Disclaimer of Vampire Knight: Matsuri Hino

Anime: Vampire Knight

Rated: T

Genre: Angst, Hurt/Comfort and Family

Pair: Kaname Kuran x Zero Kuran (KaZe)

Warnings: AR with canon, obviously OOC, boy x boy, incest, chara death(?), typo(s), mixed languange, twoshoot, grammatical error, don't like my fanfic? You can click back, I've warned you!

Author by: Kazugami Saichi Hakuraichi

Enjoy reading...

*IMPORTANT Note: Saya menggunakan italic untuk dua maksud. Pertama untuk penggunaan bahasa asing, dan kedua untuk sebuah penekanan kata pada kata bahasa Indonesia. Bisa juga karena kata itu bermakna konotasi.

Tolong membaca kembali chapter 1 karena ada perubahan yang cukup besar di bagian akhir yang saya tandai edited! Mohon maafkan author untuk yang satu itu.

Another Chance

Kaname Kuran hanya dapat menggelengkan kepala dan tergelak. "Baiklah. Aku akan kembali ke kelas dan menunggu little angelku untuk kembali ke sisiku," sang kakak mengijinkannya dan memberikan sebuah ciuman singkat di pipi sang adik.

"Ya, ya, nii-sama!"

Dan kedua insan itu pun berpisah menuju tempat tujuannya masing-masing. Kedamaian yang terjadi pada hari itu merupakan hal yang terakhir dapat mereka rasakan. Rupanya takdir kembali berkata lain pada kedua kakak beradik tersebut. Seolah takdir memang tidak senang melihat kebahagiaan yang selalu mereka dapatkan dari memiliki satu sama lain. Dan sekali lagi, mereka tidak bisa menghindarinya.

*KaSaHa*

"Ada hal penting apa sampai seorang pureblood sepertimu ingin bicara denganku secara privat?" tanya Ichiru kepada orang—ah tidak, dia bukanlah orang tapi vampir. Bahkan bukan vampir rendahan yang bisa dibunuh dengan satu peluru dari senjata anti-vampire dan hanya dimiliki oleh beberapa manusia yang menyebut diri mereka sebagai hunter, melainkan vampir pada strata tertinggi, pureblood. Dan pureblood ini sedang berdiri di hadapan Ichiru, dia adalah Kaname Kuran.

Ada kepentingan apa seorang Kaname Kuran yang sangat membenci manusia—terutama huntermenemuinya dan ingin membicarakan sesuatu? Pemuda hunter tersebut itu tentunya penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh cowok brunette tersebut. Makanya dia akhirnya mengikuti Kaname dan mengantar mereka ke bagian belakang sekolah dan merupakan tempat yang jarang dikunjungi oleh manusia.

Sulung Kuran itu menghela nafasnya dengan sedikit berat. Hal itu cukup aneh dilakukan oleh cowok tersebut mengingat bahwa pureblood tersebut memiliki tipe yang calm and composed. Tidak pernah terlihat emosi yang dapat menjadi kelemahannya dan dimanfaatkan oleh musuhnya. Dan sekarang musuhnya itu sedang berdiri di hadapannya, dia malah mengeluarkan helaan nafas seperti itu. Pasti benar-benar ada sesuatu yang mengganjal di pikiran cowok brunette tersebut.

"Mungkin sepertinya kau bisa menebak apa yang ingin kukatakan," bukannya malah menjawab, Kaname malah semakin membuat teka-teki dan tentu saja membuat cowok berambut silver di hadapannya semakin pissed of.

"Jangan bercanda, Kuran. Aku bukanlah paranormal yang bisa membaca pikiranmu," dengus Ichiru kesal dengan permainan tebak-tebakan ini.

Kaname diam sejenak lalu berujar, "Apakah kau bisa untuk tidak mendekati Zero lagi?"

Ichiru hanya mendengus kesal mendengar peringatan yang keluar dari mulut cowok brunette tersebut—dan bukanlah yang pertama kalinya. "Kenapa kau selalu mengancamku padahal adikmu sendiri juga harusnya kau beritahu? Kau tahu sendiri Zero dan aku sudah menjadi sahabat baik. Dia juga tidak akan senang jika kau mengancamku seperti ini. Makanya karena kau yakin bahwa Zero tidak akan melakukan keinginanmu ini, kau akhirnya memperingatiku. Bukan begitu, Kuran Kaname?" balas sang cowok hunter tersebut.

"Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku hanya butuh kesanggupanmu," sang pureblood menjawab singkat dan datar.

"Well, it will not happen. Bukan karena aku tidak mau melakukannya. Tetapi hal itu memang tidak bisa terjadi. Dan aku rasa kau sudah tahu mengapa. Kalau kau hanya ingin mengatakan hal ini, kau membuang waktumu. Dan kita tidak perlu tempat tersembunyi seperti ini jika kau memang ingin membicarakan hal ini," ucap cowok berambut silver tersebut sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya.

"..." Kaname hanya dapat diam. Wow, apa saya tidak salah lihat? Seorang pureblood Kaname Kuran yang biasanya selalu menang sekarang tidak bisa berkata apa-apa terhadap seorang hunter yang race nya sangat dia benci. Momen ini sangat perlu diabadikan mengingat hanya seratus, coret, seribu tahun sekali kejadian ini bisa terulang kembali. Itulah hal yang menunjukkan betapa seorang Kaname Kuran seharusnya tidak akan pernah kalah bicara. Ok, kita tidak perlu membahas hal ini lebih lanjut.

Kiryuu Ichiru pun juga tentunya sedikit terkejut dengan sikap yang ditunjukkan oleh pemuda di hadapannya. Dia pun langsung mengutarakan hal yang pertama kali muncul di otaknya saat melihat sikap itu, "So, tell me. Apa yang membuatmu sangat membenci manusia? Aku rasa kau tidak membenciku secara aku pribadi, tapi kau membenciku karena aku manusia dan terlebih lagi aku seorang hunter. Tebakanku benar khan?"

Sang brunette hanya menutup matanya sejenak lalu berujar dengan sarkasme yang menjadi ciri khas seorang Kaname, "Zero saja tidak aku beritahu. Mengapa aku harus memberitahumu?"

"Mungkin karena kau tidak ingin melukai Zero? Karena hal yang ada di masa lalumu bisa saja membahayakan mental Zero." Ichiru tidak mau kalah. Mungkin dia cocok untuk menjadi seorang psikolog nantinya. Karena dia bisa menebak apa yang ada di pikiran orang lain. That's not funny. Okay, let's stop this nonsense description.

Mendengar itu sulung Kuran hanya dapat tersenyum, coret, menyeringai. "Kau bilang bukan paranormal tapi kau sudah bisa menebak jalan pikiranku. Kalau bukan paranormal berarti psikolog?" Nah, Kaname juga setuju dengan sang author.

"Oh, ayolah. Jangan mengalihkan pembicaraan. Itu tidak seperti seorang pureblood yang aku kenal," dengus sang hunter sedikit kesal.

"Hanya itu yang ingin kusampaikan kepadamu. Jika memang kau tidak bisa menjauhi Zero, setidaknya aku memintamu untuk menjaganya jikalau mungkin aku tidak bisa berada di sampingnya lagi. Terima kasih atas waktumu." Lalu dengan sekejap kedipan mata, Kaname sudah menghilang dari hadapan cowok tersebut.

Cowok berambut silver gelap itu hanya dapat berdecak kesal dengan sikap sang kakak dari Zero tersebut. Walaupun sudah berkali-kali dia menghadapinya, tetapi tetap saja. Namanya orang kalau sudah diacuhkan akan tetap merasakan jengkel. "Don't run away, Kuran. There's nothing good in running away," gumamnya selepas kepergian sang vampir.

*KaSaHa*

Keesokan harinya...

Pukul 07.00 malam

"Kaname, apa kau sudah benar-benar meminta mereka secara baik-baik?" tanya seorang pria yang bernama Kaien Cross dan merupakan Chairman dari Cross Academy ini.

