintaiku. Kau bilang kau akan selalu menjagaku! Mengapa ... hiks, Mengapa kau pergi. Bangun Fugaku, bangun ! "

Air mata Mikoto jatuh membasahi wajah pucat dan sedingin es Fugaku. Kematian Fugaku begitu tiba-tiba. Padahal Mikoto masih bisa merasakan pelukan hangat dari suaminya itu ketika Ia mau memasak makan malam. Bahkan, ketika ia tidur Fugaku terus memeluknya, menyalurkan kehangatan. Namun, mimpi buruk terjadi esoknya ketika bangun tidur, fugaku tak bernyawa lagi. Penyakit jantungnya membuat ia harus menghadap sang Ilahi.

" Sabar kaa-san, ikhlaskan Tou-san ... " Itachi terus mengelus punggung rapu ibunya yang terus menangis itu.

Sasuke hanya bisa menangis. Dia masih kelas 3 SMP, dan sudah tak bisa merasakn kasih sayang seorang ayah. Buat apa hidup bergelimangan harta namun hidupmu hampa tanpa cinta.

"Tou..san.." lirih Sasuke

Hari itu adalah hari dimana kebahagian telah sirna...


Setelah melepas Boots nya dan meletakan dirak sepatu, Sasuke melenggang masuk ke rumahnya yang terang karena cahaya lampu. Sasuke sudah menduga, orang itu pasti sudah sampai dirumah. Berbelok kearah kanan, Sasuke menuju kearah kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan kedinginan. Namun suara yang sangat dikenalinya harus menghentikan langkahnya. 'Baka!' batinnya.

"Kukira kau lupa jalan pulang!"

Sasuke membalikan badannya. Wajah senyum aniki nya membuatnya muak, ya itulah kebiasaan anikinya yang teramat murah senyum itu. Menganggapnya seperti anak kecil yang selalu harus diawasi. Mana mungkin dia melupakan rumahnya meskipun dia sudah tinggal di Tokyo dua tahun lamanya.

"Aku mau istirahat!" ucap Sasuke dingin.

Menghela nafasnya, Itachi melipat kedua tangannya didepan dadanya. Matanya menyelidiki Sasuke yang balas memandangnya dingin. Apa benar mereka abang beradik?

"Kapan kau sampai?. Dan ... mana barang-barang mu?Kau sudah janji bukan?" ucap Itachi menyelidik.

Adiknya itu tak membawa koper atau tas besar yang menandakan dia akan pindah sekolah ke Konoha. Sasuke hanya memakai back bag yang tentunya hanya bisa menampung beberapa helai pakaian tak terkejut dengan itu. Ketika dia menyuruh Sasuke agar pulang ke Konoha dan melanjutkan sekolahnya di Konoha, Itachi tak berharap banyak kalau adiknya yang pembangkang itu menurutinya. Syukur, Sasuke pulang. Tapi apa permintaan selanjutnya agar dituruti Sasuke?

"Bisakah besok saja kau wawancarai aku Itachi?!" Sasuke meneruskan langkahnya menuju kamarnya yang nyaman. Sungguh, pertanyaan Itachi tadi makin membuatnya lelah.

Melihat punggung Sasuke yang kian menjauhinya dan suara 'blam' terdengar keras, Itachi pun melangkah menuju kamarnya juga. sekarang sudah jam 1 dini hari, dan tidur adalah ritual yang menyenangkan.


Suasana duka masih menyelimuti keluarga Uchiha walaupun sudah satu bulan lamanya. Terlebih bagi Mikoto yang teramat mencintai sosok suami sekaligus sahabatnya yang selalu menemaninya. Kondisi kesehatannya makin hari makin memburuk. Karena kanker paru-paru yang dideritanya entah sejak kapan membuat tubuhnya terlalu lemah bahkan untuk melarang Sasuke. Ya melarang Sasuke ...

"uhuk..Mengapa tidak sekolah di Konoha saja Sasuke? Masih banyak sekolah yang ..uhuk .. bagus" kata Mikoto sambil memegang dadanya yang sedikit sakit.

Sasuke memberi segelas air putih yang terletak di meja sebelah kiri tempat tidur Kaa-san nya, untuk meredam sedikit sakit ibunya itu. Tubuh yang tengah berselimut itu memandang melas pada anak terakhirnya agar mengasihaninya. Ya mengasihaninya .

"Ini impianku Kaa-san. Lagipula aku tak mau menyia-nyiakan beasiswa ini" Sasuke menundukan kepalanya. Tak berani menatap langsung kemata kaa-san nya yang sedari tadi memandangnya.

