Naruto hanya milik Masashi Kishimoto.

.

Sweet Marriage by Kumada Chiyu.

.

DILARANG COPAS, YA :) dan silahkan membaca.

Kalau gak suka, jangan dibaca ya...

.

.

.

"Aduh Ma, kayaknya gak usah berlebihan kayak gini deh. Aku maluuu..."

Sakura merengek pada Mebuki di kamarnya. Sekarang Sakura sedang di make-over penampilannya oleh Mebuki. Ya, malam ini keluarga Uchiha akan datang untuk makan malam sekaligus untuk membahas tentang masalah perjodohan.

"Ssssttt! Kamu berisik banget deh. Udah, kamu cuma tinggal diem aja. Nanti pasti cantik kok." Mebuki berkata dengan gemas melihat tingkah putrinya yang merengek seakan umurnya masih lima tahun. Padahal anaknya itu sudah dewasa dengan umur dua puluh empat tahun, tapi sikapnya masih manja dan kekanakkan begini. Mebuki geleng-geleng kepala.

"Tapi Ma..."

"Udah, diem aja." Mebuki mengabaikan tatapan sebal Sakura. Bibirnya mengerucut lucu. Tanda Sakura lagi ngambek.

Tapi akhirnya Sakura diam juga. Yah, selain dia malas berdebat, juga karena Mebuki yang melotot geram padanya yang tidak bisa diam dari tadi sehingga Mebuki kesulitan untuk menata rambutnya. Dari pada dapet kuliah gratis, mending diem aja deh, pikir Sakura.

Akhirnya setelah setengah jam kemudian, Mebuki selesai sudah merias Sakura. Sakura hanya mengeluh tubuhnya pegal karena harus diam di satu posisi tanpa bergerak sedikitpun. Dan mebuki hanya menjewer pelan kuping Sakura hingga membuatnya meringis.

"Duh, Mama! Kalau kuping aku copot gimana? Mau anakmu jadi cacat?"Sakura bersungut-sungut sambil mengelus kupingnya yang sedikit memerah.

"Biarin. Siapa suruh ngeluh terus kerjaannya. Udah, kamu ganti baju sana. Dikit lagi keluarga Om Fugaku dateng."

Mebuki merapikan peralatan make-up yang berantakan di meja rias kamar anaknya itu, lalu segera keluar meninggalkan Sakura yang masih betah cemberut.

"Huh, dasar Mama kejam."

.

.

.

Suara-suara yang terdengar cukup ramai di ruang tamu sedikit membuat Sakura penasaran.

'Keluarga Om Fugaku udah dateng ya, itu?' Tanyanya dalam hati.

Sakura mengintip dari ruang keluarganya ke arah ruang tamu yang sudah diisi ramai oleh Papa dan Mamanya dan juga keluarga Uchiha.

'Ih, gak keliatan jelas deh. Mataku minus kali ya...' Sakura langsung mengucek pelan matanya. Kalau kencang takutnya nanti eyeshadow yang udah di poles Mama rusak, pasti aku bakal kena marah, pikir Sakura ngawur.

Saat ia masih fokus menggosok matanya itu, sang nyonya Uchiha tak sengaja melihat Sakura yang lagi nyempil di pembatas ruang tamu dan ruang keluarga.

"Jeng, itu anaknya ya?" Tanya Mikoto pada Mebuki sambil menunjuk ke arah Sakura. Refleks Mebuki mengikuti arah yang di tunjuk Mikoto.

Mebuki cuma menepuk jidat pelan. 'Duh, itu anak kenapa gak bisa gak malu-maluin sih? Ketauan banget kalo lagi ngintipnya itu.'

Mebuki tertawa canggung ke Mikoto. "Iya jeng, itu anakku, Sakura. Aku panggil ya," Mikoto mengangguk antusias. "Sakura, sini sayang. Tamunya udah dateng."

Sakura yang lagi ngucek matanya kaget mendengar Mamanya memanggilnya. Ia mendongak dan melihat Mebuki lagi melambaikan tangan menyuruh Sakura menghampirinya. Sakura mengangguk, "Iya Ma."

Sakura langsung duduk di samping Mamanya. Dan tersenyum canggung di hadapan keluarga Uchiha.

"Wah, cantik banget kamu sayang. Lebih cantik dari yang di foto deh." Mikoto memuji. Sakura salah tingkah. "Makasih tante."

