"Minna! Yokatta, kimi-tachi wa daijou–"

"...T-T-Tsuna...?"

"Mo-monster!"

"Na-nani? A-apa yang kalian katakan?"

"Kau membunuh mereka!"

"Ja-jangan dekati aku! Ka-kau bukan bossu!"

"C-chotto matte! Mereka ini–"

"Dasar iblis!"

"Che. Ternyata busuk didalam."

"K-kufufu... karena itu aku benci mafia..."

"Pembunuh!"

"Pengkhianat!"

"LEBIH BAIK KAU MATI SAJA!"


[BROKEN – The Story]

Rated : T for safety
Genre : Angst
KHR owned by Amano Akira

By : Miyucchi sang Cappuccino

Warning(s) : 6YL, Illness!Tsuna, Broken!Tsuna, typo, DLL


1 YEAR LATER

Author POV

Matanya terbuka pelan, kembali berhadap dengan pemandangan yang sama; langit-langit kamar.

Beep, beep, beep–

Mesin itu terus-menerus berbunyi, menandakan adanya kehidupan pada sosok lelaki yang terbaring di kasur putih itu. Beberapa kabel juga tersambung ke tubuhnya, seakan-akan mereka sudah menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Irisnya yang coklat nan bulat melirik ke jendela, berusaha bertatapan dengan langit pagi. Walau sudah jam segini, matahari enggan keluar seakan tidak mau menghadapi dunia.

"Sudah setahun sejak hal 'itu', ya..." Lirihnya pelan kepada dirinya sendiri. Sebuah nampan berisi makanan dengan sebuah catatan dan obat yang sudah duduk manis di sebelahnya. Dari uap yang mengepul, bisa dipastikan itu baru saja ditaruh oleh para pelayan. Dengan pelan, dia membaca surat itu.

Tsuna-sama, kuharap anda menyukai sarapan anda. Kami tidak ingin mengganggu tidur Tsuna-sama, sehingga kami hanya bisa meninggalkan catatan ini. Tetaplah semangat, Tsuna-sama. Dan terimakasih atas segala kebaikan anda.

Kami tidak akan pernah meninggalkan anda.

God bless you,

-Karin

Dirinya tersenyum pelan membaca itu. Walaupun hanya pelayan, mereka tidak pernah gagal untuk membuat Tsuna selalu hampir menangis terharu. Mereka terlalu loyal kepada orang sepertinya. Seorang 'monster' sepertinya.

Monster berdarah dingin. Seperti julukan Lambo untuknya.

'Ah, bagaimana dengan kabar mereka, ya...? Sudah lama mereka tidak kemari... Apa mereka sehat? Aman? Bahagia?'

Bahagia.

"Apa kau bahagia, Sawada Tsunayoshi?"

Ucapan Bermuda terus terngiang di otaknya. 'Bahagia?' Dia memandang sedih sendoknya. 'Menurutmu apa, Bermuda?'

'Apabila teman-temanku tidak bahagia, bagaimana caranya aku menemukan kebahagiaan?'

Tsuna menatap pilu tangannya yang sudah memucat. Pandangannya kosong, tanpa adanya cahaya semangat kehidupan seorang 'langit'.

Sama seperti langit hari ini–tanpa ada cahaya ataupun awan putih,

Dirinya, sang 'Sky', sudah kehilangan segala harapannya, sejak teman-temannya hanya memberikan punggungnya ketika dunianya hancur.

Dan hingga sekarang, sang langit terus menunggu hingga sekarang. Menunggu semuanya kembali normal, tanpa peduli tubuhnya sudah tergerogoti seperti ini.

'Aku tidak apa-apa. Tunggu... Sebentar lagi...'

Hingga kini, dia terus memandang pintu kamarnya. Menunggu sebuah derap langkah, dan kicauan dari orang-orang yang dicintainya.

"...Argh...!" Lagi-lagi sakit kepalanya kambuh. Dirinya bersusah payah meminum obatnya, sembari menenangkan napasnya yang tidak beraturan.

'Be-...r...sa-...bar... Ts-s...u...na-...'

Bisakah dirinya terus berharap untuk sebentar lagi?


