-Sequel of ChikinChikin-

Happy reading yeoreobun...

.

.

.

GS, No Bash please ^^,

Sorry for typo

.

.

.

I hope you'll like my story

Still You

Cast : Kim Jongin & Do Kyungsoo (GS)

CHAPTER 1

Start

"Sejak kapan kau menyukaiku?".

"Sejak pertama aku melihatmu".

"Bohong! Tidak mungkin kau menyukaiku sejak melihatku. Kau pertama melihatku saat kau datag ke restoran memaksa untuk diberikan ayam pedas manis. Pertama kali kita bertemu kau memaksa meminta ayam pedas manis".

"Itulah, karena setelah itu kita terus bertemu kan? Jadi aku anggap jika aku menyukaimu sejak pertama aku melihatmu".

.

.

.

.

"Kau dimana?", tanya Jongin sambil sibuk memakai sepatu dengan handphone menempel di telinga yang ia jepit dengan pundaknya.

"Aku? Restoran", jawab Kyungsoo santai.

"Apa? Restoran? Kau ini benar-benar. Cepatlah pergi", protes Jongin. Jongin lalu pergi setelah selesai memakai sepatu dan berbicara dengan Kyungsoo di telepon.

Jongin sudah siap. Jongin kembali menghela nafas. Halmeoni dan ayahnya masih belum keluar dari kamar mereka masing-masing.

"Halmeoni... abeoji... Cepatlah... kita sudah telat", teriak Jongin. Tak lama halmeoni keluar dari kamarnya. Disusul dengan Tn. Kim yang sudah rapi tak kalah dengan Jongin.

Hari ini adalah hari kelulusan Jongin. Jongin resmi mendapat gelar sarjana. Ayah Jongin tiba kemarin dari Amerika. Jongin ingin semua orang yang ia sayang datang untuk melihat momen bersejarah buat Jongin. Tapi, Kyungsoo, kekasihnya malah ada di restoran sekarang. Jongin menyuruh Kyungsoo untuk pergi dengan halmeoni dan ayahnya, tapi Kyungsoo menolak. Kyungsoo tidak bilang pada Jongin apa alasan dia tidak mau pergi bersama Jongin, halmeoni dan ayah Jongin.

Kyungsoo sudah berdandan begitu cantik. Memakai dress berwarna pink yang dibelikan Jongin beberapa hari sebelumnya. High heel. Make up simple tapi membuat Kyungsoo tampak lebih cantik. Rambutnya Kyungsoo buat agak bergelombang lalu Kyungsoo ikat. Sekarang pukul 10 pagi, Kyungsoo masih di restoran. Kyungsoo yang seharusnya sudah siap pergi malah menyempatkan untuk pergi ke restoran. Padahal ada sekarang Kyungsoo sudah memiliki seorang karyawan yang membantunya, tapi Kyungsoo masih belum percaya. Jadi, Kyungsoo pergi ke restoran terlebih dulu sebelum pergi ke acara kelulusan Jongin.

Kyungsoo melihat jam tangannya. Dia benar-benar harus pergi jika tidak ingin Jongin memasang wajah cemberut karena dia terlambat. Kyungsoo menyetop taksi di depan restorannya. Sesampainya di tempat acara, Kyungsoo berlari menuju aula. Susah payah Kyungsoo berlari mempercepat langkahnya dengan high heels yang ia pakai. Kyungsoo melihat Jongin. Sedang berdiri di depan aula bersama halmeoni dan Tn. Kim. Ada seseorang yang sedang memegang kamera menghadap Jongin siap mengambil gambar. Kyungsoo tiba-tiba datang.

"Sebentar. Sebentar". Kyungsoo lalu berdiri menggandeng lengan Jongin yang sedang memegang bouqet bunga.

"Mian", ucap Kyungsoo tersenyum menunjukkan gigi putihnya.

"Restoran? Momen penting kekasihmu kau duakan dengan restoran?". Jongin kesal.

"Eyy... jangan mengomel. Aigu... akhirnya kau lulus dan menjadi sarjana", Kyungsoo memandang Jongin yang memakai toga. Jongin masih kesal. Tidak menanggapi komentar Kyungsoo.

"Halmeoni, abeonim, annyeonghaseyo", sapa Kyungsoo tersenyum ramah.

