Disclaimer

Masashi Kishimoto

Pairing

SasuFemNaru

Warning

Gaje, asal-asalan, OOC, gender bender, miss typo, de-el-el.

Bijaklah kalian dalam memilih bacaan yang kalian anggap layak

Don't like don't read!

4

Naruto menggerutu sebal, dia mulai kembali melangkahkan kedua kaki panjangnya menuju pintu kamarnya, hendak keluar meminjam baju Sasori atau Minato, namun baru saja tangannya menggenggam handle pintu, memutar dan membukanya, dia harus memekik kaget saat seseorang yang memiliki tinggi dua senti di atasnya dengan surai merah menyala sudah berdiri di hadapannya.

"Sasori!"

"Yah, itu namaku." Sasori memutar kedua bola matanya bosan. "Berikan ini pada Kak Sasuke, Naru…" Sasori menyodorkan pakaiannya pada Naruto, ia menatap kakaknya yang tampak masih linglung akibat kedatangannya yang tiba-tiba.

"Aku tadi melihatmu membawa Kak Sasuke masuk ke dalam rumah. Di sana ada juga dalaman yang masih baru." Sasori menjelaskan akan keberadaan celana segitiga warna hitam yang ada di bawah tumpukkan kaosnya. Naruto mengangguk, dia nyaris berbalik sebelum akhirnya menyadari sesuatu dan mendelik.

"Panggil aku Kakak, Sasori, aku lebih tua darimu."

"Kau lebih pendek dariku. Memanggilmu Kakak menyakiti harga diriku."

"Sikap tidak sopanmu juga menyakiti harga diriku!" Naruto membentak. kesal pada Sasori yang tidak pernah mau memanggilnya 'Kakak', Sasori hanya menggidikkan bahunya tidak peduli.

"Dibanding Kakak, sikapmu bahkan lebih cocok menjadi adikku."

"SASORI!"

"Hei-hei, sudah malam, jangan berteriak begitu." Kushina yang hendak melihat apakah anak-anaknya sudah tidur mengingatkan saat melihat kedua anak terkecilnya tampak sibuk adu mulut. Ia menghampiri Naruto, menatapnya sebentar sebelum akhirnya melempar pandangannya pada si anak bungsu.

"Mommy, Sasori tidak mau memanggilku 'Kakak', dia tidak sopan." Naruto mengadu, keningnya berkerut-kerut tidak terima.

"Tukang ngadu sepertimu memang lebih cocok diperlakukan seperti balita." Sasori berkata kejam.

"SASORI!"

"Sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar." Kushina menggeleng tidak habis pikir. Kenapa masalah kecil saja harus dibesar-besarkan? "Kenapa kalian belum tidur?"

Sasori melirik Naruto, mengisyaratkan agar kakaknya itu yang menjawab. Dia tidak mau salah berkata, dia akan mengikuti permainan Naruto kalau seandainya gadis itu mau menutup mulut dan tidak menceritakan soal keberadaan seorang pemuda di dalam kamarnya.

"Mommy, jangan bilang-bilang pada Kakak, oke?" Naruto berbisik. Sasori mendengus geli. Kushina sedikit mengangkat alisnya, mengingat siapa orang yang Naruto panggil 'kakak' dengan begitu ambigunya? Setelah ingat kalau Naruto memanggil Shion 'KakShi', Kushina langsung ngeh kalau yang dimaksud anak ketiganya itu adalah Kyuubi.

"Mommy janji ini rahasia kita berdua." Kushina mengangguk.

"Di dalam ada Sasuke." Naruto berbisik lirih. "Lukanya banyak sekali, aku mau mengobatinya."

Kushina mengangguk mengerti, tidak terlihat kaget sama sekali. Dia sudah yakin pada akhirnya anak gadisnya itu akan menyerah dan memaafkan Sasuke Uchiha.

