Disclamer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Canon

LONG LIVE UCHIHA

©LONGLIVE AUTHOR


Renge Konoha yang tumbuh dari tanah bekas peperangan.


Dua puluh tahun berlalu semenjak perang dunia shinobi ke empat. Kelima negara ninja hidup damai sejak itu. Tidak terlalu banyak ancaman yang berati setelah peperangan. Uzumaki Naruto menjadi Hokage ke tujuh dan membuat Desa Konoha menjadi semakin makmur di bawah kepemimpinannya. Ia benar-benar mewujudkan impiannya. Seluruh penduduk ke lima Negara sudah mengakui keberadaannya.

Kini Naruto dan teman-teman seperjuangannya yang ikut perang dulu telah menjalani hidup yang bahagia dengan keluarganya masing-masing. Tak terkecuali dengan rekan setimnya dulu. Kalau Naruto sudah hidup bahagia dengan Hinata dan mempunya dua anak. Begitu juga dengan Sakura dan Sasuke yang memiliki seorang putri . Uchiha Sarada.

Sasuke di sibukkan dengan tugasnya sebagai Ketua Anbu, dan Sakura juga masih berkutat dengan pekerjaannya sebagai Medic-Nin di rumah sakit. Seluruh desa tahu kisah tentang Sasuke dan Sakura yang sangat fenomenal. Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya Sasuke dan Sakura menikah. Uchiha Sarada kini telah menjadi seorang Kunoichi yang sangat cantik dan sangat Tangguh. Di usianya yang ke 15 ia sudah berada di tingkat Jounin, dan bukan tidak mungkin ia naik ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Pagi itu di kediaman Uchiha Sakura sedang sibuk dengan kegiatan paginya. Ia sedang memasak menu sarapan untuk putri tunggalnya .

"Sarada Bangunlah !" teriak Sakura.

"Aku sudah bangun Ibu." Ujar anak semata wayangnya. Sarada melompat dari tangga membuat ibunya sedikit kaget.

"Ibu kira kau belum bangun, bukannya kau tidak ada misi hari ini ?" Tanya Sakura sembari membawa mangkuk berisi sup panas.

"Iya aku tidak ada misi untuk dua hari kedepan. Aku akan menghabiskan waktuku untuk melakukan hal-hal yang aku suka." Ujarnya, tanpa basa-basi ia langsung menyendok sup yang ibunya bawa. Sakura hanya tersenyum melihat putrinya itu.

Ia begitu menikmati sup -ektra tomat- yang dibuatkan ibunya. Tidak terasa putrinya sudah berumur lima belas tahun. Ah...Ia merasa sudah tua. Kemudian Sakura melirik foto keluarga yang tergantung di dinding. Saat itu adalah hari kelulusan Sarada dari akademi ninja. Ia,Sarada , dan Sasuke. Keluarga kecil yang bahagia. Semua penantiannya , semua perjuangannya terbayar sudah dengan anugrah yang sangat luar biasa.

Sarada memperhatikan ibunya yang sedari tadi tersenyum sendiri.

"Ibu ? apa Ibu baik-baik saja ?" Tanya Sarada.

"Ibu tidak apa-apa.".

"Ayah kapan pulang Bu ?" Tanya Sarada tiba-tiba.

"Mungkin Ayahmu pulang nanti sore, tapi Ibu minta kau jangan mengganggu Ayahmu dulu ya. Dia pasti kelelahan." Jawab Sakura.

Hening sejenak...

"Sarada kenapa matamu hitam ? Apa kau kurang tidur ?" Tanya sakura.

"Iya Bu, beberapa hari ini aku tidur larut. Aku sedang membaca buku." Jawab Sarada santai.

"Oh ya buku apa ?"

"Bukan buku apa-apa ." Balas Sarada singkat.

Begitu sarapannya selesai Sarada bergegas meninggalkan ruang makan menuju kamarnya untuk mengambil beberapa barangnya yang tertinggal. Sebelum meninggalkan kamarnya , gadis itu membenarkan kacamatanya memastikannya pakaiannya sudah terlihat rapi. Sekilas ia melirik buku tebal yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia menghampiri buku itu. Di sampul buku itu bertuliskan 'SEJARAH KONTEMPORER PERANG DUNIA SHINOBI KE EMPAT' yang sudah terlihat agak usang. Buku inilah alasan kenapa ia selalu tidur larut beberapa hari ini. Gadis itu tersenyum lalu memasukkan buku itu kedalam laci.

"Sampai jumpa Ibu mungkin aku akan agak lama keluar." Teriak Sarada tersenyum saat berlalu pergi meninggalkan Ibunya.

Uchiha Sarada melompat cepat dari satu atap ke atap yang lain dan ia pun turun di toko bunga kediaman Yamanaka. Terlihat Ino sedang menyiram bunga-bunganya.

"Selamat pagi Bibi Ino." Sapa Sarada.

"Oh, selamat pagi Sarada, bagaimana keadaan ibumu ?" Tanya Ino.

"Ibu sehat. Dimana Inojin ?" Tanya Sarada .

"Inoji sedang ada misi, kau mau bertemu dia ?" Tanya Ino.

"Ah, tidak. Aku hanya ingin membeli bunga." Balas Sarada.

"Untuk siapa ?"

"Mmm..tidak untuk siapa-siapa. Kira-kira bunga apa ya ? Aku tidak tahu banyak tentang bunga." Kata Sarada meminta pendapat Ino.

"Kalau boleh aku sarankan, sebaiknya kau membeli bunga Lily." Ino menunjuk bunga Lili putih yang masih segar.

"Baiklah, aku ingin satu ikat besar bunga itu."

