.

.

LONGLIVE UCHIHA

Sakura, Sasuke, dan Naruto berbondong-bondong mencari Sarada. Sasuke dan Naruto memang sudah tahu kejadiannya dan kini mereka khawatir akan sesuatu yang akan dilakukan Sarada.

FLASHBACK

Sudah empat jam Sakura menjaga Sarada yang sedang tidur. Tak lama kemudian Ino masuk membawa kotak makanan.

"Sakura, kau sudah lama berada disini. Aku membawakanmu makanan. Lebih baik kita makan dulu." Kata Ini

"Terima kasih Ino. Kau seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini." Balas Sakura.

"Sarada juga sudah seperti anak ku sendiri , jangan sungkan. Lebih baik kita makan di luar , tidak baik makan disini . Aku tidak mau menggangu tidurnya." Kata Ino.

Akhirnya mereka berdua meninggalkan Sarada untuk makan bersama. Tak lebih dari dua puluh menit mereka sudah kembali lagi. Namun mereka menemukan kamar Sarada kosong tak berpenghuni.

"Sarada ?"

Mereka berdua langsung mengumumkan ke seluruh rumah sakit dan juga memberitahu para penjaga. Namu Sarada tidak ditemukan dimanapun. Setelah itu Sakura mencari Sasuke dan menemukannya di ruang Hokage.

FLASHBACK END

"Bagaimana mungkin anakmu bisa kabur dari rumah sakit ? Bukankah matanya sedang bermasalah ?" Tanya Naruto.

"Bukan Uchiha namanya jika dia tidak bisa melarikan diri dari rumah sakit dengan mata tertutup. Sudah ku bilang kalau yang dilakukannya adalah efek dari matanya sendiri." Jawab Sasuke.

"Aku merasakannya Sasuke-kun, Aku merasakan chakra Sarada." Teriak Sakura.

Mereka bertiga melesat ke arah hutan yang tak jauh dari gerbang Konoha. Benar saja tak jauh dari gerbang Konoha mereka menemukan Sarada yang masih memakai baju rumah sakit dan berada dia atas dahan pohon yang sangat besar, matanya masih ditutup oleh perban. Mereka bertiga berhenti tak jauh dari pohon itu.

"Sarada, Nak ? Sedang apa kau ? turunlah !"Teriak Sakura dari kejauhan.

"Hei Sarada ! Apa yang kau lakukan ? Kau masih cidera !" Teriak Naruto.

Sasuke mengaktifakan Sharingannya. Terlihat aura chakra berwarna hijau yang berkumpul di seluruh tubuh Sarada begitu besar "Sarada turun ! Ini perintah dari Hokage !" teriak Naruto lagi.

"Diamlah Naruto ! Tidak ada gunanya, dia sedang tidak sadar sekarang." Ujar Sasuke.

"Sebenarnya apa yang dia lakukan Sasuke-kun ?" Tanya Sakura cemas dan hampir menangis.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Sakura, yang penting sekarang kita harus mencegahnya berbuat sesuatu dan membawanya pulang." Kata Sasuke.

"Kalu begitu aku akan membawanya sekarang.!". Baru saja Sakura hendak melompat tangan kekar Sasuke menahannya.

"Jangan Sakura ! Dia sedang tidak sadar sekarang kau bisa diserang. Dia...sedang menunggu seseorang." Disaat yang bersamaan mereka merasakan beberapa chakra asing yang sangat besar mendekat. Sebuah seringai terukir di bibir Sarada.

Tak lama kemudian beberapa orang berjubah datang dua diantaranya adalah perempuan berambut hitam. Yang satu berambut panjang dan yang satu berambut pendek . Hampir identik namun warna mata mereka berbeda.

"Kalian menerima pesanku ?" suara dingin Sarada terdengar jelas dari atas pohon.

"Kau mengalahkan Kahaza ? Uchiha memang kuat ,tapi sayang kulihat matamu cidera ya ?. Berdo'a saja agar kau selamat malam ini." Ujar si rambut pendek dengan suara parau. Terlihat kalau ia sepertinya tidak tidur selama beberapa hari.

"Ah...tiga legenda Sannin baru juga ada disini ? Kau yang membawa mereka ? Apa kau benar-benar takut dengan kami ?" tanya si rambut panjang dengan nada melengking menoleh ke arah Naruto , Sasuke ,dan Sakura yang berada diluar kekkai pelindung.