Ada lima orang di hadapan Sakura. Satu orang udah kakek-kakek, dan jelas pasti dia kakeknya. Ada satu pria bertubuh tegap dan raut muka yang tegas ditemani di sampingnya seorang wanita cantik (banget, tambah Sakura), Sakura duga pasti dia orang tuanya. Terus sisanya dua orang laki-laki yang aduh mak! Mukanya ganteng bingits. Boleh meleleh gak sih?

Tapi Sakura bingung, dia bakalan di jodohin sama yang mana. Seingetnya, kata Papanya yang bakalan di jodohin sama dia itu namanya Sasuke. Tapi, Sakura kan gak tau yang mana yang namanya Sasuke.

Tapi kalau calonnya ganteng kayak gitu mah, Sakura mau aja deh sama dua-duanya. Hehe. Ngawur kamu, Sak! Sakura menoyor kepalanya sendiri.

"Kamu gak apa-apa sayang?" Mikoto menatap khawatir Sakura yang dari tadi hanya bengong lalu tiba-tiba memukul kepalanya sendiri.

Sakura tersenyum kikuk. "Eh? Ehehe, gak apa-apa kok tante."

"Nah, karena sudah kumpul semua, lebih baik kita berkenalan dulu ya," Kizashi membuka pembicaraan. "Saya Haruno Kizashi. Ini istri saya Mebuki dan di sampingnya putri kami, Sakura."

Sakura hanya tersenyum menanggapi ucapan Papanya. Matanya sempat melirik ke dua pemuda yang duduk berdampingan. Yang satu tersenyum ramah, sedangkan yang satu hanya diam dengan wajah yang flat.

'Ih, tuh orang kenapa,' pikir Sakura heran.

Setelah selesai perkenalan dari pihak keluarga Haruno, kini giliran perkenalan dari keluarga Uchiha.

"Saya Uchiha Fugaku, ini ayah saya, Uchiha Madara dan di samping kanan saya istri saya Mikoto. Dan disana kedua putra saya. Yang disamping istri saya si sulung, Itachi dan di sebelahnya si bungsu Sasuke." Fugaku menjelaskan.

Saat bagian Fugaku menyebut nama Sasuke, Sakura sempat berhenti bernapas sejenak. Ternyata yang bernama Sasuke itu dia. Hmm... ganteng! Penampilannya keren, wajahnya tegas, rambutnya acak-acakan, tapi itu yang malah bikin kesan seksi. Bibirnya tipis dan kayaknya kissable banget. Matanya hitam tajam, hidungnya juga mancung tapi pas. Dan badannya kekar dan tegap banget. Duh, Sakura ngeces juga merhatiin Sasuke lama-lama. Sakura mulai teriak-teriak dalam hati. Duh, ini mah aku siap banget kalo Sasuke nikahin aku sekarang jugaaa! Gak salah aku nerima perjodohan ini kalau calon suami aku ganteng plus seksi kayak dia. Aaaa!

Sakura mulai lupa gak hanya dia yang ada di ruangan itu sekarang. Semua melihat bingung ke arah Sakura yang masih bengong dengan mulut sedikit terbuka sambil terus menatap ke arah Sasuke tanpa berkedip. Mebuki cuma merutuk dalam hati, kenapa anaknya harus malu-maluin kayak gitu sih. Kayak gak pernah liat cowok ganteng aja.

Sasuke hanya mendengus dengan tingkah Sakura. 'Hn, sungguh menarik, Sakura Haruno.'

Fugaku berdehem cukup keras, dan membuat Sakura tersadar dari lamunan nistanya barusan. Sakura tersenyum kikuk saat menyadari semua orang sedang menatap dia aneh dan bingung.

"Hehehe, maaf." Sakura ketawa garing. Semuanya mulai tersenyum dengan tingkah Sakura itu dan melanjutkan pembicaraan yang tertunda.

"Ayo, kalian memberi salam." Fugaku menyuruh Sasuke dan Itachi. Mereka mengangguk paham.

"Malam om, tante dan Sakura. Saya Uchiha Itachi, salam kenal." Itachi pertama yang bicara, disusul Sasuke.

"Hn, Uchiha Sasuke. Salam kenal om, tante, Sakura."