Ino sedikit heran dengan Sarada. Untuk apa ia membeli bunga sebanyak itu. Pikirannya memang tidak bisa di tebak , persis seperti ayahnya. Ino memberikan seikat besar bunga lambang perdamaian itu pada Sarada. Setalah memberikan sejumlah uang Ino pamit sambil tersenyum.

Gadis itu kini tidak melompat di atap atau berlari dengan rusuh seperti biasanya. Ia hanya berjalan menyusuri desa degan tenang sambil membawa seikat bunga Lily. Cuaca pagi itu mendung. Tadi malam hujan lebat, jalanan masih basah oleh genangan air. Ia menoleh , melihat orang-orang sedang melakukan aktivitas mereka . Kebanyakan mereka dibalut oleh pakaian hangat. Sebenarnya Sarada sangat menyukai cuaca mendung seperti ini. Saat setelah hujan membuatnya sangat merasa nyaman. Merasa damai. Rasanya seperti 'kau sudah bekerja seharian lalu kau tidur di kasurmu yang nyaman.'. Dipandangnya langit kelabu itu . Ia tersenyum. Langkah kakinya berjalan mengitari sepanjang desa konoha. Tak lama ia melihat Konohamari-sensei ,Udon-Sensei,Moegi-Sensei, dan juga Iruka-sama di dekat sebuah kedai sedang berbincang-bincang.

"Selamat pagi Semuanya." Sapa Sarada.

"Sarada ? Ah , pagi untuk apa kau membawa bunga sebanyak itu ?" Tanya Konohamaru-sensei.

"Untuk membagikannya." Jawab Sarada polos tidak menghiraukan tatapan heran dari empat orang di depannya. Ia hanya memberikan masing-masing setangkai bunga.

"Sampai jumpa." Lalu Sarada beranjak pergi dari sana.

"Aneh sekali." Ujar Konohamaru menatap punggung Sarada.

"Anak itu mempunyai jalan pikirannya sendiri. Biarlah." Kata Iruka penuh pengertian.

Sarada kembali melanjutkan perjalanannya. Kemudian ia melihat Rock Lee-sama sedang berjalan tak jauh darinya. Tanpa perlu Sarada menyapa Rock Lee sudah menyapanya terlebuih dahulu.

"Halo Sarada." Ujarnya.

"Halo. Lee-sama." Balas Sarada.

"Untu siapa bunga-bunga itu ." Tanya Lee.

"Yang satu ini untuk anda." Kata Sarada memberikan setangkai Lily pada Rock Lee. Tanpa banyak bicara Sarada meninggalkan Lee.

"Renge Konoha mekar di tanah bekas peperangan." Ujar Lee membelai Lily itu.

Tak lama kemudian Sarada sampai di kedai yang lain. Disana ada Kakashi dan Guy sedang mengobrol. Dua Oji-san tua itu sedang bernostalgia tentang masa mudanya dulu. Guy-sama masih berada di kursi roda sampa sekarang. Sarada menghampiri mereka. Begitu sampai Kakashi langsung menyapanya.

"Halo Sarada, bagaimana keadaan ayah dan ibumu ?" Tanya Kakashi.

"Ayah sedang ada misi, dan Ibu ada dirumah. Silahkan kalau kalian mau mampir ." Tawar Sarada.

"Ah tidak..tidak..nanti yang ada aku malah di nasehati tak ada habisnya dari ibumu. Sampai sekarang dia masih cerewet." Kata Kakashi membuat Sarada tertawa.

"hah...melihatmu aku menjadi merasa sangat tua." Ujar Guy .

"Kau memang sudah tua ! terima saja." Ledek Kakashi. Sebelum mereka jadi adu mulut Sarada mencabut dua tangkai bunga Lily dan memberikannya pada mereka.

"Ini untuk kalian berdua. Aku sengaja membeli bunga ini ,kalin berdua sama-sama sudah tua ! Tidak baik bertengkar terus." Kata Sarada seraya berlalu pergi.

"Dia benar-benar mirip dengan kedua orang tuanya. Aku merasa berhadapan dengan Sasuke dan Sakura." Kata Kakashi menatap kepergian Sarada.

"Heh bicaramu seperti seorang kakek." Ledek Guy

Dan begitulah akhirnya mereka berdua kembali beradu mulut. Lalu selanjutnya Sarada bertemu dengan Naruto dan Gaara yang sedang berada di kedai Ichiraku. Mereka tampak sedang berbincang-bincang santai.

"Selamat pagi." Sapa Sarada.

"Pagi...Ah halo Sarada...Apa ayahmu sudah pulang ?" Tanya Naruto dengan semangat.

"Ayah belum pulang. Kata Ibu mungkin nanti sore." Jawab Sarada.

"Selamat Pagi Sarada. Bagaimana keadaan ibu dan ayahmu ?" Tanya Gaara.

"Mereka baik, senang bertemu dengan mu Kazekage-sama." Sarada memberikan masing-masing satu tangkai bunga pada mereka dan berlalu pergi.

"Ah...dia itu..kadang sangat mirip Sakura,dan kadang sangat mirip Sasuke." Kata Naruto. Gaara hana menatap gadis itu dalam diam.

Setelah selama beberapa jam berjalan dan membagikan bunga Sarada menghentikan langkahnya di sebuah pemakaman . Diatas batu nisan yang bertuliskan 'UCHIHA ITACHI'. Inilah alasannya ia membagi-bagikan bunga. Perasaannya sangat bagus hari ini. Saat ia memejamkan matanya dan sedang berkhayal andai saja pamannya masih hidup. Pahlawan desa yang sangat ia banggakan.

-Tbc-