"Dan baju Sasori ini aku pinjam untuk dipakai Sasuke." Naruto memberitahukan cerita yang tidak penting. "Kakak jangan sampai tahu, nanti Sasuke dipukul lagi."

"Daddymu boleh tahu?"

"Daddy boleh kok." Naruto mengangguk. Kushina tersenyum tipis, dia mengecup pipi Naruto sekilas.

"Yasudah, Mommy akan membawakan kotak P3K dan membuatkan bubur untuknya. Sepertinya Sasuke belum makan."

"Oke!"

Naruto membiarkan saja Kushina berlalu, dia menoleh pada Sasori yang mengecup keningnya sekilas mengucapkan kalimat 'Good night.', setelahnya Sasori pun kembali berbalik menuju kamarnya, hendak melanjutkan acara tidurnya yang sempat tertunda sementara besok, di sekolahnya akan ada tes.

Masuk ke kamarnya, Naruto meletakkan pakaian Sasuke di atas kasurnya. Dia menunggu, sambil sedikit merenung, sebelum akhirnya, dia mendengar suara pintu kamar mandi dibuka dan Sasuke yang hanya melilitkan handuk di pinggangnya keluar dengan rambut basah.

"Ini pakaianmu, cepat pakai, ada dalaman Sasori yang masih baru juga, nanti aku akan mengeringkan rambutmu." Naruto tersenyum tipis. Matanya sedikit melirik perut Sasuke yang ternyata sesuai dugaan dia dan teman-temannya. Tanpa sadar dia mengelus perutnya sendiri yang rata. "Teme, aku juga sering ke gym, tapi kenapa perutku tidak kotak-kotak seperti itu, ya?"

"Tergantung amal-amalan."

"Teme!"

Sasuke tertawa. Dia menghampiri Naruto dan mengambil pakaiannya, menatap Naruto sekilas, kemudian menusuk pipi yang menggembung itu dengan telunjuknya.

"Kau cantik dan sempurna dengan keadaanmu yang sekarang." Sasuke berkata pelan. Membuat kedua pipi Naruto terasa panas. "Lagipula, mengerikan sekali menikahi wanita yang memiliki otot-otot di perutnya."

Sasuke memasukki lagi kamar mandi, menutup pintunya, meninggalkan Naruto yang tanpa sadar mengelusi pipi yang tadi ditusuk telunjuk Sasuke.

"Dia menyebalkan." Naruto mendengus sebal.

Naysaruchikyuu

"Biar aku yang mengobatinya." Naruto berucap keukeuh. Saat dia melihat Kushina sedang mengolesi wajah memar bungsu Uchiha perlahan di sisi kasur. Sasuke setengah berbaring dengan kepala bersandar ke bantal yang disusun tinggi, meringis sesekali menahan perih.

"Kau yakin, Sayang?"

"Ya!" Naruto menggeser posisi Kushina, seenaknya, dia naik ke atas kasur kemudian mendudukki perut bungsu Uchiha. Sasuke meringis, walau bagaimana pun perutnya juga mengalami banyak lebam bekas tinjuan. Tapi dia sama sekali tidak protes, dia diam saja saat Naruto tersenyum lebar menyodorkan kapas yang sudah dicelupkan cairan antiseptik di arahkan ke wajahnya.

"Naruto…" Minato yang berdiri memperhatikan tidak habis pikir dengan tingkah anak gadisnya. "Turun, kalian belum menikah. Tidak pantas kau bersikap seperti itu pada Sasuke."

"Biarkan saja." Naruto tidak ambil peduli. Dia tetap membelai lembut wajah sang Uchiha dengan kapasnya. Sasuke bergerak tidak nyaman, melirik raut wajah Minato yang sedikit mengeras.

"Naruto, Daddy bilang kau harus turun. Biar Mommy yang mengobati Sasuke!"

"Tidak mau!"

"NARUTO!"