"Selesaikan urusanmu dengan Jongin. Kau ini selalu mendahulukan restoranmu. Setelah ini kita makan bersama", ujar Tn. Kim. Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya. Mengiyakan perintah Tn. Kim. Halmeoni dan Tn. Kim meninggalkan Jongin dan Kyungsoo.

"Jongina... maafkan aku, hmmm", bujuk Kyungsoo.

"Aku masih belum percaya sepenuhnya pada Junmyeon untuk membuka restoran", jelas Kyungsoo yang terus tertunduk melihat ke arah high heelsnya.

Kyungsoo terus meminta maaf pada Jongin. Tiba-tiba Jongin mengecup kening Kyungsoo. Kyungsoo yang sejak tadi menundukkan kepala langsung mengangkat wajahnya, tersenyum lebar pada Jongin.

"Aku tahu kau tidak akan pernah bisa marah padaku".

"Lain kali aku akan marah padamu". Jongin merangkul Kyungsoo lalu pergi menyusul halmeoni dan ayahnya.

.

.

.

.

Kyungsoo pulang bersama Jongin, Tn. Kim dan halmeoni ke rumah halmeoni. Malam nanti ada acara makan malam bersama. Ini keinginan Tn Kim sebelum ia kembali ke Amerika.

"Halmeoni, abeonim... aku pulang dulu. Sampai bertemu sore nanti", pamit Kyungsoo.

"Hoo... berdandanlah yang cantik, Kyungsooya".

"Pasti halmeoni". Kyungsoo lalu keluar disusul Jongin yang mengekor dibelakang Kyungsoo setelah berganti pakaian dan pamitan pada halmeoni dan ayahnya.

"Jongina, kita jalan saja, hmmm".

"Jalan? Tumben sekali kau memakai pakaian seperti ini mengajakku jalan".

"Aku ingin sombong pada orang lain, kalau aku berjalan dengan pria tampan".

"Berhenti menggodaku. Terakhir kali kau bersikap aneh seperti ini kau memintaku untuk tidak menemuimu".

Kyungsoo tertawa kecil, "tidak, sekarang aku serius. Jika naik mobil tidak akan yang melihat aku sedang menggadeng pria tampan".

"Aku sekarang yang takut jika kau tiba-tiba seperti ini".

"Gwaenchana. Tenang saja. Aku tidak akan tiba-tiba pergi seperti di drama-drama".

Jongin tetap heran jika Kyungsoo tiba-tiba bersikap manis seperti ini. Jongin selalu berpikiran buruk jika Kyungsoo seperti ini. Terakhir kali Kyungsoo bersikap manis tiba-tiba, dia meminta Jongin untuk tidak menemuinya karena rencana perjodohan palsu ayahnya, Tn. Kim. Sudah hampir satu tahun mereka bersama. Bahkan halmeoni terkadang jahil dengan menyuruh Jogin dan Kyungsoo segera menikah. Kyungsoo belum memikirkan sampai sejauh itu Kyungsoo masih ingin menikmati saat-saat seperti ini dengan Jongin.

"Sampai. Nanti sore ku jemput. Kaubtidak perlu ke restoran. Hari ini kau untukku. Jangan coba-coba menduakan aku dengan restoran".

"Arasseo. Tapi kau tidak perlu menjemputku. Aku akan bertemu Baekhyun. Dia pulang dari Paris".

"Baekhyun? Tapi tidak untuk pergi dengannya". Jongin memperingatkan.

"Tidak akan. Aku hanya bertemu sebentar dengannya. Setelah itu aku akan langsung ke rumahmu".

"Baiklah kalau begitu. Aku pulang". Jongin berpamitan dan mencium kening Kyungsoo.

"Ohh... hati-hati", Kyungsoo mengantar Jongin dengan lambaian tangan.

Handphone Kyungsoo berbunyi. Ada panggilan masuk. Baekhyun. Dengan cepat Kyungsoo menerima telepon dari Baekhyun.

"Baekhyuna...", sapa Kyungsoo manja.

"Kau dimana?".

"Aku di rumah".

"Baiklah. Aku ke sana".

"Kau tahu tempat tinggalku yang baru?".

"Kau pindah? Tanpa memberitahuku?".

"Mian. Akan ku kirim lewat pesan alamat lengkapnya".