"Kaien, aku sudah melakukannya. Bukankah itu adalah race mu? Seharusnya kau lah yang melakukan hal ini dan bukannya malah aku yang harus berlutut di hadapan mereka," ujar Kaname dengan sarkasme. Dan perlu diketahui bahwa dia tidak benar-benar berlutut di hadapan mereka. Hanya meminta pertolongan kepada mereka, tapi tentu saja bagi sulung Kuran, meminta sesuatu kepada para hunter sama saja dengan berlutut di hadapan mereka. Well, kenapa dia sampai mau-maunya melakukan hal itu? Karena Kaien adalah teman baiknya dan sudah mau menyelamatkan dirinya pada peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Jadi dia patut berterima kasih dan balas budi pada pria tersebut. Karena seorang Kuran tidak akan mau hutang budi pada manusia.

"Kaname-kun, kau tidak berlutut di hadapan mereka. Ah, lupakan. Lalu apa yang bisa kita lakukan saat ini? Aku, Yagari dan Ichiru tidak mungkin bisa melindungi para murid Sun Dorm sendirian jika memang benar para vampire level E tersebut sedang mengarah kesini," ucapnya dengan nada panik.

"Para subordinates milikku akan membantumu. Aku juga akan ikut membantumu, tapi aku akan menyembunyikan Zero di tempat yang aman terlebih dahulu. Aku tidak ingin sesuatu terjadi apa-apa dengannya," Kaname memberikan usul. Walau dia ingin mengungsikan sang adik ke tempat yang lebih aman, dia tidak yakin cowok tersebut akan ikut dengannya secara willingly. Zero sangat mencintai manusia dan sangat ingin melindungi mereka. Sudah bisa dipastikan bungsu Kuran tersebut juga akan ikut membantu dirinya dalam melindungi para murid-murid Sun Dorm. Dan itu adalah hal terakhir yang dia inginkan terjadi. Jika Kuran berambut silver itu ikut membantu, Kaname tidak yakin akan berakhir dengan baik. He can feel it.Dia bisa merasakan sesuatu akan terjadi apabila dia tidak mencegah Zero untuk ikut bertempur. Sesuatu yang akan sangat berakibat buruk.

Ok, pertama-tama, kalian pasti bingung dengan situasi apa sih yang sedang dialami mereka? Vampire council adalah dalang dari situasi yang gawat ini. Mereka tidak setuju—dari awal mereka memang tidak setuju—tentang adanya Cross Academy ini. Dan baru sekarang ini mereka mengambil keputusan. Dengan membentuk pasukan yang terdiri dari vampire level E, dan mengarahkan monster-monster itu untuk menghancurkan sekolah tersebut. Setelah Kaname mengetahui tentang rencana tersebut, tentu saja dia segera memberitahu Kaien. Dan dari situ lah ada peristiwa dimana Kaname berlutut pada hunter association untuk meminta bala bantuan. Tapi hal itu hanya sia-sia saja. Mereka tidak mau mengirimkan bala bantuan tersebut. Alasannya? Karena mereka juga tidak setuju dengan adanya sekolah ini.

"Oh terima kasih banyak, Kaname-kun! Baiklah aku akan segera memberitahu Yagari dan Ichiru untuk bersiap-siap." Dengan sangat senang hati Kaien menerima tawaran Kaname tersebut. Dia pun segera bergerak keluar ruangannya tapi berhenti saat ada di ambang pintu membuat sang brunette yang hendak pergi menoleh ke arah Kaien.

"Apa masih ada hal lain?" tanya Kaname.

"Jangan terus menyembunyikan masa lalumu Kaname-kun. Masa lalu ada untuk dikenang, bukan untuk disembunyikan. Cepat atau lambat, masa lalu itu akan terungkap pada Zero-kun. Akan lebih baik jika dia mendengarnya langsung darimu dan bukan dari orang lain atau hal lain. Aku punya firasat, pertarungan yang akan terjadi sebentar lagi akan mengubah sesuatu," dan dengan berkata hal itu, Kaien menutup pintu dan meninggalkan sulung Kuran yang masih terpaku. Bukan karena terkejut atas perkataan Kaien tetapi karena rupanya pria itu memiliki firasat yang sama dengan dirinya saat ini.

"Semua yang terjadi terlalu nyata untuk dikatakan hanya untuk sebuah kebetulan belaka," gumamnya sebelum menghilang dari ruangan tersebut dan menuju ke Night Dormitory.

*KaSaHa*

"Apa yang sebenarnya ada di otak mereka? Mengirim Level E kesini?" dengus kesal dari cewek cantik bernama Ruka Souen.

"Kurasa mereka hanya tidak suka dengan segala sesuatu yang berada di sekitar Kaname-sama," celutuk Hanabusa Aidou.

Mereka baru saja mendengarkan beberapa hal yang baru disampaikan oleh ketua mereka, Kaname-Kuran. Dan itulah sebabnya sekarang mereka mulai naik darah setelah mendengar penjelasan sang pureblood tersebut. Yah, hanya beberapa vampir saja yang masih tenang menanggapi berita tersebut. Dan kalian pasti sudah bisa menebaknya.

"Sudah tidak perlu dipikirkan tentang apa alasan mereka dan tujuan mereka. Aku hanya ingin kalian membantu Kaien dan yang lain untuk melindungi para murid Sun Dormitory. Kalian segeralah bergegas. Aku masih punya beberapa urusan," jelas sang pureblood yang tengah duduk di meja kerjanya karena mereka memang sedang berada di kantor kerja miliknya.

"Baik, Kaname-sama!" Mereka semua menjawab dengan serentak dan menghilang dalam sekejap ke segala penjuru arah. Para vampir lainnya sudah terlebih dahulu pergi. Yang tersisa hanyalah mereka yang merupakan kepercayaan Kaname.

Sekarang di ruangan itu tinggalah Kaname dan adiknya yang masih berdiri terpaku di sampingnya. Sepertinya masih berusaha mencerna apa yang dijelaskan oleh sang kakak. Dan nampak dia juga sudah mulai emosi, dilihat dari kedua tangannya yang mengepal dengan erat dan bahunya yang sedikit bergetar menahan amarah.

"Zero-dear," panggil Kaname lembut untuk mengeluarkan sang little angel-nya dari apapun pikiran yang sedang memenuhi otaknya. Dia berdiri dan memeluk sang adik.

"Nii-sama," panggilnya penuh dengan kesedihan.

Kaname sedikit tersentak mendengar nada suara cowok yang dicintainya itu. Tangannya bergerak mengelus surai silver Zero dan tangan lainnya mengelus punggungnya.

"Aku tahu aku tidak bisa menghentikanmu. Kau pasti sangat ingin pergi dan melindungi mereka, bukan? Seberapa aku memohon agar kau berlindung di tempat aman dan jauh dari tempat yang akan jadi medan peperangan ini, aku tahu kau pasti akan tetap berada disini. Benarkan?" ucapnya mengutarakan maksud sekaligus juga menebak apa yang bakalan diperbuat oleh sang adik.

"Nii-samaadalah satu-satunya orang yang mengetahui aku luar dan dalam. Jadi, kau pasti sudah tidak perlu menanyakan hal itu, nii-sama," jawab bungsu Kuran itu berusaha terdengar tenang walaupun dia sedang menahan amarah atas tindakan senate kali ini. Berani-beraninya mereka melawan dirinya dan Kaname, ditambah lagi mereka ingin menghancurkan tempat yang sudah dirinya sebut sebagai rumah.

Kaname hanya dapat menghela nafas pasrah. Dia dapat mendengar usaha Zero untuk menormalkan nada suaranya. Tetapi hal itu bukanlah yang harus dibicarakan sekarang. Yang terpenting bukanlah mengetahui seberapa marahnya sang adik, tapi bagaimana dia memberitahukan kepada cowok berambut silver tersebut tentang kejadian 10 tahun yang lalu. Alasan akhirnya dia ingin membuka semuanya bukan karena dia memang ingin Zero mengetahui kebenarannya, tetapi lebih karena keadaan yang memaksa dan nagging feeling yang dia—ah tidak cuman dia saja tapi Kaien dan Ichiru juga—rasakan.

