Naruto hanya milik Masashi Kishimoto.

.

Sweet Marriage by Kumada Chiyu.

.

DILARANG COPAS, YA :) dan silahkan membaca.

.

.

.

"Apa?! Aku? Aku mau di jodohkan, Pa? Jangan bercanda!"

Suara seorang Sakura Haruno terdengar begitu memekakkan telinga. Suara yang naik beberapa oktaf itu hampir membuat telinga kedua orangtuanya yang ada di hadapannya itu berdengung panas.

Kizashi menghela napas kasar. "Tapi sayang-"

"Aku menolak, Pa! Aku tidak mau di jodohkan." Potong Sakura. Matanya melotot marah ke Papanya.

Kizashi mulai merasa frustasi untuk menghadapi Sakura. "Dengarkan Papa dulu Saki ..." Kizashi mencoba untuk tenang.

Sakura masih tidak menggubris Kizashi yang masih mencoba menjelaskan ke putri semata wayangnya itu. Mebuki istrinya pun masih setia duduk di sampingnya dan berusaha mendukungnya. Kizashi menghela napas pelan.

"Saki ... Papa tau Papa salah. Papa tidak membicarakan hal perjodohan ini sebelumnya sama kamu. Tapi Papa ingin kamu mau mengerti sayang. Papa mau tidak mau harus tetap menjodohkan kamu." Kizashi masih menatap Sakura penuh harap. Seolah Sakura akan luluh dan menerima ini semua dengan hati yang dingin. Namun Sakura masih melengos. Enggan menatap kedua orangtuanya yang duduk di hadapannya itu.

"Sayang ... Mama mohon kamu mau mengerti sayang. Terima perjodohan ini ya, sayang." Kini giliran Mebuki yang membujuk Sakura untuk menyetujui perjodohan sepihak itu. Sakura mulai gelisah. Mana bisa ia menolak permintaan ibunya. Kalau ayahnya masih bisa ia bertahan untuk menolak. Tapi untuk ibunya? Sakura terus mendesah dalam hati. Ia harus tetap pada pendiriannya. Menolak perjodohan itu. Titik.

"Tidak bisa Ma ... Sakura tetap menolak perjodohan itu."

Kizashi dan Mebuki makin kewalahan menghadapi putri mereka satu-satunya itu yang memiliki kekeras kepalaan yang begitu merepotkan. Akhirnya mereka saling berpandangan dan tak lama anggukan samar terlihat dari mereka berdua. Namun Sakura tidak menyadarinya karena dirinya yang masih membuang muka bersebrangan dengan kedua orangtuanya.

Tak lama terdengar sebuah isakan kecil yang lama-lama terdengar makin keras. Sakura yang mendengarnya mencelos. Jangan bilang kalau itu ...

"Kamu tega sama Papa dan Mama, Sakura. Apa salahnya kamu menerima permintaan kami. Asal kamu tau sayang, kami hanya ingin segera melihat kamu menikah dan hidup bahagia. Umur kamu sudah dua puluh empat tahun. Dan kamu juga pasti menyadarinya, umur Mama dan Papa sudah tidak muda lagi. Kami ingin bisa menyaksikan pernikahan kamu sebelum kami pergi, nak ..."

Oh great! Apa yang di takutkan Sakura terjadi juga. Mebuki menangis di pelukan Kizashi. Kizashi hanya mengelus punggung istrinya lembut. Mengalirkan sebuah ketenangan. Namun matanya tetap menatap Sakura penuh harapan.

Sakura sedikit demi sedikit menoleh ke arah orangtuanya. Oh shit! Makinya dalam hati. Kenapa aku sampai bisa membuat Mama dan Papa sedih, batin Sakura kini juga ikut menangis menyaksikan ibu kandungnya sendiri sedang menangis sesegukan di pelukan ayahnya.

Sakura mulai goyah. Apa Sakura menyetujui saja perjodohan itu? Yang penting orangtuanya senang dan bisa tersenyum kembali. Tapi ... Hell! Menikah? Di usia semuda ini? Hah! Bahkan Sakura masih berusaha susah payah untuk meningkatkan karirnya menjadi dokter spesialis lebih dan lebih hebat lagi. Dan Sakura tidak mau mimpi yang sudah di rajutnya sedemikian rupa hancur hanya karena terhalangi oleh sebuah pernikahan. Tolong tampar Sakura saat itu juga!