Belum sempat Naruto, Sakura , dan Sasuke bertindak sebuah lingkaran bening telah menghalangi mereka. Sarada dan para missing-nin itu terjebak dalam sebuah pelindung seperti kaca.

"Arghhh... !" Sakura mencoba menghancurkan pelindung itu dengan segenap kekuatannya namun sama sekali tidak berpengaruh. Begitu juga dengan Naruto yang mencoba menghancurkannya dengan Rasengan dan mendapatkan hasil nihil.

Sasuke sadar kalau ini tak ada gunanya. Mungkin kekuatan mereka bertiga memang jauh lebih besar dari pada para missing-nin itu . Namun ternyata mereka sudah merencanakan penyerangan ini sangat matang. Sasuke perhatikan terlihat diantara mereka ada beberapa orang yang sedang berkonsentrasi mempertahankan jutsu pelindung yang menghalangi mereka. Sasuke menebak kalau ada ninja ahli yang diantara mereka. Sekuat apapun mereka mencoba menghancurkan pelindung itu mereka tidak akan berhasil.

Sarada melompat tepat di depan para missing-nin itu.

"Hanya orang-orang bodoh yang mencoba membuat ninja super dengan mengambil kekuatan dari klan-klan hebat dan menyatukannya. Percobaanmu hanya akan sia-sia !" Kata Sarada.

"Kami tidak meminta pendapatmu !" Ujar si rambut pendek.

"Kalian membawa orang sebanyak ini untuk menangkap ku ? Ah...aku lupa , yang tersisa tinggal kalian berdua. Benarkan Rei ? Kagami ?" Sarada meremehkan.

"Jangan sombong , sekuat apapun kehebatan seorang ninja. Mereka akan selalu memiliki kelemahan Uchiha." Ujar perempuan berambut panjang bernama Rizzumi Rei.

"Oh ya ?"

Tangan halus Sarada menyentuh balutan perban dimatanya dan melepaskannya. Seketika terihat pupil merah dengan pola seperti bunga teratai menyeramkan .Sharingan itu berkilat menang. Sepersekian detik saat Sarada hendak melancarkan jutsunya terdengar seorang anak perempuan berteriak dan seketika itu Sarada berhenti. Perempuan bernama Merika itu mengeluarkan seorang anak perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu. Terdapat beberapa memar di wajahnya.

"Ya, Sarada. Kami tahu apa kelemahan mu ! Aneh bukan kelamahan dari keturunan klan Uchiha yang hebat adalah melihat kematian sesorang ? Aku heran bagaimana kau bisa menjadi jounin elit yang hebat. Aku yakin kalau kau sendiri tidak bisa menghitung berapa orang yang telah kau bunuh ?"

Rizzumi berjalan mengitari Sarada sedangkan anak perempuan itu hanya menangis tersedu-sedu memecah keheningan malam.

"Tolong nona..tolong aku ! Mereka mau menyiksaku... Aku ingin pulang !" Ujar gadis kecil itu. Seketika tubuh Sarada bergetar.

"Tunjukan kehebatan klan Uchiha ! Bunuh anak ini ! atau kalau tidak kami akan mengambil kedua bola matamu itu." Ujar Merika yang menjambak rambut gadis kecil itu.

"Bunuh dia !" Rizzumie juga ikut menjambak Sarada. Senyum kemenangan benar-benar telah berkembang di wajah para missing-nin.

Sementara itu Naruto, Sakura dan Sasuke masih berusaha untuk menghancurkan pelindung tanpa mendapatkan hasil apapun.

"Sebenarnya apa sih yang mereka mau ? " Tanya Naruto.

"Mereka mengincar Sarada." Kata Sasuke.

Dibagian dalam pelindung, para ninja khusus sedang berkosentrasi untuk mempertahankan pelindung mereka agar tetap kuat.

"Ninja lemah !" .

BUAGH !

DUGHH !

Missin-nin itu melayangkan tinju pada Sarada tanpa mendapatkan balasan. Darah segar mengalir dari bibirnya. Disisi lain Rizzumi Rei telah menodongkan kunai pada gadis kecil yang sudah mulai kelelahan meminta tolong.