Pembicaraan mereka selesai. Sejak Baekhyun pergi ke Paris untuk studi masternya Kyungsoo jarang menghubungi Baekhyun. Selain karena biaya telepon yang cukup mahal, Kyungsoo sebenarnya sedikit lupa pada teman baiknya ini. Tentu saja karena Jongin. Tak lama Kyungsoo menunggu Baekhyun sampai di rumahnya.

"Baekhyuna!". Kyungsoo langsung memeluk tubuh teman baiknya yangbdatang membawa koper dan beberapa paper bag.

Kyungsoo yang melihat barang bawaan Baekhyun langsung melepaskan pelukannya.

"Kau belum pulang ke rumahmu?".

"Bantu aku membawa masuk ini semua". Kyungsoo lalu membawa salah satu koper yang Baekhyun bawa.

"Sebentar", Kyungsoo menahan Baekhyun yang akan masuk di pintu.

"Ada apa?".

"Kau belum pulang ke rumah?".

"Aku tidak akan pulang sampai keinginanku dipenuhi". Baekhyun lalu masuk. Kyungsoo yang bingung karena tidak mengerti hanya melihat temannya itu masuk ke dalam rumahnya.

"Kau pindah dan tidak memberitahu aku?".

"Sebentar. Ya! Byun Baekhyun, jelaskan padaku ada apa denganmu? Kenapa kau tidak pulang ke rumahmu".

Baekhyun duduk bersila dibalik meja kecil yang ada di dalam. Kyungsoo pun mengikuti Baekhyun dan duduk di depannya. Kyungsoo sudah siap mendengar semua cerita Baekhyun.

"Kenapa? Ada apa?".

"Aku akan tinggal disini".

"Heh? Kenapa?".

"Aku sedang protes pada ayahku. Aku ingin menikah dengan Chanyeol tapi mereka belum mengijinkan. Ayah dan ibu bilang menunggu sampai aku selesai studi masterku".

Setelah mendengar alasan kenapa Baekhyun tidak mau pulang dan ingin tinggal bersama Kyungsoo. Kyungsoo lalu tertawa begitu kencang. Baekhyun yang duduk di depannya mengerutkan keningnya. Heran. Kenapa reaksi Kyungsoo seperti ini. Kyungsoo mencoba menahan tawanya.

"Kau, seperti ini karena itu?".

"Ohh... wae? Aku akan seperti ini sampai ayah dan ibu mengiyakan keinginanku".

"Jika aku yang jadi ibumu aku pun akan memintamu seperti itu. Tunggulah beberapa tahun lagi sampai kau selesai dengan studimu".

"Itu terlalu lama Kyungsooya".

"Lalu? Kau ingin menikah dengan Chanyeol hari ini juga?".

"Bukan begitu. Ah... molla. Kau sama saja seperti ayah dan ibuku". Kyungsoo bangun dari duduknya menuju dapur dan mengambil minuman untuk Baekhyun.

"Sejak kapan kau pindah kesini? Ayah, ibu, dan kakakmu?".

"Aku sudah pindah kira-kira 6 bulan yang lalu".

"6 bulan? Sepertinya banyak yang tidak aku tahu terjadi, iya kan?".

"Nanti aku ceritakan. Aku harus pergi sebentar lagi".

"Pergi? Kemana? Kau meninggalkan aku sendiri?".

"Aku akan makan malam".

"Dengan siapa?".

"Jongin, ayahnya dan halmeoni".

"Heh?".

"Nanti aku ceritakan. Aku pergi dulu. Panggilah Chanyeol untuk menemanimu disini".

Kyungsoo pergi membawa long coat berwarna merah miliknya, meninggalkan Baekhyun yang penuh rasa ingin tahu sekarang ini. Kyungsoo memilih membuat Baekhyun bingung dan penasaran. Karena jika dia sudah cerita Kyungsoo tidak akan perbah pergi sebelum ceritanya selesai.

"Ya! Do Kyungsoo... kau meninggalkan aku dengan rasa penasaran dan penuh pertanyaan di otakku?".

"Nanti aku ceritakan. Panggil Chanyeol dan jangan melakukan hal aneh. Aku pergi", sahut Kyungsoo.

.

.

.

.

Kyungsoo sampai lebih cepat di rumah halmeoni. Jongin, halmeoni dan Tn. Kim bahkan masih bersantai di ruang tengah. Mendengarkan Tn. Kim yang sedang bercerita tentang sekretaris barunya yang selalu membawa beka untuk semua orang di kantornya.

