Naruto hanya milik Masashi Kishimoto.

.

Sweet Marriage by Kumada Chiyu.

.

Warning! Bahasa tidak baku, dan lumayan gaul gitu XD Juga fic ini lebih menekankan genre Romance-Humor-Family. Jadi, kalau mau yg drama-drama atau hurt-hurt gimanaaaaa gitu, jangan protes dan di sarankan gak usah dibaca. Cerita sudah diatur sama yg bikin :P hehe.

DILARANG COPAS, YA :) dan silahkan membaca.

Kalau gak suka jangan dibaca ya...

.

.

.

Tok Tok Tok.

.

.

.

"Masuk."

Cklek.

"Yo. Selamat pagi my brother."

Sebuah sapaan hangat masuk ke telinga Uchiha Sasuke yang masih serius berkutat di depan laptopnya di meja kerjanya. Alisnya mengerut heran mendengar suara yang ia tahu milik siapa tanpa harus melihat sosoknya.

"Ada apa?" Balas Sasuke cuek.

"Yeah, setidaknya balaslah sapaanku lebih dulu, my little brother." Itachi merengut kecil membalas jawaban sang adik yang begitu to the point.

"Sudahlah Itachi, aku sedang sibuk," Sasuke mengalihkan pandangannya ke Itachi yang berdiri di hadapannya namun masih terhalang oleh meja kerjanya. "Ada apa?"

Itachi masih mencibir sifat tak sabaran adik satu-satunya itu. Namun segera ia menyingkirkan hal itu, dan segera fokus memberi tau maksud dan tujuan sebenarnya ia mengunjungi ruangan adiknya.

"Ayah dan kakek ingin bertemu denganmu nanti malam, Sasuke. Sekalian Ibu katanya sudah sangat merindukanmu sebab seminggu ini kau tak pulang ke rumah karena sifat workaholik mu itu." Itachi lalu duduk di kursi di hadapan Sasuke. Terlihat Sasuke mendecih kecil.

"Aku sibuk." Jawab Sasuke singkat. Itachi sudah menduga apa yang akan di katakan adiknya itu. "Ayolah. Kalau begitu, demi ibu kau harus pulang malam ini. Kau tidak kasihan padanya yang sudah sangat merindukanmu itu?"

Sasuke terdiam. Terlihat menimbang-nimbang. Memang ia sangat sibuk akhir-akhir ini sebab ia harus mengawasi secara penuh urusan proyek kerja sama dengan perusahaan sahabatnya, Uzumaki Naruto. Tapi, mungkin tidak ada salahnya pulang ke rumahnya. Sudah seminggu ini Sasuke selalu pulang ke apartemennya. Yah, aku juga sedikit merindukan ibu, pikir Sasuke.

Setelah terdiam beberapa lama berkutat dengan pikirannya, Sasuke mengangguk menyetujui untuk pulang ke rumahnya. Yah urusan kakek dan ayahnya hanya tambahan saja.

"Hn. Bilang pada ibu hari ini aku pulang ke rumah," Sasuke kembali menghadap laptopnya. "Sudah kan, hanya itu yang ingin kau bicarakan. Kau bisa keluar kalau begitu."

Itachi merengut kesal melihat sikap kurang ajar Sasuke, juga mendengar usiran tidak halus adiknya kepadanya barusan. Itachi langsung bangkit. Namun ia malah menyodorkan tubuhnya mendekati Sasuke. Dan-

Tuk.

-segera di sentilnya dahi sang adik. Sasuke hanya mengaduh pelan.

"Makanya, lain kali sopan sedikit terhadapku, Sasuke. Ingat, aku ini kakakmu, my lil bro."

Itachi lalu tertawa kecil dan langsung pergi meninggalkan ruang kerja adiknya. Sasuke hanya mendecih tak suka.

"Sialan."

.

.

.

Sasuke mematikan mesin mobilnya ketika sudah sampai di halaman rumah utama keluarga Uchiha. Segera di lepasnya seatbelt dan segera mengambil tas kerjanya dan segera keluar dari mobil. Sasuke langsung melangkah menuju pintu depan rumahnya.

"Aku pulang." Ucap Sasuke ketika ia sudah sampai di dalam ruang tamu.