"Mereka ingin membunuhku, tolong aku Nona...tolong ! Akhrrr !". Gadis itu berteriak melengking memberontak sehingga membuat Rizzumi kewalahan.

"Diam !"

PLAKK !

Sebuah tamparan keras telah dilayangkan pada gadis itu yang langsung membuatnya diam tak bergerak. Mungkin tamparan itu membuatnya lemas.

"Hahahahaha..." Mereka semua tertawa. " Apa kita ambil saja matanya sekarang ! Setelah kau Uchiha, aku akan menghabisi anak itu " dan mereka tertawa lagi.

Jari lentik itu mengepal keras . Kini Sarada telah tersungkur menunduk ditanah dengan rambut yang dijambak oleh apa yang terjadi pada Sarada saat ini. Napasnya menderu mendengar rintihan gadis kecil yang tadi telah ditampar Rizzumi.

"Kalian..." Bisik Sarada pelan. Tanah disekelilingnya berkeretak dan mulai terbelah.

"...teruslah bermimpi !" Bahkan tanpa meninju tanah itu, hanya dengan chakra yang sangat besar bisa membuat tanah keras disekelilingnya terbelah.

Sarada menegadah menaikan kepalanya menghadap Merika yang tengah memegangi rambutnya. Seketika itu teriakan keras melengking terdengar memecah keheningan malam.

"ARRRGGGHHHHHH !"

Para Missing-nin itu otomatis melihat ke arah Merika penasaran dengan apa yang membuatnya berteriak seperti itu.

"Kalian.. akan bernasib sama dengannya !"

Sarada menoleh dan menunjukan kedua Sharingannya yang berpola bunga teratai itu. Mereka semua yang menatap mata Sarada langsung menjerit kesakitan. Malam yang hening kini berubah ramai oleh jeritan para missing-itu. Chakra hijau berkumpul si seluruh tubuhnya sehingga membuat rumput si sekitarnya bergetar. Untuk kesekian kalinya Sarada menyiksa orang-orang jahat dan juga untuk kesekian kalinya ia merasakan sensasi menyenangkan saat menyiksa seseorang.

"Sarada ! Hentikan !" terdengar suara ibunya diantara jeritan-jeritan itu.

Sebuah perasaan aneh muncul menghancurkan rasa senang itu. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi gelisah dan juga cemas. Tangannya kembali bergetar.

"Sarada ? Nak ? Apa kau sudah siuman ? Apa kau bisa mendengar Ibu ?"

"Sarada ? apa kau menggunakan Mangekyou Sharingan ?"

"Kau bohong. Jangan coba membohongiku Sarada."

"Aku.. belum bisa memberitahumu Ayah. Aku belum bisa memberitahumu. Mungkin nanti."

"Ayah harap kau mengerti , tapi Ayah harus tahu apa masalahmu Sarada. Berbagilah, siapa tahu aku bisa membantumu."

"...Aku hanya ingin melindungi semuanya."

Semua perkataan Ayahnya terdengar lagi di telinganya. Tiba-tiba saja ia merasa bersalah karena sudah menyembunyikan sesuatu dari ayah dan ibunya. Tiba-tiba saja ia merasa sedih karena ridak bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya.

'Apa ini yang kau inginkan Sarada ?'

'Tidak !'

'Apa kau ingin menjadi pembunuh ?'

'Tidak !'

'Kau telah menjadi pembunuh Sarada ! Kau teah kehilangan dirimu sendiri !'

'Tidak...Tidak...Tidak...'

Peluh memenuhi wajah Sarada. Bersusah payah ia menghentikan dirinya sendiri. Namun jeritan itu masih jelas terdengar. Ia menutup matanya dan masih berusaha untuk menghentika jutsunya sendiri.

'Aku tidak mau ! Aku tidak mau seperti ini. Hentikan ! hentikan !'

"HENTIKAN !"

Jeritan itu berhenti. Orang-orang itu ambruk di tanah begitu juga dengan Sarada. Seketika suasana kembali hening seolah tak terjadi apapun. Tubuhnya lemas, sangat lemas. Dia sudah menghentikannya. Sudah selesai , jeritan itu tak terdengar lagi. Sebelum Sarada kehilangan kesadaranya hal terakhir yang dia lihat adalah tiga bayangan kabur yang sedang berlari kearahnya .