"Kau datang cepat? Tidak jadi bertemu Baekhyun?", tanya Jongin begitu Kyungsoo masuk.

"Sudah. Baekhyun ada di rumahku".

"Annyeonghaseyo halmeoni, abeonim", sapa Kyungsoo.

"Kau datang. Jongin bilang kau akan datang nanti", tanya halmeoni.

"Iya, aku sudah selesai. Jadi aku langsung kemari setelah selesai".

Kyungsoo sudah seperti cucu halmeoni sendiri. Sejak Kyungsoo dekat dengan Jongin Kyungsoo sering datang ke rumah halmeoni meskipun tidak untuk menyiapkan makanan. Tn. Kim pun sudah tidak asing melihat Kyungsoo. Tn. Kim sudah menganggap Kyungsoo seperti anaknya sendiri. Sikap ramah Kyungsoo, senang bercanda dan enak di ajak bicara membuat Kyungsoo semakin dekat dengan halmeoni dan Tn. Kim.

Jongin mengajak Kyungsok ke halaman belakang. Salah satu tempat favorit mereka jika di rumah halmeoni. Kyungsoo pun senang berdiam diri di halaman belakang, menghirup udara segar, duduk di ayunan sambil mendengarkan lagu. Tapi, Jongin, dia senang bukan karena itu. Tapi karena bisa berdua dengan Kyungsoo untuk mencuri-curi kesempatan memberikan kecupan pada Kyungsoo. Jongin datang dengan membawa du kaleng kopi dingin.

"Padahal kau hubungi aku biar aku jemput".

"Tidak perlu, aku bisa sendiri".

"Bagaimana kabar Baekhyun?".

"Baik. Dia, pulang ke Korea, ayah dan ibunya tidak tahu itu dan juga dia ingin tinggal denganku".

"Heh? Kenapa?".

"Dia bilang dia sedang protes pada ayahnya yang tidak mengiyakan keingannya untuk menikah dengan Chanyeol".

"Jinjja? Ada-ada saja".

"Lalu kau? Tidak seperti itu?".

"Apa?".

"Kabur karena tidak mendapat izin menikah denganku". Kyungsoo yang sedang meneguk kopi dinginnya langsung terbatuk mendengar perkataan Jongin. Kyungsoo lalu melirik sinis ke arah Jongin.

"Kenapa?", tanya Jongin santai.

"Kau ini".

"Aku hanya bertanya. Memang kau tidak mau menikah denganku?".

"Lebih baik kita jalani saja seperti ini, arasseo?".

"Ne...", jawab Jongin seperti anak kecil yang menjawab perintah ibunya.

.

.

.

.

Sudah waktunya Jongin, Kyungsoo, Tn. Kim, dan halmeoni pergi. Halmeoni dan dan Kyungsoo duduk di kursi belakang. Jongin yang menyetie dan Tn. Kim, ayahnya duduk di sampingnya. Setelah 20 menit mereka sampai di restoran tempat mereka makan malam. Jongin sudah memesan tempat sevelumnya, jadi mereka tak perlu mencari tempat.

Meja berbentuk persegi. Jongin duduk di samping Kyungsoo dan di depan mereka tentu halmeoni dan Tn. Kim. Hidangan makan malam sudah siap di hadapan mereka masing-masing.

"Kyungsooya, kapan ayah dan ibumu akan ke Seoul?", tanya Tn. Kim disela makan makan malam.

"Aku belum tahu. Ada apa, abeonim?".

"Tidak. Bagaimana kakakmu?".

"Baik. Beberapa hari yang lalu dia ke Seoul untuk bertemu temannya, jadi aku hanya bertemu sebentar saja".

Kyungsoo sedikit bingung kenapa Tn. Kim tiba-tiba menanyakan tentang kapan ayah dan ibunya akan ke Seoul. Padahal selama ini Tn. Kim tidak pernah menanyakan tentang hal itu. Tn. Kim dan Kyungsoo kembali sibuk dengan makanan mereka. Tn. Kim kembali mengatakan sesuatu.

"Kalian, lebih baik cepat menikah", ucap Tn. Kim datar. Kyungsoo yang mendengar kalimat itu terbatuk karena kaget. Jongin yang duduk di samping Kyungsoo langsung memberikan air minum pada Kyungsoo.

"Abeoji...", panggil Jongin dengan nada sedikit merengek.

