Disclaimer

Masashi Kishimoto

Pairing

SasuFemNaru

Warning

Gaje, asal-asalan, OOC, gender bender, miss typo, de-el-el.

Bijaklah kalian dalam memilih bacaan yang kalian anggap layak

Don't like don't read!

Lelaki bersurai orange itu masih duduk tegang, menatap saudara wanitanya yang mengambil sofa di sisinya yang lain. tampak menatap sang kakak intens meminta kebijaksanaan. Tentang perkara salah satu adik mereka yang kian membandel.

Bukannya tidak kasihan.

Namikaze Shion, wanita berusia dua puluh empat tahun itu bukan tidak tahu kakak sulungnya kini sedang merasa lelah. Dia baru saja kembali dari Prancis, dan harus mendengar kabar yang tidak menyenangkan untuk diberitahukan. Sama sekali tidak memberi jeda sang kakak untuk mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak.

Bahkan- ibu mereka saat ini tengah mendapat perawatan yang cukup serius di dalam kamar oleh dokter yang masih memiliki hubungan kerabat dengan sang ayah. Ditemani Namikaze Minato, selaku kepala keluarga di marga Namikaze yang merupakan suami dari Uzumaki Kushina.

"Dia semakin tidak bisa diatur. Kakak lihat? Mommy sakit, dan dia seolah tidak peduli justru keluyuran di luar tanpa ada yang bisa membatasi." Shion menghela napas, bocah kembar yang baru berusia satu tahun dalam dekapannya menatap paman mereka dengan mata membulat. "Dia seenaknya."

"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api." Kyuubi mendengus, dia balas menatap adiknya intens, terlihat jauh lebih tenang dengan crimson yang terus menyaratkan kelembutan. "Dia pasti punya alasan kenapa hari ini begitu memberontak."

"Kami hanya memintanya memilih."

"Kalian tidak meminta, kalian memaksakan. Jika memang dia belum memiliki kepercayaan yang sanggup dia jadikan panutan. Kenapa kalian terus mendesaknya?" Kyuubi menggeleng pelan. Tidak habis pikir pada cara berpikir keluarganya yang lain.

"Dia sudah 18 tahun, mau sampai kapan dia hidup luntang-lantung tanpa Tuhan?" Shion sedikit meninggikan suaranya. Emosi pada sang kakak yang terkesan pilih kasih dan selalu membela adik keduanya. "Kakak terlalu memanjakan dia. Kami sudah sepakat, cara cepat untuk membuat dia memiliki Tuhannya sendiri adalah menikahkannya dengan Sasuke Uchiha. Dia pemuda baik-baik dan berasal dari keluarga terhormat. Dia sepadan untuk kita, dan terlihat bisa membimbing dia ke jalan yang lebih benar."

"Aku bahkan belum melihat siapa si Sasuke itu. Kenapa sejak tadi kau terus saja mengagung-agungkannya, Shion?"

"Karena aku tahu yang terbaik untuk adikku."

Shion berkata pasti. Sebelum akhirnya mereka sama-sama bungkam kehilangan topik pembicaraan. Saling menatap menuntut hak atas satu sama lain. sebelum akhirnya, mereka sama-sama menoleh saat mendengar suara isakkan.

Menatap ke arah depan, di mana seorang gadis dengan surai pirang panjang menatap dengan sorot sendu.

Wajahnya basah.

Namun Kyuubi tidak sempat memperhatikannya. Tidak tahu sejak kapan adik keduanya berdiri di tempat itu? Bahkan mungkin sudah cukup lama untuk ikut mendengarkan pembicaraan kedua kakaknya yang terus saja menyebut namanya.

Kyuubi berdiri, dia tersenyum lebar, dan mengisyaratkan agar adik kesayangannya itu mendekat. Tidak perlu diminta dua kali sang adik menubruknya, memeluknya erat, meletakkan kepala pirangnya di pundak kanan sang kakak sebelum akhirnya mendapat elusan di punggungnya.

Sudah tiga bulan mereka tidak bertemu.

Adiknya terlihat jauh lebih tinggi dari pertemuan terakhir mereka.