Mebuki dan Kizashi hanya tersenyum. Sakura masih memperhatikan duo Uchiha itu. Sifat mereka sungguh sangat bertolak belakang. Yang satu ramah dan yang satunya cuek. Hmmm... Karena Sasuke calon tunanganku di maklumi deh, pikir Sakura dalam hati.

"Nah, karena acara perkenalannya sudah selesai, mari kita ke ruang makan untuk makan malam. Saya sudah menyiapkan khusus untuk kalian." Mebuki mempersilahkan.

Lalu setelahnya mereka beranjak menuju meja makan dan mereka menyantap makan malam dengan tenang.

.

.

.

"Nah, kita lanjutkan ke acara yang inti langsung. Saya ingin membicarakan masalah perjodohan antara Sakura dan Sasuke." Madara memulai.

"Ya, saya sebagai pihak dari perempuan hanya menerima keputusan dari pihak yang laki-laki." Kata Kizashi.

"Seperti yang kita tau, sebenarnya perjanjian untuk menjodohkan cucu saya dan Hashirama itu harusnya sudah terlaksana sejak mereka memasuki umur cukup. Namun karena satu dua hal, saya menundanya hingga saat ini lah saat yang tepat. Maka dari itu, saya menginginkan pernikahan mereka untuk di laksanakan kalau bisa secepatnya." Madara mengakhiri perkataanya.

Semua terdiam. Sasuke dan Sakura pun ikut terdiam mendengarnya. Di laksanakan secepatnya? Mereka akan menikah sebentar lagi? Kenapa semua terasa begitu mendadak.

Kizashi melirik Sakura. Mengingat kemarin Sakura begitu keukeh menolak perjodohan ini. Apakah Sakura akan menyetujuinya? Kizashi memandang Sakura khawatir.

"Saya menyerahkan semua keputusan kembali lagi pada putri saya. Karena dia yang akan menjalaninya kelak" Ucapan Kizashi sukses membuat seluruh atensi semua yang ada di meja makan itu menoleh ke arahnya. Seakan meminta dengan cepat jawaban darinya. Sakura meneguk ludah susah payah.

'Papa kok ngomong gitu sih. Bukannya kemarin yang ngotot suruh aku nerima perjodohan ini tuh, mereka ya. Kenapa tiba-tiba sekarang jadi aku yang memutuskan bagaimana akhirnya perjodohan ini. Argh! Papa curang! Yang pusing aja, baru di lempar ke aku.' Sungut Sakura dalam hati.

Sakura bingung harus menjawab apa. Dia... harus menjawab apa? Memang sih, Sakura akui ia cukup tertarik dengan Sasuke dan tidak merasa keberatan dengan perjodohan ini. Lagi pula siapa yang mampu menolak pesona kharismatik seorang Uchiha Sasuke? Dan Sakura salah satunya yang gak akan mampu menolak. Toh, kalau sampai mau di bawa ke jenjang pernikahanpun, Sakura dengan ikhlas menerima, hehe. Tapi... gak secepet ini juga keleus. Pdkt aja aku belum sama Sasuke, pikir Sakura yang entah kenapa gak ada hubungannya sama sekali.

Sakura duduk dengan gelisah. Tangannya sibuk memuntir-muntir jari-jarinya yang mungil. Matanya bergerak gelisah. Seolah tidak dapat mendapat titik fokus.

Sasuke yang melihat Sakura yang kebingungan itu pun, iba. Maka, dengan inisiatifnya sendiri ia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Sakura.

"Maaf menyela. Aku ingin berbicara sebentar dengan Sakura." Kata Sasuke. Lalu di tariknya pelan lengan Sakura berdiri dan mengikutinya.

Mereka berdua sudah sampai di taman belakang kediaman Haruno. Sasuke diam menatap Sakura yang masih kebingungan itu di hadapannya.

"Aku mau tanya. Kamu mau nerima perjodohan ini atau tidak?" Tanya Sasuke tiba-tiba.

Sakura cukup salah tingkah. Ini pertama kalinya ia berbicara sama Sasuke. "Eh, uhm... sebenarnya aku gak nolak juga sih." Jawab Sakura sedikit ragu.

Sasuke tersenyum tipis. Ah lebih tepatnya menyeringai. "Aku juga gak nolak kok. Aku nerima perjodohan ini. So, pernikahan dalam waktu cepat gak buruk juga kan?"

