Disclaimer of Vampire Knight: Matsuri Hino

Anime: Vampire Knight

Rated: T

Genre: Angst, Hurt/Comfort and Family

Pair: Kaname Kuran x Zero Kuran (KaZe)

Warnings: AR with canon, OOC, boy x boy, incest, chara death(?), typo(s), mixed languange, twoshoot, grammatical error, don't like my fanfic? You can click back, I've warned you!

Author by: Kazugami Saichi Hakuraichi

Summary: We grew up together. Spending a long time as brothers. And we never be apart. We love each other. And you will do anything in order to protect me. But why? Why don't you understand what was in my mind? What do I do to make you understand?

Enjoy reading...

Another Chance

~prolog~

We grew up together

Spending a long time as brothers

And we never be apart

We love each other

And you will do anything in order to protect me

But why?

Why don't you understand what was in my mind?

What do I do to make you understand?

~prolog~

"Nii-sama, ayo kita main. Zero bosan!" rengek seorang anak kecil berambut silver dengan wajahnya yang cemberut—walaupun dengan begitu dia terlihat sangat menggemaskan.

Anak berambut silver tersebut sedang menarik-narik baju seorang anak cowok yang lebih tua darinya dan terlihat sibuk berkutat dengan buku-buku di hadapannya. Nampak sekali bahwa anak berambut brunette tersebut sedang belajar.

Anak cowok tersebut akhirnya menghela nafas pasrah dan menghentikan pembelajarannya sejenak lalu berbalik ke arah makhluk manis yang sedang menganggu kegiatannya—not that he minded.

Mengangkatnya lalu menaruhnya di pangkuan kemudian mengelus-ngelus surai silvernya. "Zero-chan, nii-sama sedang belajar disini! Besok guruku akan memberikan tes. Dan nii-sama tidak ingin mendapatkan nilai jelek. Nanti saja ya?"

Wajah mahkluk kecil yang bernama Kuran Zero tersebut semakin bekerut. "Mou, terus kapan nii-sama bisa main sama Zero?" tanya mahkluk manis itu dengan polosnya.

Cowok berambut brunette yang baru diketahui namanya adalah Kuran Kaname tadi berpikir sebentar lalu menjawab, "Kalau Zero-chan bisa berperilaku baik sambil menunggu nii-sama selesai belajar dan tidak mengganggu, mungkin akan lebih cepat."

Mendengar hal tersebut, Zero kecil segera meloncat turun dari pangkuan kakaknya tercinta dan mengambil tempat di kasur milik cowok brunette tersebut. "Baik! Aku akan menunggu nii

-sama dan gak mengganggu nii-sama belajar!" ujar sang adik setelah memposisikan dirinya duduk di kasur Kaname.

Sang kakak tersenyum puas dan membalikkan badannya lagi, lalu mulai berkutat dengan buku-buku yang ada di meja. Sekali-kali dia akan melirik ke arah makhluk mungil yang duduk di kasurnya tersebut hanya untuk mengetahui apa yang sedang diperbuatnya. Karena Zero itu termasuk anak yang tidak sabaran. Tapi juga memiliki ego tinggi dimana keinginannya harus terkabul. Akhirnya berujung pada sifatnya menjadi yang keras kepala.

Dan benar saja dugaan Kaname. Belum 10 menit berlalu, Zero sudah mulai bergerak-gerak tidak nyaman dan menggumamkan kata-kata seperti "lama" dan "bosan". Walau sepertinya sang bocah mungil tersebut berusaha menyuarakannya sepelan mungkin supaya tidak mengganggu sang kakak dalam belajarnya sesuai dengan janjinya diawal tadi.

Melihatnya, cowok brunette itu hanya dapat menyunggingkan sebuah senyuman kecil yang kalau dilihat-lihat bisa nampak seperti sebuah seringaian. Kita lihat seberapa keras kepalanya dia dalam menungguiku belajar. Batin Kaname.

*KaSaHa*

"Haruka, apa kau melihat Zero?" seru seorang wanita cantik kepada sang suami yang sedang berkutat dengan file-file yang ada di depannya.

Mendengar suara sang istri, Kuran Haruka menghentikan pekerjaannya sebentar sambil menurunkan kacamata yang dipakainya. "Hmm, sepertinya tadi aku melihat malaikat kecil kita menuju kamar kakaknya. Mungkin sedang bermain dengan Kaname. Apa ada yang salah?"

"Oh... Tidak bukan apa-apa. Karena ini sudah waktunya dia untuk tidur," jawab Juuri sambil menunjukkan senyumnya yang manis membuat wajah cantik itu semakin cerah.

Melihat wanita yang sudah menemani hidupnya selama bertahun-tahun itu tersenyum, mau tidak mau kepala keluarga Kuran tersebut ikut tersenyum. "Kalau begitu mari kita lihat malaikat kecil kita bersama-sama. Aku juga butuh istirahat dari pekerjaan-pekerjaan council yang menumpuk," usulnya sambil bangkit berdiri.