"Kenapa? Kalian memang belum lama berpacaran, tapi aku rasa kalian sudah cukup saling mengenal".

"Tapi abeonim, aku belum berpikit sejauh itu", timpal Kyungsoo.

"Mulai sekarang pikirkan tentang itu. Jongin harus kembali ke Amerika memulai pekerjaannya di perusahaanku. Jika tidak bertunanganlah dengan Jongin agar kau tenang, membiarkan anak ini pergi begitu jauh".

"Ahh, kai ini aku sangat setuju dengan abeoji", Jongin tersenyum lebar.

"Ya!", protes Kyungsoo.

"Kenapa? Aku setuju dengan abeoji. Memangnya kau bisa tenang jauh dariku?". Jongin menghentikan kalimatnya lalu melihat ke arah ayahnya.

"Sebentar abeoji, aku harus ke Amerika? Kenapa tidak di sini saja?".

"Perusahaan kita yang disini masih sangat baru. Jadi lebih baik kau memulai di Amerika. Tidak aka lama. Mungkin hanya satu tahun setelah itu kau kembali ke Korea".

"Ya, kau dengar? Satu tahun aku akan ke Amerika. Jadi lebih baik setuju dengan saran ayahku untuk bertunangan, hmm", bujuk Jongin. Kyungsoo terdiam. Memikirkan apa yang harus ia jawab.

"Aku harus bicara dengan ayah dan ibuku dulu", jawab Kyungsoo.

"Lebih baik secepatnya. Jongin akan pergi satu minggu lagi ke Amerika. Jadi sebelum dia pergi kalian bisa bertungan lebih dulu".

Astaga, kenapa jadi seperti ini. Pantas saja Tn. Kim tiba-tiba mananyakan kapan ayah dan ibunya akan berkunjung ke Korea. Ayah dan ibu Kyungsoo pasti setuju jika mendengar hal ini. Malah, ayah dan ibunya yang selalu mendesak Kyungsoo untuk serius dengan Jongin. Dalam hal ini, yang menjadi masalah adalah Kyungsoo sendiri. Kyungsoo nyaman menjalani semua ini dengan Jongin. Tapi Kyungsoo tidak pernah berpikir sejauh itu. Bertunangan bahkan menikah. Kyungsoo bukan tidak mau, tapi dia hanya belum siap. Kyungsoo takut dia mengecewakan Jongin yang begitu ingin serius dengannya.

Acara makan malam kali ini diakhiri dengan kebingunan Kyungsoo. Jongin mengantarkan Kyungsoo. Selesai makan malam, Kyungsoo tak banyak bicara. Jongin tahu kekasihnya ini pasti sedang memikirkan perkataan ayahnya. Jongin setuju dengan saran ayahnya untuk mereka bertungan sebelum Jongin ke Amerika. Jongin sangat setuju. Tapi, Jongin pun tidak ingin memaksa Kyungsoo untuk mengiyakan. Jongin sangat tahu, Kyungsoo belum mau untuk lebih serius dengannya, Jongin tida tahu alasannya. Meski seperti itu, Jongin percaya Kyungsoo akan tetap menjadi kekasihnya. Entah apa yang membuat Jongin begitu yakin. Hanya saja hati Jongin selalu berkata kalau Kyungsoo memang untuknya. Mereka sampai di rumah Kyungsoo. Kyungsoo melihat pintu rumahnya, sepertinya Baekhyun pergi karena lampu rumahnya mati.

"Terima kasih sudah mengantarku, kau pulanglah. Hati-hati". Jongin menahan Kyungsoo yang akan masuk. Jongin memegang pundak Kyungsoo.

"Hey, lihat aku". Kyungsoo mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk.

"Jangan kau pikirkan perkataan ayah. Jangan terbenani, itu hanya saran. Jika kau tidak mau kau boleh menolaknya. Aku tidak mau kau seperti ini, hmm".

"Tapi, Jongina...".

"Sudah, jangan kau pikirkan. Tidurlah yang nyenyak". Jongin mengecup bibir Kyungsoo lalu pamit untuk pulang. Kyungsoo melihat Jongin sampai ia masuk ke dalam mobilnya.