Tapi ... saat Sakura kembali melihat ibunya yang masih menangis pilu di pelukan ayahnya, hati kecilnya terus menyuruhnya untuk segera mengiyakan apa yang di minta oleh kedua orangtuanya. Kalau Sakura tidak merasa cocok, ia bisa segera membatalkan perjodohan itu.

Sakura menghela napas frustasi. Sebuah keputusan sudah diambil oleh Sakura. Keputusan yang akan mengubah takdir seorang Haruno Sakura seratus delapan puluh derajat! Dan Sakura harap ia tidak mengambil keputusan yang salah. Semoga ... batin Sakura nelangsa.

"Pa ... Ma ... Sakura ..." Sakura diam sebentar untuk menenangkan dirinya. Ditariknya napas secara perlahan. "Sakura mau menerima perjodohan itu." Sakura menunduk saat mengucapkan hal itu. Sebuah keputusan besar yang Sakura harap tidak akan menjerumuskannya ke sebuah lubang hitam dan menyedotnya perlahan-lahan.

Tiba-tiba Sakura menggeleng pelan. Segera ia tepis pemikiran negatif itu. Tidak-tidak! Dia harus berpikir positif. Yah, mungkin saja hal itu akan menjadi sebuah takdir yang indah untuknya. Dan Sakura meyakini hal itu.

Kizashi dan Mebuki yang mendengar jawaban Sakura menerima perjodohan itu langsung berbinar senang.

"Terima kasih sayang. Terima kasih." Mebuki langsung menghambur untuk memeluk anaknya tercinta. Kizashi pun hanya menahan senyumnya yang ingin mengembang. Tanda ia begitu senang mendengar penerimaan Sakura.

"Tenang sayang. Papa jamin kamu akan bahagia dengan perjodohan ini. Terima kasih sayang." Kizahi mengelus kepala Sakura penuh sayang.

Sakura hanya mengangguk dan memberikan senyum penuh keterpaksaan.

'Ya, apapun akan Sakura lakukan asal Mama dan Papa bisa terus tersenyum seperti itu. Yeah. Apapun. Walaupun harus mengorbankan kebahagiaan Sakura. Apapun aku rela...' batin Sakura sendu.

Disaat Sakura sedang meratapi nasibnya yang sungguh menyedihkan itu, Kizashi dan Mebuki malah menyeringai dalam hati masing-masing. Rencana mereka untuk meluluhkan kekeras kepalaan Sakura akhirnya berhasil. Akhirnya Sakura mau juga untuk menerima perjodohan ini. Kizashi melirik ke arah istrinya yang masih memeluk Sakura. Ia mengedipkan matanya dan di balas tanda oke dari istrinya. Oh sungguh sebuah konspirasi yang sangat licik.

.

.

.

Sakura kini hanya diam duduk di atas ranjang queen size-nya. Dirinya menatap kosong ke arah jendela di kamarnya. Tak lama ia meraih ponselnya, dan langsung di ketiknya sebuah nomor yang sudah dihapalnya luar kepala.

"Halo." Ucap Sakura.

"Kenapa cantik?" Balas suara dari seberang telepon sana.

"Inooo ..." Sakura berkata lirih seakan ingin menangis. Ia menelpon sahabatnya itu untuk mencurahkan semua perasaan yang sudah tidak bisa ia tahan sendiri itu.

"Loh, elo kenapa, beb?" Ino bertanya dengan nada khawatir mendengar suara Sakura yang seperti menahan tangis. "Lo ada masalah? Cerita sama gue, beb."

"Nooo ... Gue ... hiks gue di jodohin No ..." Isakan Sakura tak tertahankan lagi. Kini ia menangis pelan.

"Apa?! Lo di jodohin Sak? Serius lo?" Teriak Ino kaget. Sakura hanya bisa menghela napas mendengar respon Ino.

"Gue serius No. Kalo gue becanda gak mungkin gue nelpon lo sambil nangis gini."

"Uh, okay. Sorry ya beb," ucapan Ino agak merasa bersalah. "Yaudah ceritain detailnya ke gue."

Sakura mengangguk walaupun ia tau Ino tidak akan melihatnya. Dan Sakura pun menceritakan semuanya dari saat daddynya memberi tau kalau Sakura di jodohkan sampai ia akhirnya menerimanya walau terpaksa.

