Disclamer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Canon

REVOLUSI: SEMUA TAK SAMA

©LONGLIVE AUTHOR

Semua tak sama, tak pernah sama..

CHAPTER 2

KEPUTUSAN

Keesokan harinya Sarada, Shikadai dan para ninja medis dari Konoha berpamitan untuk kembali pulang.

"Aku pulang dulu Paman." Teriak Shikadai yang sudah berjalan duluan.

"Sampai jumpa Paman Gaara, senang bisa menginap dirumahmu." Sarada tersenyum kali ini.

"Seharusnya akulah yang berterima kasih. Sampaikan salamku pada Hokage dan orang tuamu." Gaara membalas senyumannya.

"Baiklah akan kusampaikan, kalau begitu aku pergi sekarang."

Merekapun menghilang dari pandangan meninggalkan Sunagakure. Keesokan harinya mereka sampai di Konoha. Sarada tidak mau berlama-lama menyelesaikan tugas, maka begitu ia sampai di Konoha malam harinya ia langsung pergi ke kantor Hokage untuk memberikan laporannya pada Hokage.

"Ini laporannya Paman, kami sudah menyelesaikan misinya. Oh, ya dan Paman Gaara memberikan salam untukmu." Kata Sarada.

"Baiklah, terima kasih Sarada. Kau boleh pergi." Balas Naruto.

Baru saja Sarada berbalik hendak meninggalkan ruangan, Naruto memanggilnya kembali.

"Sarada," gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik.

"aku sedang membutuhkan anggota Anbu yang baru, tadinya aku akan mengusulkan dirimu pada Ayahmu. Apa kau mau?"

Seketika tubuhnya menegang saat Naruto menayakan hal itu. Untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Sepertinya menolak permintaan itu kemarin malam jauh lebih mudah daripada sekarang. Apalagi Hokage akan mengusulkannya langsung pada Ayahnya yang merupakan ketua ANBU.

"Akan ku pikirkan dulu, tapi tolong jangan beritahu Ayah dulu soal ini."

Naruto mengangguk dan Saradapun keluar dari kantor Hokage. Naruto sukses membuat pikirannya kacau saat ini. Ia pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak. Saat ini ia tidak mau bertemu dengan Ibunya terlebih lagi Ayahnya. Ia tidak mau pulang ke rumah. Ia tidak tahu harus pergi kemana, namun tiba-tiba ia berhenti saat melihat sebuah apartemen di ujung jalan yang lampunya masih menyala.

Ia menyeringai dan melangkah pergi kearah apartemen itu.

Tok..tok..tok..

Terdengar suara langkah kaki berat berjalan ke arah pintu dan tak lama pintupun terbuka.

"Sarada?" sang tuan rumah sedikit kaget melihat Sarada datang ke apartemennya malam-malam begini.

"Kakek, aku tidak mau pulang. Bolehkah aku menginap dirumah Kakek?" tanya Sarada. Ya, siapa lagi selain Kizashi kalau bukan Kakashi yang dipanggil Kakek oleh Sarada? Gadis itu memang lebih dekat dengan Kakashi daripada dengan Kakek dan Nenek kandungnya sendiri. Waktu kecil ia dan Bolt selalu kabur ke rumah Kakashi kalau sedang tidak ingin dirumah, dan saat ini ia tidak ingin pulang ke rumah jadi tempat satu-satunya saat ini adalah rumah Kakashi.

"Kenapa kau tidak mau pulang?" tanya Kakashi masih heran kedatangan tamu malam begini.

"Aku hanya malas, dan kenapa aku tidak disuruh masuk? Kalau Kakek tidak mau lebih baik aku pergi ke tempat lain saja." Balas Sarada tajam.

"T-tidak, tentu saja boleh. Ayo masuk." Ujar Kakashi. Ia tidak mau di habisi oleh Sasuke karena membiarkan anaknya terlantar malam-malam begini.

'Anak ini, selalu saja...' batin Kakashi saat mereka sudah sampai di ruang tengah. Sepertinya Kakashi baru saja selesai makan malam jika dilihat dari piring kotor yang masih tergeletak diatas meja. Sarada melepas blezernya dan duduk di atas sofa. Kepalanya pening.

"Kau mau makan, Sarada?" tanya Kakashi mengangkut bekas peralatan makannya.

"Tidak Kek, terima kasih."

Kakashi sadar kalau ada sesuatu yang mengganggu Sarada saat ini sampai-sampai dia tidak mau pulang kerumah. Kakashi sudah tahu tabiat anak itu dari semenjak dia kecil.

"Ada apa?" Kakashi datang sambil membawa segelas air putih dingin. Sarada menerimanya dan langsung meminumnya sampai habis.

"Apa kau bertengkar dengan orang tuamu?" tanya Kakashi. Sarada menggeleng lemah. Ia sedang tidak mau membicarakan apapun.