"Naru-"

Hiks!

Panggilan Kyuubi terhenti. Matanya sedikit melebar saat isak tangis begitu lirih keluar dari mulut seseorang yang berada dalam dekapannya. Tubuh mungil adiknya bergetar hebat, terlihat amat rapuh seolah baru saja kehilangan cahaya kehidupannya.

Kyuubi menelan ludah. Tidak biasanya adiknya menangis sampai seperti ini.

Ada apa?

"Ada apa Naruto?" Kyuubi bertanya dengan suara cemas. Elusan sayang terus dia berikan di kepala si pirang. Ingin memastikan hal apa yang bisa membuat adiknya sampai sedemikian sedihnya?

"Kakak membawa banyak oleh-oleh untukmu, ada boneka koala raksasa seperti yang kau minta. Ada juga boneka Jerapah. Oleh-oleh untukmu tetap paling banyak. Jadi kau tidak perlu sampai menangis begini."

Kyuubi berusaha membujuk sang adik agar menghentikan tangisannya yang amat lirih. Mencabik relung kalbunya meninggalkan sayatan luka. Merasa tidak berguna kalau sampai kesedihan yang dialami adiknya adalah akibat kelakuannya.

Elusan sayang tidak berhenti dia berikan.

Terakhir kali Naruto menangis seperti ini. Adalah beberapa tahun lalu, sebelum Kyuubi berangkat ke Prancis untuk menamba ilmu. Dan Naruto yang selalu menempel padanya memaksa ingin ikut tidak diberi izin oleh kedua orangtua mereka.

Lagipula di Paris nanti Kyuubi akan sangat sibuk. Dia akan sering meninggalkan adiknya di apartemen. Dan adiknya yang buta bahasa Prancis itu, pasti akan mudah diperdaya orang-orang yang mendekatinya untuk memanfaatkannya.

Walau pun akhirnya, Naruto bersedia tetap tinggal di London bersama orangtuanya dengan syarat Kyuubi setiap tahunnya harus pulang 2-3 kali dan membawa banyak oleh-oleh untuknya. Kyuubi pun menyetujuinya dengan sumringah.

"Dia menamparku…"

Suara itu begitu lirih, nyaris seperti bisikkan. Namun Kyuubi yang sejak tadi pasang telinga bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan Shion pun tampak membelalakkan matanya tidak percaya.

"Dia menamparkuh kahkah, Sashsukeh, menamparku di depan banyak orang…"

Kyuubi terdiam. Dia sama sekali tidak berkata apa pun. Hanya dia dan Tuhan yang tahu isi hatinya saat ini. Lelaki itu menatap ke samping dengan tatapan kosong, membuat Shion yang duduk di sana sedikit menundukkan kepalanya segan mendapat sorot mata sang kakak yang demikian.

"Ahkuh… sahkit."

"Tenanglah Naruto…" Kyuubi berbisik merdu. Tidak ada emosi dalam nada suaranya, namun sebelah tangannya yang terkulai kini mengepal kuat sudah menjadi cukup bukti kalau saat ini kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Dia akan membalas kesakitan yang adiknya alami berkali-kali lipat sakitnya. "Ayo, kita pergi ke kamarmu. Banyak hadiah yang bisa kau lihat."

Kyuubi menggiring Naruto, tersenyum tipis saat adiknya itu menganggukkan perintahnya pelan. Naruto melangkah gontai menuju tangga rumahnya, hendak pergi ke kamar seperti yang Kyuubi inginkan. Kyuubi menyusulnya, walau sebelumnya dia menyempatkan diri untuk menoleh dan menatap adik tertuanya dengan senyuman tanpa makna.

"Lelaki itu yang kau maksud kan, Shion? Jika pacaran saja dia sudah berani memukul adikku yang selalu diperlakukan di rumah ini layaknya ratu. Apa kabar Naruto kita kalau mereka sudah berumah tangga?"

Naruto samar-samar bisa mendengar pertanyaan itu. Namun dengan sengaja ia tak mengacuhkannya. Meninggalkan Shion yang tampaknya tidak punya alasan lagi untuk membantah. Membiarkan Kyuubi mengikutinya, menuju kamar hendak memamerkan semua hadiah yang sudah dibelikannya.