Bermuda memantau pemuda brunette itu dengan prihatin. Ingin rasanya dia menghampiri sang langit dan menemaninya hingga detik terakhir. Tsuna tidak pantas mendapatkan ini semua. Memang, dirinya pernah dikalahkan oleh pemuda itu di masa lalu. Tetapi, dia masih menerimanya sejahat apapun dirinya.

Heck yeah, mengapa orang sepertinya harus berada di dunia seperti ini?

Sang boss Vindice itu menggertakkan giginya kesal. "Bahkan mereka tidak sudi sedikitpun untuk melirik ke boss mereka sendiri..," Bisiknya pelan, sekaligus menyadari keberadaan seseorang dibelakangnya.

"...Jadi, apa yang kau rencanakan, Byakuran Gesso?"

Byakuran, yang sudah menduga akan ketahuan, tersenyum kecil. "Aah~ Ketahuan~... Soal rencana," Pandangannya semakin sedih. "...Berusaha... agar Tsunayoshi-kun senang?"

Ya. Setidaknya itulah rencananya untuk kali ini. Sama seperti Bermuda, dirinya sudah melukai pemuda itu dan Yuni. Dan lagi-lagi, dirinya dimaafkan.

Sungguh, sebuta itukah para guardians hingga tega melakukan hal ini?

Tidak tahu.

"Bermuda..."

"Apa?"

"Pernah dengar? 'Kenyataan memang pahit, namun kesalah-pahaman sangat mematikan.' Apa kalimat itu ada buktinya?"

Heh. Pertanyaan yang bodoh.

"...Ada. Dan yan buktinya adalah seseorang yang tidak pantas mengalami hal ini."


"Argh..."

Tsuna berusaha menahan rasa sakitnya yang kembali berulah. Dia memang sudah terbiasa, namun untuk kali ini tidak. Sakit. Terlalu sakit. Seakan-akan kepalanya mau pecah. Apakah ini peluit penghabisannya?

Beep, beeep, beeeeep–

Suara mesin itu terus melambat tiap detik. Keringat tidak henti-hentinya mengalir di pelipisnya. Dia bahkan tidak menyadari darah yang mengalir dari mulutnya. Waktunya sudah tiba.

Ah. Lagi-lagi. Bayangan mereka kembali datang.

' Gokudera-kun,'

"Jyuudaime! Saya berjanji akan menjadi tangan kanan anda!"

'Yamamoto-kun,'

"Maa, maa. Sepertinya menarik~"

'Lambo,'

"Gyahahaha! Dame-Tsuna memang payah!"

'Onii-san,'

"EXTREEEMEEEEEE BOXING!"

'Hibari-san,'

"Kamikorosu, herbivore."

'Chrome,'

"Bo-bossu..."

'Mukuro,'

"Kufufufufu... Suatu saat aku akan mengambil alih tubuhmu, Sawada Tsunayoshi."

'Okaa-san...Otou-san... I-pin... Fuuta...'

"Ohayou, Tsu-kun/Tsuna-fish/Gege/Tsuna-nii!"

'Minna...'

Ah, andaikan saja mesin waktu benar-benar ada.


Apa kalian percaya?
Saat seseorang bertemu dengan ajalnya,
Dia akan selalu, selalu memikirkan orang yang dikasihinya
Walau mereka–bahkan dunia menolaknya

Apakah mereka akan meneteskan airmatanya,
untuk dirinya yang sungguh menyedihkan?

Apa mereka dapat bersama kembali,
tanpa dirinya?

Apa mereka bahagia,
Ketika dirinya pergi?

Apabila orang lain berpikir itu merepotkan,

Dirinya justru membutuhkannya

Seperti kata orang,

.

.

[Penyesalan memang datang terlambat]


'Gomen.'

Tes.

'Gomenasai, minna.'

Tes. Tes.

'Hontouni... Gomen.'

Bulir-bulir air mata jatuh dari pelupuk mata, mengalir dan menyatu dengan cairan merah pekat di dagunya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya. Sebuah senyum, yang biasa dia berikan kepada teman-temannya.

'Sepertinya... aku memang tidak bisa membenci mereka...'