Tak lama terdengar langkah kaki yang terburu-buru mendekatinya. Dan sebuah pelukan dan ciuman penuh sayang di kedua pipinya menyambutnya. Sasuke mengerang sebal dan protes dengan sebuah suara 'Bu, aku bukan anak kecil lagi, stop it'. Ternyata sang ibu sudah tidak sabar menyambut kepulangan anak bungsunya yang tersayang. Dan tentunya mengabaikan protes anaknya yang tetap ia lihat sebagai my sweet boy forever, walau umurnya sudah dua puluh enam tahun.

"Selamat datang, sayang. Ayo kita makan malam dulu."

Mikoto langsung menyeret Sasuke menuju meja makan. Sasuke hanya pasrah mengikuti ibunya. Dan terlihatlah di meja makan keluarga besar itu sebagian besar sudah tersedia berbagai olahan masakan kesukaan Sasuke. Oh sungguh ibu yang pengertian. Sasuke memandang penuh rasa lapar.

Sasuke segera menuju kursinya yang berada di sebelah kanan kursi kedua di samping kakaknya yang sudah ada di sana. Sang kakek ternyata juga sudah duduk di kursi tunggalnya itu. Begitupun sang ayah yang duduk di sebelah kiri sang kakek dikuti sang ibu disebelah ayahnya.

Mereka makan dengan khidmat dan mengikuti aturam table maner. Yeah, keluarga Uchiha itu memang kental dengan aturan ketatnya yang menjunjung tinggi nilai kesopanan. Setelah selesai, mereka tidak langsung beranjak pergi. Dan sepertinya ada hal yang ingin di bicarakan.

Dehaman sang kepala keluarga, Uchiha Fugaku membuka percakapan di antara mereka setelah sebelumnya hening melanda. "Sasuke. Ada yang ingin ayah sampaikan kepadamu."

Sasuke melirik ayahnya. "Apa itu ayah?"

Fugaku sempat menatap Madara sesaat, dan sebuah anggukan samar menjadi kode utuk Fugaku melanjutkan pembicaraan.

"Ayah dan Kakek sudah memutuskan sesuatu. Dan kami sudah berunding dan kami menyetujui hal itu."

Sasuke menatap bingung. "Memutuskan apa ayah?"

Sekali lagi Fugaku berdeham menghilangkan sedikit kegugupannya. "Sasuke, kamu akan kami jodohkan."

Sasuke melotot. Bagai di sambar petir siang hari (padahal saat itu sudah malam), Sasuke menatap tak percaya apa yang di ucapkan ayahnya barusan.

"Apa?! Perjodohan? Apa-apaan itu. Aku menolak!"

Itachi menepuk pelan bahu adiknya. "Tenanglah."

Sasuke lalu langsung menghirup napas banyak untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Setelah mulai tenang, Sasuke menatap Fugaku dan Madara. "Bisa tolong jelaskan ini semua?"

Fugaku menghela napas. "Seperti yang kau dengar tadi, anakku. Kau akan kami jodohkan."

"Tapi kenapa tiba-tiba, yah." Sasuke masih menolak.

"Ini bukan tiba-tiba Sasuke. Aku sudah merencanakan perjodohan ini dengan sahabat kakek jauh sebelum kau ada. Ini janji sehidup semati kami. Bahwa kami akan menjodohkan cucu kami kelak ketika mereka sudah cukup umur. Dan sekaranglah saatnya," Madara menghentikan ucapannya sejenak dan melirik reaksi Sasuke. Sasuke masih diam datar walau Madara tau tangan Sasuke mengepal menahan emosi. "Seharusnya sejak kau sudah berumur tujuh belas dan aku bisa langsung menjodohkanmu, tapi aku ingin memberimu sedikit waktu lagi untuk merasakan kebebasan, cucuku."

Penjelasan Madara membuat Sasuke menatap horor. "Kan masih ada Kak Itachi, kek."

Madara menggeleng. "Perbedaan umur kakakmu dan gadis yang akan di jodohkan cukup terlampau jauh. Sedangkan dibanding denganmu, umurnya hanya berbeda dua tahun. Dan jangan kau lupa, Itachi sudah bertunangan."

Sasuke mengerang dalam hati. Siaaalll! Kenapa harus aku yang mengalaminya. Shit!

Seluruh anggota keluarganya menatap Sasuke penuh harap. Terutama sang kakek. Sasuke mendengus kesal.

'Kakek yang berjanji, aku yang kena sial. Fuck!' Batin Sasuke geram.