Kali ini Juuri semakin menyunggingkan senyumnya lebar. "Dia pasti akan meloncat kegirangan mengetahui kau akan menemaninya tidur. Dia selalu menanyakan keberadaanmu saat akan tidur, kau tahu?" balas wanita cantik tersebut sambil berjalan keluar dari ruang kerja suaminya.

Haruka yang mengikuti Juuri keluar hanya bisa tertawa kecil. Dia sangat tahu tentang bagaimana malaikat kecil keluarga Kuran tersebut sangat menginginkan dirinya bermain dengannya. Tetapi selalu mendapatkan jawaban yang klasik seperti 'sibuk', 'urusan senat' dan lain sebagainya. Membuat anak tercintanya tersebut menyerah untuk menanyakan hal semacam 'otou-sama mau menemaniku tidur?'.

Mendekati Juuri yang berjalan beberapa langkah di depannya, dia memeluk pinggang sang istri dan mencium pipinya sekilas. "Aku sangat mengetahui hal tersebut. Dan aku juga tahu kalau tidak hanya malaikat kecil kita yang kesepian, tapi juga wanita di sebelahku," bisik kepala keluarga Kuran.

Ibu dua anak tersebut hanya bisa merasakan panas di pipinya ketika mendapat kecupan seperti itu sambil menggumamkan kata-kata, "Dasar genit!"

Haruka terkekeh pelan dan menghentikan kekehannya ketika mereka sampai di depan pintu kamar anak tertua mereka. Haruka mendekatkan dirinya ke pintu dan mengetuknya perlahan.

Tok...tok...tok...

"Kaname, apa kau di dalam?" seru ayah dua anak tersebut.

Tidak ada jawaban. Tetapi terdengar suara kunci pintu yang terbuka dan selanjutnya pintu tersebut ikut terbuka menampilkan pemuda bernama Kaname. "Iya otou-sama, ada apa?" tanya Kaname.

"Sayang, apa adikmu bersama denganmu?" Sang ibu malah menjawab, salah membalas pertanyaan anaknya dengan pertanyaan pula. Nada kekhawatiran terdengar dalam nada suaranya.

Anak tertua keluarga Kuran tersebut tersenyum sambil membuka pintu kamarnya lebih lebar lagi sehingga kedua orang tuanya bisa melihat apa yang ada dalam kamarnya. Sekaligus menjawab pertanyaan sang ibunda. "Dia datang ke kamarku ingin mengajak aku bermain. Tetapi aku sedang belajar, sehingga aku menyuruhnya untuk menungguku tanpa menggangguku. Eh, ternyata setelah aku selesai belajar malah dia sudah seperti itu," jelas anak cowok brunette tersebut panjang lebar—yang cukup tidak lazim karena Kaname terkenal tidak banyak bicara.

Di kasur Kaname saat ini nampak malaikat kecil berambut silver yang sedang tertidur sambil memegangi bantal kakaknya. Pemandangan yang sangat menyejukkan hati dan membuat siapa saja ingin tidur bersama dengan malaikat kecil yang polos tersebut.

Tanpa menunggu lama lagi, Juuri segera memasuki kamar anak sulungnya tersebut sambil tersenyum melihat pemandangan yang sangat manis itu. "Dia sangat kesepian dengan kalian yang selalu sibuk sendiri. Seharusnya kalian juga harus mau meluangkan waktu dengannya. Kasihan sekali malaikat kecilku ini!" gumam wanita cantik itu sambil mengangkat anak bungsunya itu dari kasur Kaname.

"Baik, baik! Kami akan meluangkan banyak waktu untuknya besok!" jawab kedua pria yang ada di ruangan tersebut secara serentak. Kemudian mereka berdua saling tertawa kecil ketika mendengar dengusan kesal dari sang ibu.

"Uuuh..." Suara lenguhan dari sosok di dalam gendongan Juuri membuat mereka memusatkan perhatiannya pada Zero yang sepertinya terbangun karena tawa kecil mereka.

"Zero-chan, apa kau bangun?" tanya sang ibunda dengan lembut.

"Okaa-sama, mana nii-sama?" tanya anak berwajah malaikat itu pada ibunya.

Kaname segera mendekatkan diri dan mencubit pipi sang adik pelan. "Aku disini, Zero-chan!"

"Apa nii-sama sudah selesai belajar? Berarti kita bisa main khan?"

"Eits, sekarang sudah malam. Matahari akan segera terbit. Sudah waktunya bagimu untuk tidur," larang Juuri pada anak bungsunya.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian. Masih ada hari esok," potongnya cepat.

Anak bungsu keluarga Kuran tersebut hanya dapat cemberut mendengar perkataan ibunya. Pipinya yang chubby semakin mengembung karena kesal.

