Happy reading yeoreobun... ^^,

.

.

.

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

Cast : Baekhyun (GS)

Chanyeol

Kyungso (GS)

Kim Jongin

Sehun

Luhan

Kris

CHAPTER 13

Finally

Dengan huruf besar-besar tertulis dengan jelas 'WILL YOU MARRY ME". Kemudian Chanyeol muncul di hadapan Baekhyun membawa seikat bucket bunga dan kotak kecil berisi cincin.

.

.

.

.

Baekhyun sadar dari khayalannya. Andai yang ia bayangkan tadi nyata. Chanyeol melamarnya di hari ulang tahun Baekhyun. Tapi sayang itu hanya khayalan Baekhyun yang numpang lewat membuatnya sedikit tersenyum hanya dengan memikirkannya. Baekhyun meminum coklat panasnya. Kembali membuka bukunya dan menyetel lagu dengan volume keras. Sudah satu jam lebih Baekhyun duduk di situ sambil membaca buku. Buku yang ia baca hampir habis. Coklat panasnya sudah berganti gelas untuk yang kelima kalinya. Baekhyun dibuat kaget saat melihat ke jendela ada pria jangkung sedang melihat ke arahnya dengan senyumannya. Itu Park Chanyeol, sedang tersenyum bahagia tanpa merasa bersalah sedikitpun. Karena sudah membuat Baekhyun kesal bukan main. Chanyeol membawa bunga. Tapi ini tidak seikat bucket bunga seperti yang sebelumnya Baekhyun bayangkan. Hanya setangkai bunga matahari yang dihiasi pita berwarna merah di tangkainya. Baekhyun benar-benar tidak mau membals senyumannya. Baekhyun kembali memusatkan pandangannya pada buku yang hampir habis ia baca.

"Hai, cantik", sapa Chanyeol.

"Hmmm", jawab Baekhyun malas.

"Kau benar-benar marah padaku?".

Baekhyun melirik tajam pada Chanyeol seakan berkata 'menurutmu?'. Lalu kembali memandang buku yang ia pegang, yang sekarang bukunya usdah tidak ia baca. Baekhyun hanya melakukan itu untuk menghindari bertatapan dengan Chanyeol.

"Maafkan aku".

"Aku bawakan bunga untukmu", ujar Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan setangkai bunga matahari yang dibawanya. Baekhyun menerima bungan itu tanpa melihat Chanyeol sama sekali.

Baekhyun benar-benar tidak tertarik. Kemudian Chanyeol menaruh paper bag yang cukup berat di atas meja. Baekhyun kembali melirik sinis pada Chanyeol.

"Ini, hadiah untukmu". Baekhyun lalu mengintip isi paper bag itu

Hadiah? Bahkan ia tidak membungkusnya dengan kertas kado yang cantik. Chanyeol memberikannya begitu saja dengan paper bag dengan logo toko tempat Chanyeol membelinya. Isi paper bag itu adalah beberapa buku yang memang belum Baekhyun baca. Kali ini ingin tersenyum tapi ia tahan. Karena Baekhyun masih kesal pada orang yang sejak tadi tersenyum padanya. Baekhyun mngambil buku-buku yang Chanyeol bilang itu hadiah dan menyimpannya di bawah.

"Terima kasih", ucap Baekhyun malas.

Chanyeol terus memandangi wanita di depannya yang masih belum mau menatapnya. Chanyeol berdiri dari tempat duduknya. Chanyeol merogok saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu. Chanyeol sedikit membungkukkan badannya. Kedua tangan Chanyeol lalu melingkar di leher Baekyun. Baekhyun yang kaget hanya diam, menunggu Chanyeol selesai dengan apa yang ia lakukan. Setelah Chanyeol selesai, Baekhyun melihat ada yang menggantung di lehernya. Chanyeol memberikan Baekhyun kalung berwarna perak dengan liontin berbentuk angka 17. Sekarang Baekhyun tidak bisa menahan senyumnya.

"Kau tidak marah lagi padaku?".

"Aku tetap kesal. Kau tahu aku tidak tidur semalam karena haru smenulis tapi kau tidak menghubungiku. Lalu sekarang kau hanya mengirimkanku ucapan selamat ulang tahun lewat pesan yang kau kirim. Ini, kau bilang hadiah tapi kau hanya memberikannya seperti ini, tidak kau buat cantik dengan kertas kado, kau malah memberikannya begitu saja lengkap dengan paper bag dari toko tempatmu membeli buku-buku ini".