"Gitu No. Menurut lo, keputusan gue tepat gak?" Tanya Sakura saat ia sudah menyelesaikan ceritanya.

Di seberang sana Ino tak menjawab. Tak lama suara Ino kembali terdengar. "Gini ya beb, kalo menurut gue sih keputusan lo gak sepenuhnya salah, itu kembali lagi kepada elo yang bakal nanti menjalaninya. Gue setuju sama lo yang nerima perjodohan itu supaya bokap nyokap lo gak sedih. Tapi gue cuman takut lo belom siap mental aja sih beb."

Sakura mendengar ucapan Ino tanpa di bantah sedikitpun. Sakura diam, mencerna kalimat Ino.

"Gitu ya, No?" Sakura masih kurang yakin.

"Tapi kalo kata gue sih, emang lo harus terima aja beb. Lo kan juga lagi jomblo. Sebenernya ya, gue kasian ngeliat elo. Cuma karir aja terus yang lo kejar. Sedangkan untuk urusan asmara lo terlalu gak peduli. Ya menurut gue kenapa gak lo coba aja, siapa tau calon suami lo itu ganteng. Kan gak rugi juga tuh, hehe."

Sakura yang tadinya sedih dan masih bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya itu langsung berhenti dan memutar bola mata bosan.

"Duh, masih sempet ya lo mikir ke arah situ. Gak tau sahabatnya lagi bingung apa." Ino terkekeh di seberang sana.

"Ya abis, mau gimana lagi cantik. Masa lo mau terus meratapi nasib sial lo itu. Mending lo nikmatin aja. Siapa tau sebenernya ini tuh, takdir indah yang di kasih Tuhan, tapi sayangnya diawali dengan jalan yang agak belok-belok gitu ..." Ino tertawa mendengar apa yang diucapkannya barusan.

"Inooo ... jangan becanda terus kenapa." Sakura merengek.

"Haha. Udah deh beb, lo gak usah mikirin terlalu pusing. Enjoy aja sih. Nikmatin aja dulu."

Sakura mendengus sebal. Sahabatnya itu memang orang yang easy-going, yang gak mau terlalu musingin sesuatu sampai begitunya. Motto hidupnya itu, 'Apapun masalahnya, harus dipikirkan secara positif. Dan tentunya nikmatin aja dulu.' Ck, motto gak jelas! Pikir Sakura.

"Huft, yaudah deh, gue terima saran lo. Dari pada gue bingung dan mikirin sampe bikin rambut gue botak dan akhirnya gak nemu titik terang, mending gue nikmatin aja dulu ya. Juga gak mungkin lah orang tua gue memberikan gue sesuatu yang gak baik buat gue. Iya kan?"

"Nah, itu pinter," jawab Ino. "Yaudah beb, mending lo tidur sana. Udah malem nih, besok emang gak ada shift?"

"Besok gue shift siang. Yaudah, thanks ya udah dengerin curhatan gue. Lo emang sahabat gue paling cantik!"

"Haha, baru nyadar emang? Oke, gue tutup ya beb. Bye."

"Oke, bye."

Lalu sambungan terputus. Kini Sakura menatap ponselnya yang barusan digunakannya untuk curhat ke Ino.

'Ya mungkin emang gak ada salahnya gue nerima perjodohan ini. Gue yakin Papa sama Mama pasti akan memberikan gue yang terbaik,' Sakura lalu melihat ke jam dinding di kamarnya. Sudah pukul 23.15 rupanya. 'Sudah malam, sebaiknya harus istirahat.'

Dan akhirnya Sakura pun membaringkan dirinya di kasur dan segera menarik selimut sampai dagu. Yah, semoga esok hari lebih baik dari hari ini.

.

.

.

"Selamat pagi sayang." Sapa Mebuki pada putri semata wayangnya itu. Dirinya sedang sibuk di dapur, membuat sarapan untuk keluarga kecilnya.

"Selamat pagi Ma," balas Sakura dengan senyuman kecil. "Papa mana?" Sakura melirik ke arah meja makan yang masih kosong. Biasanya daddynya itu sudah duduk sambil membaca koran dan ditemani secangkir kopi hitam tanpa gula buatan mommynya.

Mebuki menoleh ke arah Sakura. "Masih di kamar sayang." Mebuki lalu menata piring dan roti panggang yang sudah disiapkannya ke atas meja makan.