Haruka yang mengetahui ketidaksenangan dari malaikat kecilnya tersebut hanya bisa tersenyum kecil sambil mendekat pula ke kelompok kecil itu. Karena sepertinya Zero juga belum mengetahui keberadaannya di sana.

"Tapi sebagai gantinya, otou-sama akan menemani Zero-chan tidur. Gimana? Zero-chan mau?"

"Eh sungguh?" Mata amethyst itu sekarang membulat senang mendengar perkataan ayahnya.

"Yup, tentu saja. Otou-sama tidak bisa menarik kata-katanya kembali khan?" jawabnya sambil tersenyum dan mengecup kening anaknya.

"Yay! Kalau gitu Zero-chan mau tidur. Nii-sama, kita main besok aja ya?"

"Itu sih terserah Zero-chan," jawab cowok brunette itu pendek. Senyumnya tidak bisa hilang dari wajahnya jika berhadapan dengan adik tercintanya itu.

"Kalau begitu kami akan menidurkan Zero dulu. Kau tidak apa-apa khan, Kaname sayang?" tanya sang ibunda.

"Tidak apa, okaa-sama," jawabnya.

Kemudian dia mendapatkan sebuah kecupan singkat di dahi oleh sang ibu, kecupan di pipi oleh Zero dan sang ayah hanya memberikan sebuah tepukan pelan di bahunya dan mereka berlalu pergi.

Malam itu—yang adalah pagi bagi jam manusia—keluarga tersebut masih dapat merasakan yang namanya sebuah kehangatan dan rasa saling memiliki satu sama lain. Tapi semua itu akan berubah dalam hitungan jam. Takdir berkata lain terhadap mereka...

*KaSaHa*

"Mnnghh..." Zero kecil melenguh dan terbangun dari tidurnya yang indah. Mata amethyst-nya perlahan-lahan terbuka dengan beberapa kedipan untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke matanya.

Setelah anak bungsu keluarga Kuran itu sudah 'kembali' dari dunia mimpi. Dia mengetahui bahwa sekarang sudah pukul 7 pagi—yang berarti 7 malam bagi manusia—saat melihat jam dinding. Anak berambut silver itu pula juga baru menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak berada di kanan dan kirinya. Dan itu termasuk hal yang aneh karena mereka selalu berada di sisinya saat dia bangun. Entah sang ayah yang sedang menganalisa dokumen-dokumen dari senat dan sang ibu yang membaca buku-buku sastra milik manusia.

"Okaa-sama! Otou-sama!" panggil malaikat kecil keluaraga Kuran tersebut setelah dia bangkit dari tidurnya dan beranjak turun. Lalu mulai berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.

"Oka-!" Zero kecil tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi ketika dia melihat pemandangan yang berada di lorong rumahnya saat ini.

Dimana-mana ada darah. Berceceran di lantai dan dinding rumahnya. Tidak terlupakan pecahan-pecahan kaca, vas bunga dan pigura-pigura milik keluarga Kuran. Dan yang paling mengerikan adalah onggokan debu di sana-sini. Hal ini hanya menandakan satu hal. Vampir yang terbunuh dan berubah menjadi serpihan debu.

Tes...tes...tes...

Air mata menetes dari pipi chubby milik anak bungsu keturunan Kuran tersebut. Badannya mulai bergetar entah karena ketakutan atau perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Matanya telah berubah menjadi merah karena bau darah yang sangat mencekik.

"Okaa-sama... Otou-sama... Nii-sama...! Dimana kalian?!" panggil Zero dengan nada yang terdengar sangat pasrah dan bergetar.

Sambil berjalan menyusuri lorong rumahnya. Vampir kecil itu memanggil-manggil keluarganya. Kenyataan bahwa mungkin diantara onggokan-onggokan debu itu adalah milik orang tua dan kakaknya semakin menekan Zero yang panggilannya tidak ditanggapi sama sekali.

"Nii-sama...hiks...hiks...!" panggilnya lagi seraya mendekati kamar sang kakak. Setidaknya jika kedua orang tuanya memang benar sudah meninggalkannya selamanya, dia ingin kakaknya tetap bersama dengan dirinya. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa kehadiran Kaname di sisinya.

Dan ternyata permohonan kecil anak bungsu keluarga Kuran itu terkabulkan. Ketika dia akan membuka kamar milik anak sulung keluarga Kuran, ternyata dari arah samping kanannya muncul sesosok bayangan yang bergerak cepat dan langsung memeluk Zero tanpa anak kecil berambut silver tersebut dapat melihat siapa gerangan bayangan itu.

"Kau tidak apa-apa khan, little angel?" tanya bayangan tersebut yang baru diketahui oleh vampir kecil itu adalah kakaknya sendiri, Kaname. Ditambah lagi Kaname juga menyebutkan nama panggilannya yang lain. Biasa digunakan jika kakaknya sedang mengkhawatirkan keadaan dirinya.