"Maafkan aku, semalam aku tertidur. Lalu pagi tadi aku ada operasi, aku mengirimkanmu pesan itu diam-diam sebelum operasi. Kemudian buku itu hanya hadiah tambahan yang aku beli saat menuju ke sini. Hadiah sebenarnya adalah kalung itu".

"Kau selalu pintar mencari alasan".

"I love you".

"Berhenti menggodaku, aku sedang tidak tertarik padamu hari ini".

"I love you Byun Baekhyun yang cantik". Chanyeol terus menggoda Baekhyun agar Baekhyun tersenyum.

"Hentikan kataku".

"Baekhyuna...". chanyeol terus menggoda Baekhyun yang akhirnya tersenyum.

.

.

.

.

Meskipun di hari ulang tahunnya Chanyeol tidak melamar Baekhyun, Baekhyun tetap senang karena hari ini ulang tahunnya ia masih bisa bersama dengan Chanyeol. Baekhyun dan Chanyeol menonton film di apartement kecil tempat Chanyeol tinggal. Chanyeol sudah menyiapkan beberapa film untuk mereka tonton. Mulai dari film romantis yang mereka berdua tidak suka, lalu ada film horor, thriler, action. Baekhyun dan Chanyeol memang pasangan aneh. Baekhyun sebagai seorang wanita tidak suka film romantis seperti kebanyakan wanita. Sama halnya dengan Chanyeol. Di saat pria-pria lain senang jika menonton film romantis dengan kekasihnya. Tidak dengan Chanyeol, ia lebih senang jika menonton film tentang horor, pertumpahan darah, thriler dan sebagainya.

"Kenapa liontin kalunya angka 17?", tanya Baekhyun yang sedang bersandar di rangkulan Chanyeol sambil memakan snack rumput laut kesukaanya.

"Itu tanggal kita pertama kali bertemu lagi", sahut Chanyeol yang kalah sibuk mengunyah snack rumput yang dipegang Baekhyun. Baekhyun bangun, membuat dirinya sekarang dalam posisi duduk.

"Kau masih ingat tanggal saat pertama kali kita bertemu lagi?".

"Oh... aku bukan mengingatnya, tapi menulisnya".

"Menulisnya?".

Chanyeol mengangguk. Ia ambil handphone dari dalam saku celananya. Lalu Chanyeol membuka kalender di handphone dan menunjukkannya pada Baekhyun. Baekhyun membuka matanya lebar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Chanyeol menulis semua hari-hari penting bagi mereka. Hari saat mereka pertama kali bertemu setelah 3 tahun. Hari di mana Chanyeol menciumnya. Bahkan hari saat kemarin Baekhyun yang mengelap keringatnya saat membantu Sehun pindah tertulis jelas di plannernya.

"Wow! Kau memang benar-benar".

Chanyeol tersenyum bangga.

"Bahkan, saat yang menurutku tidak penting kau tulis?".

"Aku tidak ingin lupa dengan semua yang kita lakukan". Baekhyun memberikan tepuk tangan pada Chanyeol. Karena Baekhyun benar-benar tidak menyangka Chanyeol seperti ini.

Sudah dua film mereka tonton. Jarum jam sudah menunjuk ke angka 11.

"Aku harus pulang", ucap Baekhyun.

"Kau menginap di sini saja".

"Tidak bisa. Aku besok harus ke kantor pagi-pagi sekali".

"Aku bilang tidak".

Baekhyun berdiri membereskan barang-barangnya. Chanyeol terus merengek meminta Baekhyun untuk menginap di tempatnya. Tapi Baekhyun tetap menolak.

"Baiklah. Tapi aku antar kau pulang".

"Tidak perlu, aku pulang sendiri saja menggunakan taxi. Kau istirahat saja".

"Tidak. Aku akan mengantarmu", paksa Chanyeol.

.

.

.

.

Mereka sampai di rumah Baekhyun. Chanyeol mengikuti Baekhyun yang melangkah masuk.

"Kau mau kemana? Cepatlah pulang".

"Aku tidak mau". Chanyeol mendahului Baekhyun dan mengeluarkan ujung lidahnya seperti mengejek Baekhyun.

"Kau tidak kerja besok? Ini sudah hampir tengah malam, Chanyeoli".

"Aku libur', balas Chanyeol yang sudah berbaring di sofa ruang tengah.

"Kau ini".

"Sudah kau masuk kamarmu dan pergi tidur. Aku pun akan tidur".