Ya. Dia sama sekali tidak bisa membencinya. Rasa sayangnya, sudah terlalu besar untuk mereka.

Lagipula, dirinya tidak pernah menyesal telah membunuh sepuluh assassin itu. Selama itu untuk teman-temannya, itu bukan masalah.

Dunia memang sebuah kehidupan untuk para masochist.

"T-Tsuna... sama..."

Tsuna menoleh kearah samping. Sejak kapan para pelayan Vongola sudah ada disitu? Meh, itu tidak penting. Dirinya berusaha untuk tersenyum, menunjukkan bahwa dia senang mereka ada disitu.

"Se-...mu-... a... ma-...-f..."

Pemuda itu tidak peduli tangisan dan protesan mereka yang memintanya untuk berhenti berbicara. Waktunya sudah tinggal sedikit.

"To-...long... Ja-...ga... Vo-...ng...-a... ya...?"

Mengetahui waktu master mereka sudah habis, para pelayan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali mendampingi sang Vongola don tercinta mereka, untuk menghembuskan napasnya terakhir kali.

Pandangan Tsuna beralih ke balkon dekat jendela. Samar, terlihat Bermuda dan Byakuran yang sudah bercucuran airmata, tidak menginginkan sang langit untuk pergi. Lagi-lagi dia tersenyum.

"Be-...muda... Bya-...ku...ran... A-ari-...ga...tou..."

Dibalas dengan anggukan dan segukan. Untuk terakhir kalinya, dia menatap langit dalam-dalam. Mendung, tanpa cahaya satupun.

"Ne-... minna..."

"T-Tsuna-sama/Tsunayoshi-kun/Sawada Tsunayoshi!"

Sebuah senyuman kecil terukir di wajahnya.

'Kami-sama, kuharap mereka tetap bahagia seperti dahulu.'

Setetes airmata menghiasi pelupuk matanya.

"A-ap-...a... a-...ku... b-...isa... be-...tem...-u... ...me-...re...-ka...?"

Beeeep, beeeeeeeeep, beeeeeeeeeeeeeeeep–

Lurus. Tidak ada lagi pergerakan pada grafik mesin itu.

Menandakan tidak ada lagi jiwa dalam tubuh Sawada Tsunayoshi.

"TSUNA-SAMA!"

"TSUNAYOSHI-KUN!"

"SAWADA TSUNAYOSHI!"

Isakan, segukan, dan erangan tidak rela menghiasi Vongola HQ. Mereka sudah kehilangan sang langit, sekaligus salah satu pemegang Tri-Ni-Sette.

.

.

Tanggal XX, Bukan XO, Tahun XXXX.

Sawada Tsunayoshi, 20 tahun, sang Vongola Don.

Menghembuskan napasnya untuk terakhir kali,

Dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


At the same time

Diluar, seketika hujan mengguyur dengan deras. Entah mengapa, para arcobaleno, CEDEF, dan para guardians seketika menangis melihat hujan itu.

Sakit. Seakan dada mereka ditusuk seribu jarum. Perasaan mereka penuh akan penyesalan, kesedihan, dan sakit hati. Tanpa ada alasan.

'Apa yang terjadi?'

Semua berpikiran hal yang sama.

'Vongola... HQ...?'

"..."

"Uso."

"U-uso... dayo..."

"Ko-kora... i-ini... pasti bercanda... bukan?"

"Ti-tidak mungkin..."

"O-oi! Jangan main-main, teme!"

"I-ini... hanya... lelucon, bukan?"

"Apa yang kau inginkan, Byakuran! Jangan bermain-main!"

"Byakuran Gesso. Bermuda. Jelaskan apa maksud dari ini!"

"By-Byakuran... sebenarnya apa yang terjadi?"

Byakuran dan Bermuda masih dalam posisi yang sama–memunggungi mereka. Pada saat menaruh sebuket bunga di altar tersebut, barulah dia menghadap ke belakang. Pandangannya kosong, namun tersirat amarah yang mendalam.

"Apa kalian buta? Sudah jelas bukti berada di depan mata kalian, masih saja bertanya?"