Naruto tersentak kaget. Dia tanpa sengaja menjatuhkan kapasnya. Menoleh pada Minato yang menatapnya dengan amat murka. Naruto masih terlihat shock, walau bagaimana pun, sebelumnya dia tidak pernah dibentak sekasar itu oleh ayahnya.

"Kau itu perempuan!" Minato masih terlihat emosi. "Kau berasal dari keluarga yang terhormat. Sikapmu ini, bisa membuat orang lain menganggapmu wanita murahan!"

Naruto mendelik kesal. Dia mengunyah bibir bawahnya. Dengan cepat ia turun dari kasur dan membanting kotak P3K yang ada di lemari kecil samping kanan tempat tidur. Menimbulkan suara debaman keras dengan botol kaca yang pecah dan berserakkan keluar dari kotak mengotori lantai.

Kushina mengelus dada melihatnya.

"AKU BENCI DADDY!" teriak Naruto murka. Ia bergegas menuju pintu keluar.

"Naruto!" panggil Kushina, hendak mengejar anak gadisnya yang terlihat sangat murka.

"BIarkan Kushina, dia harus mulai belajar bersikap dewasa. Tidak semua yang dia inginkan boleh dia lakukan. Kita terlalu memanjakannya."

Mendengar itu, Naruto tak ayal semakin marah. Dengan kasar dia membanting pintu kamarnya lalu berjalan dengan kedua kaki dihentak-hentakkan. Menuju kamar Sasori karena saat ini kamar Kyuubi pasti bukan pilihan yang aman.

Kesal.

Dia sangat kesal.

Sesampainya di kamar Sasori, Naruto segera membuka pintu tanpa permisi. Sedikit kasar, membuat Sasori yang sedang bergelung di dalam kasurnya sedikit membuka matanya yang sudah nyaris tertutup rapat.

"Aku mau tidur di sini." Naruto membentak. Sasori tidak ambil peduli. Dia diam saja saat Naruto merangkak naik ke atas kasurnya kemudian berbaring telungkup di atas tubuhnya.

Yah, Naruto hendak tidur di atas tubuh adiknya.

"Naruto, kasurku masih luas untukmu tidur di sisiku." Sasori berucap parau. Mengingatkan kakaknya yang siapa tahu saja sedang amnesia? Kasur Sasori masih bisa ditempati dua orang lagi kalau saja Naruto mengingatnya.

"Tidak mau!"

"Dan kau masih berharap aku panggil 'Kakak'?" Sasori tidak lagi ambil peduli. Dia memejamkan matanya rapat. Mencari posisi nyaman untuk tidurnya agar tidak sesak sementara Naruto ada di atas tubuhnya, Sasori memeluk sang kakak seolah kakaknya itu guling.

"Daddy menyebalkan." Naruto mulai curhat. Dia tidak mau ambil pusing sekali pun Sasori mungkin tidak mendengarkannya. "Dia membentakku hanya karena aku duduk di atas perut Sasuke."

"Dia sudah tidak menyayangiku lagi…" Naruto nyaris menangis. Tidak suka dengan sikap kasar Minato terhadapnya, tidak terima karena sudah dibentak Minato padahal menurut Naruto sendiri, dia tidak melakukan suatu hal yang salah.

"Kenapa kau cengeng sekali?" Sasori menjawab parau. Dia menyelimuti Naruto dengan bed covernya, matanya masih tertutup rapat. "Daddy bersikap benar. Dia tidak ingin Sasuke menganggapmu wanita gampangan."

"Sasuke tidak mungkin berpikir seperti itu."

"Kata siapa? Katamu? Memangnya kau siapa bisa tahu isi hati manusia?" Sasori masih menjawab dengan kedua mata yang tertutup. "Daddy terlalu menyayangimu, dia tidak mau kau dipandang buruk oleh siapa pun. Dia memberikan semua yang kau mau selama dia mampu, tapi dia tidak akan diam, kalau kau sudah berani merendahkan harga dirimu sendiri."