Sulung Kuran tersebut melepaskan pelukannya sejenak dan mengecup kening sang adik untuk menenangkan emosi yang sedang berkecamuk di dalam otaknya tersebut. "Shh," desus Kaname sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Zero. Dia menempelkan dahinya dengan dahi cowok di hadapannya.

"Nii-sama?"

"Little angel, aku..." Kaname masih tidak bisa membawa mulutnya untuk mengungkapkan kejadian 10 tahun lalu tersebut.

Zero mengernyitkan dahinya melihat sang kakak yang terlihat kebingungan seperti itu. Perlu diketahui, seorang Kaname Kuran sangat jarang sekali terlihat unease seperti sekarang ini dan tentu saja ini menjadi pertanyaan yang besar. Tapi setidaknya masih dalam kategori normal karena sikap ini ditunjukkan saat bersama dengan Zero. Karena hanya satu makhluk yang dapat membuat sang pureblood tersebut memiliki dan berbuat hal-hal yang out of character.

Cowok berambut silver itu lalu mencoba menerka-nerka apa yang membuat vampir di depannya seperti itu. Dan hanya ada satu hal yang muncul di otaknya. Kaname ingin mengungkapkan ingatannya yang disegel 10 tahun lalu. Dan Zero tentu tahu betapa topik itu telah mengguncangkan kakaknya sampai dia membuat dirinya melupakan semua ingatan tersebut. Ini memang hanyalah keegoisannya belaka. Tapi dia juga tidak ingin melihat Kaname yang terus tersiksa sendirian karena melindungi dirinya terus. Mungkin dulu dia masih kecil dan tidak sanggup menerima apapun itu yang terjadi pada hari dimana ingatannya hilang. Tapi sekarang dia sudah dewasa bukan? Dia sudah mengetahui keindahan, keburukan dan kejahatan yang ada di dunia ini. Jadi dia yakin pasti akan bisa menerimanya.

Bungsu Kuran itu menghela nafasnya lalu mendorong vampir di depannya untuk duduk kembali di kursi kerjanya tersebut. Tatapan bertanya-tanya dari sang sulung Kuran itu tidak terelakkan dan membuatnya menyunggingkan sebuah senyum. Tapi tidak sampai disitu, dia mendudukkan dirinya, err, di pangkuan Kaname. Well, jika kalian masih kebingungan dengan posisi itu, kalian bisa membayangkan sepasang kekasih yang, ehem, sedang ingin melakukan sebuah hubungan intim. Kedua kaki Zero berlutut di kanan dan kiri paha vampir brunette tersebut lalu dia sedikit menekuk kedua lututnya untuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Kaname. Dan seperti yang dilakukan oleh pria di depannya, dia menempelkan kedua dahi mereka. Sepertinya ini adalah sebuah ritual penenangan diri di antara mereka berdua saja. And it worked.

"Heh, you saw right through me, huh, little one?" Kaname tersenyum lembut setelah berhasil meloloskan dirinya dari kondisi terkejut akan perbuatan sang cowok di hadapannya—atau lebih tepatnya di pangkuannya?

"Sudah berapa tahun kita bersama, nii-sama? Dan aku bukan lagi little one yang kau lindungi dulu. Little one milik nii-sama sudah menjadi seorang dewasa yang juga bisa melindungimu. Benar khan?" Zero balas menjawab sambil tersenyum sedikit jahil.

Kaname kembali mengeluarkan sebuah hembusan nafas yang cukup keras. Ini sudah keberapa kalinya dalam sehari ya? Bahkan sang author yang menulisnya saja sampai lupa. Harusnya hari bersejarah ini perlu diabadikan. Dimana pureblood yang biasa terlihat emotionless dan berwibawa itu bisa lost composure dan menghela nafasnya berkali-kali.

"Yeah, kurasa kau benar, my eternal beloved Zero," goda Kaname memanggil sang adik dengan sebuah julukan yang jarang digunakan. Karena Zero mengancamnya untuk tidak menggunakannya.

"Nii-sama, aku sudah mengatakan jangan memanggilku seperti itu," dengus vampir bermata amethyst tersebut. Tetapi tetap saja terlihat rona merah mulai menyelimuti pipinya yang putih mulus dan dia dengan segera membenamkan kepalanya pada dada sang vampir di depannya.

"Tapi kau mengatakannya sendiri, bukan? Bahwa kau sudah bukan lagi little one or little angel yang dulu selalu aku lindungi. Kalau begitu tidak salah jika aku sekarang menggunakan julukan lain yang lebih terlihat cocok dengan dirimu yang sudah dewasa ini," seru Kaname menanggapi tantrum dari bungsu Kuran di pangkuannya.

"Huft, terserah kau sajalah, nii-sama," gumam Zero menyerah. Dia masih menyembunyikan kepalanya pada dada bidang sang kakak. Kedua tangannya telah menyelinap ke belakang untuk memeluk sosok yang bahkan lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

Keheningan menyelimuti ruangan yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan tersebut. Sepasang kakak adik tersebut nampak sedang menikmati kebersamaan—kemesraan yang tercipta diantara mereka. Bunyi nafas mereka yang teratur dan hembusan angin malam yang menyeruak dari jendela menjadi lantunan melodi yang indah. Tubuh mereka yang dingin bagaikan mayat saling bertautan—ah terlalu berlebihan. Tapi tentu saja itu bukanlah menjadi masalah. They're vampire, after all.

Setelah beberapa menit yang serasa hanya beberapa detik bagi mereka telah berlalu, pureblood yang lebih tua umurnya tersebut menghirup udara dalam-dalam untuk mencetak aroma tubuh Zero kedalam hati dan pikirannya. Dan setelah dia merasa sudah tenang, dia mulai berbicara, "Baiklah, kurasa saatnya aku membuka ingatan masa lalumu."

Jantung vampir—apakah vampir memiliki jantung yang berdetak?—bermata amethyst itu langsung berdebar kencang. Sebentar lagi dia akan mendengar dari mulut Kaname sendiri, tentang peristiwa 10 tahun yang silam. Dan dimana kedua orang tuanya berada saat ini.

Sang pureblood berambut brunette tersebut tentu saja menyadari detak jantung sang adik yang berdetak lebih cepat. Ingat mereka masih saling berdekapan. "Shh, jangan khawatir. Aku ada disini. Tidak akan kubiarkan ingatan itu menakuti, my dear," bisik sulung Kuran di telinga Zero.

"Arigatou, nii-sama. Kau bisa meneruskan. Aku siap," balas vampir dalam dekapan Kaname tersebut. Tapi dia masih tetap tidak menatap sang kakak.

"Baiklah." Jeda sesaat. "Malam itu adalah malam yang mengerikan jika aku bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Bahkan mungkin lebih dari itu. Baik aku, otou-sama dan okaa-sama tidak menyangka bahwa hari itu adalah penentuan takdir kita sekeluarga. Kau sudah tertidur dengan sangat lelap. Kami dan para pelayan berusaha melindungi manor tersebut. Tapi jumlah mereka terlalu banyak dan kami tidak sanggup menahan mereka." Kaname menghentikan penjelasannya sambil mengenang malam yang mengubah hidupnya dan keluarga yang dicintainya.

Zero menyadari apa yang sedang berkecamuk dalam benak vampir yang didekapnya. Yang bisa dia lakukan hanyalah memeluk tubuh itu semakin erat, memberikan secercah semangat walaupun itu tidak dapat membantu banyak. "Siapa 'mereka' yang kau maksud, nii-sama?" tanya cowok berambut silver tersebut.

Memejamkan matanya sejenak, lalu berujar, "Mereka adalah—"

Belum sempat Kaname meneruskan perkataannya itu, sebuah ledakan yang cukup keras terdengar di luar sana. Sepertinya letaknya di sekitar pintu gerbang Cross Academy ini. Itu hanya menandakan satu maksud. Perang sudah dimulai. Dan mereka berdua sudah seharusnya menghentikan perbincangan, err, yang cukup mesra itu dengan segera dan secepatnya menuju tempat dimana para level E keparat itu berada.