"Tidurlah di kamar Sehun. Nanti kau sakit jika tidur disini". Chanyeol menuruti apa kata Baekhyun. Ia langsung masuk ke dalam kamar Sehun dan tidur.

Baekhyun juga tidur tak lama setelah Chanyeol tidur. Sinar matahari yang masuk melalui celah jendela yang tertutup tirai membangunkan Baekhyun. Ia melihat jam dari handphonenya. Sudah pukul tujuh. Baekhyun harus segera siap-siap untuk pergi ke kantor. Hari ini Choi sajangnim meminta semua orang untuk datang pagi ke kantor. Entah ada apa. Baekhyun merapikan rambutnya, berjalan keluar kamarnya dan menuju kamar Sehun. Baekhyun perlahan membuka pintu kamar Sehun, mengintip apa yang di lakukan Chanyeol. Chanyeol masih tertidur. Baekhyun hati-hati menutup kembali pintu kamar Sehun. Baekhyun sudah siap untuk pergi ke kantor. Baekhyun tidak berpamitan pada Chanyeol, karena ia tidak ingin membangunkan Chanyeol yang tidur begitu nyenyak.

Ini masih pukul 8 tapi kantor sudah ramai. Semua orang bertanya-tanya apa yang akan Choi sajangnim lakukan dengan menyuruh semua orang datang pagi-pagi. Mereka berkumpul di ruang rapat. Tak lama Choi sajangnim masuk. Semua orang memberikan salam pada Choi sajangnim. Tapi, ada orang lain yang mengikutinya di belakang. Seorang pria dengan pakaian rapi berjas berdiri di samping Choi sajangnim. Baekhyun menatap orang itu. sepertinya Baekhyun kenal siapa dia.

"Selamat pagi semuanya. Terima kasih sudah datang lebih awal. Ada yang ingin aku katakan pada kalian semua. Hari ini hari terakhirku bekerja disini sebagai pimpinan redaksi. Kemudian yang menjadi pimpinan redaksi kalian yang baru adalah dia.", jelas Choi sajangnim sambil menunjuk orang di sampingnya. Choi sajangnim melanjutkan kembali perkataannya.

"Kim Junmyeon. Dia yang kan menjadi pimpinan rekadi kalian yang baru. Sebelumnya ia pernah menjadi pimpinan redaksi di majalah Jjang. Dan sekarang ia bekerja bersama kita".

Orang yang tadi diperkenalkan oleh Choi sajangnim membungkukkan badannya memperkenalkan diri.

"Namaku Kim Junmyeon. Mungkin ada beberapa dari kalian yang umurnya tidak beda jauh denganku. Jadi anggaplah aku sebagai teman kalin. Mohon bantuannya".

Acara memperkenalkan diri selesai. Semua orang kembali ke ruang kerja mereka masing-masing. Baekhyun yang merasa mengenal pimpinan redaksinya yang baru terus berpikir. Namanya tidak asing bagi Baekhyun.

"Kau Byun Baekhyun, kan?", tanya pria bernama Kim Junmyeon itu.

"Iya".

"Ikutlah ke ruanganku". Baekhyun mengikuti pria itu.

"Kau tidak memgingatku?", tanya pria di depannya. Baekhyun jelas heran dan semakin memutar otaknya, siapa pria ini.

"Maaf...".

"Aku. Kim Junmyeon. Junmen."

Akhirnya Baekhyun mengingat siapa dia. Kim Junmyeon. Mahasiswa Universitas SM yang pernah mengejar-ngejar Baekhyun. Kim Junmyeon yang sangat menyukai Baekhyun saat semester awal ia kuliah.

"Ah, Junmen. Pantas sejak tadi aku melihatmu, wajah dan namamu tidak asing bagiku".

Obrolan kecil mereka berlanjut. Kim Junmyeon yang sering Baekhyun panggil Junmen, dengan alasan lebih mudah diucapkan. Junmyeon mengenal Baekhyun saat tes ujian masuk universitas. Saat itu Junmyeon tidak membawa alat tulis, Baekhyun yang duduk di sampingnya meminjamkan alat tulisnya pada Junmyeon. Karena itu Junmyeon suka pada Baekhyun. Junmyeon sampai selalu tahu kemana Baekhyun pergi seperti stalker. Beruntung mereka tidak satu kampus. Sampai akhirnya Baekhyun berpacaran dengan Chanyeol dan Junmyeon tak lagi mengejar-ngejar Baekhyun. Chanyeol tidak pernah tahu tentang Junmyeon karena Baekhyun tidak pernah menceritakannya.