"Naruto, tidak ada ayah yang tidak menyayangi darah dagingnya sendiri. Apalagi setelah semua yang sudah diberikan Daddy. Kau masih meragukan Daddy mencintaimu melebihi segalanya? Daddy bahkan tetap bisa tersenyum dan memaklumi sekali pun ka uterus mebuat ulah."

Naruto termenung. Dia diam saja saat Sasori membelai rambut panjangnya. Menempelkan pipi kanannya di dada Sasori, mendengar irama jantung sang adik yang berdetak lembut, napasnya juga terdengar teratur.

Yah, apa yang dikatakan Sasori memang benar. Selama ini Minato tidak pernah sekali pun menolak keingingannya selama hal itu baik untuknya. Minato selalu menyayanginya, mencintainya, memperhatikannya, bahkan tidak pernah marah sekali pun sesekali Naruto datang ke kantornya untuk mengacau –mengamuk-.

Minato adalah sosok ayah paling sabar di dunia. Dan jika dia sudah berani membentak Naruto, bukan kah itu artinya Naruto sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal?

Itu artinya, Naruto sudah melakukan hal yang menyakiti hati sang Daddy bukan?

Naruto mengunyah bibir, dia sedikit menyesal karena sudah bersikap kurang ajar pada Minato.

"Sasori, aku mencintaimu."

"Aku juga." Sasori tersenyum saat merasakan kecupan kecil di bibirnya. Beban di atas tubuhnya menghilang, merangkak menuju lantai kemudian beberapa detik setelahnya… terdengar suara pintu ditutup perlahan.

Naruto berjalan kembali menuju kamarnya dengan hati riang. Dia hendak meminta maaf pada ayahnya karena sikapnya tadi yang tidak sopan. Tapi di depan pintu, kedua kakinya berhenti melangkah, dia membuka pintu hati-hati, berharap tidak mengganggu pembicaraan ayahnya yang sayup-sayup masih bisa di dengarnya di balik pintu nanti.

"Paman harap kau tidak menganggap Naruto buruk karena sikapnya tadi, Sasuke." Minato berkata lembut. Dia masih berdiri membelakangi pintu. "Ada pun beberapa sikap jeleknya selama ini, itu bukan salahnya. Tapi salah Paman yang tidak bisa mendidiknya. Jadi, jika ada sikap Naruto yang tidak kau sukai, jangan melihatnya dengan tatapan buruk. Paman lah yang bertanggung jawab atas kelakuannya saat ini."

Naruto menatap punggung ayahnya dari celah pintu, Kushina tampak duduk di sisi kasur dan mengobati luka di perut Sasuke yang terus memilih diam.

"Seperti yang diceritakan oleh Kushina barusan. Naruto kami perlakukan spesial karena dia berbeda dengan ketiga saudaranya." Minato terlihat menunduk, berpikir tentang kelakuan anak ketiganya yang terkadang melewati batas. "Dia sejak kecil selalu menilai dirinya hina. Dia tidak sepintar kakak atau adiknya. Kyuubi, Shion, Sasori, selalu mendapat nilai sempurna di sekolah mereka. Naruto hanya bisa masuk 5 besar setelah berusaha sangat keras. Padahal saudaranya yang lain, selalu menjadi nomor satu walau terkadang belajar asal-asalan."

"Sikap Naruto semakin berubah saat dia tingkat empat elementary school. Dia selalu menyendiri, dan tidak mau bicara pada saudaranya. Menangis histeris sesekali, apalagi saat dia tahu Sasori pun dimasukkan ke sekolah yang sama dengannya, dan langsung menjadi nomor satu begitu mengikuti ujian kenaikan kelas."

"Kami berusaha keras membujuknya, mencari kira-kira hal apa yang bisa membuat dia tidak terpuruk hanya karena sedikit perbedaan yang dia milikki. Lalu saat dia pulang dengan berita terpilih menjadi perwakilan sekolah mengikuti fashion show anak-anak sekolah dasar. Kami langsung sadar kalau bakat Naruto mungkin bukan dibidang akademik, tapi dalam masalah fashion."