Zero yang mendengar suara orang yang sangat dinantinya itu segera menangis sejadi-jadinya. Tangannya segera memeluk erat kakaknya itu. Meyakinkan pendengarannya bahwa itu adalah suara anak sulung keluarga Kuran. Dan bahwa kakaknya masih nyata berdiri di hadapannya. "Nii-sama...nii-sama...hiks...hiks..." tangis Zero sekerasnya di bahu sang kakak.

"Semua baik-baik saja, little angel! Aku akan melindungimu. Kita akan selamat. Maaf aku meninggalkanmu sendirian," bisik Kaname di telinga sang adik untuk menenangkannya. Tangannya mengelus-ngelus punggung dan surai silver milik Zero.

"Hiks...hiks...dimana otou-sama dan okaa-sama?" tanya Zero di sela-sela tangisnya. Dia tetap tidak berhenti memeluk sang kakak.

"Shh, tidak apa-apa, little anggel! Aku akan melindungimu. Kau akan baik-baik saja. Maafkan aku, Zero-chan. Tapi ini untuk melindungimu," seru cowok brunette itu sambil mulai menghapus ingatan Zero. Tidak hanya menghapus. Tapi menyegel ingatan tentang hari ini dari kepala malaikat kecil keluarga Kuran itu. Walaupun dia memang tidak ingin melakukannya, tapi Kaname tidak yakin Zero akan bisa melalui hari ini dengan mudah. Trauma pasti akan menghantui adiknya ini. Dan dia sama sekali tidak menginginkan hal itu.

"Nii-sama..." panggilan Zero semakin lemah ketika kegelapan semakin menguasainya. Dia ingin menghentikan aksi kakaknya tersebut. Walaupun dirinya masih kecil, dia mengerti apa yang sedang dilakukan oleh kakaknya tersebut. Tapi tidak sempat memprotesnya ketika akhirnya kegelapan telah benar-benar menguasainya. Anak bungsu keluarga Kuran itu kehilangan kesadaran.

"Tenang saja, little angel! Aku pasti akan melindungimu!" ucap Kaname sedih sambil menggendong adiknya pergi dari rumah yang sudah tidak pantas ditinggali lagi.

*KaSaHa*

10 tahun kemudian...

"Zero, sudah waktunya bangun!" panggil seorang cowok berambut brunette ketika memasuki sebuah kamar cukup luas dengan satu-satu penghuninya yang masih bergumul di dalam selimut. Dia segera menuju jendela untuk membuka serambu dan membiarkan sedikit cahaya bulan untuk menyinari ruangan tersebut.

"Uhh...aku masih ngantuk, nii-sama!" jawab cowok yang dipanggil Zero dan sekaligus penghuni kamar tersebut.

Cowok brunette tersebut—yang ternyata adalah Kaname—hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat adik tercintanya tersebut. Hari ini mereka ada sekolah pukul 7 pagi—bagi kaum vampir. Dan sekarang sudah pukul 6. Jika tidak segera bangun, sudah dipastikan mereka akan terlambat masuk ke kelas. Dan Kaname sangat tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Bagaimana mungkin seorang pureblood memberikan contoh yang tidak baik pada vampir kelas B lainnya yang bersekolah di Cross Academy ini? Mereka adalah pureblood, after all.

"Hah... Sepertinya aku tidak punya pilihan lain," gumam sang kakak dengan sebuah seringai yang mulai nampak di wajah tampannya.

Dengan sangat perlahan dia mendekati kasur yang berpenghuni cowok berambut silver tersebut. Lalu mulai membisikkan sesuatu di telinga bungsu Kuran tersebut dengan suara yang, err, sedikit sensual?

"Zero-chan, jika kau tidak bangun sekarang, nii-sama tidak menjamin kau bakal bisa bersekolah karena kita perlu melakukan 'beberapa hal' yang nii-sama yakin setelah itu kau tidak akan bisa bangkit berdiri," bisik Kaname sambil tangannya mulai mengelus-ngelus pantat sexy milikZero—karena dia sedang tidur menyamping—di balik selimut.

"Nghhh..." Bukannya terbangun karena 'ancaman' tersebut, cowok manis itu masih saja menikmati dunia mimpinya. Mungkin pikirannya masih belum bekerja sepenuhnya.

Sulung Kuran tersebut bersabar menunggu otak adiknya itu untuk mencerna apa yang barusan dia dengar. Tangannya masih setia mengelus sexy ass sang pureblood yang umurnya lebih muda darinya itu.

3 detik...

5 detik...

10 detik...

15 detik...

Brak!

Dug!

"Auchhh!" Karena sang pemuda berambut silver itu bangun dengan sedikit berlebihan, akhirnya kedua kakak adik tersebut harus rela dahi mereka saling 'berciuman' dengan cukup keras.