Naruto masih sesekali terisak. Kesakitan yang dirasakan hatinya memang luar biasa pedihnya. Di mana bekas tamparan yang sudah hilang tak berbekas di pipinya itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang Sasuke torehkan di lubuk hatinya.

Tidak pernah sekali pun dia jatuh cinta sampai seperti ini…

Dan Sasuke, menjadi orang yang pertama…

Tidak sekali pun ada orang yang berani memaki dan menamparnya di depan umum.

Sekali lagi, Sasuke menjadi orang yang pertama…

Tidak ada satu orang pun yang bisa membuat Naruto sampai sedemikian sakitnya…

Dan Sasuke, lagi-lagi menjadi orang yang pertama untuknya.

Dadanya kian linu. Napasnya sedikit terengah dengan kondisi kepalanya yang kian berkunang. Naruto merasa jarak tiga puluh meter menuju kamarnya dari ruang tamu tadi kini berubah menjadi tiga puluh kilo.

Sampai akhirnya dia sampai di depan pintu bercat biru yang sudah terbuka, dia segera memasukki kamarnya dan mendudukkan dirinya di atas kasur.

Sepasang high heels setinggi Sembilan senti itu dia lepas. Banyaknya hadiah yang diberikan sang kakak dan kini berada di atas kasurnya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Naruto merebahkan tubuhnya di kasur, kembali menangis tersedu.

Membuat Kyuubi yang baru sampai di depan pintu kamarnya kembali tertegun dengan mata berubah sendu.

"Naruto…" Kyuubi mendekatinya, memanggilnya selembut mungkin. Seolah takut jika nadanya terasa sedikit tinggi saja bisa membuat adiknya semakin hancur. "Kau istirahatlah… jangan pikirkan apa pun lagi. Cuci dulu wajahmu agar matamu tidak bengkak."

Satu kecupan Kyuubi berikan di rambut si pirang. Dia mengelusnya pelan, sebelum akhirnya kembali berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Tahu persis Naruto memang sedang butuh waktu untuk merenungkan diri.

Naruto sedang ingin sendiri.

"Aku… tidak akan pernah melepaskan si brengsek Sasuke itu."

Sayup-sayup Naruto bisa mendengar geraman sang Kakak. Dia lebih dari tahu mulai saat ini sudah tidak mungkin lagi bagi dirinya dan Sasuke untuk bersama. Kyuubi terlalu tangguh untuk diruntuhkan, dia tidak pernah tinggal diam, kalau ada orang yang dengan lancangnya berani menyakitinya.

Kyuubi berego tinggi, kalau dia sudah mengatakan tidak suka pada seseorang-

Selamanya, Kyuubi tidak akan menyukai orang itu dan menunjukkannya secara terang-terangan.

"Ini akhirnya… Sasuke…" Naruto memejamkan matanya rapat, merasa lelah karena terus menangis. Dia mulai dilanda rasa kantuk luar biasa. "Setelah ini, sebaiknya kau memang tidak menampakkan dirimu lagi di depanku."

Naysaruchikyuu

Paginya, Naruto mendapat pelukkan erat dari Kushina. Terus saja mendapat permohonan maaf dari sang Ibunda. Kushina berjanji tidak akan lagi memaksanya. Dia yakin suatu hari nanti puterinya akan mendapat pelabuhannya, dan Kushina tidak akan memaksakan kehendaknya pada si anak nomor tiga.

Tak urung berita 'tampar' yang puterinya alami membuat Kushina membolakan mata. Tidak menyangka bahwa pemuda yang begitu santun dan merupakan anak sang sahabat akan berani bertindak sedemikian kejamnya. Kushina mendukung Naruto menjauhi Sasuke –di depan Kyuubi-. Tapi dia sadar, Sasuke pasti punya alasan khusus kenapa sampai berani mengayunkan tangan pada puterinya yang baru berusia 18 tahun itu.