Kyungsok duduk di meja besar di depan rumahnya. Membaringkan tubuhnya. Kyungsoo menatap langit yang gelap tanpa ada bintang. Sekarang Kyungsoo memikirkan perkataan Jongin. Bagaimana bisa Kyungsoo tidak memikirkan perkataan Tn. Kim. Jika Tn. Kim sudah berkata seperti itu, itu sama saja dia ingin Kyungsoo untuk lebih serius dengan Jongin. Lalu, Kim Jongin bisa setenang itu. Menyuruh Kyungsoo untuk tidak memikirkannya. Baekhyun datang bersama Chanyeol.

"Apa yang kau lakukan?", tanya Baekhyun saat melihat Kyungsoo yang sedang merengek dengan menendang-nendang kakinya.

Kyungsoo lau bangun, "kau dari mana?".

"Mencari makan malam. Kau sedang apa? Kenapa tidak masuk?".

"Kunci kau yang bawa. Bagaimana aku bisa masuk".

"Kau benar", jawab Baekhyun sambil tertawa.

"Aku pulang. Do Kyungsoo jaga baik-baik gadisku", ucap Chanyeol.

"Akan aku potong-potong tubuhnya saat kau pergi", timpal Kyungsoo ketus.

"Kalian jangan bercerita hingga pagi. Istirahatlah".

"Ohhh, pacarku perhatian sekali", Baekhyun memegang dagu Chanyeol dengan menunjukkan wajah gemas.

"Aishh, kalian ini tidak pernah berubah. Cepatlah pulang".

Kyungsoo kembali membaringkan tubuhnya begitu ia masuk ke dalam rumahnya. Kali ini ia berbaring di lantai begitu saja. Baekhyun yang melihat Kyungsoo seperti itunhanya menggelengkan kepalanya.

"Ada apa?".

"Aku tidak tahu".

Baekhyun duduk di samping Kyungsoo yang berbaring.

"Ayo cerita. Semua. Tanpa ada yang terlewat sedikit pun".

Ky+ungsoo yang berbaring, mulai bercerita. Menceritakan semuanya sesuai permintaan Baekhyun. Sudah satu jam, Kyungsoo masih melanjutkan ceritanya. Baekhyun masih belum berkomentar. Menunggu temannya ini selesai dengan semua cerita yang tidak Baekhyun tahu.

"Waw... daebak. Jadi sekarang kau punya seorang kekasih? Dan itu adalah Jongin? Tidak pernah ada yang tahu akan jadi seperti ini. Akhirnya Do Kyungsoo...".

"Lalu, kenapa wajahmu seperti ini?", tanya Baekhyun.

"Ayah Jongin menyuruhku untuk bertunangan dengan Jongin".

"Heh? Tunangan?".

"Ohh..."

"Aku iri padamu".

"Hah? Iri?".

"Tanpa kau minta, ayah Jongin menyuruhmu seperti itu. Sedangkan aku, harus berjuang seperti ini".

"Aigu... Byun Baekhyun. Kau itu hanya mempersulit dirimu sendiri. Pulanglah, bicarakan baik-baik dengan ayah dan ibumu".

Baekhyun mempout bibirnya, "pikirkan saja dirimu sendiri".

Kyungsoo terdiam, "kau benar. Pikirkan tentang aku".

"Ya, Do Kyungsoo. Lagi pula untuk apa kau menolak permintaan untuk bertunangan dengan Jongin".

"Baekhyuna, dia pria pertama yang dekat denganku. Aku sama sekali belum memikirkan lebih jauh lagi. Aku hanya ingin menjalani dengan Jongin seperti sekarang".

"Apapun itu. Menurutku lebih baik kau setuju. Apa kau mau dia dekat dengan wanita-wanita di Amerika? Kau yang bilang bagaimana Jongin di Amerika sebelum dia ke Korea".

"Ahhh... molla. Aku mengantuk".

"Jika kau mengantuk, tidurlah. Tidak perlu kesal seperti itu".

.

.

.

.

Kyungsoo tidak tidur semalam. Sekarang dibawah mata bulatnya ada garis hitam. Kyungsoo berjalan lemas menuju restoran. Kyungsoo tidak ingin pergi kemana-mana. Hanya ingin berbaring di rumahnya. Kyungsoo akhirnya sampai di restoran. Sudah ada Junmyeon yang sedang membereskan restoran.

"Sajangnim, apa kau sakit?", tanya Junmyeon saat melihat Kyungsoo yang datang dengan wajah pucat dan terlihat sangat lemas.