Zero tentu saja langsung tegap berdiri mendengar tanda perang tersebut. Daripada mendengarkan ingatan masa lalunya, dia lebih ingin melindungi para manusia yang ada disini. Sedangkan Kaname tersenyum sedikit pahit melihat reaksi sang adik. Dia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya—dan tetap perlu diingat bahwa ini adalah Kaname Kuran yang notabene selalu percaya diri atau dengan kata lain flawlessuntuk percakapan serius mereka.

"Nii-sama, kita harus segera pergi!" celutuk cowok yang lebih muda itu dengan nada suara mulai panik.

Pemimpin dari Night Class itu juga segera berdiri dan kemudian mengacak surai silver milik cowok di hadapannya itu. "Aku tahu. Kita akan membicarakan ini setelah perang ini berakhir. Pergilah dulu. Ada hal yang perlu kulakukan dengan senate," jawabnya dengan intonasi yang tenang dan sungguh berbalik seratus delapan puluh derajat terhadap adiknya.

"Huh? Oke, baiklah. Hati-hati, nii-sama. Come back safe." Dan kemudian dia kembali memeluk lelaki yang sudah melindunginya selama puluhan tahun ini. Menikmati sensasi dari tubuh mereka yang bertautan.

Lelaki brunette itu tentu juga membalasnya, bahkan lebih erat. "You too, my eternal beloved. Stay safe until I come back. Don't do anything rash. I love you, Zero," bisiknya tepat di telinga sang cowok bermata amethyst.

"I love you too, nii-sama!"

Mereka tetap berada diposisi tersebut sampai sebuah ledakan terdengar kembali. Keduanya melepaskan diri dengan perasaan enggan. Ya, keduanya. Karena mereka memang mencintai satu sama lain walaupun mereka bersaudara. Well, jangan lupakan fakta bahwa mereka vampir. Jadi, peraturan atau tata sosial—entah itu ada atau tidak karena author hanya mengarang—yang biasanya ada pada manusia, tidak berlaku pada mereka. Bahkan mereka memang diharuskan untuk menikah dengan saudaranya sendiri untuk mempertahankan keturunan dari keluarga Kuran yang memang terkenal sebagai pureblood tertua dan terkuat.

Zero masih merasa kebersamaan mereka kali ini kurang berlangsung lama. Akhirnya dengan sedikit keberanian, dia sedikit berjinjit dan kemudian menautkan kedua bibir mereka dalam sebuah ciuman penuh dengan gairah dan cinta yang sangat mendalam. Walaupun hanya berlangsung singkat, perasaan keduanya sudah tersampaikan dengan baik. Ciuman kali ini tidak melibatkan lidah mereka tentunya. Karena jika melibatkan organ tubuh yang satu itu, dijamin mereka malah akan semakin lanjut ke tahap berikutnya tanpa peduli daratan. Dan itu tentunya berbahaya untuk situasi seperti saat ini. Memangnya ada orang yang melakukan hubungan intim saat di sekeliling mereka sedang terjadi pertempuran?

Kaname tentunya senang sekali dengan tindakan sang adik. Karena biasanya dia yang memulai terlebih dahulu. Cowok berambut silver itu memang tipe tsundere khan?

"Pergilah, kita akan bertemu setelah aku menyelesaikan apa yang perlu kulakukan," ujarnya kemudian setelah mereka terdiam selama beberapa detik.

"Berhati-hatilah, nii-sama!" balas bungsu Kuran itu dengan penuh kecemasan mendalam dalam kalimatnya.

"Jangan meremahkanku, my eternal beloved!" Pemuda berambut brunette itu menenangkan cowok di hadapannya. "Seiren," dia sedang memanggil bawahannya yang sangat setia. Cewek itu langsung datang sambil berlutut di belakang pasangan tersebut. "Lindungi Zero," perintahnya tegas tanpa meminta sebuah penolakan.

"Kashikomarimashita, Kaname-sama!" jawab cewek itu dengan penuh keyakinan.

Sedetik kemudian Kaname menghilang dari hadapan mereka sambil sebelumnya tersenyum kepada Zero dan mengelus pipinya. Dia harus segera menyelesaikan urusannya untuk bisa kembali lagi ke sisi cowok berambut silver itu.

*KaSaHa*

Cross Academy benar-benar telah menjadi medan pertumpahan darah dan... debu. Yap, debu bertebaran dimana-mana. Tentu saja hal itu dikarenakan karena pertempuran kali ini melibatkan makhluk penghisap darah yang telah kehilangan akalnya, vampir level E. Kita tidak akan bisa melihat adanya mayat disini, melainkan gundukan debu-debu sisa dari makhluk malang itu. Hm, tidak hanya ada debu di sini, bercak-bercak darah juga nampak di batang pohon, tembok-tembok dan gedung sekolah tersebut. Pemandangan ini tentunya sangat tidak sedap dipandang bagi siapapun juga yang melihatnya. Tidak terkecuali untuk pangeran pureblood yang satuini.

Vampir berambut silver itu nampak memegangi kepalanya yang dilihat secara fisik masih baik-baik saja. Tidak ada luka ataupun darah. Nafasnya juga nampak sangat berat padahal dia tidak melakukan hal yang membebani dirinya. Dan lagi dia seorang pureblood, memiliki stamina diatas rata-rata manusia dan vampir-vampir yang levelnya berada di bawahnya. Lihat saja para vampir noble yang berada di sekitar bungsu Kuran itu. Mereka bahkan nampak tidak berkeringat. Berbeda dengan young master mereka yang sedang mereka lindungi saat ini.

Kiryuu Ichiru menyadari hal itu dan bertanya dengan cemas kepada sahabatnya yang satu itu, "Zero, kau nampak tidak sehat. Apa kau baik-baik saja? Apa kau lupa meminum blood tablet mu?"

"T-tidak. Aku baik-baik s-saja. Hah... hah...," jawabnya dengan nafas masih tersengal-sengal. "Konsentrasilah. Aku hanya perlu beristirahat sejenak," lanjutnya kemudian sambil bersandar di sebuah tembok. Saat ini mereka berada di atap gedung sekolah dan sudah dikepung oleh vampir level E yang haus akan darah.

"Baiklah, jangan jauh-jauh dari kami." Dan Ichiru kemudian mulai menebas para vampir-vampir gila itu dengan pedang yang dimilikinya.

Pureblood yang satu itu mulai berusaha menstabilkan nafasnya dan mencerna bayangan-bayangan yang muncul di matanya, ah tidak, lebih tepatnya muncul di dalam otaknya. Dia juga merasakan perasaan deja vu dengan pemandangan di sekitarnya ini. Apa ini adalah ingatan masa lalu yang disegel oleh nii-sama? Tetapi apa? Apa yang terjadi sebenarnya waktu itu? Aku tidak bisa menerima semua ingatan-ingatan yang datang bertubi-tubi ini. Nii-sama, where are you?' Batin Zero menjelaskan apa yang saat ini dirasakannya.

Dia masih tidak bisa mengingat semuanya. Karena yang muncul hanya sepotong demi sepotong ingatannya. Dan saat dia mencoba untuk menggali lebih dalam, kepalanya akan langsung merasakan sakit yang membuatnya ingin merobek kulit kepalanya dan mengeluarkan otaknya. Ah, maaf itu terlalu sadis. Tapi author hanya ingin menjelaskan rasa sakit yang dirasakan oleh vampir bermata amethyst itu. Sedari tadi dia juga terus menerus memanggil nama kakaknya di otaknya, berharap vampir brunette itu akan segera datang ke sisinya dan bisa meredakan rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Sebenarnya mereka memang bisa saling memanggil satu sama lain dengan hubungan yang mereka punya. Tapi mungkin kali ini Kaname memang masih belum bisa datang karena urusan yang sedang dilakukannya sangatlah penting.