"Oh." Sakura mengangguk. Lalu ia pun duduk di kursi yang biasa di tempatinya. Tak lama Kizashi datang dengan ponsel yang sibuk di telinganya dan terlihat sedang berbicara sesuatu.

"Ya, Fugaku. Aku mengerti. Baiklah." Dan setelah itu Kizashi memutuskan panggilan dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantungnya.

"Pagi, Pa." Sapa Sakura.

"Oh, pagi putri manisku." Balas Kizashi. Lalu ia duduk di kursi dan tak lama Mebuki menyusul, dan mereka pun memulai sarapan paginya.

Setelah selesai, mereka tak langsung beranjak dari meja makan. Sakura menatap ayahnya.

"Tadi telepon dari siapa pagi-pagi begini?" Tanya Sakura.

Kizashi melirik putrinya. "Tadi keluarga Om Fugaku menelepon Papa. Katanya besok mereka akan datang ke rumah untuk makan malam."

"Om Fugaku itu siapa?"

"Dia ayah dari calon suami kamu, sayang. Keluarga Uchiha." Jawab Kizashi.

Seketika Sakura diam. Lalu menatap kedua orangtuanya.

"Ma, Pa. Apa perjodohan itu benar-benar terjadi?"

Kizashi dan Mebuki menatap Sakura bingung. "Tentu saja sayang." Jawab Mebuki.

Sakura diam beberapa saat. "Kalau boleh tau, apa alasan dibalik perjodohan ini, Pa? Kan tidak mungkin kalian tiba-tiba langsung menjodohkanku seperti ini."

Kizashi menghela napas. Dan di tatapnya Sakura dengan penuh rasa menyesal. "Sebenarnya perjodohan kamu itu adalah sebuah janji Opa kamu dan sahabatnya."

Sakura sempat kaget, namun ia berusaha untuk mengendalikan diri. "Opa? Opa kan sudah meninggal." Ucap Sakura. Kizashi hanya mengangguk mengiyakan.

"Terus?" Tanya Sakura lagi.

"Setau Papa, Opa Hashirama mempunyai sahabat baik yang bernama Uchiha Madara. Dan mereka berjanji akan menjadi keluarga yang utuh dengan menjodohkan keturunan mereka masing-masing. Dan kamu lah yang dipilih untuk melaksanakan janji itu."

Sakura menghela napas sambil mengangguk lemas. "Oh, gitu." Ucap Sakura tak bersemangat.

"Mama mohon kamu jangan berubah pikiran untuk menolak perjodohan ini ya, sayang." Mebuki menatap Sakura penuh harap.

Sakura menggeleng. "Aku gak akan berubah pikiran kok, Ma. Yah, seenggaknya aku tau alasan sebenarnya dibalik perjodohan aku. Dan karena aku sudah menerima hal ini, aku akan berusaha untuk bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku putuskan."

Kizashi menatap Sakura dengan pandangan sulit, sedangkan Mebuki memandang putrinya haru.

"Kamu memang anak kebanggaan kami, nak." Ucap Kizashi, dan Mebuki membelai surai merah muda putrinya lembut.

Sakura tersenyum tipis. "Oh, ya, Pa. Siapa nama laki-laki yang akan di jodohkan sama aku?" Tanya Sakura.

"Namanya Uchiha Sasuke." Jawab Kizashi.

.

.

.

To be continue...

Kumachi's talk.

Hai semuanya. Apa kabar? Baik kan ;)

Aku balik lagi dengan membawa cerita baru nih. Dan rencananya aku mau menceritakan kehidupan rumah tangga SasuSaku. Hehe entah kenapa aku lagi seneng banget sama kehidupan rumah tangga yang so sweet gitu. Dan akhirnya aku buat cerita ini.

Aku gak mau ribet bikin SasuSaku yang susah payah menolak perjodohan tapi ujung2nya lope-lopean juga haha. Mending dari awal udah ku kasih jalan mulus hihi. Makanya mungkin tentang perjodohan itu cuma aku bikin singkat aja, supaya aku bisa langsung fokus sama pernikahan SasuSaku. Aku akui alurnya lumayan cepat hehe.

Dan seperti judulnya, aku cuma akan menceritakan kehidupan rumah tangga mereka yang manis setelah menikah. Paling kalau ada konflik gak akan ekstrim. Dikit doang paling hehe.

Oke, maaf jadi kebanyakan cuap-cuap gak penting. Ditunggu review dari kalian semua ya.

Thank you :*