Minato tertawa pelan, menceritakan masa kecil anaknya dulu, membuat dia terhanyut di dalam kenangan. Naruto masih terus mengintip, merasakan perih saat melihat kerapuhan sang Daddy saat ini.

"Demi melihat penampilannya, aku membatalkan meeting dengan kolega dan Kushina pun mengabaikan semua pekerjaannya. Kami bersorak tanpa tahu malu saat Naruto dinobatkan sebagai juara satu. Dia membawa pulang piala sambil tertawa bangga. Pialanya berada di tengah dan paling besar mendominasi lemari kaca. Kyuubi dan Shion yang pernah menjadi juara olimpiade Mipa dalam tingkatan berbeda pun tampak antusias dan mengatakan Naruto yang terbaik di antara mereka."

"Sikapnya mulai membaik, kami memasukkannya ke agensi model anak-anak agar dia semakin mengasah bakatnya. Naruto mulai melupakan kefrustasiannya karena tidak bisa menyaingi kepintaran saudaranya yang lain. dia terus melangkah di jalannya sendiri, dan menjadi bintang untuk kami. Aku sempat menawarkannya ikut casting agar bisa menjadi aktris, tapi dia tidak mau. Katanya, kalau dia jadi pemain film atau drama, dia akan sembarangan dipeluk dan dicium lawan jenisnya. Dia tidak suka disentuh selain oleh keluarganya."

Minato tertawa bangga, Kushina meringis saat Minato terlihat tanpa sadar memeluk dirinya sendiri seolah anak ketiga mereka sedang ada dalam dekapannya.

"Aku tidak pernah membentaknya…" Minato berbisik lirih. "Dan barusan aku melakukannya…"

"Dia pasti akan sangat membenciku setelah ini…"

"Daddy…" Naruto tidak mau lagi melihat ayahnya bersedih. Dia berlari dan menubruk punggung Minato. Memeluknya erat, menangis terisak sambil terus menyerukan kata maaf.

"Saya rasa…" Sasuke berkata serak, dia menatap Minato yang masih diam saat Naruto menangis di belakangnya. "Tidak akan ada anak yang bisa membenci Ayah sehebat Paman."

Naysaruchikyuu

"Makanlah Sasuke, ini Naruto sendiri yang memasak." Kushina menyodorkan mangkuk buburnya, berkedip pada Naruto yang tampak tersenyum malu-malu melihatnya. Padahal, tadi dia hanya membantu mengaduk bubur sebentar.

"Terima kasih." Sasuke menjawab lembut. "Ini pasti jadi bubur terenak yang pernah aku makan."

Sasuke sudah kembali menggunakan pakaiannya, beberapa bagian tubuhnya memang dibelit perban. Dia duduk dan menatap Naruto yang masih memegangi nampan. Kushina mengelus puncak kepala puterinya sekilas, dia mohon pamit karena tadi lupa mengambil minum.

Malam sudah menunjukkan pukul dua belas. Dan tidak ada satu pun di antara mereka yang terlihat merasa lelah ingin beristirahat.

"Masih sakit?" Naruto bertanya basa-basi. Sejak kejadian Minato menceritakan masa lalunya tadi, entah kenapa dia merasa gugup berhadapan dengan Sasuke? Seperti saat pertama kalinya mereka berkencan beberapa bulan lalu saja.

"Sedikit." Sasuke menjawab dengan senyum yang masih terukir di bibirnya. "Melihatmu begini, aku jadi ingat saat pertama kali kita berkencan."

"Apa aku segugup itu?"

"Yah." Sasuke tertawa saat Naruto meninju pelan lengannya. "Aku masih tidak percaya akhirnya aku mendapatkanmu."