Bungsu Kuran itu masih terus meringkuk di tembok yang saat ini menjadi tempat sandarannya sambil mencoba menyelesaikan keadaannya saat ini. Dia hanya mendongakkan kepalanya ketika mendapati suara teraiakan kesakitan yang sangat dia kenal.

"Arghhh!" Ichiru berteriak kesakitan ketika seseorang menebasnya di bagian dadanya. Dia terdorong mundur dan kemudian jatuh mencium lantai karena kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi.

"Kau pengganggu." Perkataan ini muncul dari seorang pria yang tengah berdiri di dekat hunter malang tersebut. Dan bisa diyakini bahwa yang menyebabkan Ichiru tergeletak di lantai adalah ulah pria ini. Jika diteliti lagi, dia bukanlah manusia. Dia vampir, dan bahkan bukan vampir level rendah. Pureblood. Realisasi ini membuat Zero dan teman-temannya hanya dapat tercekat dan bertanya-tanya akan siapakah pureblood yang satu ini.

Zero adalah yang pertama terbangun dari keterkejutannya dan dengan kekuatan vampirnya langsung menuju tempat Ichiru dan menggendongnya untuk membawa mereka menjauh dari pureblood itu. Sebelum vampir itu akan melukai hunter berambut silver gelap itu lebih parah lagi.

"Who the hell are you?" Aidou menggeram sambil berdiri di depan Zero dan Ichiru. Ingin melindungi young master dan sahabatnya itu. Hal ini diikuti oleh yang lainnya. Mereka tidak akan masalah mempertaruhkan nyawa untuk melindungi pangeran pureblood mereka. Walaupun mereka sudah sangat sadar bahwa melawan pria yang berada di hadapan mereka ini merupakan sebuah tindakan bunuh diri.

Pria tersebut hanya dapat tertawa terbahak-bahak melihat mereka melindungi pangeran kecil—walau Zero memang bukan anak kecil—mereka. Karena lucu baginya bahwa vampir level B ingin menantang eksistensi terkuat seperti dirinya.

"Namaku? Heh, lucu sekali kalau kalian tidak bisa menebak siapa diriku. Tapi, ya sudahlah, aku akan berbaik hati memberitahukan kepada kalian namaku sebelum kalian aku musnahkan menjadi kepingan debu. Namaku adalah Rido Kuran. Kakak dari Haruka Kuran dan dengan kata lain aku adalah paman dari pangeran kecil yang sedang kalian lindungi tersebut," jelasnya sambil menunjuk Zero yang masih sibuk menangani luka Ichiru.

Mereka kembali tercekat mendengar penjelasan tersebut termasuk Zero yang langsung menoleh ke pureblood yang mengaku sebagai pamannya. Dia tidak pernah tahu kalau dia mempunyai paman karena Kaname juga tidak pernah menyebutnya. Apa dia berbohong? Tapi entah mengapa mereka seperti tidak bisa menolak kebenaran itu. Maksudnya mereka ingin tidak mempercayai hal tersebut, tetapi di sisi lain juga tidak bisa menolaknya dengan merasakan aura yang dimilikinya.

"Jangan bercanda, keparat! Tidak mungkin kalau kau merupakan paman dari Kaname-sama ataupun Zero-sama!" kali ini Ruka Souen yang menyahut.

"Oh, aku tidak membutuhkan pengertian dari kalian. Kalian boleh percaya atau tidak. Itu bukanlah masalah bagiku. Yang terpenting adalah tujuanku datang kesini. Jika kalian ingin selamat, serahkan pangeran kecil kalian itu dan aku akan kembali berbaik hati dan membiarkan kalian pergi," ucap Rido Kuran sambil menyeringai dengan penuh kebanggaan.

"Apa kau berpikir kami akan mengabulkan permintaan tidak masuk akalmu?" ejek Aidou.

"Aku memang merasa hal ini tidak akan semudah itu. Baguslah kalau kalian bersedia memberikanku sebuah pertunjukan yang manis."

Dan dengan kalimat penutup itu, mereka mulai bekerja sama untuk menyerang pureblood tersebut. Karena jika mereka melawan sendiri-sendiri, sudah dipastikan mereka akan segera dimusnahkan. Tapi walaupun serangan mereka dilakukan secara bersama, mereka masih akan kalah.

Zero mengetahui akan hal itu dan dia juga harus segera membantu para teman-teman vampirnya itu. Hanya dia yang mungkin saat ini bisa bertarung seimbang dengan pria yang mengaku sebagai pamannya. Walaupun dia masih tidak yakin dengan keadaannya saat ini. Sakit kepala itu masih terasa dan sangat mengganggu konsentrasinya. Kemudian dia teringat akan seseorang yang saat ini sedang tergeletak lemah dalam pangkuannya.

"Ichiru?" panggilnya sambil menggoyangkan sang cowok itu perlahan.

Tidak ada jawaban.

Dengan cepat bungsu Kuran itu melakukan apa yang bisa dia lakukan di saat seperti ini. Dia menggigit pergelangan tangannya sendiri dan meminum darahnya. Tapi tidak menelannya. Kemudian dia mencium sang hunter tersebut dan mentransfer darah yang ada di mulutnya ke dalam mulut cowok hunter itu. Ichiru memang bukan seorang vampir, tapi darah pureblood tetap dapat berfungsi kepada siapapun yang meminumnya.

Setelah dia berhasil membuat Ichiru menelan darahnya, dia melepaskan ciuman itu dan meletakkan kepala sang hunter itu ke lantai. Selanjutnya dia akan serahkan pada cairan merah miliknya itu untuk bekerja dalam tubuh sahabatnya. Dia tidak bisa membuang banyak waktu untuk mengkhawatirkan keadaan Ichiru karena situasi mereka saat ini bukannya bertambah baik malah semakin buruk. Dia kemudian menoleh ke pertarungan yang sedang terjadi. Dan benar saja, para vampir noble itu sedang menghadapi pertarungan yang sepihak—yang tentunya bukan kemenangan di pihak mereka.

Zero pun segera bergabung dengan pertempuran tersebut ketika dia melihat Rido akan menghabisi Takuma Ichijou yang sedang tersungkur di lantai. Dengan kekuatan telekinesisnya dia berada di antara kedua orang itu dan mendorong pamannya itu menjauh dengan sebuah kekuatan yang tak nampak dari dirinya sendiri. Dan itu cukup berhasil karena Rido harus terdorong mundur dengan jarak yang lumayan jauh.

"Tidak akan kubiarkan kau membunuh teman-temanku!" geram vampir bermata amethyst tersebut.

"Oho, apa yang kita punya disini? Pangeran Kuran kita tercinta sedang menyerahkan diri untuk menjadi makananku. Dengan senang hati akan kuterima tawaranmu itu, my dear nephew!" ejek Rido dan mulai maju menyerang Zero.

Pureblood berambut silver itu mengeluarkan senjata anti-vampire nya yaitu Bloody Rose. Ya, vampir tercinta kita ini bisa memegang sebuah senjata yang biasanya dimiliki oleh para hunter. Perlu diketahui bahwa senjata anti-vampire akan melukai para vampir yang berusaha untuk menyentuhnya. Jadi, sudah seharusnya tidak mungkin kalau Zero yang notabene seorang pureblood bisa menyentuh bahkan menggunakannya. Itulah keunikan dari pangeran Kuran yang satu ini.

Bungsu Kuran itu menembakkan beberapa peluru dengan akurasi yang tepat pada Rido yang berlari ke arahnya. Tapi semuanya dihindari dengan mulus oleh pria tersebut. Sambil menghindari peluru mematikan itu, Rido berhasil mendekati Zero dan segera melancarkan serangan dari darahnya yang membentuk seperti sebuah cambuk. Tentu saja pangeran Kuran itu menghindarinya dengan melompat mundur dan menjatuhkan dirinya ke bawah. Sepertinya dia berniat untuk membawa pertarungan ini ke tempat dimana teman-temannya tidak akan terkena dampak dari pertarungan mereka berdua.

"Seiren, jaga yang lainnya! Aku akan mengatasi dia. Jangan ikut campur!" perintah pureblood bermata amethyst itu sebelum gaya gravitasi bumi menariknya ke bawah.