Tapi suara kesakitan itu datang dari bibir sang adik, sedangkan sang kakak hanya mengelus-ngelus dahinya tanpa bersuara. Dalam keadaan apapun seorang Kaname Kuran harus tetap stay cool. Hal tersebut sudah paten di dalam kamusnya.

"Zero-chan, lain kali kau bisa bangun dengan lebih manis lagi khan?" tanya Kaname sambil memberikan sebuah senyuman, err, lebih nampak seperti sebuah seringaian.

Zero yang sudah bisa merasakan aura mengerikan dari sang kakak hanya bisa merinding sambil menggangguk dengan takut-takut. Tangannya masih tetap setia mengelus-ngelus dahinya yang nampak merah sekali. Tentu saja sang sulung Kuran juga memiliki 'tanda' yang sama.

"Ya sudah, sana cepat kau mandi. Jika kau tidak siap dalam waktu 15 menit. Maka aku akan langsung membuka pintumu. Tidak peduli kau sedang ganti baju atau tidak. Mengerti, Zero-chan?" ancam Kaname sambil tetap menunjukkan sebuah senyuman yang sama dengan tadi.

"Baik, nii-sama!" sungut cowok manis tersebut sambil segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ancaman kakaknya tidak akan pernah diingkari. Dia sudah pernah membantahnya dan hasilnya benar-benar mimpi buruk. Dan percuma saja jika mengunci pintu kamarnya karena kakaknya memiliki kunci kamarnya dan lagi dia juga tidak akan segan menghancurkan pintu kamar Zero.

Melihat sang adik yang telah masuk ke kamar mandi, Kaname memutuskan untuk beranjak pergi dari kamar Zero dan menuju ruang kerjanya untuk melihat beberapa dokumen selagi menunggu bungsu Kuran itu siap.

*KaSaHa*

"Ichiru! Sudah saatnya kita pergi!" panggil sesosok cewek brunette berambut pendek yang mengenakan seragam Day Class. Namanya adalah Yuuki Kurosu, anak dari Chairman Cross

Academy ini. Dia juga adalah seorang guardian yang tugasnya menjaga rahasia para Night Class yang semuanya adalah seorang vampir.

"Ya, ya, aku datang!" Dari tangga muncul pemuda berambut silver gelap dengan pakaian yang sama dengan cewek bernama Yuuki tersebut.

"Huh, kau selalu saja terlambat! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan para Night Class? Bagaima-hmph!"

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, sebuah tangan telah membekapnya. Tangan itu berasal dari Ichiru Kiryuu. Cowok berambut silver gelap tadi. "Hai, hai! Kita sebaiknya pergi daripada diam disini saja hanya untuk mendengarmu ceramah," ujarnya sambil tersenyum dan kembali berjalan menuju Night Class Dorm.

"Arghh... Mou!" Cewek mungil itu hanya dapat mencak-mencak sendiri dengan tingkah Ichiru yang merupakan saudara angkatnya. Kelakuan Ichiru yang easy-going terkadang sangat menyebalkan.

Akhirnya Yuuki memutuskan untuk mengikuti Ichiru menuju Night Class Dorm. Lagipula dia juga ingin segera melihat senpai favoritenya disana. Kaname Kuran. Bisa dikatakan dia memiliki perasaan terhadap pureblood brunette tersebut. Tetapi Yuuki tahu jika dia tidak akan bisa memiliki hati Kaname. Karena dia sudah bisa merasakannya. Merasakan bahwa hati Kaname sudah ada pada orang lain. Dan tidak akan pernah bisa berubah. Yang dia tidak ketahui adalah siapa orang itu. Karena yang dia tahu, satu-satunya orang yang sangat dekat dengan Dorm Head Night Class tersebut adalah sang adiknya sendiri, Zero Kuran.

"Hei, apa kau pernah berpikir bahwa Zero dan Kaname itu, memiliki hubungan selain kakak adik?" tanya Ichiru tiba-tiba.

Ichiru sendiri sangat dekat dengan sang adik penguasa dunia vampir tersebut, Zero. Bisa dibilang wajah mereka yang mirip kadang menimbulkan banyak pertanyaan dibenak orang-orang di sekitarnya. Apakah benar kalau mereka bukan saudara kembar? Warna rambut sama. Warna mata sama. Bentuk wajah sama. Tentu saja akan banyak menimbulkan pertanyaan. Tetapi, sepertinya kedua kembar itu tidak pernah memperdulikan hal tersebut.

Ada satu ungkapan lagi yang beredar pada orang-orang di sekitar mereka. Yaitu, "dimana ada Zero disitu ada Ichiru, dan sebaliknya". Yap, mereka selalu bersama layaknya terpasang sebuah magnet di antara tubuh mereka. Tapi tetap perlu diingat kalau mereka ada di dua dunia yang berbeda.