"Tapi... ini terlalu cepat, Sas. Aku masih kurang yakin. Apalagi aku belum kenal kamu banget." Kilah Sakura.

"Sebenarnya aku juga kurang yakin. Tapi, kalau calon istriku seksi dan cantik kayak kamu aku fine-fine aja kalau disuruh nikah saat ini juga." Sasuke menyeringai.

Sakura melongo mendengarnya. "Ih, ternyata kamu mesum."

Sasuke hanya diam sedangkan Sakura memukul-mukul lengannya Sasuke. Namun sungguh, bahkan pukulan Sakura tak berasa sama sekali bagi Sasuke.

"Sudahlah. Jadi kamu nerima pernikahan kita kan?" Sasuke kembali bertanya setelah sebelumnya menghentikan aksi kekerasan Sakura. Tapi itupun kalau bisa di katakan kekerasan yang bahkan pukulannya tak terasa sama sekali.

Sakura agak diam memikirkan jawabannya. Sasuke sedikit tidak sabar.

"Kalo kamu ragu karena masalah kita belum saling mencintai, aku yang jamin kalau nanti aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku."

"Bukan masalah itu, Sas. Toh, jujur dari awal aku udah tertarik sama kamu. Eh tapi, itu juga poin utama aku masih ragu sih. Tapi... aku cuma agak takut aja. Ini semua terlalu cepat buat aku. Semuanya terasa begitu mendadak."

Sasuke menghela napas. "Jadi kamu maunya gimana?"

"Aku ada satu pertanyaan untuk kamu." Sakura malah bertanya ke Sasuke, bukannya menjawab.

"Apa?"

"Kamu... kenapa kamu mau menerima perjodohan ini?"

Sasuke diam. Namun tak lama ia bersuara. "Jujur aku nerima perjodohan ini karena aku gak mau menolak permintaan orang tua dan kakekku."

"Udah?" Tanya Sakura lagi.

"Plus, kalau aku dijodohin sama kamu aku bisa menepis gosip miring tentang aku selama ini." Sasuke menjelaskan dengan wajah yang sedikit merona.

Sakura yang sempat melihat rona di wajah Sasuke yang walau tipiiiiiissss banget itu, hanya menatap tak percaya.

'Ih, Sasuke manis banget sih pake malu-malu gitu. Jadi pengen nyium.' Pikiran Sakura mulai ngelantur dan segera mungkin ia menggelengkan kepala. 'Duh, kenapa aku jadi mesum gini sih.'

"Emang kamu di gosipin apa?" Sakura bertanya. Ia makin mendekati Sasuke.

"Aku gak mau kasih tau. Yang jelas, aku nerima perjodohan ini. Sekarang tinggal kamunya maunya gimana." Sasuke mulai mengalihkan pembicaraan. Sakura cemberut menyadari itu.

Tak lama Sakura langsung diam berpikir. "Okelah. Aku juga nerima perjodohan ini. Berarti kita fix akan menikah nih?" Sakura bertanya.

"Hn," Sasuke menjawab hanya dengan bergumam. "Yaudah kita balik dan kamu harus mengiyakan untuk rencana pernikahan kita."

Sakura mengangguk. "Iya-iya, aku tau. Dasar Mr. Cerewet."

"Kamu Miss. Jidat lebar."

"Apa kamu bilang?!" Teriak Sakura tak terima. Memang Sakura sangat sensitif kalau menyangkut jidatnya.

"Hn, sudahlah. Ayo kembali." Sasuke segera menggenggam tangan Sakura dan mengajaknya kembali ke meja makan.

"Curang, huh!" Sakura menggerutu dengan masih tangannya yang di genggam Sasuke. Ia mengikuti di belakang.

Sasuke yang mendengar Sakura menggerutu di belakangnya hanya mendengus geli. Ah, mungkin hidupnya tak lama lagi akan mulai berwarna jika nanti Sakura lah yang akan menjadi istrinya.

'Sakura Haruno. Sungguh perempuan yang menarik.'

.

.

.

To be continue...

Sorry kalau mengecewakan. Tapi aku gak maksa kalian untuk baca kok. Tapi makasih untuk segala review, follow dan favnya :)

Untuk bahasa gue-elo nya sedang kuusahakan diubah menjadi aku-kau atau aku-kamu. Makasih yg udah ngingetin yah..

Ditungu reviewnya :D

Big hug,

Kumada Chiyu.