"Apa tamparannya masih sakit?" Kushina memeriksa pipi kiri dan kanan si blonde bergantian. Dia masih duduk di atas kasurnya, dengan jarum infuse yang tertancap di pembuluh vena. Naruto menggeleng pelan, dia merasa dirinya baik-baik saja.

Lagipula kalau diingat-ingat, Sasuke semalam tidak menamparnya menggunakan tenaga. Hanya mengayunkan tangan ke pipinya sampai kepala Naruto terbanting ke kanan seperti sebuah dorongan tanpa rasa sakit.

"Kalau sakit, kau tidak usah kuliah atau kerja. Kau di sini saja, bersama Mommy, oke?"

Naruto menggeleng pelan. Dia tidak bisa berkata sama sekali. Sejak tadi pagi dia memang tidak mau membuka mulutnya, bahkan tidak mengizinkan air mengalir membasahi kerongkongannya. Wajahnya amat pucat, rambutnya pun diikat asal-asalan. Dia sudah siap dengan setelan pakaian kerjanya, dia menggunakan sebuah kemeja berlengan panjang warna biru, dipadu rok sepan hitam satu senti di atas lutut.

Sepatu yang dia gunakan senada dengan warna kemejanya, gadis itu mengecup pipi ibunya penuh sayang, mendekapnya erat, menyesal karena kecerobohannya sudah membuat penyakit jantung yang dialami sang Ibunda kambuh.

"Aku pergi dulu, Mom." Naruto berbisik serak. Dia melepaskan pelukannya, Kushina masih mendongak menatap puterinya yang berdiri kemudian tersenyum tipis. Dia terlihat sangat kacau, namun terus memaksakan untuk berdiri sendiri.

"Naruto…"

"Mom istirahat, ya? Aku baik-baik saja." Naruto pun mohon pamit. Dia keluar dari kamar Kushina dengan Kyuubi yang membuntuti di belakangnya. Kyuubi sudah menegaskan bahwa mulai saat ini Naruto tidak perlu menyetir sendiri.

Ada dia yang akan mengantar-jemputnya ke mana pun Naruto ingin pergi. Lagipula perusahaan ayahnya yang saat ini dijadikan Kyuubi tempat bekerja satu arah dengan perusahaan ekspedisi yang Naruto tempati.

Sebenarnya, walau berlawanan arah, Kyuubi tetap akan keukeuh menjadi supir pribadi sang adik yang begitu dirinya sayangi.

"Kau juga pergi, Sasori?" Kyuubi bertanya pada adiknya yang paling muda dan baru berusia lima belas tahun. Tampak sudah siap menggunakan pakaian seragamnya dengan sebuah kunci motor yang kini diputar-putar telunjuk kanannya, mereka bertemu tepat di depan pintu utama rumah.

"Ya, Kak." Sasori mengangguk. Dia tersenyum saat mendapat elusan di rambutnya dari sang kakak. "Aku pergi dulu."

"Yah." Kyuubi menyahut, dia menyusul Naruto yang memasukki mobilnya lebih dulu.

Naysaruchikyuu

"Naruto, siapa yang mengantarmu pagi ini? Tampan sekali."

Naruto menoleh pada Ino, tersenyum samar saat sahabatnya itu menghalangi jalannya melewati pintu. Mereka mulai berjalan beriringan menuju ruangan. Saat ini, posisi Naruto adalah sebagai staff di bagian Pemberitahuan Impor Barang.

Di mana dirinya lah yang akan membuat surat perizinan agak barang impor yang masuk ke gudang pemerintah bisa keluar dengan bekal surat izin dari bea cukai. Jika Naruto bekerja di bagian Impor, sebaliknya, Ino justru bekerja di bagian ekspor.

"Menurutmu dia siapa?" Naruto balas bertanya, dia meletakkan tas tangannya di atas meja, menunduk kemudian sedikit menendang ransel yang biasanya dia bawa saat kuliah sepulang kerja nanti lebih dalam memasukki kolong meja.