"Hmmm... who knows?" jawab Yuuki sekenanya. Diapun juga tidak bisa menjawab pertanyaan serumit itu. Lagipula mereka sudah sampai di tempat tujuan, dilihat dari kerumunan para cewek—dan juga beberapa cowok entah apa 'tujuan' mereka—Day Class di depan pintu gerbang Moon Dorm.

"Duty comes first..." gumam Ichiru sambil mulai mempercepat jalannya untuk segera membuka jalan bagi Night Class nantinya.

*KaSaHa*

"Hey, jangan suka meninggalkan kelas seperti ini. Apa kau tidak bosan mendapatkan ceramah dari kakakmu lagi?" Sebuah sosok terlihat mendekati Zero yang saat ini sedang tidur-tiduran di sebuah kandang dengan beralaskan jerami dan ditemani oleh kuda putih kesayangannya, Lily. Selain menemani, binatang berbulu putih tersebut juga berperan sebagai pelindung majikannya tersebut. Orang-orang yang dianggap Lily mencurigakan akan mendapatkan tendangannya. Perlu diingat insting hewan sangat kuat. Tapi informasi seperti ini memang tidak penting dituliskan.

"Aku bosan berada di dalam kelas terus," jawab Zero singkat. Tanpa melihat siapa yang sedang mengganggu acaranya untuk beristirahat (baca: membolos).

"Hmph, kau gak pernah berubah. Tapi anehnya walaupun kau selalu membolos seperti ini, sepertinya nilaimu tetap selalu sempurna ya? Aku jadi bertanya-tanya darimana kau dapatkan nilai sempurna tersebut," goda Ichiru.

"Hei, aku mendapatkannya dari hasilku sendiri kau tahu!" Zero langsung bangkit dari posisinya. Sedikit tersinggung dengan kata-kata yang diucapkan Ichiru walau sebenarnya dia tahu kalau hal itu hanya untuk menggodanya.

Pemuda berambut silver gelap itu hanya terkekeh pelan sambil mengambil tempat di samping bungsu Kuran tersebut. "Hei, jangan seserius itu. Aku hanya bercanda!"

"Heh..." Zero hanya bisa mendengus mendengar jawaban dari soulmate nya tersebut. Ichiru memang sangat senang sekali menggoda dirinya. Yah, tentu siapa saja pasti akan sangat senang menggoda si tsunde-ups, lupakan saja.

Pemuda berambut silver yang lebih muda itu mengacak rambut Zero. "Kau terlalu imut! Jika kau perempuan aku akan segera mengencanimu tanpa berpikir dua kali!" Ichiru kembali mengeluarkan joke-nya yang kadang bisa terlihat sangat serius dan keluar batas!

Twitch. Twitch. Twitch.

"Why you?!" Bungsu Kuran tersebut segera bangun dari posisinya dan mengepalkan tangannya. Hmm, dia terlihat serius ingin memukul sang hunter Kiryuu tersebut.

"Maa, maa! I'm just kidding, you know! Stop flustering like a high school girl. Because you really like one now!" Ichiru menjawab dengan santai sambil menyeringai dengan puas.

Snap!

Terdengar sebuah tali yang putus. Ah, itu adalah tali kesabaran milik sang bocah Kuran tersebut. Jika sudah mendengar hal tersebut, sebaiknya segera melarikan diri tanpa berpikir lagi jika kau masih menyayangi hidupmu. Dan hal itu juga telah diketahui korban kita kali ini, karena dia sudah berdiri dan segera berlari keluar sebelum Zero sempat mengatakan sesuatu.

"Hey, you! Damn it! Come back here!" Zero berniat mengejar pemuda hunter tersebut ketika sebuah suara menghentikan langkahnya dan langsung meredakan amarahnya dalam sekejap. That soothing and deep voice selalu membuat sang bungsu Kuran merasa aman dan nyaman.

"Zero-dear, apa yang kau sedang lakukan disini? Bukankah kau seharusnya berada di dalam kelas?"

Zero membalikkan badannya dan menatap seorang Kaname Kuran berdiri dibawah sinar rembulan yang indah. Tetapi dari segi manapun dilihat, wajah sang sulung Kuran tersebut tetap lebih indah dari-ups, maafkan saya. Ehem, ehem. Intinya adalah apa yang dilihat sang pemuda berambut silver itu bukanlah seperti yang dibayangkan oleh sang author. Wajah tampan nan maskulin milik Kaname Kuran itu terlihat sedikit irritated dan Zero juga bisa melihat aura yang sedikit berbahaya bagi dirinya.

Gulp.

Zero menghela nafas panjang dan menjawab, "Aku hanya malas mendengarkan pelajaran dari old man itu. Aku sudah mempelajari semuanya."