Ucapan tajamnya sempat membuat semua ketakutan kecuali Bermuda. Sudah lama mereka tidak melihat Byakuran sedingin ini. Bahkan yang terakhir kali mereka ingat... 5 tahun? 6 tahun yang lalu?

Mereka, khususnya para guardians, Reborn, dan anggota CEDEF terdiam menatap sebuah batu nisan bertuliskan nama yang amat familiar.

Sawada Tsunayoshi.

"Ayolah, ini becandaan yang tidak lu–"

"Bisakah kalian tutup mulut, dan pandang kenyataan yang ada!?" Bermuda sudah hilang kesabarannya. Sungguh, seberapa bodoh mereka sebagai seorang guardian!?

"..."

Hening menghampiri mereka.

"U-uso... dayo... ne?"

Beberapa dari mereka jatuh terduduk dan menangis. Dan yang masih berdiri hanya menatap lurus nisan itu, seakan tidak percaya dengan kenyataan–

"Uso."

–Dan membohongi diri sendiri.

"Kau tahu," Bermuda memecah keheningan. "Kalau dia mengidap penyakit tumor otak sejak 5 tahun yang lalu?"

"EH!?"

Pandangan lelaki berbalut perban itu teralih ke langit biru. "Setahun yang lalu, dia divonis sudah memasuki stadium tiga."

Setahun yang lalu. Tsuna melakukan pembunuhan pertamanya, dan mereka meninggalkannya. Tunggu, saat itu Tsuna–air mata yang mengalir di pipinya... hanya salah lihat, bukan?

"Dan lima bulan yang lalu," Walau terhalang oleh punggungnya, mereka bisa merasakan amarah dari Byakuran. "Karena memaksakan diri untuk mengerjakan semua tugas–ya, termasuk bagian untuk kalian, Tsunayoshi-kun pingsan selama beberapa minggu. Saat itu, penyakitnya sudah masuk ke stadium lanjut."

Lima bulan... yang lalu? Gokudera dan Yamamoto teringat akan sesuatu. Hei, bukannya waktu itu mereka berdua sempat menghancurkan beberapa mansion? Bukankah itu artinya paperwork lebih banyak dari biasanya?

Byakuran mengelus pelan nisan batu Tsuna. "Selama setahun... kalian membiarkan dia untuk terus bekerja seorang diri, berharap, terluka, dan menangis setiap malam... hanya karena mengkhawatirkan kalian. Menyedihkan."

"Tsunayoshi-kun tidak pernah menghukum kalian saat melakukan pembunuhan pertama. Tapi, disaat dia melakukannya untuk kalian, apa yang dia dapat!?" Bentakan pemuda albino itu membuat semua shock. "This is MAFIA, for Goddamn fuckin' sake!"

Mafia.

Bunuh-membunuh adalah mutlak disini.

"Sekarang impian kalian sudah terwujud, Vongola." Nada bicara Bermuda yang dingin, menusuk hati mereka. "Bukankah kalian pernah mengatakan agar Sawada Tsunayoshi lebih baik mati saja?"

"Apa kalian senang dengan 'hadiah' terakhir dari boss kalian sendiri?"

"J...Jyuudaime..."

"Ts-Tsuna..."

"Tsu... Tsuna... nii...?"

"Sa-Sawada..."

"...-nivore..."

"...Bo...bossu...?"

"...Tsunayoshi..."

"Tuna... fish..."

Apakah ini artinya...

...Mereka tidak bisa melihat lagi senyum itu?

Penyesalan memang terlambat. Terlalu terlambat.

Isakan, erangan penuh penyesalan, tangisan keras, dan segukan menghiasi tempat peristirahatan terakhir Tsuna.

Apabila Tsuna adalah seekor burung tanpa sayap, maka mereka adalah induk burung yang telah bertengger di sarang. Terlambat menyadari kekosongan diantara mereka.

So, are you happy now?


-END-


Yo~! Miyucchi des!

Yap, ini adalah cerita dibalik fictogemino "BROKEN". Dengan beberapa tambahan, jadilah fic ini~!

Gomenasai kalau sedikit mainstream dan alurnya kecepetan :'''3

Saa,

REVIEW, ONEGAI?