Mikoto menatap putra bungsunya yang masih terdiam. "Sasuke. Kamu tidak apa-apa, nak?"

Tentu saja jawabannya jelas tidak, bu! Jawab Sasuke frustasi dalam hati. Tapi mana berani ia menyuarakan hal itu. Bisa jantungan Mikoto mendengar Sasuke membentaknya.

Sasuke tersenyum tipis ke arah mikoto. "Tak apa-apa, bu."

Mikoto menghela napas lega. Dikiranya Sasuke kenapa-napa saking shocknya mendengar perjodohannya yang begitu dadakan. Ah, andai Mikoto tau bahwa apa yang di khawatirkannya itu benar seperti apa yang di rasakan Sasuke sekarang.

"Ibu ingin kamu menerimanya Sasuke. Ibu sudah melihat bagaimana gadis itu. Dia sangat cantik dan sempurna untukmu, nak."

Mikoto berkata dengan wajah yang penuh sumringah. Sasuke meringis melihat raut kebahagiaan di wajah ibunya itu. Mana tega Sasuke menghancurkan kebahagiaan ibunya itu. Dan mana berani juga ia menentang keputusan ayahnya dan membuat Madara merasa kecewa jika ia menolak perjodohan ini.

Haaahh, Sasuke dilema.

Sasuke masih diam memikirkan apa yang harus di perbuatnya. Terima kah? Atau tolak saja? Sasuke mengacak rambutnya bingung. Yang manapun, itu semua membuatnya bingung.

Tapi sebenarnya tidak ada alasan khusus sampai Sasuke harus menolak perjodohan ini mati-matian sih. Secara, kekasih saja tidak ada. Dari dulu juga tidak pernah pacaran. Sebab yang ada di pikirannya dari dulu itu cuma belajar yang pinter biar jadi orang sukses. Urusan wanita sih, bisa belakangan. Kalau sukses, pasti nanti banyak cewek yang antri kok. Tapi, karena prinsip hidupnya itu, Sasuke bener-bener mengabaikan apa yang di namakan perempuan. Bahkan sampai ada gosip yang mengatakan bahwa dia itu gay. What the hell! Mati aja sana yang nyebarin gosip murahan itu, desis Sasuke dalam hati.

Tapi ... seandainya Sasuke menerima perjodohan itu, otomatis segala gosip miring tentang dirinya langsung terpatahkan. Lah dianya aja dijodohin sama cewek kok. Sasuke menyeringai licik.

Mungkin, menerima perjodohan ini gak ada ruginya. Malah untung besar-besaran. Juga, kata ibunya gadis yang di jodohkan sama Sasuke itu cantik. Dan Sasuke tak pernah meragukan standar kualitas yang dimiliki ibunya. Kalau ibunya bilang cantik, pasti cantik banget. Sasuke terkekeh dalam hati.

"Baiklah. Aku menerima perjodohan ini."

Perkataan Sasuke membuat Mikoto memekik senang. Fugaku dan Madara hanya tersenyum simpul. Itachi menepuk-nepuk bahunya.

"Siapa nama gadis yang di jodohkan sama aku, yah?"

"Namanya... Sakura Haruno."

.

.

.

Sasuke memainkan ponsel sentuhnya dengan lihai di tangannya. Dirinya menatap datar serentetan rak buku yang berjejer rapih dengan koleksi buku berbau bisnis yang digemarinya. Dirinya kini berada di ruangan kerja khusus miliknya. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang tidak memainkan ponselnya. Sasuke duduk diam di kursi kerjanya yang nyaman.

Tak lama ia berhenti memainkan ponsel yang sedari tadi di putarnya itu. Dan langsung ia buka kunci dan segera mengetik kata sandi yang melindungi konten ponselnya itu. Setelah terbuka ia sentuh icon kontak dan segera di ketiknya, 'Kakashi Hatake'. Setelah ketemu ia sentuh icon dial.

Detik pertama ia masih mendengar nada sambung. Hingga detik ke lima belas sambungan teleponnya diangkat oleh orang di seberang sana.

"Halo,"

"Hn. Kakashi." Ucap Sasuke singkat.

"Ada apa Sasuke. Tak biasanya kau menelponku malam-malam begini. Ada hal penting?" Kakashi bertanya. Sasuke hanya mendengus pelan.

"Kalau sudah tau tak usah banyak bicara."

"Cih, aku hanya bertanya, sialan." Maki Kakashi di seberang sana.