Kaname mendekati little angel-nya yang sudah tumbuh besar dan memeluknya. "Kau tahu khan kalau bukan itu yang aku khawatirkan. Aku tidak peduli jika kau tidak mendengarkan pelajaran dari old man tersebut. Yang aku butuhkan adalah bahwa kau selalu berada dalam sudut pandangku," bisik sang brunette di telinga cowok dalam pelukannya.

~edited~

Pipi Zero bersemu merah mendengar sang kakak mengatakan hal tersebut. Yah, mungkin benar kata Ichiru, dia seperti gadis SMA. Man, dia itu cowok! Kenapa selalu tidak bisa mengendalikan pipinya yang terus-menerus mengkhianatinya?!

"Hai, nii-sama. But, I'm capable of protecting myself. You don't need to worry about me that badly."

"Kalau bukan dirimu yang aku khawatirkan, lalu siapa lagi?" balas sang kakak sambil mengistirahatkan kepalanya pada surai silver milik bungsu Kuran tersebut. Menghirup aroma shampoo kesukaan Zero. Grape.

Pureblood yang lebih muda umurnya tersebut hanya dapat menghelas nafas pasrah ketika Kaname menanyakan hal itu. Entah mengapa, setiap pertanyaan itu terlontar dari mulut sang kakak, Zero selalu merasakan ada sesuatu yang menyakitkan di dalam makna pertanyaan tersebut. Dan sepertinya sang brunette tidak pernah mau untuk menceritakan apa itu kepada dirinya. Dia tahu, bahwa dirinya telah kehilangan sebagian dari ingatannya saat masih kecil. Tidak semua, hanya beberapa bagian. Dan itu membuat lubang besar di dalam ingatannya sendiri, serta menimbulkan sebuah tanda tanya.

"Nii-sama," panggil sang rambut silver ketika mereka terdiam cukup lama sambil berpelukan.

"Hm?"

"Bukankah ini saatnya kau memberitahuku tentang apa yang terjadi pada waktu aku masih kecil? Dan memberitahuku apa yang terjadi pada otou-sama dan okaa-sama?" Akhirnya Zero kembali memberanikan dirinya untuk menanyakan pertanyaan yang selalu dihindari oleh anak sulung dari keluarga Kuran tersebut.

Mendengar pertanyaan itu, Kaname langsung melepaskan pelukannya dan menatap mata amethyst yang ada di hadapannya. "Zero, aku juga sudah mengatakannya kepadamu, bahwa kau tidak akan pernah mendapat jawaban atas pertanyaan itu—setidaknya bukan dari mulutku," jawab Kaname. Suaranya terdengar sangat serius dan bersifat pasti, alias tidak bisa diganggu gugat. Ucapannya adalah final. Titik.

"Why did you hide it? Mengapa kau menyimpannya sendirian? Mungkin memang tindakan nii-sama untuk menghapus sebagian ingatanku saat masih kecil adalah benar. Maksudku, aku tahu bahwa nii-sama melakukan itu untuk melindungiku. Tapi sekarang aku sudah besar. Aku bisa mengerti bagaimana mengatasinya. Jika memang hal yang ada di masa lalu itu bukanlah hal menyenangkan. Aku bisa merasakannya. Hal itu pastilah hal yang menyakitkan, bukan? So, aku ingin mengetahui kebenarannya nii-sama." Bungsu Kuran tersebut masih bersikeras untuk memecahkan dinding yang telah dibuat oleh cowok brunette tersebut.

"This isn't up for discussion," tegas Kaname sambil masid tetap menatap mata amethyst tersebut untuk memastikan bahwa adiknya itu mau mengerti. Tidak. Harus mengerti.

Zero Kuran menghela nafasnya dengan berat. Seberapa kali pun dia mencoba bertanya, bungsu Kuran itu tidak akan pernah mendapatkan jawabannya. Segala cara sudah dia gunakan, entah itu memancing pembicaraan, mengeluarkan tantrum—yang ujung-ujungnya tidak bisa dia lakukan karena berbagai alasan—dan masih banyak lagi yang sudah dia lakukan. Yah, dia baru menyadari tentang sebuah kejanggalan dalam memorinya semenjak mereka bersekolah di tempat ini. Dan dimulai dari situlah dia mencoba mencari jawaban pada sang sulung. Dan hasilnya? Nihil.

"But-"

"Tidak ada tapi-tapian, Zero Kuran! Kalau kau masih terus memaksa untuk mencari jawaban itu, aku tidak akan mengijinkanmu untuk dekat dengan Ichiru Kiryuu," Kaname langsung memotong. Kali ini dia menggunakan nama adiknya dengan lengkap yang artinya dia benar-benar serius dan ingin segera pembicaraan ini diakhiri.