"Kaa-san sakit Sasuke ... " lirihnya. Dadanya kembang kempis menahan sesak, Mikoto menangis.

Sasuke dengan sigap menghapus air mata wanita yang sangat ia cintai itu. Ekspresinya melembut. Ia tahu ibunya sakit, kanker paru-paru. Kebiasaan mendiang ayahnya yang pecandu rokok itu berdampak buruk bagi ibunya. Perokok pasif memang lebih rentan terkena kanker paru-paru. Tapi Sasuke merasa ia lah yang menjadi korban.

"Hanya Sasuke lah yang Kaa-san punya sekarang. Itachi di Suna sekarang. Apa kau juga mau meninggalkan Kaa-san Sasuke?"

"A..aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini Kaa-san ..." Sasuke menatap Kaa-san nya. Ia melihat bagaima wajah pucat itu kecewa,marah,sakit. Sasuke tau -san nya sendirian dan jika ia pergi pasti tak ada yang mengurusnya. Tapi sifat egois khas Uchiha telah melekat pada dirinya. Ia tak ada pilihan lain.

"Terserah... Lakukan apa yang menjadi jalan hidupmu, lakukanlah Sasuke. Kaa-san mengerti sifatmu! Tak ada gunanya Kaa-san melarangmu!" ucap Mikoto sambil membaringkan tubuhnya ke arah kanan, ke arah dimana ia masih bisa melihat taman mawarnya yang indah melalui jendela kamarnya. Meredam emosinya.

"Maaf kan aku, kaa-san. Maaf ... " Sasuke berjalan menghadap Kaa-san nya yang membelakanginya. Memegang tangan rapuh Kaa-san nya. Dan menangis sambil terus mengucapkan maaf pada wanita yang telah melahirkannya 15 tahun silam.

Dan malam itu Sasuke langsung meninggalkan Kaa-san nya, serta Konoha yang menjadi tanah kelahirannya menuju ibu kota negara Jepang. Tempat ia akanmelanjutkan Senior High Schoolnya, tanpa meminta restu pada Kaa-san nya atau mengucapkan kata selamat tinggal.

Dengan mengginya pesawat diudara, Sasuke seperti membuang semua kenangannya bersama bintang yang menyelimuti malam.


Itachi menggedor pintu berwarna biru donker itu berulang ulang. Mencoba membangunkan, atau mungkin mencoba merubuhkan kamar Sasuke. Ya, dia memang sungguh terlalu. Namun tak ada respon dari Sasuke. Itachi pun jengah.

"Sa... "

'cklek'

"...Suke"

Itachi terkejut. Sasuke sudah berpakaian rapi malah. Lalu senyum pun menghiasi wajah dengan tanda lahir seperti keriput itu.


"Bagaimana sekolahmu Sasuke? Kudengar kau cukup berprestasi di sana" Tanya Itachi pada pria yang lebih muda 5 tahun dihadapannya ini. Setelah sarapan-buatan Itachi-Sasuke pun bersedia atau tepatnya terpaksa mengobrol atau lebih tepatnya lagi diintrogasi oleh baka aniki nya itu.

"Seperti biasa, membosankan. Tapi mungkin akan lebih membosankan jika aku sekolah di Konoha" lanjutnya "Kau memata-mataiku Itachi?" selidik Sasuke.

"Aku tak ada waktu untuk melakukan itu baka ototou! Lagian aku hanya menebak dan ya, tebakan benar. Uchiha kan memang jenius" Itachi tersenyum ramah, lagi-lagi.

"hn" gumam Sasuke. Sangat membosankan baginya mendengar basa-basi Itachi.

"Kau tak berubah Sasuke. Bahkan sekarang kau makin membosankan. Tak bisakah kau lebih banyak bicara? "

"Aku tak mau menjadi cerewet seperti kau!"balas Sasuke dingin

"hn" kali ini Itachi yang bergumam, meniru style Sasuke yang sebelumnya membuatnya kesal. Dan sekarang berhasil membuat Sasuke ingin menonjok wajahnya.

Sesaat mereka terdiam. Suara detik jam bagai musik utama di rumah mewah Uchiha ini. Sampai suara pria yang baru saja menyelesaika S-2 nya itu memecah kesunyian.