"Baik, Zero-sama!" Seiren tidak bisa melawan perintah itu. Bagaimana pun juga, dia juga adalah pangeran Kuran. Perintahnya sama dengan perintah dari pemimpin Kuran saat ini yang adalah Kaname.

Zero mendarat dengan mulus di permukaan tanah berdebu. Dan dia dipaksa harus meloncat kembali karena Rido Kuran juga dengan sengaja mendaratkan dirinya di titik pendaratan milik keponakannya.

Bungsu Kuran itu kini menginjakkan kakinya di sebuah dahan pohon yang sudah tua. Dia mencoba untuk mengamati musuhnya. Karena sepertinya musuhnya juga tidak ada tanda-tanda untuk kembali menyerang dalam beberapa detik ke depan. Zero pun kemudian bertanya, "Katakan siapa sebenarnya dirimu dan mengapa kau mengincarku?"

"Oho, apa kau tidak mempercayai perkataan dari pamanmu sendiri, keponakanku tercinta? Bukankah aku sudah menjelaskannya kepadamu? Bahwa aku adalah kakak dari Haruka Kuran dan dengan kata lain pamanmu dan Kaname," jawab Rido dengan seringaian yang tidak pernah meninggalkan wajahnya yang cukup tampan itu. Bisa diyakini jika dia tidak memakai seringaian seperti orang gila itu, pria ini akanlah sangat tampan. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa semua vampir memiliki daya tarik yang berbeda dari para manusia pada umumnya.

"Nii-sama tidak pernah bercerita kepadaku tentang dirimu. Dan kami berdua adalah satu-satunya keluarga Kuran yang masih hidup. Buatlah kebohongan yang lebih bagus!" Zero masih menolak mentah-mentah ucapan pureblood yang satu itu.

"Heh, dan aku juga sudah mengatakan kepadamu, bahwa aku tidak butuh kau mempercayai perkataanku, my dear nephew!" Dan dengan kalimat itu, Rido mengayunkan cambuk darahnya ke arah pangeran Kuran kita.

Zero segera meloncat kembali sambil menembakkan peluru Bloody Rose nya ke arah Rido, tapi rupanya sekali lagi peluru-peluru itu meleset semua. Sedetik kemudian pria yang mengaku pamannya itu telah berada di depannya. Membuat bungsu Kuran itu tercekat. Dia hendak menggunakan telekinesisnya untuk menghindari tangan Rido ketika pada saat yang sangat tidak tepat, sakit kepalanya semakin bertambah parah. Rido semakin menyeringai lebar melihat celah yang ditunjukkan sang keponakan dan dia dengan segera memanfaatkan hal tersebut dan mencekik leher mulus milik pureblood berambut silver tersebut dan menjatuhkan tubuh itu menghantam tanah dengan sangat keras.

"Uaghh!" benturan itu membuat Zero memuntahkan darah dan kehilangan penglihatannya untuk beberapa saat. Kekuatan benturan itu bukan hanya berasal dari gaya gravitasi bumi, tetapi juga dari kekuatan pureblood yang dimiliki oleh Rido sendiri. Buktinya sampai ada sebuah kawah kecil dari hasil benturan itu.

Dengan mudahnya Rido mengangkat tubuh keponakannya yang sudah lunglai itu. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Rido tidak perlu mengangkat terlalu tinggi agar kaki Zero tidak lagi menyentuh tanah. Pangeran Kuran itu pun hanya bisa memegangi tangan Rido yang mencekiknya dengan lemah dan tanpa ada kekuatan sama sekali. Benturan kepalanya dengan permukaan tanah tadi telah semakin membuatnya kehilangan kekuatan dan konsentrasinya. Ditambah lagi dengan sakit kepala yang dia rasakan akibat kembalinya ingatan masa lalu kelamnya.

"Inilah akhir hidupmu, keponakan tercintaku, Zero Kuran!" Lalu pria itu menghujamkan tangannya menembus dada bagian kiri milik bungsu Kuran itu. Membuat lubang yang mengerikan pada organ vital yang ada di dalam tubuh setiap makhluk hidup bahkan untuk seorang vampir sekalipun.

"Kuhkk!" pureblood bermata amethyst yang malang itu hanya bisa terbatuk darah ketika tangan itu menembus jantungnya. Dan satu pikiran langsung mendatangi otaknya. 'Aku akan segera mati. Nii-sama!' batinnya berteriak. Ya, dia juga pasti akan meneriakkan kakak tercintanya karena jika memang ini adalah akhir dari hidupnya, dia ingin bertemu dengan pria itu untuk yang terakhir kalinya. Dan keinginannya itu dikabulkan ketika tangan yang masih hinggap di dadanya itu meninggalkannya dan pemilik tangan itu terlempar sangat jauh dari dirinya.

Tubuh Zero yang lemas tanpa apapun yang menopangnya langsung jatuh. Tapi tidak untuk bertemu dengan tanah, tetapi sepasang tangan yang kuat milik pemuda brunette.Kaname telah datang menyelamatkan adik tercintanya.

"You bastard!" umpat Kaname pada Rido Kuran sambil memeluk Zero. Aura kemarahannya bisa dirasakan oleh siapa saja yang berada di dekat mereka. Sudah bisa dipastikan, bahwa siapa saja yang menyulut kemarahan dari pureblood terkuat yang satu ini tidak akan melihat dunia lagi. Tidak peduli siapapun itu.

"N-nii-sama..." panggil bungsu Kuran itu dengan lemah. Tapi kita bisa melihat sebuah senyum kelegaan terbentuk di bibirnya. Kakak tercintanya telah datang. Permintaannya untuk melihat pemuda brunette itu untuk yang terakhir kalinya telah dikabulkan.

Sulung Kuran itu kembali menoleh pada sepasang iris mata amethyst milik adiknya itu dan kecemasan yang dalam bisa nampak pada kedua matanya yang telah berubah merah. Tangannya cukup bergetar. Entah karena amarah yang ada dalam dirinya, atau karena ketakutan yang dalam akan sosok yang ada dalam pelukannya saat ini.

"Zero, my dear! Tolong bertahanlah sebentar! Aku akan segera menghabisi keparat itu," ujar Kaname sambil meletakkan pemuda dalam pelukannya itu ke permukaan tanah dengan lembut. Dia ingin sekali memberikan darahnya untuk Zero dengan segera. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini bukanlah saat yang tepat. Karena penyebab semua bencana ini masih berdiri dengan seringaian gilanya tersebut.

"Seiren!" panggil Kaname saat dia kembali berdiri dan berjalan ke arah Rido. Cewek berambut keunguan itu langsung dengan sigap berada di samping tubuh bungsu Kuran yang sedang bertaruh dengan kematian. "Jaga dia."

Dengan perintah singkat itu pertempuran diantara keduanya kembali terjadi. Kali ini sepertinya lebih terlihat imbang. Ah, tidak, pemimpin Kuran itu nampak lebih kuat daripada pamannya sendiri. Dan benar saja, dalam waktu yang singkat, Kaname berhasil melakukan hal yang sama dengan apa yang Rido Kuran lakukan pada adik tercintanya. Tapi dia tidak hanya melubangi, melainkan menggenggam jantung itu dan menghancurkannya dengan remasannya.

"Kuhk!" Rido terbatuk darah sambil memegangi tangan Kaname yang masih berada di dadanya. Di detik-detik terakhir hidupnya, pria gila itu masih bisa menyeringai penuh kemenangan. "Setidaknya, aku berhasil memusnahkan keponakan tersayangku, ya khan, Kaname!" Dengan pesan terakhir itu, Rido Kuran hancur berkeping-keping dalam bentuk butiran kristal. Begitulah cara pureblood mati. Dan sepertinya kali ini sulung Kuran itu akan menyaksikannya dua kali...