Angin berhembus sepoi-sepoi dari arah jendela. Ia berakhir disini lagi. Terduduk di ranjang dirumah sakit dengan mata dibalut perban. Sudah seminggu sejak kejadian itu. Ia baru sadar kemarin sore. Ayah, Ibunya, Kakashi-sama dan juga paman Hokage turut menjenguknya.

"Aku siap untuk dihukum." Ujar Sarada sore itu.

"Kau tidak akan dihukum Sarada. Kau memang menyalahi aturan karena menyerang missing-nin tanpa perintah dari Hokage. Tapi Konoha juga pantas berterima kasih padamu karena telah menyerang missing-nin yang berusaha menyerang penduduk Konoha." Ujar Naruto dengan wibawa.

"Apa yang terjadi dengan mereka ?" Tanya Sarada.

"Mereka sampai saat ini tidak bisa ditanyai. Efek dari Tsukuyomi yang kau lakukan tidak bisa disembuhkan bahkan oleh Sakura sekalipun. Mentalnya rusak parah. Mereka akan menderita ganguan jiwa secara permanen." Jawab Kakashi.

"...dan untuk anak itu, dia diculik dari rumahnya dari Iwagakure. Kami sudah mengantar dia pulang seteleh merawatnya."Kata Naruto.

Hening sejenak. Sarada sedikit lega karena para missing-nin itu tidak mati.

"Ibu..."

"Ya, Sarada."

"Maafkan aku. Aku sudah sangat bersalah . Aku menyembunyikan hal yang begitu besar darimu dan Ayah. Aku...benar-benar minta maaf." Terlihat perban yang menutupi mata Sarada sedikit basah.

"Sudahlah,lupakan itu. Yang sudah terjadi maka itu yang terjadi. Ibu memaafkan mu." Balas Sakura seraya memeluk putrinya.

"Ayah...Aku ingin berbicara denganmu, Berdua saja." Kata Sarada. Maka Naruto, Kakashi, dan Sakura keluar dari ruangannya.

"Ayah, hukumlah aku . Aku sudah bersalah karena sudah tidak jujur pada Ayah. Maafkan aku, aku sangat minta maaf." Sarada menahan tangisannya sekuat tenaga walaupun Sasuke bisa melihat dengan jelas kalau seluruh tubuh Sarada bergetar. Sasuke menyentuh tangan Sarada lembut.

"Ayah akan memaafkanmu. Tapi Ayah berharap penjelasan dari mu." Ujar Sasuke. Sarada menghela napasnya dan mencoba menjelaskan semunya dengan tenang kepada Ayahnya.

"Enam bulan yang lalu...Saat aku mendapatkan misi ke Iwagakure. Di markas sekelompok missing-nin aku menemukan sebuah gulungan proyek rahasia, dan itu berisi proyek tentang percobaan transplantasi bagian tubuh shinobi. Mereka hendak menciptakan seorang ninja super dengan mengambil anggota tubuh dari klan-klan yang mempunyai kemampuan khusus dan salah satunya adalah klan Uchiha. Mereka mengincarku..."

"...dan tak lama kemudian aku menemukan artikel tentang organisasi rahasia yang beredar sepuluh tahun yang lalu dan aku berpikir kalau itu adalah mereka . Itu ternyata benar Ayah. Selama ini aku mencari informasi dan menyerang mereka. Aku tahu itu berbahaya , jadi aku mengambil buku Genealogi Klan dari bagian terlarang perpustakaan Konoha untuk mengetahui kelemahan mereka. Tadinya aku hanya berniat untuk menyerang mereka diam-diam dan menyerahkan mereka pada Hokage. Tapi seperti yang aku bilang, aku malah membunuh mereka. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padaku...Tanpa ku sadari aku sudah bisa mengaktifkan Mangekyou Sharingan. Aku sendiri berspekulasi kalau yang aku rasakan adalah efek dari Mangekyou Sharingan." Jelas Sarada.

" Iya itu benar. Aku membicarakannya dengan Kakashi beberapa waktu lalu. Itu memang efek dari Mangekyo Sharingan karena tubuhmu dan kondisi mentalmu belum cukup kuat untuk memakainya . Tapi hanya satu yang membuat ku penasaran. Kau tahu kan apa syarat yang paling utama untuk memiliki Mangekyou Sharingan ? Sarada, siapa yang sudah kau bunuh.?" Tanya Sasuke intens.