"Seperti pertanyaanku semalam, mengapa kau tidak membawa koper? Aku sudah memohon padamu untuk tinggal di Konoha. Apa kau tak mau mendengarku Sasuke?"menghela nafasnya yang terasa berat, Itachi malanjutkan perkataannya.

"Kau juga susah dihubungi. Bahkan setelah beribu-ribu kali aku mencoba menelponmu hanya 3 kali kau mengangkat teleponku. Aku tak masalah jika tak dianggap keluarga olehmu Sasuke. Tapi.. Apa Kaa-san juga ? kau tak pernah menghubunginya dua tahun belakangan"

"Aku sudah pulang Itachi!" Ucap Sasuke singkat. Dia menyadari kesalahannya yang ia sengaja.

"Apa Kau tak menyadari Sasuke? Dimana Kaa-san kita sekarang? Bagaimana keadaannya, mati atau masih hidupkah dia? Pasti hatimu yang hanya berisi kebencian itu tak akan terlintas pertanyaan seperti itu dibenakmu!"

"Bahkan untuk memberi kabar kepada ibumu sendiri saja kau tak mau! Kau bahkan tak pernah pulang ketika sekolahmu sedang libur, pada saat natal pun tidak. Dan kau tahu, Kaa-san sering masuk rumah sakit. Penyakitnya makin parah, terlebih karena rindunya pada dirimu... Entahlah Sasuke, aku tak mengerti akan dirimu"

Sasuke menundukan kepalanya merasa bersalah. Dia mendengar perkataan Itachi yang biasa ia abaikan itu. Apa ia masih menganggap Kaa-san nya dan Itachi sebagai keluarganya dengan tingkah lakunya yang bagai anak durhaka selama dua tahun ini? Sasuka sering mengganti nomor hp nya agar Itachi tidak menghubunginya karena Ia tahu, abangnya itu akan sangat marah karena ia lebih memilih sekolah di Tokyo dan meninggalkan ibunya yang sakit. Sebelumya Itachi memang sudah berpesan padanya untuk selalu menjaga ibu mereka. Tapi, entahlah saat itu Sasuke merasa Itachi egois. Dia saja kuliah di Suna, mengapa dia tak boleh sekolah di Tokyo? Atas dasar itu, Sasuke meninggalkan ibunya dan dia sama sekali tak tahu kalau ibunya menghubunginya. Sasuke kira Ibunya itu membencinya, menganggapnya anak durhaka.

"Aku pun salah Sasuke. Aku yang seharusnya disalahkan atas semua ini karena tak bisa menjadi kepala keluarga yang baik menggantikan Tou-san. Aku gagal menjalankan pesan terakhir Tou-san untuk menjaga Kaa-san dan Kau, Sasuke. Aku tak bisa. Pendidikanku harus kuselesaikan dan Kaa-san pun setuju akan itu walau aku berat meninggalkan Kaa-san, aku pun berangkat ke Suna" Itachi masih ingat tatapan lembut Kaa-san nya yang menyuruhnya agar menyelesaikan S-2 yang sudah separuh nafasnya. Dia menatap Sasuke yang tertunduk.

"Perusahan Tou-san bangkrut setelah itu. Tou-san terlalu banyak berutang pada bank untuk modal perusahaan. Dan bukan hanya itu saja, banyak pengkhianat di Uchiha Corp di Perusahaan Tou-san dulu. Tou-san terlalu memikirkan itu. Tekanan darah tinggi nya naik, penyakit jantungnya kambuh dan Tou-san meninggal malam itu. Aku lebih merasa gagal lagi setelah Kaa-san mengabariku bahwa kau akan sekolah di Tokyo. Aniki macam apa aku ini?"

Sasuke merasa suara Itachi bergetar. Beban yang ditanggung Itachi terlalu banyak. Namun dia terlalu egois memikirkan dirinya sendiri. Sasuke tak pernah memikirkan perasaan orang lain sehingga beginilah ia, menyesal. Dan Sasuke pun tak ahli menenangkan perasaan orang lain, jika Sasuke ahli dalam hal itu mungkin dia akan menenangkan aniki nya yang sedih itu, walau tak menangis.

Mereka terdiam sesaat, sampai Itachi melanjutkan pembicaraannya lagi.

"Kaa-san sekarang dirumah keluarga Namikaze. Keluarga mereka lah yang mengurusi Kaa-san."