Pureblood berambut brunette itu hanya mendecih kesal dengan kata-kata itu. Dia berhasil membunuh paman yang telah membunuh kedua orang tuanya. Tetapi dia tidak merasakan kemenangan itu. Masih ada sebuah kenyataan pahit yang menantinya. Tidak membuang waktunya sedetik pun, Kaname langsung bergegas menuju Zero yang dengan setia dijaga oleh Seiren yang membereskan sisa-sisa level E lainnya yang masih berkeliaran.

Dia mendekap kepala pemilik surai silver itu dengan pelan dan menaruhnya pada pangkuannya. Nafas sang bungsu Kuran itu sudah satu dua. Wajahnya yang pucat semakin pucat dan kehilangan warnanya.

"Zero, Zero, my love!" panggil pemimpin pureblood itu dengan kedukaan. Hatinya terasa sangat pilu menyaksikan penderitaan yang dialami oleh belahan hatinya ini.

Zero yang tadi menutup iris amethyst nya yang telah berubah menjadi merah karena kurangnya pasokan darah yang menjadi sumber kehidupan utama dirinya kembali membuka kedua mata itu untuk bertemu dengan kedua iris mata milik kakaknya. Bibirnya kembali menyunggingkan sebuah senyum lemah.

"N-nii-sama... hukk!" panggilnya lemah sambil terbatuk oleh darah.

"Shh, don't talk anymore! Minum darahku, my angel!" ucap Kaname menyuruh bungsu Kuran itu untuk tidak berbicara lagi dan sebaiknya fokus untuk meminum darahnya.

Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, pangeran Kuran itu menggelengkan kepalanya pelan sekali. Menandakan dia menolak untuk meminum darah sang kakak. Bukannya dia ingin mati, tapi serangan ke jantung bagi seorang pureblood merupakan serangan fatal yang sudah memastikan kematian mereka.

Dan sebenarnya Kaname juga sudah mengetahui kenyataan itu. Tapi dia hanya mau menolak hal itu dan akan berusaha dengan segala cara untuk bisa menghidupkan kembali cowok yang sekarang berada dalam pelukannya ini. Tetesan air mata mulai mengalir pada kedua matanya. Yap, seorang Kaname Kuran juga bisa menangis. Dan ini mungkin adalah kali pertama dia menangis. Hanya kepada sosok dalam pelukannya ini dia bisa menunjukkan segala mimik wajah seperti itu.

Zero yang melihatnya berusaha menghapus air mata dari pipi sang kakak dengan tangannya. Dan mengangkat tangannya itu terbukti merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya dalam kondisinya saat ini. Seolah sedang mengangkat beban puluhan kilo. Tapi dia tetap meneruskan niatnya itu dan berhasil menghapus air mata sang kakak. Namun noda merah darah miliknya malah yang mengotori wajah tampan milik pemimpin Kuran tersebut.

"Jangan menangis nii-sama! Aku tidak ingin di saat terakhirku, melihat wajah nii-sama yang menangis seperti ini. Setidaknya, lihat sisi baiknya. Aku bisa bertemu dengan tou-sama dan kaa-sama khan?" ucap Zero dengan susah payah dan terbata-bata.

Kaname sedikit membuka matanya lebih lebar. Dia memang bisa merasakan bahwa adiknya itu telah mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Dan sulung Kuran itu hanya bisa tersenyum miris. Dirinya tidak pernah menyangka bahwa peristiwa sepuluh tahun yang lalu itu akan terbuka pada saat seperti ini. Mengenaskan sekali.

"Kau mengingatnya, hmm?" Pertanyaan retoris dilontarkan oleh pureblood berambut brunette tersebut.

"Yang membunuh mereka adalah para hunter. Ya khan? Dan itulah mengapa nii-sama sangat membenci manusia. Aku bisa mengerti sekarang," tebak Zero akan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh kakaknya itu.

"..."

"Tapi nii-sama, tidak semua dari mereka jahat. Kau bisa melihatnya sendiri, bukan? Yuuki, Ichiru, Yori, chairman, Yagari-sensei dan semua manusia itu tidak semuanya seperti yang kau lihat saat itu. Mereka hanyalah makhluk lemah yang ketakutan akan eksistensi kita. Aku ingin mewujudkan dunia dimana vampir dan manusia bisa hidup bersama. Aku sangat ingin hal itu, nii-sama. Mereka makhluk yang menyenangkan dan menarik. Menurutku sudah sepantasnya kita—makhluk dengan talenta lebih—melindungi mereka yang lemah. Aku hanya inginkan itu. Apakah itu terlalu muluk?" ucap pangeran Kuran itu menyampaikan semua isi hatinya sebelum dia akan meninggalkan dunia yang dicintainya ini. Memang sulit mengeluarkan serentetan kalimat itu. Tapi setidaknya dia berhasil mengutarakan semuanya. Dan Kaname tidak membantah ataupun memotong kalimatnya seperti yang biasa dia lakukan jika mereka sedang memperdebatkan hal ini. Sepertinya ia harus mengalami keadaan seperti ini dulu baru sang kakak akan mendengarkan permintaannya. Tidak. Impiannya.

Kaname menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu tidak muluk. Aku akan berjanji meneruskan impianmu itu. Kau akan melihatnya nanti setelah kau bereinkarnasi."

"Terima kasih, nii-sama. Maaf aku tidak bisa menemanimu membangun dunia itu." Pandangan matanya mulai mengabur dan dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pemuda yang sangat dicintainya itu melebihi apa pun di dunia ini.

"Maafkan aku juga, my eternal beloved! Aku tidak pernah mendengarkanmu. Beristirahatlah dengan tenang. Sampai pada waktunya akan tiba dimana kita akan bertemu kembali pada kehidupan yang baru," ucap pemimpin Kuran itu.

"Yeah, see you, nii-sama! Good bye for now." Dan dengan kalimat penutup akhir hidupnya itu, Zero Kuran menutup mata dan mengakhiri perjalanan hidupnya. Tubuhnya dalam sekejap hancur menjadi kepingan kristal.

Kaname hanya bisa melihat semuanya dengan pasrah. Hatinya terasa sesak dan pilu. Separuh hatinya telah Zero bawa pergi dengan kepingan kristal itu. Separuh hatinya ikut hancur bersamaan dengan lenyapnya tubuh belahan jiwa dirinya. Tak tahan lagi dengan tekanan duka cita yang mendalam itu, dia meneriakkan nama Zero dengan penuh frustasi dan kepiluan yang mendalam. Hari ini, merupakan hari dimana para bawahan Kaname tidak pernah melihat senyum pada wajah pemimpin mereka itu.

*KaSaHa*

Berpuluh-puluh tahun kemudian...

"Kaname, kau serius akan melakukan hal ini?" tanya Ichijou Takuma yang selama ini setia menemani sahabatnya itu.

"Ya, aku sudah menyelesaikan impian Zero. Saat ini yang perlu kulakukan adalah menunggunya kembali ke dunia ini. Tapi aku tidak bisa menunggunya sambil masih melihat dunia yang dicintainya ini," jawab Kaname sambil menatap keluar melalui kaca jendela yang ada di ruangan kerjanya. Di luar sedang turun butiran-butiran salju putih. Warna yang cocok dengan Zero.

Ya, selama puluhan tahun ini Kaname Kuran telah berusaha untuk mewujudkan dunia yang diharapkan oleh adik tercintanya. Dunia dimana vampir dan manusia bisa coexist. Walaupun rasanya begitu menyakitkan harus tetap menjalani hidup ini tanpa angel yang sangat dia sayangi itu. Tapi dia juga tidak mau membiarkan pengorbanan dan cita-cita sang adik menjadi ikut terkubur. Dan sekarang semuanya telah tercapai dan dia akan melakukan tidur yang sangat panjang untuk beristirahat dan menunggu kedatangan dari reinkarnasi Zero. Dia sangat yakin bahwa adiknya akan kembali.

"Hmm, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa lagi, Kaname!" Takuma menyerah dan berpamitan dengan pureblood yang satu itu.

"Sampai jumpa, Takuma," balas pureblood berambut brunette itu sambil menolehkan wajahnya sekilas.