.

.

.

.

Baekhyun selesai dengan pekerjaannya. Berdiri di depan kantornya menunggu Chanyeol yang bilang akan menjemputnya. Saat Baekhyun menunggu Junmyeon pun keluar dari kantor dan mengobrol dengan Baekhyun. Chanyeol melihat dari kejauhan sosok Baekhyun. Tapi Baekhyun tidak sendiri. Ada seorang pria yang sedang terus tersenyum pada Baekhyun. Chanyeol mempercepat langkahnya. Berniat bertanya langsung pada pria itu siapa dia. Tapi telat, saat Chanyeol mendekat pria itu sudah masuk ke dalam taxi. Baekhyun melihat Chanyeol yang berjalan menuju ke arahnya. Chanyeol tidak bertanya pada Baekhyun siapa pria tadi. Chanyeol ingin Baekhyun yang mengatakan sendiri siapa dia tanpa Chanyeol tanya.

"Kau sudah makan?", tanya Baekhyun.

"Belum", jawab Chanyeol singkat. Mereka pergi ke kedai kari dekat kantor Baekhyun. Chanyeol masih menunggu Baekhyun bercerita tentang pria yang tadi terus tersenyum padanya.

Chanyeol tahu teman pria Baekhyun. Tapi pria tadi Chanyeol benar-benar baru melihatnya. Tapi Baekhyun tidak mengatakan apapun. Mungkin dia memang bukan siapa-siapa. Chanyeol berhenti memikirkannya.

.

.

.

.

Hari ini di kantor Baekhyun sedang ada acara perpisahan dengan Choi sajangnim yang akan bekerja di Amerika. Tidak ada yang bekerja. Pekerjaan mereka hari ini sudah mereka selesaikan sehari sebelumnya. Begitu pun dengan Baekhyun. Acara perpisahan dengan Choi sajangnim selesai. Baekhyun pergi ke cafe milik Kris dan mengajak Junmen. Kebetulan Baekhyun akan menunggu Chanyeol, jadi Junmen sekaligus menemani Baekhyun sampai Chanyeol datang. Chanyeol berjalan menuju cafe milik Kris. Saat sudah dekat, Chanyeol melihat dari jendela luar Baekhyun sedang duduk berhadapan dan saling memberikan senyuman dengan seorang pria. Itu pria yang waktu itu Chanyeol lihat di depan kantor Baekhyun. Apa-apaan ini? Baekhyun sudah berani terang-terangan seperti ini dengan pria yang Chanyeol tidak kenal. Lagi-lagi, Chanyeol gagal untuk bertanya siapa pria itu. chanyeol masuk ke dalam cafe dengan wajah serius. Selama Chanyeol bersamanya Baekhyun tidak mengatakan apapun tentang pria tadi. Chanyeol tak banyak bicara. Ia sengaja melakukannya agar Baekhyun sadar.

Chanyeol tak langsung pulang. Ia datang ke rumah Baekhyun. Baekhyun merasa heran. Hari ini Chanyeol tak banyak bicara padanya. Baekhyun yang baru selesai mandi mendekati Chanyeol yang sedang memainkan game di handphonenya.

"Kau kenapa? Ada masalah di rumah sakit?".

"Tidak".

"Lalu kenapa? Sejak tadi di cafe kau tidak banyak bicara. Ada apa?", Baekhyun kembali bertanya.

"Siapa tadi?", tanya Chanyeol yang masih tidak mau bertatapan mata dengan Baekhyun.

"Tadi?"

"Pria yang terus tersenyum bahagia denganmu di cafe milik Kris".

"Ah, Junmen?".

"Ah, Junmen?". Chanyeol meniru nada bicara Baekhyun.

"Sesantai itu kau menjawabnya?", Chanyeol mulai kesal.

"Lalu? Aku harus bagaimana?". Chanyeol tidak merespon ia kembali sibuk memainkan game di handphonenya.

"Tunggu. Kau cemburu melihatku dengan Junmen?". Chanyeol yang kesal kemudian melihat Baekhyun yang duduk di sampingnya.

"Lebih baik kita menikah saja, dari pada aku seperti ini melihatmu menebar senyum seperti tadi dengan pria lain".

Baekhyun balik memandang Chanyeol.

"Apa? Menikah?".

"Oh... menikah".

"Tadi itu Kim Junmyeon. Pimpinan redaksi yang baru di kantorku...". Baekhyun menceritakan semuanya pada Chanyeol sampai akhirnya Chanyeol tak lagi kesal.