"Namikaze?" tanya Sasuke

"Ya. Keluarga Namikaze Minato. Teman akrab Tou-san dan Kaa-san"

Sasuke diam setelah itu. Dia tahu alasan mengapa kaa-san nya sekarang tinggal di rumah keluarga Namikaze, karena tak ada yang merawat kaa-san nya. Bahkan anaknya pun tak bisa diharapkan. Sasuke hanya diam, ya dia berharap Kaa-san nya masih menganggap dia anaknya.

"Aku ada kabar buruk untukmu Sasuke... Kau tahu Namikaze Naruto?" tanya Itachi, membuat Sasuke mengangkat kepalanya memandang Itachi. Ekspresi serius terpahat diwajah tampan Itachi. Sasuke mengernyitkan alisnya bingung, mengapa aniki nya itu harus bertanya apa ia tahu Namikaze Naruto. Dan apa hubungan nya Namikaze Naruto dengan kabar buruk untuknya. Dia tak peduli dengan pria itu. walaupun Namikaze Naruto mati pun ia tak peduli, karena itu bukan urusannya.

"Ya. Kenapa? Dan apa kabar buruknya"

"Aku berharap kau tak pingsan Sasuke, kerana aku pun seperti mau mati ketika mendengar kabar ini" ucap Itachi. Namun terkesan berlebihan bagi Sasuke mendengar Itachi berbicara seperti itu. seperti mau mati katanya? Apa seburuk itu kabar buruk itu?

"Sekarang Kaa-san kita sudah tidak bermarga Uchiha lagi Sasuke. Dia sudah Namikaze sekarang"

"Apa maksudmu Itachi? Kau becanda! Kaa-san kita adalah Uchiha Mikoto!" Sasuke sedikit membentak Itachi. Tak terima.

"Itu dulu Sasuke. Sekarang Kaa-san sudah tidak bermarga Uchiha lagi, bukan Uchiha Mikoto lagi. Tapi Namikaze Mikoto. Kaa-san sudah menikah dengan ... "

Sasuke menelan ludahnya yang bagai sebesar terumbu karang di lautan. Ia berharap semoga kabar buruk ini tak ada sangkut pautnya dengan anak dari Namikaze Minato itu. Namun saat Itachi melanjutkan perkataannya yang sempat ia jeda,

"... Namikaze Naruto"

Dunia Sasuke terasa hancur seketika. Benar kata Itaci rasanya seperti mau mati saja. Dia sekarang sudah punya ayah baru yaitu Namikaze Naruto.


TBC ...

Yehehe.. gimana minna, bagus gak? Bagus kan! Kalau ada yang bilang jelak saya suruh Sasuke cium Naruto dan kalau ada yang bilang jelek banget saya suruh Sasuke dan Naruto yaoi an... Asyek kagak tuh.

Minna : Tapi kalau kami bilang bagus?

Zyt : Saya suruh Fugaku dan Minato yaoian.. hehehe! #Fujoshiakutnyakambuh#

Fugaku : Bukannya aku sudah mati Zyt baka?! Kau hanya menyewa namaku saja!

Tiba-tiba nyelonong, membuat Zyt yang tengah memakai kebaya keran sudah siap-siap mau menikah dengan Kakakshi (kakak nya Shikamaru, yehehhe) terkejut.

Zyt : Baka! Bersyukurlah Fuga! untung namamu kumasukan dalam karyaku yang sangat luar biasa bombay itu! dan asal kau tahu untuk menyewa namamu saja aku harus membayar trilyunan rupiah pada Mashashi Kishimoto senpai! Kau pikir aku ini anak orang miskin ha?! Aku ini anak orang Jawa, hahaa...

Fugaku : #sweatdrop# ku kira kau anak mamak mu, ternyata.. apa kau putri yang terbuang Zyt?

Zyt : Enak saja kau bicara. Ibuku tak akan membuang putrinya terlebih aku yang sangat cuantik mirip omas. Ibuku hanya buang BAK dan BAB saja. Cam kan Itu!.

Fugaku : Ya kau memang cantik dan sangat mirip Omas. Bibirmu juga..

Fugaku meninggalkan Zyt. Zyt tertawa terbahak bahak di depan wajah Kakakshi. Jigong Zyt yang habis makan jengkol parut menempel di wajah tuamvan Kakakshi. Namun kakakshi santai saja. sudah terbiasa...

Zyt : Ya aku meman cantik mirip omas. HAA...?! OMAASS?!#menjerit#

Di tempat lain

Omas : Bulu kuduk gue kok merinding ye?

Minna : Huh.. gaje!


REVIEW YA MINNA

AWAS KALAU ENGGAK, ENTAR SAYA CIUM..ummah...:*