"Tidak apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu... dan berhenti memanggilku sajangnim. Panggil aku dengan nama saja. Awas kau jika memanggilku seperti itu lagi", kata Kyungsoo yang berjalan menuju meja kasir sambil menunjukkan kepalan tangannya pada Junmyeon. Junmyeon mebungkukkan tubuhnya mengiyakan apa yang Kyungsoo katakan.

Sudah hampir pukul 1 siang. Restoran tidak begitu ramai. Kyungsoo menundukkan kepalanya di atas kedua tangannya yang melipat di meja kasir. Kyungsoo merasa ada yang aneh. Kenapa kepalanya seperti berputar. Wajahnya juga seperti terbakar. Terasa panas. Kyungsoo memegang keningnya. Sepertinya dia demam.

"Junmyeona, bisa kau belikan aku obat?".

"Sajangnim, ada apa?".

"Eyy, aku bilang berhenti memanggilku seperti itu".

"Tapi pelanggan...- bagaimana?".

"Biar olehku saja. Belikan obat untukku".

"Ahh, ne. Baiklah, aku akan membelikan obat untukmu, saj... Kyungsooya". Junmyeon keluar untuk membeli obat. Kyungsoo masih tertunduk di meja kasir. Kepalanya semakin terasa pusing. Kyungsoo bangun untuk mengambil air minum.

BUK!

Tubuh Kyungsoo lemas. Kyungsoo pingsan. Para pelanggan yang melihat Kyungsoo tergeletak lemas langsung panik. Salah satu dari mereka mencoba menelepon 911 untuk membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Tapi saat pelanggan itu menelepon, Jongin datang. Jongin terkejut melihat Kyungsoo yang pingsan dan sedang dikliingi oleh beberapa orang yang ada di restoran.

"Kyungsooya!". Jongin lalu berlutut, mengambil kepala Kyungsoo dengan tangan kirinya dan sebelah tangannya yang lain menepuk-nepuk pipi Kyungsoo. Tapi tidak ada reaksi.

"Bisa bantu aku untuk membukakan pintu untukku? Aku akan membawanya ke rumah sakit".

Jongin mengangkat tubuh lemas Kyungsoo. Salah satu pengunjung membuka pintu restoran dan mengikuti Jongin sampai ke mobilnya lalu membuka pintu mobil Jongin. Jongin dengan segera menginjak pedal gas, membawa Kyungsoo ke rumah sakit. Tubuh Kyungsoo terua mengeluarkan keringat. Wajahnya semakin pucat. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Kyungsoo di bawa ke UGD. Beberapa perawat membantu Jongin mengeluarkan Kyungsoo dan membaringkannya di ranjang. Jongin menunggu dengan cemas di ruang tunggu. Jongin terus berdoa semoga Kyungsoo tidak apa-apa. Seorang dokter menghampiri Jongin.

"Apa kau yang mengantar gadis itu kesini?", tanya dokter. Jongin langsung bangkit dari duduknya.

"Iya, dokter".

"Dia tidak apa-apa. Hanya demam tinggi saja. Setelah dia bangun, dia bisa pulang".

Jongin menghela nafas lega, "terima kasih, dokter".

Jongin menghampiri Kyungsoo yang terbaring lemas. Jongin benar-benar takut terjadi sesuatu pada Kyungsoo. Bagaimana tidak, selama Jongin berpacaran dengan Kyungsoo baru kali ini Jongin melihat Kyungsoo sakit, bahkan sampai pingsan seperti ini. Jongin menggenggam lengan Kyungsoo. Kyungsoo akhirnya bangun. Mata Kyungsoo perlahan terbuka, melihat sekelilingnya.

"Jongin? Kenapa aku ada disini?", tanya Kyungsoo lemas.

"Kau pingsan".

"Aku? Tidak mungkin".

"Aku yang mengangkat tubuhmu. Kau sudah merasa baikan?".

"Bernarkah? Kepalaku masih sedikit pusing".

"Do Kyungsoo kau ternyata bisa membuatku khawatir seperti ini".

Kyungsoo tersenyum, "kau khawatir? Baik sekali..."

"Kau ini masih membuat kesal saat sakit seperti ini. Sebentar aku akan tanyakan pada dokter apa kau bisa pulang sekarang atau tidak".