"Dia tidak mungkin kekasihmu, karena dia bukan Sasuke." Sakura yang sedang duduk di kursi yang tidak jauh dari Naruto itu menjetikkan jarinya. Tadi dia sempat melihat pemuda yang mengantar Naruto ke kantor dan menyempatkan diri keluar untuk mengelus kepala pirang sang sahabat. "Kami tahu betapa kau bergantung pada Sasuke, kau tidak akan bisa hidup tanpanya, Naruto."

Sakura dan Ino tertawa. Naruto hanya menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sendu. Ia memang belum menceritakan perihal pertengkarannya dengan Sasuke tadi malam. Dia juga tidak bercerita tentang dirinya yang sudah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.

Dia tidak ingin bilang.

Lagipula, memangnya apa yang dia harapkan?

"Ah, aku ingat. Apa dia kakakmu yang kuliah di Paris itu? Sekilas saat melihatnya aku teringat pada Ibumu." Ino bertepuk tangan sekali, dia mulai menatap sahabatnya itu genit. "Apa dia belum punya pacar?"

"Aku tidak tahu, Kakak tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepadaku." Naruto berkata parau. Dia ingin bersikap biasa. Dia ingin ceria seperti biasanya. Dia ingin melupakan bayangan Sasuke Uchiha, walau untuk sekejap saja.

"Ah, menurutku Sasuke jauh lebih tampan." Tenten, staff accounting yan berjalan melewati ruangan mereka dan mendengar percakapan teman-temannya itu memutuskan untuk bergabung berbelok arah dan duduk di kursi kosong samping kanan Naruto.

Naruto mulai menyalakan komputernya, sebisa mungkin dia tidak mau terlarut dalam kesedihannya,

Lelaki bajingan seperti itu tidak perlu lagi dia ingat.

Yah, dia tidak boleh mengingatnya.

Naruto mengingat ponselnya yang dia nonaktifkan, muak karena sang bungsu Uchiha terus berusaha menghubunginya dan mengirimkan ratusan sms terror yang mengungkapkan penyesalan atas kesalah pahaman di antara mereka.

Naruto mengabaikannya.

Dia benci Sasuke Uchiha. Sangat membencinya.

Walau hatinya, mengumandangkan kata yang berbanding terbalik dengan akal sehatnya.

"Sasuke kekasihmu itu bukan hanya tampan. Dia juga terlihat ramah walau tidak banyak bicara. Sasuke selalu memfokuskan kedua mata hitamnya yang seksi itu padamu. Dia tinggi dan gagah, kuyakin ada enam kotak yang tertata apik di perut dengan dada yang keras." Sakura mulai berimajinasi. Menjadikan kekasih sahabatnya sebagai objek fantasi.

Walau bagaimana pun, kenyataannya sampai saat ini lelaki tampan, kaya, muda, dan perhatian masih jarang-jarang bisa mereka temui. Tidak seperti yang ada di drama atau pun novel, pemuda dengan karakter sempurna begitu biasanya memiliki arogansi setinggi langit dan selalu jual mahal.

Tapi Sasuke berbeda. Pemuda itu menghargai teman-teman Naruto walau terkadang mereka sering usil menggodanya.

Sasuke juga terlihat sangat mencintai Naruto. Senyuman lembut pasti dia ukirkan setiap kali melihat si pirang bermanja-manja. Sasuke mengikuti semua keinginan kekasih pirangnya, dia melakukan apa pun yang terbaik untuk kekasihnya.

Pemuda yang sempurna untuk-

Sakura yang kini berdiri di sisi Naruto itu menunduk, dia menatap Naruto yang mulai membuka file-file di dalam komputernya.

Merasa diperhatikan, Naruto mendongak dan menatap Sakura sambil tersenyum tipis. Dia bertanya, "Kenapa, Sakura?"

"Kadang aku merasa Tuhan tidak adil karena mereka yang sempurna diciptakan untuk seseorang yang sempurna." Sakura menghela napas, Naruto mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. "Ya-ya-ya, siapa yang tidak mau pada gadis cantik, setinggi 173 senti berbadan langsing dan kulitnya perawatan setiap seminggu sekali? Model, ke mana-mana bawa mobil mewah dan Puteri dari seorang Namikaze Minato, CEO dari perusahaan produsen plastik yang cukup terkemuka?"