"Oh, ya." Naruto mengangguk. Saat pertama bertemu dengan Sasuke dulu, adalah di acara syukuran keluarganya atas kelahiran bocah kembar keponakannya. Saat itu Sasuke tiba-tiba saja menyelimutinya yang hanya menggunakan dress tanpa lengan yang membuatnya jadi pusat perhatian. Sejujurnya, saat itu Naruto terpukau. Sayangnya, dia sudah memiliki seorang kekasih.

"Saat itu kau masih dengan pemuda berambut merah. Siapa? Gaara?"

"Iya. Gaara, aku sempat naksir padamu, tapi saat ingat statusku yang masih pacar orang, malam itu juga aku melupakanmu."

"Kejam sekali." Sasuke terkekeh. "Aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu."

Mereka tertawa. Merasa beban semakin hilang dari pundak mereka. Tidak ada yang menyangka bahwa pada akhirnya mereka akan bersama. Naruto yang bahkan sudah lupa pada nama Sasuke, sedikit terkejut saat melihatnya berdiri di dekat gerbang sekolahnya. Yah, saat itu Naruto memang masih Senior High School tingkat akhir.

"Sedang apa kau di depan gerbang sekolahku?"

"Menjemput sepupuku. Awalnya aku malas, karena aku juga ada kuliah. Tapi ternyata di sana aku justru bertemu denganmu. Aku seperti melihat surga saat itu, yah… sebelum akhirnya saat kita baru saling menyapa beberapa kata mantanmu yang galak dan menyeretmu masuk ke dalam mobilnya. Surga menjadi neraka, aku tidak tahu kau punya pacar sebelumnya."

"Kau patah hati?"

"Lebih dari yang kau tahu."

Mereka lagi-lagi tertawa.

"Kau tidak lelah?" Sasuke bertanya saat baru ingat sejak tadi Naruto belum sempat beristirahat. Bubur di mangkuk pun asapnya terlihat semakin tipis. Naruto mulai mengaduknya dengan sendok.

"Tidak." Naruto menggeleng. "Kau mau kusuapi?"

"Jika kau tidak keberatan."

Naruto tersenyum puas. dia mulai menyodorkan satu sendok bubur ke bibir Sasuke. Pemuda Uchiha itu sedikit membuka mulutnya, menerima satu suapan yang langsung dia kunyah dan telah perlahan. Perutnya sedikit mual.

"Saat itu aku berpikir, kau hanya memiliki keindahan karena rupa dan tubuhmu. Sikapmu sangat manja dan tidak terlihat dewasa. Kau bukan tipeku sama sekali. Aku mengejar wanita yang sempurna. Sehingga seumur hidup, aku tidak pernah memiliki kekasih karena selalu ada nilai cacad pada mereka. Tapi manjamu jadi kelebihanmu, labilmu menjadi sesuatu hal yang menarik untukku, semua yang seharusnya mendapat nilai buruk, menjadi sempurna saat kau yang memilikinya."

"Kau sedang merayuku?" Naruto berdecak. "Aku anggap itu pujian atau hinaan?"

Sasuke mengulurkan tangannya, dia mengelus pipi Naruto penuh sayang. Tatapan yang diberikannya pun amat teduh da memberikan ketenangan.

"Aku berusaha melupakanmu. Dan pada akhirnya aku menyerah. Beberapa minggu kemudian aku memberanikan diri datang lagi ke sekolahmu. Berharap bisa melihatmu walau tidak bisa menyapamu lagi. Karena saat itu, sepertinya kau sangat betah berpacaran dengan si panda."

"Gaara sangat baik. Dia selalu mau kusuruh mengerjakan prku walau sikapnya memang sedikit posesif. Dia akan menggeram seperti harimau kalau ada laki-laki lain yang mendekatiku."

"Senang sekali mendengar pacar memuji mantan."