Takuma pun meninggalkan manor yang saat ini ditinggali oleh sulung Kuran itu. Manor keluarga Kuran. Tempat yang menyimpan kenangan membahagiakan antara Kaname dan keluarganya. Tapi juga akan menorehkanluka yang dalam ketika harus mengingat kejadian pahit setelahnya.

Setelah dia puas menatap pemandangan yang ada di depan manornya, dia menutup tirai jendela dan membalikkan badannya. Ia berjalan menuju tempat tidur yang untuk beberapa ratus tahun ke depan ini akan menjadi tempat peristirahatannya. Merebahkan tubuhnya di kasur berlapiskan kain berwarna merah, Kaname Kuran mulai menutup matanya dari dunia tempat dimana kenangan akan dirinya dan adiknya itu ada.

*KaSaHa*

Ratusan tahun kemudian...

"Zero! Cepatlah sedikit, kita akan terlambat ke sekolah!" seorang anak cowok berambut silver sedang meneriaki kakak kembarnya di lantai dua. Umurnya sekitar 9 tahun. Mereka akan segera berangkat sekolah, tetapi sang kakak masih tidak turun-turun juga padahal bel sekolah mereka tidak lama lagi akan segera berbunyi. Nama anak itu adalah Ichiru Kiryuu.

Cowok yang dinantikannya akhirnya turun dengan memasang tampang tak berdosa. Bahkan dia menguap dengan sangat tidak elegan. Well, tetapi dengan wajah yang dimiliki oleh anak itu, sesuatu hal seperti itu malah akan nampak lucu dan menggemaskan. Dijamin tidak akan ada yang protes termasuk sang author.

"Sabarlah sedikit, Ichiru! Kau terlalu berlebihan. Kita tidak akan terlambat jika berlari," jawab cowok yang memiliki wajah identik dengan Ichiru. Namanya adalah Zero Kiryuu.

"Heh, aku lelah kalau harus disuruh lari terus tahu!" sungut Ichiru dan mulai berjalan keluar rumah sambil berpamitan kepada kedua orang tua mereka. "Sudah jangan banyak omong lagi, aku tinggal kalau nii-san tidak mau cepat-cepat!" Dan Ichiru mulai berlari menuju sekolahnya meninggalkan sang kakak yang masih memasang sepatu. Lalu apa gunanya dia menunggu tadi ya? Aneh sekali.

"Cih, lalu apa gunanya kau menungguku, dasar!" dengus Zero menyetujui pemikiran sang author.

Setelah selesai memasang sepatunya, dia pun mulai berlari juga ke arah sekolahnya. Tapi dibandingkan dengan adiknya yang berlari dengan sekuat tenaga, anak berambut silver yang satu itu memilih untuk berlari pelan seperti sedang jogging. Dia lebih ingin menikmati perjalanannya menuju sekolahnya sambil melihat ke sekelilingnya. Mencari sesuatu yang menarik. Tidak, dia sedang mencari seseorang.

Itu mungkin terdengar aneh. Tidak. Itu sangatlah aneh. Karena dia juga tidak tahu siapa seseorang yang dia cari. Tapi setiap harinya dia selalu merasa ada yang kurang. Dan, hey, dia masih berumur 9 tahun. Sangatlah tidak lazim baginya memikirkan sesuatu yang rumit seperti itu. Maksudnya, dia masih kecil dan masih belum tahu tentang hubungan para remaja dan orang dewasa. Tapi dia merasakan bahwa orang yang selalu muncul dalam mimpinya itu adalah seseorang yang lebih penting daripada nyawanya sendiri. Dan itu kadang terdengar sedikit creepy. Bahkan dia sering menepis pikiran konyol itu sambil bergidik ngeri.

Tapi beberapa kalipun dia mencoba untuk menepisnya, mimpi itu akan terus muncul di dalam tidurnya. Awalnya dia ingin menceritakan hal itu kepada Ichiru dan kedua orang tuanya, tapi karena dia takut dibilang aneh dan segala macamnya, akhirnya dia memutuskan untuk menyimpannya sendiri. Dan semakin lama, dia mulai bisa menerima semua itu. Bahkan mencoba mencerna apa makna dari mimpi-mimpinya tersebut. Dimana dia akan selalu melihat sesosok pria tampan berambut brunette.

Bocah Kiryuu itu tersadar dari lamunan singkatnya ketika dia kemudian menabrak seorang pemuda yang tiba-tiba muncul dari pertemuan gang. Tidak sempat menghentikan laju kakinya, dia terpaksa harus menabrak orang itu dan dirinya akhirnya terjatuh ke belakang karena perbedaan postur tubuh mereka berdua. Dia hanya separuh dari tinggi orang itu, kalau kalian ingin tahu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya pemuda yang ditabraknya dengan sedikit kecemasan dalam kata-katanya. Tangan pemuda itu diulurkan kepada Zero. Ingin membantunya berdiri.

Zero kemudian mendongakkan kepalanya dan mendapati dirinya bertemu dengan sepasang manik mata burgundy yang menurutnya sangat indah. Bocah Kiryuu itu terpaku untuk beberapa saat dan hanya menatap ke dalam mata itu. Menyelami kedalaman dari iris tersebut. Dan sepertinya cowok yang ditabrak Zero itu juga melakukan hal yang sama.

"Hey? Kau baik-baik saja?" Pemuda itu yang terlebih dahulu memutus sebuah kontak mata yang cukup panjang itu.

"Ah, ya! Aku tidak apa-apa!" Zero tersadar dan menerima uluran tangan dari pemuda tersebut lalu bangkit berdiri.

"Maafkan aku. Aku tidak melihat kanan kiri."

"Hm, tidak. Tidak apa-apa. Bukan salahmu sepenuhnya. Aku juga minta maaf. Ah, aku terlambat ke sekolah. Aku harus segera pergi, tuan!" ujar Zero tergesa-gesa dan bermaksud melanjutkan perjalanannya.

"Baiklah, hati-hati!" balas pemuda berambut brunette tersebut dengan senyum yang hangat.

Dan entah ada dorongan apa, Zero juga tersenyum ketika melihat senyuman di wajah pemuda itu. Seolah dia sangat merindukan pemandangan tersebut. "Siapa namamu tuan? Namaku Zero," ucap anak bermata amethyst itu memperkenalkan dirinya. Dia ingin mengetahui nama pemuda itu sebelum mereka berpisah.

"Namaku Kuran Kaname," jawab pemuda itu masih dengan senyumnya yang lembut.

"Sampai jumpa lagi, Kuran-san!" Zero berpamitan ketika sudah mengetahui nama sang cowok. Dan dia kemudian berlari menuju sekolahnya dengan perasaan yang berbeda daripada sebelumnya. Dalam pikiran bawah sadarnya sebuah suara muncul dan mengatakan, I found you. Dan tanpa sadar bocah Kiryuu itu menggumamkan sebuah kata, "Nii-sama..."

Sedangkan Kaname menyaksikan kepergian Zero dengan senyuman yang tidak mau meninggalkan wajah tampannya yang tidak pernah berubah sedikit pun setelah ribuan tahun dia hidup di dunia ini.

"Ya, kita pasti akan berjumpa lagi, my eternal beloved Zero."

Janji telah ditepati...

The End!

Author's Note: Aaaaaaa... longgggg chapter! Akhirnya bisa menyelesaikan fanfic yang sudah lama hinggap di lappie saya. Dan jujur, ini adalah chapter terpanjang yang pernah Saichi ketik. Tiga kali lipat dari biasanya! Gak ngira bisa jadi segini panjangnya. Yah, ini juga sebagai ganti karena updatenya super duper lama. Maafkan daku ya! Saya memang author tidak kompeten! Dan anyway, tell me what you think. Apakah jelek? Apakah terlalu cepat? Apakah terlalu mengecewakan? Apakah kurang? Ah kalau yang terakhir gak usah dijawab deh. Oke, itu aja deh yang mau Saichi sampaikan. Jam sudah menunjukkan pukul 23.34. Semoga memuaskan kalian! Terima kasih telah setia menunggu! See ya!

See ya in another story!