"Yah, Sasuke begitu setia padamu, karena kau memang pasangan yang sepadan untuknya." Ino mendukung, dia mengelus rambut panjang Naruto yang terikat asal-asalan. Kini tiga orang gadis sedang mengelilinginya sambil mengelus beberapa bagian di tubuh Naruto. Membuat Naruto menepis tangan mereka geli.

"Hentikan!"

"Rambutmu halus sekali, kau pasti pakai sampo yang mahal. Gajimu di perusahaan ini sama kecilnya, kenapa kau selalu terlihat lebih mewah?" Tanya Ino sambil menggembungkan pipinya.

"Karena dia bekerja bukan untuk cari uang, Pig. Naruto hanya ingin menghabiskan waktu luangnya saja." Sakura berdecak, dia ikut menyentuh kulit pipi Naruto dan mengelusnya perlahan.

"Hei! Kalian semakin menakutkan!" Naruto menjerit ngeri. Mulai merasa teman-temannya pasti sudah kehilangan kewarasan mereka. Mereka mulai bertingkah seperti lesbi.

"Tapi apa pun alasannya, kau memang sangat beruntung memiliki Sasuke, loh, Naruto." Tenten tertawa, dia menepis tangan dua sahabatnya yang terus membuat Naruto panik tidak karuan. "Sasuke terlihat sangat mencintaimu.

Sangat-sangat mencintaimu."

Naruto bergeming. Dia tersenyum sekilas kemudian menggidikkan bahunya.

"Kalau kau memang suka padanya." Naruto berdiri, dia mengambil gelasnya kemudian berjalan menuju dispenser yang jaraknya hanya beberapa langkah dari mejanya. "Kalian boleh mengambilnya. Aku sudah putus dengan dia."

Naruto memejamkan matanya rapat. Sebisa mungkin menahan rasa sakit akibat dadanya yang seperti terkoyak. Dia ingin terlihat tegar. Tapi kenapa sejak tadi matanya terasa panas dan pipinya mulai terasa basah?

Kenapa aku sekarang terlihat begitu lemah?

Naruto terisak. Tubuhnya kembali gemetaran saat mengingat wajah sang bungsu Uchiha di pertemuan terakhir mereka tadi malam. Tamparan itu seolah kembali pipi kirinya rasakan. Sorot mengancam terus menjadi bayangannya, menjadi mimpi buruknya.

"Padahal aku tidak tahu kalau salah mengambil gelas." Naruto menjelaskan sesenggukkan. Saat Sakura di belakangnya yang merasakan perubahan sang sahabat segera menghampirinya dan memeluk punggungnya. "Aku tidak pernah memesan minuman beralkohol. Aku tahu aku lengah karena kebodohanku tidak bisa membedakan gelas orange jus dan wine yang bentuknya saja berbeda. Tapi dia tidak berhak menamparku tanpa bertanya, dia tidak berhak menghakimiku di tengah diskotik dan membuatku terlihat sangat hina. Dia tidak berhak, Sakura…"

Sakura kian mengeratkan pelukannya. Saat tidak tahu apa yang harus dia ucapkan untuk menghibur hati sang sahabat yang tengah cedera. Dia tidak bisa memberikan dukungan berupa kata dan hanya mampu memeluknya untuk menenangkannya saja.

"Aku membencinya…" Naruto kembali terisak. Dia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku benci Sasuke Uchiha. Aku tidak mau lagi melihatnya muncul di depanku."

TBC

FEMNARU LAGIII! Hahaha. Aku tadinya mau dibikin YAOI, Cuma nanti Narutonya terlalu manja sama lemah gara-gara alurnya. Dan karena aku gak mau bikin Naruto jadi bansi, jadinya ku jadiin FemNaru sekalian.

Lagi kepikiran buat bikin alur kayak gini. Ehm!

Hahaha.

Ini Cuma 3 shoot, chapter dua diusahain sebelum akhir bulan November nanti. Chapter tiga nyusul setelah Nay pulang bulan madu kalo inget. MUAHAHAHAHAHA

Oke, RnR Peliis?