"Baekhyuna...", panggil Chanyeol dengan suara pelan.

"Hmmm", jawab Baekhyun sambil melihat ke arah Chanyeol. Chanyeol lalu mengecup bibir lembut Baekhyun.

"Ada apa lagi?", tanya Baekhyun setelah Chanyeol selesai menciumnya.

"Ajakanku untuk menikah. Itu aku serius".

Baekhyun terdiam. Mencoba mencerna ucapan Chanyeol.

"Kita menikah", Chanyeol mempertegas.

"Kau sedang melamarku?".

"Tentu saja. Lalu apa yang aku lakukan".

"Aigu, kau ini. Melamarku dengan tidak romantis sama sekali. Tidak ada seikat bunga, cincin, dan yang lainnya?", Baekhyun berdiri dari sofa. Chanyeol menahan Baekhyun dengan memegang lengan Baekhyun.

"Aku tidak sempat memikirkan hal romantis apa yang akan lakukan untuk melamarmu. Lagi pula seperti ini lebih berkesan. Kau akan ingat saat tidak romantisnya aku melamarmu".

"Hanya cium dan dan ajakanmu saja?".

Chanyeol mencari sesuatu. Pandangannya berhenti pada bunga matahari yang sudah mulai kering dari Chanyeol yang diberikan saat Baekhyun ulang tahun dan masih Baekhyun simpan. Chanyeol lalu melepas pita merah yang mengikat di tangkai bunga matahari itu. Kemudian Chanyeol mengikatkan pita merah itu di jari manis Baekhyun.

"Ini cincinnya. Nanti aku belikan yang lebih bagus. Tapi untuk sekarang anggaplah ini cincin", ujar Chanyeol.

"Aku benar-benar tidak akan lupa bagaimana caramu melamarku".

Baekhyun tersenyum bahagia. Chanyeol memeluk Baekhyun, mencium lembut bibir Baekhyun. Akhirnya pria jangkung di depannya ini melamarnya. Walau dengan cara yang sangat tidak romantis, tidak seperti apa yang ia bayangkan. Lima bulan kemudian mereka benar-benar menikah. Chanyeol sudah mengganti cincin pitanya dengan cincin berwarna perak. Luhan sudah melahirkan seorang putri yang cantik. Sehun resmi menjadi seorang ayah. Kyungso pun sama, ia melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan dan Jongin pun resmi menyandang gelar ayah. Baekhyun resmi memiliki dua orang keponakan yang lucu. Juga seorang suami yang terbaik baginya. Orang yang sempat menjadi mantan kekasihnya empat tahun lalu. Kemudian mereka kembali bertemu karena tidak sengaja. Sampai akhirnya pria itu mengajaknya menikah. Seperti kata Baekhyun, terkadang kita harus menunggu untuk waktu yang lama untuk bertemu dengan orang yang kita sayang. Ya, Baekhyun menunggu tiga tahun utnuk kembali bisa bertemu dengan Chanyeol.

"Baekhyuna, kenapa kau tidak pernah mengatakan kau cinta padaku?"

"Aku sayang padamu. Bukan cinta".

"Kenapa?"

"Orang kadang suka mengatakan, kalau cintanya sudah berakhir. Tidak ada kan yang kalau sayangnya sudah berakhir? Jadi aku sayang padamu bukan cinta. Aku tidak akan berhenti sayang padamu".

.

.

.

.

.

.

Horay ! ff My(x)Boyfriend done ! setelah sekian lama dari chapter pertama

Thank you very much buat semua yang baca ff ini sampai selesai ^^,

Jeongmal...jeongmal kamsahbnida yeoreobun *deep bow*

Maaf kalau ceritanya masih acak-acakan dan masih banyak typo harap dimaklum karena ini ff pertamaku

Terima kasih untuk semua review yang daebak sangat dari reader semua. Bikin aku memperbaiki tulisanku..

Ada yang mau request untuk next story siapa yang akan dibuat storynya bisa VOTE di riview reader ^^,

BIG THANKS FOR ALL READER, FOLLOWERS AND EVERYONE WHO ALWAYS WAITING MY STORY. ONCE AGAIN KAMSAHABNIDA ̴̴ *DEEP BOW*

Tunggu next ff dariku ^^,

I hope you'll always like my story ^^,

Jangan berhenti kasih review untuk ff selanjutnya reader...

*clapclapclap*

See you in next story reader...

Saranghae *smooch*