"Hn, sudahlah. Aku ingin memintamu mencari informasi seorang gadis yang bernama Sakura Haruno, lengkap." Tukas Sasuke cepat.

"Apa? Kenapa aku harus menurutimu?"

"Kau cerewet sekali. Cepat kau cari informasinya. Kutunggu secepatnya. Sekarang!" Perintah Sasuke mutlak. Kakashi hanya menghela napas jengkel.

"Ahh... baiklah-baiklah. Dasar pria egois nan menyebalkan kau."

"Hn."

Sasuke langsung memutuskan sambungannya. Dan Sasuke pasti tau sekali jika saat ini Kakashi pasti sedang mengutuk dan menyumpah nyerapahi dirinya karena memutuskan panggilan sepihak. Sasuke mendengus dalam hati.

Sasuke masih penasaran dengan rupa gadis yang di jodohkan dengannya. Yah, tidak ada salahnya mencari tau info sedikit tentang siapa yang akan dijodohkan oleh kakek dan keluarganya itu. Siapa tau Sasuke tak merasa cocok walaupun ia tak meragukan selera ibunya.

Lama ia menunggu Kakashi menghubunginya untuk memberikan info tentang calon tunangannya itu. Sampai lima belas menit kemudian, suara ponselnya berbunyi. Ah, Kakashi menelponnya.

"Hn."

"Sudah kukirim ke emailmu info tentang gadis yang bernama Sakura Haruno, tuan muda Uchiha sialan." Jelas Kakashi sedikit jengkel. Namun Sasuke tak ambil peduli.

"Heh, terima kasih atas kerjamu yang sangat lambat, tuan malas hidup." Sindir Sasuke.

"Kau benar-benar bedebah, Sasuke." Umpat Kakashi.

"Terima kasih pujianmu. Ya sudah, bye."

Kembali Sasuke memutuskan lebih dulu. Dan kini ia memastikan pasti Kakashi sedang membanting ponselnya kencang iarena kesal. Hah, siapa peduli.

Kini ia sedang membaca seluruh data seorang Sakura Haruno yang barusan dikirim Kakashi. Ia membaca setiap kata yang tertera dengan detail. Heh, tidak buruk juga. Ternyata dia seorang dokter spesialis, pikir Sasuke dan sesekali mengangguk pelan. Dan saat ia melihat foto-foto sang empunya biodata, Sasuke menyeringai senang.

'Heh, selera ibu memang tak perlu kuragukan. Cukup cantik juga. Lagipula ia memiliki bibir dan bokong yang seksi. Menarik.' Sasuke tersenyum sambil tetap mengamati foto di lembaran biodata Sakura di ponselnya.

"Mungkin memang lebih baik aku menerima perjodohan ini." Gumam Sasuke pelan.

.

.

.

To be continue...

Kumachi's talk.

Untuk pertama kali, aku mengucapkan terima kasih ya untuk semua review, follow dan fav. Maaf gak bisa di bales satu2 T^T tapi tetep aku hargai kok hehe.

Oh, ya, kayaknya banyak yg salah paham di chap awal ya, hihi. Maksud aku di talk di chap1 yg bilang gak akan ada konflik, bukannya bener2 gak ada konfliknya -_- ada, tapi paling hanya konflik kecil yang gak akan memakan berchapter-chapter sampai penyelesaian. Iuh, itumah bikin cepet bosen. Yah, konfliknya yg pasti ringan dan berhubungan dengan pasangan yg menikah karena perjodohan. Ya you know what i mean.

Dan karena mereka langsung nikah, so pasti belum pacaran dan mesra-mesraan kan? Dan disitu aku ingin full of fluffyness in everything moment SasuSaku in this fic. Lagi bahagia banget SasuSaku akhirnya jadi Canon. Aaaa!

Baca juga fic aku yg judulnya our happy ending, disana ada si Salada-chan loh. #promosi terselubung.

Makanya yaaaaa gitu deh. Ku harap sih, reader tau maksud aku apa haha. Kalo gak tau yaudah gapapa. Makanya terus baca biar ngerti ya ;) #promositerselubunglagi

Oh, ya, untuk lemon... emmm... kuusahain ada deh XD tapi gak tau hot atau engga, this is my first time I made fanfic M-rating. Dan ada di chapter berapa, stay tune aja lah ya. #lagilagipromositerselubung.

Oke! Ditunggu reviewnya ya :)