"Kakek, aku sangat lelah. Boleh aku tidur? Aku akan tidur di sofa." Ujar Sarada.

"Eh? Kenapa kau tidak tidur di kamarku saja dan aku yang tidur di sofa?"

'seperti biasanya...'tambah Kakashi.

"Tidak Kakek, aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah merepotkanmu malam-malam begini. Aku hanya ingin numpang tidur dan aku akan tidur di Sofa." Permintaan Nona Sarada sudah tidak bisa ditolak lagi. Jadi, Kakashipun mengambil bantal dan selimut untuk dipakai Sarada.

"Kau tidur saja duluan, aku belum mengantuk." Kakashi berpura-pura mengambil bukunya padahal ia hanya ingin menjaga Sarada.

Belum sampai lima menit gadis itu sudah terlelap. Ia memang terlihat sangat kelelahan. Belum lagi Kakashi yakin kalau memang ada sesuatu yang mengganggunya. Kakashi memang menjadi tempat pelarian untuk Sarada dan Bolt sejak kecil. Dua anak itu selalu menyusahkan, dulu mereka tidak akan tidur sampai tengah malam sehingga membuat Kakashi selalu tidur larut.

Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam. Sarada terus bergerak dalam tidurnya. Terlihat kalau dia memang sedang gelisah sampai tidurnyapun tidak tenang. Kakashi masih berada di ruang tengah dan masih memperhatikan Sarada. Setengah jam kemudian Sarada terbangun dari tidurnya. Ia tampak kesal. Dia menundukan kepalanya pasrah.

"Masih tidak mau cerita?" Suara Kakashi memecah keheningan. Sarada tidak bergeming. Pandangan Kakashi melembut. Dia tahu caranya menghadapi Sarada saat sedang begini. Kalau sedang banyak pikiran Sarada benar-benar persis dengan Sakura dan Kakashi sudah sangat berpengalaman menghadapinya. Kakashi berjalan ke sofa, duduk di sebelah Sarada dan merangkul gadis yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri. Sarada masih menunduk memegangi kepalanya.

"Aku harus bagaimana Kakek? Hokage memintaku untuk menjadi anggota Anbu dan akan mengusulkannya pada Ayah." Ia masih menunduk.

"Lalu apa masalahnya?" tanya Kakashi.

"Aku tidak mau! Aku tidak mau membunuh orang lagi. Aku muak! Kau tahu kan kalau aku mendapatkan Mangekyou Sharingan dari hasil membunuh orang lain?" jawab Sarada hampir berteriak. Jika tetangga mendengar, mungkin mereka akan mengira kalau mereka sedang bertengkar.

"Aku tidak suka, aku tidak mau mengabdi pada negara dengan cara seperti ini. Berapa nyawa lagi yang harus ku ambil Kakek? dan sekarang Hokage menawariku menjadi anggota Anbu!" kata Sarada tidak sabar.

"Kalau kau memang tidak mau, kau tolak saja Sarada." Saran Kakashi masih dengan nada tenang.

"Tapi bagaimana dengan Ayah?" tanya Sarada.

"Jadi kau cemas karena Ayahmu?" Kakashi balik bertanya. Sarada mengangguk. Kakashi tersenyum dibalik maskernya. Sarada memang gadis yang cerdas, tapi dia selalu mencemaskan hal-hal kecil disekitarnya dan salah satunya adalah ini.

"Aku takut kalau aku menolak aku akan mengecewakan Ayah." Gumam Sarada. Ah...gadis kebanggaan Uchiha yang selalu ingin membahagiakan Ayahnya.

"Tapi Ayahmu tidak akan mungkin membuatmu tidak bahagia Sarada, jika kau senang Ayahmu juga pastinya akan senang. Semuanya tergantung pilihanmu." Ujar Kakashi.

Pilihan. Satu kata yang rumit. Satu kata yang menentukan segalanya. Apa mungkin dia harus mengikuti kata hatinya. Sarada terdiam cukup lama sampai dia menemukan pilihan yang tepat. Sedangkan Kakashi hanya membelai pelan bahunya. Akhirnya ia mengangguk mantap.

"Kau sudah memutuskan?" tanya Kakashi.

"Ya, aku sudah memutuskan." Gadis itu menyandarkan kepalanya pada Kakashi. Dia mengulurkan tangannya untuk memeluk Kakek kesayangannya. "Aku sudah putuskan." Ujarnya lemah. Tak lama kemudian dia sudah terlelap.

"Sarada...Sarada.." Kakashi menggeleng. Ia mengelus pelan kepala gadis itu. Sepertinya ia tidak akan bisa tidur tenang malam ini.

A/N : Disini Sarada mempunyai pandangan seperti Itachi, kurang lebih seperti itu. Tanyakan yang mau ditanyakan.