"Kupikir kau bertanya." Naruto tertawa, sementara kali ini. Sasuke memasang wajah datar tidak suka. Naruto mengalah, dia meminta maaf dan kembali mengaduk buburnya. Hendak menyuapi Sasuke lagi, sebelum akhirnya mendengar suara langkah kaki tergesa memasukki kamarnya yang dalam kondisi pintu terbuka.

Menoleh ke arah pintu, Naruto menelan ludah gugup saat Kyuubi berdiri di sana dengan mata merahnya yang menyala marah.

"Kakak…"

"Kau sedang makan?" Kyuubi bertanya tenang. Terlihat sekali berbanding dengan kondisi batinnya karena wajahnya begitu mengeras murka. "Kalau begitu selamat makan!"

Kyuubi membuka tutup dari sebuah botol yang digenggamnya, dan tanpa pikir dua kali, dia menumpahkan seluruh cairan berwarna hitam itu ke mangkuk bubur Sasuke.

"KAKAK!"

"PERGI DARI RUMAHKU SEBELUM AKU BENAR-BENAR MEMBUNUHMU!"

"DADDY!"

TBC

Yah, genre cerita ini emang Nay buat seringan mungkin. Jadi masalahnya juga gitu-gitu aja. Nay putusin Will Be Mine paling banyak 10 chapter.

Dan Nay mau minta maaf, karena Rated Nay turunin ke T. temen Nay yang biasa ngebetain cerita Nay dan udah mau bikinin lemonnya nanti ternyata mutusin buat berenti nulis. Sedangkan Nay sendiri bener2 bingung cara nulis lemon straight. Sementara ini, buat nulis lemon YAOI aja lagi gak bisa. Harap maklum ya.

Balesan review:

Chapter kemarin bertele-tele. Yang ini lebih bertele-tele lagi. Di skip aja kalo kamu ngerasa gitu. Hehe.

Lebih suka BBF tapi sayang jarang diupdate. Emang iya. Soalnya butuh moodbooster raksasa buat lanjut cerita itu.

Kapan BBF lanjut? Kalo Nay udah ada niat aja

Kapan I'll Be Here lanjut? Kalian baca kata Hiatus, kan, di summary? Nay lagi stuck nulis cerita rateM

Shion anak keberapa? Anak kedua

Sasuke OOC parah. Nay juga ngerasa gitu. Hahaha

Kapan Wonkyu update? Nay lagi gak ada ide buat My Bastard Teacher. Huhuhu

Bakalan ada lemon ya? Maaf, gak jadi #bungkuk

Apakah ini terinspirasi dari kisah nyata? Hah? Kisah nyata siapa? Wkwkwk

Khusus buat Kak Amma, kenapa lo bawa2 mulu soal botol teh pucuk? Hiks

Apa Nay marah sama yang berharap ini cerita 3 shoot? Gak tuh. Nay sih ngertiin aja, soalnya banyak ff multicap Nay yang gantung gak jelas gak pernah dilanjutin. Mungkin ada beberapa readers takut ff ini nasibnya sama. Muahahaha

ItaNaru kapan lanjut? Masih mikir Naynya. Hahaha

Yah, selamat deh buat kamu yang ngerasa SasuSaku canon ampe nangis bahagia. Aku berusaha berpikiran baik sekali pun gak ngerti kenapa kamu mesti ngungkapin itu di kotak review seorang fujoshi? Udah kayak garam dilempar ke atas luka aja. Wkwkwk. Ini udah lanjut. Selamat baca.

Lebih suka Nay nulis FemNaru. Oh, yang fujodan juga lebih suka Nay nulis SasuNaru. Gimana dooong? Enaknya nulis yang mana? Sama2 Sasuke ma Naruto sih. Hahaha

Sampe jumpa minggu depan. Btw, buat BBF, doain aja mudah2an bisa update sebelum akhir bulan, ya. Soalnya Desember nanti Nay bakalan hiatusin semua FF.

See you!

Princess Love Naru Is Nay