Cowok berambut silver itu kembali mengernyit heran. Bukan pertama kalinya dia mendapatkan ancaman seperti ini jika pertanyaan tadi itu terlontar dari mulutnya. Tapi, cowok bermata amethyst itu tentu saja terus merasa heran kenapa selalu membawa-bawa 'kembaran'nya tersebut dalam pembicaraan ini. Kenapa tidak Yuuki? Dia khan juga cukup dekat dengan cewek penggemar kakaknya tersebut. Something sounds fishy.

"Nii-sama, kenapa Ichiru selalu dijadikan ancaman bagiku? Aku juga cukup dekat dengan Yuuki. Tapi kenapa hanya Ichiru yang ada dalam ancamanmu?"

"Zero, kamu tahu bahwa ada peribahasa mengatakan 'curiosity can kill a cat', khan?" kakaknya balas bertanya.

"Tapi, nii-sama-"

"My dear Zero, please stop asking me about the past. You don't need to know. Masa lalumu tidak akan mengganggu kehidupanmu yang sekarang, bukan? Jadi tolonglah. Untuk yang satu ini, aku tidak akan pernah bisa mengabulkannya. Aku tidak akan bisa menjawabnya. Please, little angel. I'm doing this to protect you," pinta Kaname dengan suara lembut. Dia kembali memeluk adiknya dengan erat. Menyembunyikan raut wajahnya yang sedang memancarkan kesedihan mendalam. Kalau dengan cara tegas dia tidak bisa membuat bungsu Kuran bungkam, maka dia akan menggunakan cara yang lebih lembut seperti yang sedang dia lakukan saat ini.

Mendengar nada suara cowok brunette tersebut, Zero akhirnya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Well, ini kali pertama kakaknya menggunakan nada tersebut untuk memintanya berhenti bertanya. Dan cowok berambut silver tersebut tentunya tidak akan tega untuk memaksa kembali. Apalagi dia yakin pureblood yang sedang memeluknya ini sedang—sudah—mengingat tentang masa lalu mereka dan meratapinya mungkin? Yang jelas bukanlah sebuah perasaan yang nyaman untuk dipendam. Dan sang adik tentu tidak tega untuk semakin memaksa Kaname. Akhirnya Zero balas memeluk sang kakak dan menepuk-nepuk punggungnya untuk memberikan kekuatan.

"Alright, nii-sama. Aku gak akan memaksa lagi. Terima kasih nii-sama. Kau selalu memikirkan aku di atas segala-galanya. I love you, nii-sama!" ucap sang cowok berambut silver tersebut.

"Anytime, sweet heart. I will always protect you. I will love you for eternity."

Senyuman hangat merekah di bibir sang adik mendengar kata-kata penuh makna tersebut. Sebuah rangkaian kata yang akan terus membuatnya hidup di dunia ini. Sosok di dalam pelukannya ini adalah sebuah figur yang tidak akan pernah—tidak bisa—lepas dari kehidupannya. Sosok yang akan terus menaungi dirinya dengan kasih sayang. Well, entah apa bentuk cinta yang telah terjalin pada kedua insan tersebut. Tapi mereka sepertinya tidak peduli. Dan authornya pun juga tidak peduli. Karena mereka berdua itu-, ehem, maafkan saya.

Setelah cukup lama mereka berpelukan, menikmati kehangatan tubuh satu sama lain, sang sulung Kuran tersebut melepaskan pelukan tersebut. "Ayo, kita kembali masuk ke kelas," ajak si cowok brunette.

"Umm, aku ada urusan dengan Ichiru. Setelah itu aku akan segera kembali. I promise," jawab Zero sambil sedikit menyeringai. Menekankan kata 'urusan' dengan sengaja.

Kaname Kuran hanya dapat menggelengkan kepala dan tergelak. "Baiklah. Aku akan kembali ke kelas dan menunggu little angelku untuk kembali ke sisiku," sang kakak mengijinkannya dan memberikan sebuah ciuman singkat di pipi sang adik.

"Ya, ya, nii-sama!"

Dan kedua insan itu pun berpisah menuju tempat tujuannya masing-masing. Kedamaian yang terjadi pada hari itu merupakan hal yang terakhir dapat mereka rasakan. Rupanya takdir kembali berkata lain pada kedua kakak beradik tersebut. Seolah takdir memang tidak senang melihat kebahagiaan yang selalu mereka dapatkan dari memiliki satu sama lain. Dan sekali lagi, mereka tidak bisa menghindarinya.

~To Be Continue~

A/N: Ahahaha...sedikit, umm, banyak yang Saichi edit dari chapter ini. Karena menurut Saichi pas chapter sebelumnya itu merasa banyak banget plot holes nya. Alias gak nyambung. Jadi, Saichi kembali merombak bagian akhir chapter 1 dan menggantinya dengan hal ini. Yah, untungnya masih nyambung dengan prolog dan judul. #plakk. Gomen! Dan Saichi juga sekaligus update chapter dua. Sekian and leave a review, ne? Thank you!

See ya!