Air mata merembes dari perban balutan mata Sarada. Tubuhnya bahkan masih bergetar tak bersuara.

"Ayah...sejak kecil aku sangat takut membunuh orang lain. Tapi tuntutanku menjadi jounin elite membuatku membunuh banyak orang. Aku...aku sangat takut. Aku tidak bisa memberitahu Ayah dan Ibu . Aku keturunan Uchiha mana mungkin aku bisa memberi tahu kalian dan seluruh dunia kalau aku takut. Yang aku inginkan hanya dunia yang damai tapi bagaimana bisa. Setiap kali aku membunuh orang lain terlepas apakah orang itu jahat atau tidak, mereka tetap saja adalah orang-orang yang mempunyai harapan. Mereka mempunyai orang-orang yang mereka sayangi, apapun itu mereka hidup pasti mempunyai suatu tujuan . Apakah itu jahat atau tidak mereka pasti mempunyai hati nurani atau setidaknya mereka pernah mempunyainya...dan aku datang menjadi kematian mereka..."

"...berapa banyak dosa yang harus ku pikul atas nama keadilan dan kedamaian ? Setiap kali aku membunuh mereka ,aku juga membunuh diriku sendiri. Orang-orang yang tak ku kenal yang menurutku tak pantas untuk dibunuh begitu saja."

"...mereka tahu ayah. Mereka tahu kalau kelemahanku adalah membunuh orang yang tak bersalah. Mereka tahu...Aku tidak bisa bilang pada Ayah kalau aku takut. Aku adalah Uchiha, bagaimana...bagaimana mungkin aku bisa takut." Tangisannya pecah. Kunoichi dingin dan jenius itu kini mengakui semua kelemahannya di depan Ayahnya. Melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul.

"...Mereka ingin mengambil kedua mataku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tidak bisa membiarkan kebanggaan Ayah dikalahkan begitu saja. Aku penerus klan Uchiha, aku memang harus membunuh mereka kan ? harus begitu kan ?" .

Sasuke memeluk putri kecilnya. Kenapa ia tidak tahu beban yang dipikul Sarada sebesar ini. Kenapa ia sampai tidak tahu kalau putri kesayangannya ini begitu ketakutan. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaanya. Ia kira kalau putrinyalah yang paling hebat. Ia kira kalau putrinya sempurna tanpa celah. Tapi kali ini ia sadar kalau sehebat dan sejenius apapun putrinya . Dia tetaplah seorang anak yang membutuhkan perhatian yang mempunyai rasa takut. Sama sekali ia tak menyangka kalau nama Uchiha telah sangat membebani putri kebangganya itu.

Kini Sasuke tahu darimana Sarada mendapatkan Mangekyou Sharingan. Tak perlu membunuh orang yang berharga kalau hanya dengan membunuh orang lain saja Sarada sudah menyakiti jiwanya sendiri.

"Sudah, sudahlah Sarada. Ayah yang salah karena Ayah terlalu membebanimu. Kau tidak perlu khawatir. Lepaskan semua bebanmu. Aku sama sekali tidak keberatan dengan semua pernyataan mu. Pilihlah yang menurutmu benar. Jadilah seperti apa yang kau inginkan. Jangan takut untuk mengakui ketakutan mu. Bagaimanapun kau adalah putri Ayah. Ayah tidak akan marah sama sekali." Sasuke menenangkan Sarada.

Jangan sampai beban hidup yang pernah Sasuke alami semasa muda dulu terjadi pada Sarada. Biarkan dia menjadi yang dia mau . Sasuke menyayangi Sarada lebih dari apapun di dunia ini. Ia tidak akan membiarkan nama Uchiha yang disandang oleh Sarada menjadi belenggu yang menyiksa jiwa putrinya.

"Terima kasih Ayah...terima kasih..."

Sasuke beranji akan menjadi Ayah yang lebih baik lagi untuk Sarada. Bahkan manusia terkutuk sekalipun akan melakukan apapun demi orang yang ia anggap berharga.

END

A/N :Thanks for all readers, and thaks for all reviewers :D Maaf kalau jalan ceritanya tidak seperti yang kalian inginkan.