Jongin pergi mencari dokter menanyakan apa Kyungsoo sudah boleh pulang atau tidak. Jongin kembali bersama seorang perawat. Jongin membantu Kyungsoo bangun.

"Aku bisa".

"Kau ini pasien sekarang jadi jangan mengomel".

Kyungsoo masih terlalu lemas untuk berdebat dengan Jongin sekarang. Jadi Kyungsoo mengalah. Membiarkan Jongin membantunya. Mereka sampai dibrumah Kyungsoo.

"Padahal kau antarkan aku ke restoran saja".

"Kau ini. Seperti ini kau masih memikirkan restoran? Biarkan Junmyeon hyung yang mengurusnya".

"Aku baik-baik saja".

"Aku bilang tidak! Istirahatlah. Dari sini aku akan ke restoran memberitahu Junmyeon hyung kalau kau tidak apa-apa, sekarang masuklah. Baekhyun?".

"Baiklah. Terima kasih. Tapi aku benar-benar tidak apa-apa. Baekhyun sepertinya pergi".

"Mau aku bantu kau masuk? Atau menggendongmu? Lalu kunci rumahmu?".

"Tidak. Tidak. Kau pergi saja. Aku juga pegang kunci".

"Baiklah. Aku pergi". Jongin berpamitan.

Tapi sebelum pergi, Jongin memegang leher Kyungsoo. Lalu bibir Jongin menyentuh bibir Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo tak langsung mendorong tubuh Jongin. Setelah beberapa detik Kyungsoo baru bereaksi.

"Ya! Aku sedang sakit".

"Lalu kenapa? Ini obat ampuh untuk membuatmu sembuh lebih cepat". Kyungsoo menyeringai. Jongin kembali mendekatkan tubuhnya siap mengecup kembali bibir Kyungsoo. Tapi gagal. Kyungsoo dengan cepat menahan Jongin.

"TI-DAK! Dan aku tidak mau kau sakit karena memberiku obat ampuhmu ini". Jongin menyerah.

"Baiklah. Aku pulang", Jongin pamit, mengelus kepala Kyungsoo dan mengecup keningnya lalu pergi. Kyungsoo seperti biasa melihat sampai Jongin masuk ke dalam mobilnya dan pergi.

Kyungsoo membalikan badannya. Betapa terkejutnya Kyungsoo saat melihat Baekhyun berdiri dengan senyum yang aneh terus menatap Kyungsoo.

"Hah! Aissh, kau ini membuatku kaget saja. Kau ada di rumah?".

"Sekarang aku percaya kalau kau benar-benar berpacaran dengan Jongin". Baekhyun masih menunjukkan senyum anhenya.

"Maksudmu?".

"Aku walau sudah mendengar ceritamu tapi tetap tidak percaya kalau kau berpacaran dengan Jongin. Tapi, setelah aku lihat apa yang Jongin lakukan tadi, aku percaya kau berpacaran dengannya".

"Melihat yang dilakukan Jongin?", Kyungsoo sedikit berpikir apa maksud Baekhyun. Mata bulat Kyungsoo melebar.

"Kau melihat-yang-tadi-"

Baekhyun mengangguk pasti masih dengan senyuman anehnya pada Kyungsoo. Kyungsoo yang tadi terlihat pucat sekarang pipinya memerah karena malu. Buru-buru Kyungsoo masuk ke dalam rumah dengan memegang kedua pipinya. Menghindari ledekan Baekhyun yang sebentar lagi akan ia dengar.

"Ya! Do Kyungsoo. Sepertinya obat dari Jongin benar-benar ampuh. Kau langsung sembuh", teriak Baekhyun menggoda Kyungsoo, lalu disusul suara tawa Baekhyun.

"Diam kau, Byun Baekhyun!".

"Bagaimana rasanya, hmm?", Baekhyun terus menggoda Kyungsoo.

.

.

.

.

.

Done for this chapter... ^^

Apa ceritanya masih ga jelas? Mian yeoreobun ini permulaan...

Aku putuskan untuk buat sequel dari ff sebelumnya, ChikinChikin. Maaf terlalu lama untuk mengupload sequelnya.

Aku perlu refreshing dan mencari inspirasi kemarin-kemarin, meyakinkan diri untuk buat sequel atau tidak *curhat*

Wait for next chapter yes...

And I'll always waiting your review... terutama silent readernya... ^^,

Kamsahabnida... *bowing*

*kisshug*

*XOXO*